Menimbang ‘Ketersesatan’ Novel Adam Hawa

Damhuri Muhammad
http://www.suarakarya-online.com/

Sekali lagi, geliat proses kreatif dalam sastra berbenturan dengan construct teologi Islam. Kali ini cikal soalnya berasal dari novel Adam Hawa karya Muhidin M. Dahlan (Yogyakarta : Scripta Manent, 2005) yang tertuduh; melecehkan Qur’an. Sebuah Ormas Islam mengklaim tabiat kepengarangan Muhidin tergolong kategori hirabah (terorisme). Tak dirinci, tindak terorisme macam apa yang telah diperbuat Muhidin. Yang pasti, teks novel itu sesat lagi menyesatkan (entah siapa yang telah disesatkannya). Disebut-sebut, perangai Muhidin dalam novel itu nyaris serupa perilaku menyimpang Salman Rushdie dalam The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Karena itu, perlu diluruskan, dikembalikan ke ‘jalan yang benar’, dan bila perlu dimurtadkan, dikafirkan.

Novel itu mengusung imaji ganjil, tak lazim dan tentu saja ; ‘menyimpang’. Mengobrak-abrik, merubuhkan, mengacau-balaukan pemahaman dogmatis, normatif dan taken for granted menyangkut sejarah penciptaan manusia pertama (Adam). Ketaklaziman paling mencolok adalah asal muasal Adam yang bukan dari tanah (diberi keutamaan hingga para malaikat diperintah bersujud), tapi terpacak dari ketiak kanan Tuhan. Lewat narasi kocak, penuh senda gurau dan olok-olok yang menggelikan, Muhidin gambarkan betapa tersiksanya Tuhan akibat gatal maha gatal yang jangkiti ketiak penuh bulu itu. Tuhan menggaruknya dengan kasar maha kasar, hingga ketiak-Nya robek, berdarah dan membikin sebuah lubang kecil. Dari lubang itu, bayi yang kelak bernama Adam dilahirkan.

Dalam ‘imaji sinting’ Muhidin, martabat kemuliaan nenek moyang manusia tak hanya telah terpuruk ke dalam kosmologi penciptaan yang hida-dina, tapi juga memaklumatkan keterciptaan kaum laki-laki sebagai salah satu kecerobohan terbesar Tuhan. Dari titik ini, semesta amarah, sentimen dan apatisme pengarang mulai dirancang, lalu terkonstruksi sedemikian rupa, hingga nyaris menggapai derajat sesat maha sesat (bila dihadapkan pada teks-teks sakral yang amat memuliakan Adam). Apatisme itu, agaknya berangkat dari tafsir konstekstual terhadap sebuah dialog antara Tuhan dan para malaikat (QS : 2 : 30) menyoal kehendak-Nya menciptakan seorang khalifah di muka bumi. Para malaikat berkata ; “Khalifah yang hendak Engkau ciptakan di muka bumi itu adalah orang yang bakal buat kerusakan dan tumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih memuji-Mu, menyucikan-Mu?”. Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tak kalian ketahui”. Kata kunci yang dipilih Muhidin untuk kembangkan layar estetik dalam Adam Hawa tak lain adalah kekerasan, permusuhan, muslihat, tipu daya yang semuanya bersumber dari manusia, makhluk paling sempurna itu. Maka, ‘etos’ kekerasan paling purba tak bermula sejak berkobarnya api permusuhan antara Khabil dan Habil, tapi sudah bersitumbuh sejak dari Adam. Bukan pula sejak Adam beroleh pendamping Hawa, tapi lebih jauh sejak Adam temukan Maia di Taman Eden, di bawah rindang pohon Khuldi. Satu lagi ketersesatan Muhidin; Perempuan pertama adalah Maia, bukan Hawa. Maia, korban pertama perilaku kasar Adam. Disekapnya perempuan itu dalam lorong gelap Rumah Batu tanpa ampun, diperkosanya sepuas hati, hingga suatu ketika Maia berontak, tak berkenan lagi selalu berposisi di bawah himpitan tubuh kekar Adam pada setiap sesi persenggamaan mereka. Adam menolak keras permintaan lancang itu. Sebab, sudah kodratnya perempuan bakal berada di bawah. Ditindih dan dihimpit laki-laki. Selaku makhluk yang langsung menyembul dari tubuh Tuhan (Muhidin menyebutnya; putera Tuhan), Adam merasa terhina. Menghina Adam sama saja dengan menghina Tuhan. Alhasil, Maia terusir dari Rumah Batu setelah terjadi perkelahian hebat yang tinggalkan bekas cakaran kuku Maia di wajah Adam.

Keterusiran Maia yang buahkan sakit hati, dendam kusumat dan gejolak permusuhan tak bersudah inilah yang menjadi mainstream dalam Adam Hawa. Pelarian Maia berakhir di Taman Kiram. Di sana ia bertemu Idris, lelaki yang kemudian mempersuntingnya. Perkawinannya dengan Idris tak lagi dilandasi cinta, tapi sekedar muslihat untuk beroleh keturunan yang bakal balaskan dendamnya pada Adam. Sementara itu, Adam sudah punya Hawa yang tercipta berkat doanya pada Tuhan. Berbeda dengan Maia, Hawa adalah perempuan penurut yang terima kodrat sebagai pelayan Adam. Amat cerdas dan nyaris sempurna, pengarang gambarkan siasat dan tipu daya Adam yakinkan Hawa, bahwa tak pernah ada perempuan lain dalam hidupnya. Hanya Hawa seorang. Dihapusnya semua jejak kenangan bersama Maia yang masih tersisa di Rumah Batu, hingga Hawa benar-benar terpedaya dibuatnya.

Tak lama berselang, lahirlah kembar Maemunah dan Khabil yang kelak sangat dibenci Adam. Darah dagingnya itu dianggap telah merampas kehangantan hubungannya dengan Hawa. Lagi-lagi, Adam jalankan muslihat untuk singkirkan Munah dan Khabil. Diusirnya Khabil dari Rumah Batu setelah duel hebat antara anak dan bapak yang tentulah dimenangkan Adam. Siapa yang kalah, mesti angkat kaki, begitu perjanjian yang mereka sepakati. Digantungnya Munah di atas salah satu dahan pohon Khuldi setelah dicekiknya, hingga mati. Bagi Adam, Khabil dan Munah adalah anak-anak terkutuk, penyebab kian gelapnya aura Taman Eden, hingga tak pernah lagi dikunjungi malaikat pesuruh Tuhan. Karena itu, keduanya harus dimusnahkan.

Sampai di titik ini, makin terang terbaca eksplorasi tematik yang hendak disuguhkan, yakni Kekerasan atas Nama Tuhan, yang sudah jamak terjadi dalam jagat peradaban manusia paling mutakhir. Sibuk bertikai, rusuh dan saling bunuh demi Tuhan. Adam berperilaku kejam, sadistik, paranoid dengan mengatasnamakan Tuhan, sesekali lebih berkuasa dari Tuhan, atau diam-diam telah menuhankan diri sendiri. Inilah makna keganjilan dan ketaklaziman imaji Muhidin yang terlanjur dianggap ‘menyimpang’ dan sesat lagi menyesatkan itu. Keganjilan macam ini memang berisiko tinggi bila berhadapan dengan normatifitas dalil naqli, tapi mungkin akan jadi lazim dan lumrah bila disigi dengan perangkat tafsir kontekstual. Saya tak bermaksud membela, apalagi melegitimasi pencapaian ‘estetika tak biasa’ ini, tapi hanya sedang membaca Adam Hawa sebagai bentuk sasmita Tuhan yang tersampaikan melalui lidah pena Muhidin.

Lihatlah luapan amarah Khabil setelah ketahui Maia ternyata bekas perempuan Adam, sakit hati Mafu’ah (puteri Maia dari perkawinannya dengan Idris) setelah ketahui kekejaman Adam pada ibunya dan akumulasi dendam Maia pada Adam! Bukankah semuanya bermula dari kekerasan atas nama Tuhan yang diperbuat Adam? Akibatnya, Taman Eden yang semula aman-damai dengan tujuh kurcaci penjaga kebun dan sesekali dikunjungi malaikat Pesolek, tiba-tiba mengobarkan api permusuhan, perseteruan tiada akhir. Adam terbunuh dengan cara amat mengenaskan di tangan Marfu’ah. Puteri Maia itu bersiasat membangkitkan birahi Adam yang masih bergelora, namun fisik dan staminanya sudah uzur. Ia mati terjungkal akibat energi syahwat yang tak lagi mampu diwadahi jasad ringkihnya, nafasnya kembang kempis, selangkangannya kucurkan darah, sebelum temui ajal di hadapan Marfu’ah.

Ikhtiar menggunakan perspektif agama dalam mengukur derajat ketersesatan teks sastra tampaknya bukan perkara gampang. Bila kurang hati-hati, alih-alih temukan titik terang, justru yang diperoleh hanya cibiran bahwa menghubung-kaitkan antara sastra dan agama adalah mustahil dan sia-sia. Seperti pernah diungkap oleh Ribut Wijoto (2002) ; “Agama bersuara pada tataran etika, sementara sastra bersuara di dataran estetika. Agama menciptakan pagar, sastra membongkarnya. Sastra merayakan kerapuhan, agama memperkokohnya kembali.”. Adam Hawa memang telah membongkar, merusak, merubuhkan pagar, merapuhkan kekokohan tafsir tekstual terhadap teks suci. Bagaimana membangun pagar itu kembali? Bagaimana memperkokoh kerapuhan itu? Jawabannya tentu saja dengan membaca novel itu, menyelami ceruk-ceruk terdalamnya, menemukan asbab al-wurud-nya, menafsirkannya secara kontekstual dan tak tergesa-gesa menyimpulkannya sebagai buku sesat lagi menyesatkan, apalagi memurtadkan novelis yang (konon) masih berdarah santri itu. Tabik untuk Muhidin.

Catatan Redaksi:
Penulis adalah Alumnus Program Studi Ilmu Filsafat Pascasarjana Universitas Gadjah MadaEmail : damhurimuhammad@yahoo. com
Selain menulis cerpen, juga menulis esai sastra dan resensi buku di Kompas, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Jawa Pos, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Suara Karya, Sinar Harapan, Bali Post, Lampung Post, Riau Pos, Sriwijaya Post, Waspada, Singgalang, dll
Buku antologi cerpennya ; LARAS, Tubuhku Bukan Milikku (2005)

Komentar