Tampilkan postingan dengan label Putu Wijaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Putu Wijaya. Tampilkan semua postingan

10/03/10

Teater Kontemporer

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Sudah lama dunia ini dibedakan dengan Barat dan Timur. Masa lalu masa depan. Sudah lama nilai-nilai dipatok dalam dua gawang. Buruk dan baik. Hitam dan putih. Sudah lama arah disederhanakan menjadi kanan dan kiri. Depan dan belakang. Atas dan bawah.

Sudah lama wanita dikategorikan dengan jegeg dan bocok. Dan pada gilirannya juga sudah lama seni dikampling menjadi dua pulau. Tradisional dan modern. Pertunjukan tradisional dan pertunjukan kontemporer.

Menyederhanakan persoalan, biasanya selalu dirasionalisasi dengan alasan-alasan keren yang filosofis atau pun politis. Yaitu: menotok inti persoalannya, sehingga terjadi hantaman yang telak, mendalam dan tuntas menjawab seluruh persoalan.

Sebab dengan hanya dua kategori semacam hitam dan putih, segalanya dengan amat mudah diatur. Itu refleksi khas, spontan, mentalitas birokrat, yang menganggap semua adalah barang, yang harus disusun dengan teratur, agar memudahkan para tuan-tuan untuk memanfaatkannya. Walhasil pendewa-dewaan pada apa yang disebut: efisiensi.

Moderninasi semacam itu, mungkin amat berguna pada masyarakat tertentu, tatkala orang baru belajar untuk mepergunakan akal. Ketika orang berusaha memisahkan rasa dengan pikir. Waktu orang jatuh cinta untuk menguasai alam.

Ketika orang sedang memuja-muja logika/teknologi, sebagai instrumen yang paling menjamin sebagai kendaraan untuk memenangkan masa depan umat manusia. Ketika orang dengan membabi-buta mengaplikasi matematika dan mencoba menerapkannya pada segala sektor kehidupan, tak terkuali juga kesenian dan bahkan masalah-masalah yang sakral.

Maka terjadilah satu keseragaman berpikir, yang dikuntit oleh pemujaan kepada intelektualita, yang percaya bahwa semuanya sudah diberikan kerangka. Mereka yakin tidak ada fenomena yang tidak bisa dianalisa. Tidak ada sesuatu yang baru yang tidak dikenal.

Semua sudah terdeteksi. Semua sudah terangkum dalam sebuah peta agung yang bisa menerangkan segalanya. Semua bisa dilacak dengan struktur berpikir yang sudah ada.

Konsep kontemporer, menolak pembunuhan diri seperti itu. Manusia tidak perlu menciptakan kuburan-kuburan untuk manusia-manusia yang masih hidup. Tidak perlu mendirikan liang-liang mosolium yang tak lebih dari benteng kepala batu yang ngotot karena sudah malas untuk berpikir, mempertimbangkan sekali lagi segala keputusan untuk melihat kemungkinan baru.

Konsep dasar kontemporer adalah pembebasan dari kontrak-kontrak penilaian yang sudah — bukan saja kedaluwarsa, akan tetapi juga bisa — berbalik menjadi dehumanisasi, akulturasi dan dekadensi.

Seni kontemporer sebagai bagian dari pelafalan konsep kontemporer, selalu membebaskan diri dari kemacatan pada satu nilai yang semula disangka sebagai sumber segalanya, padahal segala sesuatu itu ternyata sudah bergeser dan menjungkir-balik segala-galanya.

Karena semuanya tak tercegah, tak dapat disekap dari hukum kehidupan, untuk selalu bergerak mengikuti nafas waktu, ruang, serta kembang-kempis alam pikiran yang tak henti-hentinya, yang tak takut oleh apa pun, untuk terus tumbuh. Pertumbuhan yang abadi. Ketika kehidupan diupayakan oleh manusia untuk hadir lebih baik, mendarat lebih lentur, lebih berarti dan lebih menghayat, segalanya juga ikut bergulir.

Usaha untuk mengaktualisasi diri, agar jadi sinkron dan menyuarakan zamannya, agar kontekstual dengan konteksnya, agar “menjati diri”, dapat ditempuh dengan berbagai cara. Bisa mengejewantah dalam berbagai variasi bentuk.

Tergantung dari desa-kala-patra (tempat-waktu-kondisi). Tergantung dari bibit-bebet-bobot. Tergantung dari watak-perilaku-lingkungan-peradaban dan pendidikan yang bersangkutan. Tergantung dari derap dharma individu atau kelompok yang berkepentingan.

Bisa keras mengental bagaikan jotosan tangan yang terkepal. Bisa berupa pembrontakan spiritual dan konfrontasi argumen. Dapat juga lemah gemulai seperti tarian oleg tamulilingan atau gesekan rebab. Mungkin juga teror mental.

Berseloroh seperti badut-badut dalam adegan bebagrigan. Juga bukan tak mungkin ngepop seperti di dalam kesenian-kesenian kacangan atau jajanan yang dikemas khusus untuk para turis.

Pertunjukan Indonesia kontemporer, sebagai bagian dari seni Indonesia kontemporer, adalah anak dari konsep kontemporer. Segala tontonan yang mengandung arti, misi, gebrakan bahkan cukup percobaan, untuk membebaskan diri dari kungkungan waktu, tempat, situasi; gondelan nilai-nilai usang, mayat-mayat pengembaraan spiritual yang tidak relevan lagi — adalah pertunjukan kontemporer.

Karenanya, pertunjukan kontemporer, bukan hanya tontonan yang diciptakan dan dilaksanakan oleh manusia masa kini, tetapi harus tidak boleh kurang dari pertunjukan yang mencerminkan cita-rasa pembebasan.

Wujudnya bisa pertunjukan eksperimental, yang merupakan usaha untuk pencarian-pencarian idiom dan bahasa pengucapan yang baru/segar. Dapat berwujud pertunjukan konvensional, yang memanfaatkan semua konvensi pertunjukan yang sudah diterima oleh masyarakat, namun memberikan nuansa yang baru atau lain/lebih segar dari sebelumnya.

Dan — ini yang seringkali dilupakan — dapat juga merupakan pertunjukan seni tradisional yang baik karena kemasan-semangat-orientasinya, maupun saat dan tempat penampilannya, memungkinkan ia bersentuhan dengan manusia-manusia masa kini, sehingga menghadirkan pengalaman spiritual yang aktual.

Di masa yang akan datang, apa yang dipersoalkan sebagai perbedaan-perbedaan akan dibunuh atau terbunuh dalam interaksi dan adaptasi. Yang kemudian menonjol adalah nuansa-nuansa yang yang menggantikan istilah perbedaan-perbedaan.

Dan karena perbedaan berarti nuansa, maka perbedaan tidak lagi sesederhana hitam kontra putih, kiri versus kanan, buruk lawan baik, atau tradisi lawan kontemporer saja, tetapi akan hadir ribuan, jutaan atau tak terhingga nuansa yang memerlukan cara berpikir baru — baca kontemporer — untuk menguasainya. Nilai-nilai bertumpukan, tumpang-tindih, nyaris membingungkan, dalam satu susunan harmoni baru yang tak terbayangkan sebelumnya.

Akan diperlukan setiap saat cara memberikan kesaksian yang baru. Cara berekspresi baru untuk mengutarakan kebenaran-kebenaran yang terus tumbuh itu. Akan diperlukan bahasa yang baru, untuk memenangkan dan mengucapkan kenyataan-kenyataan yang terus bergerak itu. Apa pun bentuk, apa pun namanya, itu adalah bahasa kontemporer.

Desa-kala-patra adalah konsep yang mendasari selurup konsep kontemporer, termasuk konsep tontonan Indonesia kontemporer. Sesuatu yang pada dasarnya sudah terpraktekkan secara sehari-hari di Bali.

Desa-kala-patra adalah keterikatan pada desa-kala-patra yang aktual dan sekaligus pembebasan pada desa-kala-patra yang kedaluwarsa. Konsep dasar kontemporer, dengan sendirinya adalah juga konsep dasar pertunjukan Indonesia kontemporer.

Hampir semua penghuni seni tontonan tradisional Bali adalah seni kontemporer. Karena bukan saja dulu ketika ia diciptakan untuk pertama kalinya, ia merupakan ucapan keberadaan orang Bali, tapi sampai sekarang, ia tetap kukuh menjadi pengucapan diri orang Bali kini. Hujan parawisata, telah menolong seni pertunjukan Bali itu, tetap hidup menggebu-gebu.

Sementara kesinambungan seni pertunjukan itu dengan hal-hal yang bersifat sakral, sebagaimana yang ditulis oleh Doktor I Made Madem dalam buku “Kaje dan Kelod”, telah membuat hampir semua jenis pertunjukan itu tak pernah menjadi jerangkong tok. Tapi berdegup hidup. Berdarah, berdaging dan bernyawa.

Semua seni tontonan itu menjadi aktual, relevan dan mewakili zaman. Dia senantiasa bergerak sesuai dengan desa-kala-patra, sejalan dengan manusia-manusia Bali yang sedang ada.

Bahkan seni pertunjukan yang langka digeber, seperti gambuh, seperti topeng pajegan, misalnya, dalam kesepiannya di dalam peti, tetap berinteraksi dengan zaman, melalui/karena orang-orang Bali sendiri selalu bersentuhan dengan nilai-nilai aktual dan universal lewat konsep desa-kala-patra.

Begitu dia dapat kesempatan tampil, kita tidak usah terkejut, karena ia langsung memuncratkan ciri-ciri kontemporer.

Teater tradisi Bali, tak perlu susah-susah mempermasalahkan apa konsep-konsep pertunjukan kontemporer, karena sudah melaksanakannya. Memang orang-orang dari belahan yang menyebut dirinya pulau kontemporer, umumnya justru mempermasalahkan hubungannya dengan tradisi, karena tidak melihat kaitan dirinya secara langsung dengan bentuk-bentuk seni pertunjukan tradisional.

Sesuatu yang sebenarnya sama sekali tidak menyangkut hal-hal yang konsepsual, tetapi sekedar kemasan, yang dapat langsung diselesaikan dengan mengubah cara melihat “perbedaan” sebagai “nuansa”. Karena tiadanya hubungan yang bersifat phisikal, tidak berarti, ada jurang pemisah.

Justru tidak adanya persamaan-persamaan di dalam bentuk-bentuk pengucapan, sering akan mempertemukan yang saling kontra itu secara spiritual, karena lahirnya kebutuhan untuk saling mengisi. Walhasil, ketiadaan hubungan, otomatis adalah juga hubungan. Itu cara berpikir konsep kontemporer.

Tak pernah sungguh-sungguh ada pertentangan antara hitam dan putih. Tak pernah benar-benar ada konfrontasi antara buruk dan baik. Tak pernah ada jurang antara kawan dan lawan.

Dan tak pernah ada masalah antara tradisi dan ekspresi kontemporer. Yang ada adalah kealpaan untuk mengakui keberadaan nuansa-nuansa di antara kedua kutub tersebut, yang tak terhingga jumlahnya. Keterbatasan untuk menangkap yang ada, dari sesuatu yang selalu dianggap tidak ada, karena adanya usaha untuk membuat penyederhanaan — hitam-putih — yang kadangkala sedemikian keji dan semana-menanya.

Kesalahkaprahan dalam membuat peta, yang kemudian membuat kita menjadi benar-benar buta dan tuli, adalah bencana tetapi sekaligus hikmah yang telah melahirkan konsep kontemporer. Sebuah usaha untuk menangkap dengan lebih jujur, bulat, lengkap dan tuntas apa saja. Alhasil sebuah upaya, tetapi sama sekali bukan tujuan. Karena dia juga akan terus bergerak, sesuai dengan desa-kala-patra.

*) Makalah ini dibuat untuk memenuhi undangan seminar sehari STSI Denpasar 21 Oktober 1993 - dengan tema: KONSEP DASAR DALAM SENI PERTUNJUKAN KONTEMPORER INDONESIA.

29/01/10

BOM

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Giliran Amat menangis di depan televisi. Ia meratapi korban terorisme yang sudah meledakkan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Hotel, di Jakarta. Pagi 17 Juli yang tenang dan indah sejak berlangsungnya Pemilu 09 yang damai dan mendapat banyak pujian dari mancanegara, kontan buyar.

Pasar modal tertegun walau pun tak sampai guncang. Presiden SBY yang memberikan pidatonya pun sempat terdiam, bagai menahan kepedihan untuk tidak menangis, mengingat ekonomi yang sudah membaik dan kedamaian yang mulai tumbuh menjadi rontok. Bahkan klab sepakbola Manchester United yang direncanakan datang hari Sabtu dan menginap di hotel yang terkena bom, membatalkan laganya dengan PSSI All Star.

“Aku heran masih ada saja orang yang menginginkan negeri kita ini kacau,”kata Amat kepada para tetangga yang bergunjing di tepi jalan.”Aku heran ada orang yang tega membunuh manusia lain dengan tanpa peduli. Bukan hanya sembilan nyawa yang sudah jadi korban, seperti yang aku dengar di televisi, tetapi ribuan bahkan jutaan. Orang-orang itu punya anak, istri, keluarga, famili dan negara. Aku yang jauh dari Jakarta dan tidak kenal kepada korban, merasa ikut kehilangan, karena kematian itu berarti juga kematian perdamaian, ancaman langsung kepada nyawa kita!”

Para tetangga manggut-manggut. Seorang pemuda menjawab.

“Itulah politik, Pak Amat.”

“Politik?”

“Ya. Apa yang terjadi tidak bisa dilihat dari apa yang kejadian di depam mata kita saja, Pak Amat. Harus dihubungkan dengan sebab musababnya yang paling jauh dan tujuannya yang paling jauh. Dan mungkin sekali bagi orang yang kurang pengetahuan seperti kita, hubungan itu sama sekali tidak ada. Bukan karena tak ada, tapi karena kita sudah tidak mampu merasakan, karena tidak melihatnya.”

Amat terkejut.

“Maksudnya?”

“Ya sudah saya katakana tadi, ini politik.”

Amat penasaran. Dia mulai marah.

“Artinya apa kalau itu politik?”

“Tidak perlu ada artinya. Ini hanya untuk mengingatkan orang untuk kembali kepada apa yang sudah dilupakan!”

“Apa yang sudah dilupakan?”

“Keadilan dan kebenaran.”

“Keadilan siapa? Kebenaran siapa?”

“Keadilan dan kebenaran mereka yang dilupakan!”

“Dengan cara menempuh jalan yang tidak adil dan tidak benar?”

“Bukan jalannya yang harus dinilai, tapi tujuannya Pak Amat!”

“Itu namanya menghalalkan segala cara!”

“Itu kan kata Pak Amat.”

“Jadi Anda setuju hotel Marriot dan yang satu lagi itu di bom? Anda sutuju Bali dua kali dibom?”

Mata Amat berapi-api. Orang itu tidak menjawab. Dia buru-buru pergi.

“Teroris!” umpat Amat. “Anarkhis!”

Tangan Bu Amat lalu membelai pundak Amat.

“Sudah Pak, jangan terlalu dijiwai nanti bludreknya kumat!”

Amat menarik nafas panjang.

“Aku heran, kenapa orang bisa dicuci otaknya sampai segalanya menjadi terbalik-balik. Masak dia menyuruh kita melupakan bom yang membunuh orang ini, lalu melihat sebab awalnya yang tidak kita tahu, lalu memikirkan tujuan akhirnya yang kita juga tidak tahu. Jangan-jangan dia sendiri juga tidak tahu!”

“Ya namanya juga otaknya sudah dicuci!”

“Gudang dicuci memang bisa kosong. Pakaian dicuci pemutih juga bisa kehilangan warna. Tapi masak manusia yang sudah diisi oleh pendidikan, susila, budi pekerti bahkan agama, bisa dicuci? Sebersih-bersihnya dicuci pasti nuraninya masih ada! Kecuali memang orangnya sakit!”

“Ya itu dia. Makanya mereka milih-milih siapa yang harus dicuci. Tak semua otak bisa dicuci!”

“Tapi ternyata sekarang semua orang bisa dicuci oltaknya, Bu! Bukan hanya yang buta huruf saja, yang doktor pun bisa dicuci. Jadi kita memang sudah kehilangan nurani. Kita semua sudah memasuki zaman kaliyuga! Kita semua sudah edhan!”

Bu Amat menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memanggil Ami.

“Coba tenangkan bapakmu Ami, pikirannya sudah ngelantur lagi.”

Ami melirik bapaknya. Mata Amat masih terus tertancap ke layar kaca mengikuti laporn sekitar Bom Marriott 2. Kadang-kadang dia ngomong sendiri.

“Ayolah Ami, jangan biarkan bapakmu begitu!”

“Habis Ami harus ngapain?”

“Ya ajak bapakmu jangan melihat segala sesuatu dari buruknya saja, ambil segi baiknya.”

Ami terperanjat.

“Segi baiknya? Apa ada segi baiknya dari tindakan terorisme membom hotel dan membunuh orang yang tidak bersalah? Ibu kok jadi ikut-ikutan jadi korban cuci otak?!”

Sebaliknya dari menemani bapaknya, Ami lalu masuk ke kamar mandi dan men yanyikan lagu Slank dengan seenaknya

“Inikah demokrasi, setiap orang boleh berbuat seenak perut sendiri …. . .. “

Bu Amat tertegun.

Waktu Bom Bali yang pertama dia sangat terguncang. Takut, ngeri, merasa terancam dan berhari-hari tidak enak makan. Pada kejadian Bom Bali Kedua, ia memang masih tertekan, tapi segalanya kemudian menjadi biasa. Setelah itu, mendengar cerita bom dan terorisme di manap-mana, ia sama sekali tenang. Seakan-akan semuanya itu memang bagian dari asesoris kehidupan politik.

Ketika muncul berita Bom Marriot 2, ia sempat terdiam sebentar. Matanya menancap ke televisi. Tapi kemudian ia tidak merasakan apa-apa lagi, karena banyak hal lain yang masih harus diperhatikan. Kematian si Raja Pop Michael Jackson masih hangat. Banyak peristiwa aneh di sekitar Pemilu 09 yang menyangkut para caleg gagal, masih seru. Perhatiannya pada Bom Marriot 2 memang jadi kurang – untuk tidak mengatakan sama sekali tidak ada.

Ia tidak tahu mengapa ia menjadi seperti beku. Mungkin karena begitu banyak yang sudah terjadi sejak menjelang reformasi. Penculikan. Orang hilang. Bencana alam. Korupsi. Manusia makan mayat. Ibu membunuh anaknya. Anak dijual oleh ibunya. Teror dan bom di mana-mana.

Dulu, suami atau anaknya sakit saja ia sudah menangis. Mendengar orang menyanyikan Indonesia Raya di saat pengibaran bendera pada upacara peringatan 17 Agustus, ia bisa mengucurkan air mata.

“Hidup semakin keras, manusia menjadi semakin tabah. Kalau tidak begitu, kita semua akan kalah,”bisik Bu Amat menjawab pertanyaannya sendiri.

Tiba-tiba terdengar Amat mengumpat di depan televisi.

“Kurang ajar! Bangsat!!”

Sebuah pikiran mendadak menukik ke dalam kepala Bu Amat. Ia terkejut dan jadi gemetar. Benarkah ia menjadi lebih baik? Apa betul dengan menjadi lebih keras orang bertambah kuat? Apakah air mata, tangis dan haru itu tanda kelemahan? Benarkah berhenti menangis. membutakan mata kepada apa yang ada di sekeliling adalah kiat untuk hidup selamat.

Bu Amat terpesona. Ia cepat-cepat menilai kembali dirinya. Melihat di mana ia sedang berdiri. Lalu ia melihat dirinya di atas sebuah bukit. Di puncak bukit yang bergetar. Sebentar lagi ia akan melayang turun dan terhempas ke lembah yang hgelap di sana.

“Kurang ajar! Bangsat!” terdegar umpat Amat lebih keras.

Bu Amat tersentak.

“Aduh, jangan -jangan aku sendiri yang sudah kena cuci otak, karena menganggap semua bom-bom itu sudah biasa,”bisik Bu Amat dengan terkejut.”Jangan-jangan aku yang sudah dimatikan rasa oleh cuci otak itu!”

Perlahan-lahan Bu Amat mendekati suaminya yang masih terus melotot di depan televisi. Ia lupakan dulu curhat La Toya, kakak perempuan Michael Jackson yang merasa yakin adiknya mati dibunuh. Ia lupakan dulu Bom Bali 1 dan 2 yang menelan ratusan korban. Ia lupakan tsunami yang sudah melalap lebih dari seratus ribu manusia. Ia hanya memandang ke satu titik. Layar kaca. Bom Marriott 2.

Bu Amat melihat darah. Anggota badan manusia berserakan. Kepala, tangan, kaki, semua terpisah dari tubuhnya. Isi perut terburai. Memang bukan 200 atau seratus ribu, tapi hanya sembilan. Tapi itu darah dan isi perut yang sesungguhnya.

Ia merasa darah dan isi perutnya sendiri yang terburai. Kepala, tangan dan kakinya yang terputus dari badan. Begitu saja rasa ngeri, takut dan putus asa setrentak menggebrak dan mematahkan seluruh benteng pertahanan yang sudah membuatnya beku.

Tak kuasa lagi menahan diri, Bu Amat menjerit.

“Tolooooongggggggggggg!”

Jakarta 17 Juli 09

Menjelang jam 08, bom meledak di Hotel Marriott dan Ritz Carlton Hotel.

21/01/09

Panca Sila

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Amat minta dibuatkan nasi kuning.

“Untuk apa?”tanya Bu Amat curiga.

“Merayakan kelahiran Panca Sila.”

“Lho merayakan Panca Sila dengan nasi kuning?”

“Ya sudah, kalau begitu ditambah dengan betutu ayam kampung!”

Bu Amat tercengang, kontan membentak.

“Kalau cuma mau makan betutu ayam kampung tidak usah pakai alasan merayakan Panca Sila! Nggak! Nggak ada waktu!”

Amat tidak membantah. Kalau dibantah, pasti nggak-nggaknya Bu Amat akan menjadi tidak. Tapi kalau tidak dibantah, biasanya tidak dari Bu Amat hanya sekedar gertakan, nanti pasti akan ada nasi kuning dan betutu.

“Tenang saja, “kata Amat pada Ami, “Bapak sudah hidup puluhan tahun dengan Ibumu itu, jadi sudah tahu segala sepak-terjangnya. Menghadapi dia harus pakai taktik strategi yang tepat. Pokoknya tetap saja undang teman-temanmu di kampus biar semua datang nanti pada hari Kesaktian Panca Sila ke rumah. Kita rayakan ultah falsafah negara yang sudah mengantarkan kita pada hidup damai dalam perbedaan itu. Sudah waktunya bangkit lagi setelah seratus tahun. Sudah terlalu banyak orang kini lupa dan bahkan mau menggantikan Panca Sila. Kita harus pertahankan!!”

Pada tanggal 1 Juni, Amat keramas dengan air bunga, lalu menggenakan stelan putih-putih. Sepanjang hari ia menyendiri, seperti masuk ke dalam sanubarinya. Hanya sekali-sekali ia mengintip ke arah dapur sambil mencium-cium apa sudah ada tanda-tanda betutu ayam kampung itu rampung. Ternyata tidak ada. Amat mulai deg-degan ,

Sore hari, Amat melirik ke meja makan. Tapi tidak ada perubahan. Istrinya yang siang tadi pamit karena ada pertemuan di rumah tetangga belum pulang. Amat mulai tidak yakin. Akhirnya ia masuk ke dapur dan memeriksa. Di situ ia kecewa sekali, karena nggak Bu Amat sekali ini memang berarti tidak.

Amat masih mencoba untuk memeriksa ke dalam gudang di samping dapur. Jangan-jangan istrinya mau bikin kejutan. Tetapi di gudang hanya ada ayam. Jumlahnya masih lima ekor. Tak satu pun yang disembelih. Jelas sudah tidak akan ada nasi kuning dan betutu ayam kampung.

Waktu Ami pulang dari kampus, Amat panik.

“Ami, Bapak salah perhitungan hari ini. Ibumu ternyata tak sempat masak karena ada pertemuan para ibu. Sampai sekarang belum pulang. Jadi kita akan menghadapi bahaya.”

Ami mengangguk tenang.

“Nggak apa, Pak. Tenang saja. Kita kan sudah 350 tahun dijajah, kita sudah biasa menghadapi bahaya.”

“Tapi kita akan malu besar, bagaimana kalau teman-teman kamu di kampus menanyakan nasi kuning dan betutu yang Bapak janjikan itu?”

“Tenang saja, Pak.”

“Bagaimana bisa tenang! Pasti mereka akan menuduh kita penipu?”

“Memang.”

“Aduh! Itu yang celaka! Kita menyambut Hari Kesaktian Panca Sila mestinya untuk membangun kepercayaan. Tapi ternyata kita sudah melakukan penipuan. Itu bisa tambah merusakkan Panca Sila!”

Ami mengernyitkan dahinya.

“Masak begitu?”

“Ya! Kalian anak-anak muda kan sudah banyak sekali menyimpan kedongkolan dan ketidakpuasan. Makanya kalian semua cepat marah. Belum apa-apa pasti langsung maunya demo, turun ke jalan berteriak-teriak, menentang, menggempur apa saja. Bapak mengerti sekali itu. Sekarang akan tambah bukti lagi, aku tua bangka ini sudah mempermainkan mereka!”

“Makanya kalau belum pasti Bapak jangan suka janji-janji.”

“Habis kalau tidak dipikat begitu, mereka pasti tidak akan mau datang!”

Ami nampak beringas.

“O, jadi Bapak memancing mereka datang dengan nasi kuning dan betutu? Bapak pikir mereka ngiler nasi kuning dan betutu?”

“Ya kan?!”

Ami tiba-tiba tertawa.

“Kok ketawa?”

“Yang ngiler sama nasi kuning dan betutu itu kan Bapak! Teman-temanku itu sekarang lebih seneng makan pizza, burger atau fried chicken. Mereka sama sekali tidak tertarik pada pancingan Bapak itu. Mereka tertarik karena masih ada orang mau meryakan Panca Sila di rumahnya secara pribadi. Itu berarti Panca Sila bukan hanya barang dagangan yang dipajang sebagai slogan, tetapi dikembangkan di dalam rumah, di dalam diri. Mereka suka, jarena itu mereka akan datang.”

Amat tercengang.

“Jadi mereka tidak mengharapkan nasi kuning dan betutu?”

“Apa Bapak tidak malu kalau teman-temanku datang merayakan kelahiran Panca Sila karena tertarik nasi kuning dan berutu?! Itu menghina! Ami tidak pernah bilang sama mereka ada nasi kuning dan betutu!”

Amat terkejut.

“Jadi kamu tidak pernah bilang ada nasi kuning dan betutu?”

“Ngapain nasi kuning dan betutu! Itu namanya melecehkan kebesaran Panca Sila!”

Amat mengurut dada senang. Ia merasa amat bahagia.

Malam hari, sekitar 15 orang teman-teman seperjuangan Ami datang. Peringatan diadakan dengan membacakan Pidato Bung Karno yang menandai kelahiran Panca Sila itu. Disusul dengan uraian dari salah seorang mahasiswa yang membentangkan Panca Sila dengan begitu bagusnya, sehingga Amat mnerasa seperti makan nasi kuning dengan betutu ayam kampung.

Setelah peringatan Panca Sila yang sederhana namun khususk itu selesai, tiba-tiba salah seorang mahasiswa nyeletuk.

“Tapi mana nasi kuning dan betutu ayam kampungnya?”

Amat tersirap. Ia gugup. Buru-buru ia mencari Ami ke belakang, sebab ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.

“Ami! Kenapa teman kamu menanyakan nasi kuning dan betutu ayam kampung?”

“O ya?”

“Ya! Padahal kamu kan sudah bilang, kamu tidak pernah mengundang mereka dengan nasi kampung dan ayam kuning!” bentak Amat keliru-keliru karena panik.

Ami tersenyum.

“Tenang, Pak. Mereka sudah biasa dibohongi. Dibohongi sekali lagi, mereka tidak akan apa-apa. Apalagi hanya janji betutu dan nasi kuning. Bangsa kita kan jago memaafkan. Lagipula kalau manusianya pembohong, tidak berarti Panca Silanya yang bohong! Ayo, kalau berani berbohong, Bapak harus berani juga menghadapi hasil kebohongan itu!”kata Ami menyeret bapaknya kembali ke depan.

Dengan sangat malu Amat terpaksa ikut. Ternyata di depan, para mahasiswa sedang rebutan nasi kuning dan betutu ayam kampung yang baru saja dibawa Bu Amat dari tetangga.

07/01/09

Surat Pada Gubernur

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

“Bapak Gubernur, saya Pak Amat, seorang di antara berjuta-juta warga lain. Saya mengucapkan selamat bertugas pada Bapak. Semoga dalam kepemimpinan Bapak, apa yang kita cita-cita akan tercapai,” tulis Amat.

Surat itu diperlihatkan pada tetangga.

“Bagaimana?”

Tetangga manggut-manggut.

“Hebat.”

“Hebatnya apa?”

“Ya Pak Amat sudah berani menulis surat pada Gubernut.”

“Lho, apa salahnya?”

“Pak Amat kenal dengan beliau?”

“Siapa tidak kenal beliau. Kan sering ada di koran.”

“Hebat. Tapi lebih hebat lagi kalau Pak Amat tambahkan sedikit.”

“Apa?’

“Itu jalan yang masuk ke kompleks kita kan rusak. Kalau bisa diperbaiki, kita semua akan senang sekali.”

Amat ketawa.

“Masak Gubernut ngurus jalan rusak. Jalan kampung lagi!”

“Lho kenapa tidak, Pak Amat. Beliau kan pemimpin kita. Beliau pelindung rakyat. Beliau bukan hanya milik orang-orang yang tinggal di hotel dan real estate. Beliau juga adalah milik kita yang hidup di kampung seperti kita ini. Seorang pemimpin yang baik wajib mengayomi seluruh rakyat. Jangankan jalan rusak, batin yang rusak pun jadi urusan beliau. Ingat ada pepatah: karena nila setitik rusak susu sebelangan. Benar nggak?!! Nah, pemimpinn yang baik itu memperhatikan semua sampai sekecil-kecilnya. Karena yang kecil itu justru sering menentukan!”"

Amat tesenyum.

“Kalau Pak Amat tidak percaya, coba periksa ke dapur. Masakan yang sudah disiapkan dengan susah-payah dan mahal, tapi kalau garamnya kelupaan, tidak akan ada rasanya. Ya tidak?!”

“Kalau itu benar.”

“Nah jangan menganggap remeh yang remeh Pak Amat. Yang sepele itu sangat penting. Yang kecil-kecil karena kecilnya sering dilupakan, akhirnya yang kecil-kecil itu jadi merusakkan segala-galanya! Kelebihan pemimpin adalah dia bisa melihat pentingnya soal-soal kecil. Orang biasa, tidak. Orang biasa hanya melihat hal-hal besar, yang megah, yang banyak, yangmahal. Itu sebabnya kita semua tidak jadi pemimpin. Pemimpin itu melihat apa yang tidak kita lihat, Pak Amat.”

Amat ketawa.

“Kalau begitu, jalan rusak itu tidak perlu lagi dilaporkan!”

“Kenapa tidak?”

“Kan tadi sudah bilang sendiri pemimpin melihat apa yang tidak dilihat orang lain!”

“Tapi yang kecil-kecil itu kan banyaksekali, Pak Amat! Kalau ditunggu, nanti masa jabatannya sudah selesai, belum juga giliran perbaikannya datang. Makanya dilaporkan supaya dapat prioritas. Pak Amat mau tidak jalannan depan kompleks kita diaspal licin?”

“Ya mau!”

“Makanya surat kepada Pak Gubernur itu harus ditambahin!”

Amat tertawa.

“Jangan ketawa saja Pak Amat, tambahin!”

“Ya, ya, nanti ditambahin,”kata pak Amat menyudahi pembicaraan itu lalu cepat-cepat pulang.

Di rumah Amat menceritakan usulan tetangga itu pada istrinya.

“Masak Gubernur disuruh mikirin jalan kampung rusak. Masalah yang kita hadapi sekarang kan besar sekali. Narkoba, Aids, kenaikan harga bensin, pemasan global, belum lagi korupsi. Jalan rusak itu kan soal kecil sekali. Kalau masyarakat mau bergotong-royong, sehari saja jalan itu sudah bisa dilalui mobil lagi. Ya kan Bu? Lagian kalan rusak ada baiknya, sebab dengan begitu mobil tidak lewat kompleks kita lagi. Pusing aku kalau kendaraan seliweran lagi memakai wilayah kita sebagai jalan pintas!”

“Jadi usulan itu ditolak?”

“Habis masak Gubernur mesti ngurus jalan kampung?”

“Apa salahnya?”

Amat tercengang.

“Itu kan tugas bawahan Bu?”

“Orang bawahan banyak urusannya, Pak. Kalau Gubernur tidak kasih perintah pasti yang lain-lain dulu yang diurus. Aku juga seneng kalau kendaraan umum bisa masuk ke kompleks kita lagi. Jadi kalau mau pergi ke mana begitu, tidak usah jalan kaki, apalagi bawa banyak barang!”

“Jadi Ibu setuju?”

“Ya, iyalah! Apa Gubernur turun gengsinya kalau memperbaiki jalan rusak?”

“Ya tidak .”

“Makanya!”

“Makanya apa?”

“Masukkan itu ke dalam surat Bapak kepada Gubernur itu!”

Amat ketawa.

“Ya sudah, nanti tak masukkan!” kata Amat mengakhiri percakapan.

Sambil melipat surat yang mau dikirimkannya Amat nongkrong depan pesawat televisi. Ia bengong melihat berita ada Manusia Kawat. Manusia yang tumbuh kawat-kawat dari perutnya. Ia tak habis pikir, mengapa semua itu bisa terjadi.

Belum sampai pukul 11 malam, Amat teler, lalu menyerah di tempat tidur. Ia bermimpi bertemu Gubernut baru. Ia membacakan permintaan tetangga soal jalan rusak itu. Heran ternyata Gubernur menanggapi serius. Menurut beliau jalan itu memang sangat penting. Bukan hanya diperbaiki, jalan itu akan diperlebar, sehingga menjadi jalan utama. Artinya akan ada penggusuran sekitar 20 meter. Itu berarti rumah tetangga yang mengusul perbaikan itu akan kena bongkar.

Tiba-tiba tubuh Amat diguncang. Amat gelagapan bangun. Bu Amat berdiri di depannya dan berbisik panik.

“Pak! Batalkan Surat Kepada Gubernur itu! Batalkan saja!”

“Kenapa?”

“Di depan rumah ada 20 orang tetangga menunggu, Bapak!”

“Kenapa?”

“Mereka mau nitip.”

“Nitip apa?”

“Ada yang anaknya tidak bisa bayar SPP. Ada yang berkelahi dengan saudaranya soal warisan. Ada yang suaminya kawin lagi. Ada yang hutangnya belum dibayar padahal sudah 5 tahun nunggak. Ada juga yang minta bantuan karena di PHK. Ada yang dapat kasus tabrak lari. Ada yang minta santunan untuk membayar rumah sakit, kalau tidak istrinya tidak bisa keluar. Ada yang minta bantuan sebab mau kredit motor pingin jadi tukang ojek. Ada yang …. “Su

03/01/09

Kekerasan

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Tidak hanya di Monas, pada tanggal 1 Juni juga terjadi kebrutalan di rumahAmat. Apa pasal? Bu Amat mengobrak-abrik rumah dan membuang semua barang-barang siaminya yang dianggapnya sesat.

“Semua kenangan yang menyangkut perempuan lain dibakar, dibuang atau diberikan kepada tetangga,”kata Amat lari dari rumah, mengungsi ke tetangga, karena tak kuat melihat kezaliman itu. “Termasuk gambar bekas pacarku yang sudah jadi teman baik, bahkan sering bersilaturahmi ke rumah. Itu adalah kezaliman, pengaruh dari berbagai aksi berbagai organisasi yang kini seenaknya saja main hakim sendiri, mentang-mentang tidak pernah ditindak tegas!”

Ami yang menyusul Bapaknya berusaha mendinginkan suasana.

“Sebetulnya itu bukan kemauan murni dari Ibu.”

“Lalu siapa? Itu namanya cemburu buta!”

“Ibu hanya mengatakan, coba Ami, bersihkan segala meja, almari dan rak buku dari sampah-sampah tidak penting yang disimpan bapakmu, kalau tidak, rumah akan jadi keranjang sampah, kata Ibu. Lalu Ami menyortir mana yang harus dibakar, dibuang, diberikan tetangga dan mana yang boleh disimpan.”

“Kenapa semua foto dibakar. Itu pasti perintah Ibumu kan?”

“Bukan. Itu inisiatip Ami sendiri. Sebelum Ibu melihatnya sendiri, lebih baik Ami bakar. Bapak mestinya berterimakmasih sebab Ami sudah menyelamatkan. Coba tidak, Ibu akan lihat semua. Satu foto saja sudah bisa bikin Ibu kena serangan jantung. Apalagi beberapa foto.”

“Itu bukan berapa lagi. Ada seratus dua puluh foto!”

“Apalagi 120, Ibu bisa langsung angkat kopor, pulang ke kampung!”

“Tapi apa salahnya menyimpan foto. Kan hanya foto?”

“Bapak boleh berkata begitu. Tapi Ibu? Coba bayangkan sekarang kalau Bapak menemukan foto laki-laki lain di dompet Ibu, apa Bapak tidak curiga?”

“Ya curiga dong kan Bapak suami Ibumu yang sah!”

“Nah makanya!”

“Tapi jangan langsung gebrak main bakar. Bapak akan tanya baik-baik. Kenapa foto itu di simpan. Kalau alasannya masuk akal, kenapa harus marah?”

“Betul?”

“Ya marah juga. Masak istri menyimpan foto lelaki lain. Poliandri itu namanya. Dilarang undang-undang! Tidak bisa!”

“Bagaimana dengan poligami?”

“Poligami tidak dilarang, tapi Bapak juga anti poligami. Ibu kamu tahu itu. Jadi tidak perlu pakai main bakar-bakaran. Praktek kekerasan itu bertentangan dengan hakekat rumah-tangga yang harus saling cinta-mencintai!”

“Nah itu sama dengan Ibu. Di dalam rumah hanya ada satu suami dan satu istri!”

“Cocok! Makanya jangan main kekerasan!”

“Lho Ibu tidak melakukan kekerasan, itu Ami yang melakukannya. Ibu malah tidak tahu!”

Amat termenung.

“Jadi ide melakukan kekerasan itu bukan dari Ibu kamu?”

“Bukan! Itu inisiatip Ami. Jadi kalau Bapak mau marah, marah sama Ami saja! Jangan marah sama Ibu!”

“Kalau kamu membakar, tapi Ibu kamu tidak melarang, artinya dia menyetujui. Dan kalau dia menyetujui, berarti dia memang meniatkan dan merencanakan.”

“Salah!”

“Salahnya di mana?”

“Ibu pasti marah juga kalau tahu Ami sudah membakar, membuang dan memberikan kepada tetangga koleksi Bapak.. padahal Ibu hanya menyuruh membersihkan rumah dari sampah. Begitu! Jadi Bapak lebih baik pulang sekarang. Ibu sudah selesai masak. Mau pulang tidak? Atau mau berantem terus?”

Setelah berpikir panjang, menimbang untung-ruginya, Amat pulang mengikuti Ami. Masakan sudah terhidang. Amat langsung mengganyang. Bu Amat meladeni dengan mulut tertutup. Suasana jadi tegang.

“Kok diam saja,”tanya Amat.

“Habis kalau ngomong nanti takut salah. Lebih baik diam.”

“Jangan diam saja. Kalau ada apa-apa dibicarakan. Jangan main bakar seperti kejadian di Jakarta. Berbeda pendapat itu kan normal. Jangan langsung main kekerasan.”

“Kekerasan apa?”

“Itu foto-foto lama kenapa dibakar itu kan hanya dokumentasi?”

“Foto apa?”

“Itu foto Dik Nelly dan Dik Pertiwi, kok dibakar. Kan Ibu juga berteman baik dengan dia.”

Bu Amat terperanjat. Dia langsung masuk ke kamar Ami.

“Memang betul foto-foto koleksi bapak dibakar?”

Ami menjawab polos.

“Betul.”

“Kenapa?”

“Sebab di dalam rumah tangga hanya boleh ada satu suami dan satu istri!”

“Maksudmu kamu curiga Bapak mau kawin lagi?”

“Jangankan kawin lagi, punya pacar pun Ami tidak setuju!”

Bu Amat menggeleng-geleng.

“Ami kamu salah!”

“Salah bagaimana? Ami kan mau melindungi Ibu!”

“Salah!!! Bukan begitu caranya melindungi dan membela Ibu! Kalau betul mau melindungi Ibu, ada cara yang lebih baik.”

“Bagaimana?”

“Lebih baik Ibu bersaing dengan foto. Karena foto tetap saja foto. Daripada bersaing dengan orangnya. Jadi ayo kembalikan foto-foto koleksi bapakmu itu sekarang juga! Di mana kamu simpan? Belum dibakar kan? Kembalikan, kalau tidak Ibu marah!!!”

Dengan berat hati Ami membuka alamarinya. Lalu menyerahkan 120 buah foto koleksi Amat. Bu Amat menjerit di dalam hati melihat foto-foto perempuan yang sudah membayang-bayangi hidup Amat itu. Lalu membawanya ke meja makan.

“Ini semua koleksi Bapak masih lengkap,”kata Bu Amat sambil meletakkan semua foto itu di depan Amat, Silakan saja disimpan kalau masih sayang.”

Amat terperanjat. Setelah dapat menguasai pikirannya lagi, ia berhenti makan, lalu membawa foto-foto itu ke dapur dan membakarnya. Bau sangit foto yang terbakar memenuhi rumah, tercium oleh Bu Amat. Ia nampak sedih, karena kini ia tidak lagi bersaing dengan foto tetapi kembali berhadapan dengan orangnya yang asli.

23/12/08

Pemakaman Bekas Presiden

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Opini televisi di Singapura cenderung menganggap almarhum Jendral Soeharto, presiden Indonesia selama 32 tahun, adalah bapak pembangunan. “Masyarakat memaafkan apa yang sudah diperbuat oleh almarhum, tetapi mungkin tidak akan bisa melupakannya,”komentar seorang pengamat.

Penghargaan atas jasa almarhum yang dianggap telah membangun ekonomi Indonesia yang terpuruk di bawah presiden Soekarno, dikabarkan datang dari pejabat di Philipina, Malaysia, Amerika, Jepang dan Singapura sendiri. Pak Harto didudukkan sebagai orang penting dan kepergiannya adalah sebuah kehilangan yang besar.

Almarhum dianggap membawa perkembangan baru yang memberikan iklim lain pada Indonesia yang sebelumnya berkonfrontasi dengan Malaysia. Juga disebut-sebut jasa almarhum sebagai salah seorang pelopor terbentuknya ASEAN.

Bung Franki yang sedang hendak menonton perayaan tahun baru China di Singapura, tertegun di depan pusat perbelanjaan Takasimaya, Orchard Street. Entah siapa yang mengirim, di HPnya muncul SMS: “Tolak pengibaran bendera setengah tiang dan penyiaran televisi berkelebihan. Sebarkan!”

Begitu selesai membaca, SMS lain muncul lagi dari Jakarta. “Manusia Indonesia pemaaf. Semua saluran televisi merasa tiba-tiba berada saat Orde Baru. Kini bahkan almarhum lebih hidup dan lebih berkuasa lagi.”

Franki cepat-cepat kembali ke kamar hotelnya. Lalu menonton upacara pemakaman almarhum di Astana Giri Bangun Solo, disaksikan oleh 2000 tamu-tamu. Di antaranya presiden SBY, wakil presiden, para pejabat dan tamu-tamu VIP dari mancanegara. Upacara berlangsung megah, layaknya kepergian seorang raja.

Memang Channel News Asia sudah sejak kemaren mengikuti dengan cermat dan mendetail seluruh peristiwa. Komentar dari orang awam pun ditampilkan. Rata-rata mengemukakan bahwa almarhum adalah orang baik. Almarhum telah membangun ekonomi Indonesia. “Bisa jadi ada cacadnya, tetapi kalau mau obyektif, keadaan sesudah almarhum memegang tapuk pemerintahan pun tidak lebih sehat,”kata seorang warga Jakarta di kantornya. Walhasil, terasa positip.

Franki termenung. Ia jadi teringat ketika bapaknya sendiri meninggal. Sedikit sekali yang mengantar. Keluarganya pun tak lengkap. Upacara berlangsung dengan sederhana bahkan nyaris papa. Orang mengucapkan duka setengah basa-basi. Tak ada yang merasa sedih, karena yang meninggal dianggap sudah waktunya pergi.

“Padahal Bapakmu itu sebenarnya belum tua. Pensiun pun belum,”kata Ibu Franki, “Tak pernah merecoki orang. Apa tugas-tugasnya dilaksanakan dengan baik. Tidak curang dalam soal uang. Hanya saja ia memang agak nakal, karena suka perempuan. Tapi ibu memaafkannya, karena memang itulah kelemahannya.”

Kemalangan datang beruntun setelah ayah Franky tak ada. Seseorang datang mengaku rumah yang ditempati keluarga Franky adalah milik mereka. Dulu itu dipinjam oleh almarhum. Karena sekarang almarhum sudah tak ada, pemiliknya akan mempergunakan sendiri. Pernyataan itu disertai dengan surat-surat lengkap, dikawal oleh RT dan RW serta petugas, terpaksa Franky dan ibunya pindah.

“Apakah ayah bisa masuk surga setelah meninggalkan kita dalam keadaan tuna wisma seperti ini?”tanya Franky kalau lagi iseng.

Ibunya hanya menjawab.

“Bapakmu sendiri pun mungkin menolak masuk surga, karena dia tahu dia sudah mentelantarkan kita seperti ini. Padahal dulu janjinya akan membahagiakan kita. Ibu sendiri tidak mendoakan supaya Bapak masuk surga. Tidak. Yang Ada Di Atas Sana pasti akan memberikan tempat yang semestinya sesuai dengan perilaku bapakmu. Kalau bapakmu karmanya memang buruk, untuk apa mendapat tempat yang baik. Pasti tempat baik hanya untuk orang yang baik. Dan kalau bapakmu memang baik, tak akan mungkin salah kamar di tempatkan di neraka.”

Franky melihat kembali ke layar kaca. Upacara sudah berakhir. Bunga telah dtaburkan dan tamu-tamu VIP sudah mulai pulang. Hanya rakyat yang masih ada di jalanan. Lalu Franky mengambil HP dan menjawab SMS liar itu.

“Semoga almarhum mendapat tempat yang semestinya di sana.”

Tapi setelah itu, ia tidak tahu bagaimana menjawab anjuran untuk menolak pengibaran bendera dan penyiaran tv yang berlebihan.

“Pasti pengirim SMS ini tak suka kalau almarhum terlalu dibesar-besarkan, sementara banyak hal yang masih perlu dijelaskan, “kata Franki kepada istrinya, “inilah demokrasi. Kita boleh dan bebas berpendapat. Asal kita kemudian tidak memaksakan apa yang kita inginkan itu terjadi. Karena kehendak orang banyak yang beralku. Kalau kalah suara, meskipun keki, mesti berani menerima, jangan lalu ngamuk dan memaksakan mau menang. Harus berjuang mengumpulkan lebih banyak sauara , jangan maksa begini!”

Istri Franki melotot.

“Maksud Abang apa?”
“SMS ini seperti orang marah dan memberi aku perintah!”
“Itu karena Abang tidak setuju!”

“Bukan! Aku cuma tidak suka caranya. Coba baca, masak dia bilang: sebarkan! Dia pikir, makin keras berteriak makin benar! Itulah jadinya pendidikan yang sudah ditanamkan oleh kekuasaan otoriter di masa lalu. Kita semua jadi terlatih jadi anarkhis! Mau menang sendiri! Bagaimana bisa belajar demokrasi kalau mau menang sendiri! Mau apa kalau nyatanya rakyat lebih banyak mencintai almarhum?”

“Aku tidak mau menang sendiri, aku hanya menganjurkan! Abang saja yang terlalu sensitif!”

Franki terkejut.

“O jadi yang menulis SMS itu kamu?”

Istri Franki melotot.

“Kenapa jadi menuduh begitu?”
“Habis kamu membela!”
“Siapa yang membela? Membela apa?”

“Kamu setuju upacara pemakaman almarhum begitu dibesar-besarkan, sampai tujuh hari bendera berkabung?”

“Tapi itu layaknya untuk seorang bekas presiden! Semua p;residen kita yang mana pun harus begitu caranya dimakamkan! Kalau tidak, berarti dosa!”

17/12/08

Pertunjukan ZERO

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

ZeroERLIS:Saya, bu Melani, dan Pak Sapardi sedang menyusun sebuah penelitian mengenai teater eksperimental, saya diminta untuk membaca dan memahami naskah-naskah drama eksperimental.

Saya sudah menonton teater Zero di Cd, saya tidak terlalu puas karena saya tidak dapat merasakan totalitas sebuah pertunjukan teater. Suasana magis yang dicoba dibangunkan lewat pertunjukan tersebut.

Saya membayangkan kalau saya benar-benar ada di arena saya mungkin akan mencium bau dupa atau apa pun bentuk bau lainnya yang membawa kita semua, penonton, ke suasana magis, apakah itu benar?

Saya dulu sekitar tahun 1970-an, saat saya masih di sekolah, SMP dan SMA, pernah beberapa kali menonton teater pak Arifin C. Noer, “Kapai-Kapai” dan “Tengul”, sayang memang saya tidak sempat menonton “Aduh” dan “Lho”, maklum masih anak sekolah.

PW: Menonton langsung dan menonton rekaman pertunjukan memang berbeda sekali. Ketika menonton langsung memang benar bukan tontonan itu, saja yang tertangkap tetapi juga suasana dalam pertunjukan. Enersi dari penonton lain juga ikut menggetarkan saraf-saraf.Sementara rekaman kamera sudah amat dipengarugi oleh potensi kamera itu ( yang kepekaannya beda dengan mata telanjang) juga oleh “selera” juru kameranya. Jadi rekaman seperti juga terjemahan puisi bisa lebih bagus atau lebih buruk dari aslinya.Namun minimal dari sebuah rekaman akan dapat dilihat ide-ide yang mungkin akan terlewatkan dalam pertunjukan langsung, karena rekaman dapat dilihat berkali-kali. Jadi rekaman mesti dilihat berkali-kali dan didiskusikan.

ERLIS:Menonton Zero sedikit mengingatkan saya pada suasana itu, tetapi jauh berbeda. Saya pernah membaca tulisan Goenawan mengenai Teater Indonesia Mutakhir: Sebuah Catatan.Di dalam tulisan itu disebutkan bahwa teater Mutakhir konsepnya adalah sebuah teater puisi, teater puisi yang sesungguhnya, karena semuanya berawal dari sebuah pengalaman berteater, seperti yang saya baca dari artikel-artikel mengenai pertunjukan “Lho” di tahun 1970-an yang semuanya berawal dari sebuah pengalaman “latihan mengolah tubuh”.Apabila “Lho” merupakan sebuah hasil pengalaman berteater Pak Putu di tahun 1970-an, bagaimana proses terjadinya “Zero”, apa perkembangannya dari “Lho”, saya melihat kalau dulu mungkin baru sampai pada tahap pengolahan tubuh, tetapi untuk tahun 2004 pak Putu sudah sampai pada tahap pengolahan warna, bentuk panggung, dan suara yang lebih optimal. PW: LHO saya buat pada tahun 1975, ketika baru pulang dari International; Writing Program di Iowa dan kemudian singgah main di Festival Nancy. Tidak didasari oleh konsep atau keinginan apa pun.Hanya latihan saja tanpa target. Kami lakukan setiap malam, sesudah TIM sepi dan tidak ada kegiatan.

Pesertanya siapa saja. Mereka tidak diundang, tapi bergabung semdiri. Kebanyakan para mahasiswa teater LPKJ (sekarang IKJ) yang waktu itu banyak tidur di kampus yang kerika itu belum dibangun gedung seperti sekarang.Pelukis Nashar tertaruk oleh latihan kami. Dia terus nongkrongin kami dan akhirnya ikut terlibar dalam proses kami. Kami berelatih merespon benda-beneda yang ada di sekitar kamui. Misalnya gerobak samaph, roda pedati, boneka, bambu, topeng. Perlahan-lahan muncul bentuk-bentuk.

Akhirnya setelah 4 buklan berlatih muncul keinginan untuk mementaskan hasil latihan itu di teater Arena TIM. Selama 3 hari pertunjukan dengan dukungan musik oleh Kompyang Raka juga ditambah dengan kehadiran Wayan Diya, pertunjukan berlangusng 3 hari dan padat pengunjung.

Di akhir pertunjukan saya minta penonton keluar, karena pertunjukan akan duilanjutkan di plaza. Kemudian saya minta siapa saja yang bersedia, naik ke gerobak dengan telanjang bulat. Kemudian gerobak ditarik ke kolam. Orang-orang telanjang itu dibuang ke kolam seperti sampah.

Sementara di kolah yang lain, beberapa orang jongkok dengan pakai sarung, seperti kebiasaan orang berak di kali, sambil bicara masalah-masalah politik.

Sesudah LHO saya meneruskan dengan pementasan ENTAH dan NOL, keduanya juga tanpa memakai kata-kata. Tetapi penontonnya susut dan pada NOL nyaris habis. Setelah itu saya memutuskan untuk berhenti, karena merasa penonton memetrlukan cerita dan kata-kata.

Pada 1991, dalam rangka KIAS, pameran kebudayaan Indonesia di Amerika selama setahun penbuh, Teater Mandiri mementaskan pertunjukan di 4 kota Amerika. Waktu itu saya memutuskan untuk kembali kepada LHO dan membawa pertunjukan tanpa kata dan tanpa cerita. Kami mementaskan YEL dengan musik Harry Roesly dan mendapat sambutan bagus sekali.

Pulang dari KIAS saya mulai menekuni pertunjukan tanpa kata-kata itu. Dengan memakai layar besar (15 X 9 meter) saya memainkan bayangan-bayangan, karena tergugah oleh bayangan di air yang tertiup angin.

Dengan melalukan distorsi pada bentuk, muncul sensasi yang fantastis dan mengagetkan. Teater Mandiri kemudian mementaskan YEl II, BOR, NGEH (Art Summit 2).

Pada thn 2000 untuk pertama kalinya kami memainkan naskah orang lain (Kuo Pao Kun dari Singapura: The Coffin is too Big for the Hole) dalam festival di Tokyo.

Atras izin Pao Kun, kami memainkan naskah itu secara visual. Pada 2001 Festival Asia Meets Asia di Jepang, mengundang Mandiri dan Mandiri datang dengan mementaskan WAR.

Ide War adalah kenyataan bahwa dengan dalih mengejar perdamaian, manusia menempuh jalan yang berbeda-beda bahkan bertentangan, sehingga bukan perdamaian yang tercipta tetapi perang.

Pada 2003 Asia Meets Asia berlangusng di Taipe, kembali kami diundang. Saya meneruskan obsessi saya tentang perang. Kalau dalam WAR kami menontonkan bagaimana perdamaian membawa orang untuk berperang, lalu timbul pertanyaan, bagaimana sesungguhnya jalan terbaik untuk sampai pada damai.

Waktu itu saya pikir, sesuai dengan konteks Indonesia yang carut-marut karen reformasi, untuk menghentikan perang, semua orang harus kembali kem zone ZERO. Kita harus sama-sama nol, kosong. Barangkali dengan cara itu baru kitra bisa melangkah bersama-sama.

Dari Taipeh dikabarkan bahwa kami akan main dalam tenda sirkus dengan areal panggung yang relative sempit. Karena tak mungkion menggantung layar lagi, layar kami lepas, dan kami main di dalam layar, sehingga idiom bayangf tetap bisa terpakai.

Walhasil, sebenarnya kami tidak pernah melakukan eksperimen. Semua langkah kami adalah jawaban dari situasi yang ada. ZERO pun adalah sebuah jawaban dari tempat, waktu dan situasi ( dalam pemahaman orang Bali disebut : Desa-Kala-Patra)

Khusus untuk musik. Dalam bekerjasama dengan Harry Roesly, yang sering ter4jadi adalah jam session. Harry membaca gambar-gambar di lantai pentas sebagai partitur dan menciptakan musiknya.

Kami sendiri mencoba merespons musik itu sambil mengusung bentuk-bentuk yang sudah kami rencanakan. Jadi pertunjukan bisa berubah setiap saat. Dalam ZERO, karena orang yang bisa dibawa ke Taipeh terbatas, kami terpaksa hanya membawa rekaman musik Harry.

Mas Roedjito juga tidak dibawa karena sudah tak ada. Itulah awalnya kami bermain tanpa Harry dan DKSB. Sesudah ZERO, kami masih sempat main ZOOM dengan HARRY. Tapi setelah itu Harry meninggal dan saya merasa ZERO seperti semacam persiapan bekerja tanpa Harry dan tanpa Roedjito

LHO, ENTAH dan NOL, saya masih ditemani oleh Kompyang raka dengan musik Bali. Target saya masih hanya penonton di Jakarta. ZERO saya ditemani oleh musik Harry Roesly yang memanfaatkan unsur Sunda, Bali dan musik digital. Targetnya sudah mencakup penonton asing (bukan hanya Indonesia)

ERLIS: Saya menonton “Zero” saya merasa dibawa ke suasana sedih, saya seperti melihat sebuah pertarungan untuk menghadapi kelahiran. Bagaimana pergulatan janin untuk “menjadi”.Munculnya seorang Taiwan di awal pertunjukan membuat suasana menjadi magis karena suara yang dikeluarkannya dalam bahasa Taiwan atau bukan saya tidak tahu membawa kita ke dunia antah berantah, tapi saya ingat suasana “mungkin” ya Pak suasana pemujaan di dalam agama Hindu atau Budha, itu bayangan saya.

Kemudian muncul warna-warna dan bentuk-bentuk tak jelas, yang jelas justru kesan sebuah “pergulatan”. bayangan seorang perempuan muncul dengan mungkin liang rahim. kain-kain transparan yang menutupi membawa pada suasana atau mengingatkan pada bayangan plasenta.

Sebagai seorang ibu saya dapat merasakan dan mengingat kembali bagaimana perjuangan seorang ibu saat melahirkan. Benar pak, saya menjadi teringat kembali saat-saat melahirkan, bayangan itu sudah agak kabur bagi saya karena saya sudah melampaui saat-saat itu enam tahun yang lalu, anak saya terkecil umur 6 tahun, tetapi saat-saat itu tidak terlupakan bagi seorang ibu pak, nah, saya rasakan selanjutnya adalah rasa ketakutan dan rasa kesakitan yang mendalam dari seorang janin yang akan menghadapi dunia yang carut marut, secara fisik saja seorang janin sudah harus berjuang, apalagi secara moral.

Itu yang saya rasakan Pak, saya “merasakan” pak, bukan “memahami” atau “menonton” kalau saya sekadar “menonton” mungkin saya tidak akan mendapatkan apa pun dari apa yang dipertunjukkan, hanya saja sayang sekali yang dapat saya rasakan itu tidak terlalu optimal karena saya tidak hadir secara langsung saat pertunjukan.

PW: Orang Taiwan yang ada dalam rekaman Zero itu adalah Mr. Chung, sutradara dan aktor terkenal di Taipeh. Ia menjadi tuan rumah saya di Taipe dan sengaja datang untuk ikut main.

Dia memberi komentar pada Teater Mandii sebagai People Theatre – teater orang kebanyakan, sebab kami memang tidak “memulyakan” aktor. Semua orang yang bukan aktor bisa/boleh ikut main.

Apa yang dilakukan Chung dalam ZERO adalah keterlibatan yang l;ebih banyak improvisasinya. Saya hanya memberikan sedikit arahan, sesudah itu terserah dia. Kami memang biasa berjalan seperti itu, meneror dan sekalian diteror.

Apa yang tertangkap dan terasa oleh Erlis ketika melihat rekaman ZERO tidak harus dicari pembenarannya pada orang lain atau pada saya atau pada Teater Mandiri. Setiap latar belakang memang akan memiliki reaksi atau penagkapan masing-masing pada imij-imij liar yang kami lemparkan.

Itu menjadi bagian dari kekayaan pementasan itu sendiri. Penonton ikut mencipta. Dan saya ikut menonton apa yang diterima setiap penontin tatkala menonton. Kebenaran dengan demikian jadi bertumpuk dan berlapis-lapis.

ERLIS:Pak, boleh saya bertanya mungkin seorang penonton dapat menafsirkan apa pun mengenai apa yang Bapak pertunjukan, tetapi mungkin Bapak dapat bercerita mengenai bagaimana melakukan pertunjukan tersebut, apa yang membawa Bapak ke sebuah pertunjukan yang demikian, saya menonton dengan seorang Bali, kami berdiskusi apa yang menjadi dasar pertunjukan ini, ternyata di dalamnya ada banyak sekali dasar, Pak Putu tidak saja mendasarkan diri pada budaya Bali, karena teman saya yang orang Bali itu tidak dapat mengenali dengan baik budaya Bali yang “mungkin” muncul dalam pertunjukan tersebut.Saya justru menemukan suara-suara seperti gamelan Jawa dan teman saya yang orang Sunda seperti mendengar suling Sunda. saya jadi curiga bahwa apa yang dipertunjukkan sudah bersifat minimal mengindonesia, kita singkirkan dulu orang Taiwan, kalau dihitung mungkin sudah juga menginternasional.

Pak Putu yang hidup di Jakarta dan bergaul dengan berbagai macam orang membaca berbagai hal, mungkin menjadikan pertunjukan ini menjadi semakin kaya.

PW: Saya orang Bali. Orang tua saya Bali dan saya lahir di Bali dan besar di Bali sajmpai tamat SMA. Tapi seluruh hidup saya lebih banyak di luat Bali. Bila diukurkan dengan orang Bali yang lain, saya mungkin orang Bali yang sudah terkontaminasi. Orang Bali yang sudah salah format.Orang Bali yang sudah eror. Orang Bali yang sudah murtad. Tetapi dengan semua itu, saya jadi memiliki jarak dengan Bali, sehingga saya berpikir tidak sebagaimana orang Bali umumnya. Bali yang Anda lihat dalam garapan saya bukan hanya teater, juga sastra, sudah lain.

Jadi kalau ada orang Bali yang tidak mengenal saya, itu wajar sekali. Namun saya percaya, apa pun saya sekarang, bahkan tidak mengaku pun, saya tetap saja orang Bali. Saya sudah terkutuk sebagai Bali, sehingga walau memakai jean dan makan McDonald dan “bergaya” seperti orang jajasahan jawa dan SUnda (istri saya duklu jawa, sekarang Sunda) saya tetap otang Bali, saya sudah dikutuk jadi orang Balim dan tidak bisa lain lagi.

Dengan berpikir seperti itu, saya selalu bebas dalam bekerja, sama sekali tidak ada keingionan untuk membali-balikan diri.

ERLIS: Satu hal lagi suara angin yang terus menerus mengikuti selama pertunjukan memberi kesan suasana genting.Boleh saya bertanya mengenai konsep reinkarnasi dalam proses “penjadian” manusia dalam budaya Bali yang mungkin menjadi dasar pertunjukan ini. dengan konsep ini sang janin (dalam konsep reinkarnasi yang saya pahami) yang sudah pernah ada di dunia, tentunya akan mengalami banyak sekali ketakutan untuk “hadir” kembali ke dunia.

Pergulatan fisik dan moral pasti akan terjadi, apakah ini yang menjadi konsep dasar pertunjukan ini, atau mungkin yang lain, apa pun sebenarnya tidak menjadi soal, menurut saya hadir di pertunjukan Zero adalah menyediakan diri untuk mendapatkan efek-efek kreativitas seni yang seutuhnya.

PW: Saya suka pada reinterpretasi dan reposisi. Reinkarnasi, tidak harus terjadi dengan kematian terlebih dahulu. Bagi saya pergantian hari, bahkan helaan nafas adalah ptoses bernafas adalah miniature dari reinkarnasi.Kita bisa lahir kembali setiap saat, belajar kembali, mulai dari nol kembali, asal saja kita bersedia dan bertekad untuk layhir kembali setiap saat. Saya memnganggap desa-kala-patra juga semacap fotmula yang menyebabkan manusia bis berreinkarnasi seriap saat asal mau dan bertekad.

Dan itu memang sakit. Karena itu berarti meruntuhkann, menendang, membalik semua yang sudah ada menjadi nol kembali dan baru.

ERLIS: Maaf Pak Putu terlalu panjang ya, mudah-mudahan tidak bosan.Saya akhiri dulu Pak, terima kasih sekali. PW: Saya sengaja menjawab panjang lebar, sebab saya juga ingin mendokumentasikan tanya-jawab ini, bagi beberapa orang, siapa saja yang ingin tahu lebih jauh tentang perjalanan Teater mandiri.Seorang mahasiswi IKJ misalnya kiemaren datang dan menyatakan keingihnannya untuk membuat skripsi tentang gaya pementasan Teater Mandiri sesudah tahun 2000, khusunya ZOOM dan ZERO.

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita