Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

Puisi-Puisi Gus tf Sakai

Kompas, 3 Oktober 2010
Susi: Merah Padam

Telinga yang terang, antarlah Susi menyaksikan
tubuh tak berbayang. Jarak ini, alangkah mustahil
dicapai dengan mata. Bermilyar tahun cahaya: kau
dibungkus orbit terendah. Semua cakra melingkar
hanya mencecah, melayang di punggung tanah.
Tak cukup kata untuk rasa yang kau indera. Susi
menangis, merintih, tetapi tak sedih. Susi meraung,
memukul-mukul dada, namun tertawa. Apakah kata
untuk rasa semacam riang, namun pilu? Semacam
rindu, tetapi sendu? Susi bergetar, lampus prana.

Cahaya menyentuh apa pun rupa. Getar melepas
apa pun rasa. Jalan ke Sang Sumber, nikmat aduh
tak terkira. ”Susi, ah Susi, siapa terbakar—merah
padam, karena cinta?” Semua menanti, engkau
kembali: membawakan kami kabar gembira*.

Payakumbuh, 2009 * Dari QS 2:119.



Susi: Sengal Perahu

genting tampukmu, gelantung rawan kami meragu.
Gugurmu, Susi, ”Pucat gemerincing dalam seratku.”
anyir usiamu, geronggang musim yang tak kautahu.
Benihmu, Susi, ”Liar mendengking dalam sarafku.”
put…

Prosa

Hasif Amini
Kompas, 6 Juni 2010

Puisi dan prosa sering dianggap sebagai sepasang ”lawan kata”. Bahkan, tak hanya itu, puisi dianggap lebih tinggi dari prosa. Yang ”puitis” umumnya berkonotasi positif, sedangkan yang ”prosaik” sebaliknya. Mengapa bisa demikian? Dan betulkah puisi dan prosa adalah sepasang ”lawan kata”?

Mungkin kerja sastra yang telah berabad-abad lamanya mengukuhkan dikotomi itu. Puisi digubah dengan kesadaran yang intens (bahkan ”neurotik”) terhadap bahasa, sementara prosa ditulis dengan fokus utama terhadap ”isi” (cerita, perwatakan, argumen, dan sebagainya) dan konon perhatian seperlunya saja terhadap bahasa. Jika puisi adalah sebentuk komposisi berirama, maka seolah-olah prosa ditulis tanpa irama. Jika puisi menggarap unsur bunyi (juga sunyi) dan citraan serta pilihan kata secara ketat, maka semua hal itu seakan-akan tak terjadi pada prosa. Dengan kata lain: jika bahasa berlaku sebagai ”pemeran pembantu” dalam prosa, maka dalam puisi bahasa adalah ”pemeran utama”. A…

Nasionalisme TKW Hong Kong dalam Cerpen

Kuswinarto*
http://www.lampungpost.com/

Membicarakan nasionalisme di kalangan tenaga kerja wanita (TKW) kita di luar negeri sangat menarik. Sebab, bagi TKW (dalam asumsi saya), Indonesia yang menjadi Tanah Air mereka, tempat mereka lahir dan besar, bukanlah sebuah negeri yang bersahabat. Bagi mereka (masih dalam asumsi saya), Indonesia tak berpihak kepada rakyat kecil seperti mereka.

Betapa tidak? Indonesia memaksa sebagian besar dari mereka putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena Indonesia hanya mampu memberikan sebuah kemiskinan yang mengenaskan bagi keluarga mereka sehingga tak mampu menyekolahkan mereka. Itu masih ditambah kenyataan bahwa biaya pendidikan mahal dan itu terjadi di tengah maraknya kasus korupsi terhadap uang negara (baca: uang rakyat).

Karena orang tua miskin, para TKW terpaksa mengubur cita-citanya. Padahal bukan tidak mungkin jika terus menempuh pendidikan formal, sebagian dari mereka akan menjadi para pembaharu yang akan…

GELIAT SASTRA LOKAL

[Khususon Jombang, Wabil khusus Fahrudin Nasrulloh]
Nurel Javissyarqi*
Jurnal Jombangana, Nov 2010

Sebelum jauh menelusuri judul di atas, diriku teringat awalkali melangkahkan kaki ke tanah Jombang, tahun 1993. Dari rumah di Lamongan, aku persiapkan niat menimba keilmuan mengeruk ketololan demi semakin menginsyafi kebodohan. Terbayang di kepalaku sosok-sosok insan ampuh pada daerah kan kudiami, para pejuang serta penyebar ajaran Islam; KH. Hasyim Asy’ari, KH. A. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Sansuri, dan tokoh-tokoh masih hidup dikala itu; Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, serta tidak terkecuali budayawan Emha Ainun Nadjib, yang sampai kini menyetiai lelakunya mengayomi rakyat jelata, masyarakat pedalaman.

Setiap langkah kubaca tanda kan terjadi, kusapa dedaunan terlintas di pinggir jalan; jalur ini kelak laluan sering kulewati. Pun menyimak gemawan sambil merasai apakah pribadiku tergolong dirahmati menggapai cita. Demikian memasuki kota lain, diuntit bayang-bayang masa silam; penjaja…

Di balik tembok angkuh KJRI

Syifa Aulia
http://sastra-indonesia.com/

Berpuluh tahun gedung itu berdiri
tetap angkuh tak tersentuh
hingga kini
berkali-kali penguasa berganti
tak ada perubahan yang berarti
sebab tuhan telah bersarang
di kepala para petinggi

segala janji manis terpapar
selaksa cahaya memendar
lalu pudar

suara-suara telah terbiasa diacuhkan
padahal kami semua perempuan
datang tak berpedang
pun menabuh genderang perang
kami hanya ingin menguraikan
masalah yang tak teratasi sendiri
mengadukan ketidak-adilan
yang terpampang di depan
mata setiap hari

sebab konon kalian
perantara negara
untuk melindungi tiap warganya

tapi kalian telah memupuskan
nilai kemanusiaan
hingga kepala dipenggal
tiada dipedulikan
teriakkan di jalanan kata
LAWAN
hanya simbol perlawanan
yang tak pernah selesai
kami rumuskan

kini kulantang bertanya;
sesungguhnya apa pentingnya KJRI buat kita?

Belati

Noval Jubbek
http://sastra-indonesia.com/

“kalau kau hendak bertandang, bawalah belati yang kau janjikan pada hari kamis atau ahir pekan”

mungkin, tak ada yang pernah tahu seperti apa pemburuan yang terjadi dalam lingkaran dingin seperti ini. termasuk aku yang selalu saja membiarkan rasa pasrah itu berlari lebih dulu, mendahului apa saja. tangan yang tak sampai satu meter, kaki yang mulai kaku dan mata yang memandang tak lebih dari ujung marka.

“aku membawa belati yang masihlah basah, nona!”

belati yang pernah bersarang di perut bapakku, tetap menyimpan bau anyir. meski kembang tujuh rupa dari segala macam ujung kuburan paling angker aku kumpulkan, dan dicampurkan pada air yang ditimba dari ceruk tujuh sumur paling keramat aku siramkan sebagai tumbal. kilatnya yang samar masih perih.

“bagaimana aku bisa tau dan percaya bahwa belati ini masih basah, niman?”

“dengarkan saja detak jantungnya, nona”

“hah, kau sudah gila?”

“bolehlah kau berkata begitu, sebab masih banyak pemaklumanku pada y…

Mengapa Menerjemah Ulang?

Wawan Eko Yulianto*
http://nasional.kompas.com/

Apa perlunya sebuah buku yang pernah diterjemahkan puluhan tahun lalu diterjemahkan lagi oleh penerjemah yang berbeda?

Itulah pertanyaan yang menggantung di benak saya ketika membaca curriculum vitae Breon Mitchell, seorang profesor comparative literature asal Indiana University, Bloomington yang hadir di kampus kami sebagai penerjemah tamu. Prof. Breon Mitchell telah menerjemah ulang The Trial (Franz Kafka) dan sedang menyelesaikan penerjemahan The Tin Drum (Günter Grass) dari bahasa Jerman ke bahasa Inggris. Sebenarnya, masing-masing buku itu telah diterjemahkan puluhan tahun sebelumnya. The Trial, dalam edisi bahasa Inggris yang terkenal, diterjemahkan oleh pasangan Muir, dan The Tin Drum diterjemahkan oleh Ralph Manheim.

Mungkin akan terlintas di benak kita pertanyaan-pertanyaan semacam: “Apakah ada kesalahan pada masing-masing edisi terjemahan tersebut, sehingga harus 'dikoreksi'?” Namun, apa yang disampaikan oleh Breon Mitch…

Setelah Lebaran

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

SEPULUH tahun yang lalu Bariah masih mencoba mudik tiap mau lebaran, ikut berdesakan dan reboh bawa oleh-oleh. Tapi saat sampai di rumah dan tidak kebagian kamar, karena kamar depan dipakai Kang Barjan dan anak-istri, kamar tengah dipakai Kang Barjun dan anak-istri, dan di dapur dipasang amben untuk Ayah yang sakit-sakitan, maka Bariah memutuskan tak akan pulang berlebaran, seperti pada hari lebaran 10 September yang lalu.

Terlebih saat tiga bulan sebelum lebaran, Ayah meninggal dan rumah keluarga diparuh, sementara Bariah hanya diwaris ladang samping yang dianggap pantas untuk tempat membangun rumah. Sakit hati mendengar omongan Kang Barjan, yang bilang, “Kamu punya penghasilan jadi bisa nyicil mbangun rumah.” Sakit oleh rasa enggan mereka ketika merespon kepulangannya ketika itu, yang dianggap seakan-akan (Bariah) ingin menumpang tinggal selamanya. Ketika Kang Barjan menyuruh menginap di Kang Barjun, dan Kang Barjun menganjurkan menginap d…

Kabut Sepanjang Jalan ke Arah Rumah

Alexander G.B.
http://www.lampungpost.com/

Empat jam dari Bakauheni sampailah aku di Terminal Rajabasa. Sengaja tak banyak barang bawaan, hanya beberapa helai baju dalam tas ransel hitam yang terlanjur berubah abu-abu. Debu berterbangan, beberapa di antaranya hinggap ke sepatu, baju, dan paru-paru. Rencana kepulanganku tak akan lebih dari seminggu. Aku menduga pasti tak akan kerasan di rumah. Aku tidak tahu mengapa perasaan tidak nyaman semacam ini bermekaran di kepala.

Aku tertarik dengan kesibukan orang-orang di terminal, ada yang merasa asing melangkah ragu-ragu. Tampak raut cemas dan lelah begitu lekat sebagian besar pengunjung, menunggu keberangkatan untuk pulang dan pergi. Tetapi sebagian—yang menganggap terminal sebagai rumah—tampak santai, kerap matanya berubah seperti mata serigala melihat mangsa. Mereka selalu tahu siapa yang sering bepergian dan yang tidak. Ketenanganku membuat mereka tak hendak mengusik atau mengganggu. Aku bersyukur atas itu.

Ya, sementara aku selamat, aku…

Mudik Lebaran

Asep Yayat
http://www.suarakarya-online.com/

Setiap lebaran aku selalu pulang kampung. Mudik. Tak terkecuali lebaran kali ini. Segala persiapan sudah beres. Jadi, tinggal berangkat saja. Beberapa hari lalu mobil sudah kubawa ke bengkel: ganti oli plus servis mesin dan penyejuk udara alias AC. Dengan demikian, meski terbilang sudah uzur, mobilku tetap nyaman dan bisa diharapkan tidak mogok di perjalanan.

Sementara itu, oleh-oleh buat ibu di kampung sudah dibungkus rapi dalam rupa kado dengan hiasan pita sehingga berkesan istimewa. Beberapa kardus juga sudah dilakban. Isinya: bingkisan untuk kerabat, terutama Nung yang sehari-hari menemani dan merawat ibu.

Nanti pagi menjelang adzan shubuh, ketika orang-orang sedang santap sahur, aku bersama istri dan anakku semata wayang mulai meluncur meninggalkan Jakarta. Mudah-mudahan arus kendaraan di jalur pantura sudah tidak macet lagi seperti heboh diberitakan di televisi tadi sore. Tapi kalaupun perjalanan mudik lebaran ke arah timur Jakarta mas…

Kegilaan Seorang Jendral: Catatan Pentas Monolog Cucuk Espe

Denny Mizhar *
http://sastra-indonesia.com/

Dengan artistik yang minimalis dan musik yang sederhana, pentas monolog Jendral Markus pun berlangsung. Adegan awal yang dimulai dengan sapa tokoh kepada penonton, layaknya seorang yang sedang orasi ditengah kerumunan massa. Hal tersebut nampak pada pemilihan bentuk panggung arena yakni upaya tak mengambil jarak dengan penonton.

Lontaran pertanyaan-pertanyaan pada penonton tentang dirinya (Jendral Markus) terus berulang, tetapi penonton pun tak menjawab siapa Jendral Markus, hanya senyum dan bingung tampak pada ekpresi para penonton di Sasana Krida Budaya. Akhirnya Jendral Markus pun mengenalkan dirinya sendiri, bahwa ia yang menjaga kota ketika kota dilanda kekacauan, pembakaran pertokoan. Tak hanya sampai situ, penonton di bawa pada alur mundur akan pertemuan dengan seorang ibu yang menanyakan anaknya yang hilang. Anak seorang ibu yang bergabung dalam dunia aktivisme dan sering melakukan demontrasi menentang kekuasaan. Kali ini Jendral Mar…

PUISI DI RAGANGAN BUIH

Suryanto Sastroatmodjo
http://sastra-indonesia.com/

1.
Tahun ini, seorang anak keponakan saya, Vivi Sudayeni memenangkan lomba Cipta Puisi di Sragen, dalam perayaan Memperingati 10 Nopember, di mana sebuah sanjak bernapaskan kepahlawanan berhasil diciptakannya dengan bagus sekali. Tahun sebelumnya, diamenjuarai lomba baca puisi. Sebenarnya, kalau hanya lomba baca puisi, saya tidak begitu puas. Kepuasan itu justru lahir karena melihatnya, bahwa diapun mampu menciptakan puisi-puisi yang merekam aneka pengalaman masa remajanya yang intens.

Mudik Primordial

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Jutaan orang kini mempertaruhkan hidupnya di kota. Dan jutaan pula yang kembali ke kampung asal ketika menjelang Lebaran. Sebagian besar pulang karena kemauan sendiri, rindu sanak keluarga dan rumah tempat dia dilahirkan. Sebagian karena ada yang diminta oleh keluarganya untuk pulang atau kembali, berkumpul bersama-sama sambil merayakan hari raya Idul Fitri dengan suka cita.

Tak heran jika mudik jadi tradisi paling menyita perhatian di Indonesia. Dari musik sampai puisi terdapat tema mudik. Dari cerita sampai berita dipenuhi oleh tema mudik. Dan rumah tidak lagi bermakna sesuatu yang hanya fisik, tapi sesuatu yang religius.

Dari sisi agama, rumah adalah tempat kembali. Dalam Kitab Suci, al-Qur’an misalnya, cukup banyak menggambarkan persoalan reantau atau hijrah, pulang dan rumah. Ada rumah Allah (bayt-al Allah) atau bayt-al-Ma’mur, rumah yang dituju. Semuanya menunjukkan makna pencarian dan kembali dalam arti fisik sekaligus batin. Idul Fitri d…

Novel yang Mengurai Peristiwa Subliminal

Catatan kecil setelah membaca novel Tembang Tolak Bala
Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Mutu penginderaan manusia memiliki batas untuk mempersepsi segala hal di lingkungan sekitarnya. Tetapi, dalam aktivitas sehari-hari, ada peristiwa-peristiwa tertentu yang tetap direaksi oleh indera lalu diterjemahkan oleh pikiran namun tak kita sadari. Peristiwa itu disebut oleh Carl Gustav Jung dalam bukunya yang bertajuk Man and His Symbols sebagai peristiwa subliminal, atau peristiwa yang diserap ke lapisan bawah dari ambang kesadaran.

Peristiwa-peristiwa subliminal ini, nantinya memiliki arti emosional tersendiri bagi seseorang, berperan mengimbangi dan memperbaharui keseimbangan psikis, mengembalikan arus ingatan pada hal-hal yang telah di/terlupakan, bahkan menjadi rangkuman padat dari kehidupan. Kesemuanya itu, diolah dalam bentuk pesan khusus oleh alam tak sadar dan disampaikan dalam mimpi.

Peristiwa subliminal itulah yang menjadi pokok penting dalam novel Tembang Tolak Bala (LK…