Tampilkan postingan dengan label Grathia Pitaloka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Grathia Pitaloka. Tampilkan semua postingan

19/07/21

Jenius Lokal Berperahu Cadik

Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional, 28 Sep 2008
 
Kampung halaman sangat mewarnai sastra Indonesia; bahkan jadi paradigma berpikir yang tak terpisahkan.
Pada era 1970-an, perkembangan sastra Indonesia pernah menggeliat kembali ke akar. Karya sastra yang dianggap ideal, harus memiliki muatan atau warna lokal, di mana secara simbolik dan geografik merujuk ke kampung halaman.

20/12/08

9 Pertanyaan untuk Marco Kusuma Widjaja: Memahami Seni Secara Luas

Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/

DIKENAL sebagai arsitek dan ahli tata kota, namun dua tahun silam Marco Kusuma Widjaja terpilih menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Pro dan kontra mengiringi terpilihnya putera Pangkal Pinang ini, bahkan dua orang anggota DKJ memilih untuk mengundurkan diri.

Perdebatan berlarut-larut mengenai dirinya tak membuat Marco berkecil hati. Rumor yang mengatakan bahwa ia titipan dari komunitas tertentu dijawab dengan senyum dan lapang dada. "Yang penting bukan dari mana saya berasal, tetapi ke mana saya melangkah," katanya meyakinkan. Berikut petikan obrolan Marco dengan Jurnal Nasional di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

1. Selama dua tahun duduk sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), apa target yang Anda inginkan sudah tercapai?

Saya tidak memiliki target. Target yang ingin dicapai merupakan target kolektif dari anggota DKJ yang berjumlah 23 orang, mereka bukan anak buah saya tetapi rekan sejawat. Mengenai target tersebut tentu saya akan menjawab masih banyak yang harus dilakukan.

Saya rasa kita memang tidak boleh cepat berpuas diri. Apalagi dengan kondisi negara yang sedang carut marut. Tetapi, saya cukup senang karena selama dua tahun ini kami sudah melakukan beberapa perubahan yang cukup signifikan.

2. Perubahan apa yang Anda maksud?

Kami menetapkan kode etik yang berlaku yakni para anggota DKJ tidak boleh memakai panggung dan fasilitas DKJ untuk memanggungkan karya seni. Kami hanya boleh terlibat sebagai steering committe tidak boleh menjadi panitia pelaksana karena kita adalah tuan rumah, sebaliknya seharusnya kita harus mengundang seniman lain untuk terlibat.

Memilih untuk "menyewa" profesional untuk menangani semua proyek. Misalnya saja Kencan Tari ada empat program officer, setiap kegiatan kami akan merekrut proyek officer yang bekerja hanya untuk proyek itu. Sehingga, staf kami berfungsi sebagai penghubung. Ini berat juga bagi kawan-kawan anggota karena mereka tidak dibayar sebagai panitia.

3. Hal apa yang belum terselesaikan?

Yang belum selesai adalah memisahkan antara dewan dan manajemen. Ketua dewan tidak seharusnya mengurusi masalah tetek bengek sehari-hari. Tentu maksudnya bukan untuk mendewakan anggota DKJ, tetapi supaya tencipta jarak sehingga ada self-critic dan evaluasi.

Ujungnya sebetulnya membangun manajemen organisasi DKJ yang modern. Organisasi yang menggunakan uang rakyat secara terbuka dan dikelola secara benar dengan harapan di masa datang DKJ juga didukung oleh banyak orang.

Hal itu pernah dicoba pada jaman Ramadhan KH. Ia merupakan mantan anggota DKJ yang duduk sebagai direktur eksekutif serta menjalankan tugas sehari-hari. Sistem manajemen seperti itu yang ingin kami laksanakan.

Hal lain yang harus dilakukan adalah perubahan sumber dana DKJ dari APBD menjadi dana endowment atau hibah. APBD itu berarti tiap tahun harus mengajukan dan kami harus dag dig dug, sementara kalau dana endowment, berarti sudah dianggarkan tiap tahun sehingga bisa terjamin.

Rencana tersebut belum terselesaikan karena memerlukan konsensus banyak pihak. Kesadaran hidup di negara dunia ketiga, di mana kesenian harus "bersaing" dengan banyak bidang membuat rencana ini terhambat. Kami juga sadar diri kalau pemerintah harus mengutamakan bidang kesehatan dan pendidikan. Untuk itu kita harus lebih menggalang dana masyarakat yang bisa kita gali dari para pecinta seni. Sementara kalau hanya mengandalkan APBD yang notabene dana bersama berarti kita harus mau berbagi dengan bidang-bidang lain.

4. Apa sebenarnya fungsi DKJ bagi dunia kesenian Tanah Air?

Pada awal kemunculannya, TIM merupakan satu-satunya pusat kebudayaan di Indonesia. Seiring berjalannya waktu bermunculan pusat-pusat kebudayaan, sehingga DKJ sebagai salah satu elemen TIM harus berbagi peran dengan pusat kebudayaan tersebut. Untuk itu DKJ memilih untuk menjalankan fungsi yang tidak dilakukan pusat kebudayaan lain misalnya saja pembibitan seniman-seniman muda. Pembibitan itu kami lakukan melalui beberapa cara misalnya menyelenggarakan Sayembara Novel DKJ.

Mungkin hadiah yang dijanjikan tidak sebesar sayembara serupa seperti Khatulistiwa Literary Award. Tetapi sayembara lain kan hanya mau mengakomodasi para penulis yang sudah jadi, sementara DKJ melakukan investasi pada tingkat yang paling hulu. Terbukti sayembara DKJ telah melahirkan banyak penulis hebat seperti Ayu Utami. Memang tidak semua pemenang sayembara novel DKJ sefenomenal Ayu, namun setidaknya dengan memenangkan sayembara tersebut mereka jadi memiliki akses untuk menerbitkan karya-karyanya.

Dari ruang tari kami juga mengadakan Kencan Tari. Di mana kami mengundang selusin penari muda dari seluruh Indonesia, lalu dipertemukan dengan kritikus utama untuk menjadi fasilitator. Nanti para penari itu akan mempresentasikan konsep yang mereka miliki dan diskusikan bersama sebelas rekan serta fasilitator.

DKJ juga mencoba membangun ruang yang mempertemukan seniman dengan publik. Misalnya lewat Lampion Sastra atau pameran seni rupa Bienale yang akan dilaksanakan pada waktu dekat ini.

Kami juga memberikan ruang apresiasi bagi masyarakat untuk lebih akrab dengan kesenian. DKJ bekerja sama dengan LPPM untuk memberikan semacam kuliah pendek tentang seni kepada mahasiswa S2 manajemen. Selain itu DKJ juga menciptakan ruang pembangunan kelembagaan. DKJ membangun hubungan kerja yang lebih baik dengan lembaga-lembaga yang lain dan memperbaiki manajemen kami sendiri.

5. Bagaimana tanggapan Anda mengenai komentar miring bahwa DKJ sering membatalkan acara secara sepihak secara mendadak?

Komentar itu benar. Tetapi, tentu ada alasan mengapa kami terpaksa membatalkan acara, anggaran yang kacau menjadi biang keladinya. Untuk tahun ini saja kami baru mendapat kepastian jumlah anggaran bulan September. Nah, sebelum mendapatkan kepastian anggaran, kami terpaksa berspekulasi dalam merancang program. Mengurangi biaya operasional tentu tidak mungkin dilakukan, terpaksa kami melakukan penyesuaian anggaran kegiatan. Oleh karena itu, banyak kegiatan yang harus batal atau tertunda.

Karena anggaran yang belum jelas, selama tujuh bulan anggota kami tidak menerima gaji. Bahkan, kami terpaksa menggunakan uang pribadi untuk membayar gaji karyawan. Sebenarnya kami tidak keberatan jika dana diturunkan belakangan, asalkan ada kepastian jumlah.

6. Apa yang membuat Anda tertarik menjadi anggota DKJ?

Awalnya saya sama sekali tidak tertarik, seorang kawanlah yang merekomendasikan nama saya. Saya yang ketika itu masih bekerja di Aceh berpikir apa salahnya, toh cuma jadi anggota. Kemudian tak berapa lama teman saya itu menelepon lagi dan mengatakan, setiap anggota harus mau dipilih menjadi ketua. Saya pikir-pikir lagi, toh saya belum tentu terpilih jadi ketua.

Saya berpikir siapa tahu ilmu yang saya miliki dapat bermanfaat bagi perkembangan dunia seni Tanah Air. Saya memiliki "sedikit" pengetahuan mengenai arsitektur, seperti yang kita ketahui pada jaman Renaissance disebut mother of art, sebab semua bidang seni itu menempel atau mengambil tempat di dalam arsitektur.

Mengenai latar belakang saya yang bukan seniman, saya rasa itu bukan masalah. Menjadi anggota DKJ bukan berarti harus seniman kan? Saya rasa kita harus memahami secara luas apa itu seni dan seniman.

7. Bagaimana dengan pro dan kontra seputar terpilihnya Anda sebagai Ketua?

Saya rasa pro dan kontra merupakan sesuatu yang wajar. Hal tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sebuah proses demokrasi. Saya sangat menghargai pihak-pihak yang tidak setuju. Mungkin saya bukan sosok seniman besar seperti yang mereka harapkan. Itu sah-sah saja. Tetapi, sebagai pemangku amanat saya akan tetap menjalankan tanggung jawab yang telah dibebankan kepada saya.

Bagi saya kepercayaan merupakan sebuah modal penting untuk berbuat sesuatu. Lagi pula, kepemimpinan DKJ bersifat kolektif, di mana satu sama lain duduk sejajar. Sebagai Ketua saya hanya merangkum ke-25 energi dari masing-masing orang yang diarahkan mencapai tujuan bersama dan memastikan kalau energi yang tersalurkan ini berjalan dengan baik.

8. Tanggapan Anda mengenai kabar bahwa Anda merupakan "titipan" dari komunitas tertentu?

Saya adalah orang yang memegang prinsip, bukan dari mana saya berasal melainkan ke mana saya akan melangkah. Saya rasa tidak penting apakah seseorang itu titipan atau bukan, yang harus diperhatikan adalah apakah titipan itu disaring atau tidak.

Pemilihan anggota DKJ kali ini merupakan pemilihan yang paling demokratis, karena prosesnya terbuka dan diumumkan di dua koran nasional. Sejumlah 800 orang yang mendaftar dan didaftarkan disaring oleh tim yang diketuai Putu Wijaya. Dari 800 orang itu dipilih 30 orang yang kemudian diseleksi kembali oleh anggota Akademi Jakarta seperti Goenawan Mohammad, Rendra, Ajip Rosidi, NH Dini, Rosihan Anwar. Saya rasa seleksi dua tahap tersebut seharusnya dapat membuat semua pihak berbesar hati terhadap komposisi yang terpilih.

Saya rasa tidak masalah bila seseorang dekat dengan komunitas tertentu. Yang menjadi masalah adalah apabila dalam menjalankan tugasnya ia berat sebelah. Nah, untuk hal ini kami menerima untuk diawasi serta dikritik.

9. Seandainya Anda dicalonkan kembali apakah Anda sanggup?

Saya tidak percaya untuk menciptakan sesuatu yang baik harus diperpanjang hingga (periode) dua kali. Memang untuk memulai sesuatu yang baru selalu ada risiko buruk, tetapi bisa juga menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Apalagi dalam dunia kesenian yang mengalami perubahan dalam waktu cepat dibutuhkan orang-orang dengan pemikiran segar.

19/10/08

9 Pertanyaan untuk Alex Abbad: Dari Presenter Sampai ke Aktor

Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional, 16 Okto 2008

SETELAH sering memainkan peran-peran konyol, Alex Abbad kini mencoba tantangan baru dengan bermain dalam sebuah film drama, Cinta Setaman. Tak tanggung-tanggung, dalam film besutan sutradara Harry Dagoe ini Alex berperan sebagai pria homoseksual.

Meski banyak yang meragukan, namun lelaki kelahiran Jakarta, 18 Juni 1978, ini berhasil membuktikan bahwa kehadirannya di dunia seni peran bukan sekadar aji mumpung. Bahkan, banyak kritikus film yang memuji cerita yang dilakoninya bersama aktris senior Jajang C Noor ini, cerita yang tidak banyak berkata namun bertutur melalui peristiwa.

Nama Alex Abbad mulai dikenal luas sejak pria berdarah Arab ini menjadi video jockey (VJ) di salah satu stasiun televisi. Awal tahun 2000, Alex sempat menghilang. Kemudian muncul kembali dalam film Andai Dia Tahu. Tahun-tahun berikutnya mantan kekasih Karenina ini lebih sering tampil sebagai aktor ketimbang presenter. Berikut petikan obrolan dengan pria yang masih betah melajang ini saat ditemui di Plaza Senayan, Jakarta, belum lama ini.

1. Awal cerita Anda berperan sebagai seorang homoseksual dalam film Cinta Setaman?

Awalnya teman saya yang memberi tahu kalau Harry Dagoe akan membuat film. Setahu saya film-film Harry sering tak "biasa". Selain itu, tidak semua orang berani memerankan karakter-karakter di dalamnya. Hal itu kemudian membuat saya tertantang.

Waktu itu saya di-casting untuk film horor, tetapi entah mengapa asisten sutradara dan beberapa kru melihat saya cocok untuk bermain dalam film Cinta Setaman. Di film tersebut saya ditawari peran sebagai Rio, seorang pria homoseksual yang berusaha mengabdi pada ibunya.

Sampai sekarang saya masih belum bisa menjawab, kenapa sutradara dan para kru melihat saya cocok berperan sebagai seorang homoseksual. Padahal, waktu casting gaya saya sangat cuek, pakai sendal jepit, baju kaos dan jenggot lebat. Sementara biasanya kaum homoseksual cenderung berpenampilan rapi.

2. Anda tidak takut peran tersebut akan berdampak buruk pada citra Anda?

Saya rasa masyarakat bersikap antipati terhadap kaum homoseksual karena kurangnya informasi tentang mereka. Ada banyak aspek serta sudut pandang yang dapat digunakan untuk melihat fenomena keberadaan kaum homoseksual.

Dari sisi agama, ada peraturan baku yang tidak bisa ditawar, di mana kalau melihat lewat jendela, masuk lewat pintu. Namun, seiring berjalan waktu, tentu nilai-nilai agama itu mulai tergerus dan orang-orang mulai melihat dari kaca mata yang berbeda.

Saya sendiri tidak berada pada posisi menghujat ataupun menyanjung kaum homoseksual. Saya tipikal orang yang menghormati pilihan hidup yang diambil (seseorang). Saya akan menghargai dia, selama dia tidak mengganggu saya.

3. Apakah Anda melakukan observasi untuk peran tersebut?

Saya memerankan tokoh Rio yang secara fisik dan gestur laki-laki tulen, tetapi mempunyai ketertarikan dengan sesama jenis. Nah, feel ketertarikan itulah yang harus saya pelajari. Karena, Alhamdulillah saya adalah laki-laki normal yang tertarik dengan lawan jenis.

Untuk memainkan karakter tersebut saya melakukan observasi kecil-kecilan dengan bertanya pada beberapa teman yang dekat dengan dunia tersebut. Prosesnya tidak terlalu lama, bahkan kurang dari dua minggu.

Dalam film Cinta Setaman, sosok Rio diceritakan sebagai seorang anak penjual kain yang berasal dari Padang (suku Minang). Hal itu membuat saya sedikit kesulitan mengingat saya lahir dan dibesarkan di Tanah Jawa.

Kemudian saya menemukan cara cepat untuk belajar berbicara aksen Padang, yaitu bergaul dengan para penjual kain di Tanah Abang. Dari mereka saya jadi mengetahui bagaimana orang Padang sehari-harinya berkomunikasi. Temuan saya di lapangan kemudian saya konsultasikan dengan sutradara.

4. Terbawakah peran tersebut dalam kehidupan nyata Anda?

Menurut saya berakting adalah menjiwai sebuah peran, tetapi setelah itu kamera mati, semua itu selesai dan tidak terbawa ke dunia nyata. Saya juga sadar sepenuhnya kalau itu hanya bukan karakter saya, sehingga saya yakin tak kan terbawa-bawa pada kehidupan sehari-hari.

Kalau orang lain menilai bahwa saya yang di film dan di dunia nyata sama, berarti saya berhasil membawakan karakter tersebut. Saya juga tidak menyiapkan antisipasi apa-apa untuk tingkah penggemar yang aneh-aneh. Saya sendiri memiliki kebiasaan tidak mengangkat telpon dari nomor (yang) asing.

5. Jadi, sekarang Anda banting stir, dari dunia presenter ke dunia film?

Sebenarnya saya sudah mengakrabi dunia film sejak jaman kuliah. Ketika itu saya dan teman-teman sering membuat film independen yang bercerita tentang anak jalanan ataupun komunitas punk. Hanya saja, saat itu saya lebih sering bergelut di balik layar sebagai penulis skenario.

Ternyata teman-teman saya memilih untuk menggeluti dunia film secara serius, dan ketika mereka telah sukses beberapa merekomendasikan nama saya untuk ikut dalam sebuah produksi. Sejak itu saya mulai berkecimpung di dunia film secara profesional. Anehnya lagi, jangka waktu tiga tahun ini saya hampir tidak pernah menerima tawaran presenter.

6. Seandainya harus memilih, mana yang lebih Anda suka, menjadi presenter atau main film?

Saat membawakan sebuah acara saya menjadi diri sendiri. Tantangan yang akan saya dan orang lain alami sepanjang hidup, di mana saya harus menemukan jati diri saya. Sementara di dunia film, saya dibayar untuk memerankan karakter yang berbeda. Saya rasa itu merupakan pekerjaan yang lebih menyenangkan.

7. Selain ngem-MC dan main film apa saja kesibukan Anda saat ini?

Saya menganggap presenter dan bermain film merupakan ladang di mana saya mencari uang. Sementara untuk bersenang-senang saya memilih bermain musik, menulis puisi atau melukis. Dengan bermain musik saya bisa menumpahkan segala inspirasi yang bergelatungan di kepala.

Saat ini saya memiliki dua band, yang pertama ada di Jakarta dan yang kedua di daerah Jawa Tengah. Sebenarnya materinya sudah terkumpul, hanya saja sekarang para personelnya punya kesibukan masing-masing.

8. Anda menyukai sastra?

Saya senang membaca, apapun jenis bukunya. Untuk sastra saya lebih menyukai cerita-cerita Persia dan Timur Tengah. Mungkin banyak orang menyukai Shakespeare, tapi saya tidak. Dari dalam negeri, saya sangat menggemari karya-karya Umar Khayam, terutama Seribu Kunang- Kunang di Manhattan.

Buku terakhir yang saya baca berjudul Taiko. Buku tersebut bercerita mengenai keadaan Jepang menjelang abad keenam belas di mana kondisi negara tengah carut marut. Pemerintahan sedang rapuh, keshogunan sedang kacau balau, perang di mana-mana, sementara kesejahteraan rakyat terbengkalaikan.

Saya tertarik membaca ini karena sebelumnya pernah membaca Musashi karya Eiji Yoshikawa. Taiko merupakan sejarah Jepang dalam skup yang lebih luas dan ternyata sudah menjadi buku pegangan wajib bagi siswa SMP di sana. Gila kan sejak SMP orang Jepang sudah mempelajari politik.

9. Gaya Anda tampak berbeda dari selebriti kebanyakan, apa Anda memanfaatkan stylish khusus?

Ha ha ha, kalau gaya kayak gini pakai stylish kasihan banget stylish-nya. Dalam berbusana saya tidak pernah mengikuti tren, saya hanya mencoba mengekspresikan apa yang saya suka, dan apa yang sekiranya nyaman saya kenakan.

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita