Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
Sudah lama dunia ini dibedakan dengan Barat dan Timur. Masa lalu masa depan. Sudah lama nilai-nilai dipatok dalam dua gawang. Buruk dan baik. Hitam dan putih. Sudah lama arah disederhanakan menjadi kanan dan kiri. Depan dan belakang. Atas dan bawah.
Sudah lama wanita dikategorikan dengan jegeg dan bocok. Dan pada gilirannya juga sudah lama seni dikampling menjadi dua pulau. Tradisional dan modern. Pertunjukan tradisional dan pertunjukan kontemporer.
Menyederhanakan persoalan, biasanya selalu dirasionalisasi dengan alasan-alasan keren yang filosofis atau pun politis. Yaitu: menotok inti persoalannya, sehingga terjadi hantaman yang telak, mendalam dan tuntas menjawab seluruh persoalan.
Sebab dengan hanya dua kategori semacam hitam dan putih, segalanya dengan amat mudah diatur. Itu refleksi khas, spontan, mentalitas birokrat, yang menganggap semua adalah barang, yang harus disusun dengan teratur, agar memudahkan para tuan-tuan untuk memanfaatkannya. Walhasil pendewa-dewaan pada apa yang disebut: efisiensi.
Moderninasi semacam itu, mungkin amat berguna pada masyarakat tertentu, tatkala orang baru belajar untuk mepergunakan akal. Ketika orang berusaha memisahkan rasa dengan pikir. Waktu orang jatuh cinta untuk menguasai alam.
Ketika orang sedang memuja-muja logika/teknologi, sebagai instrumen yang paling menjamin sebagai kendaraan untuk memenangkan masa depan umat manusia. Ketika orang dengan membabi-buta mengaplikasi matematika dan mencoba menerapkannya pada segala sektor kehidupan, tak terkuali juga kesenian dan bahkan masalah-masalah yang sakral.
Maka terjadilah satu keseragaman berpikir, yang dikuntit oleh pemujaan kepada intelektualita, yang percaya bahwa semuanya sudah diberikan kerangka. Mereka yakin tidak ada fenomena yang tidak bisa dianalisa. Tidak ada sesuatu yang baru yang tidak dikenal.
Semua sudah terdeteksi. Semua sudah terangkum dalam sebuah peta agung yang bisa menerangkan segalanya. Semua bisa dilacak dengan struktur berpikir yang sudah ada.
Konsep kontemporer, menolak pembunuhan diri seperti itu. Manusia tidak perlu menciptakan kuburan-kuburan untuk manusia-manusia yang masih hidup. Tidak perlu mendirikan liang-liang mosolium yang tak lebih dari benteng kepala batu yang ngotot karena sudah malas untuk berpikir, mempertimbangkan sekali lagi segala keputusan untuk melihat kemungkinan baru.
Konsep dasar kontemporer adalah pembebasan dari kontrak-kontrak penilaian yang sudah — bukan saja kedaluwarsa, akan tetapi juga bisa — berbalik menjadi dehumanisasi, akulturasi dan dekadensi.
Seni kontemporer sebagai bagian dari pelafalan konsep kontemporer, selalu membebaskan diri dari kemacatan pada satu nilai yang semula disangka sebagai sumber segalanya, padahal segala sesuatu itu ternyata sudah bergeser dan menjungkir-balik segala-galanya.
Karena semuanya tak tercegah, tak dapat disekap dari hukum kehidupan, untuk selalu bergerak mengikuti nafas waktu, ruang, serta kembang-kempis alam pikiran yang tak henti-hentinya, yang tak takut oleh apa pun, untuk terus tumbuh. Pertumbuhan yang abadi. Ketika kehidupan diupayakan oleh manusia untuk hadir lebih baik, mendarat lebih lentur, lebih berarti dan lebih menghayat, segalanya juga ikut bergulir.
Usaha untuk mengaktualisasi diri, agar jadi sinkron dan menyuarakan zamannya, agar kontekstual dengan konteksnya, agar “menjati diri”, dapat ditempuh dengan berbagai cara. Bisa mengejewantah dalam berbagai variasi bentuk.
Tergantung dari desa-kala-patra (tempat-waktu-kondisi). Tergantung dari bibit-bebet-bobot. Tergantung dari watak-perilaku-lingkungan-peradaban dan pendidikan yang bersangkutan. Tergantung dari derap dharma individu atau kelompok yang berkepentingan.
Bisa keras mengental bagaikan jotosan tangan yang terkepal. Bisa berupa pembrontakan spiritual dan konfrontasi argumen. Dapat juga lemah gemulai seperti tarian oleg tamulilingan atau gesekan rebab. Mungkin juga teror mental.
Berseloroh seperti badut-badut dalam adegan bebagrigan. Juga bukan tak mungkin ngepop seperti di dalam kesenian-kesenian kacangan atau jajanan yang dikemas khusus untuk para turis.
Pertunjukan Indonesia kontemporer, sebagai bagian dari seni Indonesia kontemporer, adalah anak dari konsep kontemporer. Segala tontonan yang mengandung arti, misi, gebrakan bahkan cukup percobaan, untuk membebaskan diri dari kungkungan waktu, tempat, situasi; gondelan nilai-nilai usang, mayat-mayat pengembaraan spiritual yang tidak relevan lagi — adalah pertunjukan kontemporer.
Karenanya, pertunjukan kontemporer, bukan hanya tontonan yang diciptakan dan dilaksanakan oleh manusia masa kini, tetapi harus tidak boleh kurang dari pertunjukan yang mencerminkan cita-rasa pembebasan.
Wujudnya bisa pertunjukan eksperimental, yang merupakan usaha untuk pencarian-pencarian idiom dan bahasa pengucapan yang baru/segar. Dapat berwujud pertunjukan konvensional, yang memanfaatkan semua konvensi pertunjukan yang sudah diterima oleh masyarakat, namun memberikan nuansa yang baru atau lain/lebih segar dari sebelumnya.
Dan — ini yang seringkali dilupakan — dapat juga merupakan pertunjukan seni tradisional yang baik karena kemasan-semangat-orientasinya, maupun saat dan tempat penampilannya, memungkinkan ia bersentuhan dengan manusia-manusia masa kini, sehingga menghadirkan pengalaman spiritual yang aktual.
Di masa yang akan datang, apa yang dipersoalkan sebagai perbedaan-perbedaan akan dibunuh atau terbunuh dalam interaksi dan adaptasi. Yang kemudian menonjol adalah nuansa-nuansa yang yang menggantikan istilah perbedaan-perbedaan.
Dan karena perbedaan berarti nuansa, maka perbedaan tidak lagi sesederhana hitam kontra putih, kiri versus kanan, buruk lawan baik, atau tradisi lawan kontemporer saja, tetapi akan hadir ribuan, jutaan atau tak terhingga nuansa yang memerlukan cara berpikir baru — baca kontemporer — untuk menguasainya. Nilai-nilai bertumpukan, tumpang-tindih, nyaris membingungkan, dalam satu susunan harmoni baru yang tak terbayangkan sebelumnya.
Akan diperlukan setiap saat cara memberikan kesaksian yang baru. Cara berekspresi baru untuk mengutarakan kebenaran-kebenaran yang terus tumbuh itu. Akan diperlukan bahasa yang baru, untuk memenangkan dan mengucapkan kenyataan-kenyataan yang terus bergerak itu. Apa pun bentuk, apa pun namanya, itu adalah bahasa kontemporer.
Desa-kala-patra adalah konsep yang mendasari selurup konsep kontemporer, termasuk konsep tontonan Indonesia kontemporer. Sesuatu yang pada dasarnya sudah terpraktekkan secara sehari-hari di Bali.
Desa-kala-patra adalah keterikatan pada desa-kala-patra yang aktual dan sekaligus pembebasan pada desa-kala-patra yang kedaluwarsa. Konsep dasar kontemporer, dengan sendirinya adalah juga konsep dasar pertunjukan Indonesia kontemporer.
Hampir semua penghuni seni tontonan tradisional Bali adalah seni kontemporer. Karena bukan saja dulu ketika ia diciptakan untuk pertama kalinya, ia merupakan ucapan keberadaan orang Bali, tapi sampai sekarang, ia tetap kukuh menjadi pengucapan diri orang Bali kini. Hujan parawisata, telah menolong seni pertunjukan Bali itu, tetap hidup menggebu-gebu.
Sementara kesinambungan seni pertunjukan itu dengan hal-hal yang bersifat sakral, sebagaimana yang ditulis oleh Doktor I Made Madem dalam buku “Kaje dan Kelod”, telah membuat hampir semua jenis pertunjukan itu tak pernah menjadi jerangkong tok. Tapi berdegup hidup. Berdarah, berdaging dan bernyawa.
Semua seni tontonan itu menjadi aktual, relevan dan mewakili zaman. Dia senantiasa bergerak sesuai dengan desa-kala-patra, sejalan dengan manusia-manusia Bali yang sedang ada.
Bahkan seni pertunjukan yang langka digeber, seperti gambuh, seperti topeng pajegan, misalnya, dalam kesepiannya di dalam peti, tetap berinteraksi dengan zaman, melalui/karena orang-orang Bali sendiri selalu bersentuhan dengan nilai-nilai aktual dan universal lewat konsep desa-kala-patra.
Begitu dia dapat kesempatan tampil, kita tidak usah terkejut, karena ia langsung memuncratkan ciri-ciri kontemporer.
Teater tradisi Bali, tak perlu susah-susah mempermasalahkan apa konsep-konsep pertunjukan kontemporer, karena sudah melaksanakannya. Memang orang-orang dari belahan yang menyebut dirinya pulau kontemporer, umumnya justru mempermasalahkan hubungannya dengan tradisi, karena tidak melihat kaitan dirinya secara langsung dengan bentuk-bentuk seni pertunjukan tradisional.
Sesuatu yang sebenarnya sama sekali tidak menyangkut hal-hal yang konsepsual, tetapi sekedar kemasan, yang dapat langsung diselesaikan dengan mengubah cara melihat “perbedaan” sebagai “nuansa”. Karena tiadanya hubungan yang bersifat phisikal, tidak berarti, ada jurang pemisah.
Justru tidak adanya persamaan-persamaan di dalam bentuk-bentuk pengucapan, sering akan mempertemukan yang saling kontra itu secara spiritual, karena lahirnya kebutuhan untuk saling mengisi. Walhasil, ketiadaan hubungan, otomatis adalah juga hubungan. Itu cara berpikir konsep kontemporer.
Tak pernah sungguh-sungguh ada pertentangan antara hitam dan putih. Tak pernah benar-benar ada konfrontasi antara buruk dan baik. Tak pernah ada jurang antara kawan dan lawan.
Dan tak pernah ada masalah antara tradisi dan ekspresi kontemporer. Yang ada adalah kealpaan untuk mengakui keberadaan nuansa-nuansa di antara kedua kutub tersebut, yang tak terhingga jumlahnya. Keterbatasan untuk menangkap yang ada, dari sesuatu yang selalu dianggap tidak ada, karena adanya usaha untuk membuat penyederhanaan — hitam-putih — yang kadangkala sedemikian keji dan semana-menanya.
Kesalahkaprahan dalam membuat peta, yang kemudian membuat kita menjadi benar-benar buta dan tuli, adalah bencana tetapi sekaligus hikmah yang telah melahirkan konsep kontemporer. Sebuah usaha untuk menangkap dengan lebih jujur, bulat, lengkap dan tuntas apa saja. Alhasil sebuah upaya, tetapi sama sekali bukan tujuan. Karena dia juga akan terus bergerak, sesuai dengan desa-kala-patra.
*) Makalah ini dibuat untuk memenuhi undangan seminar sehari STSI Denpasar 21 Oktober 1993 - dengan tema: KONSEP DASAR DALAM SENI PERTUNJUKAN KONTEMPORER INDONESIA.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Putu Wijaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Putu Wijaya. Tampilkan semua postingan
10/03/10
29/01/10
BOM
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
Giliran Amat menangis di depan televisi. Ia meratapi korban terorisme yang sudah meledakkan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Hotel, di Jakarta. Pagi 17 Juli yang tenang dan indah sejak berlangsungnya Pemilu 09 yang damai dan mendapat banyak pujian dari mancanegara, kontan buyar.
Pasar modal tertegun walau pun tak sampai guncang. Presiden SBY yang memberikan pidatonya pun sempat terdiam, bagai menahan kepedihan untuk tidak menangis, mengingat ekonomi yang sudah membaik dan kedamaian yang mulai tumbuh menjadi rontok. Bahkan klab sepakbola Manchester United yang direncanakan datang hari Sabtu dan menginap di hotel yang terkena bom, membatalkan laganya dengan PSSI All Star.
“Aku heran masih ada saja orang yang menginginkan negeri kita ini kacau,”kata Amat kepada para tetangga yang bergunjing di tepi jalan.”Aku heran ada orang yang tega membunuh manusia lain dengan tanpa peduli. Bukan hanya sembilan nyawa yang sudah jadi korban, seperti yang aku dengar di televisi, tetapi ribuan bahkan jutaan. Orang-orang itu punya anak, istri, keluarga, famili dan negara. Aku yang jauh dari Jakarta dan tidak kenal kepada korban, merasa ikut kehilangan, karena kematian itu berarti juga kematian perdamaian, ancaman langsung kepada nyawa kita!”
Para tetangga manggut-manggut. Seorang pemuda menjawab.
“Itulah politik, Pak Amat.”
“Politik?”
“Ya. Apa yang terjadi tidak bisa dilihat dari apa yang kejadian di depam mata kita saja, Pak Amat. Harus dihubungkan dengan sebab musababnya yang paling jauh dan tujuannya yang paling jauh. Dan mungkin sekali bagi orang yang kurang pengetahuan seperti kita, hubungan itu sama sekali tidak ada. Bukan karena tak ada, tapi karena kita sudah tidak mampu merasakan, karena tidak melihatnya.”
Amat terkejut.
“Maksudnya?”
“Ya sudah saya katakana tadi, ini politik.”
Amat penasaran. Dia mulai marah.
“Artinya apa kalau itu politik?”
“Tidak perlu ada artinya. Ini hanya untuk mengingatkan orang untuk kembali kepada apa yang sudah dilupakan!”
“Apa yang sudah dilupakan?”
“Keadilan dan kebenaran.”
“Keadilan siapa? Kebenaran siapa?”
“Keadilan dan kebenaran mereka yang dilupakan!”
“Dengan cara menempuh jalan yang tidak adil dan tidak benar?”
“Bukan jalannya yang harus dinilai, tapi tujuannya Pak Amat!”
“Itu namanya menghalalkan segala cara!”
“Itu kan kata Pak Amat.”
“Jadi Anda setuju hotel Marriot dan yang satu lagi itu di bom? Anda sutuju Bali dua kali dibom?”
Mata Amat berapi-api. Orang itu tidak menjawab. Dia buru-buru pergi.
“Teroris!” umpat Amat. “Anarkhis!”
Tangan Bu Amat lalu membelai pundak Amat.
“Sudah Pak, jangan terlalu dijiwai nanti bludreknya kumat!”
Amat menarik nafas panjang.
“Aku heran, kenapa orang bisa dicuci otaknya sampai segalanya menjadi terbalik-balik. Masak dia menyuruh kita melupakan bom yang membunuh orang ini, lalu melihat sebab awalnya yang tidak kita tahu, lalu memikirkan tujuan akhirnya yang kita juga tidak tahu. Jangan-jangan dia sendiri juga tidak tahu!”
“Ya namanya juga otaknya sudah dicuci!”
“Gudang dicuci memang bisa kosong. Pakaian dicuci pemutih juga bisa kehilangan warna. Tapi masak manusia yang sudah diisi oleh pendidikan, susila, budi pekerti bahkan agama, bisa dicuci? Sebersih-bersihnya dicuci pasti nuraninya masih ada! Kecuali memang orangnya sakit!”
“Ya itu dia. Makanya mereka milih-milih siapa yang harus dicuci. Tak semua otak bisa dicuci!”
“Tapi ternyata sekarang semua orang bisa dicuci oltaknya, Bu! Bukan hanya yang buta huruf saja, yang doktor pun bisa dicuci. Jadi kita memang sudah kehilangan nurani. Kita semua sudah memasuki zaman kaliyuga! Kita semua sudah edhan!”
Bu Amat menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memanggil Ami.
“Coba tenangkan bapakmu Ami, pikirannya sudah ngelantur lagi.”
Ami melirik bapaknya. Mata Amat masih terus tertancap ke layar kaca mengikuti laporn sekitar Bom Marriott 2. Kadang-kadang dia ngomong sendiri.
“Ayolah Ami, jangan biarkan bapakmu begitu!”
“Habis Ami harus ngapain?”
“Ya ajak bapakmu jangan melihat segala sesuatu dari buruknya saja, ambil segi baiknya.”
Ami terperanjat.
“Segi baiknya? Apa ada segi baiknya dari tindakan terorisme membom hotel dan membunuh orang yang tidak bersalah? Ibu kok jadi ikut-ikutan jadi korban cuci otak?!”
Sebaliknya dari menemani bapaknya, Ami lalu masuk ke kamar mandi dan men yanyikan lagu Slank dengan seenaknya
“Inikah demokrasi, setiap orang boleh berbuat seenak perut sendiri …. . .. “
Bu Amat tertegun.
Waktu Bom Bali yang pertama dia sangat terguncang. Takut, ngeri, merasa terancam dan berhari-hari tidak enak makan. Pada kejadian Bom Bali Kedua, ia memang masih tertekan, tapi segalanya kemudian menjadi biasa. Setelah itu, mendengar cerita bom dan terorisme di manap-mana, ia sama sekali tenang. Seakan-akan semuanya itu memang bagian dari asesoris kehidupan politik.
Ketika muncul berita Bom Marriot 2, ia sempat terdiam sebentar. Matanya menancap ke televisi. Tapi kemudian ia tidak merasakan apa-apa lagi, karena banyak hal lain yang masih harus diperhatikan. Kematian si Raja Pop Michael Jackson masih hangat. Banyak peristiwa aneh di sekitar Pemilu 09 yang menyangkut para caleg gagal, masih seru. Perhatiannya pada Bom Marriot 2 memang jadi kurang – untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada.
Ia tidak tahu mengapa ia menjadi seperti beku. Mungkin karena begitu banyak yang sudah terjadi sejak menjelang reformasi. Penculikan. Orang hilang. Bencana alam. Korupsi. Manusia makan mayat. Ibu membunuh anaknya. Anak dijual oleh ibunya. Teror dan bom di mana-mana.
Dulu, suami atau anaknya sakit saja ia sudah menangis. Mendengar orang menyanyikan Indonesia Raya di saat pengibaran bendera pada upacara peringatan 17 Agustus, ia bisa mengucurkan air mata.
“Hidup semakin keras, manusia menjadi semakin tabah. Kalau tidak begitu, kita semua akan kalah,”bisik Bu Amat menjawab pertanyaannya sendiri.
Tiba-tiba terdengar Amat mengumpat di depan televisi.
“Kurang ajar! Bangsat!!”
Sebuah pikiran mendadak menukik ke dalam kepala Bu Amat. Ia terkejut dan jadi gemetar. Benarkah ia menjadi lebih baik? Apa betul dengan menjadi lebih keras orang bertambah kuat? Apakah air mata, tangis dan haru itu tanda kelemahan? Benarkah berhenti menangis. membutakan mata kepada apa yang ada di sekeliling adalah kiat untuk hidup selamat.
Bu Amat terpesona. Ia cepat-cepat menilai kembali dirinya. Melihat di mana ia sedang berdiri. Lalu ia melihat dirinya di atas sebuah bukit. Di puncak bukit yang bergetar. Sebentar lagi ia akan melayang turun dan terhempas ke lembah yang hgelap di sana.
“Kurang ajar! Bangsat!” terdegar umpat Amat lebih keras.
Bu Amat tersentak.
“Aduh, jangan -jangan aku sendiri yang sudah kena cuci otak, karena menganggap semua bom-bom itu sudah biasa,”bisik Bu Amat dengan terkejut.”Jangan-jangan aku yang sudah dimatikan rasa oleh cuci otak itu!”
Perlahan-lahan Bu Amat mendekati suaminya yang masih terus melotot di depan televisi. Ia lupakan dulu curhat La Toya, kakak perempuan Michael Jackson yang merasa yakin adiknya mati dibunuh. Ia lupakan dulu Bom Bali 1 dan 2 yang menelan ratusan korban. Ia lupakan tsunami yang sudah melalap lebih dari seratus ribu manusia. Ia hanya memandang ke satu titik. Layar kaca. Bom Marriott 2.
Bu Amat melihat darah. Anggota badan manusia berserakan. Kepala, tangan, kaki, semua terpisah dari tubuhnya. Isi perut terburai. Memang bukan 200 atau seratus ribu, tapi hanya sembilan. Tapi itu darah dan isi perut yang sesungguhnya.
Ia merasa darah dan isi perutnya sendiri yang terburai. Kepala, tangan dan kakinya yang terputus dari badan. Begitu saja rasa ngeri, takut dan putus asa setrentak menggebrak dan mematahkan seluruh benteng pertahanan yang sudah membuatnya beku.
Tak kuasa lagi menahan diri, Bu Amat menjerit.
“Tolooooongggggggggggg!”
Jakarta 17 Juli 09
Menjelang jam 08, bom meledak di Hotel Marriott dan Ritz Carlton Hotel.
http://putuwijaya.wordpress.com/
Giliran Amat menangis di depan televisi. Ia meratapi korban terorisme yang sudah meledakkan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Hotel, di Jakarta. Pagi 17 Juli yang tenang dan indah sejak berlangsungnya Pemilu 09 yang damai dan mendapat banyak pujian dari mancanegara, kontan buyar.
Pasar modal tertegun walau pun tak sampai guncang. Presiden SBY yang memberikan pidatonya pun sempat terdiam, bagai menahan kepedihan untuk tidak menangis, mengingat ekonomi yang sudah membaik dan kedamaian yang mulai tumbuh menjadi rontok. Bahkan klab sepakbola Manchester United yang direncanakan datang hari Sabtu dan menginap di hotel yang terkena bom, membatalkan laganya dengan PSSI All Star.
“Aku heran masih ada saja orang yang menginginkan negeri kita ini kacau,”kata Amat kepada para tetangga yang bergunjing di tepi jalan.”Aku heran ada orang yang tega membunuh manusia lain dengan tanpa peduli. Bukan hanya sembilan nyawa yang sudah jadi korban, seperti yang aku dengar di televisi, tetapi ribuan bahkan jutaan. Orang-orang itu punya anak, istri, keluarga, famili dan negara. Aku yang jauh dari Jakarta dan tidak kenal kepada korban, merasa ikut kehilangan, karena kematian itu berarti juga kematian perdamaian, ancaman langsung kepada nyawa kita!”
Para tetangga manggut-manggut. Seorang pemuda menjawab.
“Itulah politik, Pak Amat.”
“Politik?”
“Ya. Apa yang terjadi tidak bisa dilihat dari apa yang kejadian di depam mata kita saja, Pak Amat. Harus dihubungkan dengan sebab musababnya yang paling jauh dan tujuannya yang paling jauh. Dan mungkin sekali bagi orang yang kurang pengetahuan seperti kita, hubungan itu sama sekali tidak ada. Bukan karena tak ada, tapi karena kita sudah tidak mampu merasakan, karena tidak melihatnya.”
Amat terkejut.
“Maksudnya?”
“Ya sudah saya katakana tadi, ini politik.”
Amat penasaran. Dia mulai marah.
“Artinya apa kalau itu politik?”
“Tidak perlu ada artinya. Ini hanya untuk mengingatkan orang untuk kembali kepada apa yang sudah dilupakan!”
“Apa yang sudah dilupakan?”
“Keadilan dan kebenaran.”
“Keadilan siapa? Kebenaran siapa?”
“Keadilan dan kebenaran mereka yang dilupakan!”
“Dengan cara menempuh jalan yang tidak adil dan tidak benar?”
“Bukan jalannya yang harus dinilai, tapi tujuannya Pak Amat!”
“Itu namanya menghalalkan segala cara!”
“Itu kan kata Pak Amat.”
“Jadi Anda setuju hotel Marriot dan yang satu lagi itu di bom? Anda sutuju Bali dua kali dibom?”
Mata Amat berapi-api. Orang itu tidak menjawab. Dia buru-buru pergi.
“Teroris!” umpat Amat. “Anarkhis!”
Tangan Bu Amat lalu membelai pundak Amat.
“Sudah Pak, jangan terlalu dijiwai nanti bludreknya kumat!”
Amat menarik nafas panjang.
“Aku heran, kenapa orang bisa dicuci otaknya sampai segalanya menjadi terbalik-balik. Masak dia menyuruh kita melupakan bom yang membunuh orang ini, lalu melihat sebab awalnya yang tidak kita tahu, lalu memikirkan tujuan akhirnya yang kita juga tidak tahu. Jangan-jangan dia sendiri juga tidak tahu!”
“Ya namanya juga otaknya sudah dicuci!”
“Gudang dicuci memang bisa kosong. Pakaian dicuci pemutih juga bisa kehilangan warna. Tapi masak manusia yang sudah diisi oleh pendidikan, susila, budi pekerti bahkan agama, bisa dicuci? Sebersih-bersihnya dicuci pasti nuraninya masih ada! Kecuali memang orangnya sakit!”
“Ya itu dia. Makanya mereka milih-milih siapa yang harus dicuci. Tak semua otak bisa dicuci!”
“Tapi ternyata sekarang semua orang bisa dicuci oltaknya, Bu! Bukan hanya yang buta huruf saja, yang doktor pun bisa dicuci. Jadi kita memang sudah kehilangan nurani. Kita semua sudah memasuki zaman kaliyuga! Kita semua sudah edhan!”
Bu Amat menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memanggil Ami.
“Coba tenangkan bapakmu Ami, pikirannya sudah ngelantur lagi.”
Ami melirik bapaknya. Mata Amat masih terus tertancap ke layar kaca mengikuti laporn sekitar Bom Marriott 2. Kadang-kadang dia ngomong sendiri.
“Ayolah Ami, jangan biarkan bapakmu begitu!”
“Habis Ami harus ngapain?”
“Ya ajak bapakmu jangan melihat segala sesuatu dari buruknya saja, ambil segi baiknya.”
Ami terperanjat.
“Segi baiknya? Apa ada segi baiknya dari tindakan terorisme membom hotel dan membunuh orang yang tidak bersalah? Ibu kok jadi ikut-ikutan jadi korban cuci otak?!”
Sebaliknya dari menemani bapaknya, Ami lalu masuk ke kamar mandi dan men yanyikan lagu Slank dengan seenaknya
“Inikah demokrasi, setiap orang boleh berbuat seenak perut sendiri …. . .. “
Bu Amat tertegun.
Waktu Bom Bali yang pertama dia sangat terguncang. Takut, ngeri, merasa terancam dan berhari-hari tidak enak makan. Pada kejadian Bom Bali Kedua, ia memang masih tertekan, tapi segalanya kemudian menjadi biasa. Setelah itu, mendengar cerita bom dan terorisme di manap-mana, ia sama sekali tenang. Seakan-akan semuanya itu memang bagian dari asesoris kehidupan politik.
Ketika muncul berita Bom Marriot 2, ia sempat terdiam sebentar. Matanya menancap ke televisi. Tapi kemudian ia tidak merasakan apa-apa lagi, karena banyak hal lain yang masih harus diperhatikan. Kematian si Raja Pop Michael Jackson masih hangat. Banyak peristiwa aneh di sekitar Pemilu 09 yang menyangkut para caleg gagal, masih seru. Perhatiannya pada Bom Marriot 2 memang jadi kurang – untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada.
Ia tidak tahu mengapa ia menjadi seperti beku. Mungkin karena begitu banyak yang sudah terjadi sejak menjelang reformasi. Penculikan. Orang hilang. Bencana alam. Korupsi. Manusia makan mayat. Ibu membunuh anaknya. Anak dijual oleh ibunya. Teror dan bom di mana-mana.
Dulu, suami atau anaknya sakit saja ia sudah menangis. Mendengar orang menyanyikan Indonesia Raya di saat pengibaran bendera pada upacara peringatan 17 Agustus, ia bisa mengucurkan air mata.
“Hidup semakin keras, manusia menjadi semakin tabah. Kalau tidak begitu, kita semua akan kalah,”bisik Bu Amat menjawab pertanyaannya sendiri.
Tiba-tiba terdengar Amat mengumpat di depan televisi.
“Kurang ajar! Bangsat!!”
Sebuah pikiran mendadak menukik ke dalam kepala Bu Amat. Ia terkejut dan jadi gemetar. Benarkah ia menjadi lebih baik? Apa betul dengan menjadi lebih keras orang bertambah kuat? Apakah air mata, tangis dan haru itu tanda kelemahan? Benarkah berhenti menangis. membutakan mata kepada apa yang ada di sekeliling adalah kiat untuk hidup selamat.
Bu Amat terpesona. Ia cepat-cepat menilai kembali dirinya. Melihat di mana ia sedang berdiri. Lalu ia melihat dirinya di atas sebuah bukit. Di puncak bukit yang bergetar. Sebentar lagi ia akan melayang turun dan terhempas ke lembah yang hgelap di sana.
“Kurang ajar! Bangsat!” terdegar umpat Amat lebih keras.
Bu Amat tersentak.
“Aduh, jangan -jangan aku sendiri yang sudah kena cuci otak, karena menganggap semua bom-bom itu sudah biasa,”bisik Bu Amat dengan terkejut.”Jangan-jangan aku yang sudah dimatikan rasa oleh cuci otak itu!”
Perlahan-lahan Bu Amat mendekati suaminya yang masih terus melotot di depan televisi. Ia lupakan dulu curhat La Toya, kakak perempuan Michael Jackson yang merasa yakin adiknya mati dibunuh. Ia lupakan dulu Bom Bali 1 dan 2 yang menelan ratusan korban. Ia lupakan tsunami yang sudah melalap lebih dari seratus ribu manusia. Ia hanya memandang ke satu titik. Layar kaca. Bom Marriott 2.
Bu Amat melihat darah. Anggota badan manusia berserakan. Kepala, tangan, kaki, semua terpisah dari tubuhnya. Isi perut terburai. Memang bukan 200 atau seratus ribu, tapi hanya sembilan. Tapi itu darah dan isi perut yang sesungguhnya.
Ia merasa darah dan isi perutnya sendiri yang terburai. Kepala, tangan dan kakinya yang terputus dari badan. Begitu saja rasa ngeri, takut dan putus asa setrentak menggebrak dan mematahkan seluruh benteng pertahanan yang sudah membuatnya beku.
Tak kuasa lagi menahan diri, Bu Amat menjerit.
“Tolooooongggggggggggg!”
Jakarta 17 Juli 09
Menjelang jam 08, bom meledak di Hotel Marriott dan Ritz Carlton Hotel.
21/01/09
Panca Sila
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
Amat minta dibuatkan nasi kuning.
“Untuk apa?”tanya Bu Amat curiga.
“Merayakan kelahiran Panca Sila.”
“Lho merayakan Panca Sila dengan nasi kuning?”
“Ya sudah, kalau begitu ditambah dengan betutu ayam kampung!”
Bu Amat tercengang, kontan membentak.
“Kalau cuma mau makan betutu ayam kampung tidak usah pakai alasan merayakan Panca Sila! Nggak! Nggak ada waktu!”
Amat tidak membantah. Kalau dibantah, pasti nggak-nggaknya Bu Amat akan menjadi tidak. Tapi kalau tidak dibantah, biasanya tidak dari Bu Amat hanya sekedar gertakan, nanti pasti akan ada nasi kuning dan betutu.
“Tenang saja, “kata Amat pada Ami, “Bapak sudah hidup puluhan tahun dengan Ibumu itu, jadi sudah tahu segala sepak-terjangnya. Menghadapi dia harus pakai taktik strategi yang tepat. Pokoknya tetap saja undang teman-temanmu di kampus biar semua datang nanti pada hari Kesaktian Panca Sila ke rumah. Kita rayakan ultah falsafah negara yang sudah mengantarkan kita pada hidup damai dalam perbedaan itu. Sudah waktunya bangkit lagi setelah seratus tahun. Sudah terlalu banyak orang kini lupa dan bahkan mau menggantikan Panca Sila. Kita harus pertahankan!!”
Pada tanggal 1 Juni, Amat keramas dengan air bunga, lalu menggenakan stelan putih-putih. Sepanjang hari ia menyendiri, seperti masuk ke dalam sanubarinya. Hanya sekali-sekali ia mengintip ke arah dapur sambil mencium-cium apa sudah ada tanda-tanda betutu ayam kampung itu rampung. Ternyata tidak ada. Amat mulai deg-degan ,
Sore hari, Amat melirik ke meja makan. Tapi tidak ada perubahan. Istrinya yang siang tadi pamit karena ada pertemuan di rumah tetangga belum pulang. Amat mulai tidak yakin. Akhirnya ia masuk ke dapur dan memeriksa. Di situ ia kecewa sekali, karena nggak Bu Amat sekali ini memang berarti tidak.
Amat masih mencoba untuk memeriksa ke dalam gudang di samping dapur. Jangan-jangan istrinya mau bikin kejutan. Tetapi di gudang hanya ada ayam. Jumlahnya masih lima ekor. Tak satu pun yang disembelih. Jelas sudah tidak akan ada nasi kuning dan betutu ayam kampung.
Waktu Ami pulang dari kampus, Amat panik.
“Ami, Bapak salah perhitungan hari ini. Ibumu ternyata tak sempat masak karena ada pertemuan para ibu. Sampai sekarang belum pulang. Jadi kita akan menghadapi bahaya.”
Ami mengangguk tenang.
“Nggak apa, Pak. Tenang saja. Kita kan sudah 350 tahun dijajah, kita sudah biasa menghadapi bahaya.”
“Tapi kita akan malu besar, bagaimana kalau teman-teman kamu di kampus menanyakan nasi kuning dan betutu yang Bapak janjikan itu?”
“Tenang saja, Pak.”
“Bagaimana bisa tenang! Pasti mereka akan menuduh kita penipu?”
“Memang.”
“Aduh! Itu yang celaka! Kita menyambut Hari Kesaktian Panca Sila mestinya untuk membangun kepercayaan. Tapi ternyata kita sudah melakukan penipuan. Itu bisa tambah merusakkan Panca Sila!”
Ami mengernyitkan dahinya.
“Masak begitu?”
“Ya! Kalian anak-anak muda kan sudah banyak sekali menyimpan kedongkolan dan ketidakpuasan. Makanya kalian semua cepat marah. Belum apa-apa pasti langsung maunya demo, turun ke jalan berteriak-teriak, menentang, menggempur apa saja. Bapak mengerti sekali itu. Sekarang akan tambah bukti lagi, aku tua bangka ini sudah mempermainkan mereka!”
“Makanya kalau belum pasti Bapak jangan suka janji-janji.”
“Habis kalau tidak dipikat begitu, mereka pasti tidak akan mau datang!”
Ami nampak beringas.
“O, jadi Bapak memancing mereka datang dengan nasi kuning dan betutu? Bapak pikir mereka ngiler nasi kuning dan betutu?”
“Ya kan?!”
Ami tiba-tiba tertawa.
“Kok ketawa?”
“Yang ngiler sama nasi kuning dan betutu itu kan Bapak! Teman-temanku itu sekarang lebih seneng makan pizza, burger atau fried chicken. Mereka sama sekali tidak tertarik pada pancingan Bapak itu. Mereka tertarik karena masih ada orang mau meryakan Panca Sila di rumahnya secara pribadi. Itu berarti Panca Sila bukan hanya barang dagangan yang dipajang sebagai slogan, tetapi dikembangkan di dalam rumah, di dalam diri. Mereka suka, jarena itu mereka akan datang.”
Amat tercengang.
“Jadi mereka tidak mengharapkan nasi kuning dan betutu?”
“Apa Bapak tidak malu kalau teman-temanku datang merayakan kelahiran Panca Sila karena tertarik nasi kuning dan berutu?! Itu menghina! Ami tidak pernah bilang sama mereka ada nasi kuning dan betutu!”
Amat terkejut.
“Jadi kamu tidak pernah bilang ada nasi kuning dan betutu?”
“Ngapain nasi kuning dan betutu! Itu namanya melecehkan kebesaran Panca Sila!”
Amat mengurut dada senang. Ia merasa amat bahagia.
Malam hari, sekitar 15 orang teman-teman seperjuangan Ami datang. Peringatan diadakan dengan membacakan Pidato Bung Karno yang menandai kelahiran Panca Sila itu. Disusul dengan uraian dari salah seorang mahasiswa yang membentangkan Panca Sila dengan begitu bagusnya, sehingga Amat mnerasa seperti makan nasi kuning dengan betutu ayam kampung.
Setelah peringatan Panca Sila yang sederhana namun khususk itu selesai, tiba-tiba salah seorang mahasiswa nyeletuk.
“Tapi mana nasi kuning dan betutu ayam kampungnya?”
Amat tersirap. Ia gugup. Buru-buru ia mencari Ami ke belakang, sebab ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.
“Ami! Kenapa teman kamu menanyakan nasi kuning dan betutu ayam kampung?”
“O ya?”
“Ya! Padahal kamu kan sudah bilang, kamu tidak pernah mengundang mereka dengan nasi kampung dan ayam kuning!” bentak Amat keliru-keliru karena panik.
Ami tersenyum.
“Tenang, Pak. Mereka sudah biasa dibohongi. Dibohongi sekali lagi, mereka tidak akan apa-apa. Apalagi hanya janji betutu dan nasi kuning. Bangsa kita kan jago memaafkan. Lagipula kalau manusianya pembohong, tidak berarti Panca Silanya yang bohong! Ayo, kalau berani berbohong, Bapak harus berani juga menghadapi hasil kebohongan itu!”kata Ami menyeret bapaknya kembali ke depan.
Dengan sangat malu Amat terpaksa ikut. Ternyata di depan, para mahasiswa sedang rebutan nasi kuning dan betutu ayam kampung yang baru saja dibawa Bu Amat dari tetangga.
http://putuwijaya.wordpress.com/
Amat minta dibuatkan nasi kuning.
“Untuk apa?”tanya Bu Amat curiga.
“Merayakan kelahiran Panca Sila.”
“Lho merayakan Panca Sila dengan nasi kuning?”
“Ya sudah, kalau begitu ditambah dengan betutu ayam kampung!”
Bu Amat tercengang, kontan membentak.
“Kalau cuma mau makan betutu ayam kampung tidak usah pakai alasan merayakan Panca Sila! Nggak! Nggak ada waktu!”
Amat tidak membantah. Kalau dibantah, pasti nggak-nggaknya Bu Amat akan menjadi tidak. Tapi kalau tidak dibantah, biasanya tidak dari Bu Amat hanya sekedar gertakan, nanti pasti akan ada nasi kuning dan betutu.
“Tenang saja, “kata Amat pada Ami, “Bapak sudah hidup puluhan tahun dengan Ibumu itu, jadi sudah tahu segala sepak-terjangnya. Menghadapi dia harus pakai taktik strategi yang tepat. Pokoknya tetap saja undang teman-temanmu di kampus biar semua datang nanti pada hari Kesaktian Panca Sila ke rumah. Kita rayakan ultah falsafah negara yang sudah mengantarkan kita pada hidup damai dalam perbedaan itu. Sudah waktunya bangkit lagi setelah seratus tahun. Sudah terlalu banyak orang kini lupa dan bahkan mau menggantikan Panca Sila. Kita harus pertahankan!!”
Pada tanggal 1 Juni, Amat keramas dengan air bunga, lalu menggenakan stelan putih-putih. Sepanjang hari ia menyendiri, seperti masuk ke dalam sanubarinya. Hanya sekali-sekali ia mengintip ke arah dapur sambil mencium-cium apa sudah ada tanda-tanda betutu ayam kampung itu rampung. Ternyata tidak ada. Amat mulai deg-degan ,
Sore hari, Amat melirik ke meja makan. Tapi tidak ada perubahan. Istrinya yang siang tadi pamit karena ada pertemuan di rumah tetangga belum pulang. Amat mulai tidak yakin. Akhirnya ia masuk ke dapur dan memeriksa. Di situ ia kecewa sekali, karena nggak Bu Amat sekali ini memang berarti tidak.
Amat masih mencoba untuk memeriksa ke dalam gudang di samping dapur. Jangan-jangan istrinya mau bikin kejutan. Tetapi di gudang hanya ada ayam. Jumlahnya masih lima ekor. Tak satu pun yang disembelih. Jelas sudah tidak akan ada nasi kuning dan betutu ayam kampung.
Waktu Ami pulang dari kampus, Amat panik.
“Ami, Bapak salah perhitungan hari ini. Ibumu ternyata tak sempat masak karena ada pertemuan para ibu. Sampai sekarang belum pulang. Jadi kita akan menghadapi bahaya.”
Ami mengangguk tenang.
“Nggak apa, Pak. Tenang saja. Kita kan sudah 350 tahun dijajah, kita sudah biasa menghadapi bahaya.”
“Tapi kita akan malu besar, bagaimana kalau teman-teman kamu di kampus menanyakan nasi kuning dan betutu yang Bapak janjikan itu?”
“Tenang saja, Pak.”
“Bagaimana bisa tenang! Pasti mereka akan menuduh kita penipu?”
“Memang.”
“Aduh! Itu yang celaka! Kita menyambut Hari Kesaktian Panca Sila mestinya untuk membangun kepercayaan. Tapi ternyata kita sudah melakukan penipuan. Itu bisa tambah merusakkan Panca Sila!”
Ami mengernyitkan dahinya.
“Masak begitu?”
“Ya! Kalian anak-anak muda kan sudah banyak sekali menyimpan kedongkolan dan ketidakpuasan. Makanya kalian semua cepat marah. Belum apa-apa pasti langsung maunya demo, turun ke jalan berteriak-teriak, menentang, menggempur apa saja. Bapak mengerti sekali itu. Sekarang akan tambah bukti lagi, aku tua bangka ini sudah mempermainkan mereka!”
“Makanya kalau belum pasti Bapak jangan suka janji-janji.”
“Habis kalau tidak dipikat begitu, mereka pasti tidak akan mau datang!”
Ami nampak beringas.
“O, jadi Bapak memancing mereka datang dengan nasi kuning dan betutu? Bapak pikir mereka ngiler nasi kuning dan betutu?”
“Ya kan?!”
Ami tiba-tiba tertawa.
“Kok ketawa?”
“Yang ngiler sama nasi kuning dan betutu itu kan Bapak! Teman-temanku itu sekarang lebih seneng makan pizza, burger atau fried chicken. Mereka sama sekali tidak tertarik pada pancingan Bapak itu. Mereka tertarik karena masih ada orang mau meryakan Panca Sila di rumahnya secara pribadi. Itu berarti Panca Sila bukan hanya barang dagangan yang dipajang sebagai slogan, tetapi dikembangkan di dalam rumah, di dalam diri. Mereka suka, jarena itu mereka akan datang.”
Amat tercengang.
“Jadi mereka tidak mengharapkan nasi kuning dan betutu?”
“Apa Bapak tidak malu kalau teman-temanku datang merayakan kelahiran Panca Sila karena tertarik nasi kuning dan berutu?! Itu menghina! Ami tidak pernah bilang sama mereka ada nasi kuning dan betutu!”
Amat terkejut.
“Jadi kamu tidak pernah bilang ada nasi kuning dan betutu?”
“Ngapain nasi kuning dan betutu! Itu namanya melecehkan kebesaran Panca Sila!”
Amat mengurut dada senang. Ia merasa amat bahagia.
Malam hari, sekitar 15 orang teman-teman seperjuangan Ami datang. Peringatan diadakan dengan membacakan Pidato Bung Karno yang menandai kelahiran Panca Sila itu. Disusul dengan uraian dari salah seorang mahasiswa yang membentangkan Panca Sila dengan begitu bagusnya, sehingga Amat mnerasa seperti makan nasi kuning dengan betutu ayam kampung.
Setelah peringatan Panca Sila yang sederhana namun khususk itu selesai, tiba-tiba salah seorang mahasiswa nyeletuk.
“Tapi mana nasi kuning dan betutu ayam kampungnya?”
Amat tersirap. Ia gugup. Buru-buru ia mencari Ami ke belakang, sebab ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.
“Ami! Kenapa teman kamu menanyakan nasi kuning dan betutu ayam kampung?”
“O ya?”
“Ya! Padahal kamu kan sudah bilang, kamu tidak pernah mengundang mereka dengan nasi kampung dan ayam kuning!” bentak Amat keliru-keliru karena panik.
Ami tersenyum.
“Tenang, Pak. Mereka sudah biasa dibohongi. Dibohongi sekali lagi, mereka tidak akan apa-apa. Apalagi hanya janji betutu dan nasi kuning. Bangsa kita kan jago memaafkan. Lagipula kalau manusianya pembohong, tidak berarti Panca Silanya yang bohong! Ayo, kalau berani berbohong, Bapak harus berani juga menghadapi hasil kebohongan itu!”kata Ami menyeret bapaknya kembali ke depan.
Dengan sangat malu Amat terpaksa ikut. Ternyata di depan, para mahasiswa sedang rebutan nasi kuning dan betutu ayam kampung yang baru saja dibawa Bu Amat dari tetangga.
07/01/09
Surat Pada Gubernur
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
“Bapak Gubernur, saya Pak Amat, seorang di antara berjuta-juta warga lain. Saya mengucapkan selamat bertugas pada Bapak. Semoga dalam kepemimpinan Bapak, apa yang kita cita-cita akan tercapai,” tulis Amat.
Surat itu diperlihatkan pada tetangga.
“Bagaimana?”
Tetangga manggut-manggut.
“Hebat.”
“Hebatnya apa?”
“Ya Pak Amat sudah berani menulis surat pada Gubernut.”
“Lho, apa salahnya?”
“Pak Amat kenal dengan beliau?”
“Siapa tidak kenal beliau. Kan sering ada di koran.”
“Hebat. Tapi lebih hebat lagi kalau Pak Amat tambahkan sedikit.”
“Apa?’
“Itu jalan yang masuk ke kompleks kita kan rusak. Kalau bisa diperbaiki, kita semua akan senang sekali.”
Amat ketawa.
“Masak Gubernut ngurus jalan rusak. Jalan kampung lagi!”
“Lho kenapa tidak, Pak Amat. Beliau kan pemimpin kita. Beliau pelindung rakyat. Beliau bukan hanya milik orang-orang yang tinggal di hotel dan real estate. Beliau juga adalah milik kita yang hidup di kampung seperti kita ini. Seorang pemimpin yang baik wajib mengayomi seluruh rakyat. Jangankan jalan rusak, batin yang rusak pun jadi urusan beliau. Ingat ada pepatah: karena nila setitik rusak susu sebelangan. Benar nggak?!! Nah, pemimpinn yang baik itu memperhatikan semua sampai sekecil-kecilnya. Karena yang kecil itu justru sering menentukan!”"
Amat tesenyum.
“Kalau Pak Amat tidak percaya, coba periksa ke dapur. Masakan yang sudah disiapkan dengan susah-payah dan mahal, tapi kalau garamnya kelupaan, tidak akan ada rasanya. Ya tidak?!”
“Kalau itu benar.”
“Nah jangan menganggap remeh yang remeh Pak Amat. Yang sepele itu sangat penting. Yang kecil-kecil karena kecilnya sering dilupakan, akhirnya yang kecil-kecil itu jadi merusakkan segala-galanya! Kelebihan pemimpin adalah dia bisa melihat pentingnya soal-soal kecil. Orang biasa, tidak. Orang biasa hanya melihat hal-hal besar, yang megah, yang banyak, yangmahal. Itu sebabnya kita semua tidak jadi pemimpin. Pemimpin itu melihat apa yang tidak kita lihat, Pak Amat.”
Amat ketawa.
“Kalau begitu, jalan rusak itu tidak perlu lagi dilaporkan!”
“Kenapa tidak?”
“Kan tadi sudah bilang sendiri pemimpin melihat apa yang tidak dilihat orang lain!”
“Tapi yang kecil-kecil itu kan banyaksekali, Pak Amat! Kalau ditunggu, nanti masa jabatannya sudah selesai, belum juga giliran perbaikannya datang. Makanya dilaporkan supaya dapat prioritas. Pak Amat mau tidak jalannan depan kompleks kita diaspal licin?”
“Ya mau!”
“Makanya surat kepada Pak Gubernur itu harus ditambahin!”
Amat tertawa.
“Jangan ketawa saja Pak Amat, tambahin!”
“Ya, ya, nanti ditambahin,”kata pak Amat menyudahi pembicaraan itu lalu cepat-cepat pulang.
Di rumah Amat menceritakan usulan tetangga itu pada istrinya.
“Masak Gubernur disuruh mikirin jalan kampung rusak. Masalah yang kita hadapi sekarang kan besar sekali. Narkoba, Aids, kenaikan harga bensin, pemasan global, belum lagi korupsi. Jalan rusak itu kan soal kecil sekali. Kalau masyarakat mau bergotong-royong, sehari saja jalan itu sudah bisa dilalui mobil lagi. Ya kan Bu? Lagian kalan rusak ada baiknya, sebab dengan begitu mobil tidak lewat kompleks kita lagi. Pusing aku kalau kendaraan seliweran lagi memakai wilayah kita sebagai jalan pintas!”
“Jadi usulan itu ditolak?”
“Habis masak Gubernur mesti ngurus jalan kampung?”
“Apa salahnya?”
Amat tercengang.
“Itu kan tugas bawahan Bu?”
“Orang bawahan banyak urusannya, Pak. Kalau Gubernur tidak kasih perintah pasti yang lain-lain dulu yang diurus. Aku juga seneng kalau kendaraan umum bisa masuk ke kompleks kita lagi. Jadi kalau mau pergi ke mana begitu, tidak usah jalan kaki, apalagi bawa banyak barang!”
“Jadi Ibu setuju?”
“Ya, iyalah! Apa Gubernur turun gengsinya kalau memperbaiki jalan rusak?”
“Ya tidak .”
“Makanya!”
“Makanya apa?”
“Masukkan itu ke dalam surat Bapak kepada Gubernur itu!”
Amat ketawa.
“Ya sudah, nanti tak masukkan!” kata Amat mengakhiri percakapan.
Sambil melipat surat yang mau dikirimkannya Amat nongkrong depan pesawat televisi. Ia bengong melihat berita ada Manusia Kawat. Manusia yang tumbuh kawat-kawat dari perutnya. Ia tak habis pikir, mengapa semua itu bisa terjadi.
Belum sampai pukul 11 malam, Amat teler, lalu menyerah di tempat tidur. Ia bermimpi bertemu Gubernut baru. Ia membacakan permintaan tetangga soal jalan rusak itu. Heran ternyata Gubernur menanggapi serius. Menurut beliau jalan itu memang sangat penting. Bukan hanya diperbaiki, jalan itu akan diperlebar, sehingga menjadi jalan utama. Artinya akan ada penggusuran sekitar 20 meter. Itu berarti rumah tetangga yang mengusul perbaikan itu akan kena bongkar.
Tiba-tiba tubuh Amat diguncang. Amat gelagapan bangun. Bu Amat berdiri di depannya dan berbisik panik.
“Pak! Batalkan Surat Kepada Gubernur itu! Batalkan saja!”
“Kenapa?”
“Di depan rumah ada 20 orang tetangga menunggu, Bapak!”
“Kenapa?”
“Mereka mau nitip.”
“Nitip apa?”
“Ada yang anaknya tidak bisa bayar SPP. Ada yang berkelahi dengan saudaranya soal warisan. Ada yang suaminya kawin lagi. Ada yang hutangnya belum dibayar padahal sudah 5 tahun nunggak. Ada juga yang minta bantuan karena di PHK. Ada yang dapat kasus tabrak lari. Ada yang minta santunan untuk membayar rumah sakit, kalau tidak istrinya tidak bisa keluar. Ada yang minta bantuan sebab mau kredit motor pingin jadi tukang ojek. Ada yang …. “Su
http://putuwijaya.wordpress.com/
“Bapak Gubernur, saya Pak Amat, seorang di antara berjuta-juta warga lain. Saya mengucapkan selamat bertugas pada Bapak. Semoga dalam kepemimpinan Bapak, apa yang kita cita-cita akan tercapai,” tulis Amat.
Surat itu diperlihatkan pada tetangga.
“Bagaimana?”
Tetangga manggut-manggut.
“Hebat.”
“Hebatnya apa?”
“Ya Pak Amat sudah berani menulis surat pada Gubernut.”
“Lho, apa salahnya?”
“Pak Amat kenal dengan beliau?”
“Siapa tidak kenal beliau. Kan sering ada di koran.”
“Hebat. Tapi lebih hebat lagi kalau Pak Amat tambahkan sedikit.”
“Apa?’
“Itu jalan yang masuk ke kompleks kita kan rusak. Kalau bisa diperbaiki, kita semua akan senang sekali.”
Amat ketawa.
“Masak Gubernut ngurus jalan rusak. Jalan kampung lagi!”
“Lho kenapa tidak, Pak Amat. Beliau kan pemimpin kita. Beliau pelindung rakyat. Beliau bukan hanya milik orang-orang yang tinggal di hotel dan real estate. Beliau juga adalah milik kita yang hidup di kampung seperti kita ini. Seorang pemimpin yang baik wajib mengayomi seluruh rakyat. Jangankan jalan rusak, batin yang rusak pun jadi urusan beliau. Ingat ada pepatah: karena nila setitik rusak susu sebelangan. Benar nggak?!! Nah, pemimpinn yang baik itu memperhatikan semua sampai sekecil-kecilnya. Karena yang kecil itu justru sering menentukan!”"
Amat tesenyum.
“Kalau Pak Amat tidak percaya, coba periksa ke dapur. Masakan yang sudah disiapkan dengan susah-payah dan mahal, tapi kalau garamnya kelupaan, tidak akan ada rasanya. Ya tidak?!”
“Kalau itu benar.”
“Nah jangan menganggap remeh yang remeh Pak Amat. Yang sepele itu sangat penting. Yang kecil-kecil karena kecilnya sering dilupakan, akhirnya yang kecil-kecil itu jadi merusakkan segala-galanya! Kelebihan pemimpin adalah dia bisa melihat pentingnya soal-soal kecil. Orang biasa, tidak. Orang biasa hanya melihat hal-hal besar, yang megah, yang banyak, yangmahal. Itu sebabnya kita semua tidak jadi pemimpin. Pemimpin itu melihat apa yang tidak kita lihat, Pak Amat.”
Amat ketawa.
“Kalau begitu, jalan rusak itu tidak perlu lagi dilaporkan!”
“Kenapa tidak?”
“Kan tadi sudah bilang sendiri pemimpin melihat apa yang tidak dilihat orang lain!”
“Tapi yang kecil-kecil itu kan banyaksekali, Pak Amat! Kalau ditunggu, nanti masa jabatannya sudah selesai, belum juga giliran perbaikannya datang. Makanya dilaporkan supaya dapat prioritas. Pak Amat mau tidak jalannan depan kompleks kita diaspal licin?”
“Ya mau!”
“Makanya surat kepada Pak Gubernur itu harus ditambahin!”
Amat tertawa.
“Jangan ketawa saja Pak Amat, tambahin!”
“Ya, ya, nanti ditambahin,”kata pak Amat menyudahi pembicaraan itu lalu cepat-cepat pulang.
Di rumah Amat menceritakan usulan tetangga itu pada istrinya.
“Masak Gubernur disuruh mikirin jalan kampung rusak. Masalah yang kita hadapi sekarang kan besar sekali. Narkoba, Aids, kenaikan harga bensin, pemasan global, belum lagi korupsi. Jalan rusak itu kan soal kecil sekali. Kalau masyarakat mau bergotong-royong, sehari saja jalan itu sudah bisa dilalui mobil lagi. Ya kan Bu? Lagian kalan rusak ada baiknya, sebab dengan begitu mobil tidak lewat kompleks kita lagi. Pusing aku kalau kendaraan seliweran lagi memakai wilayah kita sebagai jalan pintas!”
“Jadi usulan itu ditolak?”
“Habis masak Gubernur mesti ngurus jalan kampung?”
“Apa salahnya?”
Amat tercengang.
“Itu kan tugas bawahan Bu?”
“Orang bawahan banyak urusannya, Pak. Kalau Gubernur tidak kasih perintah pasti yang lain-lain dulu yang diurus. Aku juga seneng kalau kendaraan umum bisa masuk ke kompleks kita lagi. Jadi kalau mau pergi ke mana begitu, tidak usah jalan kaki, apalagi bawa banyak barang!”
“Jadi Ibu setuju?”
“Ya, iyalah! Apa Gubernur turun gengsinya kalau memperbaiki jalan rusak?”
“Ya tidak .”
“Makanya!”
“Makanya apa?”
“Masukkan itu ke dalam surat Bapak kepada Gubernur itu!”
Amat ketawa.
“Ya sudah, nanti tak masukkan!” kata Amat mengakhiri percakapan.
Sambil melipat surat yang mau dikirimkannya Amat nongkrong depan pesawat televisi. Ia bengong melihat berita ada Manusia Kawat. Manusia yang tumbuh kawat-kawat dari perutnya. Ia tak habis pikir, mengapa semua itu bisa terjadi.
Belum sampai pukul 11 malam, Amat teler, lalu menyerah di tempat tidur. Ia bermimpi bertemu Gubernut baru. Ia membacakan permintaan tetangga soal jalan rusak itu. Heran ternyata Gubernur menanggapi serius. Menurut beliau jalan itu memang sangat penting. Bukan hanya diperbaiki, jalan itu akan diperlebar, sehingga menjadi jalan utama. Artinya akan ada penggusuran sekitar 20 meter. Itu berarti rumah tetangga yang mengusul perbaikan itu akan kena bongkar.
Tiba-tiba tubuh Amat diguncang. Amat gelagapan bangun. Bu Amat berdiri di depannya dan berbisik panik.
“Pak! Batalkan Surat Kepada Gubernur itu! Batalkan saja!”
“Kenapa?”
“Di depan rumah ada 20 orang tetangga menunggu, Bapak!”
“Kenapa?”
“Mereka mau nitip.”
“Nitip apa?”
“Ada yang anaknya tidak bisa bayar SPP. Ada yang berkelahi dengan saudaranya soal warisan. Ada yang suaminya kawin lagi. Ada yang hutangnya belum dibayar padahal sudah 5 tahun nunggak. Ada juga yang minta bantuan karena di PHK. Ada yang dapat kasus tabrak lari. Ada yang minta santunan untuk membayar rumah sakit, kalau tidak istrinya tidak bisa keluar. Ada yang minta bantuan sebab mau kredit motor pingin jadi tukang ojek. Ada yang …. “Su
03/01/09
Kekerasan
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
Tidak hanya di Monas, pada tanggal 1 Juni juga terjadi kebrutalan di rumahAmat. Apa pasal? Bu Amat mengobrak-abrik rumah dan membuang semua barang-barang siaminya yang dianggapnya sesat.
“Semua kenangan yang menyangkut perempuan lain dibakar, dibuang atau diberikan kepada tetangga,”kata Amat lari dari rumah, mengungsi ke tetangga, karena tak kuat melihat kezaliman itu. “Termasuk gambar bekas pacarku yang sudah jadi teman baik, bahkan sering bersilaturahmi ke rumah. Itu adalah kezaliman, pengaruh dari berbagai aksi berbagai organisasi yang kini seenaknya saja main hakim sendiri, mentang-mentang tidak pernah ditindak tegas!”
Ami yang menyusul Bapaknya berusaha mendinginkan suasana.
“Sebetulnya itu bukan kemauan murni dari Ibu.”
“Lalu siapa? Itu namanya cemburu buta!”
“Ibu hanya mengatakan, coba Ami, bersihkan segala meja, almari dan rak buku dari sampah-sampah tidak penting yang disimpan bapakmu, kalau tidak, rumah akan jadi keranjang sampah, kata Ibu. Lalu Ami menyortir mana yang harus dibakar, dibuang, diberikan tetangga dan mana yang boleh disimpan.”
“Kenapa semua foto dibakar. Itu pasti perintah Ibumu kan?”
“Bukan. Itu inisiatip Ami sendiri. Sebelum Ibu melihatnya sendiri, lebih baik Ami bakar. Bapak mestinya berterimakmasih sebab Ami sudah menyelamatkan. Coba tidak, Ibu akan lihat semua. Satu foto saja sudah bisa bikin Ibu kena serangan jantung. Apalagi beberapa foto.”
“Itu bukan berapa lagi. Ada seratus dua puluh foto!”
“Apalagi 120, Ibu bisa langsung angkat kopor, pulang ke kampung!”
“Tapi apa salahnya menyimpan foto. Kan hanya foto?”
“Bapak boleh berkata begitu. Tapi Ibu? Coba bayangkan sekarang kalau Bapak menemukan foto laki-laki lain di dompet Ibu, apa Bapak tidak curiga?”
“Ya curiga dong kan Bapak suami Ibumu yang sah!”
“Nah makanya!”
“Tapi jangan langsung gebrak main bakar. Bapak akan tanya baik-baik. Kenapa foto itu di simpan. Kalau alasannya masuk akal, kenapa harus marah?”
“Betul?”
“Ya marah juga. Masak istri menyimpan foto lelaki lain. Poliandri itu namanya. Dilarang undang-undang! Tidak bisa!”
“Bagaimana dengan poligami?”
“Poligami tidak dilarang, tapi Bapak juga anti poligami. Ibu kamu tahu itu. Jadi tidak perlu pakai main bakar-bakaran. Praktek kekerasan itu bertentangan dengan hakekat rumah-tangga yang harus saling cinta-mencintai!”
“Nah itu sama dengan Ibu. Di dalam rumah hanya ada satu suami dan satu istri!”
“Cocok! Makanya jangan main kekerasan!”
“Lho Ibu tidak melakukan kekerasan, itu Ami yang melakukannya. Ibu malah tidak tahu!”
Amat termenung.
“Jadi ide melakukan kekerasan itu bukan dari Ibu kamu?”
“Bukan! Itu inisiatip Ami. Jadi kalau Bapak mau marah, marah sama Ami saja! Jangan marah sama Ibu!”
“Kalau kamu membakar, tapi Ibu kamu tidak melarang, artinya dia menyetujui. Dan kalau dia menyetujui, berarti dia memang meniatkan dan merencanakan.”
“Salah!”
“Salahnya di mana?”
“Ibu pasti marah juga kalau tahu Ami sudah membakar, membuang dan memberikan kepada tetangga koleksi Bapak.. padahal Ibu hanya menyuruh membersihkan rumah dari sampah. Begitu! Jadi Bapak lebih baik pulang sekarang. Ibu sudah selesai masak. Mau pulang tidak? Atau mau berantem terus?”
Setelah berpikir panjang, menimbang untung-ruginya, Amat pulang mengikuti Ami. Masakan sudah terhidang. Amat langsung mengganyang. Bu Amat meladeni dengan mulut tertutup. Suasana jadi tegang.
“Kok diam saja,”tanya Amat.
“Habis kalau ngomong nanti takut salah. Lebih baik diam.”
“Jangan diam saja. Kalau ada apa-apa dibicarakan. Jangan main bakar seperti kejadian di Jakarta. Berbeda pendapat itu kan normal. Jangan langsung main kekerasan.”
“Kekerasan apa?”
“Itu foto-foto lama kenapa dibakar itu kan hanya dokumentasi?”
“Foto apa?”
“Itu foto Dik Nelly dan Dik Pertiwi, kok dibakar. Kan Ibu juga berteman baik dengan dia.”
Bu Amat terperanjat. Dia langsung masuk ke kamar Ami.
“Memang betul foto-foto koleksi bapak dibakar?”
Ami menjawab polos.
“Betul.”
“Kenapa?”
“Sebab di dalam rumah tangga hanya boleh ada satu suami dan satu istri!”
“Maksudmu kamu curiga Bapak mau kawin lagi?”
“Jangankan kawin lagi, punya pacar pun Ami tidak setuju!”
Bu Amat menggeleng-geleng.
“Ami kamu salah!”
“Salah bagaimana? Ami kan mau melindungi Ibu!”
“Salah!!! Bukan begitu caranya melindungi dan membela Ibu! Kalau betul mau melindungi Ibu, ada cara yang lebih baik.”
“Bagaimana?”
“Lebih baik Ibu bersaing dengan foto. Karena foto tetap saja foto. Daripada bersaing dengan orangnya. Jadi ayo kembalikan foto-foto koleksi bapakmu itu sekarang juga! Di mana kamu simpan? Belum dibakar kan? Kembalikan, kalau tidak Ibu marah!!!”
Dengan berat hati Ami membuka alamarinya. Lalu menyerahkan 120 buah foto koleksi Amat. Bu Amat menjerit di dalam hati melihat foto-foto perempuan yang sudah membayang-bayangi hidup Amat itu. Lalu membawanya ke meja makan.
“Ini semua koleksi Bapak masih lengkap,”kata Bu Amat sambil meletakkan semua foto itu di depan Amat, Silakan saja disimpan kalau masih sayang.”
Amat terperanjat. Setelah dapat menguasai pikirannya lagi, ia berhenti makan, lalu membawa foto-foto itu ke dapur dan membakarnya. Bau sangit foto yang terbakar memenuhi rumah, tercium oleh Bu Amat. Ia nampak sedih, karena kini ia tidak lagi bersaing dengan foto tetapi kembali berhadapan dengan orangnya yang asli.
http://putuwijaya.wordpress.com/
Tidak hanya di Monas, pada tanggal 1 Juni juga terjadi kebrutalan di rumahAmat. Apa pasal? Bu Amat mengobrak-abrik rumah dan membuang semua barang-barang siaminya yang dianggapnya sesat.
“Semua kenangan yang menyangkut perempuan lain dibakar, dibuang atau diberikan kepada tetangga,”kata Amat lari dari rumah, mengungsi ke tetangga, karena tak kuat melihat kezaliman itu. “Termasuk gambar bekas pacarku yang sudah jadi teman baik, bahkan sering bersilaturahmi ke rumah. Itu adalah kezaliman, pengaruh dari berbagai aksi berbagai organisasi yang kini seenaknya saja main hakim sendiri, mentang-mentang tidak pernah ditindak tegas!”
Ami yang menyusul Bapaknya berusaha mendinginkan suasana.
“Sebetulnya itu bukan kemauan murni dari Ibu.”
“Lalu siapa? Itu namanya cemburu buta!”
“Ibu hanya mengatakan, coba Ami, bersihkan segala meja, almari dan rak buku dari sampah-sampah tidak penting yang disimpan bapakmu, kalau tidak, rumah akan jadi keranjang sampah, kata Ibu. Lalu Ami menyortir mana yang harus dibakar, dibuang, diberikan tetangga dan mana yang boleh disimpan.”
“Kenapa semua foto dibakar. Itu pasti perintah Ibumu kan?”
“Bukan. Itu inisiatip Ami sendiri. Sebelum Ibu melihatnya sendiri, lebih baik Ami bakar. Bapak mestinya berterimakmasih sebab Ami sudah menyelamatkan. Coba tidak, Ibu akan lihat semua. Satu foto saja sudah bisa bikin Ibu kena serangan jantung. Apalagi beberapa foto.”
“Itu bukan berapa lagi. Ada seratus dua puluh foto!”
“Apalagi 120, Ibu bisa langsung angkat kopor, pulang ke kampung!”
“Tapi apa salahnya menyimpan foto. Kan hanya foto?”
“Bapak boleh berkata begitu. Tapi Ibu? Coba bayangkan sekarang kalau Bapak menemukan foto laki-laki lain di dompet Ibu, apa Bapak tidak curiga?”
“Ya curiga dong kan Bapak suami Ibumu yang sah!”
“Nah makanya!”
“Tapi jangan langsung gebrak main bakar. Bapak akan tanya baik-baik. Kenapa foto itu di simpan. Kalau alasannya masuk akal, kenapa harus marah?”
“Betul?”
“Ya marah juga. Masak istri menyimpan foto lelaki lain. Poliandri itu namanya. Dilarang undang-undang! Tidak bisa!”
“Bagaimana dengan poligami?”
“Poligami tidak dilarang, tapi Bapak juga anti poligami. Ibu kamu tahu itu. Jadi tidak perlu pakai main bakar-bakaran. Praktek kekerasan itu bertentangan dengan hakekat rumah-tangga yang harus saling cinta-mencintai!”
“Nah itu sama dengan Ibu. Di dalam rumah hanya ada satu suami dan satu istri!”
“Cocok! Makanya jangan main kekerasan!”
“Lho Ibu tidak melakukan kekerasan, itu Ami yang melakukannya. Ibu malah tidak tahu!”
Amat termenung.
“Jadi ide melakukan kekerasan itu bukan dari Ibu kamu?”
“Bukan! Itu inisiatip Ami. Jadi kalau Bapak mau marah, marah sama Ami saja! Jangan marah sama Ibu!”
“Kalau kamu membakar, tapi Ibu kamu tidak melarang, artinya dia menyetujui. Dan kalau dia menyetujui, berarti dia memang meniatkan dan merencanakan.”
“Salah!”
“Salahnya di mana?”
“Ibu pasti marah juga kalau tahu Ami sudah membakar, membuang dan memberikan kepada tetangga koleksi Bapak.. padahal Ibu hanya menyuruh membersihkan rumah dari sampah. Begitu! Jadi Bapak lebih baik pulang sekarang. Ibu sudah selesai masak. Mau pulang tidak? Atau mau berantem terus?”
Setelah berpikir panjang, menimbang untung-ruginya, Amat pulang mengikuti Ami. Masakan sudah terhidang. Amat langsung mengganyang. Bu Amat meladeni dengan mulut tertutup. Suasana jadi tegang.
“Kok diam saja,”tanya Amat.
“Habis kalau ngomong nanti takut salah. Lebih baik diam.”
“Jangan diam saja. Kalau ada apa-apa dibicarakan. Jangan main bakar seperti kejadian di Jakarta. Berbeda pendapat itu kan normal. Jangan langsung main kekerasan.”
“Kekerasan apa?”
“Itu foto-foto lama kenapa dibakar itu kan hanya dokumentasi?”
“Foto apa?”
“Itu foto Dik Nelly dan Dik Pertiwi, kok dibakar. Kan Ibu juga berteman baik dengan dia.”
Bu Amat terperanjat. Dia langsung masuk ke kamar Ami.
“Memang betul foto-foto koleksi bapak dibakar?”
Ami menjawab polos.
“Betul.”
“Kenapa?”
“Sebab di dalam rumah tangga hanya boleh ada satu suami dan satu istri!”
“Maksudmu kamu curiga Bapak mau kawin lagi?”
“Jangankan kawin lagi, punya pacar pun Ami tidak setuju!”
Bu Amat menggeleng-geleng.
“Ami kamu salah!”
“Salah bagaimana? Ami kan mau melindungi Ibu!”
“Salah!!! Bukan begitu caranya melindungi dan membela Ibu! Kalau betul mau melindungi Ibu, ada cara yang lebih baik.”
“Bagaimana?”
“Lebih baik Ibu bersaing dengan foto. Karena foto tetap saja foto. Daripada bersaing dengan orangnya. Jadi ayo kembalikan foto-foto koleksi bapakmu itu sekarang juga! Di mana kamu simpan? Belum dibakar kan? Kembalikan, kalau tidak Ibu marah!!!”
Dengan berat hati Ami membuka alamarinya. Lalu menyerahkan 120 buah foto koleksi Amat. Bu Amat menjerit di dalam hati melihat foto-foto perempuan yang sudah membayang-bayangi hidup Amat itu. Lalu membawanya ke meja makan.
“Ini semua koleksi Bapak masih lengkap,”kata Bu Amat sambil meletakkan semua foto itu di depan Amat, Silakan saja disimpan kalau masih sayang.”
Amat terperanjat. Setelah dapat menguasai pikirannya lagi, ia berhenti makan, lalu membawa foto-foto itu ke dapur dan membakarnya. Bau sangit foto yang terbakar memenuhi rumah, tercium oleh Bu Amat. Ia nampak sedih, karena kini ia tidak lagi bersaing dengan foto tetapi kembali berhadapan dengan orangnya yang asli.
23/12/08
Pemakaman Bekas Presiden
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
Opini televisi di Singapura cenderung menganggap almarhum Jendral Soeharto, presiden Indonesia selama 32 tahun, adalah bapak pembangunan. “Masyarakat memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh almarhum, tetapi mungkin tidak akan bisa melupakannya,”komentar seorang pengamat.
Penghargaan atas jasa almarhum yang dianggap telah membangun ekonomi Indonesia yang terpuruk di bawah presiden Soekarno, dikabarkan datang dari pejabat di Philipina, Malaysia, Amerika, Jepang dan Singapura sendiri. Pak Harto didudukkan sebagai orang penting dan kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang besar.
Almarhum dianggap membawa perkembangan baru yang memberikan iklim lain pada Indonesia yang sebelumnya berkonfrontasi dengan Malaysia. Juga disebut-sebut jasa almarhum sebagai salah seorang pelopor terbentuknya ASEAN.
Bung Franki yang sedang hendak menonton perayaan tahun baru China di Singapura, tertegun di depan pusat perbelanjaan Takasimaya, Orchard Street. Entah siapa yang mengirim, di HPnya muncul SMS: “Tolak pengibaran bendera setengah tiang dan penyiaran televisi berkelebihan. Sebarkan!”
Begitu selesai membaca, SMS lain muncul lagi dari Jakarta. “Manusia Indonesia pemaaf. Semua saluran televisi merasa tiba-tiba berada saat Orde Baru. Kini bahkan almarhum lebih hidup dan lebih berkuasa lagi.”
Franki cepat-cepat kembali ke kamar hotelnya. Lalu menonton upacara pemakaman almarhum di Astana Giri Bangun Solo, disaksikan oleh 2000 tamu-tamu. Di antaranya presiden SBY, wakil presiden, para pejabat dan tamu-tamu VIP dari mancanegara. Upacara berlangsung megah, layaknya kepergian seorang raja.
Memang Channel News Asia sudah sejak kemaren mengikuti dengan cermat dan mendetail seluruh peristiwa. Komentar dari orang awam pun ditampilkan. Rata-rata mengemukakan bahwa almarhum adalah orang baik. Almarhum telah membangun ekonomi Indonesia. “Bisa jadi ada cacadnya, tetapi kalau mau obyektif, keadaan sesudah almarhum memegang tapuk pemerintahan pun tidak lebih sehat,”kata seorang warga Jakarta di kantornya. Walhasil, terasa positip.
Franki termenung. Ia jadi teringat ketika bapaknya sendiri meninggal. Sedikit sekali yang mengantar. Keluarganya pun tak lengkap. Upacara berlangsung dengan sederhana bahkan nyaris papa. Orang mengucapkan duka setengah basa-basi. Tak ada yang merasa sedih, karena yang meninggal dianggap sudah waktunya pergi.
“Padahal Bapakmu itu sebenarnya belum tua. Pensiun pun belum,”kata Ibu Franki, “Tak pernah merecoki orang. Apa tugas-tugasnya dilaksanakan dengan baik. Tidak curang dalam soal uang. Hanya saja ia memang agak nakal, karena suka perempuan. Tapi ibu memaafkannya, karena memang itulah kelemahannya.”
Kemalangan datang beruntun setelah ayah Franky tak ada. Seseorang datang mengaku rumah yang ditempati keluarga Franky adalah milik mereka. Dulu itu dipinjam oleh almarhum. Karena sekarang almarhum sudah tak ada, pemiliknya akan mempergunakan sendiri. Pernyataan itu disertai dengan surat-surat lengkap, dikawal oleh RT dan RW serta petugas, terpaksa Franky dan ibunya pindah.
“Apakah ayah bisa masuk surga setelah meninggalkan kita dalam keadaan tuna wisma seperti ini?”tanya Franky kalau lagi iseng.
Ibunya hanya menjawab.
“Bapakmu sendiri pun mungkin menolak masuk surga, karena dia tahu dia sudah mentelantarkan kita seperti ini. Padahal dulu janjinya akan membahagiakan kita. Ibu sendiri tidak mendoakan supaya Bapak masuk surga. Tidak. Yang Ada Di Atas Sana pasti akan memberikan tempat yang semestinya sesuai dengan perilaku bapakmu. Kalau bapakmu karmanya memang buruk, untuk apa mendapat tempat yang baik. Pasti tempat baik hanya untuk orang yang baik. Dan kalau bapakmu memang baik, tak akan mungkin salah kamar di tempatkan di neraka.”
Franky melihat kembali ke layar kaca. Upacara sudah berakhir. Bunga telah dtaburkan dan tamu-tamu VIP sudah mulai pulang. Hanya rakyat yang masih ada di jalanan. Lalu Franky mengambil HP dan menjawab SMS liar itu.
“Semoga almarhum mendapat tempat yang semestinya di sana.”
Tapi setelah itu, ia tidak tahu bagaimana menjawab anjuran untuk menolak pengibaran bendera dan penyiaran tv yang berlebihan.
“Pasti pengirim SMS ini tak suka kalau almarhum terlalu dibesar-besarkan, sementara banyak hal yang masih perlu dijelaskan, “kata Franki kepada istrinya, “inilah demokrasi. Kita boleh dan bebas berpendapat. Asal kita kemudian tidak memaksakan apa yang kita inginkan itu terjadi. Karena kehendak orang banyak yang beralku. Kalau kalah suara, meskipun keki, mesti berani menerima, jangan lalu ngamuk dan memaksakan mau menang. Harus berjuang mengumpulkan lebih banyak sauara , jangan maksa begini!”
Istri Franki melotot.
“Maksud Abang apa?”
“SMS ini seperti orang marah dan memberi aku perintah!”
“Itu karena Abang tidak setuju!”
“Bukan! Aku cuma tidak suka caranya. Coba baca, masak dia bilang: sebarkan! Dia pikir, makin keras berteriak makin benar! Itulah jadinya pendidikan yang sudah ditanamkan oleh kekuasaan otoriter di masa lalu. Kita semua jadi terlatih jadi anarkhis! Mau menang sendiri! Bagaimana bisa belajar demokrasi kalau mau menang sendiri! Mau apa kalau nyatanya rakyat lebih banyak mencintai almarhum?”
“Aku tidak mau menang sendiri, aku hanya menganjurkan! Abang saja yang terlalu sensitif!”
Franki terkejut.
“O jadi yang menulis SMS itu kamu?”
Istri Franki melotot.
“Kenapa jadi menuduh begitu?”
“Habis kamu membela!”
“Siapa yang membela? Membela apa?”
“Kamu setuju upacara pemakaman almarhum begitu dibesar-besarkan, sampai tujuh hari bendera berkabung?”
“Tapi itu layaknya untuk seorang bekas presiden! Semua p;residen kita yang mana pun harus begitu caranya dimakamkan! Kalau tidak, berarti dosa!”
http://putuwijaya.wordpress.com/
Opini televisi di Singapura cenderung menganggap almarhum Jendral Soeharto, presiden Indonesia selama 32 tahun, adalah bapak pembangunan. “Masyarakat memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh almarhum, tetapi mungkin tidak akan bisa melupakannya,”komentar seorang pengamat.
Penghargaan atas jasa almarhum yang dianggap telah membangun ekonomi Indonesia yang terpuruk di bawah presiden Soekarno, dikabarkan datang dari pejabat di Philipina, Malaysia, Amerika, Jepang dan Singapura sendiri. Pak Harto didudukkan sebagai orang penting dan kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang besar.
Almarhum dianggap membawa perkembangan baru yang memberikan iklim lain pada Indonesia yang sebelumnya berkonfrontasi dengan Malaysia. Juga disebut-sebut jasa almarhum sebagai salah seorang pelopor terbentuknya ASEAN.
Bung Franki yang sedang hendak menonton perayaan tahun baru China di Singapura, tertegun di depan pusat perbelanjaan Takasimaya, Orchard Street. Entah siapa yang mengirim, di HPnya muncul SMS: “Tolak pengibaran bendera setengah tiang dan penyiaran televisi berkelebihan. Sebarkan!”
Begitu selesai membaca, SMS lain muncul lagi dari Jakarta. “Manusia Indonesia pemaaf. Semua saluran televisi merasa tiba-tiba berada saat Orde Baru. Kini bahkan almarhum lebih hidup dan lebih berkuasa lagi.”
Franki cepat-cepat kembali ke kamar hotelnya. Lalu menonton upacara pemakaman almarhum di Astana Giri Bangun Solo, disaksikan oleh 2000 tamu-tamu. Di antaranya presiden SBY, wakil presiden, para pejabat dan tamu-tamu VIP dari mancanegara. Upacara berlangsung megah, layaknya kepergian seorang raja.
Memang Channel News Asia sudah sejak kemaren mengikuti dengan cermat dan mendetail seluruh peristiwa. Komentar dari orang awam pun ditampilkan. Rata-rata mengemukakan bahwa almarhum adalah orang baik. Almarhum telah membangun ekonomi Indonesia. “Bisa jadi ada cacadnya, tetapi kalau mau obyektif, keadaan sesudah almarhum memegang tapuk pemerintahan pun tidak lebih sehat,”kata seorang warga Jakarta di kantornya. Walhasil, terasa positip.
Franki termenung. Ia jadi teringat ketika bapaknya sendiri meninggal. Sedikit sekali yang mengantar. Keluarganya pun tak lengkap. Upacara berlangsung dengan sederhana bahkan nyaris papa. Orang mengucapkan duka setengah basa-basi. Tak ada yang merasa sedih, karena yang meninggal dianggap sudah waktunya pergi.
“Padahal Bapakmu itu sebenarnya belum tua. Pensiun pun belum,”kata Ibu Franki, “Tak pernah merecoki orang. Apa tugas-tugasnya dilaksanakan dengan baik. Tidak curang dalam soal uang. Hanya saja ia memang agak nakal, karena suka perempuan. Tapi ibu memaafkannya, karena memang itulah kelemahannya.”
Kemalangan datang beruntun setelah ayah Franky tak ada. Seseorang datang mengaku rumah yang ditempati keluarga Franky adalah milik mereka. Dulu itu dipinjam oleh almarhum. Karena sekarang almarhum sudah tak ada, pemiliknya akan mempergunakan sendiri. Pernyataan itu disertai dengan surat-surat lengkap, dikawal oleh RT dan RW serta petugas, terpaksa Franky dan ibunya pindah.
“Apakah ayah bisa masuk surga setelah meninggalkan kita dalam keadaan tuna wisma seperti ini?”tanya Franky kalau lagi iseng.
Ibunya hanya menjawab.
“Bapakmu sendiri pun mungkin menolak masuk surga, karena dia tahu dia sudah mentelantarkan kita seperti ini. Padahal dulu janjinya akan membahagiakan kita. Ibu sendiri tidak mendoakan supaya Bapak masuk surga. Tidak. Yang Ada Di Atas Sana pasti akan memberikan tempat yang semestinya sesuai dengan perilaku bapakmu. Kalau bapakmu karmanya memang buruk, untuk apa mendapat tempat yang baik. Pasti tempat baik hanya untuk orang yang baik. Dan kalau bapakmu memang baik, tak akan mungkin salah kamar di tempatkan di neraka.”
Franky melihat kembali ke layar kaca. Upacara sudah berakhir. Bunga telah dtaburkan dan tamu-tamu VIP sudah mulai pulang. Hanya rakyat yang masih ada di jalanan. Lalu Franky mengambil HP dan menjawab SMS liar itu.
“Semoga almarhum mendapat tempat yang semestinya di sana.”
Tapi setelah itu, ia tidak tahu bagaimana menjawab anjuran untuk menolak pengibaran bendera dan penyiaran tv yang berlebihan.
“Pasti pengirim SMS ini tak suka kalau almarhum terlalu dibesar-besarkan, sementara banyak hal yang masih perlu dijelaskan, “kata Franki kepada istrinya, “inilah demokrasi. Kita boleh dan bebas berpendapat. Asal kita kemudian tidak memaksakan apa yang kita inginkan itu terjadi. Karena kehendak orang banyak yang beralku. Kalau kalah suara, meskipun keki, mesti berani menerima, jangan lalu ngamuk dan memaksakan mau menang. Harus berjuang mengumpulkan lebih banyak sauara , jangan maksa begini!”
Istri Franki melotot.
“Maksud Abang apa?”
“SMS ini seperti orang marah dan memberi aku perintah!”
“Itu karena Abang tidak setuju!”
“Bukan! Aku cuma tidak suka caranya. Coba baca, masak dia bilang: sebarkan! Dia pikir, makin keras berteriak makin benar! Itulah jadinya pendidikan yang sudah ditanamkan oleh kekuasaan otoriter di masa lalu. Kita semua jadi terlatih jadi anarkhis! Mau menang sendiri! Bagaimana bisa belajar demokrasi kalau mau menang sendiri! Mau apa kalau nyatanya rakyat lebih banyak mencintai almarhum?”
“Aku tidak mau menang sendiri, aku hanya menganjurkan! Abang saja yang terlalu sensitif!”
Franki terkejut.
“O jadi yang menulis SMS itu kamu?”
Istri Franki melotot.
“Kenapa jadi menuduh begitu?”
“Habis kamu membela!”
“Siapa yang membela? Membela apa?”
“Kamu setuju upacara pemakaman almarhum begitu dibesar-besarkan, sampai tujuh hari bendera berkabung?”
“Tapi itu layaknya untuk seorang bekas presiden! Semua p;residen kita yang mana pun harus begitu caranya dimakamkan! Kalau tidak, berarti dosa!”
17/12/08
Pertunjukan ZERO
Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/
ZeroERLIS:Saya, bu Melani, dan Pak Sapardi sedang menyusun sebuah penelitian mengenai teater eksperimental, saya diminta untuk membaca dan memahami naskah-naskah drama eksperimental.
Saya sudah menonton teater Zero di Cd, saya tidak terlalu puas karena saya tidak dapat merasakan totalitas sebuah pertunjukan teater. Suasana magis yang dicoba dibangunkan lewat pertunjukan tersebut.
Saya membayangkan kalau saya benar-benar ada di arena saya mungkin akan mencium bau dupa atau apa pun bentuk bau lainnya yang membawa kita semua, penonton, ke suasana magis, apakah itu benar?
Saya dulu sekitar tahun 1970-an, saat saya masih di sekolah, SMP dan SMA, pernah beberapa kali menonton teater pak Arifin C. Noer, “Kapai-Kapai” dan “Tengul”, sayang memang saya tidak sempat menonton “Aduh” dan “Lho”, maklum masih anak sekolah.
PW: Menonton langsung dan menonton rekaman pertunjukan memang berbeda sekali. Ketika menonton langsung memang benar bukan tontonan itu, saja yang tertangkap tetapi juga suasana dalam pertunjukan. Enersi dari penonton lain juga ikut menggetarkan saraf-saraf.Sementara rekaman kamera sudah amat dipengarugi oleh potensi kamera itu ( yang kepekaannya beda dengan mata telanjang) juga oleh “selera” juru kameranya. Jadi rekaman seperti juga terjemahan puisi bisa lebih bagus atau lebih buruk dari aslinya.Namun minimal dari sebuah rekaman akan dapat dilihat ide-ide yang mungkin akan terlewatkan dalam pertunjukan langsung, karena rekaman dapat dilihat berkali-kali. Jadi rekaman mesti dilihat berkali-kali dan didiskusikan.
ERLIS:Menonton Zero sedikit mengingatkan saya pada suasana itu, tetapi jauh berbeda. Saya pernah membaca tulisan Goenawan mengenai Teater Indonesia Mutakhir: Sebuah Catatan.Di dalam tulisan itu disebutkan bahwa teater Mutakhir konsepnya adalah sebuah teater puisi, teater puisi yang sesungguhnya, karena semuanya berawal dari sebuah pengalaman berteater, seperti yang saya baca dari artikel-artikel mengenai pertunjukan “Lho” di tahun 1970-an yang semuanya berawal dari sebuah pengalaman “latihan mengolah tubuh”.Apabila “Lho” merupakan sebuah hasil pengalaman berteater Pak Putu di tahun 1970-an, bagaimana proses terjadinya “Zero”, apa perkembangannya dari “Lho”, saya melihat kalau dulu mungkin baru sampai pada tahap pengolahan tubuh, tetapi untuk tahun 2004 pak Putu sudah sampai pada tahap pengolahan warna, bentuk panggung, dan suara yang lebih optimal. PW: LHO saya buat pada tahun 1975, ketika baru pulang dari International; Writing Program di Iowa dan kemudian singgah main di Festival Nancy. Tidak didasari oleh konsep atau keinginan apa pun.Hanya latihan saja tanpa target. Kami lakukan setiap malam, sesudah TIM sepi dan tidak ada kegiatan.
Pesertanya siapa saja. Mereka tidak diundang, tapi bergabung semdiri. Kebanyakan para mahasiswa teater LPKJ (sekarang IKJ) yang waktu itu banyak tidur di kampus yang kerika itu belum dibangun gedung seperti sekarang.Pelukis Nashar tertaruk oleh latihan kami. Dia terus nongkrongin kami dan akhirnya ikut terlibar dalam proses kami. Kami berelatih merespon benda-beneda yang ada di sekitar kamui. Misalnya gerobak samaph, roda pedati, boneka, bambu, topeng. Perlahan-lahan muncul bentuk-bentuk.
Akhirnya setelah 4 buklan berlatih muncul keinginan untuk mementaskan hasil latihan itu di teater Arena TIM. Selama 3 hari pertunjukan dengan dukungan musik oleh Kompyang Raka juga ditambah dengan kehadiran Wayan Diya, pertunjukan berlangusng 3 hari dan padat pengunjung.
Di akhir pertunjukan saya minta penonton keluar, karena pertunjukan akan duilanjutkan di plaza. Kemudian saya minta siapa saja yang bersedia, naik ke gerobak dengan telanjang bulat. Kemudian gerobak ditarik ke kolam. Orang-orang telanjang itu dibuang ke kolam seperti sampah.
Sementara di kolah yang lain, beberapa orang jongkok dengan pakai sarung, seperti kebiasaan orang berak di kali, sambil bicara masalah-masalah politik.
Sesudah LHO saya meneruskan dengan pementasan ENTAH dan NOL, keduanya juga tanpa memakai kata-kata. Tetapi penontonnya susut dan pada NOL nyaris habis. Setelah itu saya memutuskan untuk berhenti, karena merasa penonton memetrlukan cerita dan kata-kata.
Pada 1991, dalam rangka KIAS, pameran kebudayaan Indonesia di Amerika selama setahun penbuh, Teater Mandiri mementaskan pertunjukan di 4 kota Amerika. Waktu itu saya memutuskan untuk kembali kepada LHO dan membawa pertunjukan tanpa kata dan tanpa cerita. Kami mementaskan YEL dengan musik Harry Roesly dan mendapat sambutan bagus sekali.
Pulang dari KIAS saya mulai menekuni pertunjukan tanpa kata-kata itu. Dengan memakai layar besar (15 X 9 meter) saya memainkan bayangan-bayangan, karena tergugah oleh bayangan di air yang tertiup angin.
Dengan melalukan distorsi pada bentuk, muncul sensasi yang fantastis dan mengagetkan. Teater Mandiri kemudian mementaskan YEl II, BOR, NGEH (Art Summit 2).
Pada thn 2000 untuk pertama kalinya kami memainkan naskah orang lain (Kuo Pao Kun dari Singapura: The Coffin is too Big for the Hole) dalam festival di Tokyo.
Atras izin Pao Kun, kami memainkan naskah itu secara visual. Pada 2001 Festival Asia Meets Asia di Jepang, mengundang Mandiri dan Mandiri datang dengan mementaskan WAR.
Ide War adalah kenyataan bahwa dengan dalih mengejar perdamaian, manusia menempuh jalan yang berbeda-beda bahkan bertentangan, sehingga bukan perdamaian yang tercipta tetapi perang.
Pada 2003 Asia Meets Asia berlangusng di Taipe, kembali kami diundang. Saya meneruskan obsessi saya tentang perang. Kalau dalam WAR kami menontonkan bagaimana perdamaian membawa orang untuk berperang, lalu timbul pertanyaan, bagaimana sesungguhnya jalan terbaik untuk sampai pada damai.
Waktu itu saya pikir, sesuai dengan konteks Indonesia yang carut-marut karen reformasi, untuk menghentikan perang, semua orang harus kembali kem zone ZERO. Kita harus sama-sama nol, kosong. Barangkali dengan cara itu baru kitra bisa melangkah bersama-sama.
Dari Taipeh dikabarkan bahwa kami akan main dalam tenda sirkus dengan areal panggung yang relative sempit. Karena tak mungkion menggantung layar lagi, layar kami lepas, dan kami main di dalam layar, sehingga idiom bayangf tetap bisa terpakai.
Walhasil, sebenarnya kami tidak pernah melakukan eksperimen. Semua langkah kami adalah jawaban dari situasi yang ada. ZERO pun adalah sebuah jawaban dari tempat, waktu dan situasi ( dalam pemahaman orang Bali disebut : Desa-Kala-Patra)
Khusus untuk musik. Dalam bekerjasama dengan Harry Roesly, yang sering ter4jadi adalah jam session. Harry membaca gambar-gambar di lantai pentas sebagai partitur dan menciptakan musiknya.
Kami sendiri mencoba merespons musik itu sambil mengusung bentuk-bentuk yang sudah kami rencanakan. Jadi pertunjukan bisa berubah setiap saat. Dalam ZERO, karena orang yang bisa dibawa ke Taipeh terbatas, kami terpaksa hanya membawa rekaman musik Harry.
Mas Roedjito juga tidak dibawa karena sudah tak ada. Itulah awalnya kami bermain tanpa Harry dan DKSB. Sesudah ZERO, kami masih sempat main ZOOM dengan HARRY. Tapi setelah itu Harry meninggal dan saya merasa ZERO seperti semacam persiapan bekerja tanpa Harry dan tanpa Roedjito
LHO, ENTAH dan NOL, saya masih ditemani oleh Kompyang raka dengan musik Bali. Target saya masih hanya penonton di Jakarta. ZERO saya ditemani oleh musik Harry Roesly yang memanfaatkan unsur Sunda, Bali dan musik digital. Targetnya sudah mencakup penonton asing (bukan hanya Indonesia)
ERLIS: Saya menonton “Zero” saya merasa dibawa ke suasana sedih, saya seperti melihat sebuah pertarungan untuk menghadapi kelahiran. Bagaimana pergulatan janin untuk “menjadi”.Munculnya seorang Taiwan di awal pertunjukan membuat suasana menjadi magis karena suara yang dikeluarkannya dalam bahasa Taiwan atau bukan saya tidak tahu membawa kita ke dunia antah berantah, tapi saya ingat suasana “mungkin” ya Pak suasana pemujaan di dalam agama Hindu atau Budha, itu bayangan saya.
Kemudian muncul warna-warna dan bentuk-bentuk tak jelas, yang jelas justru kesan sebuah “pergulatan”. bayangan seorang perempuan muncul dengan mungkin liang rahim. kain-kain transparan yang menutupi membawa pada suasana atau mengingatkan pada bayangan plasenta.
Sebagai seorang ibu saya dapat merasakan dan mengingat kembali bagaimana perjuangan seorang ibu saat melahirkan. Benar pak, saya menjadi teringat kembali saat-saat melahirkan, bayangan itu sudah agak kabur bagi saya karena saya sudah melampaui saat-saat itu enam tahun yang lalu, anak saya terkecil umur 6 tahun, tetapi saat-saat itu tidak terlupakan bagi seorang ibu pak, nah, saya rasakan selanjutnya adalah rasa ketakutan dan rasa kesakitan yang mendalam dari seorang janin yang akan menghadapi dunia yang carut marut, secara fisik saja seorang janin sudah harus berjuang, apalagi secara moral.
Itu yang saya rasakan Pak, saya “merasakan” pak, bukan “memahami” atau “menonton” kalau saya sekadar “menonton” mungkin saya tidak akan mendapatkan apa pun dari apa yang dipertunjukkan, hanya saja sayang sekali yang dapat saya rasakan itu tidak terlalu optimal karena saya tidak hadir secara langsung saat pertunjukan.
PW: Orang Taiwan yang ada dalam rekaman Zero itu adalah Mr. Chung, sutradara dan aktor terkenal di Taipeh. Ia menjadi tuan rumah saya di Taipe dan sengaja datang untuk ikut main.
Dia memberi komentar pada Teater Mandii sebagai People Theatre – teater orang kebanyakan, sebab kami memang tidak “memulyakan” aktor. Semua orang yang bukan aktor bisa/boleh ikut main.
Apa yang dilakukan Chung dalam ZERO adalah keterlibatan yang l;ebih banyak improvisasinya. Saya hanya memberikan sedikit arahan, sesudah itu terserah dia. Kami memang biasa berjalan seperti itu, meneror dan sekalian diteror.
Apa yang tertangkap dan terasa oleh Erlis ketika melihat rekaman ZERO tidak harus dicari pembenarannya pada orang lain atau pada saya atau pada Teater Mandiri. Setiap latar belakang memang akan memiliki reaksi atau penagkapan masing-masing pada imij-imij liar yang kami lemparkan.
Itu menjadi bagian dari kekayaan pementasan itu sendiri. Penonton ikut mencipta. Dan saya ikut menonton apa yang diterima setiap penontin tatkala menonton. Kebenaran dengan demikian jadi bertumpuk dan berlapis-lapis.
ERLIS:Pak, boleh saya bertanya mungkin seorang penonton dapat menafsirkan apa pun mengenai apa yang Bapak pertunjukan, tetapi mungkin Bapak dapat bercerita mengenai bagaimana melakukan pertunjukan tersebut, apa yang membawa Bapak ke sebuah pertunjukan yang demikian, saya menonton dengan seorang Bali, kami berdiskusi apa yang menjadi dasar pertunjukan ini, ternyata di dalamnya ada banyak sekali dasar, Pak Putu tidak saja mendasarkan diri pada budaya Bali, karena teman saya yang orang Bali itu tidak dapat mengenali dengan baik budaya Bali yang “mungkin” muncul dalam pertunjukan tersebut.Saya justru menemukan suara-suara seperti gamelan Jawa dan teman saya yang orang Sunda seperti mendengar suling Sunda. saya jadi curiga bahwa apa yang dipertunjukkan sudah bersifat minimal mengindonesia, kita singkirkan dulu orang Taiwan, kalau dihitung mungkin sudah juga menginternasional.
Pak Putu yang hidup di Jakarta dan bergaul dengan berbagai macam orang membaca berbagai hal, mungkin menjadikan pertunjukan ini menjadi semakin kaya.
PW: Saya orang Bali. Orang tua saya Bali dan saya lahir di Bali dan besar di Bali sajmpai tamat SMA. Tapi seluruh hidup saya lebih banyak di luat Bali. Bila diukurkan dengan orang Bali yang lain, saya mungkin orang Bali yang sudah terkontaminasi. Orang Bali yang sudah salah format.Orang Bali yang sudah eror. Orang Bali yang sudah murtad. Tetapi dengan semua itu, saya jadi memiliki jarak dengan Bali, sehingga saya berpikir tidak sebagaimana orang Bali umumnya. Bali yang Anda lihat dalam garapan saya bukan hanya teater, juga sastra, sudah lain.
Jadi kalau ada orang Bali yang tidak mengenal saya, itu wajar sekali. Namun saya percaya, apa pun saya sekarang, bahkan tidak mengaku pun, saya tetap saja orang Bali. Saya sudah terkutuk sebagai Bali, sehingga walau memakai jean dan makan McDonald dan “bergaya” seperti orang jajasahan jawa dan SUnda (istri saya duklu jawa, sekarang Sunda) saya tetap otang Bali, saya sudah dikutuk jadi orang Balim dan tidak bisa lain lagi.
Dengan berpikir seperti itu, saya selalu bebas dalam bekerja, sama sekali tidak ada keingionan untuk membali-balikan diri.
ERLIS: Satu hal lagi suara angin yang terus menerus mengikuti selama pertunjukan memberi kesan suasana genting.Boleh saya bertanya mengenai konsep reinkarnasi dalam proses “penjadian” manusia dalam budaya Bali yang mungkin menjadi dasar pertunjukan ini. dengan konsep ini sang janin (dalam konsep reinkarnasi yang saya pahami) yang sudah pernah ada di dunia, tentunya akan mengalami banyak sekali ketakutan untuk “hadir” kembali ke dunia.
Pergulatan fisik dan moral pasti akan terjadi, apakah ini yang menjadi konsep dasar pertunjukan ini, atau mungkin yang lain, apa pun sebenarnya tidak menjadi soal, menurut saya hadir di pertunjukan Zero adalah menyediakan diri untuk mendapatkan efek-efek kreativitas seni yang seutuhnya.
PW: Saya suka pada reinterpretasi dan reposisi. Reinkarnasi, tidak harus terjadi dengan kematian terlebih dahulu. Bagi saya pergantian hari, bahkan helaan nafas adalah ptoses bernafas adalah miniature dari reinkarnasi.Kita bisa lahir kembali setiap saat, belajar kembali, mulai dari nol kembali, asal saja kita bersedia dan bertekad untuk layhir kembali setiap saat. Saya memnganggap desa-kala-patra juga semacap fotmula yang menyebabkan manusia bis berreinkarnasi seriap saat asal mau dan bertekad.
Dan itu memang sakit. Karena itu berarti meruntuhkann, menendang, membalik semua yang sudah ada menjadi nol kembali dan baru.
ERLIS: Maaf Pak Putu terlalu panjang ya, mudah-mudahan tidak bosan.Saya akhiri dulu Pak, terima kasih sekali. PW: Saya sengaja menjawab panjang lebar, sebab saya juga ingin mendokumentasikan tanya-jawab ini, bagi beberapa orang, siapa saja yang ingin tahu lebih jauh tentang perjalanan Teater mandiri.Seorang mahasiswi IKJ misalnya kiemaren datang dan menyatakan keingihnannya untuk membuat skripsi tentang gaya pementasan Teater Mandiri sesudah tahun 2000, khusunya ZOOM dan ZERO.
http://putuwijaya.wordpress.com/
ZeroERLIS:Saya, bu Melani, dan Pak Sapardi sedang menyusun sebuah penelitian mengenai teater eksperimental, saya diminta untuk membaca dan memahami naskah-naskah drama eksperimental.
Saya sudah menonton teater Zero di Cd, saya tidak terlalu puas karena saya tidak dapat merasakan totalitas sebuah pertunjukan teater. Suasana magis yang dicoba dibangunkan lewat pertunjukan tersebut.
Saya membayangkan kalau saya benar-benar ada di arena saya mungkin akan mencium bau dupa atau apa pun bentuk bau lainnya yang membawa kita semua, penonton, ke suasana magis, apakah itu benar?
Saya dulu sekitar tahun 1970-an, saat saya masih di sekolah, SMP dan SMA, pernah beberapa kali menonton teater pak Arifin C. Noer, “Kapai-Kapai” dan “Tengul”, sayang memang saya tidak sempat menonton “Aduh” dan “Lho”, maklum masih anak sekolah.
PW: Menonton langsung dan menonton rekaman pertunjukan memang berbeda sekali. Ketika menonton langsung memang benar bukan tontonan itu, saja yang tertangkap tetapi juga suasana dalam pertunjukan. Enersi dari penonton lain juga ikut menggetarkan saraf-saraf.Sementara rekaman kamera sudah amat dipengarugi oleh potensi kamera itu ( yang kepekaannya beda dengan mata telanjang) juga oleh “selera” juru kameranya. Jadi rekaman seperti juga terjemahan puisi bisa lebih bagus atau lebih buruk dari aslinya.Namun minimal dari sebuah rekaman akan dapat dilihat ide-ide yang mungkin akan terlewatkan dalam pertunjukan langsung, karena rekaman dapat dilihat berkali-kali. Jadi rekaman mesti dilihat berkali-kali dan didiskusikan.
ERLIS:Menonton Zero sedikit mengingatkan saya pada suasana itu, tetapi jauh berbeda. Saya pernah membaca tulisan Goenawan mengenai Teater Indonesia Mutakhir: Sebuah Catatan.Di dalam tulisan itu disebutkan bahwa teater Mutakhir konsepnya adalah sebuah teater puisi, teater puisi yang sesungguhnya, karena semuanya berawal dari sebuah pengalaman berteater, seperti yang saya baca dari artikel-artikel mengenai pertunjukan “Lho” di tahun 1970-an yang semuanya berawal dari sebuah pengalaman “latihan mengolah tubuh”.Apabila “Lho” merupakan sebuah hasil pengalaman berteater Pak Putu di tahun 1970-an, bagaimana proses terjadinya “Zero”, apa perkembangannya dari “Lho”, saya melihat kalau dulu mungkin baru sampai pada tahap pengolahan tubuh, tetapi untuk tahun 2004 pak Putu sudah sampai pada tahap pengolahan warna, bentuk panggung, dan suara yang lebih optimal. PW: LHO saya buat pada tahun 1975, ketika baru pulang dari International; Writing Program di Iowa dan kemudian singgah main di Festival Nancy. Tidak didasari oleh konsep atau keinginan apa pun.Hanya latihan saja tanpa target. Kami lakukan setiap malam, sesudah TIM sepi dan tidak ada kegiatan.
Pesertanya siapa saja. Mereka tidak diundang, tapi bergabung semdiri. Kebanyakan para mahasiswa teater LPKJ (sekarang IKJ) yang waktu itu banyak tidur di kampus yang kerika itu belum dibangun gedung seperti sekarang.Pelukis Nashar tertaruk oleh latihan kami. Dia terus nongkrongin kami dan akhirnya ikut terlibar dalam proses kami. Kami berelatih merespon benda-beneda yang ada di sekitar kamui. Misalnya gerobak samaph, roda pedati, boneka, bambu, topeng. Perlahan-lahan muncul bentuk-bentuk.
Akhirnya setelah 4 buklan berlatih muncul keinginan untuk mementaskan hasil latihan itu di teater Arena TIM. Selama 3 hari pertunjukan dengan dukungan musik oleh Kompyang Raka juga ditambah dengan kehadiran Wayan Diya, pertunjukan berlangusng 3 hari dan padat pengunjung.
Di akhir pertunjukan saya minta penonton keluar, karena pertunjukan akan duilanjutkan di plaza. Kemudian saya minta siapa saja yang bersedia, naik ke gerobak dengan telanjang bulat. Kemudian gerobak ditarik ke kolam. Orang-orang telanjang itu dibuang ke kolam seperti sampah.
Sementara di kolah yang lain, beberapa orang jongkok dengan pakai sarung, seperti kebiasaan orang berak di kali, sambil bicara masalah-masalah politik.
Sesudah LHO saya meneruskan dengan pementasan ENTAH dan NOL, keduanya juga tanpa memakai kata-kata. Tetapi penontonnya susut dan pada NOL nyaris habis. Setelah itu saya memutuskan untuk berhenti, karena merasa penonton memetrlukan cerita dan kata-kata.
Pada 1991, dalam rangka KIAS, pameran kebudayaan Indonesia di Amerika selama setahun penbuh, Teater Mandiri mementaskan pertunjukan di 4 kota Amerika. Waktu itu saya memutuskan untuk kembali kepada LHO dan membawa pertunjukan tanpa kata dan tanpa cerita. Kami mementaskan YEL dengan musik Harry Roesly dan mendapat sambutan bagus sekali.
Pulang dari KIAS saya mulai menekuni pertunjukan tanpa kata-kata itu. Dengan memakai layar besar (15 X 9 meter) saya memainkan bayangan-bayangan, karena tergugah oleh bayangan di air yang tertiup angin.
Dengan melalukan distorsi pada bentuk, muncul sensasi yang fantastis dan mengagetkan. Teater Mandiri kemudian mementaskan YEl II, BOR, NGEH (Art Summit 2).
Pada thn 2000 untuk pertama kalinya kami memainkan naskah orang lain (Kuo Pao Kun dari Singapura: The Coffin is too Big for the Hole) dalam festival di Tokyo.
Atras izin Pao Kun, kami memainkan naskah itu secara visual. Pada 2001 Festival Asia Meets Asia di Jepang, mengundang Mandiri dan Mandiri datang dengan mementaskan WAR.
Ide War adalah kenyataan bahwa dengan dalih mengejar perdamaian, manusia menempuh jalan yang berbeda-beda bahkan bertentangan, sehingga bukan perdamaian yang tercipta tetapi perang.
Pada 2003 Asia Meets Asia berlangusng di Taipe, kembali kami diundang. Saya meneruskan obsessi saya tentang perang. Kalau dalam WAR kami menontonkan bagaimana perdamaian membawa orang untuk berperang, lalu timbul pertanyaan, bagaimana sesungguhnya jalan terbaik untuk sampai pada damai.
Waktu itu saya pikir, sesuai dengan konteks Indonesia yang carut-marut karen reformasi, untuk menghentikan perang, semua orang harus kembali kem zone ZERO. Kita harus sama-sama nol, kosong. Barangkali dengan cara itu baru kitra bisa melangkah bersama-sama.
Dari Taipeh dikabarkan bahwa kami akan main dalam tenda sirkus dengan areal panggung yang relative sempit. Karena tak mungkion menggantung layar lagi, layar kami lepas, dan kami main di dalam layar, sehingga idiom bayangf tetap bisa terpakai.
Walhasil, sebenarnya kami tidak pernah melakukan eksperimen. Semua langkah kami adalah jawaban dari situasi yang ada. ZERO pun adalah sebuah jawaban dari tempat, waktu dan situasi ( dalam pemahaman orang Bali disebut : Desa-Kala-Patra)
Khusus untuk musik. Dalam bekerjasama dengan Harry Roesly, yang sering ter4jadi adalah jam session. Harry membaca gambar-gambar di lantai pentas sebagai partitur dan menciptakan musiknya.
Kami sendiri mencoba merespons musik itu sambil mengusung bentuk-bentuk yang sudah kami rencanakan. Jadi pertunjukan bisa berubah setiap saat. Dalam ZERO, karena orang yang bisa dibawa ke Taipeh terbatas, kami terpaksa hanya membawa rekaman musik Harry.
Mas Roedjito juga tidak dibawa karena sudah tak ada. Itulah awalnya kami bermain tanpa Harry dan DKSB. Sesudah ZERO, kami masih sempat main ZOOM dengan HARRY. Tapi setelah itu Harry meninggal dan saya merasa ZERO seperti semacam persiapan bekerja tanpa Harry dan tanpa Roedjito
LHO, ENTAH dan NOL, saya masih ditemani oleh Kompyang raka dengan musik Bali. Target saya masih hanya penonton di Jakarta. ZERO saya ditemani oleh musik Harry Roesly yang memanfaatkan unsur Sunda, Bali dan musik digital. Targetnya sudah mencakup penonton asing (bukan hanya Indonesia)
ERLIS: Saya menonton “Zero” saya merasa dibawa ke suasana sedih, saya seperti melihat sebuah pertarungan untuk menghadapi kelahiran. Bagaimana pergulatan janin untuk “menjadi”.Munculnya seorang Taiwan di awal pertunjukan membuat suasana menjadi magis karena suara yang dikeluarkannya dalam bahasa Taiwan atau bukan saya tidak tahu membawa kita ke dunia antah berantah, tapi saya ingat suasana “mungkin” ya Pak suasana pemujaan di dalam agama Hindu atau Budha, itu bayangan saya.
Kemudian muncul warna-warna dan bentuk-bentuk tak jelas, yang jelas justru kesan sebuah “pergulatan”. bayangan seorang perempuan muncul dengan mungkin liang rahim. kain-kain transparan yang menutupi membawa pada suasana atau mengingatkan pada bayangan plasenta.
Sebagai seorang ibu saya dapat merasakan dan mengingat kembali bagaimana perjuangan seorang ibu saat melahirkan. Benar pak, saya menjadi teringat kembali saat-saat melahirkan, bayangan itu sudah agak kabur bagi saya karena saya sudah melampaui saat-saat itu enam tahun yang lalu, anak saya terkecil umur 6 tahun, tetapi saat-saat itu tidak terlupakan bagi seorang ibu pak, nah, saya rasakan selanjutnya adalah rasa ketakutan dan rasa kesakitan yang mendalam dari seorang janin yang akan menghadapi dunia yang carut marut, secara fisik saja seorang janin sudah harus berjuang, apalagi secara moral.
Itu yang saya rasakan Pak, saya “merasakan” pak, bukan “memahami” atau “menonton” kalau saya sekadar “menonton” mungkin saya tidak akan mendapatkan apa pun dari apa yang dipertunjukkan, hanya saja sayang sekali yang dapat saya rasakan itu tidak terlalu optimal karena saya tidak hadir secara langsung saat pertunjukan.
PW: Orang Taiwan yang ada dalam rekaman Zero itu adalah Mr. Chung, sutradara dan aktor terkenal di Taipeh. Ia menjadi tuan rumah saya di Taipe dan sengaja datang untuk ikut main.
Dia memberi komentar pada Teater Mandii sebagai People Theatre – teater orang kebanyakan, sebab kami memang tidak “memulyakan” aktor. Semua orang yang bukan aktor bisa/boleh ikut main.
Apa yang dilakukan Chung dalam ZERO adalah keterlibatan yang l;ebih banyak improvisasinya. Saya hanya memberikan sedikit arahan, sesudah itu terserah dia. Kami memang biasa berjalan seperti itu, meneror dan sekalian diteror.
Apa yang tertangkap dan terasa oleh Erlis ketika melihat rekaman ZERO tidak harus dicari pembenarannya pada orang lain atau pada saya atau pada Teater Mandiri. Setiap latar belakang memang akan memiliki reaksi atau penagkapan masing-masing pada imij-imij liar yang kami lemparkan.
Itu menjadi bagian dari kekayaan pementasan itu sendiri. Penonton ikut mencipta. Dan saya ikut menonton apa yang diterima setiap penontin tatkala menonton. Kebenaran dengan demikian jadi bertumpuk dan berlapis-lapis.
ERLIS:Pak, boleh saya bertanya mungkin seorang penonton dapat menafsirkan apa pun mengenai apa yang Bapak pertunjukan, tetapi mungkin Bapak dapat bercerita mengenai bagaimana melakukan pertunjukan tersebut, apa yang membawa Bapak ke sebuah pertunjukan yang demikian, saya menonton dengan seorang Bali, kami berdiskusi apa yang menjadi dasar pertunjukan ini, ternyata di dalamnya ada banyak sekali dasar, Pak Putu tidak saja mendasarkan diri pada budaya Bali, karena teman saya yang orang Bali itu tidak dapat mengenali dengan baik budaya Bali yang “mungkin” muncul dalam pertunjukan tersebut.Saya justru menemukan suara-suara seperti gamelan Jawa dan teman saya yang orang Sunda seperti mendengar suling Sunda. saya jadi curiga bahwa apa yang dipertunjukkan sudah bersifat minimal mengindonesia, kita singkirkan dulu orang Taiwan, kalau dihitung mungkin sudah juga menginternasional.
Pak Putu yang hidup di Jakarta dan bergaul dengan berbagai macam orang membaca berbagai hal, mungkin menjadikan pertunjukan ini menjadi semakin kaya.
PW: Saya orang Bali. Orang tua saya Bali dan saya lahir di Bali dan besar di Bali sajmpai tamat SMA. Tapi seluruh hidup saya lebih banyak di luat Bali. Bila diukurkan dengan orang Bali yang lain, saya mungkin orang Bali yang sudah terkontaminasi. Orang Bali yang sudah salah format.Orang Bali yang sudah eror. Orang Bali yang sudah murtad. Tetapi dengan semua itu, saya jadi memiliki jarak dengan Bali, sehingga saya berpikir tidak sebagaimana orang Bali umumnya. Bali yang Anda lihat dalam garapan saya bukan hanya teater, juga sastra, sudah lain.
Jadi kalau ada orang Bali yang tidak mengenal saya, itu wajar sekali. Namun saya percaya, apa pun saya sekarang, bahkan tidak mengaku pun, saya tetap saja orang Bali. Saya sudah terkutuk sebagai Bali, sehingga walau memakai jean dan makan McDonald dan “bergaya” seperti orang jajasahan jawa dan SUnda (istri saya duklu jawa, sekarang Sunda) saya tetap otang Bali, saya sudah dikutuk jadi orang Balim dan tidak bisa lain lagi.
Dengan berpikir seperti itu, saya selalu bebas dalam bekerja, sama sekali tidak ada keingionan untuk membali-balikan diri.
ERLIS: Satu hal lagi suara angin yang terus menerus mengikuti selama pertunjukan memberi kesan suasana genting.Boleh saya bertanya mengenai konsep reinkarnasi dalam proses “penjadian” manusia dalam budaya Bali yang mungkin menjadi dasar pertunjukan ini. dengan konsep ini sang janin (dalam konsep reinkarnasi yang saya pahami) yang sudah pernah ada di dunia, tentunya akan mengalami banyak sekali ketakutan untuk “hadir” kembali ke dunia.
Pergulatan fisik dan moral pasti akan terjadi, apakah ini yang menjadi konsep dasar pertunjukan ini, atau mungkin yang lain, apa pun sebenarnya tidak menjadi soal, menurut saya hadir di pertunjukan Zero adalah menyediakan diri untuk mendapatkan efek-efek kreativitas seni yang seutuhnya.
PW: Saya suka pada reinterpretasi dan reposisi. Reinkarnasi, tidak harus terjadi dengan kematian terlebih dahulu. Bagi saya pergantian hari, bahkan helaan nafas adalah ptoses bernafas adalah miniature dari reinkarnasi.Kita bisa lahir kembali setiap saat, belajar kembali, mulai dari nol kembali, asal saja kita bersedia dan bertekad untuk layhir kembali setiap saat. Saya memnganggap desa-kala-patra juga semacap fotmula yang menyebabkan manusia bis berreinkarnasi seriap saat asal mau dan bertekad.
Dan itu memang sakit. Karena itu berarti meruntuhkann, menendang, membalik semua yang sudah ada menjadi nol kembali dan baru.
ERLIS: Maaf Pak Putu terlalu panjang ya, mudah-mudahan tidak bosan.Saya akhiri dulu Pak, terima kasih sekali. PW: Saya sengaja menjawab panjang lebar, sebab saya juga ingin mendokumentasikan tanya-jawab ini, bagi beberapa orang, siapa saja yang ingin tahu lebih jauh tentang perjalanan Teater mandiri.Seorang mahasiswi IKJ misalnya kiemaren datang dan menyatakan keingihnannya untuk membuat skripsi tentang gaya pementasan Teater Mandiri sesudah tahun 2000, khusunya ZOOM dan ZERO.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita