Raudal Tanjung Banua
http://sastra-indonesia.com/
Pada tanggal 4 Jan 1960, Albert Camus, penulis lakon Caligula, meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil dekat Villeblein. Ia lahir di Mondovi, Aljazair, 7 November 1913, tetapi lebih dikenal dalam khazanah filsafat dan sastra Prancis. Berasal dari keluarga veteran Marne, Camus mencecap kehidupan yang sulit; kemiskinan, perang dan penyakit. Mungkin pengalaman ini yang membekas pada aktivitas dan karya-karyanya kemudian.
Camus misalnya, bergabung dengan koran bawah tanah Combat yang mewartakan penderitaan manusia di tengah kecamuk perang dunia kedua. Sebagai filsuf yang hidup sezaman dengan Sartre, Camus menolak pandangan kaum materialisme dan kaum idealisme. Yang pertama menganggap eksistensi manusia sama dengan eksistensi materi atau benda-benda; yang kedua kelewat mengagungkan pikiran manusia di atas segalanya. Sembari itu, ia melancarkan otokritik terhadap kaum eksistensialisme yang kadangkala menisbikan hakikat kemerdekaan manusia.
Sementara karya dramanya yang masyhur, Caligula, pada kenyataannya lahir sebagai sublimasi pengalaman empiris dan filosofisnya, sehingga sangat kritis, pedas dan memiliki keberpihakan yang tidak konvensional.
Ke dalam khazanah sastra-drama Indonesia, Caligula diterjemahkan oleh Asrul Sani, yang meninggal 11 Januari (kebetulan sama-sama Januari) 2004 di Jakarta. Asrul lahir di Rao, Pasaman, Sumatera Barat, 10 Juni 1926 dan dikenal luas dalam khazanah sastra, teater, film dan pemikir budaya tanah air.
Asrul di antaranya mendirikan perkumpulan “Gelanggang Seniman Merdeka” bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin; mengasuh rubrik budaya “Gelanggang” di warta sepekan Siasat; serta bersama-sama pula menerbitkan buku puisi monumental Tiga Menguak Takdir. Dalam teater, ia antara lain dikenal sebagai pendiri dan Direktur Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang menjadi tonggak teater modern (akademik) Indonesia, di samping menerjemahkan banyak lakon asing pilihan, termasuk Caligula. Di film, namanya abadi bersama karya film yang disutradarai-nya seperti Pagar Kawat Berduri, Apa yang Kau Cari Palupi, Salah Asuhan dan drama Makhamah.
Kenyataan bahwa Asrul Sani sebagai pemikir kebudayaan, terlihat dari pernyataan “Surat Kepercayaan Gelangga-ng” yang digagasnya. Surat yang dimuat pertama kali dalam “Gelanggang”/Siasat, 23 Oktober 1950 itu, menjadi sangat terkenal terutama karena pandangannya yang menyatakan “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia; dan kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tak ingat kepada melap-lap kebudayaan lama sampai berkilat untuk dibanggakan.”
Lalu, apakah hubungan antara Albert Camus, Caligula dan Asrul Sani? Tentu saja sebuah hubungan sangat kompleks, sarat dengan idiom kemanusiaan yang menarik untuk diaktualkan.
Albert Camus – Asrul Sani: Tindakan dan Pandangan
Albert Camus merupakan sosok yang ingin terlibat dal-am segala hal; tak hanya merenungkan segala sesuatu dari meja kafe–sebagaimana dilakukan Sartre dan kekasihnya, Simone de Beauvoir–atau dari belakang meja akademi dalam konteks Asrul Sani, melainkan terjun langsung ke lapangan kebudayaan.
Empirisme ini melahirkan gagasan dan tindakan yang memberi antitesa pada kemapanan. Camus misalnya tidak dapat menerima begitu saja ungkapan rasionalitas yang ditoreh Descrates, Corgito ego sum, “Aku berfikir maka aku ada”, namun melangkah lebih jauh, “Aku memberontak maka aku ada!” Lewat cara ini, Camus tidak menerima begitu saja paham eksistensialisme yang telah dirintis dengan bersahaja oleh Kierkegaard atau Nietzsche yang heroik —dan tidak pula menjadi varian bagi kemegahan Sartre. Meskipun dibanding Sartre, Camus lebih dikenal sebagai sastrawan ketimbang filsuf, sesuatu yang ironis dan tak adil sebenarnya.
Padahal, pandangan Camus mewarnai filsafat eksistensialisme dengan antitesa terhadap kaum materialisme dan idealisme, sekaligus otokritik trhadap eksistensialisme. Camus percaya bahwa untuk menjadi “ada” manusia harus merumuskan “cara” dan menempuh “upaya” dan itu tidak mungkin dilakukan oleh benda-benda; akan tetapi “cara” dan “upaya” itu terletak di atas kemerdekaan diri, jiwa yang otonom. Ada suara pemberontakan di situ, tapi sekaligus kearifan merumuskan pandangan relatif netral.
Di sisi lain, Asrul Sani menyadari eksistensi manusia Indonesia dibangun lewat proses kebudayaan yang agung dimasa silam, tapi itu tidak bisa diisolasi dari dunia-lapang luas. “Surat Pernyataan Gelanggang” sesungguhnya berangkat dari sini: menjadi antitesa “Polemik Kebudayaan” antara STA & Armjn Pane. Namun, “jalan tengah” yang ditawarkan Asrul kerap dipahami sebagai “jalan aman”, padahal itulah jalan ideal.
Nirwan Dewanto misalnya, kerap mengutip pernyataan ini secara sepenggal, khususnya “kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia” yang kemudian dianggap mewakili pandangan Asrul dkk. Padahal, pernyataan itu mestilah dipahami secara utuh, tak sepenggalan, apalagi berpretensi memojokkan. Nirwan menganggap ketegasan sikap tersebut sebagai “upaya meminta-minta” pada dunia, khususnya Barat, padahal disimpulkan dari sekerat kalimat! Sungguh ironis!
Teks dan Konteks Caligula: Mempertimbangkan Eksistensi Kebudayaan Kita
Caligula merupakan karya masterpiece Albert Camus yang memuat pandangannya terhadap hidup, takdir dan nasib sebagai satu-kesatuan rumusan eksistensialisme. Bukan suatu kebetulan, sebagai penerjemah, Asrul juga berurusan deng-an idiom “takdir” dalam merumuskan posisi dan eksistensi (kebudayaan) manusia Indonesia. Kata “takdir” pada buku puisi Asrul dkk. kadang ditafsirkan merujuk Sutan Takdir Alisyahbana (STA) yang pandangannya hendak dibongkar Asrul. Akan tetapi, “takdir” juga merujuk pada pusaran eksistensialisme, katakanlah dalam konteks kesastrawanannya yang mesti menjalani takdir: “dikutuk” untuk terus menjadi manusia gelisah, seperti Sisiphus atau Caligula.
Teks Caligula sendiri bercerita tentang menghilangnya Caligula, seorang raja muda, dari istana; membawa kesedihan mendalam atas meninggalnya orang yang dicintainya, Drusila. Ia mengembara di lorong kota Roma sembari mengolah pikirannya perihal hidup dan nasib. Sejauh manakah kemerdekaan manusia atas takdir kalau orang yang dicintai seorang raja pun tak luput dari kerkap tangan takdir? Takdir macam apakah yang dijalani manusia shingga harus menderita, misalnya oleh perang dan pembunuhan?
Pertanyaan-pertanyaan ini mengantar Caligula pada kesimpulan bahwa takdir mesti dilawan karena mengancam kemerdekaan dan eksistensi manusia. Ia pulang, dan segera melaksanakan gagasan pencerahan tersebut: hidup yang keras dan tak terduga, manusia yang akan mati dan tidak berbahagia, haruslah dihadapi dengan cara yang keras dan tak terduga pula. Maka tak terduga, Caligula menzalimi kerajaannya: membunuh, memperkosa, dan melecehkan rakyatnya sendiri. Absurditas ini memberi antitesa pada takdir: kalau manusia mati dan ia tak bahagia, maka harus ada tindakan yang membuat mati tidak sekadar persoalan bahagia atau menderita, tapi persoalan cara dan upaya mempertahankan eksistensi.
Kita bisa mengaktualkan teks ini dalam konteks dunia sekarang yang penuh paradoks dan ironisme. Ada ancaman terhadap eksistensi (kebudayaan) manusia karena yang menang tampaknya adalah pandangan materialisme yang menganggap manusia tak ubahnya benda-benda yang bisa dieksploitasi seenaknya. Lewat imprealisme gaya baru, kapitalis-me dan militerisme internasional, pandangan itu mewujud terutama di negaranegara dunia ketiga, termasuk Indonesia! Sementara itu, kaum idealisme yang kelewat jumawa mengagungkan pikiran, jelas masih bertengger di menara gading dan sebagian menjadi korban (kalau tidak pengikut), kekuasaan. Sudah barang tentu ini mengancam eksistensi budaya dan ekologi, mematikan nalar dan daya kritis, dan yang lebih tragis: mengancam kemerdekaan manusia dalam menentukan nasib sendiri. Perdagangan bebas, perang dan invansi, jelas menolak “cara” dan “upaya” lain di luar mainstream.
Reaksi terhadap hal itu muncul beragam dari yang kooperatif hingga yang radikal seperti terorisme. Di satu sisi, terorisme menyebabkan kegoncangan pada seluruh tatanan hidup manusia (termasuk kebudayaan) tapi sebenarnya berpangkal pada satu soal: eksistensi. Tragedi 11 September yang mengguncang AS (kemudian juga Jakarta dan Bali, di sini!) jelas mengancam eksistensi umat manusia, akan tetapi di sisi lain sadarkah kita bahwa ada juga kelompok manusia yang eksistensinya tak terakui? Kelompok inilah yang kemudian bertindak dengan “cara” dan “upaya” yang sangat tidak lazim—membajak pesawat, menabrak menara, mele-dakkan bom (bunuh diri)—sebagaimana Caligula bertindak dengan caranya sendiri.
Di sinilah suara Camus kembali bergema: manusia, sia-papun ia, harus merebut eksistensinya, yang berarti mere-but kemerdekaannya, dari ketertindasan apapun. Karena manusia bukan objek, tapi subjek, maka berbagai “cara” dan “upaya” ditempuh dalam menghadapi tekanan nasib. Semestinya kita bertanya: siapa yang menekan dan siapa yang tertekan? Siapa yang tidak merdeka dan siapa yang leluasa? Di balik kutuk dan serapah terhadap teroris (sebagaimana juga terhadap Caligula), sesungguhnya kita perlu sedikit menyisakan suara jernih: bukankah Amerika dan sekutunya lewat noe-imperialisme, kapitalisme dan militer-isme dengan leluasa menekan eksistensi kelompok lain? Ketertindasan, apa boleh buat, telah memunculkan “cara” dan “upaya” yang tidak lazim dalam sejarah perjuangan eksistensi umat manusia. Separatisme, fundamentalisme, juga terorisme adalah sederet cara dan upaya yang terpaksa ditempuh untuk menunjukkan keberadaan diri atau kelompok tersisih.
Betapapun cara dan upaya itu tidak lazim, bahkan mengancam eksistensi itu sendiri, namun tidaklah untuk didiamkan dan dibutakan. Menjawab cara dan upaya yang tidak lazim dengan caracara yang juga tidak lazim seperti penangkapan konyol, main tuduh, perang, agresi, dan operasi militer hanya akan berbuntut pada kenyataan bahwa kekerasan adalah cara yang lazim. Maraknya jaringan terorisme, serta bergolaknya sejumlah daerah di Indonesia dari Aceh hingga Papua, boleh jadi berpangkal dari tertindasnya kebudayaan, rusaknya ekologi dan terancamnya eksistensi para pendukungnya. Tapi bukankah kita seperti membutakan mata , menulikan telinga?
Kalau demikian kenyataannya,maka penerjemahan Asrul Sani atas lakon Caligula karya Albert Camus, bertahuntahun yang lalu, memiliki nilai aktual dan relevansi dalam mempertimbangkan sikap dan eksistensi kebudayaan kita, baik ke luar maupun ke dalam, hingga hari ini. Ke luar, bagaimanakah sikap bangsa ini atas hegemoni kebudayaan kapital dan industrial; apakah mesti dilanjutkan atau ditiru untuk menggilas eksistensi kebudayaan non mainstream? Ke dalam, apa kabar kebudayaan Indonesia hari ini, apa kabar kemanusiaan kita, di tengah hingar-bingar politik reformasi, otonomi atau MTV?***
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Raudal Tanjung Banua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Raudal Tanjung Banua. Tampilkan semua postingan
05/10/11
01/08/11
Hiperealitas Otonomi
Raudal Tanjung Banua
Lampung Post, 30 Juli 2011
OTONOMI daerah merupakan impian untuk meretas kehidupan sosial-politik yang lebih adil dan bermartabat. Tak kurang 30 tahun lamanya Indonesia pernah merasakan sumpeknya sistem sentralistik. Maka, dalam era reformasi sistem desentralisasi dianggap tepat mengatasi dampak-dampak yang memusat, mulai tak meratanya pembangunan, luputnya pengadaan infrastruktur penting suatu kawasan, kecilnya anggaran belanja daerah, sampai soal posisi dan daya tawar kepala daerah yang selalu didrop dari “atas”. Akibatnya, putra daerah dianggap tak dapat tempat. Padahal mereka diasumsikan lebih memahami seluk-beluk daerah bersangkutan. Dengan demikian, otonomi sekaligus menjadi pemantik bangkitnya kepemimpinan daerah (politik lokal).
Kini, otonomi daerah bukan lagi mimpi, melainkan realitas tak terbantahkan. Uniknya (atau ironis?), saat impian itu terwujud, lengkap dengan undang-undang, aturan, dan sistemnya, justru pada saat itu pula kita seperti kembali bermimpi!
Rupa-rupanya otonomi sudah memasuki fase “hiperealitas”: sesuatu yang dirayakan secara eforia, terus-menerus, nyaris tanpa refleksi sehingga sukar membedakan apakah otonomi sebuah proyek visioner, atau sekadar simulasi yang melenakan.
Mengutip glosarium cultural studies yang disusun Yasraf Amir Piliang (2004), “hiperealitas” (hyper-reality) merupakan istilah Jean Baudrillard (tokoh penting kajian pascamodernisme asal Prancis) untuk menjelaskan keadaan runtuhnya realitas, karena diambil-alih oleh rekayasa pelbagai model (citraan, halusinasi, simulasi) yang dianggap lebih nyata daripada realitas itu sendiri, sehingga perbedaan keduanya menjadi kabur.
Mari kita lihat misalnya kasus pencitraan. Penampilan (calon) pemimpin merupakan faktor utama dalam konsumsi publik. Pemimpin atau pejabat yang “santun”, punya retorika dalam isu-isu mutakhir, seperti pemberantasan korupsi, selalu siap mengumbar janji untuk menyenangkan hati orang banyak, niscaya akan mendapat tempat. Ditambah lagi jika sang pemimpin punya sedikit bakat untuk memuaskan selera massa, seperti bernyanyi, maka mendadak ia didapuk menjadi seorang bintang (selebritas) yang mendatangkan histeria. Selebritas politik sebagai modal pencitraan tentu sanggup menghipnosis massa cair atau mengambang untuk terjun bebas menjadi konstituen partai sang bintang, atau memilih sang bintang tanpa perlu banyak pertimbangan (rasionalisasi).
Gaya hidup yang bersifat fisik tentu juga tak kalah penting dalam menunjang pencitraan. Sikap “pemurah” bagi-bagi logistik, khususnya dalam masa kampanye, kadang menjadi poin tersendiri. Tanpa mengabaikan bahwa publik tidak bodoh, toh kenyataan menunjukkan figur yang berhasil membangun pencitraan sebagai “dermawan” sering menangguk sukses besar. Lagi pula, bukankah politik identik dengan modal finansial? Hanya figur yang memiliki banyak modal yang umumnya dipinang partai politik. Akibatnya, sang figur harus menguras pundi-pundi kekayaannya sampai minus bahkan benar-benar bangkrut. Bagaimana mengembalikan modal politik yang demikian besar? Tak jarang dengan balik mengeruk keuntungan dari jabatan yang disandangnya!
Berikutnya kita lihat dalam hal halusinasi sekaligus simulasi. Salah satu bisa diwakili narasi berikut ini: Pilkada langsung yang diharapkan membawa perubahan, sebenarnya masih belum diterima secara meyakinkan. Kini misalnya, muncul wacana tandingan dari Depdagri, bahwa gubernur sebaiknya tidak dipilih langsung, tapi kembali dipilih DPRD. Sebab “rasa-rasanya” gubernur harus berkoordinasi dengan presiden.
Belakangan muncul lagi usul, pasangan calon gubernur, bupati/wali kota sebaiknya tak dipilih satu paket. Posisi wakil dipilih pihak yang jadi (menang) saja. Alasannya, gubernur/bupati/wali kota sering bersaing dengan wakilnya sendiri untuk maju dalam pilkada berikutnya, sehingga melupakan tugas pokok mereka sebagai pemimpin rakyat. Ini memang proses, tapi kentara proyek “rasa-rasanya.” Terasa ada permainan yang tak kunjung usai. Melelahkan bagi rakyat, tapi mengasyikkan bagi elite. Eksprimentasi politik? Boleh jadi!
Hiperealitas
Dalam situasi seperti itu, Anda lihatlah hiperealitas otonomi kini bertebaran di depan mata: (1) Otonomi daerah bukan hanya di tingkatan provinsi, tapi tak kalah penting di tingkat kabupaten/kota, dan jika perlu sampai ke tingkat kecamatan, dengan konsekuensi; (2) pemekaran wilayah bukan lagi persoalan administrasi negara, tapi keniscayaan politik yang dapat ditarik-tarik sesuai dengan kepentingan politik. Otonomi identik dengan pemekaran: jumlah daerah terus membengkak, meskipun tata-kelolanya banyak gagal, tetap saja pada ngantre mengajukan “kapling baru”. Sebab; (3) pemilihan kepala daerah dapat langsung dilakukan masyarakat meskipun figur yang dipilih sebenarnya tetap berdasar “rekomendasi politik” oleh partai politik di tingkat Pusat, kadang disertai “politik uang”, atau modal politik yang diartikan sebatas finansial.
Selanjutnya, pencitraan calon pemimpin, halusinasi kejayaan wilayah sendiri serta asyiknya simulasi politik, membawa dampak: (4) munculnya figur-figur baru masyarakat tempatan sebagai pemimpin untuk menjawab tuntutan “putra daerah”. Namun tak ada jaminan ia lebih paham daerahnya, alih-alih menjelma “orang kuat” di wilayah bersangkutan lantaran tidak adanya undang-undang yang tegas mengatur akses seseorang sehingga terjadilah dinasti politik yang bersifat akumulatif (5). Inilah simalakama demokrasi yang ditelan mentah-mentah: apa saja sah dan kita kehilangan logika-timbangwirasa dalam berpolitik. Betapa biasanya suami menjadi bupati digantikan anak atau istri; ayah menjadi bupati, anak kepala legislatifnya, bahkan ada suatu daerah di mana suami, istri, dan sang adik maju sebagai calon gubernur! Di daerah lain, bupati incumbent maju bersama dua istrinya!
Akibat dari semua itu adalah (6) keberpihakan politik lokal terhadap kemajuan daerah kadang juga sami mawon (sama saja) dengan saat terjadinya politik sentralistik! Walahualam.
Raudal Tanjung Banua, Sastrawan
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/07/hiperealitas-otonomi.html
Lampung Post, 30 Juli 2011
OTONOMI daerah merupakan impian untuk meretas kehidupan sosial-politik yang lebih adil dan bermartabat. Tak kurang 30 tahun lamanya Indonesia pernah merasakan sumpeknya sistem sentralistik. Maka, dalam era reformasi sistem desentralisasi dianggap tepat mengatasi dampak-dampak yang memusat, mulai tak meratanya pembangunan, luputnya pengadaan infrastruktur penting suatu kawasan, kecilnya anggaran belanja daerah, sampai soal posisi dan daya tawar kepala daerah yang selalu didrop dari “atas”. Akibatnya, putra daerah dianggap tak dapat tempat. Padahal mereka diasumsikan lebih memahami seluk-beluk daerah bersangkutan. Dengan demikian, otonomi sekaligus menjadi pemantik bangkitnya kepemimpinan daerah (politik lokal).
Kini, otonomi daerah bukan lagi mimpi, melainkan realitas tak terbantahkan. Uniknya (atau ironis?), saat impian itu terwujud, lengkap dengan undang-undang, aturan, dan sistemnya, justru pada saat itu pula kita seperti kembali bermimpi!
Rupa-rupanya otonomi sudah memasuki fase “hiperealitas”: sesuatu yang dirayakan secara eforia, terus-menerus, nyaris tanpa refleksi sehingga sukar membedakan apakah otonomi sebuah proyek visioner, atau sekadar simulasi yang melenakan.
Mengutip glosarium cultural studies yang disusun Yasraf Amir Piliang (2004), “hiperealitas” (hyper-reality) merupakan istilah Jean Baudrillard (tokoh penting kajian pascamodernisme asal Prancis) untuk menjelaskan keadaan runtuhnya realitas, karena diambil-alih oleh rekayasa pelbagai model (citraan, halusinasi, simulasi) yang dianggap lebih nyata daripada realitas itu sendiri, sehingga perbedaan keduanya menjadi kabur.
Mari kita lihat misalnya kasus pencitraan. Penampilan (calon) pemimpin merupakan faktor utama dalam konsumsi publik. Pemimpin atau pejabat yang “santun”, punya retorika dalam isu-isu mutakhir, seperti pemberantasan korupsi, selalu siap mengumbar janji untuk menyenangkan hati orang banyak, niscaya akan mendapat tempat. Ditambah lagi jika sang pemimpin punya sedikit bakat untuk memuaskan selera massa, seperti bernyanyi, maka mendadak ia didapuk menjadi seorang bintang (selebritas) yang mendatangkan histeria. Selebritas politik sebagai modal pencitraan tentu sanggup menghipnosis massa cair atau mengambang untuk terjun bebas menjadi konstituen partai sang bintang, atau memilih sang bintang tanpa perlu banyak pertimbangan (rasionalisasi).
Gaya hidup yang bersifat fisik tentu juga tak kalah penting dalam menunjang pencitraan. Sikap “pemurah” bagi-bagi logistik, khususnya dalam masa kampanye, kadang menjadi poin tersendiri. Tanpa mengabaikan bahwa publik tidak bodoh, toh kenyataan menunjukkan figur yang berhasil membangun pencitraan sebagai “dermawan” sering menangguk sukses besar. Lagi pula, bukankah politik identik dengan modal finansial? Hanya figur yang memiliki banyak modal yang umumnya dipinang partai politik. Akibatnya, sang figur harus menguras pundi-pundi kekayaannya sampai minus bahkan benar-benar bangkrut. Bagaimana mengembalikan modal politik yang demikian besar? Tak jarang dengan balik mengeruk keuntungan dari jabatan yang disandangnya!
Berikutnya kita lihat dalam hal halusinasi sekaligus simulasi. Salah satu bisa diwakili narasi berikut ini: Pilkada langsung yang diharapkan membawa perubahan, sebenarnya masih belum diterima secara meyakinkan. Kini misalnya, muncul wacana tandingan dari Depdagri, bahwa gubernur sebaiknya tidak dipilih langsung, tapi kembali dipilih DPRD. Sebab “rasa-rasanya” gubernur harus berkoordinasi dengan presiden.
Belakangan muncul lagi usul, pasangan calon gubernur, bupati/wali kota sebaiknya tak dipilih satu paket. Posisi wakil dipilih pihak yang jadi (menang) saja. Alasannya, gubernur/bupati/wali kota sering bersaing dengan wakilnya sendiri untuk maju dalam pilkada berikutnya, sehingga melupakan tugas pokok mereka sebagai pemimpin rakyat. Ini memang proses, tapi kentara proyek “rasa-rasanya.” Terasa ada permainan yang tak kunjung usai. Melelahkan bagi rakyat, tapi mengasyikkan bagi elite. Eksprimentasi politik? Boleh jadi!
Hiperealitas
Dalam situasi seperti itu, Anda lihatlah hiperealitas otonomi kini bertebaran di depan mata: (1) Otonomi daerah bukan hanya di tingkatan provinsi, tapi tak kalah penting di tingkat kabupaten/kota, dan jika perlu sampai ke tingkat kecamatan, dengan konsekuensi; (2) pemekaran wilayah bukan lagi persoalan administrasi negara, tapi keniscayaan politik yang dapat ditarik-tarik sesuai dengan kepentingan politik. Otonomi identik dengan pemekaran: jumlah daerah terus membengkak, meskipun tata-kelolanya banyak gagal, tetap saja pada ngantre mengajukan “kapling baru”. Sebab; (3) pemilihan kepala daerah dapat langsung dilakukan masyarakat meskipun figur yang dipilih sebenarnya tetap berdasar “rekomendasi politik” oleh partai politik di tingkat Pusat, kadang disertai “politik uang”, atau modal politik yang diartikan sebatas finansial.
Selanjutnya, pencitraan calon pemimpin, halusinasi kejayaan wilayah sendiri serta asyiknya simulasi politik, membawa dampak: (4) munculnya figur-figur baru masyarakat tempatan sebagai pemimpin untuk menjawab tuntutan “putra daerah”. Namun tak ada jaminan ia lebih paham daerahnya, alih-alih menjelma “orang kuat” di wilayah bersangkutan lantaran tidak adanya undang-undang yang tegas mengatur akses seseorang sehingga terjadilah dinasti politik yang bersifat akumulatif (5). Inilah simalakama demokrasi yang ditelan mentah-mentah: apa saja sah dan kita kehilangan logika-timbangwirasa dalam berpolitik. Betapa biasanya suami menjadi bupati digantikan anak atau istri; ayah menjadi bupati, anak kepala legislatifnya, bahkan ada suatu daerah di mana suami, istri, dan sang adik maju sebagai calon gubernur! Di daerah lain, bupati incumbent maju bersama dua istrinya!
Akibat dari semua itu adalah (6) keberpihakan politik lokal terhadap kemajuan daerah kadang juga sami mawon (sama saja) dengan saat terjadinya politik sentralistik! Walahualam.
Raudal Tanjung Banua, Sastrawan
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/07/hiperealitas-otonomi.html
28/02/09
Ladang Terbakar
Raudal Tanjung Banua
http://www.kr.co.id/
APA pun kata orang, keputusan Sombiang sudah bulat, tak bisa diganggu-gugat: mengajak istrinya, Lanik, tinggal di ladang. Sebuah pondok kayu bertiang tinggi beratap rumbia-ditisik batang rengsam-kukuh dengan batang kayu pelawan, selesai sudah dibuat. Ada hamparan sahang seluas mata memandang. Sementara pohon-pohon karet tua di lahan arah ke lembah-warisan orangtuanya-sengaja ditebang, sebagai gantinya, kini ratusan batang anak karet kembali ditanam: di tengahnya pondok itu tegak berjaga.
Apalagi? Sekarang, tak ada yang perlu dirisaukan, kata sebuah lagu yang Sombiang simak diam-diam dari radio transistor yang tergantung di paku dinding, nyaris nyerocos seharian. Pada malam tertentu biasanya ada acara pantun kasmaran asuhan Saad Toyib dan Kario-dua pasangan pengasuh yang pas; satu gaek, satu muda; satu takzim yang lain kocak. Itulah yang menemani Sombiang selama ini di ladang dalam hari-hari yang panjang (ah, siapa bilang tak ada risau?). Kadang Sombiang terbahak sendirian, kadang tertegun sedih bila pantun yang dilantunkan menyentil perasaan.
Apelah daye bulan di dahan/Mau terbenam, eh, disamber buaye/Apelah daye badan sendirian/Di dingin malam berteman si air mate
Sombiang menggeliatkan badan di atas dingin tikar pandan.
Siang hari ia bekerja selayaknya petani sejati, mengolah tanah, merawat benih dan memetik apa yang layak dipetik, semuanya dengan kasih. Malam hari, kadang ia pulang ke rumah-jauh di kampung-tapi lebih sering bermalam di pondok-biasanya di pondok lama, dekat ladang durian dan sahang. Bila sesekali rasa sepinya tak tertahankan, tak jarang Sombiang berkunjung ke pondok peladang lain, atau berlama-lama di tepian sehabis bekerja agar bertemu sesama peladang sekadar bercakap-cakap. Tentang harga timah. Tentang tambang timah lepas pantai di Bubus yang sering diwarnai konflik. Sembahyang rebut di klenteng tua Batu Rusa. Sampai juga pada naiknya harga-harga dan bejibunnya partai baru tapi diisi orang-orang lama.
Meski mereka peladang, kebutuhan tak sebatas ladang yang subur atau harga membubung. Salah seorang di antara peladang yang fasih berdiskusi tentang hal itu adalah Datuk Bulian, seorangtua yang tetap perkasa, dengan anak dan istri yang rutin mengunjunginya sekali sepekan (terkadang dengan membawa koran). Ah, membuat Sombiang cemburu sebetulnya. Sedang Sombiang, siapa yang akan mengunjunginya? Lanik istrinya-yang sampai saat ini belum juga hamil-jangankan sekali sepekan, sekali sebulan saja tak pernah menginjakkan kakinya di ladang mereka. Kadang ia maklum, istrinya terlalu sibuk membantu ibunya mengurus warung yang buka hingga malam. Tapi, terkadang Sombiang juga berpikir, itu semua lebih disebabkan karena selaku anak tunggal di keluarga, istrinya terlalu disayang; jangankan ke ladang, ke kebun belakang rumah pun seolah ia berpantang. Pantang itu terutama justru digariskan ibunya sendiri yang memang kelewat memanjakannya.
Terkadang, di tengah keasyikkan bicara "bangsa" dan "dunia", terbicarakan juga urusan keluarga masing-masing. Tentang anak-anak yang naik kelas. Istri yang gemar menabung. Dan di antara itu, kerap terlontar suara,"Sombiang, warung istrimu tambah maju tampaknya?" Sombiang mengangguk sedikit. Lalu,"Tak sempat lagi ia ke ladang ini, ya?" itu dari Sadeli.
Atau ini,"Istrimu belum hamil juga ya?" kata Rabius pula. "Kenapa tak pernah melirik Datuk kita? Datuk Bulian 'kan bisa bikin ramuan kesuburan."
Inilah yang paling tak disukai Sombiang dari acara kumpul-kumpul di tepian.
Tapi kini, mulai saat ini, tidak lagi! Ia telah bulat memutuskan: istrinya, Lanik, akan diajak tinggal di ladang, sementara warung di rumah biarlah ibu mertuanya yang mengurus. Sombiang sudah tak peduli. Sombiang merasa cukup jadi penurut: sejak menikah dengan Lanik, ia mau tinggal di rumah mertua hanya karena si mertua merengek-rengek minta pengertian,"Kalian tinggal di sini saja. Rumah di sini besar, warung sudah berjalan, semua untuk Lanik." Tapi tidak kali ini!
***
KEPUTUSAN Sombiang mengajak istrinya menetap di ladang, serta-merta menerbitkan gunjing orang sekampung; usia perkawinan belum seumur jagung, kata mereka, tapi si istri sudah diserahkan kepada kerasnya untung-jauh dari keramaian. Lain kalau sudah tua, dan anak-anak sudah besar, barulah wajar tinggal di ladang, begitulah selama ini cara orang kampung berkebiasaan. Menjadi adat yang tak bisa ditawar.
"Sedang Datuk Bulian pun tak tega mengajak istrinya tinggal di ladang, padahal anaknya sudah besar-besar," kata seseorang, dan tertawa-didengar ibunya Lanik dengan pedih dan geram.
"Sombiang punya anak saja belum, sudah ngajak istri bertanam di ladang. "
"Garap dulu rahim istrimu!" seseorang memotong, membuat ibu Lanik tersirap. Tapi perempuan itu tak ingin melabrak mereka. Aneh, ia malah ingin melabrak menantunya saja. Sombiang! Gara-gara Sombiang terkutuklah, gunjing itu mengalir.
"Kasihan, warung Lanik sedang maju-majunya, malah ditinggal."
Kembali ibu Lanik membayangkan wajah menantunya saat mengutarakan niatnya mengajak Lanik tinggal di ladang. Wajah yang kukuh dan tenang, tapi terasa dingin sebetulnya. "Begitulah, Mak, kuputuskan mengajak Lanik istriku tinggal di ladang. Kami ingin belajar hidup sendiri dengan lebih tenang."
"Lanik anakku, anak tunggal!" si ibu berang.
"Ia istriku, tak ada lagi istriku selain dia. Ia anak Mak, semua orang tahu. Tapi bahwa ia tak lebih sebagai pembantu Mak di warung, mungkin hanya aku yang tahu. Kemudian gunjing dan tanya yang tiap hari hinggap di telinganya tentang kapan punya anak, yang membuat gendang telinganya serasa pecah dan hatinya tersayat, mungkin juga hanya aku yang tahu. Karena itu, kami ingin ke ladang setidaknya di sana ia bisa istirahat dengan lebih tenang."
"O, anakku akan bungkuk dan hitam di ladang! Hentikanlah kekejamanmu!"
"Tidak, Mak. Ia akan bekerja sesuai tenaganya, tidak sampai larut malam seperti di warung, dan setiap kerja adalah atas maunya, aku tidak pernah main perintah. Dan tidak ada pula gunjing yang menyakiti hatinya."
Perundingan itu (jika memang pantas disebut perundingan) tentu saja buntu. Tapi tidak keputusan Sombiang yang sudah bulat. Ketika hari baru terang tanah, Sombiang segera menarik tangan Lanik ke atas motor traill-nya, dan seketika melaju ke ladang itu. Lanik menangis, tapi jauh di lubuk hatinya, perempuan itu paham sepenuhnya.
***
BEGITULAH, sepasang peladang itu kini terus bertanam tidak hanya di lahan yang subur, tapi juga rajin bertanam di lahan yang lain: ladang rahim. Pondok ladang yang kukuh tinggi menjadi ruang paling hangat bagi mereka berbagi di malam-malam dingin, tak lagi bulan di dahan dimakan buaye seperti kata pantun. Tapi buayelah yang disihir bulan dengan terangnya umpama lampu; kini bahagie hidup berdue, sepanjang hari serasa berbulan madu, ai, ai, pantun di radio tua itu kini diubah sendiri oleh Sombiang, walau di dalam hati. Kalau saja Saad Toyib dan Kario, si pengasuh pantun di radio tahu, pastilah mereka akan bilang,"Madu Bangka pahit rasanya, Bung!"
Ya, ya, karena bersarang di pohon pelawan, madu di sini jadi lain rasanya. Pahit. Tapi ampuh untuk menggempur penyakit. Ibarat itulah hidup Sombiang dan Lanik, di atas pondok bertiang kayu pelawan, hari-hari yang mereka jalani sekilas mungkin terasa pahit-maklum, jauh dari keramaian, menempuh hidup tidak selazim orang berkebiasaan, dan mereka belum lagi punya anak-tapi sebenarnya hidup mereka begitu damai.
Mula-mula Lanik memang merasa canggung, namun hari-hari selanjutnya ia sudah biasa: bangun pagi-pagi, membawa cucian ke tepian, dan pulang dengan air bersih di dalam ember. Memasak, membuatkan kopi buat suami tercinta, yang sepagi hari juga telah melakukan prosesi kerja di lahan masa depan. Pagi yang damai, hari yang damai. Suara burung, kesiur angin, derak dahan pepohonan dan gemerisik daun gugur, irama suara tajak yang terdengar seperti tak-tik-tok jam, denting kayu kering di dapur, desis api yang menyala, semuanya, sungguh alangkah menyenangkan. Jauh dari bisik dan gunjing, jauh dari perburuan uang dan harta. Waktu jadi sepenuhnya milik mereka.
Lanik merasakan suasana di ladang bertolak belakang dengan suasana di rumahnya, di kampung yang mulai sibuk oleh tawar-menawar, tatapan penuh selidik, dan mimpi-mimpi. Di sini, kecuali radio transistor tua yang bernyanyi sepanjang hari, tak ada lagi suara luar yang menggoda dan membuatnya harus bekerja hingga larut malam-demi mimpi warung yang diperbesar menjadi toko swalayan; sebagaimana yang diangankan ibunya. Kelelahan bekerja agaknya, berdampak pada rahimnya. Padahal, selama hampir tiga tahun usia perkawinannya dengan Sombiang, pernah dua kali Lanik merasakan sesuatu tumbuh di rahimnya, tapi gugur lantaran perdarahan. Sombiang tak bisa berbuat apa-apa, kecuali semakin terperangkap dalam gunjing tak bersudah yang menyebut dirinya mandul, atau menuding rahim istrinya tak sesubur ladang sahangnya. Lanik pun tak berdaya dibuatnya, dan sebagai kompensasi atas semua itu, semakin ia membenamkan diri pada kesibukan kerja di warung, dari subuh hingga tengah malam!
Tapi tidak lagi sekarang. Hidupnya kini damai di ladang.
***
DAMAI? Ya. Pohon kopi berbunga, sahang menjuntaikan buah-buahnya dari pohon inang, anak-anak karet berlomba berangkat remaja, durian dan rambutan merayakan musim buah. Sombiang tersenyum ketika pada pagi-pagi sekali istrinya minta dipetikkan mangga muda di samping pondok. Sombiang tahu, sesuatu sedang terjadi pada istrinya. Maka sigap ia menjuluk buah mangga muda, dibersihkan getahnya, dan tak lama ia sudah melihat Lanik mencacah buah yang kecut itu-sepagi ini!-dan memakannya dengan tenang memakai garam dapur. Ya, sesuatu pasti sedang terjadi, Sombiang bergumam sendiri. Dan ia semakin yakin ketika beberapa hari kemudian istrinya muntah-muntah di tepian, disaksikan Rabius yang lewat dan singgah mengasah parang.
"Apakah kalian akan segera punya anak?" tanya laki-laki yang sampai sekarang belum juga menikah itu. Wajahnya tampak aneh.
"Sepertinya begitu, Kawan!" jawab Sombiang sambil menuntun lengan istrinya.
"Kok bisa ya?" Rabius bergumam, kian terasa aneh.
Sombiang menjawab sekenanya:"Ya, bisa. Tiap pagi kami minum madu pahit!"
Lengkap sudah. Di ladang harapan, mereka bertanam, dan semua tumbuh subur dalam kasih malaikat Tuhan. Sombiang merangkul istrinya, dan Lanik pun menyadari ada yang diam-diam bergerak di rahimnya.
Namun, seiring dengan itu, ada pula yang diam-diam bergerak di luar cinta kasih mereka: gunjing itu, bisik itu, dan tuduhan-tuduhan yang menyakitkan itu! Tersiar kabar, entah dari mana berpangkal, bahwa Lanik hamil karena campur-tangan Datuk Bulian!
"Ia menyerahkan istrinya pada dukun tua itu!"
"Itulah alasan tepat baginya mengajak perempuan malang itu tinggal di ladang!"
"Sombiang? Hanya ladang sahangnya yang subur, tidak benih lelakinya. Hanya tangkai cangkulnya yang kuat, tidak tongkat moyangnya!"
"Ya, ia mandul, mengapa istrinya kini mengandung?"
"Konon ia impoten, setelah jatuh dari motor traill-nya. Adakah di dunia ini seorang impoten punya putra?"
"Ya, Tuhan, terkutuklah kami kalau membiarkan ini semua!" seorangtua bersorban melenguh, menatap langit.
"Jangan sampai kita dikutuk, Ustadz. Perintahkanlah kami sekarang juga ke ladang sana, akan kami selamatkan perempuan malang itu, dan kami bakar ladang si suami terkutuk itu!" orang-orang merangsek.
"Jangan," sang Ustadz mengibaskan tangannya, sambil matanya tetap menatap langit seperti mencari-cari petunjuk.
"Ya, jangan biarkan kutuk itu turun, Ustadz!"
"Apakah Ustadz bisa mempertanggungjawabkan maksiat ini kelak di akhirat?" seseorang menantang.
Ustadz terkesiap, dan segera mengusaikan diri menatap langit, lalu dengan satu kibasan, bergemalah suaranya,"Berangkatlah!"
Maka obor-obor pun disulut. Cahaya senter melesat-lesat. Mengiringi kegeraman orang-orang batas kampung. Sementara di barisan paling belakang, dalam kerumunan kain sarung, Rabius, laki-laki yang lama mendambakan Lanik yang cantik-yang membuatnya tak kunjung menikah hingga sekarang-setengah gigil membayangkan apa yang akan terjadi. Lantaran rindu-dendam, ia berhasil menyebarkan bisik dan tuduhan itu dari tepian hingga ke dalam kampung, dan disambar orang kampung sebagai kebenaran. Bahkan ibu Lanik pun diam-diam jadi sekutu Rabius: dendam sang ibu pada menantu, sudah cukup jadi alasan untuk menyulut restu menggerakkan orang-orang itu.
Orang-orang dengan api di tangan, kini memasuki batas ladang.
/ Bangka-Yogya, 2006-2008
Catatan:
- Sahang (Bhs Bangka): tanaman lada
- Pelawan: sejenis pohon berbunga pahit di Pulau Bangka tempat biasanya lebah bersarang, karena itu madu yang dihasilkan agak pahit.
http://www.kr.co.id/
APA pun kata orang, keputusan Sombiang sudah bulat, tak bisa diganggu-gugat: mengajak istrinya, Lanik, tinggal di ladang. Sebuah pondok kayu bertiang tinggi beratap rumbia-ditisik batang rengsam-kukuh dengan batang kayu pelawan, selesai sudah dibuat. Ada hamparan sahang seluas mata memandang. Sementara pohon-pohon karet tua di lahan arah ke lembah-warisan orangtuanya-sengaja ditebang, sebagai gantinya, kini ratusan batang anak karet kembali ditanam: di tengahnya pondok itu tegak berjaga.
Apalagi? Sekarang, tak ada yang perlu dirisaukan, kata sebuah lagu yang Sombiang simak diam-diam dari radio transistor yang tergantung di paku dinding, nyaris nyerocos seharian. Pada malam tertentu biasanya ada acara pantun kasmaran asuhan Saad Toyib dan Kario-dua pasangan pengasuh yang pas; satu gaek, satu muda; satu takzim yang lain kocak. Itulah yang menemani Sombiang selama ini di ladang dalam hari-hari yang panjang (ah, siapa bilang tak ada risau?). Kadang Sombiang terbahak sendirian, kadang tertegun sedih bila pantun yang dilantunkan menyentil perasaan.
Apelah daye bulan di dahan/Mau terbenam, eh, disamber buaye/Apelah daye badan sendirian/Di dingin malam berteman si air mate
Sombiang menggeliatkan badan di atas dingin tikar pandan.
Siang hari ia bekerja selayaknya petani sejati, mengolah tanah, merawat benih dan memetik apa yang layak dipetik, semuanya dengan kasih. Malam hari, kadang ia pulang ke rumah-jauh di kampung-tapi lebih sering bermalam di pondok-biasanya di pondok lama, dekat ladang durian dan sahang. Bila sesekali rasa sepinya tak tertahankan, tak jarang Sombiang berkunjung ke pondok peladang lain, atau berlama-lama di tepian sehabis bekerja agar bertemu sesama peladang sekadar bercakap-cakap. Tentang harga timah. Tentang tambang timah lepas pantai di Bubus yang sering diwarnai konflik. Sembahyang rebut di klenteng tua Batu Rusa. Sampai juga pada naiknya harga-harga dan bejibunnya partai baru tapi diisi orang-orang lama.
Meski mereka peladang, kebutuhan tak sebatas ladang yang subur atau harga membubung. Salah seorang di antara peladang yang fasih berdiskusi tentang hal itu adalah Datuk Bulian, seorangtua yang tetap perkasa, dengan anak dan istri yang rutin mengunjunginya sekali sepekan (terkadang dengan membawa koran). Ah, membuat Sombiang cemburu sebetulnya. Sedang Sombiang, siapa yang akan mengunjunginya? Lanik istrinya-yang sampai saat ini belum juga hamil-jangankan sekali sepekan, sekali sebulan saja tak pernah menginjakkan kakinya di ladang mereka. Kadang ia maklum, istrinya terlalu sibuk membantu ibunya mengurus warung yang buka hingga malam. Tapi, terkadang Sombiang juga berpikir, itu semua lebih disebabkan karena selaku anak tunggal di keluarga, istrinya terlalu disayang; jangankan ke ladang, ke kebun belakang rumah pun seolah ia berpantang. Pantang itu terutama justru digariskan ibunya sendiri yang memang kelewat memanjakannya.
Terkadang, di tengah keasyikkan bicara "bangsa" dan "dunia", terbicarakan juga urusan keluarga masing-masing. Tentang anak-anak yang naik kelas. Istri yang gemar menabung. Dan di antara itu, kerap terlontar suara,"Sombiang, warung istrimu tambah maju tampaknya?" Sombiang mengangguk sedikit. Lalu,"Tak sempat lagi ia ke ladang ini, ya?" itu dari Sadeli.
Atau ini,"Istrimu belum hamil juga ya?" kata Rabius pula. "Kenapa tak pernah melirik Datuk kita? Datuk Bulian 'kan bisa bikin ramuan kesuburan."
Inilah yang paling tak disukai Sombiang dari acara kumpul-kumpul di tepian.
Tapi kini, mulai saat ini, tidak lagi! Ia telah bulat memutuskan: istrinya, Lanik, akan diajak tinggal di ladang, sementara warung di rumah biarlah ibu mertuanya yang mengurus. Sombiang sudah tak peduli. Sombiang merasa cukup jadi penurut: sejak menikah dengan Lanik, ia mau tinggal di rumah mertua hanya karena si mertua merengek-rengek minta pengertian,"Kalian tinggal di sini saja. Rumah di sini besar, warung sudah berjalan, semua untuk Lanik." Tapi tidak kali ini!
***
KEPUTUSAN Sombiang mengajak istrinya menetap di ladang, serta-merta menerbitkan gunjing orang sekampung; usia perkawinan belum seumur jagung, kata mereka, tapi si istri sudah diserahkan kepada kerasnya untung-jauh dari keramaian. Lain kalau sudah tua, dan anak-anak sudah besar, barulah wajar tinggal di ladang, begitulah selama ini cara orang kampung berkebiasaan. Menjadi adat yang tak bisa ditawar.
"Sedang Datuk Bulian pun tak tega mengajak istrinya tinggal di ladang, padahal anaknya sudah besar-besar," kata seseorang, dan tertawa-didengar ibunya Lanik dengan pedih dan geram.
"Sombiang punya anak saja belum, sudah ngajak istri bertanam di ladang. "
"Garap dulu rahim istrimu!" seseorang memotong, membuat ibu Lanik tersirap. Tapi perempuan itu tak ingin melabrak mereka. Aneh, ia malah ingin melabrak menantunya saja. Sombiang! Gara-gara Sombiang terkutuklah, gunjing itu mengalir.
"Kasihan, warung Lanik sedang maju-majunya, malah ditinggal."
Kembali ibu Lanik membayangkan wajah menantunya saat mengutarakan niatnya mengajak Lanik tinggal di ladang. Wajah yang kukuh dan tenang, tapi terasa dingin sebetulnya. "Begitulah, Mak, kuputuskan mengajak Lanik istriku tinggal di ladang. Kami ingin belajar hidup sendiri dengan lebih tenang."
"Lanik anakku, anak tunggal!" si ibu berang.
"Ia istriku, tak ada lagi istriku selain dia. Ia anak Mak, semua orang tahu. Tapi bahwa ia tak lebih sebagai pembantu Mak di warung, mungkin hanya aku yang tahu. Kemudian gunjing dan tanya yang tiap hari hinggap di telinganya tentang kapan punya anak, yang membuat gendang telinganya serasa pecah dan hatinya tersayat, mungkin juga hanya aku yang tahu. Karena itu, kami ingin ke ladang setidaknya di sana ia bisa istirahat dengan lebih tenang."
"O, anakku akan bungkuk dan hitam di ladang! Hentikanlah kekejamanmu!"
"Tidak, Mak. Ia akan bekerja sesuai tenaganya, tidak sampai larut malam seperti di warung, dan setiap kerja adalah atas maunya, aku tidak pernah main perintah. Dan tidak ada pula gunjing yang menyakiti hatinya."
Perundingan itu (jika memang pantas disebut perundingan) tentu saja buntu. Tapi tidak keputusan Sombiang yang sudah bulat. Ketika hari baru terang tanah, Sombiang segera menarik tangan Lanik ke atas motor traill-nya, dan seketika melaju ke ladang itu. Lanik menangis, tapi jauh di lubuk hatinya, perempuan itu paham sepenuhnya.
***
BEGITULAH, sepasang peladang itu kini terus bertanam tidak hanya di lahan yang subur, tapi juga rajin bertanam di lahan yang lain: ladang rahim. Pondok ladang yang kukuh tinggi menjadi ruang paling hangat bagi mereka berbagi di malam-malam dingin, tak lagi bulan di dahan dimakan buaye seperti kata pantun. Tapi buayelah yang disihir bulan dengan terangnya umpama lampu; kini bahagie hidup berdue, sepanjang hari serasa berbulan madu, ai, ai, pantun di radio tua itu kini diubah sendiri oleh Sombiang, walau di dalam hati. Kalau saja Saad Toyib dan Kario, si pengasuh pantun di radio tahu, pastilah mereka akan bilang,"Madu Bangka pahit rasanya, Bung!"
Ya, ya, karena bersarang di pohon pelawan, madu di sini jadi lain rasanya. Pahit. Tapi ampuh untuk menggempur penyakit. Ibarat itulah hidup Sombiang dan Lanik, di atas pondok bertiang kayu pelawan, hari-hari yang mereka jalani sekilas mungkin terasa pahit-maklum, jauh dari keramaian, menempuh hidup tidak selazim orang berkebiasaan, dan mereka belum lagi punya anak-tapi sebenarnya hidup mereka begitu damai.
Mula-mula Lanik memang merasa canggung, namun hari-hari selanjutnya ia sudah biasa: bangun pagi-pagi, membawa cucian ke tepian, dan pulang dengan air bersih di dalam ember. Memasak, membuatkan kopi buat suami tercinta, yang sepagi hari juga telah melakukan prosesi kerja di lahan masa depan. Pagi yang damai, hari yang damai. Suara burung, kesiur angin, derak dahan pepohonan dan gemerisik daun gugur, irama suara tajak yang terdengar seperti tak-tik-tok jam, denting kayu kering di dapur, desis api yang menyala, semuanya, sungguh alangkah menyenangkan. Jauh dari bisik dan gunjing, jauh dari perburuan uang dan harta. Waktu jadi sepenuhnya milik mereka.
Lanik merasakan suasana di ladang bertolak belakang dengan suasana di rumahnya, di kampung yang mulai sibuk oleh tawar-menawar, tatapan penuh selidik, dan mimpi-mimpi. Di sini, kecuali radio transistor tua yang bernyanyi sepanjang hari, tak ada lagi suara luar yang menggoda dan membuatnya harus bekerja hingga larut malam-demi mimpi warung yang diperbesar menjadi toko swalayan; sebagaimana yang diangankan ibunya. Kelelahan bekerja agaknya, berdampak pada rahimnya. Padahal, selama hampir tiga tahun usia perkawinannya dengan Sombiang, pernah dua kali Lanik merasakan sesuatu tumbuh di rahimnya, tapi gugur lantaran perdarahan. Sombiang tak bisa berbuat apa-apa, kecuali semakin terperangkap dalam gunjing tak bersudah yang menyebut dirinya mandul, atau menuding rahim istrinya tak sesubur ladang sahangnya. Lanik pun tak berdaya dibuatnya, dan sebagai kompensasi atas semua itu, semakin ia membenamkan diri pada kesibukan kerja di warung, dari subuh hingga tengah malam!
Tapi tidak lagi sekarang. Hidupnya kini damai di ladang.
***
DAMAI? Ya. Pohon kopi berbunga, sahang menjuntaikan buah-buahnya dari pohon inang, anak-anak karet berlomba berangkat remaja, durian dan rambutan merayakan musim buah. Sombiang tersenyum ketika pada pagi-pagi sekali istrinya minta dipetikkan mangga muda di samping pondok. Sombiang tahu, sesuatu sedang terjadi pada istrinya. Maka sigap ia menjuluk buah mangga muda, dibersihkan getahnya, dan tak lama ia sudah melihat Lanik mencacah buah yang kecut itu-sepagi ini!-dan memakannya dengan tenang memakai garam dapur. Ya, sesuatu pasti sedang terjadi, Sombiang bergumam sendiri. Dan ia semakin yakin ketika beberapa hari kemudian istrinya muntah-muntah di tepian, disaksikan Rabius yang lewat dan singgah mengasah parang.
"Apakah kalian akan segera punya anak?" tanya laki-laki yang sampai sekarang belum juga menikah itu. Wajahnya tampak aneh.
"Sepertinya begitu, Kawan!" jawab Sombiang sambil menuntun lengan istrinya.
"Kok bisa ya?" Rabius bergumam, kian terasa aneh.
Sombiang menjawab sekenanya:"Ya, bisa. Tiap pagi kami minum madu pahit!"
Lengkap sudah. Di ladang harapan, mereka bertanam, dan semua tumbuh subur dalam kasih malaikat Tuhan. Sombiang merangkul istrinya, dan Lanik pun menyadari ada yang diam-diam bergerak di rahimnya.
Namun, seiring dengan itu, ada pula yang diam-diam bergerak di luar cinta kasih mereka: gunjing itu, bisik itu, dan tuduhan-tuduhan yang menyakitkan itu! Tersiar kabar, entah dari mana berpangkal, bahwa Lanik hamil karena campur-tangan Datuk Bulian!
"Ia menyerahkan istrinya pada dukun tua itu!"
"Itulah alasan tepat baginya mengajak perempuan malang itu tinggal di ladang!"
"Sombiang? Hanya ladang sahangnya yang subur, tidak benih lelakinya. Hanya tangkai cangkulnya yang kuat, tidak tongkat moyangnya!"
"Ya, ia mandul, mengapa istrinya kini mengandung?"
"Konon ia impoten, setelah jatuh dari motor traill-nya. Adakah di dunia ini seorang impoten punya putra?"
"Ya, Tuhan, terkutuklah kami kalau membiarkan ini semua!" seorangtua bersorban melenguh, menatap langit.
"Jangan sampai kita dikutuk, Ustadz. Perintahkanlah kami sekarang juga ke ladang sana, akan kami selamatkan perempuan malang itu, dan kami bakar ladang si suami terkutuk itu!" orang-orang merangsek.
"Jangan," sang Ustadz mengibaskan tangannya, sambil matanya tetap menatap langit seperti mencari-cari petunjuk.
"Ya, jangan biarkan kutuk itu turun, Ustadz!"
"Apakah Ustadz bisa mempertanggungjawabkan maksiat ini kelak di akhirat?" seseorang menantang.
Ustadz terkesiap, dan segera mengusaikan diri menatap langit, lalu dengan satu kibasan, bergemalah suaranya,"Berangkatlah!"
Maka obor-obor pun disulut. Cahaya senter melesat-lesat. Mengiringi kegeraman orang-orang batas kampung. Sementara di barisan paling belakang, dalam kerumunan kain sarung, Rabius, laki-laki yang lama mendambakan Lanik yang cantik-yang membuatnya tak kunjung menikah hingga sekarang-setengah gigil membayangkan apa yang akan terjadi. Lantaran rindu-dendam, ia berhasil menyebarkan bisik dan tuduhan itu dari tepian hingga ke dalam kampung, dan disambar orang kampung sebagai kebenaran. Bahkan ibu Lanik pun diam-diam jadi sekutu Rabius: dendam sang ibu pada menantu, sudah cukup jadi alasan untuk menyulut restu menggerakkan orang-orang itu.
Orang-orang dengan api di tangan, kini memasuki batas ladang.
/ Bangka-Yogya, 2006-2008
Catatan:
- Sahang (Bhs Bangka): tanaman lada
- Pelawan: sejenis pohon berbunga pahit di Pulau Bangka tempat biasanya lebah bersarang, karena itu madu yang dihasilkan agak pahit.
15/01/09
Teluk Hayat
Raudal Tanjung Banua
http://www.suaramerdeka.com/
1.
INI sebuah teluk yang tak bisa diterka perangainya, kadang langit terang cuaca, riaknya tenang tak berbusa, ombak hanya bertenaga seekor kuda poni, dan pemandangan cantik ini tak satu pun ‘kan menghalangi; tetapi pada hari-hari tertentu, tak pandang Kamis atau Minggu, ia bisa tak terduga, mengombak keras bagai tenaga seribu ekor kuda jalang membelah hamparan padang prairi, mengelucak setiap yang dilalui dengan tangan-tangan gaibnya, ligat mengguncang perahu dan kapal-kapal, bahkan sungai yang bermuara di lengkung teluk itu tampak seperti hendak berbalik ke hulu, membuat siapa pun dicengkram lungkrah ketakutan tanpa bisa menerka kapan semua ini akan berakhir —angin reda ombak reda, gelombang melipat punggung terjalnya, buih kembali ke sebotol bir....
Namun, meski harapan itu tak terucap dalam doa, hari-hari yang lebih sering tetap saja menyenangkan di mana orang-orang duduk melingkar di kedai terbuka menghadap dermaga, terbahak, dan beberapa tampak menunjuk-nunjuk langit biru laut biru dan karang-karangnya yang biru, seakan penuh rencana; dan persis saat itu perempuan-perempuan teluk lewat dengan rok terkembang selebar payung di udara, di atas kepala mereka; kaki jenjang mereka melangkah ringan ke tepian teluk membawa mangkuk-mangkuk berisi minyak ikan sembilang, kadang mereka menyanyi riang, bola mata mereka setengah pejam seperti bola-bola apung petani mutiara yang menari-nari separo tenggelam di bagian teluk yang tak terlalu dalam; bersamaan dengan itu, satu-dua laki-laki di kedai akan meningkahi seperti gusar untuk akhirnya berteriak, ”Hoii, marilah mampir!” Maka gantian perempuan-perempuan itu terkikik, mempercepat langkah mau singgah, tapi begitu sudah dekat, mereka membelok ke lorong sempit di mana ujungnya menuju ke air, dan bagai camar mandi di pasir, mereka lalu akan kembali melangkah ringan dan bahagia di antara ikan-ikan segar, licin ubur-ubur yang dibuang kembali ke laut, meninggalkan para lelaki setengah berahi terceguk, ngelangut.
Di air surut segerombolan anak-anak tampak menyisir tepi teluk, dengan pantat setengah terbuka dan punggung bungkuk memungut tripang dan ganggang, segenggam dua genggam cukuplah mereka bawa pulang dengan jejak kaki memanjang di pasir hingga hilang di jalan setapak di balik karang-karang hitam lengas, di mana rumah-rumah kecil kelabu orang dirikan dengan dapur yang selalu hangat sebab tripang dan ganggang yang disunting anak-anak mereka cukup menyalakan api di tungku buat dihidangkan sebagai sayur dan camilan, sehingga terasa belaka betapa teluk itu memberi segala yang diingini kepada para penghuni atau siapa pun yang singgah, meski kadang memang ada sekali berapa waktu masa di mana teluk itu seperti seorang dungu, menerima siapa pun yang tiba meski tidak mengenal mereka, tapi begitulah teluk itu ada, terbuka menerima dengan rida, memberikan apa pun yang ada padanya, menadahkan bening airnya untuk berkaca dan layaklah tempat bercermin melihat urat-urat hidup di wajah-wajah yang masih bisa sumringah ketika teraba urat malunya, maka bergumamlah mereka, ”Inilah Teluk Hayat, teluk di mana kami merasa hidup, menyandarkan nasib dan tidak ada alasan meninggalkannya sampai kiamat tiba....”
Ya, Teluk Hayat adalah rahim bumi dengan ceruknya melindungi siapa saja yang membutuhkan tanpa membeda-bedakan, apakah bajak laut terkutuk atau pelaut suci yang baik hati, semua diterimanya dengan tiada gugatan. Begitulah sampai suatu hari datang tukang ukur dan tukang keker (seperti tukang tenung) menjengkal segala yang ada di Teluk Hayat dan semua orang menerima tanpa curiga, bahkan cuaca di Teluk Hayat tampak sangat bersahabat, sebuah kedunguan yang entah. Kapal-kapal kayu terus saja datang dan pergi, melilitkan temberang mengokohkan andang-andang, mengibarkan panji-panji, bendera dan samanera, berkibar bagai sayap elang putih elang hitam camar putih camar hitam, mengepak tiada henti, begitulah orang di teluk itu mungkin mengenang, sebagaimana mereka mengenang pokok nipah, pohon bakau, popok hantu-blau, batang nibung di darat agak ketinggian dan pohon-pohon tanimbang dengan sulur-sulurnya yang lebat bagai sungut kucing liar, kelewat damai. Pada hari itulah, sebelas tahun silam, di bangun sorga pertambangan. Di sana. Di Teluk Hayat.
2.
TUGASKU hanya melaporkan. Tak ada yang disembunyikan. Ada 43 titik pertambangan. Konon, 2.158 juta ton persediaan. Butuh waktu berpuluh atau beratus tahun untuk menghabiskan itu tambang. Surat-surat telah lama dibuat. Rencana lama dirancang. Reposisi berlanjut. Lobi-lobi tak butuh waktu panjang. Pemerintah lokal butuh dana segar. Pemerintah pusat apalagi. Orang-orang parlemen. Preman dan pembesar, apa bedanya? Maka, kilang didirikan. Para pekerja dikirim. Dana dibagi-bagikan. Seperti siluman. Jadi bancakan. Tak apa. Ada banyak investasi di sini. Semua akan kembali dalam waktu singkat. Dalam kalkulasi politik jangka panjang, sebenarnya tak ada setoran. Hanya sedikit pajak. Bagi yang berhak. Sedikit untuk militer. Lebih sedikit lagi untuk orang sekitar. Dalam waktu singkat, semua berdiri. Nun di Teluk Hayat.
Sebagai juru survei, yang mengukur dan mengeker, aku dan rombonganku hanyalah mencatat apa yang seharusnya dicatat. Titik-titik potensial. Pusat pasti tambang tembaga. Tentu saja aku, sebagaimana orang-orang Teluk Hayat yang kelewat bahagia sehingga tampak jadi dungu, tak punya kekuatan apa-apa untuk mengubah keputusan memakmurkan negara. Hanya bagaimanapun, sebagai juru survei yang baik, aku dan timku merekomendasikan beberapa titik potensial di pinggiran Sungai Kuwalu, yang bermuara langsung ke Teluk Hayat, harus rela tak ditambang, minimal berapa tahun ke depan: sampai ditemukan teknik yang lebih canggih menyaring tailing atau sisa material.
Jika dipaksakan, kataku waktu itu, akan membahayakan langsung warga yang kini hidup terjepit di tepian teluk, terkucil oleh tembok-tembok kota baru pertambangan, seperti benteng raksasa kolonial. Tentu, kami tahu juga, bahwa lambat-laun bencana itu pasti akan tiba, di mana limbah tembaga ke mana lagi mengalir kalau bukan ke laut, melewati anak-anak sungai kecil di selingkar bibir Teluk Hayat. Tapi, dengan tidak mengalirkannya langsung ke induk Sungai Kuwalu, mungkin kiamat bisa ditunda: diharapkan warga berpindah alamiah, pelan-pelan, ke luar dari lingkaran Teluk Hayat, yang beberapa tahun lalu masih disebut sebagai tempat keramat yang tidak akan ditinggalkan sampai kiamat tiba. Tapi, kiamat itu ternyata tiba, dan akan lebih cepat lagi jika tujuh titik pertambangan persis di tepi Sungai Kuwalu digarap. Dan ini harus dicegah.
Mula-mula para pembesar PT Tambera Raya tak bisa terima. Tapi hasrat korupsi ternyata bisa juga melindungi niat ”suci” kami —meski hanya sementara. Rumusnya mudah: mereka, para pembesar tambang itu, merasa titik-titik potensial di tepi Sungai Kuwalu adalah tabungan pribadi mereka! Diam-diam bisa mereka tambang sendiri, nanti, lalu dijual sendiri lewat jalan belakang, sehingga persoalannya bukan menunggu alat yang canggih, melainkan menunggu waktu yang tepat menelikung dalam lipatan tembok kota yang tebal: kapan si kecil perlu Mercedez terbaru hadiah Valentine Days, kapan si sulung studi ke Penisylvenia supaya —dalam konteks mutakhir— secerdas seberuntung Obama, dan istri tersayang menganggukkan kepala penuh wibawa dipinang partai politik besar dengan nomor urut khusus bagi mesin uang.
3.
”KENAPA mesti Teluk Hayat?”
”Entah.”
”Kenapa mesti tambang?”
”Tak cukup ikan-ikan, perahu, mutiara dan kerang lokan?”
”Aku tak tahu.”
”Sayang, itu teluk yang tenang, asyik buat pakansi. Murah-meriah.”
”Karel, aku jadi beerahi...”
”Ingat seprainya yang bergambar anak lumba-lumba?”
”Bukan, ingat pantainya dengan selusin anak lumba-lumba.”
”Ke mana mereka sekarang?”
”Jangan mau pusing, Karel!”
”Kenapa marah-marah, Bapa’? Kitorang tidak berhutang, kitorang menawar...î
”Sudah tak zamannya, Ibu. Kitorang berdagang tak mudah dapatkan ikan, teluk keruh, nelayan mengeluh, eh, Ibu juga mesti mengerti.”
”Iya, Bapa’, kitorang mengerti. Tambah seekor ya...”
”Ini, ini...”
”Kenapa perahunya dibalikkan, Bapak?”
”Bapak tak bisa ke laut, Nak.”
”Kenapa, Bapak?”
”Nanti kau akan tahu, Nak.”
”Keluargaku sakit dan gatal-gatal, apa yang sebenarnya terjadi?”
”Datanglah ke Puskesmas besok...”
Itu hanyalah beberapa suara yang sempat terekam di lingkungan Teluk Hayat dan sekitarnya. Ibarat gemersik radio, suara itu kubiarkan, tak kumatikan...
4.
JADI begitulah, ke atas arah barat daya tepian Teluk Hayat, tumbuh sebuah kota tambang yang menjunjung harapan besar kemakmuran —segelintir orang. Di pal 137 kau akan lihat sebuah plat nama sederhana bertulisan nama kota: TAMBERAHAYAT. Warga lokal, dengan asumsi lebih sederhana menyebut lebih singkat: Tembayat. (Niscayalah para pendatang dari Jawa akan teringat nama sebuah tempat dengan sunannya yang keramat.) Dan masuklah ke gerbang kota (meski ini sukar: Yang tidak berkepentingan dilarang masuk!), maka akan kau lihat pemandangan yang sungguh tak sederhana. Pemandangan yang mencengangkan dari infrastruktur dan tata kota, yang bahkan kota-kota di Jawa pun tak bisa menandinginya. Jalanannya lebar dan bersih. Trotoarnya tak kalah lebar, penuh taman, tak ada pedagang kaki lima; sepi saja, tak banyak orang lalu-lalang. Lampu merah di perempatan dilengkapi kamera otomatis entah untuk apa, dan meski sepi, terlebih siang hari, setiap kendaraan akan berhenti patuh bila lampu merah menyala. Tak ada lengking klakson. Orang-orang bertopi baja duduk agung di kendaraan mereka berselempangkan sabuk pengaman, meski tak ada tukang tilang tentu saja.
Mungkin kau bertanya, bagaimana mereka membangun kota ini bagai semalam? Bahkan jika benar fakta sejatinya: sebelas tahun produksi berjalan? Inilah dongeng modern yang tidak segagap dongeng masa silam —kudengar kisah itu waktu di Yogya: membangun candi semalam tapi gagap oleh fajar dan kukuk ayam. Tidak. Tamberahayat dibangun tanpa takut bahkan jika planet mars jatuh di tempat itu, para perencana kota tanpa kikuk akan berkata, ”Mari kita survei, mana tahu ada tembaganya juga!”
O, kawan, mungkin hanya aku yang kikuk. Aku, si tukang survei (orang-orang Teluk Hayat suka memanggilku ”Si Om Tukang Keker”), tetap merasa gugup sampai kini bahkan hanya dengan membayangkan jalanan kotanya yang tak pernah lagi kutempuh. Maklumlah, kuputuskan tak lagi turun lapangan. Untuk pengembangan kawasan tambang, yang dulu sempat kurintis, kami tak lagi dilibatkan. Mana mungkin perusahaan korporat itu masih mau memakai keahlianku. Aku baru sadar, dulu aku dipakai bukan soal keahlian, tapi karena aku orang lokal. Teluk Hayat masuk ke dalam distrik tempat asalku, hanya saja desaku lebih ke pedalaman, di hulu Sungai Kuwalu. Selesai studi Geologi di sebuah universitas di Jawa, berkat bea siswa dari pastoran, aku bersama istri dan adik iparku membentuk perusahaan partikelir yang meladeni urusan survei, pemetaan dan konsultasi kecil-kecilan. David Kurnick, kepala perencana Tamberahayat, tak mau meluputkan kami untuk ikut terlibat, meski sekadar pelengkap.
Kadang kupikir, kota itu aneh: banyak orang, tapi terasa sepi, hidup dikungkung tembok benteng, hari-hari habis di lorong tambang, dan malam hari, para ekspatariat yang kulitnya seperti kepiting bakar Teluk Hayat dan hidungnya sepanjang moncong todak, berbaur dengan para pendatang berbagai puak, yang seriang dan sedungu orang-orang di kedai-kedai terbuka Teluk Hayat dulu, meneguk minuman terbaik dari botol-botol bermerk luar negeri yang tak akan kau temui di swalayan Pulau Jawa sekalipun, kecuali beberapa botol bekas yang dilemparkan ke Sungai Kuwalu, hanyut terbawa arus ke bawah, dan terdampar di tepian Teluk Hayat yang merana, jika beruntung, anak-anak yang sudah tak punya kegiatan lagi memungut tripang dan ganggang akan ganti berebut memungut botol dan segala benda-benda bekas yang lolos dari pagar kota.
Dalam masa pensiunku sekarang, dengan sedikit sesal betapa perusahaan kecilku ikut membuka jalan bagi kemaruknya Teluk Hayat, sayup-sayup Tamberahayat merasuki tidur siangku: kota yang punya rumah sakit sendiri, toko-toko sendiri, pelabuhan sendiri, kapal sendiri, bank sendiri, mungkin presiden sendiri. Sebuah helipad tengadah ke langit, menunggu capung besi memuntahkan orang-orang penting yang memualkan itu, dengan dasi berkibaran ditiup angin baling-baling. Tak seorang pribumi pun boleh mendekat. Kau harus punya kartu sendiri dengan pin yang mesti hapal di luar kepala untuk berbagai keperluan. Dan untuk memasuki gerbang kota, kau harus berlaku sebagai orang yang diperlukan. Jika tidak, selusin anjing penjaga akan menghardikmu: ”Pergi rubbish!”
Aku saja yang dulu dikontrak oleh mereka, tidak boleh lagi mendekat. Termasuk ketika aku memaksakan diri menghadap para penjaga untuk menyampaikan keadaan warga yang mulai gatal-gatal, tak dapat ikan tangkapan dan hidup berantakan. Aku menduga, para pembesar telah membuka pundi-pundi uangnya dengan menambang beberapa titik ”terlarang” di pinggir Sungai Kuwalu. Aku tahu rahasia itu. Maka aku sampaikan kepada para penjaga bahwa aku diminta datang oleh Mc Ortiz dan Mr Kinu —dua orang penting— untuk menyurvei wilayah baru lebih ke atas, ke arah hutan lindung, dan sebagai juru survei aku tak bisa membuang waktu di gardu yang berisik oleh radio panggil. Untunglah, seseorang mengenalku, dan lalu sambil bersungut aku mereka antar ke blok Cemara —deretan rumah-rumah para petinggi. Mc Ortiz ternyata pindah ke Brazilia —huh, cerobohnya para penjaga dungu itu!— sehingga aku hanya bisa menemui Mr Kinu. Satu setengah jam menunggu. Bel melengking. Waktu adalah uang-emas.
”Apa yang kau inginkan Peter?”
”Tidak banyak, Mister. O, bahkan hampir-hampir tidak ada.”
”Ada perang suku yang perlu kauamankan? Berapa anggaran?”
”Tidak Mr Kinu. Tapi ada sedikit: mohon jangan menambang beberapa titik di tepi sungai, sebab tailing langsung hanyut ke teluk dan warga terancam.”
”Itu tidak benar, Peter. Kami datangkan alat pintar dari Arizon. Lagi pula, sumber air kami yang utama juga berasal dari sungai, tapi kami tak gatal-gatal. Jangan khawatir.”
”Saya dan warga khawatir. Tiga bayi meninggal di Puskesmas. Delapan KK mengelupas kulitnya, dan seorang buta.”
”Sudah kukatakan, kami bahkan tak gatal, Peter...”
”Sumber air kota ini dialirkan dari sungai bagian atas, Mister. Sementara titik yang ditambang berada arah ke bawah. Tentu saja orang di sini selamat, dan yang di bagian muara menderita. Kecuali kalau Sungai Kuwalu berbalik arah....”
”Cukup, Peter! Saya tak punya waktu.”
5.
DAN aku pun tak punya waktu berpanjang-panjang, sebagaimana alam mungkin juga sudah tak punya waktu. Sudah kukatakan, bukan? Ini sebuah teluk yang tak bisa diterka perangainya, kadang langit terang cuaca, riaknya tenang tak berbusa, ombak bertenaga seekor kuda poni; tetapi pada suatu hari, ia berubah perangainya: mengombak keras bagai tenaga seribu ekor kuda jalang membelah hamparan padang prairi, mengelucak setiap yang dilalui dengan tangan-tangan gaibnya, ligat mengguncang perahu dan kapal-kapal, bahkan sungai yang bermuara di lengkung teluk itu akhirnya benar-benar berbalik ke hulu mengirim kembali tailing dan racun tambang sampai bagian sungai yang terjauh, sampai ke sumber air kota Tamberahayat, dan ketika badai reda dan sungai kembali mencari muaranya, racun maut itu telah tersedot ke rumah-rumah warga kota tercinta.
Tak ada yang tahu, kecuali satu kata: wabah...(35)
/Rumahlebah Yogyakarta, Juni 2006-November 2008
http://www.suaramerdeka.com/
1.
INI sebuah teluk yang tak bisa diterka perangainya, kadang langit terang cuaca, riaknya tenang tak berbusa, ombak hanya bertenaga seekor kuda poni, dan pemandangan cantik ini tak satu pun ‘kan menghalangi; tetapi pada hari-hari tertentu, tak pandang Kamis atau Minggu, ia bisa tak terduga, mengombak keras bagai tenaga seribu ekor kuda jalang membelah hamparan padang prairi, mengelucak setiap yang dilalui dengan tangan-tangan gaibnya, ligat mengguncang perahu dan kapal-kapal, bahkan sungai yang bermuara di lengkung teluk itu tampak seperti hendak berbalik ke hulu, membuat siapa pun dicengkram lungkrah ketakutan tanpa bisa menerka kapan semua ini akan berakhir —angin reda ombak reda, gelombang melipat punggung terjalnya, buih kembali ke sebotol bir....
Namun, meski harapan itu tak terucap dalam doa, hari-hari yang lebih sering tetap saja menyenangkan di mana orang-orang duduk melingkar di kedai terbuka menghadap dermaga, terbahak, dan beberapa tampak menunjuk-nunjuk langit biru laut biru dan karang-karangnya yang biru, seakan penuh rencana; dan persis saat itu perempuan-perempuan teluk lewat dengan rok terkembang selebar payung di udara, di atas kepala mereka; kaki jenjang mereka melangkah ringan ke tepian teluk membawa mangkuk-mangkuk berisi minyak ikan sembilang, kadang mereka menyanyi riang, bola mata mereka setengah pejam seperti bola-bola apung petani mutiara yang menari-nari separo tenggelam di bagian teluk yang tak terlalu dalam; bersamaan dengan itu, satu-dua laki-laki di kedai akan meningkahi seperti gusar untuk akhirnya berteriak, ”Hoii, marilah mampir!” Maka gantian perempuan-perempuan itu terkikik, mempercepat langkah mau singgah, tapi begitu sudah dekat, mereka membelok ke lorong sempit di mana ujungnya menuju ke air, dan bagai camar mandi di pasir, mereka lalu akan kembali melangkah ringan dan bahagia di antara ikan-ikan segar, licin ubur-ubur yang dibuang kembali ke laut, meninggalkan para lelaki setengah berahi terceguk, ngelangut.
Di air surut segerombolan anak-anak tampak menyisir tepi teluk, dengan pantat setengah terbuka dan punggung bungkuk memungut tripang dan ganggang, segenggam dua genggam cukuplah mereka bawa pulang dengan jejak kaki memanjang di pasir hingga hilang di jalan setapak di balik karang-karang hitam lengas, di mana rumah-rumah kecil kelabu orang dirikan dengan dapur yang selalu hangat sebab tripang dan ganggang yang disunting anak-anak mereka cukup menyalakan api di tungku buat dihidangkan sebagai sayur dan camilan, sehingga terasa belaka betapa teluk itu memberi segala yang diingini kepada para penghuni atau siapa pun yang singgah, meski kadang memang ada sekali berapa waktu masa di mana teluk itu seperti seorang dungu, menerima siapa pun yang tiba meski tidak mengenal mereka, tapi begitulah teluk itu ada, terbuka menerima dengan rida, memberikan apa pun yang ada padanya, menadahkan bening airnya untuk berkaca dan layaklah tempat bercermin melihat urat-urat hidup di wajah-wajah yang masih bisa sumringah ketika teraba urat malunya, maka bergumamlah mereka, ”Inilah Teluk Hayat, teluk di mana kami merasa hidup, menyandarkan nasib dan tidak ada alasan meninggalkannya sampai kiamat tiba....”
Ya, Teluk Hayat adalah rahim bumi dengan ceruknya melindungi siapa saja yang membutuhkan tanpa membeda-bedakan, apakah bajak laut terkutuk atau pelaut suci yang baik hati, semua diterimanya dengan tiada gugatan. Begitulah sampai suatu hari datang tukang ukur dan tukang keker (seperti tukang tenung) menjengkal segala yang ada di Teluk Hayat dan semua orang menerima tanpa curiga, bahkan cuaca di Teluk Hayat tampak sangat bersahabat, sebuah kedunguan yang entah. Kapal-kapal kayu terus saja datang dan pergi, melilitkan temberang mengokohkan andang-andang, mengibarkan panji-panji, bendera dan samanera, berkibar bagai sayap elang putih elang hitam camar putih camar hitam, mengepak tiada henti, begitulah orang di teluk itu mungkin mengenang, sebagaimana mereka mengenang pokok nipah, pohon bakau, popok hantu-blau, batang nibung di darat agak ketinggian dan pohon-pohon tanimbang dengan sulur-sulurnya yang lebat bagai sungut kucing liar, kelewat damai. Pada hari itulah, sebelas tahun silam, di bangun sorga pertambangan. Di sana. Di Teluk Hayat.
2.
TUGASKU hanya melaporkan. Tak ada yang disembunyikan. Ada 43 titik pertambangan. Konon, 2.158 juta ton persediaan. Butuh waktu berpuluh atau beratus tahun untuk menghabiskan itu tambang. Surat-surat telah lama dibuat. Rencana lama dirancang. Reposisi berlanjut. Lobi-lobi tak butuh waktu panjang. Pemerintah lokal butuh dana segar. Pemerintah pusat apalagi. Orang-orang parlemen. Preman dan pembesar, apa bedanya? Maka, kilang didirikan. Para pekerja dikirim. Dana dibagi-bagikan. Seperti siluman. Jadi bancakan. Tak apa. Ada banyak investasi di sini. Semua akan kembali dalam waktu singkat. Dalam kalkulasi politik jangka panjang, sebenarnya tak ada setoran. Hanya sedikit pajak. Bagi yang berhak. Sedikit untuk militer. Lebih sedikit lagi untuk orang sekitar. Dalam waktu singkat, semua berdiri. Nun di Teluk Hayat.
Sebagai juru survei, yang mengukur dan mengeker, aku dan rombonganku hanyalah mencatat apa yang seharusnya dicatat. Titik-titik potensial. Pusat pasti tambang tembaga. Tentu saja aku, sebagaimana orang-orang Teluk Hayat yang kelewat bahagia sehingga tampak jadi dungu, tak punya kekuatan apa-apa untuk mengubah keputusan memakmurkan negara. Hanya bagaimanapun, sebagai juru survei yang baik, aku dan timku merekomendasikan beberapa titik potensial di pinggiran Sungai Kuwalu, yang bermuara langsung ke Teluk Hayat, harus rela tak ditambang, minimal berapa tahun ke depan: sampai ditemukan teknik yang lebih canggih menyaring tailing atau sisa material.
Jika dipaksakan, kataku waktu itu, akan membahayakan langsung warga yang kini hidup terjepit di tepian teluk, terkucil oleh tembok-tembok kota baru pertambangan, seperti benteng raksasa kolonial. Tentu, kami tahu juga, bahwa lambat-laun bencana itu pasti akan tiba, di mana limbah tembaga ke mana lagi mengalir kalau bukan ke laut, melewati anak-anak sungai kecil di selingkar bibir Teluk Hayat. Tapi, dengan tidak mengalirkannya langsung ke induk Sungai Kuwalu, mungkin kiamat bisa ditunda: diharapkan warga berpindah alamiah, pelan-pelan, ke luar dari lingkaran Teluk Hayat, yang beberapa tahun lalu masih disebut sebagai tempat keramat yang tidak akan ditinggalkan sampai kiamat tiba. Tapi, kiamat itu ternyata tiba, dan akan lebih cepat lagi jika tujuh titik pertambangan persis di tepi Sungai Kuwalu digarap. Dan ini harus dicegah.
Mula-mula para pembesar PT Tambera Raya tak bisa terima. Tapi hasrat korupsi ternyata bisa juga melindungi niat ”suci” kami —meski hanya sementara. Rumusnya mudah: mereka, para pembesar tambang itu, merasa titik-titik potensial di tepi Sungai Kuwalu adalah tabungan pribadi mereka! Diam-diam bisa mereka tambang sendiri, nanti, lalu dijual sendiri lewat jalan belakang, sehingga persoalannya bukan menunggu alat yang canggih, melainkan menunggu waktu yang tepat menelikung dalam lipatan tembok kota yang tebal: kapan si kecil perlu Mercedez terbaru hadiah Valentine Days, kapan si sulung studi ke Penisylvenia supaya —dalam konteks mutakhir— secerdas seberuntung Obama, dan istri tersayang menganggukkan kepala penuh wibawa dipinang partai politik besar dengan nomor urut khusus bagi mesin uang.
3.
”KENAPA mesti Teluk Hayat?”
”Entah.”
”Kenapa mesti tambang?”
”Tak cukup ikan-ikan, perahu, mutiara dan kerang lokan?”
”Aku tak tahu.”
”Sayang, itu teluk yang tenang, asyik buat pakansi. Murah-meriah.”
”Karel, aku jadi beerahi...”
”Ingat seprainya yang bergambar anak lumba-lumba?”
”Bukan, ingat pantainya dengan selusin anak lumba-lumba.”
”Ke mana mereka sekarang?”
”Jangan mau pusing, Karel!”
”Kenapa marah-marah, Bapa’? Kitorang tidak berhutang, kitorang menawar...î
”Sudah tak zamannya, Ibu. Kitorang berdagang tak mudah dapatkan ikan, teluk keruh, nelayan mengeluh, eh, Ibu juga mesti mengerti.”
”Iya, Bapa’, kitorang mengerti. Tambah seekor ya...”
”Ini, ini...”
”Kenapa perahunya dibalikkan, Bapak?”
”Bapak tak bisa ke laut, Nak.”
”Kenapa, Bapak?”
”Nanti kau akan tahu, Nak.”
”Keluargaku sakit dan gatal-gatal, apa yang sebenarnya terjadi?”
”Datanglah ke Puskesmas besok...”
Itu hanyalah beberapa suara yang sempat terekam di lingkungan Teluk Hayat dan sekitarnya. Ibarat gemersik radio, suara itu kubiarkan, tak kumatikan...
4.
JADI begitulah, ke atas arah barat daya tepian Teluk Hayat, tumbuh sebuah kota tambang yang menjunjung harapan besar kemakmuran —segelintir orang. Di pal 137 kau akan lihat sebuah plat nama sederhana bertulisan nama kota: TAMBERAHAYAT. Warga lokal, dengan asumsi lebih sederhana menyebut lebih singkat: Tembayat. (Niscayalah para pendatang dari Jawa akan teringat nama sebuah tempat dengan sunannya yang keramat.) Dan masuklah ke gerbang kota (meski ini sukar: Yang tidak berkepentingan dilarang masuk!), maka akan kau lihat pemandangan yang sungguh tak sederhana. Pemandangan yang mencengangkan dari infrastruktur dan tata kota, yang bahkan kota-kota di Jawa pun tak bisa menandinginya. Jalanannya lebar dan bersih. Trotoarnya tak kalah lebar, penuh taman, tak ada pedagang kaki lima; sepi saja, tak banyak orang lalu-lalang. Lampu merah di perempatan dilengkapi kamera otomatis entah untuk apa, dan meski sepi, terlebih siang hari, setiap kendaraan akan berhenti patuh bila lampu merah menyala. Tak ada lengking klakson. Orang-orang bertopi baja duduk agung di kendaraan mereka berselempangkan sabuk pengaman, meski tak ada tukang tilang tentu saja.
Mungkin kau bertanya, bagaimana mereka membangun kota ini bagai semalam? Bahkan jika benar fakta sejatinya: sebelas tahun produksi berjalan? Inilah dongeng modern yang tidak segagap dongeng masa silam —kudengar kisah itu waktu di Yogya: membangun candi semalam tapi gagap oleh fajar dan kukuk ayam. Tidak. Tamberahayat dibangun tanpa takut bahkan jika planet mars jatuh di tempat itu, para perencana kota tanpa kikuk akan berkata, ”Mari kita survei, mana tahu ada tembaganya juga!”
O, kawan, mungkin hanya aku yang kikuk. Aku, si tukang survei (orang-orang Teluk Hayat suka memanggilku ”Si Om Tukang Keker”), tetap merasa gugup sampai kini bahkan hanya dengan membayangkan jalanan kotanya yang tak pernah lagi kutempuh. Maklumlah, kuputuskan tak lagi turun lapangan. Untuk pengembangan kawasan tambang, yang dulu sempat kurintis, kami tak lagi dilibatkan. Mana mungkin perusahaan korporat itu masih mau memakai keahlianku. Aku baru sadar, dulu aku dipakai bukan soal keahlian, tapi karena aku orang lokal. Teluk Hayat masuk ke dalam distrik tempat asalku, hanya saja desaku lebih ke pedalaman, di hulu Sungai Kuwalu. Selesai studi Geologi di sebuah universitas di Jawa, berkat bea siswa dari pastoran, aku bersama istri dan adik iparku membentuk perusahaan partikelir yang meladeni urusan survei, pemetaan dan konsultasi kecil-kecilan. David Kurnick, kepala perencana Tamberahayat, tak mau meluputkan kami untuk ikut terlibat, meski sekadar pelengkap.
Kadang kupikir, kota itu aneh: banyak orang, tapi terasa sepi, hidup dikungkung tembok benteng, hari-hari habis di lorong tambang, dan malam hari, para ekspatariat yang kulitnya seperti kepiting bakar Teluk Hayat dan hidungnya sepanjang moncong todak, berbaur dengan para pendatang berbagai puak, yang seriang dan sedungu orang-orang di kedai-kedai terbuka Teluk Hayat dulu, meneguk minuman terbaik dari botol-botol bermerk luar negeri yang tak akan kau temui di swalayan Pulau Jawa sekalipun, kecuali beberapa botol bekas yang dilemparkan ke Sungai Kuwalu, hanyut terbawa arus ke bawah, dan terdampar di tepian Teluk Hayat yang merana, jika beruntung, anak-anak yang sudah tak punya kegiatan lagi memungut tripang dan ganggang akan ganti berebut memungut botol dan segala benda-benda bekas yang lolos dari pagar kota.
Dalam masa pensiunku sekarang, dengan sedikit sesal betapa perusahaan kecilku ikut membuka jalan bagi kemaruknya Teluk Hayat, sayup-sayup Tamberahayat merasuki tidur siangku: kota yang punya rumah sakit sendiri, toko-toko sendiri, pelabuhan sendiri, kapal sendiri, bank sendiri, mungkin presiden sendiri. Sebuah helipad tengadah ke langit, menunggu capung besi memuntahkan orang-orang penting yang memualkan itu, dengan dasi berkibaran ditiup angin baling-baling. Tak seorang pribumi pun boleh mendekat. Kau harus punya kartu sendiri dengan pin yang mesti hapal di luar kepala untuk berbagai keperluan. Dan untuk memasuki gerbang kota, kau harus berlaku sebagai orang yang diperlukan. Jika tidak, selusin anjing penjaga akan menghardikmu: ”Pergi rubbish!”
Aku saja yang dulu dikontrak oleh mereka, tidak boleh lagi mendekat. Termasuk ketika aku memaksakan diri menghadap para penjaga untuk menyampaikan keadaan warga yang mulai gatal-gatal, tak dapat ikan tangkapan dan hidup berantakan. Aku menduga, para pembesar telah membuka pundi-pundi uangnya dengan menambang beberapa titik ”terlarang” di pinggir Sungai Kuwalu. Aku tahu rahasia itu. Maka aku sampaikan kepada para penjaga bahwa aku diminta datang oleh Mc Ortiz dan Mr Kinu —dua orang penting— untuk menyurvei wilayah baru lebih ke atas, ke arah hutan lindung, dan sebagai juru survei aku tak bisa membuang waktu di gardu yang berisik oleh radio panggil. Untunglah, seseorang mengenalku, dan lalu sambil bersungut aku mereka antar ke blok Cemara —deretan rumah-rumah para petinggi. Mc Ortiz ternyata pindah ke Brazilia —huh, cerobohnya para penjaga dungu itu!— sehingga aku hanya bisa menemui Mr Kinu. Satu setengah jam menunggu. Bel melengking. Waktu adalah uang-emas.
”Apa yang kau inginkan Peter?”
”Tidak banyak, Mister. O, bahkan hampir-hampir tidak ada.”
”Ada perang suku yang perlu kauamankan? Berapa anggaran?”
”Tidak Mr Kinu. Tapi ada sedikit: mohon jangan menambang beberapa titik di tepi sungai, sebab tailing langsung hanyut ke teluk dan warga terancam.”
”Itu tidak benar, Peter. Kami datangkan alat pintar dari Arizon. Lagi pula, sumber air kami yang utama juga berasal dari sungai, tapi kami tak gatal-gatal. Jangan khawatir.”
”Saya dan warga khawatir. Tiga bayi meninggal di Puskesmas. Delapan KK mengelupas kulitnya, dan seorang buta.”
”Sudah kukatakan, kami bahkan tak gatal, Peter...”
”Sumber air kota ini dialirkan dari sungai bagian atas, Mister. Sementara titik yang ditambang berada arah ke bawah. Tentu saja orang di sini selamat, dan yang di bagian muara menderita. Kecuali kalau Sungai Kuwalu berbalik arah....”
”Cukup, Peter! Saya tak punya waktu.”
5.
DAN aku pun tak punya waktu berpanjang-panjang, sebagaimana alam mungkin juga sudah tak punya waktu. Sudah kukatakan, bukan? Ini sebuah teluk yang tak bisa diterka perangainya, kadang langit terang cuaca, riaknya tenang tak berbusa, ombak bertenaga seekor kuda poni; tetapi pada suatu hari, ia berubah perangainya: mengombak keras bagai tenaga seribu ekor kuda jalang membelah hamparan padang prairi, mengelucak setiap yang dilalui dengan tangan-tangan gaibnya, ligat mengguncang perahu dan kapal-kapal, bahkan sungai yang bermuara di lengkung teluk itu akhirnya benar-benar berbalik ke hulu mengirim kembali tailing dan racun tambang sampai bagian sungai yang terjauh, sampai ke sumber air kota Tamberahayat, dan ketika badai reda dan sungai kembali mencari muaranya, racun maut itu telah tersedot ke rumah-rumah warga kota tercinta.
Tak ada yang tahu, kecuali satu kata: wabah...(35)
/Rumahlebah Yogyakarta, Juni 2006-November 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita