Tampilkan postingan dengan label Damhuri Muhammad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Damhuri Muhammad. Tampilkan semua postingan

11/08/11

PENGARANG, UANG DAN BEBAN IDENTITAS

Damhuri Muhammad
Jurnal Kebudayaan The Sandour

Ketidaknyamanan personal paling parah yang kerap dialami seorang pengarang adalah ketika ia dihadang pertanyaan: Apa pekerjaan anda?. Pengarang itu pasti kesulitan merumuskan jawaban, sebab ‘pekerjaan’ menurut pemahaman umum tentulah profesi permanen yang memungkinkan seseorang memiliki seragam kerja, institusi (tempat ia bekerja) dan yang paling muntlak adalah standarisasi gaji resmi, (bila perlu harus dijelaskan pula perihal kemungkinan pendapatan tak resmi).

Barangkali agak naif jika pengarang itu bersijujur menjawab: Pekerjaan saya adalah mengarang. Kalimat itu hanya akan mengerinyutkan kening si penanya. Sebab, jawaban si pengarang tak menunjukkan indikasi bahwa setiap hari ia ‘ngantor’, tak pula menunjukkan selama ngantor ia memakai seragam kerja, apalagi soal standarisasi gaji. Lebih membingungkan bila kalimat jawabannya: Pekerjaan saya adalah mengarang fiksi.

Kebingungan macam ini sudah jamak di kalangan pengarang. Karena pada dasarnya yang ditanyakan bukan soal pekerjaan yang sedang ditekuni, tapi lebih ditekankan pada berapa banyak uang yang diperolehnya dari pekerjaan itu. Celakanya, si pengarang tak mampu memberi jawaban memadai. Maka, sepanjang ia menjawab bahwa pekerjaannya adalah mengarang, jawaban itu tak akan pernah memuaskan. Sebab, (bagi si penanya) aktifitas mengarang bukanlah sebuah pekerjaan.

Jagad fiksi (puisi, cerpen dan novel) memang medan yang rapuh untuk diandalkan sebagai pijakan identitas bagi yang tekun dan bersetia menggelutinya. Seorang cerpenis pernah berkeluh-kesah, sejak malang melintang di dunia ‘percerpenan’, belum pernah ia beroleh pengakuan bahwa menulis cerpen adalah sebuah pekerjaan seperti layaknya profesi lain, misalnya: Dokter, Guru, Karyawan Swasta, Pengusaha atau Tentara. Alih-alih menemukan justifikasi yang dapat memicu semangat kepenulisannya, justru yang diterimanya tak lebih dari cibiran dan sinisme yang sering melumpuhkan mentalitas kepengarangannya. Namun, ia nyaris tak pernah berhenti mengarang. Tak ada kegiatan yang diminatinya kecuali mengarang. Asyik bersitungkin dengan ide-ide ganjil yang kemudian diterjemahkannya ke dalam paragraf-paragraf cerpen. Dikirimkannya ke redaksi koran. Naskahnya ditolak dengan alasan-alasan klise dan berbau basa-basi, lalu dikirimkannya lagi naskah baru, ditolak lagi, dikirim lagi, dan seterusnya. “Mengirim tulisan ke redaksi koran itu seperti ‘berjudi’, ndak jelas” begitu nasehat Nur Kholik Ridwan (2001) pada cerpenis itu agar ia mencari alternatif lain, selain mengarang. Tapi, ia bersikukuh dan ‘ngotot’ ingin bertahan sebagai pengarang.

Lain lagi ceritanya dengan cerpenis yang satu ini. Di bagian awal buku antologi cerpennya ia menulis catatan pengantar: “Seandainya saya kaya, punya banyak uang mungkin saya akan menjadi pedagang mobil atau meneruskan sekolah setinggi mungkin. Lalu, menjadi menteri, rektor, wali kota, bupati atau apa saja yang enak-enak. Tapi sayangnya, saya hanya punya mesin tik butut yang dihibahkan secara turun temurun dari kakak-kakak saya. Setiap malam jari-jari tangan saya menari-nari di atas tuts mesin tik yang makin lama saya rasakan makin menguras energi. Tapi saya melakukannya dengan senang. Saat itu terbayang sejumlah honor dan nama saya terpampang di koran-koran. Tapi, hidup saya lebih sering jungkir balik daripada lurus, mulus apalagi merangkak ke atas”. (Teguh Winarsho AS, 2005)

Menurut catatan Alex Supartono (Kompas, 25/04/04), redaktur koran tertentu menerima tak kurang dari 30-40 cerpen per minggu. Bahkan ada satu koran yang kedatangan 60-100 cerpen per minggunya. Diperkirakan tiap tahun, lebih dari 6.000 naskah cerpen menumpuk di meja redaksi beberapa koran yang belakangan ini dianggap sebagai barometer perkembangan cerpen Indonesia. Data ini menjelaskan betapa sulitnya seorang cerpenis meloloskan naskahnya untuk bisa dimuat. Lalu, setelah redaktur bersenang hati menurunkan cerpennya, honorarium yang bakal diterimanya masih jauh dari cukup. Itu pun tidak bisa langsung diterima. Pihak koran punya aturan main tersendiri dalam pencairan honor. Setidaknya, ia mesti menunggu dua minggu terhitung sejak tanggal pemuatan. Jika belum dikirim, cerpenis itu harus menghubungi divisi keuangan koran tersebut, menagih (mengemis?) agar honornya segera dikirim. Lebih menyedihkan lagi, bahkan ada cerpenis yang namanya sudah ‘jelas-jelas’ terpampang di koran tertentu, tapi tak pernah terima honor sama sekali. (Mungkin ia kurang berani atau malu menagih, mungkin pula pihak koran yang tak berkesadaran membayar upah ‘buruh’ sebelum kering ‘peluh’ dikuduknya ).

Dalam konteks kepenulisan sastra, menulis itu semacam rencana, di mana seorang pengarang ingin membangun estetika hidupnya. Dengan menulis, orang ingin menyatakan apa saja yang ia cita-citakan dalam hidupnya. Lebih jauh, kepenulisan (schreiben) dan keberadaan-diri (sein) adalah dua hal yang tak terpisahkan (Sindhunata, 2003). Bersenyawanya dua unsur itulah yang menentukan identitas pengarang. Tapi, bagaimana mungkin pengarang dapat membangun identitasnya ketika yang ia miliki hanya ketekunan dan konsistensi (bertahan sebagai pengarang) tanpa penghargaan yang patut pada karyanya? Seterusnya bagaimana mungkin pengarang (baca; cerpenis) dapat hidup layak ketika ‘harga’ satu naskah cerpen hanya cukup untuk ‘beli kerupuk’?, ditambah lagi dengan masalah pengiriman honor kerap terlambat, bahkan ada yang tak dibayar sama sekali?

Khusus dalam kepengarangan cerpen, memang ada cerpenis yang memilih jalur komunikasi informal dengan para redaktur koran dan memanfaatkan ‘hubungan baik’ itu untuk licinkan jalan agar setiap naskahnya di-layakmuat-kan. Jalan ini dapat dimengerti, sebab mereka tak punya pilihan lain.“Dapur mesti ngepul” begitu mereka membela diri. Akibatnya, yang terpampang di rubrik cerpen setiap koran, nama-nama itu melulu. Seolah-olah nama-nama itu hendak memonopoli ruang sempit yang tersedia hanya sekali seminggu.

Maka, di manakah identitas kepengarangan dapat terbaca bila proses kreatif hanya demi uang? ‘Jalan pintas’ yang ditempuh para pengarang seperti diceritakan di atas sejatinya amat ‘berbahaya’. Betapa tidak? Mereka tidak lagi (setidaknya abai) pertimbangkan kualitas karya. Cerpen-cerpen yang mereka lahirkan tak lebih dari kisah picisan yang meski amat puitis dan memikat, tapi gersang dan kehilangan ruh. Meski melimpah, tapi murah. Alih-alih meraih ‘prestasi literer’ atau meningkatkan kualitas capaian estetik, jauh-jauh sebelum naskah cerpen ditulis dan dikirimkan ke meja redaksi, di dalam kepala mereka sudah terbayang sejumlah uang. Lebih fatal lagi, ketika seorang cerpenis nekat mengirimkan satu naskah cerpen untuk tiga koran (sekaligus) hanya dengan siasat: mengubah redaksi judul. Kenekatan macam ini tentulah akibat dari murah dan rendahnya harga sebuah karya. “Meski honornya dikit, tapi jika dimuat di tiga koran lama-lama jadi bukit” kilah mereka.

Setelah menempuh ‘jalan pintas’, siasat dan tabiat nekat seperti dijelaskan di atas, lantas apakah kegiatan mengarang sudah dapat disebut pekerjaan?. Jawabannya tentu: Tidak!. Karena, ternyata para pengarang tetap saja mengeluh hidup susah, payah, kere bahkan tak jarang yang terlilit utang. “Pengarang itu memang kere, jika tidak kere bukan pengarang namanya” begitu kelakar seorang teman pengarang. Tapi, apa boleh buat! Sudah kepalang basah!. Mereka tidak akan menyerah. Terus akan mengarang dan mengarang. Setidaknya, ‘mengarang-ngarang’ formulasi jawaban yang jitu bila masih ada yang latah bertanya: Apa pekerjaan anda?

26/12/10

Menimbang ‘Ketersesatan’ Novel Adam Hawa

Damhuri Muhammad
http://www.suarakarya-online.com/

Sekali lagi, geliat proses kreatif dalam sastra berbenturan dengan construct teologi Islam. Kali ini cikal soalnya berasal dari novel Adam Hawa karya Muhidin M. Dahlan (Yogyakarta : Scripta Manent, 2005) yang tertuduh; melecehkan Qur’an. Sebuah Ormas Islam mengklaim tabiat kepengarangan Muhidin tergolong kategori hirabah (terorisme). Tak dirinci, tindak terorisme macam apa yang telah diperbuat Muhidin. Yang pasti, teks novel itu sesat lagi menyesatkan (entah siapa yang telah disesatkannya). Disebut-sebut, perangai Muhidin dalam novel itu nyaris serupa perilaku menyimpang Salman Rushdie dalam The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Karena itu, perlu diluruskan, dikembalikan ke ‘jalan yang benar’, dan bila perlu dimurtadkan, dikafirkan.

Novel itu mengusung imaji ganjil, tak lazim dan tentu saja ; ‘menyimpang’. Mengobrak-abrik, merubuhkan, mengacau-balaukan pemahaman dogmatis, normatif dan taken for granted menyangkut sejarah penciptaan manusia pertama (Adam). Ketaklaziman paling mencolok adalah asal muasal Adam yang bukan dari tanah (diberi keutamaan hingga para malaikat diperintah bersujud), tapi terpacak dari ketiak kanan Tuhan. Lewat narasi kocak, penuh senda gurau dan olok-olok yang menggelikan, Muhidin gambarkan betapa tersiksanya Tuhan akibat gatal maha gatal yang jangkiti ketiak penuh bulu itu. Tuhan menggaruknya dengan kasar maha kasar, hingga ketiak-Nya robek, berdarah dan membikin sebuah lubang kecil. Dari lubang itu, bayi yang kelak bernama Adam dilahirkan.

Dalam ‘imaji sinting’ Muhidin, martabat kemuliaan nenek moyang manusia tak hanya telah terpuruk ke dalam kosmologi penciptaan yang hida-dina, tapi juga memaklumatkan keterciptaan kaum laki-laki sebagai salah satu kecerobohan terbesar Tuhan. Dari titik ini, semesta amarah, sentimen dan apatisme pengarang mulai dirancang, lalu terkonstruksi sedemikian rupa, hingga nyaris menggapai derajat sesat maha sesat (bila dihadapkan pada teks-teks sakral yang amat memuliakan Adam). Apatisme itu, agaknya berangkat dari tafsir konstekstual terhadap sebuah dialog antara Tuhan dan para malaikat (QS : 2 : 30) menyoal kehendak-Nya menciptakan seorang khalifah di muka bumi. Para malaikat berkata ; “Khalifah yang hendak Engkau ciptakan di muka bumi itu adalah orang yang bakal buat kerusakan dan tumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih memuji-Mu, menyucikan-Mu?”. Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tak kalian ketahui”. Kata kunci yang dipilih Muhidin untuk kembangkan layar estetik dalam Adam Hawa tak lain adalah kekerasan, permusuhan, muslihat, tipu daya yang semuanya bersumber dari manusia, makhluk paling sempurna itu. Maka, ‘etos’ kekerasan paling purba tak bermula sejak berkobarnya api permusuhan antara Khabil dan Habil, tapi sudah bersitumbuh sejak dari Adam. Bukan pula sejak Adam beroleh pendamping Hawa, tapi lebih jauh sejak Adam temukan Maia di Taman Eden, di bawah rindang pohon Khuldi. Satu lagi ketersesatan Muhidin; Perempuan pertama adalah Maia, bukan Hawa. Maia, korban pertama perilaku kasar Adam. Disekapnya perempuan itu dalam lorong gelap Rumah Batu tanpa ampun, diperkosanya sepuas hati, hingga suatu ketika Maia berontak, tak berkenan lagi selalu berposisi di bawah himpitan tubuh kekar Adam pada setiap sesi persenggamaan mereka. Adam menolak keras permintaan lancang itu. Sebab, sudah kodratnya perempuan bakal berada di bawah. Ditindih dan dihimpit laki-laki. Selaku makhluk yang langsung menyembul dari tubuh Tuhan (Muhidin menyebutnya; putera Tuhan), Adam merasa terhina. Menghina Adam sama saja dengan menghina Tuhan. Alhasil, Maia terusir dari Rumah Batu setelah terjadi perkelahian hebat yang tinggalkan bekas cakaran kuku Maia di wajah Adam.

Keterusiran Maia yang buahkan sakit hati, dendam kusumat dan gejolak permusuhan tak bersudah inilah yang menjadi mainstream dalam Adam Hawa. Pelarian Maia berakhir di Taman Kiram. Di sana ia bertemu Idris, lelaki yang kemudian mempersuntingnya. Perkawinannya dengan Idris tak lagi dilandasi cinta, tapi sekedar muslihat untuk beroleh keturunan yang bakal balaskan dendamnya pada Adam. Sementara itu, Adam sudah punya Hawa yang tercipta berkat doanya pada Tuhan. Berbeda dengan Maia, Hawa adalah perempuan penurut yang terima kodrat sebagai pelayan Adam. Amat cerdas dan nyaris sempurna, pengarang gambarkan siasat dan tipu daya Adam yakinkan Hawa, bahwa tak pernah ada perempuan lain dalam hidupnya. Hanya Hawa seorang. Dihapusnya semua jejak kenangan bersama Maia yang masih tersisa di Rumah Batu, hingga Hawa benar-benar terpedaya dibuatnya.

Tak lama berselang, lahirlah kembar Maemunah dan Khabil yang kelak sangat dibenci Adam. Darah dagingnya itu dianggap telah merampas kehangantan hubungannya dengan Hawa. Lagi-lagi, Adam jalankan muslihat untuk singkirkan Munah dan Khabil. Diusirnya Khabil dari Rumah Batu setelah duel hebat antara anak dan bapak yang tentulah dimenangkan Adam. Siapa yang kalah, mesti angkat kaki, begitu perjanjian yang mereka sepakati. Digantungnya Munah di atas salah satu dahan pohon Khuldi setelah dicekiknya, hingga mati. Bagi Adam, Khabil dan Munah adalah anak-anak terkutuk, penyebab kian gelapnya aura Taman Eden, hingga tak pernah lagi dikunjungi malaikat pesuruh Tuhan. Karena itu, keduanya harus dimusnahkan.

Sampai di titik ini, makin terang terbaca eksplorasi tematik yang hendak disuguhkan, yakni Kekerasan atas Nama Tuhan, yang sudah jamak terjadi dalam jagat peradaban manusia paling mutakhir. Sibuk bertikai, rusuh dan saling bunuh demi Tuhan. Adam berperilaku kejam, sadistik, paranoid dengan mengatasnamakan Tuhan, sesekali lebih berkuasa dari Tuhan, atau diam-diam telah menuhankan diri sendiri. Inilah makna keganjilan dan ketaklaziman imaji Muhidin yang terlanjur dianggap ‘menyimpang’ dan sesat lagi menyesatkan itu. Keganjilan macam ini memang berisiko tinggi bila berhadapan dengan normatifitas dalil naqli, tapi mungkin akan jadi lazim dan lumrah bila disigi dengan perangkat tafsir kontekstual. Saya tak bermaksud membela, apalagi melegitimasi pencapaian ‘estetika tak biasa’ ini, tapi hanya sedang membaca Adam Hawa sebagai bentuk sasmita Tuhan yang tersampaikan melalui lidah pena Muhidin.

Lihatlah luapan amarah Khabil setelah ketahui Maia ternyata bekas perempuan Adam, sakit hati Mafu’ah (puteri Maia dari perkawinannya dengan Idris) setelah ketahui kekejaman Adam pada ibunya dan akumulasi dendam Maia pada Adam! Bukankah semuanya bermula dari kekerasan atas nama Tuhan yang diperbuat Adam? Akibatnya, Taman Eden yang semula aman-damai dengan tujuh kurcaci penjaga kebun dan sesekali dikunjungi malaikat Pesolek, tiba-tiba mengobarkan api permusuhan, perseteruan tiada akhir. Adam terbunuh dengan cara amat mengenaskan di tangan Marfu’ah. Puteri Maia itu bersiasat membangkitkan birahi Adam yang masih bergelora, namun fisik dan staminanya sudah uzur. Ia mati terjungkal akibat energi syahwat yang tak lagi mampu diwadahi jasad ringkihnya, nafasnya kembang kempis, selangkangannya kucurkan darah, sebelum temui ajal di hadapan Marfu’ah.

Ikhtiar menggunakan perspektif agama dalam mengukur derajat ketersesatan teks sastra tampaknya bukan perkara gampang. Bila kurang hati-hati, alih-alih temukan titik terang, justru yang diperoleh hanya cibiran bahwa menghubung-kaitkan antara sastra dan agama adalah mustahil dan sia-sia. Seperti pernah diungkap oleh Ribut Wijoto (2002) ; “Agama bersuara pada tataran etika, sementara sastra bersuara di dataran estetika. Agama menciptakan pagar, sastra membongkarnya. Sastra merayakan kerapuhan, agama memperkokohnya kembali.”. Adam Hawa memang telah membongkar, merusak, merubuhkan pagar, merapuhkan kekokohan tafsir tekstual terhadap teks suci. Bagaimana membangun pagar itu kembali? Bagaimana memperkokoh kerapuhan itu? Jawabannya tentu saja dengan membaca novel itu, menyelami ceruk-ceruk terdalamnya, menemukan asbab al-wurud-nya, menafsirkannya secara kontekstual dan tak tergesa-gesa menyimpulkannya sebagai buku sesat lagi menyesatkan, apalagi memurtadkan novelis yang (konon) masih berdarah santri itu. Tabik untuk Muhidin.

Catatan Redaksi:
Penulis adalah Alumnus Program Studi Ilmu Filsafat Pascasarjana Universitas Gadjah MadaEmail : damhurimuhammad@yahoo. com
Selain menulis cerpen, juga menulis esai sastra dan resensi buku di Kompas, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Jawa Pos, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Suara Karya, Sinar Harapan, Bali Post, Lampung Post, Riau Pos, Sriwijaya Post, Waspada, Singgalang, dll
Buku antologi cerpennya ; LARAS, Tubuhku Bukan Milikku (2005)

04/05/09

Sastra dalam Bingkai Estetika Tak Bermalu

Damhuri Muhammad
http://www.suarakarya-online.com/

Semiotisasi tubuh dalam teks sastra erat kaitannya dengan semesta ketubuhan di dalam wacana postmodernisme, yang menggiring diksi tentang tubuh berkembang ke arah yang melampaui (hyper) batas moral, norma, etika, budaya, adat, tabu dan agama.

Selain itu, vulgaritas “bahasa” sebagaimana ditemukan di dalam Jangan Main-main dengan Kelaminmu (Djenar Maesa Ayu), Wajah Sebuah Vagina (Naning Pranoto) dan Kuda Ranjang (kumpulan puisi Binhad Nurrohmat) -untuk menyebut beberapa contoh-, seperti disinyalir oleh Yasraf Amir Piliang (2002), tidak terlepas dari pengaruh perkembangan kapitalisme (sebagai ideologi ekonomi) yang cenderung bergerak ke arah libidonomics, yaitu sistem ekonomi yang di dalamnya terjadi eksplorasi secara ekstrem segala potensi libido sebagai komoditi, dalam rangka meraih keuntungan maksimal (added value). Ideologi libidonomi kapitalisme memperlakukan tubuh dan segala potensi libidonya sebagai titik sentral dalam produksi dan reproduksi ekonomi.

Narasi “kelamin” dapat menjerumuskan karya sastra pada sifat “vulgaritas bahasa” yang berakibat pada pendangkalan nilai-nilai estetik. Dalam wacana postmodernisme, salah satu bentuk vulgaritas dan pendangkalan nilai-nilai estetik adalah Kitsch. Semacam peristilahan untuk karya kepenulisan kreatif yang dianggap sebagai bentuk bad taste (selera rendah) atau “sampah” artistik. Hal ini disebabkan oleh rendahnya standar estetik yang digunakan, sehingga yang menonjol bukan nilai estetik, tetapi nilai provokasi (erotisme, sensualitas, seksualitas). Sikap ekstrem Taufik Ismail yang menganggap “sastra berahi” sangat menjijikkan dan tidak patut dinilai sebagai karya sastra (Ermina. K, Suara Karya,14/03/04), mungkin dilatarbelakangi oleh pemahamannya terhadap fenomena Kitsch di atas. Begitu pun kecemasan Medy Loekito (Republika, 14/11/04), bahwa meskipun tidak trend “sastra seksual” belum menampakkan suatu kepanikan, namun beberapa rekan pendidik sempat mempertanyakan ; “Konon kata sastrawan, bangsa ini rabun sastra, jadi guru harus aktif mengobati rabun itu supaya tidak menjadi kebutaan. Sekarang setelah kami mencanangkan giat membaca bagi semua murid, eh lha kok bacaan yang disediakan yang kurang mendidik.”.

Para pendiri Mazhab Frankfurt (Frankfurter Schule) seperti Max Horkheimer, T.W.Adorno dan W.F Haug menegaskan, sensualitas dan nafsu rendah telah menjadi bagian utama dari “industri budaya” (culture industry), yaitu kebudayaan yang berproduksi di dalam lingkaran sensualitas. (Haug : 1983). Penggunaan efek-efek sensualitas merupakan bagian dari penciptaan ilusi, manipulasi sebagai cara untuk mendominasi selera kultural masyarakat, sebagai sebuah kendaraan dalam menciptakan keterpesonaan dan histeria. Dalam konteks ini, Haug menggunakan istilah “teknokrasi sensualitas” (technocrazy of sensuality), untuk menjelaskan bagaimana nilai-nilai estetika ditopengi oleh nilai-nilai sensualitas, glamour dan erotisme.

Postmodernisme dekonstruktif sangat berperan di dalam menciptakan ruang pembebasan tubuh dan hasrat. Foucault, Lyotard, dan Derrida menawarkan logika emancipation of body (pembebasan tubuh) dan liberation of desire (pembebasan hasrat) dari berbagai kekangan dan pembatasannya. Mereka mengembangkan wacana tubuh dan hasrat yang baru untuk mendobrak berbagai benteng, tembok dan tapal batas yang selama ini membatasi artikulasi dan pelepasan hasrat. Menghancurkan berbagai bentuk kekuasaan, baik kekuasaan dalam keluarga, negara, maupun agama. Menentang otoritas atau hegemoni yang selama ini membatasi eksploitasi tubuh.

Foucault di dalam The History of Sexuality ; an Introduction (1978) menjelaskan dua bentuk kekuasaan yang berperan di dalam wacana ketubuhan. Pertama, kekuasaan atas tubuh, yaitu kekuasaan eksternal yang mengatur tindak tanduk, mengadakan pembatasan, pelarangan dan pengendalian terhadap tubuh (hukum, tabu dan undang-undang). Kedua, kekuasaan yang memancar dari dalam tubuh, yaitu berupa hasrat dan potensi libidonya. Kekuasaan dari dalam tubuh ini harus menantang kekuasaan atas tubuh, melalui sebuah “revolusi tubuh” sehingga tercipta ruang bagi perkembangbiakan (proliferation) dan pelipatgandaan (multiplicity) diskursus seksual yang terbebas dari dominasi kekuasaan.

Revolusi tubuh dalam rangka pembebasannya dari etos ketertindasan atas dominasi kekuasaan norma-norma, tabu, hukum dan undang-undang membutuhkan muara bagi pelepasannya. Kapitalisme (melalui budaya komoditinya) adalah muara utama bagi pelepasan hasrat yang tersumbat itu, sehingga memberi peluang kepada setiap orang untuk menggali setiap potensi hasrat dan energi libidonya sebagai komoditi. Sinyalemen ini dikuatkan oleh pemikiran J.F Lyotard di dalam Libidinal Economy (1993), bahwa kapitalisme telah mengalami transformasi ke arah kecenderungan baru yang disebut dengan “libido ekonomi” (libidinal economy), yang di dalamnya diciptakan ruang bagi pelepasan hasrat, sehingga setiap orang harus dapat mengeksplorasi dan memasarkan setiap rangsangan libido untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.

Maka, betis yang tersingkap, pusar yang sengaja dipertontonkan atau paha yang dipamerkan tidak dianggap sebagai bentuk degradasi moral, melainkan sebuah bentuk nilai jual dan currency. Karena itu, Lyotard berpendapat, kebudayaan harus bersifat afirmatif (affirmatif) dan permisif (permissive), sehingga dengan cara demikianlah manusia dapat meraih kesenangan dan jouissance yang memadai. Ironisnya, dalam lingkaran ketelanjangan kata, frase dan kalimat yang “meresahkan” itu, masih ada penulis dan penggiat sastra yang “memekikkan” pembelaan, bahwa karya-karya yang mengumbar berahi jangan hanya dihujat, tapi juga perlu diaparesiasi, bahkan ada yang mengumandangkan sebuah “teriakan apologetik”, bahwa berahi juga menyuarakan sebuah ideologi. Ideologi apa?.

Ketika berahi sudah kehilangan nilai tukar, atau sudah tidak layak jual (marketable) lagi, tentu para penyair, cerpenis dan novelis akan berhenti mengekploitasi seks di dalam karya-karya mereka. Ya, tentu mereka akan beralih mencari “lahan baru” yang lebih punya “nilai jual”. Bantahan, dan pembelaan-pembelaan tak berdasar dari para perumus “sastra telanjang” itu, alih-alih dapat memperlihatkan idealisme dan konsistensi mereka untuk terus melahirkan karya-karya yang “berlumur” berahi, justru yang terbaca adalah corak kepengarangan yang “menghamba” pada model estetika “tak bermalu”.

* Depok, 110405

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita