Langsung ke konten utama

Membongkar Doa — Sebuah Puisi Ragil Supriyatno Samid –

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

DOA

baiknya segera Engkau putuskan
tinggal ataupun pergi
tentu saja sama baiknya sebab

Engkaulah yang terbaik:
sang maha tinggal, maha pergi

(Dari catatan Ragil Sukriwul, facebook 19 Juli 2009 jam 8:19)

Dalam doalah, aku kira, kita menjadi jujur-sejujur-jujurnya. Selain itu, Doa juga upaya memahami diri yang tak dirumuskan berdasar pandangan dari banyak orang, namun berusul dari kebutuhan pribadi. Doa, usaha membongkar dan belajar untuk berani menghadapi apa yang selama ini ditakuti. Petanda yang memperlakukan secara jujur getar konkrit yang mengalir sebagai kefanaan. Dari itulah, aku kira kemudian, doa bukan usaha membaca Tuhan, apalagi menterjemahkannya. Tapi sekadar belajar mengeja diri. Dan apapun macam ragam kata-kata dalam doa –seperti puisi “DOA” yang ditulis Ragil itu misalnya– lahir dari kebutuhan pribadi yang tak bisa disalahkan sebab tiap doa punya mohonnya masing-masing.

Dalam puisi “Doa” itu, aku lirik memohon begini: “Baiknya segera engkau putuskan/ tinggal ataupun pergi” dan itu sah-sah saja bukan karena aku lirik memang ingin berlaku begitu. Aku pribadi menangkap – Walau aku lirik memang tak menulisnya dalam lirik—aku lirik berani untuk menanggung resiko ditinggalkan Tuhan, yang nyatanya tak jarang orang berani menghadapi perihal ini. Lantas, mengapa aku lirik menjadi berani atau senekat itu? Jawabnya tersirat dalam keyakinan yang terujar dalam bait-bait ini: “tinggal ataupun pergi/ tentu saja sama baiknya sebab/ Engkaulah yang terbaik”. Urai kata aku lirik itu, saya kira, tak berbeda dengan ujar ini: “Sebab tuhan tak mungkin salah dalam mengambil keputusan”.

Keberanian itu, sisi positifnya, berpotensi membuat apa yang dilakukan aku lirik –perilaku baik atau sebaliknya– bukan lagi semata-mata sebab takut atas hukuman dan ingin upah pahala dari Tuhan. Tetapi tak lebih sebagai aktualisasi dari potensi afektif dan potensi kognitif yang dimilki manusia. Bila kita kait- kaitkan perihal itu pada konteks masa kini, perihal itu menjadi paradoksal dalam keumuman yang terjadi dalam perdabam kini: Kehidupan bersandar pada kepentingan modal dan apa saja telah berada dalam kekuasaan perdagangan, kehidupan spiritual tak jarang pula lantas diterlantarkan. Namun di sisi lain, manusia enggan pula berlaku jujur untuk mengakui telah kehilangan kemanusiaannya atau sengaja menanggalkan kemanusiaannya, sebab jujur adalah pengakuan terhadap dusta bahwa keduniawian lebih dirasa penting daripada Tuhan. Celakanya pula, tak jarang juga manusia berlebihan menaruh kepercayaan pada benda-benda yang mengusung citraan imajiner maupun simbolik yang dianggap dapat mengangkat derajat atau status sosial di lingkungannya.

Yang menarik saya kira, Tuhan dalam puisi “Doa” itu, nyaris tak digambarkan oleh aku lirik berdasar citra manusia lagi, dimana kualitas-kualitas Tuhan dan manusia disadari berbeda. Realisasi potensi manusia akan terbangun dalam kesadaran ini, sebab potensi afektif dan kognitif bukan didasarkan lagi pada laba pahala dan rugi dosa. Namun sayangnya, ada yang dilematis dalam lirik sajak “doa” itu; ketika aku lirik meyakini bahwa “tinggal atau pergi sama baiknya sebab engkaulah yang terbaik” mengapa mesti capek-capek aku lirik menyuruh tuhan untuk segera memutuskan (“baiknya segera Engkau putuskan”), padahal aku lirik telah menaruh percaya, bahwa Tuhan tak mungkin salah dalam mengambil keputusan, maka andainya pun Tuhan memutuskan untuk tak pergi juga tak tingga,l hal itu bukan bagian dari kesalahan keputusan. Disinilah soalnya saya kira, aku lirik masih terjebak pada kecenderungan Antropomorfisme dalam memandang Tuhan.

Lantas bagaimana dengan larik ini “sang maha tinggal, maha pergi”, biarlah pusi berjudul Al Qodir ini (Emha Ainun Nadjib dalam Syair-syair Asmaul Husna, hal. 128-129) menemani dalam upaya memahami larik itu, sekaligus menjadi penutup yang semoga pintu menemu tuju bentuk religiositas baru yang akomodatif bagi aktualisasi keimanan pelengkap komentar yang sekriwil rambut panjang Ragil: …Allah/ bukan saja tidak meninggalkan mereka, bahkan ia/ tak/ membiarkan hamba-hamba-Nya menjadi manja,/ Terlampau/ bergantung pada keajaiban kuasa-Nya serta/ memubadzirkan kemungkinan bahwa mereka bisa/ mengerjakan perubahan diri mereka…Allah Maha kuasa sehingga Ia bukan Dzat/ yang perlu merendahkan diri-Nya dengan turun/ tangan/ mengurusi soal-soal kecil yang sudah Ia amanatkan/ kepada hamba-hamba-Nya.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com