Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional, 28 Sep 2008
Kampung halaman sangat mewarnai sastra Indonesia; bahkan jadi paradigma
berpikir yang tak terpisahkan.
Pada era 1970-an, perkembangan sastra Indonesia pernah menggeliat kembali
ke akar. Karya sastra yang dianggap ideal, harus memiliki muatan atau warna
lokal, di mana secara simbolik dan geografik merujuk ke kampung halaman.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Grathia Pitaloka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Grathia Pitaloka. Tampilkan semua postingan
19/07/21
20/12/08
9 Pertanyaan untuk Marco Kusuma Widjaja: Memahami Seni Secara Luas
Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/
DIKENAL sebagai arsitek dan ahli tata kota, namun dua tahun silam Marco Kusuma Widjaja terpilih menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Pro dan kontra mengiringi terpilihnya putera Pangkal Pinang ini, bahkan dua orang anggota DKJ memilih untuk mengundurkan diri.
Perdebatan berlarut-larut mengenai dirinya tak membuat Marco berkecil hati. Rumor yang mengatakan bahwa ia titipan dari komunitas tertentu dijawab dengan senyum dan lapang dada. "Yang penting bukan dari mana saya berasal, tetapi ke mana saya melangkah," katanya meyakinkan. Berikut petikan obrolan Marco dengan Jurnal Nasional di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
1. Selama dua tahun duduk sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), apa target yang Anda inginkan sudah tercapai?
Saya tidak memiliki target. Target yang ingin dicapai merupakan target kolektif dari anggota DKJ yang berjumlah 23 orang, mereka bukan anak buah saya tetapi rekan sejawat. Mengenai target tersebut tentu saya akan menjawab masih banyak yang harus dilakukan.
Saya rasa kita memang tidak boleh cepat berpuas diri. Apalagi dengan kondisi negara yang sedang carut marut. Tetapi, saya cukup senang karena selama dua tahun ini kami sudah melakukan beberapa perubahan yang cukup signifikan.
2. Perubahan apa yang Anda maksud?
Kami menetapkan kode etik yang berlaku yakni para anggota DKJ tidak boleh memakai panggung dan fasilitas DKJ untuk memanggungkan karya seni. Kami hanya boleh terlibat sebagai steering committe tidak boleh menjadi panitia pelaksana karena kita adalah tuan rumah, sebaliknya seharusnya kita harus mengundang seniman lain untuk terlibat.
Memilih untuk "menyewa" profesional untuk menangani semua proyek. Misalnya saja Kencan Tari ada empat program officer, setiap kegiatan kami akan merekrut proyek officer yang bekerja hanya untuk proyek itu. Sehingga, staf kami berfungsi sebagai penghubung. Ini berat juga bagi kawan-kawan anggota karena mereka tidak dibayar sebagai panitia.
3. Hal apa yang belum terselesaikan?
Yang belum selesai adalah memisahkan antara dewan dan manajemen. Ketua dewan tidak seharusnya mengurusi masalah tetek bengek sehari-hari. Tentu maksudnya bukan untuk mendewakan anggota DKJ, tetapi supaya tencipta jarak sehingga ada self-critic dan evaluasi.
Ujungnya sebetulnya membangun manajemen organisasi DKJ yang modern. Organisasi yang menggunakan uang rakyat secara terbuka dan dikelola secara benar dengan harapan di masa datang DKJ juga didukung oleh banyak orang.
Hal itu pernah dicoba pada jaman Ramadhan KH. Ia merupakan mantan anggota DKJ yang duduk sebagai direktur eksekutif serta menjalankan tugas sehari-hari. Sistem manajemen seperti itu yang ingin kami laksanakan.
Hal lain yang harus dilakukan adalah perubahan sumber dana DKJ dari APBD menjadi dana endowment atau hibah. APBD itu berarti tiap tahun harus mengajukan dan kami harus dag dig dug, sementara kalau dana endowment, berarti sudah dianggarkan tiap tahun sehingga bisa terjamin.
Rencana tersebut belum terselesaikan karena memerlukan konsensus banyak pihak. Kesadaran hidup di negara dunia ketiga, di mana kesenian harus "bersaing" dengan banyak bidang membuat rencana ini terhambat. Kami juga sadar diri kalau pemerintah harus mengutamakan bidang kesehatan dan pendidikan. Untuk itu kita harus lebih menggalang dana masyarakat yang bisa kita gali dari para pecinta seni. Sementara kalau hanya mengandalkan APBD yang notabene dana bersama berarti kita harus mau berbagi dengan bidang-bidang lain.
4. Apa sebenarnya fungsi DKJ bagi dunia kesenian Tanah Air?
Pada awal kemunculannya, TIM merupakan satu-satunya pusat kebudayaan di Indonesia. Seiring berjalannya waktu bermunculan pusat-pusat kebudayaan, sehingga DKJ sebagai salah satu elemen TIM harus berbagi peran dengan pusat kebudayaan tersebut. Untuk itu DKJ memilih untuk menjalankan fungsi yang tidak dilakukan pusat kebudayaan lain misalnya saja pembibitan seniman-seniman muda. Pembibitan itu kami lakukan melalui beberapa cara misalnya menyelenggarakan Sayembara Novel DKJ.
Mungkin hadiah yang dijanjikan tidak sebesar sayembara serupa seperti Khatulistiwa Literary Award. Tetapi sayembara lain kan hanya mau mengakomodasi para penulis yang sudah jadi, sementara DKJ melakukan investasi pada tingkat yang paling hulu. Terbukti sayembara DKJ telah melahirkan banyak penulis hebat seperti Ayu Utami. Memang tidak semua pemenang sayembara novel DKJ sefenomenal Ayu, namun setidaknya dengan memenangkan sayembara tersebut mereka jadi memiliki akses untuk menerbitkan karya-karyanya.
Dari ruang tari kami juga mengadakan Kencan Tari. Di mana kami mengundang selusin penari muda dari seluruh Indonesia, lalu dipertemukan dengan kritikus utama untuk menjadi fasilitator. Nanti para penari itu akan mempresentasikan konsep yang mereka miliki dan diskusikan bersama sebelas rekan serta fasilitator.
DKJ juga mencoba membangun ruang yang mempertemukan seniman dengan publik. Misalnya lewat Lampion Sastra atau pameran seni rupa Bienale yang akan dilaksanakan pada waktu dekat ini.
Kami juga memberikan ruang apresiasi bagi masyarakat untuk lebih akrab dengan kesenian. DKJ bekerja sama dengan LPPM untuk memberikan semacam kuliah pendek tentang seni kepada mahasiswa S2 manajemen. Selain itu DKJ juga menciptakan ruang pembangunan kelembagaan. DKJ membangun hubungan kerja yang lebih baik dengan lembaga-lembaga yang lain dan memperbaiki manajemen kami sendiri.
5. Bagaimana tanggapan Anda mengenai komentar miring bahwa DKJ sering membatalkan acara secara sepihak secara mendadak?
Komentar itu benar. Tetapi, tentu ada alasan mengapa kami terpaksa membatalkan acara, anggaran yang kacau menjadi biang keladinya. Untuk tahun ini saja kami baru mendapat kepastian jumlah anggaran bulan September. Nah, sebelum mendapatkan kepastian anggaran, kami terpaksa berspekulasi dalam merancang program. Mengurangi biaya operasional tentu tidak mungkin dilakukan, terpaksa kami melakukan penyesuaian anggaran kegiatan. Oleh karena itu, banyak kegiatan yang harus batal atau tertunda.
Karena anggaran yang belum jelas, selama tujuh bulan anggota kami tidak menerima gaji. Bahkan, kami terpaksa menggunakan uang pribadi untuk membayar gaji karyawan. Sebenarnya kami tidak keberatan jika dana diturunkan belakangan, asalkan ada kepastian jumlah.
6. Apa yang membuat Anda tertarik menjadi anggota DKJ?
Awalnya saya sama sekali tidak tertarik, seorang kawanlah yang merekomendasikan nama saya. Saya yang ketika itu masih bekerja di Aceh berpikir apa salahnya, toh cuma jadi anggota. Kemudian tak berapa lama teman saya itu menelepon lagi dan mengatakan, setiap anggota harus mau dipilih menjadi ketua. Saya pikir-pikir lagi, toh saya belum tentu terpilih jadi ketua.
Saya berpikir siapa tahu ilmu yang saya miliki dapat bermanfaat bagi perkembangan dunia seni Tanah Air. Saya memiliki "sedikit" pengetahuan mengenai arsitektur, seperti yang kita ketahui pada jaman Renaissance disebut mother of art, sebab semua bidang seni itu menempel atau mengambil tempat di dalam arsitektur.
Mengenai latar belakang saya yang bukan seniman, saya rasa itu bukan masalah. Menjadi anggota DKJ bukan berarti harus seniman kan? Saya rasa kita harus memahami secara luas apa itu seni dan seniman.
7. Bagaimana dengan pro dan kontra seputar terpilihnya Anda sebagai Ketua?
Saya rasa pro dan kontra merupakan sesuatu yang wajar. Hal tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sebuah proses demokrasi. Saya sangat menghargai pihak-pihak yang tidak setuju. Mungkin saya bukan sosok seniman besar seperti yang mereka harapkan. Itu sah-sah saja. Tetapi, sebagai pemangku amanat saya akan tetap menjalankan tanggung jawab yang telah dibebankan kepada saya.
Bagi saya kepercayaan merupakan sebuah modal penting untuk berbuat sesuatu. Lagi pula, kepemimpinan DKJ bersifat kolektif, di mana satu sama lain duduk sejajar. Sebagai Ketua saya hanya merangkum ke-25 energi dari masing-masing orang yang diarahkan mencapai tujuan bersama dan memastikan kalau energi yang tersalurkan ini berjalan dengan baik.
8. Tanggapan Anda mengenai kabar bahwa Anda merupakan "titipan" dari komunitas tertentu?
Saya adalah orang yang memegang prinsip, bukan dari mana saya berasal melainkan ke mana saya akan melangkah. Saya rasa tidak penting apakah seseorang itu titipan atau bukan, yang harus diperhatikan adalah apakah titipan itu disaring atau tidak.
Pemilihan anggota DKJ kali ini merupakan pemilihan yang paling demokratis, karena prosesnya terbuka dan diumumkan di dua koran nasional. Sejumlah 800 orang yang mendaftar dan didaftarkan disaring oleh tim yang diketuai Putu Wijaya. Dari 800 orang itu dipilih 30 orang yang kemudian diseleksi kembali oleh anggota Akademi Jakarta seperti Goenawan Mohammad, Rendra, Ajip Rosidi, NH Dini, Rosihan Anwar. Saya rasa seleksi dua tahap tersebut seharusnya dapat membuat semua pihak berbesar hati terhadap komposisi yang terpilih.
Saya rasa tidak masalah bila seseorang dekat dengan komunitas tertentu. Yang menjadi masalah adalah apabila dalam menjalankan tugasnya ia berat sebelah. Nah, untuk hal ini kami menerima untuk diawasi serta dikritik.
9. Seandainya Anda dicalonkan kembali apakah Anda sanggup?
Saya tidak percaya untuk menciptakan sesuatu yang baik harus diperpanjang hingga (periode) dua kali. Memang untuk memulai sesuatu yang baru selalu ada risiko buruk, tetapi bisa juga menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Apalagi dalam dunia kesenian yang mengalami perubahan dalam waktu cepat dibutuhkan orang-orang dengan pemikiran segar.
http://jurnalnasional.com/
DIKENAL sebagai arsitek dan ahli tata kota, namun dua tahun silam Marco Kusuma Widjaja terpilih menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Pro dan kontra mengiringi terpilihnya putera Pangkal Pinang ini, bahkan dua orang anggota DKJ memilih untuk mengundurkan diri.
Perdebatan berlarut-larut mengenai dirinya tak membuat Marco berkecil hati. Rumor yang mengatakan bahwa ia titipan dari komunitas tertentu dijawab dengan senyum dan lapang dada. "Yang penting bukan dari mana saya berasal, tetapi ke mana saya melangkah," katanya meyakinkan. Berikut petikan obrolan Marco dengan Jurnal Nasional di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
1. Selama dua tahun duduk sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), apa target yang Anda inginkan sudah tercapai?
Saya tidak memiliki target. Target yang ingin dicapai merupakan target kolektif dari anggota DKJ yang berjumlah 23 orang, mereka bukan anak buah saya tetapi rekan sejawat. Mengenai target tersebut tentu saya akan menjawab masih banyak yang harus dilakukan.
Saya rasa kita memang tidak boleh cepat berpuas diri. Apalagi dengan kondisi negara yang sedang carut marut. Tetapi, saya cukup senang karena selama dua tahun ini kami sudah melakukan beberapa perubahan yang cukup signifikan.
2. Perubahan apa yang Anda maksud?
Kami menetapkan kode etik yang berlaku yakni para anggota DKJ tidak boleh memakai panggung dan fasilitas DKJ untuk memanggungkan karya seni. Kami hanya boleh terlibat sebagai steering committe tidak boleh menjadi panitia pelaksana karena kita adalah tuan rumah, sebaliknya seharusnya kita harus mengundang seniman lain untuk terlibat.
Memilih untuk "menyewa" profesional untuk menangani semua proyek. Misalnya saja Kencan Tari ada empat program officer, setiap kegiatan kami akan merekrut proyek officer yang bekerja hanya untuk proyek itu. Sehingga, staf kami berfungsi sebagai penghubung. Ini berat juga bagi kawan-kawan anggota karena mereka tidak dibayar sebagai panitia.
3. Hal apa yang belum terselesaikan?
Yang belum selesai adalah memisahkan antara dewan dan manajemen. Ketua dewan tidak seharusnya mengurusi masalah tetek bengek sehari-hari. Tentu maksudnya bukan untuk mendewakan anggota DKJ, tetapi supaya tencipta jarak sehingga ada self-critic dan evaluasi.
Ujungnya sebetulnya membangun manajemen organisasi DKJ yang modern. Organisasi yang menggunakan uang rakyat secara terbuka dan dikelola secara benar dengan harapan di masa datang DKJ juga didukung oleh banyak orang.
Hal itu pernah dicoba pada jaman Ramadhan KH. Ia merupakan mantan anggota DKJ yang duduk sebagai direktur eksekutif serta menjalankan tugas sehari-hari. Sistem manajemen seperti itu yang ingin kami laksanakan.
Hal lain yang harus dilakukan adalah perubahan sumber dana DKJ dari APBD menjadi dana endowment atau hibah. APBD itu berarti tiap tahun harus mengajukan dan kami harus dag dig dug, sementara kalau dana endowment, berarti sudah dianggarkan tiap tahun sehingga bisa terjamin.
Rencana tersebut belum terselesaikan karena memerlukan konsensus banyak pihak. Kesadaran hidup di negara dunia ketiga, di mana kesenian harus "bersaing" dengan banyak bidang membuat rencana ini terhambat. Kami juga sadar diri kalau pemerintah harus mengutamakan bidang kesehatan dan pendidikan. Untuk itu kita harus lebih menggalang dana masyarakat yang bisa kita gali dari para pecinta seni. Sementara kalau hanya mengandalkan APBD yang notabene dana bersama berarti kita harus mau berbagi dengan bidang-bidang lain.
4. Apa sebenarnya fungsi DKJ bagi dunia kesenian Tanah Air?
Pada awal kemunculannya, TIM merupakan satu-satunya pusat kebudayaan di Indonesia. Seiring berjalannya waktu bermunculan pusat-pusat kebudayaan, sehingga DKJ sebagai salah satu elemen TIM harus berbagi peran dengan pusat kebudayaan tersebut. Untuk itu DKJ memilih untuk menjalankan fungsi yang tidak dilakukan pusat kebudayaan lain misalnya saja pembibitan seniman-seniman muda. Pembibitan itu kami lakukan melalui beberapa cara misalnya menyelenggarakan Sayembara Novel DKJ.
Mungkin hadiah yang dijanjikan tidak sebesar sayembara serupa seperti Khatulistiwa Literary Award. Tetapi sayembara lain kan hanya mau mengakomodasi para penulis yang sudah jadi, sementara DKJ melakukan investasi pada tingkat yang paling hulu. Terbukti sayembara DKJ telah melahirkan banyak penulis hebat seperti Ayu Utami. Memang tidak semua pemenang sayembara novel DKJ sefenomenal Ayu, namun setidaknya dengan memenangkan sayembara tersebut mereka jadi memiliki akses untuk menerbitkan karya-karyanya.
Dari ruang tari kami juga mengadakan Kencan Tari. Di mana kami mengundang selusin penari muda dari seluruh Indonesia, lalu dipertemukan dengan kritikus utama untuk menjadi fasilitator. Nanti para penari itu akan mempresentasikan konsep yang mereka miliki dan diskusikan bersama sebelas rekan serta fasilitator.
DKJ juga mencoba membangun ruang yang mempertemukan seniman dengan publik. Misalnya lewat Lampion Sastra atau pameran seni rupa Bienale yang akan dilaksanakan pada waktu dekat ini.
Kami juga memberikan ruang apresiasi bagi masyarakat untuk lebih akrab dengan kesenian. DKJ bekerja sama dengan LPPM untuk memberikan semacam kuliah pendek tentang seni kepada mahasiswa S2 manajemen. Selain itu DKJ juga menciptakan ruang pembangunan kelembagaan. DKJ membangun hubungan kerja yang lebih baik dengan lembaga-lembaga yang lain dan memperbaiki manajemen kami sendiri.
5. Bagaimana tanggapan Anda mengenai komentar miring bahwa DKJ sering membatalkan acara secara sepihak secara mendadak?
Komentar itu benar. Tetapi, tentu ada alasan mengapa kami terpaksa membatalkan acara, anggaran yang kacau menjadi biang keladinya. Untuk tahun ini saja kami baru mendapat kepastian jumlah anggaran bulan September. Nah, sebelum mendapatkan kepastian anggaran, kami terpaksa berspekulasi dalam merancang program. Mengurangi biaya operasional tentu tidak mungkin dilakukan, terpaksa kami melakukan penyesuaian anggaran kegiatan. Oleh karena itu, banyak kegiatan yang harus batal atau tertunda.
Karena anggaran yang belum jelas, selama tujuh bulan anggota kami tidak menerima gaji. Bahkan, kami terpaksa menggunakan uang pribadi untuk membayar gaji karyawan. Sebenarnya kami tidak keberatan jika dana diturunkan belakangan, asalkan ada kepastian jumlah.
6. Apa yang membuat Anda tertarik menjadi anggota DKJ?
Awalnya saya sama sekali tidak tertarik, seorang kawanlah yang merekomendasikan nama saya. Saya yang ketika itu masih bekerja di Aceh berpikir apa salahnya, toh cuma jadi anggota. Kemudian tak berapa lama teman saya itu menelepon lagi dan mengatakan, setiap anggota harus mau dipilih menjadi ketua. Saya pikir-pikir lagi, toh saya belum tentu terpilih jadi ketua.
Saya berpikir siapa tahu ilmu yang saya miliki dapat bermanfaat bagi perkembangan dunia seni Tanah Air. Saya memiliki "sedikit" pengetahuan mengenai arsitektur, seperti yang kita ketahui pada jaman Renaissance disebut mother of art, sebab semua bidang seni itu menempel atau mengambil tempat di dalam arsitektur.
Mengenai latar belakang saya yang bukan seniman, saya rasa itu bukan masalah. Menjadi anggota DKJ bukan berarti harus seniman kan? Saya rasa kita harus memahami secara luas apa itu seni dan seniman.
7. Bagaimana dengan pro dan kontra seputar terpilihnya Anda sebagai Ketua?
Saya rasa pro dan kontra merupakan sesuatu yang wajar. Hal tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sebuah proses demokrasi. Saya sangat menghargai pihak-pihak yang tidak setuju. Mungkin saya bukan sosok seniman besar seperti yang mereka harapkan. Itu sah-sah saja. Tetapi, sebagai pemangku amanat saya akan tetap menjalankan tanggung jawab yang telah dibebankan kepada saya.
Bagi saya kepercayaan merupakan sebuah modal penting untuk berbuat sesuatu. Lagi pula, kepemimpinan DKJ bersifat kolektif, di mana satu sama lain duduk sejajar. Sebagai Ketua saya hanya merangkum ke-25 energi dari masing-masing orang yang diarahkan mencapai tujuan bersama dan memastikan kalau energi yang tersalurkan ini berjalan dengan baik.
8. Tanggapan Anda mengenai kabar bahwa Anda merupakan "titipan" dari komunitas tertentu?
Saya adalah orang yang memegang prinsip, bukan dari mana saya berasal melainkan ke mana saya akan melangkah. Saya rasa tidak penting apakah seseorang itu titipan atau bukan, yang harus diperhatikan adalah apakah titipan itu disaring atau tidak.
Pemilihan anggota DKJ kali ini merupakan pemilihan yang paling demokratis, karena prosesnya terbuka dan diumumkan di dua koran nasional. Sejumlah 800 orang yang mendaftar dan didaftarkan disaring oleh tim yang diketuai Putu Wijaya. Dari 800 orang itu dipilih 30 orang yang kemudian diseleksi kembali oleh anggota Akademi Jakarta seperti Goenawan Mohammad, Rendra, Ajip Rosidi, NH Dini, Rosihan Anwar. Saya rasa seleksi dua tahap tersebut seharusnya dapat membuat semua pihak berbesar hati terhadap komposisi yang terpilih.
Saya rasa tidak masalah bila seseorang dekat dengan komunitas tertentu. Yang menjadi masalah adalah apabila dalam menjalankan tugasnya ia berat sebelah. Nah, untuk hal ini kami menerima untuk diawasi serta dikritik.
9. Seandainya Anda dicalonkan kembali apakah Anda sanggup?
Saya tidak percaya untuk menciptakan sesuatu yang baik harus diperpanjang hingga (periode) dua kali. Memang untuk memulai sesuatu yang baru selalu ada risiko buruk, tetapi bisa juga menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Apalagi dalam dunia kesenian yang mengalami perubahan dalam waktu cepat dibutuhkan orang-orang dengan pemikiran segar.
19/10/08
9 Pertanyaan untuk Alex Abbad: Dari Presenter Sampai ke Aktor
Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional, 16 Okto 2008
SETELAH sering memainkan peran-peran konyol, Alex Abbad kini mencoba tantangan baru dengan bermain dalam sebuah film drama, Cinta Setaman. Tak tanggung-tanggung, dalam film besutan sutradara Harry Dagoe ini Alex berperan sebagai pria homoseksual.
Meski banyak yang meragukan, namun lelaki kelahiran Jakarta, 18 Juni 1978, ini berhasil membuktikan bahwa kehadirannya di dunia seni peran bukan sekadar aji mumpung. Bahkan, banyak kritikus film yang memuji cerita yang dilakoninya bersama aktris senior Jajang C Noor ini, cerita yang tidak banyak berkata namun bertutur melalui peristiwa.
Nama Alex Abbad mulai dikenal luas sejak pria berdarah Arab ini menjadi video jockey (VJ) di salah satu stasiun televisi. Awal tahun 2000, Alex sempat menghilang. Kemudian muncul kembali dalam film Andai Dia Tahu. Tahun-tahun berikutnya mantan kekasih Karenina ini lebih sering tampil sebagai aktor ketimbang presenter. Berikut petikan obrolan dengan pria yang masih betah melajang ini saat ditemui di Plaza Senayan, Jakarta, belum lama ini.
1. Awal cerita Anda berperan sebagai seorang homoseksual dalam film Cinta Setaman?
Awalnya teman saya yang memberi tahu kalau Harry Dagoe akan membuat film. Setahu saya film-film Harry sering tak "biasa". Selain itu, tidak semua orang berani memerankan karakter-karakter di dalamnya. Hal itu kemudian membuat saya tertantang.
Waktu itu saya di-casting untuk film horor, tetapi entah mengapa asisten sutradara dan beberapa kru melihat saya cocok untuk bermain dalam film Cinta Setaman. Di film tersebut saya ditawari peran sebagai Rio, seorang pria homoseksual yang berusaha mengabdi pada ibunya.
Sampai sekarang saya masih belum bisa menjawab, kenapa sutradara dan para kru melihat saya cocok berperan sebagai seorang homoseksual. Padahal, waktu casting gaya saya sangat cuek, pakai sendal jepit, baju kaos dan jenggot lebat. Sementara biasanya kaum homoseksual cenderung berpenampilan rapi.
2. Anda tidak takut peran tersebut akan berdampak buruk pada citra Anda?
Saya rasa masyarakat bersikap antipati terhadap kaum homoseksual karena kurangnya informasi tentang mereka. Ada banyak aspek serta sudut pandang yang dapat digunakan untuk melihat fenomena keberadaan kaum homoseksual.
Dari sisi agama, ada peraturan baku yang tidak bisa ditawar, di mana kalau melihat lewat jendela, masuk lewat pintu. Namun, seiring berjalan waktu, tentu nilai-nilai agama itu mulai tergerus dan orang-orang mulai melihat dari kaca mata yang berbeda.
Saya sendiri tidak berada pada posisi menghujat ataupun menyanjung kaum homoseksual. Saya tipikal orang yang menghormati pilihan hidup yang diambil (seseorang). Saya akan menghargai dia, selama dia tidak mengganggu saya.
3. Apakah Anda melakukan observasi untuk peran tersebut?
Saya memerankan tokoh Rio yang secara fisik dan gestur laki-laki tulen, tetapi mempunyai ketertarikan dengan sesama jenis. Nah, feel ketertarikan itulah yang harus saya pelajari. Karena, Alhamdulillah saya adalah laki-laki normal yang tertarik dengan lawan jenis.
Untuk memainkan karakter tersebut saya melakukan observasi kecil-kecilan dengan bertanya pada beberapa teman yang dekat dengan dunia tersebut. Prosesnya tidak terlalu lama, bahkan kurang dari dua minggu.
Dalam film Cinta Setaman, sosok Rio diceritakan sebagai seorang anak penjual kain yang berasal dari Padang (suku Minang). Hal itu membuat saya sedikit kesulitan mengingat saya lahir dan dibesarkan di Tanah Jawa.
Kemudian saya menemukan cara cepat untuk belajar berbicara aksen Padang, yaitu bergaul dengan para penjual kain di Tanah Abang. Dari mereka saya jadi mengetahui bagaimana orang Padang sehari-harinya berkomunikasi. Temuan saya di lapangan kemudian saya konsultasikan dengan sutradara.
4. Terbawakah peran tersebut dalam kehidupan nyata Anda?
Menurut saya berakting adalah menjiwai sebuah peran, tetapi setelah itu kamera mati, semua itu selesai dan tidak terbawa ke dunia nyata. Saya juga sadar sepenuhnya kalau itu hanya bukan karakter saya, sehingga saya yakin tak kan terbawa-bawa pada kehidupan sehari-hari.
Kalau orang lain menilai bahwa saya yang di film dan di dunia nyata sama, berarti saya berhasil membawakan karakter tersebut. Saya juga tidak menyiapkan antisipasi apa-apa untuk tingkah penggemar yang aneh-aneh. Saya sendiri memiliki kebiasaan tidak mengangkat telpon dari nomor (yang) asing.
5. Jadi, sekarang Anda banting stir, dari dunia presenter ke dunia film?
Sebenarnya saya sudah mengakrabi dunia film sejak jaman kuliah. Ketika itu saya dan teman-teman sering membuat film independen yang bercerita tentang anak jalanan ataupun komunitas punk. Hanya saja, saat itu saya lebih sering bergelut di balik layar sebagai penulis skenario.
Ternyata teman-teman saya memilih untuk menggeluti dunia film secara serius, dan ketika mereka telah sukses beberapa merekomendasikan nama saya untuk ikut dalam sebuah produksi. Sejak itu saya mulai berkecimpung di dunia film secara profesional. Anehnya lagi, jangka waktu tiga tahun ini saya hampir tidak pernah menerima tawaran presenter.
6. Seandainya harus memilih, mana yang lebih Anda suka, menjadi presenter atau main film?
Saat membawakan sebuah acara saya menjadi diri sendiri. Tantangan yang akan saya dan orang lain alami sepanjang hidup, di mana saya harus menemukan jati diri saya. Sementara di dunia film, saya dibayar untuk memerankan karakter yang berbeda. Saya rasa itu merupakan pekerjaan yang lebih menyenangkan.
7. Selain ngem-MC dan main film apa saja kesibukan Anda saat ini?
Saya menganggap presenter dan bermain film merupakan ladang di mana saya mencari uang. Sementara untuk bersenang-senang saya memilih bermain musik, menulis puisi atau melukis. Dengan bermain musik saya bisa menumpahkan segala inspirasi yang bergelatungan di kepala.
Saat ini saya memiliki dua band, yang pertama ada di Jakarta dan yang kedua di daerah Jawa Tengah. Sebenarnya materinya sudah terkumpul, hanya saja sekarang para personelnya punya kesibukan masing-masing.
8. Anda menyukai sastra?
Saya senang membaca, apapun jenis bukunya. Untuk sastra saya lebih menyukai cerita-cerita Persia dan Timur Tengah. Mungkin banyak orang menyukai Shakespeare, tapi saya tidak. Dari dalam negeri, saya sangat menggemari karya-karya Umar Khayam, terutama Seribu Kunang- Kunang di Manhattan.
Buku terakhir yang saya baca berjudul Taiko. Buku tersebut bercerita mengenai keadaan Jepang menjelang abad keenam belas di mana kondisi negara tengah carut marut. Pemerintahan sedang rapuh, keshogunan sedang kacau balau, perang di mana-mana, sementara kesejahteraan rakyat terbengkalaikan.
Saya tertarik membaca ini karena sebelumnya pernah membaca Musashi karya Eiji Yoshikawa. Taiko merupakan sejarah Jepang dalam skup yang lebih luas dan ternyata sudah menjadi buku pegangan wajib bagi siswa SMP di sana. Gila kan sejak SMP orang Jepang sudah mempelajari politik.
9. Gaya Anda tampak berbeda dari selebriti kebanyakan, apa Anda memanfaatkan stylish khusus?
Ha ha ha, kalau gaya kayak gini pakai stylish kasihan banget stylish-nya. Dalam berbusana saya tidak pernah mengikuti tren, saya hanya mencoba mengekspresikan apa yang saya suka, dan apa yang sekiranya nyaman saya kenakan.
Jurnal Nasional, 16 Okto 2008
SETELAH sering memainkan peran-peran konyol, Alex Abbad kini mencoba tantangan baru dengan bermain dalam sebuah film drama, Cinta Setaman. Tak tanggung-tanggung, dalam film besutan sutradara Harry Dagoe ini Alex berperan sebagai pria homoseksual.
Meski banyak yang meragukan, namun lelaki kelahiran Jakarta, 18 Juni 1978, ini berhasil membuktikan bahwa kehadirannya di dunia seni peran bukan sekadar aji mumpung. Bahkan, banyak kritikus film yang memuji cerita yang dilakoninya bersama aktris senior Jajang C Noor ini, cerita yang tidak banyak berkata namun bertutur melalui peristiwa.
Nama Alex Abbad mulai dikenal luas sejak pria berdarah Arab ini menjadi video jockey (VJ) di salah satu stasiun televisi. Awal tahun 2000, Alex sempat menghilang. Kemudian muncul kembali dalam film Andai Dia Tahu. Tahun-tahun berikutnya mantan kekasih Karenina ini lebih sering tampil sebagai aktor ketimbang presenter. Berikut petikan obrolan dengan pria yang masih betah melajang ini saat ditemui di Plaza Senayan, Jakarta, belum lama ini.
1. Awal cerita Anda berperan sebagai seorang homoseksual dalam film Cinta Setaman?
Awalnya teman saya yang memberi tahu kalau Harry Dagoe akan membuat film. Setahu saya film-film Harry sering tak "biasa". Selain itu, tidak semua orang berani memerankan karakter-karakter di dalamnya. Hal itu kemudian membuat saya tertantang.
Waktu itu saya di-casting untuk film horor, tetapi entah mengapa asisten sutradara dan beberapa kru melihat saya cocok untuk bermain dalam film Cinta Setaman. Di film tersebut saya ditawari peran sebagai Rio, seorang pria homoseksual yang berusaha mengabdi pada ibunya.
Sampai sekarang saya masih belum bisa menjawab, kenapa sutradara dan para kru melihat saya cocok berperan sebagai seorang homoseksual. Padahal, waktu casting gaya saya sangat cuek, pakai sendal jepit, baju kaos dan jenggot lebat. Sementara biasanya kaum homoseksual cenderung berpenampilan rapi.
2. Anda tidak takut peran tersebut akan berdampak buruk pada citra Anda?
Saya rasa masyarakat bersikap antipati terhadap kaum homoseksual karena kurangnya informasi tentang mereka. Ada banyak aspek serta sudut pandang yang dapat digunakan untuk melihat fenomena keberadaan kaum homoseksual.
Dari sisi agama, ada peraturan baku yang tidak bisa ditawar, di mana kalau melihat lewat jendela, masuk lewat pintu. Namun, seiring berjalan waktu, tentu nilai-nilai agama itu mulai tergerus dan orang-orang mulai melihat dari kaca mata yang berbeda.
Saya sendiri tidak berada pada posisi menghujat ataupun menyanjung kaum homoseksual. Saya tipikal orang yang menghormati pilihan hidup yang diambil (seseorang). Saya akan menghargai dia, selama dia tidak mengganggu saya.
3. Apakah Anda melakukan observasi untuk peran tersebut?
Saya memerankan tokoh Rio yang secara fisik dan gestur laki-laki tulen, tetapi mempunyai ketertarikan dengan sesama jenis. Nah, feel ketertarikan itulah yang harus saya pelajari. Karena, Alhamdulillah saya adalah laki-laki normal yang tertarik dengan lawan jenis.
Untuk memainkan karakter tersebut saya melakukan observasi kecil-kecilan dengan bertanya pada beberapa teman yang dekat dengan dunia tersebut. Prosesnya tidak terlalu lama, bahkan kurang dari dua minggu.
Dalam film Cinta Setaman, sosok Rio diceritakan sebagai seorang anak penjual kain yang berasal dari Padang (suku Minang). Hal itu membuat saya sedikit kesulitan mengingat saya lahir dan dibesarkan di Tanah Jawa.
Kemudian saya menemukan cara cepat untuk belajar berbicara aksen Padang, yaitu bergaul dengan para penjual kain di Tanah Abang. Dari mereka saya jadi mengetahui bagaimana orang Padang sehari-harinya berkomunikasi. Temuan saya di lapangan kemudian saya konsultasikan dengan sutradara.
4. Terbawakah peran tersebut dalam kehidupan nyata Anda?
Menurut saya berakting adalah menjiwai sebuah peran, tetapi setelah itu kamera mati, semua itu selesai dan tidak terbawa ke dunia nyata. Saya juga sadar sepenuhnya kalau itu hanya bukan karakter saya, sehingga saya yakin tak kan terbawa-bawa pada kehidupan sehari-hari.
Kalau orang lain menilai bahwa saya yang di film dan di dunia nyata sama, berarti saya berhasil membawakan karakter tersebut. Saya juga tidak menyiapkan antisipasi apa-apa untuk tingkah penggemar yang aneh-aneh. Saya sendiri memiliki kebiasaan tidak mengangkat telpon dari nomor (yang) asing.
5. Jadi, sekarang Anda banting stir, dari dunia presenter ke dunia film?
Sebenarnya saya sudah mengakrabi dunia film sejak jaman kuliah. Ketika itu saya dan teman-teman sering membuat film independen yang bercerita tentang anak jalanan ataupun komunitas punk. Hanya saja, saat itu saya lebih sering bergelut di balik layar sebagai penulis skenario.
Ternyata teman-teman saya memilih untuk menggeluti dunia film secara serius, dan ketika mereka telah sukses beberapa merekomendasikan nama saya untuk ikut dalam sebuah produksi. Sejak itu saya mulai berkecimpung di dunia film secara profesional. Anehnya lagi, jangka waktu tiga tahun ini saya hampir tidak pernah menerima tawaran presenter.
6. Seandainya harus memilih, mana yang lebih Anda suka, menjadi presenter atau main film?
Saat membawakan sebuah acara saya menjadi diri sendiri. Tantangan yang akan saya dan orang lain alami sepanjang hidup, di mana saya harus menemukan jati diri saya. Sementara di dunia film, saya dibayar untuk memerankan karakter yang berbeda. Saya rasa itu merupakan pekerjaan yang lebih menyenangkan.
7. Selain ngem-MC dan main film apa saja kesibukan Anda saat ini?
Saya menganggap presenter dan bermain film merupakan ladang di mana saya mencari uang. Sementara untuk bersenang-senang saya memilih bermain musik, menulis puisi atau melukis. Dengan bermain musik saya bisa menumpahkan segala inspirasi yang bergelatungan di kepala.
Saat ini saya memiliki dua band, yang pertama ada di Jakarta dan yang kedua di daerah Jawa Tengah. Sebenarnya materinya sudah terkumpul, hanya saja sekarang para personelnya punya kesibukan masing-masing.
8. Anda menyukai sastra?
Saya senang membaca, apapun jenis bukunya. Untuk sastra saya lebih menyukai cerita-cerita Persia dan Timur Tengah. Mungkin banyak orang menyukai Shakespeare, tapi saya tidak. Dari dalam negeri, saya sangat menggemari karya-karya Umar Khayam, terutama Seribu Kunang- Kunang di Manhattan.
Buku terakhir yang saya baca berjudul Taiko. Buku tersebut bercerita mengenai keadaan Jepang menjelang abad keenam belas di mana kondisi negara tengah carut marut. Pemerintahan sedang rapuh, keshogunan sedang kacau balau, perang di mana-mana, sementara kesejahteraan rakyat terbengkalaikan.
Saya tertarik membaca ini karena sebelumnya pernah membaca Musashi karya Eiji Yoshikawa. Taiko merupakan sejarah Jepang dalam skup yang lebih luas dan ternyata sudah menjadi buku pegangan wajib bagi siswa SMP di sana. Gila kan sejak SMP orang Jepang sudah mempelajari politik.
9. Gaya Anda tampak berbeda dari selebriti kebanyakan, apa Anda memanfaatkan stylish khusus?
Ha ha ha, kalau gaya kayak gini pakai stylish kasihan banget stylish-nya. Dalam berbusana saya tidak pernah mengikuti tren, saya hanya mencoba mengekspresikan apa yang saya suka, dan apa yang sekiranya nyaman saya kenakan.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita