Tampilkan postingan dengan label Abdul Aziz Rasjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abdul Aziz Rasjid. Tampilkan semua postingan

20/03/12

Meledek Penyair, Menghormati Puisi

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Aziz, Yusri Fajar, Denny Mizhar berfoto-foto dengan latar pendar-pendar kembang api pada malam tahun baru 2011 di lapangan rektorat Universitas Brawijaya, Malang. Nanang Suryadi, tak tahu kemana, mungkin ia suntuk menulis puisi di akun facebook-nya tentang sejauh apa kembang api dan puisi dapat memberi inspirasi bagi masyarakat untuk mulai menata harapan di awal pergantian tahun.

26/08/11

Novel yang Mengurai Peristiwa Subliminal

Catatan kecil setelah membaca novel Tembang Tolak Bala
Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Mutu penginderaan manusia memiliki batas untuk mempersepsi segala hal di lingkungan sekitarnya. Tetapi, dalam aktivitas sehari-hari, ada peristiwa-peristiwa tertentu yang tetap direaksi oleh indera lalu diterjemahkan oleh pikiran namun tak kita sadari. Peristiwa itu disebut oleh Carl Gustav Jung dalam bukunya yang bertajuk Man and His Symbols sebagai peristiwa subliminal, atau peristiwa yang diserap ke lapisan bawah dari ambang kesadaran.

Peristiwa-peristiwa subliminal ini, nantinya memiliki arti emosional tersendiri bagi seseorang, berperan mengimbangi dan memperbaharui keseimbangan psikis, mengembalikan arus ingatan pada hal-hal yang telah di/terlupakan, bahkan menjadi rangkuman padat dari kehidupan. Kesemuanya itu, diolah dalam bentuk pesan khusus oleh alam tak sadar dan disampaikan dalam mimpi.

Peristiwa subliminal itulah yang menjadi pokok penting dalam novel Tembang Tolak Bala (LKiS, 2011) karya Han Gagas. Hargo, tokoh sentral dalam novel ini, diceritakan mengalami koma selama 35 hari ketika ia berusia 9 tahun. Dalam komanya itu, Hargo mula-mula bermimpi hidup di masa-masa keruntuhan Majapahit sebagai anak asuh Ki Ageng Mirah yang merupakan leluhur para warok, lalu terpental dalam dimensi waktu yang lain menjadi gemblak warok di masa ketika Indonesia berhadapan dengan tegangan sosial politik di masa demokrasi terpimpin Soekarno. Dua dimensi waktu itu, dalam mimpi Hargo memiliki satu kaitan pesan khusus yaitu pelak-pelik sejarah kehidupan Reog yang tak terpisahkan dari riwayat leluhurnya juga rangkuman padat kehidupannya.

Darah Warok

Saat mengunjungi Telaga Ngebel di lereng Wilis, Hargo yang telah berusia belasan tahun teringat kembali pada kenangan masa kecilnya bersama ayahnya yang mengajaknya menonton upacara larung labuhan tanggal 1 Syuro. Saat itu, setelah prosesi larung labuhan usai, Hargo dan ayahnya tetap berdiri menatap telaga meski pengunjung larungan telah pergi. Di keheningan telaga, Hargo mendengar Ayahnya berkata begini: “Sebenarnya, akulah yang harusnya memimpin doa itu. Kita sebagai keturunan Eyang Tejowulan, memiliki wahyu untuk mengucap doa itu. Tapi, pemerintah tak mau menghapus dosa eyang. PKI selamanya tertancap di kening kita” (Hal. 114-115).

Kata-kata ayah Hargo adalah perisitiwa subliminal yang saat itu tidak direaksi secara sadar oleh Hargo, mungkin karena peristiwa itu dianggap tak menyenangkan karena mengindasikan hal buruk yaitu keturunan PKI yang berkaitan dengan pemberontakan komunis dan mengakibatkan dampak traumatik sosial di negeri tempat ia tinggal. Tetapi kata-kata itu tetap diserap oleh indera pendengaran dan disimpan ke lapisan bawah dari ambang kesadaran Hargo, lalu disampaikan kembali oleh alam bawah sadar dalam bentuk mimpi ketika ia mengalami koma selama 35 hari

Dari mimpi yang dialaminya, Hargo lalu tahu bahwa di tubuhnya mengalir darah keturunan Warok. Kenyataan tentang jati dirinya ini berpengaruh pada tanggapan emosinya dalam tiga hal: 1). Sebagai keturunan warok, Hargo merasa jijik dengan kebiasaan seks menyimpang seorang warok dengan seorang gemblak dalam bentuk hubungan seks sesama jenis, 2). Hargo adalah keturunan warok yang dicap memiliki kaitan dengan orang-orang PKI sehingga disisihkan secara sosial oleh warok yang lain, 3). Hargo adalah keturunan warok yang menyisahkan perselisihan antar warok yang berkembang menjadi dendam turun temurun.

Tiga hal ini terceritakan sebagai pesan dalam mimpi Hargo. Dalam mimpi itu Hargo mengalami sendiri kedukaan menjadi Gemblak Tejowulan yang secara garis keturunan adalah kakeknya sendiri. Tejowulan pulalah yang menjadi cikal bakal keturunannya dicap sebagai orang PKI, sebab ketika pemberontakan komunis meletus di Madiun, Tejowulan menampung anak-anak juga istri para pelarian orang-orang pergerakan dari Madiun. Tersebarnya anggapan bahwa Tejowulan mengayomi orang-orang komunis membuat musuh bebuyutannya bernama Wilodaya mempunyai dalih di mata masyarakat untuk membunuh Tejowulan sebagai pembalasan dendam karena ayahWiroladaya pernah dipermalukan oleh ayah Tejowulan dalam suatu pertempuran.

Dalam kehidupan nyata, pesan-pesan dalam mimpi itu, di satu sisi telah mengembalikan arus ingatan Hargo pada hal-hal yang telah di/terlupakan berkaitan dengan riwayat rangkuman kehidupan leluhurnya. Sedang di sisi lain, pesan mimpi itu berperan mengimbangi dan memperbaharui keseimbangan psikis Hargo yang terbentuk dalam keyakinan dua hal: 1) Ia adalah warok yang akan membawa risalah hidup wajar, dengan istri dan anak-anak tanpa harus mempertahankan laku gemblak, 2). Tembang tolak bala yang diberikan oleh Tejowulan dalam alam mimpi sebelum ia terbunuh oleh Wilodaya, dipahami Hargo sebagai pesan pentingnya kerendahan hati dalam sikap maaf dan damai untuk mengakhiri dendam turun-temurun, sebab secara historis tembang ini pulalah yang mendamaikan hati Ki Ageng Kutu sebagai leluhur para warok untuk menyelesaikan perselihannya dengan Raden Katong sebagai putra Brawijaya V.

Pola mimpi sebagai Strategi Literer

Uniknya, dalam novel Tembang Tolak Bala ini, struktur mimpi yang memang tak memiliki susunan logis dalam alur cerita maupun pembagian waktu dimanfaatkan oleh pengarang sebagai strategi literer yang menarik. Peristiwa demi peristiwa di dalam mimpi, berjalan seakan tanpa kesatuan tindakan dan peristiwa, tanpa memperhitungkan kelogisan cerita.

Cobalah Anda bayangkan: Mula-mula Hargo diterbangkan oleh layang-layang, lalu tiba-tiba saja ia berada di masa runtuhnya Majapahit dan diasuh oleh Ki Ageng Mirah. Di rumah Ki Ageng Mirah ini, Hargo selalu tertarik untuk bermain-main di sungai sampai suatu saat arus sungai menyeretnya ke arus waktu ketika Indonesia mengalami pergolakan politik di zaman pemerintahan Orde Lama. Ketika seseorang menodongkan pistol padanya, menembaknya, tiba-tiba badannya melesap ke dalam bumi dan ia siuman mendapati dirinya dirawat di rumah sakit akibat koma selama 35 hari.

Maka, membaca novel ini, Anda akan mendapati mimpi layaknya petualangan fiksi dengan segala kemungkinan dan kejutan yang tak terduga. Mimpi yang hadir dengan membawa muatan pesan untuk mengingatkan bahwa ada banyak peristiwa di dunia yang ter/dilupakan. Peristiwa itu bisa bersifat massal semisal kebudayaan Reog Ponorogo yang pernah dikotak-kotakkan dalam kepentingan politik tertentu hingga menyebabkan pertumpahan darah antar warok, atau bersifat personal tentang kedirian yang kehilangan identitas sebab ancaman traumatik politik. Setidaknya, inilah peristiwa subliminal kehidupan yang diurai oleh Tembang Tolak Bala.

17 Agustus 2011

05/08/11

Puisi yang Menggugat Kemerdekaan

Abdul Aziz Rasjid
Malang Post, 25 Juli 2009

Ternyata kemerdekaan itu milik anak-anak. ternyata merdeka
itu adalah anak-anak dari segala sudut dunia
— Wahyu Prasetya, Bendera Anak-anak (1990/1991)

Penyair punya kebebasan dalam mencipta puisi sebagai hasil kreasi. Penyair boleh menumpahkan emosi di antara situasi yang sedang ia alami, membayangkan dunia ideal yang diidamkannya setelah ia memikirkan pengalaman yang pernah terjadi di lingkungan sekitarnya. Penyair punya hak untuk menyatakan, memikirkan ulang dan menanyakan segala sesuatu yang telah terjadi di masa lampau maupun sedang berlangsung di masa kini untuk memberikan saran bahkan membayangkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan.

Mengunakan bahasa, kekhasan penyair muncul lewat cara pengolahannya terhadap peristiwa-peristiwa itu dengan kepiawaian baluran daya imajinasi. Fakta dan imajinasi yang saling berkelindan dalam rupa puisi dapat pula diposisikan dan difungsikan sebagai tanggapan evaluatif bermuatan artistik —keindahan bunyi, nuansa maupun kedalaman makna— atas kondisi sosial kultural masyarakat di lingkungannya. Hak dan kewenangan penyair dalam berkreasi, yang acapkali bermuatan bahasa sugestif (penyaranan), asosiatif (pertalian) dan imajis (pembayangan) sering disebut sebagai licentia poetica (poetica licence).

Esai ini, akan membicarakan puisi-puisi yang ditulis oleh Wahyu Prasetya, khususnya ciri licentia poetica Wahyu Prasetya dalam melakukan pemaksimalkan latar untuk membangun imaji puisinya yang terkumpul dalam antologi puisi tunggalnya bertajuk Sesudah Gelas Pecah (Forum Sastra Bandung, 1996).

Sebagai perkenalan singkat penyair, Wahyu Prasetya adalah penyair kelahiran Malang, 5 Februari 1957. Ia menulis sejak tahun 1979, pernah bertualang ke berbagai Negara Asia Tenggara, dan pernah bermukim di Jerman Barat selama 3 tahun. Beberapa puisinya terkumpul dalam antologi Tonggak (Jogjakarta), Pertemuan Penyair Indonesia (TIM-DKJ, Jakarta, 1987) dan juga terdokumentasikan di luar negeri, yaitu 02:30 Abstraction (Sourborne, Perancis, 1996) dan Merely A Dagger (Idaho, USA, 1996).

Latar dalam puisi

Latar yang digambarkan oleh Wahyu Prasetya dalam buku Sesudah Gelas Pecah, didominasi oleh dua macam latar, yaitu latar tempat dan latar material. Latar tempat ditunjukkan dalam penyebutan wilayah semacam kota (Jakarta), negara (Indonesia), sekolah dasar sampai rumah.

Latar tempat itu selalu dilengkapi oleh kehadiran latar material yang memberi efek pembayangan tentang sebuah situasi mencekam, misalnya dalam larik-larik berikut: Indonesia adalah sebuah peta yang pernah diperdaya oleh ranjau, intrik, bom dan kasak kusuk (“Anakku Menulis Merdeka atau Mati”), atau di sela reruntuhan kota dan kemerdekaan, anak-anak tertawa, menangis, menjeritkan kalimat yang tertera di tembok dan rongsokan tank (“Bendera Anak-anak”).

Ranjau, bom, reruntuhan, kalimat yang tertera di tembok dan rongsokan tank merupakan latar material yang memperkuat suasana tentang pembayangan situasi sosial tertentu, yaitu adanya bekas-bekas kekerasan akibat kondisi keterjajahan. Pembayangan bekas-bekas dari situasi keterjajahan itu, di sisi lain, juga menyiratkan sebuah peristiwa adanya usaha-usaha bentuk perlawanan yang hadir dalam bentuk kata kerja aktif, semisal menjeritkan kalimat “Merdeka!” yang tertulis di tembok dan di rongsokan tank atau menulis kalimat “Merdeka atau Mati!” yang didapati dari buku tulis sejarah sekolah dasar.

Situasi keterjajahan yang kemudian menjadi bagian sejarah sebab pada akhirnya dapat dikalahkan lalu mengantarkan pada situasi baru, yaitu mewujudnya kemerdekaan. Ironisnya, kemerdekaan ternyata tetap menimbulkan situasi yang tragis. Sebab dalam penggambaran latar tentang masa merdeka, aku lirik dalam puisi Wahyu Prasetya tetap menemu dan melihat maharajalelanya kesengsaraan. Semisal dalam bait-bait puisi yang berjudul “Bendera Anak-anak” ini:

disini, aku melihat anak-anak trotoir, anak-anak lorong
kampung Jakarta
….
di jembatan yang melingkar, mereka beratap, mengkisahkan mimpi
sebuah tempat teduh beton dan lauk pauk yang terhidang.

Situasi merdeka yang tetap menimbulkan kesengsaraan itu, dimana jembatan menjadi atap dan tempat tinggal, seratus gedung sekolah dasar di pelosok IDT roboh, bahkan aku lirik menatap bendera dalam gerimis kedua mata anak istrinya, timbul karena maraknya kecurangan dan orientasi negeri yang berpihak pada panji-panji ekonomi. Kenyataan yang ditemui ini lalu mengantarkan aku lirik pada pemahaman baru bahwa pekik kemerdekaan telah menjadi sekadar slogan dari ingatan gema optimisme perjuangan masa lampau yang hanya tertulis dalam buku sejarah.

Pada bait-bait puisi yang berjudul “Anakku menulis merdeka atau Mati”, Wahyu Prasetya menulis begini:

biarlah
Kemerdekaan yang kami syukuri dalam rumah sederhana ini
hanya huruf, kalimat dan bahasa cat semprot
dan jari jari anakku yang mengutip ingatan buku tulis sejarahnya.

Tanggapan evaluatif penyair

Pemaksimalan daya artistk yang dilakukan Wahyu Prasetya dengan cara melakukan hubungan asosiatif dua macam latar (tempat dan material) dalam dua masa yang berbeda itu, memberi pembayangan (imaji) pada dua pemahaman personal. Imaji pertama adalah peristiwa dalam masa kemerdekaan yang ternyata tetap menghadirkan kesengsaraan, imaji kedua adanya peralihan optimisme perjuangan melawan keterjajahan yang kini sekadar menjadi slogan. Dua imaji itu, mensugesti aku lirik untuk mempertanyakan tentang perihal ini: “Siapakah pemilik kemerdekaan sebenarnya?”

Pertanyaan itu yang sekaligus menjadi tanggapan evaluatif penyair terhadap kondisi sosial kultural masyarakat di lingkungannya tampak jelas dalam bait-bait init:

tapi aku akan bertanya juga, kemerdekaan siapakah tanah airku,
Kemerdekaan siapakah bangsaku?
jika hari itu selalu kusaksikan banyak kecurangan antara kita, anak-anak
yang tertegun di perempatan jalan
jika hari ini kita bersama saksikan duka cita anak-anak,
seperti anak anak kita, siapakah mereka?

Pertanyaan itu mengandung tiga kemungkinan: aku lirik belum paham akan kemerdekaan, aku lirik ingin tahu lebih lanjut tentang arti kemerdekaan, atau aku lirik menggugat kemerdekaan. Dalam asumsi saya, aku lirik lebih cenderung melakukan gugatan dalam pertanyaan-pertanyaan itu. Karena aku lirik telah menegaskan dalam awalan puisi “Bendera Anak-anak” bahwa ternyata kemerdekaan itu milik anak-anak. Ternyata merdeka itu adalah anak-anak dari segala sudut dunia.

Dari pernyataan itulah, saya tahu, pada suatu masa kemerdekaan adalah hasil dari benih-benih perjuangan melawan keterjajahan. Kemerdekaan yang lantas mewujud dari keringat juga darah yang tumpah itu, menampung harapan massal yang mengandung optimisme bahwa merdeka adalah modal berharga agar regenerasi anak negeri dapat terus berlangsung, terjaga dan tak mengalami kembali hidup dalam penindasan maupun peminggiran.

Sayangnya, harapan massal itu tetap memiliki potensi menjelma keprihatinan ketika kemerdekaan hanya difungsikan demi keuntungan, kepentingan dan kemegahan segelintir orang. Akhirnya, apakah tanggapan evaluatif dalam puisi Wahyu Prasetya terhadap kemerdekaan sekadar omong kosong? Saya kira kita tahu apa jawabnya.

26/02/11

Puisi Mahasiswa: Politik Bahasa dalam Ruang Reproduksi Kesenjangan Sosial*

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Di kampus ini/ Telah dipahatkan / Kemerdekaan.
Segala déspot dan tirani/ Tidak bisa merobohkan/ Mimbar kami.

“Mimbar”, Taufiq Ismail

Dalam lirik-lirik yang menandakan keyakinan itu; mimbar bernama kampus yang saya imajikan sebagai panggung kecil —tak panjang & tak lebar— tak jarang dipahami sebagai pusat diwujudkannya independensi akal pikiran dalam bentuk aneka ragam pendapat. Walau kecil —mengingat kampus sekadar bagian dari sistem yang luas, bercabang-cabang yang kita kenal sebagai Negara— tetapi kampus di negeri ini memiliki sejarah panjang dan mengagumkan dalam melaksanakan jiwa berlawannya untuk merobohkan penguasa tunggal yang sekendak hati menyebarluaskan penyengsaraan bagi rakyat.

Pandangan itu memang wajar adanya, apalagi bila mahasiswa diletakkan dalam posisi idealnya dalam sifatnya yang edukasional. Kampus sebagai ruang pendidikan adalah salah satu fasilitas di mana putra-putri bangsa dapat melatih diri untuk mengasah lau mengemukakan suatu gagasan yang logis, menanggapi problem-problem sosial secara kritis dan mentradisikan kebiasaan untuk mempelajari sesuatu untuk kemajuan diri serta sosialnya sehingga dapat membentuk identitas berdasar dari olah pikir kognisi sendiri. Sebab pada mulanya dan idealnya kampus memang diperuntukkan agar rakyat menjadi tak mudah dibodohi.

Dari pandangan umum itu, mungkin jiwa penyair sebagai salah satu rupa mahasiswa dan puisi sebagi salah sebuah rupa suara bertolak dari nasib sendiri lalu bersatu dengan nasib semesta. Duka sendiri itu lantas dipahami sebagai suatu Weltshmerz atau duka semesta. Di dalam keadaan khusus, ketika kesuraman-kegalauan merajalela, penyair dihadapkan untuk melibatkan diri pada masalah-masalah sosialnya, cita-cita dan perjuangannya. Sebab nasib sendiri telah dirasa identik sebagai bagian dari nasib besar masyarakat. Dan puisi sebagai produk budaya tentu tak bisa lepas dari kondisi sosio-ekonomi suatu bangsa

Sebab itulah, perhatian pada masalah aku lantas beralih pada masalah kita. Dan Sajak-sajak perlawanan Taufiq Ismail mengarah pada ke-kita-an itu, pada taraf ke-kami-an, hasil endapan dari pengalaman fisik, mental dan emosional selama penyertaannya dalam demonstrasi mahasiswa di tahun 60-an.

Singkatnya, begitulah Subagio Sastrowardojo memberi kupasan dan tanggapan atas sajak-sajak Taufiq Ismail yang terhimpun dalam kumpulan Tirani (1966) dan Benteng (1996, cetakan kedua 1968) dalam esainya yang berjudul “Sadjak-sadjak Perlawanan Taufiq Ismail dan, Angkatan 66” . Walau dalam akhir esai itu, Subagio Sastrowardojo menuliskan bahwa sajak-sajak perlawanan itu belum cukup memenuhi syarat dan nilainya untuk memberikan arah baru pada perkembangan sastra Indonesia. Tapi, di sisi yang lain, Subagio percaya bahwa sajak-sajak itu setidaknya telah mencatat sejarah perjuangan anak bangsa dalam menegakkan kebenaran, keadilan, kemanusiaan dan kemerdekaan.

Dengan keyakinan yang sama, bahwa sastra tak bisa lepas dari kondisi sosio-ekonomi suatu bangsa atau lingkungannya. Dalam esai ini, saya mencoba meletakkan puisi-puisi yang terkumpul dalam Syair-syair Fajar (Mimbar, 2007) dalam realita sejarahnya. Sekaligus upaya sederhana untuk mentafsir pandangan-pandangan mereka, entah sosial-ekonomi-politik maupun budaya yang narasinya bertitik sentral pada masalah-masalah sosial atau lebih menarik lagi menemukan pandangan serta sikap mereka terhadap gejolak dunia pendidikan (kampus). Sebab saya kira, suara mereka dalam lirik, bukan sekadar pandangan spekulasi, tetapi sikap kritis sekaligus analisis dimana pendekatan yang digunakan tentulah dengan memilih fakta-fakta mana yang paling plastis untuk menggambarkan situasi kehidupan sosial, politik, ekonomi maupun kultural yang terjadi pada masa kini.

Puisi sebagai Politik Bahasa
Saya akan memulai tulisan ini dengan mulai mengupas dan memberi tanggapan pada kumpulan puisi yang berjudul Syair-Syair Fajar. Secara pribadi, kumpulan ini saya kira menarik untuk ditinjau dalam kaitannya dengan mencari pandangan umum penyair yang sekaligus mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto terhadap masalah sosial. Sebab antologi ini berlabel pula sebagai Antologi Puisi 19 Penyair Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Puisi-puisi yang terhimpun dalam buku itu kebanyakan ditulis dari tahun yang sama, 2007. Dari 39 puisi yang dihadirkan oleh 19 penyair, hanya empat puisi yang berangka tahun 2005 dan kesemuanya ditulis oleh Restu Kurniawan. Empat puisi inilah yang menjadi pintu pengantar sebelum memasuki puisi lainnya dan pada awalan ini kita disuguhkan aroma khas sajak-sajak yang bernada dasar kritik sosial yang berkelindan di antara kaum marginal kota, konflik sosial yang bersuasana muram disertai imaji kelam seperti ini:

“Parodia Anak Jalanan”: Terlalu asik kami, anak-anak jalan/ Bermain mimpi pekat asap bus kota/ Berubah pahat bagi paru-paru/ Pengap mengepul jadi gelombang di siang/ bising mengumpul di genderang telinga//…Apa akan terus kami gali kubur/ bagi tengkorak kami sendiri/ lalu bangkit hidup yang kedua,/ disulamnya lagi untuk sesuap nasi?

“Deskripsi Tragedi (part #1)”: …Sunguh tanah telah rubah/ disepuh tetes merah sendiri/ Atau tahanlah untuk jadi laut darah/ Tanah dan tradisi sebenarnya wujud kami// Merpati tak rindu pulang jika terus begini.

Dalam lirik-lirik yang saya kutip di atas, ada solidaritas juga kepekaan terhadap bahaya yang mengancam. Tentang kerasnya sebuah jaman, tentang gilanya sebuah masa. Di “Parodia Anak Jalanan” kita dapat mengkhikmati ganasnya revolusi perkotaan , utamanya tentang modifikasi proses-proses alami manusia yang digubah —produk industri— dengan dalih tujuan kemudahan namun sebenarnya berakar perdagangan yang dilegitimasi suatu kelompok. “Parodia Anak Jalanan” memainkan imajinya sekaligus ironinya diantara Bus kota sebagai area kerja dan area “luka”. Dimana luka itu, muncul lewat puisi sebagai upaya menyuarakan nasib kaum miskin kota: “Apa akan terus kami gali kubur/ bagi tengkorak kami sendiri/ lalu bangkit hidup yang kedua,/ disulamnya lagi untuk sesuap nasi?”

Sedang puisi “Deskripsi Tragedi (part #1)” yang berketerangan Kepada: Arsul Tonirio-Ambon, adalah sebuah teks yang merujuk pada dunia di luar dirinya —literal-representasional— yakni kepada peristiwa kerusuhan konflik sosial pasca Orde Baru terutama yang terjadi di Ambon yang bila kita lihat dari kacamata sejarah disebabkan konflik horizontal sebelum Malino II yang kemudian menjadi konflik vertikal yang berfokus isu pada separatisme RMS/FKM (Republik Maluku Selatan/ Front Kedaulatan Maluku), dimana konflik-konflik itu banyak menelan korban dan melahirkan kerusakan sehingga wajar bila terlahir lirik: tanah telah rubah/ disepuh tetes merah sendiri sehingga Merpati tak rindu pulang jika terus begini.

Pada penyair lainnya, lirik-lirik yang bernada dasar kritik sosial terus berkecamuk di antara keaneka ragaman wujud kaum marginal kota. Kecemasan atas kekerasan kehidupan yang merupa dalam ketimpangan status sosial tak hanya menyerang manusia sebagai korban namun juga menumbalkan alam dalam bentuk pengrusakan-pengrusakan. Kata-kata yang sendu lantas jadi makin keras dan lamat-lamat memuncak dalam keinginan untuk menuntut balas sebagai respon akar derita kolektif. Perihal ini terasa gamblang muncul dalam dua puisi dari Yosi M Giri berikut ini:

“Dongeng Kaca Baca”: …Seorang tua yang duduk/ menghitung guratan zaman/ karena ketika cadar membuka/ Ia mendengar/ tiada batas di musim/ keduanya saling bersaing/ menyerang gempa dan banjir// Dan lewat tengah malam/ anak-anak ketakutan/ merasakan gelagat ibu menggeliat/ tiada ketenangan di pangkuan/ tiada lagu meninabobokan// karena dongeng yang datang dari pagar istana/ adalah karat baja/ yang mencium darah dan luka mereka/ menghancurkan rumah-rumah/ dan denyut bayi merah/ atas nama ketertiban kota.

“Spion”: dari bening kaca spion, semesta/ bingung pada penghuninya/ …kendara-kendara seperti lepas dari sarang/ melumut padang gersang/ menyabet pejalan kaki, pemulung gontai/…zaman bergetar-getar bersorak-sorai/ di tengah–tengah kibar panji keuntungan sekedar/ selebihnya bau kotoran berserakan di tepi jalan buntu/ di gang-gang, di gelap-gelap, sampai tebing serumpun/ gunung/ pengap, penuh muslihat//…dari pentungan, dari peraturan tak beraturan/ muncul beribu-ribu kutukan dari rahim bunda/ dari bibir bayi, meraung tengah malam/ minta dibalaskan.

Derita dan kemurungan kolektif itu, sekali lagi muncul akibat dari revolusi perkotaan. Dimana yang berlaku dalam sistem kota adalah penaklukan, sebagai syarat utama terkumpulnya modal komunal. Sebab itulah haluan sosial dan politik kota dibagi-bagi dalam tatanan-tatanan pembagian kerja yang kemudian dikenal sebagai instansi atau birokrasi, di mana ada peraturan-peraturan yang diperlakukan oleh tatanan baru ini, yang terkadang peraturan itu meruncingkan kontradiksi sebab lagi-lagi sistem yang dibuat tak berpihak pada masyarakat malah melebarkan jurang kesenjangan status sosial. Tatanan-tatanan baru itu, dengan kuasanya menyuburkan kedestruktifan dan keserakahnnya dengan menjalankan segala sesuatu berdasar pada panji keuntungan dengan cara ikut serta bermain dalam arus perdagangan pasar.

Masyarakat perkotaan, yang secara psikologis oleh Lewis Mumfort dikatakan bersifat cermat, efisien namun acapkali destruktif, sadis dan di sisi lain cenderung suka membangga-banggakan monumen-monumen beserta catatan tentang prestasi mereka dalam menghancurkan, mendapat gambaran buruk identitasnya dalam imaji lumpur pada puisi Shoni Asmoro yang dipadu secara eksperimentasi dalam permainan nada-nada sinis:

“Alamat Lumpur”: Jalan Lumpur, No 1/ Rt lumpur/ Rw lumpur/ Desa lumpur/ Kecamatan Lumpur/ Kabupaten Lumpur// Sebelah rel kereta lumpur/ Tepatnya di sekitar pabrik lumpur// Kami pemenang rekor dunia lumpur/ Penghasil terbesar lumpur// Kami bangga lumpur.

Sayangnya, lirik-lirik kegalauan sosial yang ditangkap oleh penyair dalam kumpulan puisi Syair-syair Fajar, mendapat porsi yang tak begitu besar bila diletakkan sebagai bagian dari kemurungan kolektif atau nasib sendiri yang dirasa identik dengan yang di alami oleh sebagian besar masyarakat. Agaknya, setelah Restu Kurniawan, Yosi M Giri dan Shoni Asmoro, dari 16 penyair lainnya hanya puisi Arsul Tonirio yang membawa kesan kemurungan kolektif. Sedang penyair sisanya lebih memilih bergulat dengan kegalauan personal yang diakibatkan kerinduan, cinta, hakekat kedirian dan hubungan dengan Tuhan. Puisi Arsul Tonorio, serupa lantunan doa, berbicara tentang penyesalan massal juga kekecewaan terhadap negeri:

“Wajah-wajah Murung”: …Oh Tuhan…!/ Sebesar inikah dosa kami?/ Wajah –wajah murung bukanlah Titahmu/ Cukuplah kira Engkau suapi/ Hanya karena negeriku mulai akut.

Dari beberapa puisi itu, saya menanggapinya sebagai upaya politik bahasa. Di mana puisi mencoba memainkan peran untuk menghantam dan menekan para pelanggar yang menjadi dalang timbulnya kesenjangan sosial. Selain itu, juga upaya untuk melahirkan reorganisasi diskursif antar kekuatan sosial, dimana menyatu golongan yang terpecah dan terpinggirkan dalam sebuah kawasan cultural. Dan tentulah yang menjadi syarat utama adalah keyakinan semacam pledoi Max Havelaar: “Ya, aku bakal dibaca”.

Sekolah sebagai alat reproduksi kesenjangan sosial
Lewat kumpulan puisi Syair-syair Fajar yang merupakan Antologi Puisi dari 19 Penyair Universitas Muhammadiyah Purwokerto, secara singkat kita memang bertemu dengan disharmoni antara kuasa Negara dan kesenjangan sosial yang terjadi dalam tatanan masyarakat. Tetapi sayangnya, sikap kritis sekaligus analisis dalam bentuk puisi itu, tidak mepaparkan pandangan tentang fenomena dunia pendidikan (kampus ) sebagai lingkungan di mana mereka seringkali berhadapan.

Saya pribadi tak tahu, sebab apa mereka sebagai mahasiswa tak menulis puisi yang berakar dari fenomena-fenomena pendidikan. Saya hanya dapat mengajukan beberapa macam pertanyaan yang tentunya perlu dikaji ulang dalam berbagai hal, yaitu: (a) Apakah fenomena dunia pendidikan –universitas– tidak dipahami oleh penyair yang mahasiswa? (b) Apakah Penyair yang mahasiswa segan untuk menuliskan fenomena-fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan? (c) Apakah penyair yang mahasiswa gagal untuk menemukan metaforarisasi dalam upaya puitisasi fenomena-fenomena yang ada di kampus? atau (d) Apakah penyair yang mahasiswa memang tak ambil peduli dengan fenomena-fenomena yang terjadi dalam kampus?

Bila kemudian perbincangan dalam tulisan ini kita alihkan dengan keyakinan bahwa kepiawaian mereka dalam menganalisis sosial secara kritis dalam bentuk puisi bukanlah sebuah bakat bawaan yang secara tiba-tiba jatuh dari angkasa, tetapi buah dari kesempatan yang mereka peroleh dari sebuah fasilitas pendidikan. Dimana Pendidikan menjadi sebuah ruang yang menjadikan mereka terbiasa untuk menulis, mengolah pikiran sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

Maka, ada hal menarik yang patut untuk dikaji kembali di situasi masa ini. Sebab secara nyata, sampai masa kini, tidak semua golongan/lapisan masyarakat punya kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan. Maka dapat ditarik asumsi sederhana, bahwa dalam sistem pendidikan pun sudah sejak dini terdapat sebuah proses seleksi sosial untuk menjadi individu yang dapat melatih diri untuk mengemukakan suatu gagasan yang logis, menanggapi problem-problem sosial secara kritis dan mentradisikan kebiasaan bernalar berdasar dari olah pikir kognisi sendiri.

Akhirnya, saya kira: Déspot dan tirani sedikit demi sedikit telah merobohkan mimbar yang bernama kampus itu, tidak dalam bentuk lugas namun samar-samar lewat seleksi dimana sekolah menjadi alat reproduksi kesenjangan sosial berdasar seleksi kelas sosial. Sebab dengan cara itu, strategi pola regenerasi kekuasaan setidaknya (dalam tahap seminimal mungkin) akan berkutat pada kalangan mereka.

Bila situasi ini terus dibiarkan, berarti kita membiarkan ketidakmerdekaan struktural melanda pada dunia pendidikan kita. Dan puisi yang ditulis oleh mahasiswa tentu serta merta berpotensi menjadi bagian dari reproduksi kesenjangan sosial yang terstruktur itu. Lantas, apakah puisi nantinya masih akan mampu memiliki permainan politik bahasanya sendiri untuk menghadapi kekuatan-kekuatan semiotik yang membentuk keseragaman identitas masyarakat. Bila tidak, maka awalan sajak “Mimbar” yang ditulis Taufiq Ismail, tak berlaku lagi untuk mengambarkan kedaan kampus hari ini:

Dari mimbar ini telah dibicarakan
Pikiran-pikiran dunia
Suara-suara kebebasan
Tanpa ketakutan

Dari mimbar ini diputar lagi
Sejarah kemanusiaan
Pengembangan tekhnologi
Tanpa ketakutan.

*) termuat dalam Buletin Sastra Littera no. 13 Th.III edisi Januari-Maret 2010, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)

05/02/11

Dharmadi: Ketika Sajak Kembali Menjejak

Abdul Aziz Rasjid
Kedaulatan Rakyat, 14 Des 2008

Empat tahun sesudah terbitan Aku Mengunyah Cahaya Bulan, muncullah sekarang: Dharmadi, kumpulan puisi Jejak Sajak (diterbitkan Kancah Budaya Merdeka: Purwokerto. 2008). Sebagian sajak-sajak yang termuat didalamnya tak dapat dikatakan muda, sebab ditulis dari rentang waktu 1994-2000, dan sebagian memang dapat dikatakan baru, sebab ditulis dari rentang waktu 2006-2007.

Membaca Jejak Sajak, secara umum mendapati jeritan jiwa Dharmadi sebagai penyair, khususnya keresahannya terhadap keadaan zaman. Jeritan itu semakin menguat, karena ia meyakini, bahwa zaman hari ini penuh kejanggalan juga kemuraman.

Kejanggalan dan kemuraman adalah situasi kengerian. Sebuah suasana yang melahirkan kecemasan. Sebuah suasana yang melahirkan kecemasan. Namun, tidak seperti kecemasan normal hanya melanda seseorang akibat harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Kejanggalan dan kemuraman yang disuguhkan Dharmadi timbul secara massal.

Akibat dari hadirnya kepercayaan berlebihan pada citraan imajiner dan simbolik yang diusung benda-benda di tengah kehidupan, untuk selanjutnya menciptakan kekaburan bahkan kematian hakikat kedirian. Situasi itu namapak jelas dalam bait-bait puisi Dharmadi, antara lain:

“Sejarah Yang Berdarah”: anak-anak mengais-ngais sisa waktu/ dalam timbunan reruntuhan benda-benda/ kehilangan ruh dunia.

“Penari Bar”: bagai ular/ geliat tubuhmu dalam mainan cahaya/ dan patukan-patukanmu mengucurkan darah/ yang menggelegak dari orang-orang/ yang melupakan realitas dunia.
“Sajak Gelombang”: aku mengalir/ dalam mainan/ ketidak-pastian.

Citraan-citraan imajiner dan simbolik yang telah mengaburkan hakekat kedirian manusia, lalu dipahami Dharmadi sebagai sebuah tipuan. Dalam bait penutup “Sajak Bunga Plastik” Dharmadi menuliskannya begini: apalagi yang bisa dirasa-rasa/dari kehidupan/ yang imitasi.

Citraan

Dari manakah citraansimbolik maupun imajiner yang merupakan tipuan itu timbul? Jika dikait-kaitkan, Milan Kundera akan menjawab pertanyaan itu sebagai kemenangan “imagologi”, ketika ideologi dikalahkan oleh realitas dan realitas ternyata bisa dikalahkan oleh image yang dibangun dan disebarkan oleh para pakar “imagologi”, seperti: Perancang busana, ahli kosmetik, dan media massa.

Beberapa diksi dari produk “imagologi”, terdapat pula dalam beberapa bait puisi Dharmadi, dan saya kira pengembangan diksi-diksi itu senada dengan apa yang diungkapkan Milan Kundera (Bold dari saya: AAR).

“Hari-Hari Berkabut ”: ada suara kunci magazine terbuka/ masihkah ada yang tega ingin berburu/ di kegelapan seperti ini?

“Penari Bar”: dj memainkan irama yang berloncatan/ menyihir suasana/ ingar dalam kekosongan.

“Ketika Naik Bus Transjakarta”: ketika sesekali naik bus transjakarta/ mata lelakiku kadang iseng atau tak sengaja menatap payudara/ di dada penumpang perempuan/ yang mengintip lewat model pakaiannya/ ah, betapa subur dan indahnya:….

Kembali pada Milan Kundera, jika ia menyebut zaman itu lahir akibat hadirnya kemenangan “imagologi”. Saya akan menyebut zaman itu sebagai “zaman kemasan” (merujuk pada Goenawan Mohammad), sebuah zaman dimana terdapat pewadahan bertingkat-tingkat, yang sebenarnya merupakan tempat kurang nyaman bagi siapa saja yang menghendaki harus selalu ada pegangan yang teguh, yang menyeluruh, yang utuh, suatu proses yang entah kapan dimulai dan entah kapan berakhir.

Lalu, sebagai manusia yang menyadari adanya seretan kuat arus zaman kemasan. Pada siapa Dharmadi berpegang? Penjelasan ini terdapat jelas dalam dua puisi pendeknya.

“Kesejatian”: kau kosongkan pikir-rasa/ dari mimpi-mimpi imitasi;/ Kuisikan sejatiKu/ sejatimu menjadi.
“Meditasi”: masuklah dalam nadirku;/ Aku dalam ada ketiadaanmu.

Dari banyaknya kejanggalan, kemuraman, yang terakibat dari tipuan citraan zaman kemasan. Sebagai penyair, Dharmadi mengambil sebuah jalan, yaitu perenungan mendalam untuk menemukan hakekat kesejatian, dengan mencoba kembali pada kondisi asali pra-imajiner dan pra-simbolik untuk kemudian menyatu padu, berpegang pada penciptanya yang satu.
Apakah Dharmadi sanggup?

Dugaan Awal

Sekalipun Dharmadi mencoba merenungi lalu menjawab lewat puisi bahwa citraan imajiner dan simbolik dapat dilepaskan dengan kembali pada hakekat kesejatian diri, saya masih menyangsikan. Karena puisi-puisi yang menjejak dalam kumpulan Jejak Sajak, yang pada mulanya terselimuti ketidak percayaan diri, menjadi percaya diri sebab hadirnya penilaian —kesan-kesan kawan— yang mengubah citraan puisi.

Dua perasaan kedirian yang kontras itu, tertuliskan dalam kata pengantar yang ia beri judul “pada suatu ketika”:
“Puisi- puisi saya tidak layak untuk dimunculkan saat ini, di tengah bertebaran puisi-puisi bagus karya para penyair yang masih muda-muda. Saya sendiri mengagumi karya mereka, mengakui tak mungkin mampu menulis puisi seindah dan sebagus itu.”

Namun, kata-kata sides Sudyarto Ds, “Anda mesti muncul lagi”, pesan Medy Loekito lewat ponsel “hebat, euih, jauh meloncat”, komentar Sihar Ramses Simatupang “Belum tentu puisi yang ditolak di media itu puisi buruk”, serta kata-kata dari Adri Darmadji Woko “terbitkan saja, Dhar”, membangun kepercayaan diri, dan saya membulatkan tekad agar bendel kumpulan puisi itu harus menjadi buku. Entah bagaimana caranya dan bagaimana ujudnya.

Bagi saya pribadi, proses keberadaan Jejak Sajak yang lahir hanya atas dasar kesan-kesan, secara bersamaan, dalam ketaksadaran Dharmadi sesungguhnya telah mewujud sebagi hasrat diri yang narsistik, yang sekaligus pula menyatakan kehendakan bahwa harus selalu ada pegangan yang teguh, menyeluruh, utuh sebagai penguat idealisasi akan identitas diri yang kompleks. Perubahan itu, saya anggap tak senada dengan pesan puisinya yang mencoba lepas dari segala citraan imajiner dan simbolik untuk menemukan hakekat diri yang sejati.

Dari kata pengantar itu serta isi puisi yang disampaikan Dharmadi. Sebagai pembaca Jejak Sajak, saya berharap agar semua yang dituliskan Dharmadi pada akhirnya juga dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti lontaran yang dituliskan Acep Zamzam Noor —tanpa ada kepentingan membandingkan kebesaran kepenyairan pada keduanya— pada kata pengantar kumpulan puisi Jalan Menuju Rumahmu (diterbitkan Grasindo: Jakarta. 2004): Puisi ternyata tidak hanya minta untuk selalu dituliskan, tetapi juga untuk dilakukan. Untuk menjadi perbuatan sehari-hari.

Akhirnya, saya kira Dharmadi pun menyakini hal serupa, karena seperti yang ia tuliskan pada bait dua puisi penutup Jejak Sajak “Kembali Pulang Merapat ke Bayang”, ia menyatakan: …telah ditemukannya jawab tentang ‘apa itu hidup’/ pada laku yang memberi/ ia pun semakin paham tentang mujur malang.

Purwokerto, Juli-November 2008

Disiar pertama kali dalam SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu Legi 14 Desember 2008 (16 Besar 1941), disiar ulang dalam catatan facebook 07 oktober 2009.

26/12/10

Membongkar Doa — Sebuah Puisi Ragil Supriyatno Samid –

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

DOA

baiknya segera Engkau putuskan
tinggal ataupun pergi
tentu saja sama baiknya sebab

Engkaulah yang terbaik:
sang maha tinggal, maha pergi

(Dari catatan Ragil Sukriwul, facebook 19 Juli 2009 jam 8:19)

Dalam doalah, aku kira, kita menjadi jujur-sejujur-jujurnya. Selain itu, Doa juga upaya memahami diri yang tak dirumuskan berdasar pandangan dari banyak orang, namun berusul dari kebutuhan pribadi. Doa, usaha membongkar dan belajar untuk berani menghadapi apa yang selama ini ditakuti. Petanda yang memperlakukan secara jujur getar konkrit yang mengalir sebagai kefanaan. Dari itulah, aku kira kemudian, doa bukan usaha membaca Tuhan, apalagi menterjemahkannya. Tapi sekadar belajar mengeja diri. Dan apapun macam ragam kata-kata dalam doa –seperti puisi “DOA” yang ditulis Ragil itu misalnya– lahir dari kebutuhan pribadi yang tak bisa disalahkan sebab tiap doa punya mohonnya masing-masing.

Dalam puisi “Doa” itu, aku lirik memohon begini: “Baiknya segera engkau putuskan/ tinggal ataupun pergi” dan itu sah-sah saja bukan karena aku lirik memang ingin berlaku begitu. Aku pribadi menangkap – Walau aku lirik memang tak menulisnya dalam lirik—aku lirik berani untuk menanggung resiko ditinggalkan Tuhan, yang nyatanya tak jarang orang berani menghadapi perihal ini. Lantas, mengapa aku lirik menjadi berani atau senekat itu? Jawabnya tersirat dalam keyakinan yang terujar dalam bait-bait ini: “tinggal ataupun pergi/ tentu saja sama baiknya sebab/ Engkaulah yang terbaik”. Urai kata aku lirik itu, saya kira, tak berbeda dengan ujar ini: “Sebab tuhan tak mungkin salah dalam mengambil keputusan”.

Keberanian itu, sisi positifnya, berpotensi membuat apa yang dilakukan aku lirik –perilaku baik atau sebaliknya– bukan lagi semata-mata sebab takut atas hukuman dan ingin upah pahala dari Tuhan. Tetapi tak lebih sebagai aktualisasi dari potensi afektif dan potensi kognitif yang dimilki manusia. Bila kita kait- kaitkan perihal itu pada konteks masa kini, perihal itu menjadi paradoksal dalam keumuman yang terjadi dalam perdabam kini: Kehidupan bersandar pada kepentingan modal dan apa saja telah berada dalam kekuasaan perdagangan, kehidupan spiritual tak jarang pula lantas diterlantarkan. Namun di sisi lain, manusia enggan pula berlaku jujur untuk mengakui telah kehilangan kemanusiaannya atau sengaja menanggalkan kemanusiaannya, sebab jujur adalah pengakuan terhadap dusta bahwa keduniawian lebih dirasa penting daripada Tuhan. Celakanya pula, tak jarang juga manusia berlebihan menaruh kepercayaan pada benda-benda yang mengusung citraan imajiner maupun simbolik yang dianggap dapat mengangkat derajat atau status sosial di lingkungannya.

Yang menarik saya kira, Tuhan dalam puisi “Doa” itu, nyaris tak digambarkan oleh aku lirik berdasar citra manusia lagi, dimana kualitas-kualitas Tuhan dan manusia disadari berbeda. Realisasi potensi manusia akan terbangun dalam kesadaran ini, sebab potensi afektif dan kognitif bukan didasarkan lagi pada laba pahala dan rugi dosa. Namun sayangnya, ada yang dilematis dalam lirik sajak “doa” itu; ketika aku lirik meyakini bahwa “tinggal atau pergi sama baiknya sebab engkaulah yang terbaik” mengapa mesti capek-capek aku lirik menyuruh tuhan untuk segera memutuskan (“baiknya segera Engkau putuskan”), padahal aku lirik telah menaruh percaya, bahwa Tuhan tak mungkin salah dalam mengambil keputusan, maka andainya pun Tuhan memutuskan untuk tak pergi juga tak tingga,l hal itu bukan bagian dari kesalahan keputusan. Disinilah soalnya saya kira, aku lirik masih terjebak pada kecenderungan Antropomorfisme dalam memandang Tuhan.

Lantas bagaimana dengan larik ini “sang maha tinggal, maha pergi”, biarlah pusi berjudul Al Qodir ini (Emha Ainun Nadjib dalam Syair-syair Asmaul Husna, hal. 128-129) menemani dalam upaya memahami larik itu, sekaligus menjadi penutup yang semoga pintu menemu tuju bentuk religiositas baru yang akomodatif bagi aktualisasi keimanan pelengkap komentar yang sekriwil rambut panjang Ragil: …Allah/ bukan saja tidak meninggalkan mereka, bahkan ia/ tak/ membiarkan hamba-hamba-Nya menjadi manja,/ Terlampau/ bergantung pada keajaiban kuasa-Nya serta/ memubadzirkan kemungkinan bahwa mereka bisa/ mengerjakan perubahan diri mereka…Allah Maha kuasa sehingga Ia bukan Dzat/ yang perlu merendahkan diri-Nya dengan turun/ tangan/ mengurusi soal-soal kecil yang sudah Ia amanatkan/ kepada hamba-hamba-Nya.

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita