A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/
Sebagai salah satu novel sejarah, De Winst merupakan salah satu karya sastra yang laik diziarahi. Novel setebal 336 halaman ini, menenun kisahnya ihwal jama’ah pelajar Indonesia di negeri Belanda, Indonesische Vereniging (IV), atau di Hindia lebih familiar dengan sebutan Perhimpunan Indonesia (PI).
Afifah Afra, novelis muda jebolan jurusan biologi kampus negeri di Solo, yang juga merupakan anggota dari forum komunitas penulis FLP yang memiliki cabang hampir di seluruh Indonesia tersebut, senang bergelut dengan cerita berlatar sejarah. Di tengah gemerlap hajatan sastra Islami yang digeluti komunitasnya, ia kadang setia bertahan dengan sajian cerita-cerita sejarahnya yang kental, menggugah inspirasi. Terlebih, dengan bubuhan gambar di setiap lekuk badan novel ini, membuat pembaca makin termanjakan.
Sedikit beda dengan karya jamak penulis FLP lainnya. Karya ini mengingatkan kita pada sebuah jejak-rekam kesengsaraan inlander oleh sistem tanam paksa yang dinarasikan oleh H. Moekti dalam roman klasik, “Hikajat Siti Mariah”. Roman ini juga menyibak tuntas ihwal kesengsaraan inlander; praktik penindasan masyarakat gula di Jawa Tengah oleh rezim kapitalis Belanda.
Dalam Prelude to Revolution, George D. Larson pernah mengungkap, perkembangan politik bumi putra pada era kolonial di daerah seperti Surakarta (Solo), banyak didominasi kaum pedagang dari pada golongan priyayi. Kemajuan ekonomi itu bertumpu pada sektor perdagangan seperti batik, tekstil dan sejenisnya. Perkumpulan kaum pedagang ini menurut Larson, mula-mula punya andil menandingi hegemoni perdagangan kawasan Hindia oleh etnis China dan golongan Eropa, termasuk Belanda. Namun perkumpulan ini lambat laun tidak sebatas mengurusi soal perdagangan, melainkan (dengan perlahan juga) menjadi ajang bagi tumbuh kembangnya rasa kebangsaan & semangat pergerakan. Perkumpulan semacam ini semisal Sarikat Dagang Islam (SDI) yang dipimpin oleh H. Samanhudi dari daerah laweyan. Fenomena inilah (kalau boleh saya tebak) yang mengilhami Afifah Afra untuk mengangkatnya dalam sebuah novel, yang diyakini penulis, mampu membangunkan jiwa idealisme kita yang saat ini lagi kendur.
Konflik novel ini bermula dari krisis ekonomi yang menyerang dunia awal abad 20, menghantam dunia Timur dan merambat ke wilayah Hindia Belanda. Kita mafhum, bahwa negeri kita yang beratus-ratus tahun menjadi tempat bercokolnya kolonial Belanda, adalah ladang surga bagi suplai tumbuh-kembangnya perekonomian negeri tersebut. Namun semakmur-makmurnya Hindia, tak ketinggalan ikut terkena imbas krisis dunia saat itu. Novel ini menggambarkan kekelaman penduduk pribumi atas arogansi penduduk golongan kelas satu penumpuk modal (Belanda), yang gemar mengeruk kekayaan negeri Hindia yang melimpah. Namun ironis, di tengah kemewahan negeri pecahan surga nan elok, bumi putra sebatas menjadi jongos di negeri sendiri. Mereka menjadi penduduk kelas tiga yang selalu ditindas dan diperbudak oleh syahwat kapitalisme.
Akibat dari krisis tersebut, berpuluh-puluh industri komoditas utama negeri ini banyak yang gulung tikar. Salah satunya adalah industri gula. Industri yang bahan bakunya disuplai dari perkebunan tebu ini, terancam bangkrut. Harga gula di pasaran terus melorot. Imbasnya, harga sewa tanah dan gaji pekerja buruh, yang mayoritas ditekuni inlander turun pada level yang mencekik. Tragedi ini menjadi pemantik semakin menguatnya gairah revolusi kaum pribumi menuju tata perekonomian yang lebih kondusif. Seperti yang dikoar-koarkan oleh kaum pergerakan, perihal rencana & cita-cita agung memerdekakan negerinya.
Salah seorang priyayi mantan asisten administratur De Winst (nama sebuah perusahaan gula swasta milik Belanda), bangsawan aristokrat keturunan raja mataram, lulusan Leiden University, Rangga Paruhita, ingin melepaskan bangsanya dari belenggu & penindasan antek-antek kolonial. Ia membidani lahirnya sebuah gerakan. Gerakan ini berusaha memonopoli perusahaan-perusahaan swasta yang nota bene dikelola kaum penjajah. Gerakan dalam sektor ekonomi tersebut ia namai gerakan ekonomi kerakyatan. Usaha ini bertumpu pada pengembangan sektor industri tekstil, di mana kapas menjadi komoditas utamanya. Namun tak beberapa lama, sebuah tragedi mencuat. Geger dan eksodus besar-besaran buruh De Winst ke pabrik tekstil yang dikelolanya, menyeret R.M Rangga Paruhita ke muka pengadilan dengan tuduhan memberontak pada pemerintah. Tak ayal, serangkaian fitnah dan konspirasi keji yang dilimpahkan pengadilan, menyeretnya dalam internering ke Endeh.
De Winst begitu memesona. Tak berbeda jauh dari novelnya terdahulu, “Bulan Mati di Javasche Orange”, Afifah Afra menyelipkan kisah asmara tragis tapi menarik. Cerita percintaan ini terajut dari pertemuan Rangga yang studi ekonomi di Leiden sepulangnya dari negeri Belanda dengan Everdine Kareen Spinoza yang sarjana hukum Universitas Rotterdam di geladak kapal menuju Hindia. Kelebihan novel ini adalah ketangkasan penulisnya mempertemukan tradisi lokal keraton Jawa yang kental aroma feodalismenya dengan gaya hidup Eropa yang aristokratik dalam nampan cerita yang memikat. Ia menyembulkan cerita yang mengetengahkan geger kebudayaan antara harus melanggengkan sistem feodalisme Jawa atau mentradisikan sistem demokrasi ala cendekiawan Bumi Putera. Seperti yang telah dijalankan Soekarno, Shahrir, Hatta maupun Cipto Mangunkusomo.
Novel ini ingin menegaskan kembali, bahwa dengan terbenamnya sejarah oleh waktu, apa yang diusung kolonialis, yaitu misi penjajahan itu sendiri, belumlah benar-benar hengkang. Praktik kapitalis dengan wujud imperialisme yang mendera bangsa kita sekitar 3,5 abad itu walau sekarat, tetapi belum benar-benar mati. Zaman sekarang pemilik modallah (baca: investasi asing) yang berkuasa & menguasai sektor-sektor penting di negeri ini. Bahkan, pemerintah dibuat seakan tak berkutik. Praktik kapitalisme itu, kendati pengaruhnya secara umum seringkali laten, namun tetaplah harus diwaspadai. Novel ini menjadi senjata ampuh untuk menyentil kesadaran kita akan bahaya praktik kapitalisme yang kini dengan amat terselubung dan ditunggangi berbagai kepentingan aktif menyemburkan praktik-praktik kapitalisme gaya baru.
Judul buku : De Winst: Sebuah Novel Pembangkit Idealisme
Penulis : Afifah Afra
Penerbit : Afra Publishing, Surakarta
Cetakan : I, 2008
Tebal : 336 halaman.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label A. Qorib Hidayatullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A. Qorib Hidayatullah. Tampilkan semua postingan
11/09/10
19/03/09
Syak Wasangka Kebenaran Holocaust
Judul Buku : Holocaust Fakta atau Fiksi?
Penulis : Stephane Downing
Penerjamah : Dwi Ekasari Ariyani
Penerbit : Med Press
Cetakan : I, 2007
Tebal : 172 hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
http://indonimut.blogspot.com/
Peristiwa-peristiwa spektakuler yang layak dikenal dan dikenang tak lepas dari preseden sejarahnya. Ia tetap bergelantungan dideret-deret pojok bisu sejarah, meski kita mengobrak-abrik, memanipulasi, dan menutup-nutupi. Bagaimana pun, sejarah lahir dari rahim kesadaran yang dihentakkan oleh bunyi realitas faktual, tak akan hilang keotentikannya.
Kini tak sedikit batu-bata sejarah digugat, di break down, hingga ditelanjangi sampai-sampai segepok pertanyaan yang menghinggap dibenak berangsur hilang. Secara logika, kita tak lagi mampu berdialog dengan sejarah. Karena, sejarah berdialog dengan kausalitas korelasi antara massa waktu saat itu dan kejadian sejarah. Maka dari itu, kita terkesan patah ketika hendak mendefinisikan, menafsirkan, apalagi menyimpulkan eksemplar uraian sejarah.
Sejarah Holocaust misalnya, yang saat ini mengundang pertanyaan dan kian temukan titik runcing kontroversinya. Bahkan, Ahmadinejad presiden Iran berani bersuara miris tentang Holocaust tersebut: “Sekarang, mereka (bangsa Eropa) telah menciptakan sebuah dongeng dengan nama Holocaust dan menganggapnya melebihi Tuhan, agama, dan ramalan.”
Holocaust adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan genocide (pemusnahan secara terencana) kelompok-kelompok minoritas di Eropa dan Afrika Utara pada Perang Dunia II oleh Adolf Hitler dan Nazi. Paham diskriminasi ras telah membawa Hitler menempatkan ras-ras lain berada dibawah ras Arya. Kelompok-kelompok bangsa yang dianggap ras bawah seperti Yahudi, Polandia, Rusia, Belarusia-Serbia, Afrika, dan Asia dicap sebagai golongan Untermensch (manusia rendahan) dan menjadi target khusus aksi “pembersihan” Nazi.
Istilah Holocaust awalnya berasal dari bahasa Yunani halekaustann, yang berarti sebuah korban persembahan kepada dewa yang “sama sekali (holos) terbakar (kaustos)”. Akhir abad ke-19, istilah “Holocaust” digunakan untuk menjelaskan malapetaka-malapetaka atau bencana-bencana. (hlm. 10). Berdasar pada Kamus Bahasa Inggris Oxford, kata Holocaust kali pertama digunakan untuk mendeskripsikan perlakuan Hitler kepada orang-orang Yahudi dari tahun 1942, walau kata ini belum menjadi referensi standar hingga tahun 1950-an. Akan tetapi, pada pengujung tahun 1970-an makna lazim dari kata ini menjadi genocide Nazi. Holocaust pun memiliki beragam nama-nama yang telah dikenal guna mendeskripsikan genocide. Seperti, Ha-Shoah (bahasa Yahudi), Khurbn atau Halukaust (bahasa Yiddi), Porajmos (bahasa Romania), Calopalenia atau Zaglada (penyebutan kedua nama ini di miliki Bahasa Polandia).
Tanggal 8 dan 9 November 1938, merupakan langkah awal dari Holocaust melakukan pemusnahan massal terencana (pogrom) Kristallnacht dan Program Euthanasia T. 4. Kemudian, dilanjutkan dengan proyek pembentukan pasukan-pasukan pembunuh (killing squads) dan kamp-kamp pemusnahan (extermination camps) yang berniatan memiliki usaha terorganisir secara besar-besaran serta terpusat untuk membantai setiap orang yang menjadi target Adolf Hitler dan pasukan-pasukan Nazi. Ditengarai dari peristiwa dahsyat Holocaust, kebanyakan korbannya adalah orang-orang Yahudi di Eropa. Kira-kira 6 juta orang Yahudi terbunuh pada masa Holocaust. Mereka (orang-orang Yahudi), oleh Nazi disebut “Solusi Final atas Permasalahan Yahudi” (die Endlosung der Judenfrage) atau “pembersihan” (die Reinigung).
Untuk memperlancar misi Holocaust, beragam cara berbau kekejaman dilakukan. Seperti, membangun kamp-kamp kosentrasi dan kerja paksa (1933-1945), penyiksaan (1938-1941), euthanasia (1939-1941), ghetto-ghetto (1940-1945), pasukan-pasukan kematian (1941-1943), kamp-kamp pemusnahan (1942-1945), serta prosesi kematian dan pembebasan (1944-1945). Cara-cara demikian itulah, yang dilakukan oleh para pemimpin Nazi dalam “menghabisi” ras-ras lain selain ras Arya.
Holocaust dan fenomena sejarah mengenai Nazisme, telah menjadi simbol gelap pada kejahatan-kejahatan yang terjadi pada abad ke-20, juga sebagai subyek dari studi-studi sejarah, psikologi, sosiologi, sastra, dan filsafat. Satu pertanyaan filosofis dilontarkan oleh Wilhelm Reich pada awal tahun 1933 di Mass Psychology of Fascism adalah misteri dari ketaatan rakyat Jerman atas operasi yang sangat “gila” tersebut. Karena, pada saat itu kategori oposisi biner dengan dobrakan gila Nazi tak terlalu mencuat. Kemudian, muncullah buku Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil (1963), yang ditulis oleh Hannah Arendt. Dengan begitu, Arendtlah sebagai orang pertama yang berani memproklamirkan sikap dirinya terhadap Nazi, bahwa tindakan Nazi itu adalah “sadisme” dan kental “kekejaman.”
Holocaust Fiksi
Kebenaran berita Holocaust pada saat ini, kuat indikasi mulai dipertanyakan. Benarkah Holocaust ada? Benarkah 6 juta jiwa orang Yahudi terenggut oleh kekejaman Nazi? Ataukah itu hanya sebuah rancangan konspirasi zionis Yahudi untuk membenarkan langkah-langkah politik mereka di panggung dunia? Kumpulan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi centang perenang dan siap menggerus kebenaran Holocaust.
Holocaust denial atau penyangkal Holocaust (biasanya disebut revisionisme Holocaust oleh para pendukungnya) adalah kepercayaan bahwa genocide orang-orang Yahudi dan kelompok-kelompok minoritas lainnya selama Perang Dunia II –masa Holocaust– tak pernah terjadi, atau apabila benar terjadi, akibat yang disebabkan tidak sebesar apa yang diyakini pada masa sekarang. Bahkan, ada dari para penyangkal Holocaust, yang sama sekali tak percaya atas korban pada masa Holocaust, “Bagaimana mungkin 6 juta orang Yahudi dibunuh pada masa Holocaust jika hanya terdapat 3 juta jiwa orang Yahudi saat itu?”
Sebagian besar penyangkalan Holocaust menyatakan secara tidak langsung, bahwa Holocaust adalah sebuah cerita bohong yang dengan sengaja diciptakan oleh orang Yahudi untuk memajukan kepentingan mereka dengan mengorbankan orang lain. (hlm. 81). Karena alasan ini, penyangkalan Holocaust umumnya dianggap sebagai sebuah teori konspirasi anti-semitik (sikap antipati terhadap bangsa Semit, khususnya orang Yahudi).
Penyangkalan Holocaust dipandang secara luas sebagai kegagalan dalam mengikuti peraturan-peraturan perlakuan bukti, peraturan-peraturan yang dikenal sebagai dasar dalam penyelidikan yang rasional. Konsensus yang kuat adalah apabila bukti yang diberikan oleh mereka yang selamat, saksi-saksi mata, dan para sejarawan. Sehingga, kebenaran sejarah disini dipertaruhkaan lewat jangkauan-jangkauan rasio yang masuk akal. Adalah hal yang tidak masuk akal untuk meminta orang-orang memberikan klaim guna membuktikan bahwa bukti-bukti mereka “sungguh nyata” dari kenyataan yang sudah jelas, kecuali ada beberapa alasan khusus yang dapat dipercaya untuk memercayai bahwa bukti-bukti tersebut mencurigakan.
Kendati pun sejarah dimanipulasi, kebenaran Holocaust dipertanyakan, dan diputar balik faktanya tak akan hilang jejak-jejak sejarahnya. Bantuan buku ini menawarkan sisi keseimbangan fakta-fakta Holocaust yang bergelantungan dideret-dideret laci sejarah, sehingga kelesuan yang menggiring terhadap pergulatan politik tak dapat ditambat. Kesejatian sejarah, kalau sudah dibenturkan kepada kepentingan-kepentingan politik akan dapat ditebak telah mengalami kekaburan-kekaburan fakta. Minimal lewat buku ini menghantarkan pemahaman mereka yang ingin mengetahui titik-titik kontroversi akut sejarah Holocaust yang tak lepas dari ruang lingkup syak wasangka kebenarannya.
Penulis : Stephane Downing
Penerjamah : Dwi Ekasari Ariyani
Penerbit : Med Press
Cetakan : I, 2007
Tebal : 172 hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
http://indonimut.blogspot.com/
Peristiwa-peristiwa spektakuler yang layak dikenal dan dikenang tak lepas dari preseden sejarahnya. Ia tetap bergelantungan dideret-deret pojok bisu sejarah, meski kita mengobrak-abrik, memanipulasi, dan menutup-nutupi. Bagaimana pun, sejarah lahir dari rahim kesadaran yang dihentakkan oleh bunyi realitas faktual, tak akan hilang keotentikannya.
Kini tak sedikit batu-bata sejarah digugat, di break down, hingga ditelanjangi sampai-sampai segepok pertanyaan yang menghinggap dibenak berangsur hilang. Secara logika, kita tak lagi mampu berdialog dengan sejarah. Karena, sejarah berdialog dengan kausalitas korelasi antara massa waktu saat itu dan kejadian sejarah. Maka dari itu, kita terkesan patah ketika hendak mendefinisikan, menafsirkan, apalagi menyimpulkan eksemplar uraian sejarah.
Sejarah Holocaust misalnya, yang saat ini mengundang pertanyaan dan kian temukan titik runcing kontroversinya. Bahkan, Ahmadinejad presiden Iran berani bersuara miris tentang Holocaust tersebut: “Sekarang, mereka (bangsa Eropa) telah menciptakan sebuah dongeng dengan nama Holocaust dan menganggapnya melebihi Tuhan, agama, dan ramalan.”
Holocaust adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan genocide (pemusnahan secara terencana) kelompok-kelompok minoritas di Eropa dan Afrika Utara pada Perang Dunia II oleh Adolf Hitler dan Nazi. Paham diskriminasi ras telah membawa Hitler menempatkan ras-ras lain berada dibawah ras Arya. Kelompok-kelompok bangsa yang dianggap ras bawah seperti Yahudi, Polandia, Rusia, Belarusia-Serbia, Afrika, dan Asia dicap sebagai golongan Untermensch (manusia rendahan) dan menjadi target khusus aksi “pembersihan” Nazi.
Istilah Holocaust awalnya berasal dari bahasa Yunani halekaustann, yang berarti sebuah korban persembahan kepada dewa yang “sama sekali (holos) terbakar (kaustos)”. Akhir abad ke-19, istilah “Holocaust” digunakan untuk menjelaskan malapetaka-malapetaka atau bencana-bencana. (hlm. 10). Berdasar pada Kamus Bahasa Inggris Oxford, kata Holocaust kali pertama digunakan untuk mendeskripsikan perlakuan Hitler kepada orang-orang Yahudi dari tahun 1942, walau kata ini belum menjadi referensi standar hingga tahun 1950-an. Akan tetapi, pada pengujung tahun 1970-an makna lazim dari kata ini menjadi genocide Nazi. Holocaust pun memiliki beragam nama-nama yang telah dikenal guna mendeskripsikan genocide. Seperti, Ha-Shoah (bahasa Yahudi), Khurbn atau Halukaust (bahasa Yiddi), Porajmos (bahasa Romania), Calopalenia atau Zaglada (penyebutan kedua nama ini di miliki Bahasa Polandia).
Tanggal 8 dan 9 November 1938, merupakan langkah awal dari Holocaust melakukan pemusnahan massal terencana (pogrom) Kristallnacht dan Program Euthanasia T. 4. Kemudian, dilanjutkan dengan proyek pembentukan pasukan-pasukan pembunuh (killing squads) dan kamp-kamp pemusnahan (extermination camps) yang berniatan memiliki usaha terorganisir secara besar-besaran serta terpusat untuk membantai setiap orang yang menjadi target Adolf Hitler dan pasukan-pasukan Nazi. Ditengarai dari peristiwa dahsyat Holocaust, kebanyakan korbannya adalah orang-orang Yahudi di Eropa. Kira-kira 6 juta orang Yahudi terbunuh pada masa Holocaust. Mereka (orang-orang Yahudi), oleh Nazi disebut “Solusi Final atas Permasalahan Yahudi” (die Endlosung der Judenfrage) atau “pembersihan” (die Reinigung).
Untuk memperlancar misi Holocaust, beragam cara berbau kekejaman dilakukan. Seperti, membangun kamp-kamp kosentrasi dan kerja paksa (1933-1945), penyiksaan (1938-1941), euthanasia (1939-1941), ghetto-ghetto (1940-1945), pasukan-pasukan kematian (1941-1943), kamp-kamp pemusnahan (1942-1945), serta prosesi kematian dan pembebasan (1944-1945). Cara-cara demikian itulah, yang dilakukan oleh para pemimpin Nazi dalam “menghabisi” ras-ras lain selain ras Arya.
Holocaust dan fenomena sejarah mengenai Nazisme, telah menjadi simbol gelap pada kejahatan-kejahatan yang terjadi pada abad ke-20, juga sebagai subyek dari studi-studi sejarah, psikologi, sosiologi, sastra, dan filsafat. Satu pertanyaan filosofis dilontarkan oleh Wilhelm Reich pada awal tahun 1933 di Mass Psychology of Fascism adalah misteri dari ketaatan rakyat Jerman atas operasi yang sangat “gila” tersebut. Karena, pada saat itu kategori oposisi biner dengan dobrakan gila Nazi tak terlalu mencuat. Kemudian, muncullah buku Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil (1963), yang ditulis oleh Hannah Arendt. Dengan begitu, Arendtlah sebagai orang pertama yang berani memproklamirkan sikap dirinya terhadap Nazi, bahwa tindakan Nazi itu adalah “sadisme” dan kental “kekejaman.”
Holocaust Fiksi
Kebenaran berita Holocaust pada saat ini, kuat indikasi mulai dipertanyakan. Benarkah Holocaust ada? Benarkah 6 juta jiwa orang Yahudi terenggut oleh kekejaman Nazi? Ataukah itu hanya sebuah rancangan konspirasi zionis Yahudi untuk membenarkan langkah-langkah politik mereka di panggung dunia? Kumpulan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi centang perenang dan siap menggerus kebenaran Holocaust.
Holocaust denial atau penyangkal Holocaust (biasanya disebut revisionisme Holocaust oleh para pendukungnya) adalah kepercayaan bahwa genocide orang-orang Yahudi dan kelompok-kelompok minoritas lainnya selama Perang Dunia II –masa Holocaust– tak pernah terjadi, atau apabila benar terjadi, akibat yang disebabkan tidak sebesar apa yang diyakini pada masa sekarang. Bahkan, ada dari para penyangkal Holocaust, yang sama sekali tak percaya atas korban pada masa Holocaust, “Bagaimana mungkin 6 juta orang Yahudi dibunuh pada masa Holocaust jika hanya terdapat 3 juta jiwa orang Yahudi saat itu?”
Sebagian besar penyangkalan Holocaust menyatakan secara tidak langsung, bahwa Holocaust adalah sebuah cerita bohong yang dengan sengaja diciptakan oleh orang Yahudi untuk memajukan kepentingan mereka dengan mengorbankan orang lain. (hlm. 81). Karena alasan ini, penyangkalan Holocaust umumnya dianggap sebagai sebuah teori konspirasi anti-semitik (sikap antipati terhadap bangsa Semit, khususnya orang Yahudi).
Penyangkalan Holocaust dipandang secara luas sebagai kegagalan dalam mengikuti peraturan-peraturan perlakuan bukti, peraturan-peraturan yang dikenal sebagai dasar dalam penyelidikan yang rasional. Konsensus yang kuat adalah apabila bukti yang diberikan oleh mereka yang selamat, saksi-saksi mata, dan para sejarawan. Sehingga, kebenaran sejarah disini dipertaruhkaan lewat jangkauan-jangkauan rasio yang masuk akal. Adalah hal yang tidak masuk akal untuk meminta orang-orang memberikan klaim guna membuktikan bahwa bukti-bukti mereka “sungguh nyata” dari kenyataan yang sudah jelas, kecuali ada beberapa alasan khusus yang dapat dipercaya untuk memercayai bahwa bukti-bukti tersebut mencurigakan.
Kendati pun sejarah dimanipulasi, kebenaran Holocaust dipertanyakan, dan diputar balik faktanya tak akan hilang jejak-jejak sejarahnya. Bantuan buku ini menawarkan sisi keseimbangan fakta-fakta Holocaust yang bergelantungan dideret-dideret laci sejarah, sehingga kelesuan yang menggiring terhadap pergulatan politik tak dapat ditambat. Kesejatian sejarah, kalau sudah dibenturkan kepada kepentingan-kepentingan politik akan dapat ditebak telah mengalami kekaburan-kekaburan fakta. Minimal lewat buku ini menghantarkan pemahaman mereka yang ingin mengetahui titik-titik kontroversi akut sejarah Holocaust yang tak lepas dari ruang lingkup syak wasangka kebenarannya.
28/11/08
Genealogi Kecantikan Bidadari Dungu
(catatan buat Perempuan Suamiku)
A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/
Syahdan, saya mendaras cerpen Sirikit Syah, penulis cewek yang memiliki talenta di jagad literer, di koran Kompas, Perempuan Suamiku. Dalam cerpennya tersebut, Sirikit Syah lihai membesut cerita ihwal pasangan laki-laki dan perempuan ideal.
Konon kecantikan adalah anugerah terindah bagi wanita. Kecantikan memiliki kemampuan magnetik luar biasa yang mampu meruntuhkan dunia laki-laki. Dalam berbagai sejarah kemanusiaan dan mitologi kuno dilukiskan betapa dahsyatnya pengaruh kecantikan seorang perempuan terhadap jiwa laki-laki sehingga ia mau berkorban dan melakukan apa saja demi sang perempuan. Keagungan dan kekuasaan laki-laki dapat jatuh dan bertekuk lutut di bawah kakinya.
Beberapa ilustrasi misalnya, kisah Adam dan Hawa, Julius Cesar dan Cleopatra, Rama dan Shinta, dsb. Perebutan wanita cantik antara Qabil dan Habil, perselisihan antara Epimetheus dan Prometheus demi memperebutkan Pandora yang cantik, juga turut mewarnai sejarah tragedi kemanusiaan atas nama kecantikan perempuan.
***
Sirikit Syah, selain aktivis media, pun ia rajin menggarit tulisan soal seni sastra. Di setiap tulisan-tulisannya, Sirikit selalu menampakkan “kejagoannya” mengemas kerak ide dan menjadikan tulisannnya menarik disimak. Misalnya, dalam Perempuan Suamiku, Sirikit menanyakan kembali soal pasangan ideal bagi kita kelak.
Sebagai kaum perempuan Dunia Ketiga (istilah yang akrab dicitrakan bagi negara-negara berkembang, semisal Indonesia), Sirikit sangatlah lazim mengamalkan laku cemburu (cewek posesif) terhadap suaminya (sebagai pasangan hidupnya). Sirikit tampak tidak ikhlas bila mendapati suaminya berpoligami dan kepincut pada bidadari yang dungu. Hal itu Sirikit tampilkan pada tiap bangunan cerita dalam Perempuan Sumiku.
Sirikit seakan-akan berkhotbah kepada kita semua bahwa dalam hal mencari pasangan janganlah gampang melecutkan rasa kasih-sayang terhadap pasangan kita masing-masing. Sirikit tampak murka atas salah satu pasangan yang hanya mengutamakan hasrat libidinal, memilih pasangan yang melulu melihat tubuh seksis dari pasangan.
Tapi Sirikit pun tak menampik akan pentingnya pasangan yang pintar mengosmetika diri agar selalu cantik-menarik. Tapi jangan salah, Sirikit pula memiliki pandangan atas pasangan yang cantik, pintar merawat diri, namun ia lemah intelektual, akhirnya Sirikit tak ragu-ragu menyebutnya dengan ‘Bidadari Dungu’.
Bidadari Dungu menurut terang imajinasi Sirikit ialah perempuan cantik yang menyengaja menenggelamkan dirinya di arus deras modernitas. Ia hanya merayakan kesadaran palsunya dan menukarkan integritas diri dengan gaya-gaya hidup urban.
Di tengah kesumpekan hidup, berjubel bidadari yang kerapkali menangkringkan dirinya di mal-mal, atau pun di tempat-tempat lainnya pendompleng ikon modernisme. Bidadari model ini, sangatlah jelas bukan bidadari kiriman dari langit. Sebab, laku bidadari langit (tentu bidadari yang tak dungu) itu selalu mendandani dirinya tampak sahaja, dan memiliki kekhasan tersendiri dalam menertawakan proyek modernisme.
Menapaki geladak garitan cerpen Sirikit tersebut, pembaca digiring berada di atas angin dalam hal mencari pasangan. Kendati sebuah cerpen adalah kisah fiktif, tak jauh panggang dari api, cerpen Perempuan Suamiku pun bisa dijadikan cantelan dalam menelusuri labirin pencarian pasangan hidup di dunia nyata. Cerpen, kini, sudah tak hanya memotret alam angan. Bertolak dari itu, cerpen sudah amat menyehari berebut menangkap geliat kegiatan manusia yang kadang-kadang bikin ruwet. Bukankah mencari pasangan itu juga hal ruwet? He he
A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/
Syahdan, saya mendaras cerpen Sirikit Syah, penulis cewek yang memiliki talenta di jagad literer, di koran Kompas, Perempuan Suamiku. Dalam cerpennya tersebut, Sirikit Syah lihai membesut cerita ihwal pasangan laki-laki dan perempuan ideal.
Konon kecantikan adalah anugerah terindah bagi wanita. Kecantikan memiliki kemampuan magnetik luar biasa yang mampu meruntuhkan dunia laki-laki. Dalam berbagai sejarah kemanusiaan dan mitologi kuno dilukiskan betapa dahsyatnya pengaruh kecantikan seorang perempuan terhadap jiwa laki-laki sehingga ia mau berkorban dan melakukan apa saja demi sang perempuan. Keagungan dan kekuasaan laki-laki dapat jatuh dan bertekuk lutut di bawah kakinya.
Beberapa ilustrasi misalnya, kisah Adam dan Hawa, Julius Cesar dan Cleopatra, Rama dan Shinta, dsb. Perebutan wanita cantik antara Qabil dan Habil, perselisihan antara Epimetheus dan Prometheus demi memperebutkan Pandora yang cantik, juga turut mewarnai sejarah tragedi kemanusiaan atas nama kecantikan perempuan.
***
Sirikit Syah, selain aktivis media, pun ia rajin menggarit tulisan soal seni sastra. Di setiap tulisan-tulisannya, Sirikit selalu menampakkan “kejagoannya” mengemas kerak ide dan menjadikan tulisannnya menarik disimak. Misalnya, dalam Perempuan Suamiku, Sirikit menanyakan kembali soal pasangan ideal bagi kita kelak.
Sebagai kaum perempuan Dunia Ketiga (istilah yang akrab dicitrakan bagi negara-negara berkembang, semisal Indonesia), Sirikit sangatlah lazim mengamalkan laku cemburu (cewek posesif) terhadap suaminya (sebagai pasangan hidupnya). Sirikit tampak tidak ikhlas bila mendapati suaminya berpoligami dan kepincut pada bidadari yang dungu. Hal itu Sirikit tampilkan pada tiap bangunan cerita dalam Perempuan Sumiku.
Sirikit seakan-akan berkhotbah kepada kita semua bahwa dalam hal mencari pasangan janganlah gampang melecutkan rasa kasih-sayang terhadap pasangan kita masing-masing. Sirikit tampak murka atas salah satu pasangan yang hanya mengutamakan hasrat libidinal, memilih pasangan yang melulu melihat tubuh seksis dari pasangan.
Tapi Sirikit pun tak menampik akan pentingnya pasangan yang pintar mengosmetika diri agar selalu cantik-menarik. Tapi jangan salah, Sirikit pula memiliki pandangan atas pasangan yang cantik, pintar merawat diri, namun ia lemah intelektual, akhirnya Sirikit tak ragu-ragu menyebutnya dengan ‘Bidadari Dungu’.
Bidadari Dungu menurut terang imajinasi Sirikit ialah perempuan cantik yang menyengaja menenggelamkan dirinya di arus deras modernitas. Ia hanya merayakan kesadaran palsunya dan menukarkan integritas diri dengan gaya-gaya hidup urban.
Di tengah kesumpekan hidup, berjubel bidadari yang kerapkali menangkringkan dirinya di mal-mal, atau pun di tempat-tempat lainnya pendompleng ikon modernisme. Bidadari model ini, sangatlah jelas bukan bidadari kiriman dari langit. Sebab, laku bidadari langit (tentu bidadari yang tak dungu) itu selalu mendandani dirinya tampak sahaja, dan memiliki kekhasan tersendiri dalam menertawakan proyek modernisme.
Menapaki geladak garitan cerpen Sirikit tersebut, pembaca digiring berada di atas angin dalam hal mencari pasangan. Kendati sebuah cerpen adalah kisah fiktif, tak jauh panggang dari api, cerpen Perempuan Suamiku pun bisa dijadikan cantelan dalam menelusuri labirin pencarian pasangan hidup di dunia nyata. Cerpen, kini, sudah tak hanya memotret alam angan. Bertolak dari itu, cerpen sudah amat menyehari berebut menangkap geliat kegiatan manusia yang kadang-kadang bikin ruwet. Bukankah mencari pasangan itu juga hal ruwet? He he
19/09/08
Potret Kegagalan Pemimpin Indonesia
Judul Buku : Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia: Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia ekonomi, dan Jalan Baru Membangun Indonesia
Penulis : Ishak Rafick
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan : I, Februari 2008
Tebal : xx + 422 Halaman
Peresensi : A Qorib Hidayatullah*
Bung Karno pernah mengungkap, “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Kalimat itu perlu dihadirkan terus-menerus dalam helat kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini. Negara ini bisa bangkit maju, keluar dari belitan masalah, tentu tak luput dari pembacaan sejarah kegagalan dari lima pemimpin Indonesia.
Bermula pada bulan Juli 1997, ditengarai awal munculnya krisis moneter (krismon) yang menyebabkan nilai tukar rupiah mengempis terhadap US$. Keadaan itu membikin khawatir banyak orang. Pelaku bisnis yang sebelumnya mengandalkan utang luar negeri, berubah makhluk yang paling cemas. Sebab setelah kekuatan intervensi ditambah, nilai rupiah langsung masuk ke jurang yang semakin lebar.
Keadaan itu, mendesak para pengamat ekonomi untuk memetakan dan melakukan analisis, mengapa Indonesia gagal tinggal landas setelah 32 tahun Orde Baru. Dan, bagaimana konsepsi peranan dan ketangguhan negara serta koorporasi dalam menghadapi gejolak krisis baik pada tahap awal maupun pasca krisis. Buku ini, Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia: Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia ekonomi, dan Jalan Baru Membangun Indonesia, karya Ishak Rafick, mengupas kegagalan-kegagalan yang dilakukan pemimpin-pemimpin Indonesia.
Krismon, teramal sejak awal oleh pakar-pakar ekonomi semacam Managing Director Econit, waktu itu Dr. Rizal Ramli, pengamat ekonomi kritis Kwik Kian Gie, dan Fu’ad Bawazier —mantan Dirjen Pajak yang kemudian diangkat Soeharto menjadi Menteri Keuangan pada Kabinet Pembangunan VII. Namun, suara-suara pakar itu tersaingi oleh suara-suara lain yang lebih lantang —baik di dalam kabinet maupun di luar. Suara-suara yang lantang itulah akhirnya malah memberi semangat pemerintah untuk ikut saran IMF.
Padahal, kebijakan ekonomi nasional yang melulu berkiblat pada IMF, tampak memperjelas bahwa negara Indonesia hampa ideologi, digilas habis dominasi pragmatisme. Pemimpin-pemimpin Indonesia ditengarai hanya mempertontonkan keadaan negaranya yang lemah visi, sehingga tak ada pilihan lain selain memperkukuh dominasi IMF dan Bank Dunia.
Selain itu, semakin patuh pada pola pikir IMF, membuktikan bahwa elit pengambil kebijakan ekonomi bangsa ini tak kreatif dan memiliki ketergantungan mental dan intelektual sangat kuat terhadap hutang dan pola pikir IMF yang sangat monetaris. Di titik inilah, pemerintah diharap mampu mengembalikan kedaulatan ekonomi dan berupaya menghindari peranan yang sangat besar dari lembaga-lembaga internasional —IMF dan Bank Dunia— dalam menentukan arah dan kebijakan ekonomi nasional.
Dalam konteks itulah, pelajaran menarik saat kita menilik krisis ekonomi yang melanda Asia pada pertengahan 1997. Di mana, negara-negara Asia Timur dan Tenggara justru memanfaatkan krisis ekonomi sebagai momentum historis dengan melakukan berbagai langkah perbaikan struktural. Mahathir misalkan, dengan sadar menolak resep IMF karena pasti akan menimbulkan gejolak ekonomi dan politik di Malaysia. Sementara di Singapura, malah melanjutkan tradisi berpikir Goh Keng Swee (arsitek ekonomi Singapura) yang kritis terhadap dampak negatif dari kapitalisme predatori. Mengambil langkah-langkah penguatan lembaga keuangan dalam negeri dan perbaikan corporate governance guna meredam badai krisis moneter.
Matinya Ideologi Pemilu
Selain tajam menganalisis problem krisis moneter yang menimpa bangsa ini, Ishak Rafick —dalam bukunya ini— juga melakukan pembacaan kritis atas dinamika politik pemilu 1999 dan pemilu 2004. Berdasar argumentasi kuat, Ishak menarik kesimpulan yang tepat tentang kematian ideologi pemilu dalam percaturan politik di Indonesia.
Ternyata pasca Soeharto makzul, ada ruang kosong demokratisasi yang dengan gesit diambil alih oligarki politik serta ekonomi yang tumbuh pada masa Orde Baru. Jangan aneh, bila transisi dari sistem otoriter ke sistem demokratis tidak membawa manfaat besar pada kemajuan negara maupun kesejahteraan rakyat. Jamak diketahui, proses pemilu atau pun pilkada sangat diwarnai dan didominasi oleh politik uang.
Apabila kecenderungan itu terus berlanjut, maka akan timbul pertanyaan, apakah demokrasi bermanfaat untuk rakyat mayoritas. Seperti yang dikatakan Ishak, matinya ideologi dalam proses politik Indonesia merupakan salah satu penyebab utama komersialisasi dan dominasi politik uang dalam proses demokrasi di Indonesia.
Jalan Baru
Tak dapat dimungkiri, masa depan negara dan bangsa ini sekarang berada di titik nadir. Tanpa perjuangan Kabinet Indonesia bersatu SBY-JK, dapat dipastikan nasib rakyat semakin memburuk. Gejalanya mulai tampak bernas, merebaknya pengangguran, busung lapar, kurang gizi, meningkatnya angka putus sekolah, bencana alam, serta berbagai penyakit ringan yang merenggut nyawa —cuma karena si sakit tak punya biaya untuk berobat.
Bila negara-negara maju mampu memberikan asuransi kesehatan kepada segenap rakyatnya dan dunia pendidikan dibikin gratis, bahkan diguyur beasiswa sebagai investasi masa depan, tentu rakyat Indonesia juga berhak mendapat perlakuan serupa dari pemerintahnya.
Buku ini sangat manantang pikiran sekaligus menggugah nurani. Lewat ketangkasan Ishak Rafick —sebagai wartawan senior— yang telah lama bergelut di dunia jurnalistik, mampu menyampaikan topik berat dalam buku ini secara ringan. Bagaimana pun, buku ini telah berkontribusi besar demi kecerdasan para pengambil kebijakan —utamanya di bidang ekonomi— dengan tidak lagi terjerumus dalam neoliberalisme kebijakan.
Penulis : Ishak Rafick
Penerbit : Ufuk Press
Cetakan : I, Februari 2008
Tebal : xx + 422 Halaman
Peresensi : A Qorib Hidayatullah*
Bung Karno pernah mengungkap, “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Kalimat itu perlu dihadirkan terus-menerus dalam helat kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini. Negara ini bisa bangkit maju, keluar dari belitan masalah, tentu tak luput dari pembacaan sejarah kegagalan dari lima pemimpin Indonesia.
Bermula pada bulan Juli 1997, ditengarai awal munculnya krisis moneter (krismon) yang menyebabkan nilai tukar rupiah mengempis terhadap US$. Keadaan itu membikin khawatir banyak orang. Pelaku bisnis yang sebelumnya mengandalkan utang luar negeri, berubah makhluk yang paling cemas. Sebab setelah kekuatan intervensi ditambah, nilai rupiah langsung masuk ke jurang yang semakin lebar.
Keadaan itu, mendesak para pengamat ekonomi untuk memetakan dan melakukan analisis, mengapa Indonesia gagal tinggal landas setelah 32 tahun Orde Baru. Dan, bagaimana konsepsi peranan dan ketangguhan negara serta koorporasi dalam menghadapi gejolak krisis baik pada tahap awal maupun pasca krisis. Buku ini, Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia: Sebuah Investigasi 1997-2007, Mafia ekonomi, dan Jalan Baru Membangun Indonesia, karya Ishak Rafick, mengupas kegagalan-kegagalan yang dilakukan pemimpin-pemimpin Indonesia.
Krismon, teramal sejak awal oleh pakar-pakar ekonomi semacam Managing Director Econit, waktu itu Dr. Rizal Ramli, pengamat ekonomi kritis Kwik Kian Gie, dan Fu’ad Bawazier —mantan Dirjen Pajak yang kemudian diangkat Soeharto menjadi Menteri Keuangan pada Kabinet Pembangunan VII. Namun, suara-suara pakar itu tersaingi oleh suara-suara lain yang lebih lantang —baik di dalam kabinet maupun di luar. Suara-suara yang lantang itulah akhirnya malah memberi semangat pemerintah untuk ikut saran IMF.
Padahal, kebijakan ekonomi nasional yang melulu berkiblat pada IMF, tampak memperjelas bahwa negara Indonesia hampa ideologi, digilas habis dominasi pragmatisme. Pemimpin-pemimpin Indonesia ditengarai hanya mempertontonkan keadaan negaranya yang lemah visi, sehingga tak ada pilihan lain selain memperkukuh dominasi IMF dan Bank Dunia.
Selain itu, semakin patuh pada pola pikir IMF, membuktikan bahwa elit pengambil kebijakan ekonomi bangsa ini tak kreatif dan memiliki ketergantungan mental dan intelektual sangat kuat terhadap hutang dan pola pikir IMF yang sangat monetaris. Di titik inilah, pemerintah diharap mampu mengembalikan kedaulatan ekonomi dan berupaya menghindari peranan yang sangat besar dari lembaga-lembaga internasional —IMF dan Bank Dunia— dalam menentukan arah dan kebijakan ekonomi nasional.
Dalam konteks itulah, pelajaran menarik saat kita menilik krisis ekonomi yang melanda Asia pada pertengahan 1997. Di mana, negara-negara Asia Timur dan Tenggara justru memanfaatkan krisis ekonomi sebagai momentum historis dengan melakukan berbagai langkah perbaikan struktural. Mahathir misalkan, dengan sadar menolak resep IMF karena pasti akan menimbulkan gejolak ekonomi dan politik di Malaysia. Sementara di Singapura, malah melanjutkan tradisi berpikir Goh Keng Swee (arsitek ekonomi Singapura) yang kritis terhadap dampak negatif dari kapitalisme predatori. Mengambil langkah-langkah penguatan lembaga keuangan dalam negeri dan perbaikan corporate governance guna meredam badai krisis moneter.
Matinya Ideologi Pemilu
Selain tajam menganalisis problem krisis moneter yang menimpa bangsa ini, Ishak Rafick —dalam bukunya ini— juga melakukan pembacaan kritis atas dinamika politik pemilu 1999 dan pemilu 2004. Berdasar argumentasi kuat, Ishak menarik kesimpulan yang tepat tentang kematian ideologi pemilu dalam percaturan politik di Indonesia.
Ternyata pasca Soeharto makzul, ada ruang kosong demokratisasi yang dengan gesit diambil alih oligarki politik serta ekonomi yang tumbuh pada masa Orde Baru. Jangan aneh, bila transisi dari sistem otoriter ke sistem demokratis tidak membawa manfaat besar pada kemajuan negara maupun kesejahteraan rakyat. Jamak diketahui, proses pemilu atau pun pilkada sangat diwarnai dan didominasi oleh politik uang.
Apabila kecenderungan itu terus berlanjut, maka akan timbul pertanyaan, apakah demokrasi bermanfaat untuk rakyat mayoritas. Seperti yang dikatakan Ishak, matinya ideologi dalam proses politik Indonesia merupakan salah satu penyebab utama komersialisasi dan dominasi politik uang dalam proses demokrasi di Indonesia.
Jalan Baru
Tak dapat dimungkiri, masa depan negara dan bangsa ini sekarang berada di titik nadir. Tanpa perjuangan Kabinet Indonesia bersatu SBY-JK, dapat dipastikan nasib rakyat semakin memburuk. Gejalanya mulai tampak bernas, merebaknya pengangguran, busung lapar, kurang gizi, meningkatnya angka putus sekolah, bencana alam, serta berbagai penyakit ringan yang merenggut nyawa —cuma karena si sakit tak punya biaya untuk berobat.
Bila negara-negara maju mampu memberikan asuransi kesehatan kepada segenap rakyatnya dan dunia pendidikan dibikin gratis, bahkan diguyur beasiswa sebagai investasi masa depan, tentu rakyat Indonesia juga berhak mendapat perlakuan serupa dari pemerintahnya.
Buku ini sangat manantang pikiran sekaligus menggugah nurani. Lewat ketangkasan Ishak Rafick —sebagai wartawan senior— yang telah lama bergelut di dunia jurnalistik, mampu menyampaikan topik berat dalam buku ini secara ringan. Bagaimana pun, buku ini telah berkontribusi besar demi kecerdasan para pengambil kebijakan —utamanya di bidang ekonomi— dengan tidak lagi terjerumus dalam neoliberalisme kebijakan.
29/08/08
Demokrasi ala Kota Sejuta Bunga
Judul Buku : Demokrasi di Bumi Arema
Penulis : Drs. Peni Suparto, MAP
Kata Pengantar : Megawati Soekarnoputri
Penerbit : Perpustakaan Umum Kota Malang & Indo Press
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal : xi + 132 Hlm
Peresensi : A Qorib Hidayatullah*
Tak ayal, saat peluncuran buku ini (14/06/2008) di gedung Sasana Budaya Universitas Malang, penulis buku ini mengalegorikan demokrasi di bumi Arema layaknya bunga dengan beragam warna, mulai dari yang berwarna hijau, ungu, putih, kuning, biru hingga warna merah. Warna-warni bunga itulah menjadi tanda kehidupan harmonis bagi masyarakat satu sama lain yang merupakan harapan demokrasi di bumi Arema ini.
Kehadiran buku Demokrasi di Bumi Arema ini, diniatkan guna merekam perjalanan demokrasi lokal Malang. Kendati demokrasi sejatinya dilahirkan rahim Barat, namun bumi Arema memiliki periode-periode sejarah yang begitu egaliter. Diakui dalam buku ini bahwa di kota Malang turut memiliki riwayat kebijaksanaan masa lalu yang pada zamannya mempratikkan nilai-nilai demokratis (hlm. 34-35).
Demokrasi Zaman Dulu
Di dalam prasasti Dinoyo misalnya, selain menceritakan keberadaan kerajaan Kanjuruhan yang dipimpin Prabu Gajayana, pun juga pada zaman kuna itu, seorang raja masih menghargai eksistensi Brahmana yang merupakan representasi nurani rakyat pada zamannya.
Prasasti tahun 760 itu, menjabarkan secara singkat Sang Gajayana telah memberi agunan ketentraman bagi pemuka adat untuk hidup layak sebagai pribadi maupun tokoh masyarakat. Syahdan, peradaban manusia yang ribuan tahun lamanya itu, tindakan semacam ini terbilang demokratis di sejarah zamannya.
Begitu pula ketika melirik kudeta berdarah yang dilakukan Ranggah Rajasa Sang Amurwahbhumi (Ken Arok) di tahun 1220 M terhadap Tunggul Ametung yang berwatak jahat pada rakyat Tumapel. Daya revolusi ini dilakukan bersama rakyat, dipimpin Ken Arok, serta didukung para Brahmana dengan motif melawan penindasan.
Di zaman ini, potret gerakan semacam itu dapat dikatakan pemakzulan rezim otoriter, gerakan pembebasan atas sistem yang tidak demokratis serta upaya meruntuhkan kekuasaan despotis raja yang tidak pro-rakyat. Di mana sebenarnya, Tunggul Ametung menjadi raja tidak diharap rakyat, sehingga ia pun merampok harta rakyat guna disetor ke kerajaan Daha yang justru tidak memiliki kontribusi sedikit pun demi kemajuan Malang zaman itu.
Merujuk ke sejarahnya —seperti yang telah dikemukakan di atas— Malang telah memiliki “prasasti” demokrasi kendati bobotnya kecil. Tapi setidaknya, hal itu akan menjadikan bumi Arema sebagai miniatur demokrasi di Indonesia kelak. Masyarakat kota Malang yang heterogen sangat memerlukan prinsip demokrasi guna dinamisasi masyarakatnya.
Untuk memenuhi hal itu, penulis buku ini menggagas bagaimana menguatkan cengkraman demokrasi lokal. Yang coba ditawarkannya ialah terciptanya masyarakat dengan asas hidup saling gotong-royong, kebersamaan, mengasah empati antar masyarakat, membentuk komunitas masyarakat dialogis, serta sistem komunikasi antar masyarakat sehingga pihak kelurahan membuka ruang dialog seluas-luasnya dengan masyarakat grass-root.
Hal penting lain selain di atas yaitu, upaya mengait-kelindankan demokrasi dalam pilkada langsung. Pilkada merupakan kesempatan emas memperkuat demokrasi dengan membumikan pendidikan politik bagi masyarakat. Sehingga budaya demokrasi (democratic culture) selalu kukuh-kuat terbangun di tengah-tengah masyarakat.
Namun, meraih nilai-nilai demokratis itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Di buku ini pun dipaparkan ‘duri-duri’ yang akan mencederai prinsip-prinsip demokrasi. Seperti penghalalan tindak kekerasan sebagai jalan sah menggapai tujuan dan fanatisme akan ras. Kedua ‘musuh’ demokrasi itu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memberangusnya demi kesadaran pentingnya tegaknya demokrasi.
Selain itu, buku setebal 132 halaman ini, juga memotret kota Malang dan konsep pembangunannya (hlm 19). Bagian ini sengaja oleh penulis buku ini selipkan untuk menjadikan kota Malang yang damai, sejahtera dan ijo royo-royo. Misalnya, lewat pengetrapan konsep Tri Bina Cita yang memiliki esensi pembangunan Malang sebagai kota wisata; Malang, sebagai kota industri; dan Malang sebagai kota pendidikan. Walau pun banyak orang menentang konsep ini, Tri Bina Cita masih relevan dan berpotensi mengembangkan kota Malang di masa depan.
Sejatinya, dalam konteks pembangunan demokrasi, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk ikut serta menyumbangkan pemikiran-pemikirannya. Dalam kajian demokrasi, buku Samuel P Huntington, The Third Wave of Democratization (1991), paling sering dikutip. Menurut Huntington, semangat utama adalah meruntuhkan rezim yang tidak demokratis dengan rezim yang demokratis. Demokratisasi pada intinya adalah revitalisasi sistem politik otoritarian menjadi sistem yang terbuka dan bertanggung jawab.
Sebagaimana ditulis oleh para teoritisi demokrasi, transisi hanya bisa diselamatkan jika setiap pemangku jabatan publik memiliki tanggung jawab dan komitmen yang kuat. Hal terpenting dari sebuah nilai demokrasi, sebagaimana ditulis William M Sullivan (1997), adalah kepercayaan, iktikad baik, dan idealisme. Pemerintah dan warga negara harus memilikinya sebagai dasar penyelesaian konflik, krisis ekonomi, dan krisis politik.
Al-hasil, kehadiran buku ini memiliki momen yang pas, di mana Jawa Timur khususnya, dan di Indonesia pada umumnya tengah menjelang pesta demokrasi. Dan sayangnya, buku yang dieditori Liga Alam M ini masih memiliki kekurangan di sana-sini, seperti desain cover yang tidak matching dengan muatan di dalamnya serta daftar isi yang tanpa mencantumkan halaman. Kendati demikian, cacat kecil itu tidak mengurangi substansi gagasan yang hendak disampaikan penulisnya dalam buku ini.
Penulis : Drs. Peni Suparto, MAP
Kata Pengantar : Megawati Soekarnoputri
Penerbit : Perpustakaan Umum Kota Malang & Indo Press
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal : xi + 132 Hlm
Peresensi : A Qorib Hidayatullah*
Tak ayal, saat peluncuran buku ini (14/06/2008) di gedung Sasana Budaya Universitas Malang, penulis buku ini mengalegorikan demokrasi di bumi Arema layaknya bunga dengan beragam warna, mulai dari yang berwarna hijau, ungu, putih, kuning, biru hingga warna merah. Warna-warni bunga itulah menjadi tanda kehidupan harmonis bagi masyarakat satu sama lain yang merupakan harapan demokrasi di bumi Arema ini.
Kehadiran buku Demokrasi di Bumi Arema ini, diniatkan guna merekam perjalanan demokrasi lokal Malang. Kendati demokrasi sejatinya dilahirkan rahim Barat, namun bumi Arema memiliki periode-periode sejarah yang begitu egaliter. Diakui dalam buku ini bahwa di kota Malang turut memiliki riwayat kebijaksanaan masa lalu yang pada zamannya mempratikkan nilai-nilai demokratis (hlm. 34-35).
Demokrasi Zaman Dulu
Di dalam prasasti Dinoyo misalnya, selain menceritakan keberadaan kerajaan Kanjuruhan yang dipimpin Prabu Gajayana, pun juga pada zaman kuna itu, seorang raja masih menghargai eksistensi Brahmana yang merupakan representasi nurani rakyat pada zamannya.
Prasasti tahun 760 itu, menjabarkan secara singkat Sang Gajayana telah memberi agunan ketentraman bagi pemuka adat untuk hidup layak sebagai pribadi maupun tokoh masyarakat. Syahdan, peradaban manusia yang ribuan tahun lamanya itu, tindakan semacam ini terbilang demokratis di sejarah zamannya.
Begitu pula ketika melirik kudeta berdarah yang dilakukan Ranggah Rajasa Sang Amurwahbhumi (Ken Arok) di tahun 1220 M terhadap Tunggul Ametung yang berwatak jahat pada rakyat Tumapel. Daya revolusi ini dilakukan bersama rakyat, dipimpin Ken Arok, serta didukung para Brahmana dengan motif melawan penindasan.
Di zaman ini, potret gerakan semacam itu dapat dikatakan pemakzulan rezim otoriter, gerakan pembebasan atas sistem yang tidak demokratis serta upaya meruntuhkan kekuasaan despotis raja yang tidak pro-rakyat. Di mana sebenarnya, Tunggul Ametung menjadi raja tidak diharap rakyat, sehingga ia pun merampok harta rakyat guna disetor ke kerajaan Daha yang justru tidak memiliki kontribusi sedikit pun demi kemajuan Malang zaman itu.
Merujuk ke sejarahnya —seperti yang telah dikemukakan di atas— Malang telah memiliki “prasasti” demokrasi kendati bobotnya kecil. Tapi setidaknya, hal itu akan menjadikan bumi Arema sebagai miniatur demokrasi di Indonesia kelak. Masyarakat kota Malang yang heterogen sangat memerlukan prinsip demokrasi guna dinamisasi masyarakatnya.
Untuk memenuhi hal itu, penulis buku ini menggagas bagaimana menguatkan cengkraman demokrasi lokal. Yang coba ditawarkannya ialah terciptanya masyarakat dengan asas hidup saling gotong-royong, kebersamaan, mengasah empati antar masyarakat, membentuk komunitas masyarakat dialogis, serta sistem komunikasi antar masyarakat sehingga pihak kelurahan membuka ruang dialog seluas-luasnya dengan masyarakat grass-root.
Hal penting lain selain di atas yaitu, upaya mengait-kelindankan demokrasi dalam pilkada langsung. Pilkada merupakan kesempatan emas memperkuat demokrasi dengan membumikan pendidikan politik bagi masyarakat. Sehingga budaya demokrasi (democratic culture) selalu kukuh-kuat terbangun di tengah-tengah masyarakat.
Namun, meraih nilai-nilai demokratis itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Di buku ini pun dipaparkan ‘duri-duri’ yang akan mencederai prinsip-prinsip demokrasi. Seperti penghalalan tindak kekerasan sebagai jalan sah menggapai tujuan dan fanatisme akan ras. Kedua ‘musuh’ demokrasi itu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memberangusnya demi kesadaran pentingnya tegaknya demokrasi.
Selain itu, buku setebal 132 halaman ini, juga memotret kota Malang dan konsep pembangunannya (hlm 19). Bagian ini sengaja oleh penulis buku ini selipkan untuk menjadikan kota Malang yang damai, sejahtera dan ijo royo-royo. Misalnya, lewat pengetrapan konsep Tri Bina Cita yang memiliki esensi pembangunan Malang sebagai kota wisata; Malang, sebagai kota industri; dan Malang sebagai kota pendidikan. Walau pun banyak orang menentang konsep ini, Tri Bina Cita masih relevan dan berpotensi mengembangkan kota Malang di masa depan.
Sejatinya, dalam konteks pembangunan demokrasi, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk ikut serta menyumbangkan pemikiran-pemikirannya. Dalam kajian demokrasi, buku Samuel P Huntington, The Third Wave of Democratization (1991), paling sering dikutip. Menurut Huntington, semangat utama adalah meruntuhkan rezim yang tidak demokratis dengan rezim yang demokratis. Demokratisasi pada intinya adalah revitalisasi sistem politik otoritarian menjadi sistem yang terbuka dan bertanggung jawab.
Sebagaimana ditulis oleh para teoritisi demokrasi, transisi hanya bisa diselamatkan jika setiap pemangku jabatan publik memiliki tanggung jawab dan komitmen yang kuat. Hal terpenting dari sebuah nilai demokrasi, sebagaimana ditulis William M Sullivan (1997), adalah kepercayaan, iktikad baik, dan idealisme. Pemerintah dan warga negara harus memilikinya sebagai dasar penyelesaian konflik, krisis ekonomi, dan krisis politik.
Al-hasil, kehadiran buku ini memiliki momen yang pas, di mana Jawa Timur khususnya, dan di Indonesia pada umumnya tengah menjelang pesta demokrasi. Dan sayangnya, buku yang dieditori Liga Alam M ini masih memiliki kekurangan di sana-sini, seperti desain cover yang tidak matching dengan muatan di dalamnya serta daftar isi yang tanpa mencantumkan halaman. Kendati demikian, cacat kecil itu tidak mengurangi substansi gagasan yang hendak disampaikan penulisnya dalam buku ini.
27/08/08
Di Balik Kemegahan Kota Terlarang
Judul Buku : Empress Orchid
Penulis : Anchee Min
Penerbit : Hikmah Jakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : xvii + 595 Hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Cerita fiksi (novel) tak melulu merekam kehidupan hampa. Selain menimbun nilai estetis, novel juga berseru lirih ihwal kekejaman hidup. Anchee Min lewat karyanya, Empress Orchid ini cakap bertutur perkara ‘kekuasaan’ di era Dinasti Ch’ing.
Syahdan, Dinasti Ch’ing sudah tak dapat diselamatkan lagi sejak Cina dikalahkan Inggris Raya dan sekutunya dalam perang Candu. Lahirlah seorang gadis desa di tahun Kambing dari klan Yehonala yang hidupnya ditakdirkan memiliki kekuatan meski ia lebih awal kudu taklukkan rintangan. Para peramal menujumkan gadis yang lahir di tahun Kambing akan tumbuh besar menjadi kambing yang keras kepala dan berakhir menyedihkan. Untuk menepis nasib sial gadis itu, peramal memberinya nama Anggrek.
Anggrek adalah wanita menawan serta lentur. Berkat kemenawanannya, saat Kaisar Hsien Feng mengaudisi selir muda yang diikuti ribuan wanita cantik, Anggrek terpilih menjadi salah satu istri dari tujuh istri Kaisar Hsien Feng. Sejak menjadi selir muda, Anggrek meninggalkan keluarganya dan bermukim di Istana Anggrek yang berada di Kota Terlarang. Disamping itu Kaisar menyiapkan istana-istana khusus bagi istri-istrinya, misalnya, Istana Nuharoo, Istana Putri Soo, Istana Ibu Suri, Istana Putri Mei, Istana Putri Hui, Istana Putri Yun, serta Istana Putri Li.
Di balik tekstur dan warna megah Kota Terlarang, Anggrek ditemani kasim An-te-hai. Kasim An-te-hai memberitahu seluk-beluk serta mengajari tindak-tanduk Anggrek di Kota Terlarang. Bukannya tanpa alasan kasim An-te-hai dipilih Anggrek untuk mendampinginya. Kasim An-te-hai yang lincah, cerdik, piawai, dan berpengalaman luas tentang keadaan Kota Terlarang menjadi pertimbangan Anggrek memilihnya. Berbekal kecerdikan, An-te-hai berjasa besar atas popularitas Anggrek di Kota Terlarang. Strategi mapan dan rapi dari An-te-hai, Anggrek mendapat perhatian lebih dari Kaisar Hsien Feng menyaingi ratu Nuharoo. Yang pada akhirnya, Maharani Anggrek menjadi kaisar perempuan yang paling lama berkuasa di Cina. Seorang gadis desa, Putri Yehonala yang cantik itu manapaki kekuasaan lewat rayuan, intrik politik, serta pembunuhan. Saat Cina terancam oleh musuh dari luar, tampaknya hanya Maharani Anggrek yang mampu menyatukan negeri tersebut. Seorang perempuan yang berhasil bertahan dan akhirnya mendominasi dunia laki-laki.
Semakin keujung menikmati cerita novel ini, ternyata para lelaki di istana berusaha mengesankan satu sama lain atas kecerdesan mereka. Titah perintah Maharani Anggrek dalam istana mengalami pertarungan tiada henti dengan para penasihat yang ambisius, dan para menteri yang penuh tipu muslihat.
Kisah Maharani Anggrek berkonotasi kisah kelam. Di Cina, anak-anak belajar bahwa runtuhnya setiap Dinasti selalu disebabkan kesalahan seorang selir. Hukuman mati yang dijatuhkan pada seorang selir menjadi justifikasi kesalahannya. Misalkan, kisah Madame Mao yang dihukum mati, sementara suaminya dianggap sebagai George Washingtonnya Cina. Kisah yang melekat hingga kini, sang Maharani harus bertanggung jawab atas kehancuran peradaban Kekaisaran Cina yang berumur dua ribu tahun.
Anchee Min lewat karyanya ini tampak presisif betul menampilkan detail kisah nyata. Beragam riset dilakukan, misalnya, Min meneliti tak melulu dokumen yang ada di Kota Terlarang, pun juga catatan medis, keuangan, dan data kepolisian, seperti halnya riset yang luas untuk bukunya, Becoming Madame Mao yang bestseller itu.
Selain itu, sebelum menggubah novel ini, Min menekuni bacaan tentang kehidupan para kasim, pelayan, guru-guru istana, para sedadu Kekaisaran, dan buku panduan sang Maharani tentang makanan serta tetumbuhan obat. Min mengaku, dirinya bisa mengakses dokumen-dokumen asli yang dijaga ketat pejabat Beijing itu dibantu oleh segelintir orang lewat “jalan belakang”. Al-hasil, buku inipun akhirnya dinobatkan sebagai A san Francisco chronicle best book of the year.
Penulis : Anchee Min
Penerbit : Hikmah Jakarta
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : xvii + 595 Hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Cerita fiksi (novel) tak melulu merekam kehidupan hampa. Selain menimbun nilai estetis, novel juga berseru lirih ihwal kekejaman hidup. Anchee Min lewat karyanya, Empress Orchid ini cakap bertutur perkara ‘kekuasaan’ di era Dinasti Ch’ing.
Syahdan, Dinasti Ch’ing sudah tak dapat diselamatkan lagi sejak Cina dikalahkan Inggris Raya dan sekutunya dalam perang Candu. Lahirlah seorang gadis desa di tahun Kambing dari klan Yehonala yang hidupnya ditakdirkan memiliki kekuatan meski ia lebih awal kudu taklukkan rintangan. Para peramal menujumkan gadis yang lahir di tahun Kambing akan tumbuh besar menjadi kambing yang keras kepala dan berakhir menyedihkan. Untuk menepis nasib sial gadis itu, peramal memberinya nama Anggrek.
Anggrek adalah wanita menawan serta lentur. Berkat kemenawanannya, saat Kaisar Hsien Feng mengaudisi selir muda yang diikuti ribuan wanita cantik, Anggrek terpilih menjadi salah satu istri dari tujuh istri Kaisar Hsien Feng. Sejak menjadi selir muda, Anggrek meninggalkan keluarganya dan bermukim di Istana Anggrek yang berada di Kota Terlarang. Disamping itu Kaisar menyiapkan istana-istana khusus bagi istri-istrinya, misalnya, Istana Nuharoo, Istana Putri Soo, Istana Ibu Suri, Istana Putri Mei, Istana Putri Hui, Istana Putri Yun, serta Istana Putri Li.
Di balik tekstur dan warna megah Kota Terlarang, Anggrek ditemani kasim An-te-hai. Kasim An-te-hai memberitahu seluk-beluk serta mengajari tindak-tanduk Anggrek di Kota Terlarang. Bukannya tanpa alasan kasim An-te-hai dipilih Anggrek untuk mendampinginya. Kasim An-te-hai yang lincah, cerdik, piawai, dan berpengalaman luas tentang keadaan Kota Terlarang menjadi pertimbangan Anggrek memilihnya. Berbekal kecerdikan, An-te-hai berjasa besar atas popularitas Anggrek di Kota Terlarang. Strategi mapan dan rapi dari An-te-hai, Anggrek mendapat perhatian lebih dari Kaisar Hsien Feng menyaingi ratu Nuharoo. Yang pada akhirnya, Maharani Anggrek menjadi kaisar perempuan yang paling lama berkuasa di Cina. Seorang gadis desa, Putri Yehonala yang cantik itu manapaki kekuasaan lewat rayuan, intrik politik, serta pembunuhan. Saat Cina terancam oleh musuh dari luar, tampaknya hanya Maharani Anggrek yang mampu menyatukan negeri tersebut. Seorang perempuan yang berhasil bertahan dan akhirnya mendominasi dunia laki-laki.
Semakin keujung menikmati cerita novel ini, ternyata para lelaki di istana berusaha mengesankan satu sama lain atas kecerdesan mereka. Titah perintah Maharani Anggrek dalam istana mengalami pertarungan tiada henti dengan para penasihat yang ambisius, dan para menteri yang penuh tipu muslihat.
Kisah Maharani Anggrek berkonotasi kisah kelam. Di Cina, anak-anak belajar bahwa runtuhnya setiap Dinasti selalu disebabkan kesalahan seorang selir. Hukuman mati yang dijatuhkan pada seorang selir menjadi justifikasi kesalahannya. Misalkan, kisah Madame Mao yang dihukum mati, sementara suaminya dianggap sebagai George Washingtonnya Cina. Kisah yang melekat hingga kini, sang Maharani harus bertanggung jawab atas kehancuran peradaban Kekaisaran Cina yang berumur dua ribu tahun.
Anchee Min lewat karyanya ini tampak presisif betul menampilkan detail kisah nyata. Beragam riset dilakukan, misalnya, Min meneliti tak melulu dokumen yang ada di Kota Terlarang, pun juga catatan medis, keuangan, dan data kepolisian, seperti halnya riset yang luas untuk bukunya, Becoming Madame Mao yang bestseller itu.
Selain itu, sebelum menggubah novel ini, Min menekuni bacaan tentang kehidupan para kasim, pelayan, guru-guru istana, para sedadu Kekaisaran, dan buku panduan sang Maharani tentang makanan serta tetumbuhan obat. Min mengaku, dirinya bisa mengakses dokumen-dokumen asli yang dijaga ketat pejabat Beijing itu dibantu oleh segelintir orang lewat “jalan belakang”. Al-hasil, buku inipun akhirnya dinobatkan sebagai A san Francisco chronicle best book of the year.
22/08/08
Mengakrabkan Sastra Kepada Tuhannya
Judul Buku : Nabi Tanpa Wahyu
(Esei-esei Sastra Perlawanan)
Penulis : Hudan Hidayat
Penerbit : PUstaka PuJAngga Lamongan
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : xii + 218 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Bertumpu pada kesadaran tertingginya, manusia akan mewujud melebur kedalam huruf, kata, hingga kalimat-kalimat. Manusia dapat bebas tentukan langgam tema karya sastra yang ia hasilkan. Menembus kanon sastra menjadikannya lentur. Memagnet pesastra pemula asyik-masyuk bergelut dengan dunia sastra yang tak lagi garang penuh aturan. Sehingga, terengkuh energi kreatifitas yang tak melulu membincang ihwal “langit” dari sumber tunggal (simbol agama). Serasa gawat, bila ada pemasungan kompleksitas dunia pada satu ruang agama formal.
“Bila Tuhan menubuh pada dunia, dan ruh menubuh pada badan manusia, maka kesadaranlah menubuh pada kata-kata.” Begitulah garitan kalimat mukaddimah gubahan Hudan Hidayat (HH) “Kredo Seni di Atas Kredo Puisi” dalam buku ini. Kata-kata adalah ruang bagi kesadaran untuk berdiam mengeram. Karena itu kata-kata memang alat untuk menampung kesadaran.
Nabi Tanpa Wahyu HH memuat 26 esai sastra perlawanan. HH mengajak kita (utamanya penulis sastra pemula) agar bebas temukan kemandirian genre sastra yang mengeruhi karya sastra kita kelak. Garis bernas esai HH menyiratkan bahwa beragam rute jalan mengakrabkan sastra kepada Tuhannya. HH berani berpolemik panjang nan meletihkan, demi perjuangkan kemerdekaan ekspresi tuangkan imaji.
Tamsil menggugah HH: “Dengan mengabarkan kesyahduan dan kegilaan, sisi kemanusiaan menjadi lengkap, orang bisa berkaca padanya untuk menggenapkan kehidupan. Orang bisa berkaca padanya untuk sampai pada kebajikan.” Disini HH berusaha tidak menutup sebelah mata dalam melihat realitas keduniawian. Hidup seseorang dipandang HH secara fair, mesti mutlak mengandung nilai baik dan buruk. Sastra, diharap HH tak hanya menampilkan yang baik-baik saja dari manusia. Sastra tak hanya berkutat pada wilayah estetis an-sich, berbalik jauh melampaui, sastra sebagai mesiu mengetuk hati nurani, mengakui kemunafikan.
Bermula dari Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail didepan Akademi Jakarta (2006), yang menyuarakan moral agama dalam sastra. HH menganggap pidato tersebut bukan hanya menyerang sastra dan seni, tapi lebih memporak-porandakan hidup itu sendiri. Taufiq Ismail melancarkan serangan stigmatik sastra: sastra SMS --sastra mazhab selangkangan-- atau sastra FAK --Fiksi Alat Kelamin—(Jawa Pos, 17 Juni 2007).
Itulah pemantik polemik HH dengan tuan Taufiq. Hingga esai ini digubah, tak lain adalah wujud dialog sehat tentang “nasib sastra”. HH hendak mendedah kredo sastra yang dikunci rapat-rapat oleh tuan Taufiq. “Terasa bagi saya serangan balik tuan Taufiq sangat mematikan. Dengan semangat anti-dialog dan anti-wacana, Taufiq seolah petinju yang memukul lawannya secara ‘kalang-kabut’. Dalam SMS-nya pada saya, Taufiq menyebut tentang ‘kebakaran budaya’, yang penyebabnya antara lain sastra SMS atau sastra FAK.”
Basis tuduhan Taufiq Ismail membikin kategori sastra SMS atau sastra FAK, langsung membidik jantung karya sastra dari beberapa pesastra, sebut misalkan: Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Fadjroel Rachman, Muhidin M. Dahlan, Hudan Hidayat, serta Mariana Amiruddin. Karya Ayu Utami ‘Saman’, cerpen Djenar Maesa Ayu ‘Menyusu Ayah’ di Jurnal Perempuan atau ‘Melukis Jendela’ di Majalah Horison, cerpen Mariana Amiruddin ‘Kota Kelamin’ di Jawa Pos, dsb.
Bak seamsal seorang hakim, Taufiq Ismail langsung memvonis karya-karya sastra tersebut sebagai ‘sastra cabul’ atau sastra yang membincang ‘daun surga’. Padahal kalau ditilik mendalam, menyibak makna dibalik pesan tersurat, karya sastra yang tertera diatas jauh dari klaim sepihak Taufiq Ismail.
“Membaca kedua cerpen Djenar itu memang menyebutkan alat kelamin, tapi alat kelamin itu sekadar pintu masuk untuk makna lain. Yakni, penderitaan sang anak yang menjadi korban kekerasan keluarga. Darinya menyembul simpati akan korban kekerasan. Bukan nafsu seks dalam konteks ‘sastra mazhab selangkangan’ yang dimaskud Taufiq,” ujar HH.
Begitu juga, bila membaca cerpen Mariana di Jawa Pos, Kota Kelamin. Spirit yang dibangun Mariana malah bukan hasrat seks, melainkan simpati akan manusia modern yang lelah mengatasi hipokrisi, melulu menutup rapat seolah kelamin terbalut pada tubuh manusia. Sehingga ungkap HH: “daging luar gagrak sastra seperti inilah yang ‘memfitnah’ kami sebagai motor penggerak ‘Gerakan Syahwat Merdeka’. Padahal sastra yang ditulis itu bukanlah semata ‘syahwat merdeka’. Tetapi ‘syahwat’ sebagai sampiran untuk kemerdekaan manusia (hal 11).
Dalam buku kumpulan esai ini, HH getol betul menggawangi kekebasan sastra dengan mutu argumentasi yang kokoh. Senjata ampuh HH yang dibidikkan kepada Taufiq Ismail ialah apakah ketelanjangan disana bukan sebuah ancang-ancang, untuk meraih makna kesepian atau ketuhanan? HH yakin bahwa Taufiq tidak bisa menghindar dari filsafat penciptaan dan ideologi penciptaan.
Michel Foucault (1926-1984) telah mengingatkan bahwa persepsi tentang tubuh adalah efek dari jaringan struktural kekuasaan dan pengetahuan. Tubuh mengandung metafor tempat kekuasaan memancangkan nafsu kekuasaannya sehingga melalui tubuh dapat dibaca konsekuensi perubahan-perubahan sosial sepanjang sejarah yang panjang.
Dalam ayat dari surat-Nya (QS. 7:22). Tuhan Yang Maha Imajinatif menggambarkan Adam dan Hawa telanjang, setelah melanggar. Akankah kita mengatakan Kitab Suci sebagai teks yang porno? Ketelanjangan Adam dan Hawa, ditempatkan Sang Kreator dalam bingkai sesuatu yang mengatasinya; sebagai sampiran, untuk menerobos kenyataan yang lebih tinggi. “Ketelanjangan”, dalam upaya meraih makna lebih luas, Tuhan membikin lewat peristiwa dan kata-Nya.
Nah, dari situ sastrawan dituntut melakukan tafsir dunia dan menemukan makna untuk kekayaan batin manusia. Seperti seorang ilmuwan melakukan tafsir dunia dan menemukan benda untuk kemudahan manusia. Puisi Simone Honecker “Sich Entssheiden atau Mengambil Keputusan”: Setuju tidak setuju/panas atau dingin/terserah, asal janganlah/setengah-setengah//Jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak.
Berkat kerisauan Taufiq Ismail dan kelompok Saut Situmorang akan neo-liberalisme yang mewujud dalam dugaan adanya “sastra seksual”, memaksa HH membuat argumen “teologis” dalam esai ini. Menjangkau Tuhan dengan lambang dan sampiran, sehingga sastra menjadi dunia metafora yang sedap untuk dibaca. Mencerahkan manusia. HH malah khawatir, bila sastra hendak menjauh dari Tuhannya. Oh, aih aih.
(Esei-esei Sastra Perlawanan)
Penulis : Hudan Hidayat
Penerbit : PUstaka PuJAngga Lamongan
Cetakan : I, Januari 2008
Tebal : xii + 218 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Bertumpu pada kesadaran tertingginya, manusia akan mewujud melebur kedalam huruf, kata, hingga kalimat-kalimat. Manusia dapat bebas tentukan langgam tema karya sastra yang ia hasilkan. Menembus kanon sastra menjadikannya lentur. Memagnet pesastra pemula asyik-masyuk bergelut dengan dunia sastra yang tak lagi garang penuh aturan. Sehingga, terengkuh energi kreatifitas yang tak melulu membincang ihwal “langit” dari sumber tunggal (simbol agama). Serasa gawat, bila ada pemasungan kompleksitas dunia pada satu ruang agama formal.
“Bila Tuhan menubuh pada dunia, dan ruh menubuh pada badan manusia, maka kesadaranlah menubuh pada kata-kata.” Begitulah garitan kalimat mukaddimah gubahan Hudan Hidayat (HH) “Kredo Seni di Atas Kredo Puisi” dalam buku ini. Kata-kata adalah ruang bagi kesadaran untuk berdiam mengeram. Karena itu kata-kata memang alat untuk menampung kesadaran.
Nabi Tanpa Wahyu HH memuat 26 esai sastra perlawanan. HH mengajak kita (utamanya penulis sastra pemula) agar bebas temukan kemandirian genre sastra yang mengeruhi karya sastra kita kelak. Garis bernas esai HH menyiratkan bahwa beragam rute jalan mengakrabkan sastra kepada Tuhannya. HH berani berpolemik panjang nan meletihkan, demi perjuangkan kemerdekaan ekspresi tuangkan imaji.
Tamsil menggugah HH: “Dengan mengabarkan kesyahduan dan kegilaan, sisi kemanusiaan menjadi lengkap, orang bisa berkaca padanya untuk menggenapkan kehidupan. Orang bisa berkaca padanya untuk sampai pada kebajikan.” Disini HH berusaha tidak menutup sebelah mata dalam melihat realitas keduniawian. Hidup seseorang dipandang HH secara fair, mesti mutlak mengandung nilai baik dan buruk. Sastra, diharap HH tak hanya menampilkan yang baik-baik saja dari manusia. Sastra tak hanya berkutat pada wilayah estetis an-sich, berbalik jauh melampaui, sastra sebagai mesiu mengetuk hati nurani, mengakui kemunafikan.
Bermula dari Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail didepan Akademi Jakarta (2006), yang menyuarakan moral agama dalam sastra. HH menganggap pidato tersebut bukan hanya menyerang sastra dan seni, tapi lebih memporak-porandakan hidup itu sendiri. Taufiq Ismail melancarkan serangan stigmatik sastra: sastra SMS --sastra mazhab selangkangan-- atau sastra FAK --Fiksi Alat Kelamin—(Jawa Pos, 17 Juni 2007).
Itulah pemantik polemik HH dengan tuan Taufiq. Hingga esai ini digubah, tak lain adalah wujud dialog sehat tentang “nasib sastra”. HH hendak mendedah kredo sastra yang dikunci rapat-rapat oleh tuan Taufiq. “Terasa bagi saya serangan balik tuan Taufiq sangat mematikan. Dengan semangat anti-dialog dan anti-wacana, Taufiq seolah petinju yang memukul lawannya secara ‘kalang-kabut’. Dalam SMS-nya pada saya, Taufiq menyebut tentang ‘kebakaran budaya’, yang penyebabnya antara lain sastra SMS atau sastra FAK.”
Basis tuduhan Taufiq Ismail membikin kategori sastra SMS atau sastra FAK, langsung membidik jantung karya sastra dari beberapa pesastra, sebut misalkan: Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Fadjroel Rachman, Muhidin M. Dahlan, Hudan Hidayat, serta Mariana Amiruddin. Karya Ayu Utami ‘Saman’, cerpen Djenar Maesa Ayu ‘Menyusu Ayah’ di Jurnal Perempuan atau ‘Melukis Jendela’ di Majalah Horison, cerpen Mariana Amiruddin ‘Kota Kelamin’ di Jawa Pos, dsb.
Bak seamsal seorang hakim, Taufiq Ismail langsung memvonis karya-karya sastra tersebut sebagai ‘sastra cabul’ atau sastra yang membincang ‘daun surga’. Padahal kalau ditilik mendalam, menyibak makna dibalik pesan tersurat, karya sastra yang tertera diatas jauh dari klaim sepihak Taufiq Ismail.
“Membaca kedua cerpen Djenar itu memang menyebutkan alat kelamin, tapi alat kelamin itu sekadar pintu masuk untuk makna lain. Yakni, penderitaan sang anak yang menjadi korban kekerasan keluarga. Darinya menyembul simpati akan korban kekerasan. Bukan nafsu seks dalam konteks ‘sastra mazhab selangkangan’ yang dimaskud Taufiq,” ujar HH.
Begitu juga, bila membaca cerpen Mariana di Jawa Pos, Kota Kelamin. Spirit yang dibangun Mariana malah bukan hasrat seks, melainkan simpati akan manusia modern yang lelah mengatasi hipokrisi, melulu menutup rapat seolah kelamin terbalut pada tubuh manusia. Sehingga ungkap HH: “daging luar gagrak sastra seperti inilah yang ‘memfitnah’ kami sebagai motor penggerak ‘Gerakan Syahwat Merdeka’. Padahal sastra yang ditulis itu bukanlah semata ‘syahwat merdeka’. Tetapi ‘syahwat’ sebagai sampiran untuk kemerdekaan manusia (hal 11).
Dalam buku kumpulan esai ini, HH getol betul menggawangi kekebasan sastra dengan mutu argumentasi yang kokoh. Senjata ampuh HH yang dibidikkan kepada Taufiq Ismail ialah apakah ketelanjangan disana bukan sebuah ancang-ancang, untuk meraih makna kesepian atau ketuhanan? HH yakin bahwa Taufiq tidak bisa menghindar dari filsafat penciptaan dan ideologi penciptaan.
Michel Foucault (1926-1984) telah mengingatkan bahwa persepsi tentang tubuh adalah efek dari jaringan struktural kekuasaan dan pengetahuan. Tubuh mengandung metafor tempat kekuasaan memancangkan nafsu kekuasaannya sehingga melalui tubuh dapat dibaca konsekuensi perubahan-perubahan sosial sepanjang sejarah yang panjang.
Dalam ayat dari surat-Nya (QS. 7:22). Tuhan Yang Maha Imajinatif menggambarkan Adam dan Hawa telanjang, setelah melanggar. Akankah kita mengatakan Kitab Suci sebagai teks yang porno? Ketelanjangan Adam dan Hawa, ditempatkan Sang Kreator dalam bingkai sesuatu yang mengatasinya; sebagai sampiran, untuk menerobos kenyataan yang lebih tinggi. “Ketelanjangan”, dalam upaya meraih makna lebih luas, Tuhan membikin lewat peristiwa dan kata-Nya.
Nah, dari situ sastrawan dituntut melakukan tafsir dunia dan menemukan makna untuk kekayaan batin manusia. Seperti seorang ilmuwan melakukan tafsir dunia dan menemukan benda untuk kemudahan manusia. Puisi Simone Honecker “Sich Entssheiden atau Mengambil Keputusan”: Setuju tidak setuju/panas atau dingin/terserah, asal janganlah/setengah-setengah//Jika ya katakan ya, jika tidak katakan tidak.
Berkat kerisauan Taufiq Ismail dan kelompok Saut Situmorang akan neo-liberalisme yang mewujud dalam dugaan adanya “sastra seksual”, memaksa HH membuat argumen “teologis” dalam esai ini. Menjangkau Tuhan dengan lambang dan sampiran, sehingga sastra menjadi dunia metafora yang sedap untuk dibaca. Mencerahkan manusia. HH malah khawatir, bila sastra hendak menjauh dari Tuhannya. Oh, aih aih.
21/08/08
Menembus Teks Kesahihan Bersetubuh
Judul Buku : Ritual Celana Dalam
Penulis : Andy Stevenio
Penerbit : Galang Press
Cetakan : I, 2007
Tebal : 188 hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Melayani hasrat seksual bagi manusia adalah kebutuhan niscaya. Pencetus teori hierarki kebutuhan pokok manusia, Abraham Maslow, menempatkan di rangking wahid tentang kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan seksual. Terasa ganjil dan menggelitik bila ada seseorang yang memenuhi hajat seksualnya secara unik, tak sama dari formula senggama keumuman orang.
Stevenio dikaryanya ini berhasil menguak potret beda cara pemenuhan hasrat seksual seseorang. Hal ini tak lepas, concern kajian dia sebagai pemerhati problem anak remaja masa kini.
Erat-kaitannya dengan relasi seks ganjil, Stevenio mengemukakan contohnya. Seperti, bercumbu mesra atau kencan dengan mayat yang tergeletak kaku tanpa nyawa, menyaksikan pasangannya berhubungan dengan orang lain dirinya baru bisa terangsang, mempertontonkan alat kelamin didepan umum untuk mendapatkan sensasi seksual, berhubungan intim dengan boneka, menjadikan bulu ketek sebagai pembangkit libido dan lain-lain. Praktik seksual semacam itu tergolong aneh dan kerap banyak orang menganggap si pelaku terjangkit kelainan seksual.
Beragam praktik keunikan seksual (kalau tak mau disebut kelainan seksual) acap kali terjadi seiring ketaklaziman si pelaku seks atau berbeda dengan hubungan seksual konvensional. Mereka tak anyal dikatakan sebagai orang yang abnormal, dikarenakan jauh dari praktik seksual pada umumnya. Peristiwa sadomashokis, misalnya. Dimana, hasrat si suami dapat tersalur mulus dengan nafsu gairah memuncak ketika si istri dipukuli lebih awal, dan dapat dipastikan kondisinya meronta kesakitan bahkan menangis, baru ia (suami) terangsang “menggarap” istrinya.
Lebih jauh, Stevenio ingin mengungkap bahwa rute raih kepuasan seseorang perkara seksual cukup berbeda-beda. Seakan ditegaskan, tak berhak jika kita menghakimi ekstase seksual orang lain. Model-gaya seksual seseorang dapat dipastikan telah memiliki ruas jalan masing-masing dalam meraih kenikmatan seksualnya.
Ritual celana dalam atau lebih tepatnya Ritual isi celana dalam, memiliki kecondongan pandangan unik dimana hubungan intim yang konvensional tak lagi mampu memuaskan keinginan hasrat seksual mereka. Sehingga, mereka mempunyai alternatif sendiri guna menyalurkan keinginannya. Satu puncak kepuasaan yang sesungguhnya dituntut oleh isi celana dalamnya.
Seiring kecanggihan tekhnologi, HP misalnya, yang banyak membantu mempercepat relasi komunikasi sehari-hari, memiliki efek besar terhadap relasi seksual manusia. Tak diterka-sangka, berkat bantuan HP, muncullah istilah Sex-Phone, dijadikan tren acuan meraih kepuasaan seksual orang modern.
Tak sedikit orang menggunakan jasa sex-phone bila kebutuhan biologisnya mendesak. Caranya pun tak terlalu rumit, tinggal kita memilih betah di gagang telepon untuk ngobrol-ngobrol dengan seseorang, tentunya lewat ocehan-ocehan vulgar yang mampu membangkitkan gairah hingga pada tingkat yang paling tinggi atau klimaks.
Meski dipaparkan dimuka mengenai banyaknya praktik seksual unik, tidak kemudian menjadikan kita berhak penuh dengan mengatakan: “tindakan mereka itu salah dan jauh dari moral berkeadaban.” Mereka adalah orang gila, sebab perilaku seksualnya berbeda dengan lazimnya aktivitas seksual keumuman. Merunut pemikiran filsuf post-modern, Michel Foucault, telah mengadopsi prinsip-prinsip geneologis guna mengobrak abrik kategori-kategori yang oleh masyarakat dimutlakkan.
Seperti penelitian historis Foucault tentang kegilaan. Lewat penelitian itu, Foucault ingin menyerang terhadap pemutlakan kegilaan sebagai penyakit mental. Kita cenderung menyebut orang yang tiba-tiba melucuti pakaiannya didepan umum sebagai orang “gila”. Seseorang yang harus segera mendapat bantuan profesional.
Kegilaan, bagi Foucault bukan suatu sudah pada kodratnya penyakit. Lebih jauh, penelitiannya membuktikan bahwa pada satu masa kegilaan bukan di konsepsikan sebagai penyakit, melainkan kesalahan moral yang mereduksi manusia ketingkat kebinatangan. Degradasi yang membuat manusia harus dikurung dan diisolasi, justru bukan disembuhkan.
Foucault, seorang filsuf yang gagah berani. Ia mampu melacak kegilaan dan pergeseran artikulasi yang bersifat normatif antara pengalaman yang valid dan tak valid, serta perilaku yang dianggap normal dan tidak normal. Kaitannya dengan kehidupan, Foucault memproyeksikan hidup sebagai seni. Hidup adalah penciptaan diri lewat pelampauan yang terus-menerus. Karenanya, kotak-kotak kategorial yang membungkus rapi eksistensi manusia harus disobek-tembus.
Kategorisasi kegilaan bukan kesalahan yang kemudian dibenahi oleh psikologi modern. Kegilaan, baik secara cacat moral maupun penyakit mental, tak lebih dari sekadar konstruksi sosial. Nietzche, filsuf yang duduk di aliran anti-esensialis, pernah melakukan hal yang sama terhadap moralitas. Kategori moralitas Kristiani yang dianggap suci, bening, dan mutlak dibuktikan sebaliknya. Kategori tersebut muncul pada satu konteks historis tertentu. Konteks historis saat para budak yang terhina membalik nilai-nilai aristokrat yang dikaguminya menjadi “yang jahat dan terkutuk”.
Membincang seksual tak hanya sekadar relasi intim antara pria dan wanita, serta kepuasaan an-sich diantara keduanya. Lebih jauh, seks diharap mampu menjadi batu-bata peradaban kukuh kelak dengan menciptakan keturunan-keturunan tangguh. Lewat seksualitas produktif dituntut amanah memperkaya manusia dan menjaga kelangsungan spesies homo sapiens, manusia yang bijak dan berpikir.
Buku Stevenio ini, memperkaya pengetahuan kita tentang keunikan- keunikan praktik seksual yang dilakukan si pelaku seks. Keberhasilannya memotret panggung teater keunikan seksual yang tergolong jarang diekspos oleh orang secara umum, saya pikir ia patut disemat sebagai pembela pelalu seks pinggiran. Banyak diantara kita menganggap, peristiwa seksual adalah hal tabu. Berbicara seks, kerap kita dianggap menebar aib ke orang lain. Bukankah sex education juga dibutuhkan?
Penulis : Andy Stevenio
Penerbit : Galang Press
Cetakan : I, 2007
Tebal : 188 hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Melayani hasrat seksual bagi manusia adalah kebutuhan niscaya. Pencetus teori hierarki kebutuhan pokok manusia, Abraham Maslow, menempatkan di rangking wahid tentang kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan seksual. Terasa ganjil dan menggelitik bila ada seseorang yang memenuhi hajat seksualnya secara unik, tak sama dari formula senggama keumuman orang.
Stevenio dikaryanya ini berhasil menguak potret beda cara pemenuhan hasrat seksual seseorang. Hal ini tak lepas, concern kajian dia sebagai pemerhati problem anak remaja masa kini.
Erat-kaitannya dengan relasi seks ganjil, Stevenio mengemukakan contohnya. Seperti, bercumbu mesra atau kencan dengan mayat yang tergeletak kaku tanpa nyawa, menyaksikan pasangannya berhubungan dengan orang lain dirinya baru bisa terangsang, mempertontonkan alat kelamin didepan umum untuk mendapatkan sensasi seksual, berhubungan intim dengan boneka, menjadikan bulu ketek sebagai pembangkit libido dan lain-lain. Praktik seksual semacam itu tergolong aneh dan kerap banyak orang menganggap si pelaku terjangkit kelainan seksual.
Beragam praktik keunikan seksual (kalau tak mau disebut kelainan seksual) acap kali terjadi seiring ketaklaziman si pelaku seks atau berbeda dengan hubungan seksual konvensional. Mereka tak anyal dikatakan sebagai orang yang abnormal, dikarenakan jauh dari praktik seksual pada umumnya. Peristiwa sadomashokis, misalnya. Dimana, hasrat si suami dapat tersalur mulus dengan nafsu gairah memuncak ketika si istri dipukuli lebih awal, dan dapat dipastikan kondisinya meronta kesakitan bahkan menangis, baru ia (suami) terangsang “menggarap” istrinya.
Lebih jauh, Stevenio ingin mengungkap bahwa rute raih kepuasan seseorang perkara seksual cukup berbeda-beda. Seakan ditegaskan, tak berhak jika kita menghakimi ekstase seksual orang lain. Model-gaya seksual seseorang dapat dipastikan telah memiliki ruas jalan masing-masing dalam meraih kenikmatan seksualnya.
Ritual celana dalam atau lebih tepatnya Ritual isi celana dalam, memiliki kecondongan pandangan unik dimana hubungan intim yang konvensional tak lagi mampu memuaskan keinginan hasrat seksual mereka. Sehingga, mereka mempunyai alternatif sendiri guna menyalurkan keinginannya. Satu puncak kepuasaan yang sesungguhnya dituntut oleh isi celana dalamnya.
Seiring kecanggihan tekhnologi, HP misalnya, yang banyak membantu mempercepat relasi komunikasi sehari-hari, memiliki efek besar terhadap relasi seksual manusia. Tak diterka-sangka, berkat bantuan HP, muncullah istilah Sex-Phone, dijadikan tren acuan meraih kepuasaan seksual orang modern.
Tak sedikit orang menggunakan jasa sex-phone bila kebutuhan biologisnya mendesak. Caranya pun tak terlalu rumit, tinggal kita memilih betah di gagang telepon untuk ngobrol-ngobrol dengan seseorang, tentunya lewat ocehan-ocehan vulgar yang mampu membangkitkan gairah hingga pada tingkat yang paling tinggi atau klimaks.
Meski dipaparkan dimuka mengenai banyaknya praktik seksual unik, tidak kemudian menjadikan kita berhak penuh dengan mengatakan: “tindakan mereka itu salah dan jauh dari moral berkeadaban.” Mereka adalah orang gila, sebab perilaku seksualnya berbeda dengan lazimnya aktivitas seksual keumuman. Merunut pemikiran filsuf post-modern, Michel Foucault, telah mengadopsi prinsip-prinsip geneologis guna mengobrak abrik kategori-kategori yang oleh masyarakat dimutlakkan.
Seperti penelitian historis Foucault tentang kegilaan. Lewat penelitian itu, Foucault ingin menyerang terhadap pemutlakan kegilaan sebagai penyakit mental. Kita cenderung menyebut orang yang tiba-tiba melucuti pakaiannya didepan umum sebagai orang “gila”. Seseorang yang harus segera mendapat bantuan profesional.
Kegilaan, bagi Foucault bukan suatu sudah pada kodratnya penyakit. Lebih jauh, penelitiannya membuktikan bahwa pada satu masa kegilaan bukan di konsepsikan sebagai penyakit, melainkan kesalahan moral yang mereduksi manusia ketingkat kebinatangan. Degradasi yang membuat manusia harus dikurung dan diisolasi, justru bukan disembuhkan.
Foucault, seorang filsuf yang gagah berani. Ia mampu melacak kegilaan dan pergeseran artikulasi yang bersifat normatif antara pengalaman yang valid dan tak valid, serta perilaku yang dianggap normal dan tidak normal. Kaitannya dengan kehidupan, Foucault memproyeksikan hidup sebagai seni. Hidup adalah penciptaan diri lewat pelampauan yang terus-menerus. Karenanya, kotak-kotak kategorial yang membungkus rapi eksistensi manusia harus disobek-tembus.
Kategorisasi kegilaan bukan kesalahan yang kemudian dibenahi oleh psikologi modern. Kegilaan, baik secara cacat moral maupun penyakit mental, tak lebih dari sekadar konstruksi sosial. Nietzche, filsuf yang duduk di aliran anti-esensialis, pernah melakukan hal yang sama terhadap moralitas. Kategori moralitas Kristiani yang dianggap suci, bening, dan mutlak dibuktikan sebaliknya. Kategori tersebut muncul pada satu konteks historis tertentu. Konteks historis saat para budak yang terhina membalik nilai-nilai aristokrat yang dikaguminya menjadi “yang jahat dan terkutuk”.
Membincang seksual tak hanya sekadar relasi intim antara pria dan wanita, serta kepuasaan an-sich diantara keduanya. Lebih jauh, seks diharap mampu menjadi batu-bata peradaban kukuh kelak dengan menciptakan keturunan-keturunan tangguh. Lewat seksualitas produktif dituntut amanah memperkaya manusia dan menjaga kelangsungan spesies homo sapiens, manusia yang bijak dan berpikir.
Buku Stevenio ini, memperkaya pengetahuan kita tentang keunikan- keunikan praktik seksual yang dilakukan si pelaku seks. Keberhasilannya memotret panggung teater keunikan seksual yang tergolong jarang diekspos oleh orang secara umum, saya pikir ia patut disemat sebagai pembela pelalu seks pinggiran. Banyak diantara kita menganggap, peristiwa seksual adalah hal tabu. Berbicara seks, kerap kita dianggap menebar aib ke orang lain. Bukankah sex education juga dibutuhkan?
Alur Hikayat Singa Babilonia
Judul Buku : Detik-detik Kematian Saddam
Penulis : NS. Mahmud dkk.
Penerbit : An-Naba’
Cetakan : I, Pebruari 2007
Tebal : vi + 105 hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Hikayat pemegang tampuk kekuasaan Irak selama tiga dasawarsa - sejak tahun 1979 hingga 2003 - telah berakhir. “Saddam”, begitulah namanya dipanggil. Dengan nama lengkap: Saddam Hussein al-Majid al-Tikriti, lahir pada tanggal 28 April 1937 di Desa Auja, Tikrit, Irak. Ia pernah mengukir kejayaan gemilang dibumi Irak. Bahkan, ia pula tercatat sebagai tokoh besar dikawasan Timur Tengah dan Teluk. Dengan hiruk pikuk menuju jayanya kekuasaan, banyak pengalaman pahit dan menyakitkan dirasakannya.
Saddam menapaki karir politiknya hingga kepuncak lewat jalan darah. Ia memulai langkahnya dengan kudeta atas Jenderal Qassim (1960), lalu mengobarkan revolusi atas presiden Abdul Rahman (1968), dan melucuti kekuasaan Presiden Ahmad Hassan al-Bakr, sepupunya sendiri, tahun (1979). Sampai akhir hikayat pun, berujung dengan tragis, yaitu dihukum gantung (31 Desember 2006).
Abdul Hussein al-Dujaili, salah seorang saksi mata mengemukakan penyebab Saddam diseret ke tiang gantungan. Adalah karena pembantaian oleh unit Garda Republik yang dikerahkan Dujail atas instruksi Saddam. Lebih 600 orang dari 80 keluarga ditangkap dan dibawa ke penjara rahasia Baghdad, 148 orang diantaranya sampai kini tidak diketahui nasibnya.
Berakhirnya Saddam ditiang gantungan, juga mengakhiri hidupnya diusia 69 tahun, delapan bulan, dua hari, 22 jam setelah dieksekusi. Dan dipenghujung usianya ini, ia sempat melontarkan pernyataan tegar: “Inilah akhir hidupku. Saya mengawali hidupku sebagai pejuang karena itu kematian tidak menakutkanku,” seperti disiarkan jaringan televisi CNN dan BBC.
Bersamaan dengan berakhirnya Saddam, maka dapat ditafsirkan sebagai kemenangan klan Bush; baik Bush senior dan yunior, AS sebagai Negara “polisi dunia” dan sistem kapitalisme (sekutunya). Sebab, melihat proses pengadilan Saddam hingga jatuhnya eksekusi hukum gantung, adalah tak lebih dari buah desain dari Amerika Serikat. Saddam dan Irak digambarkan oleh AS sebagai “Poros Setan” (axis of evil).
Banyak kalangan menolak atas hukuman Saddam tersebut. Bagi Vatikan, kejadian itu merupakan sebuah berita yang tragis. “Itu adalah alasan bagi kita untuk bersedih, meski ini menyangkut orang bersalah dalam sebuah kejahatan kemanusiaan yang serius. Sikap gereja Katolik yang menolak hukuman mati dengan alasan apapun harus ditegaskan lagi disini.” (Jawa Pos, 31/12/06)
Bagaimana pun, penguasa Irak yang fenomenal ini mempunyai segudang kesan disisakan pada kerabat dekat dan rakyatnya. Tak cukup rasanya, ketika kita hanya menyematkan karakter tunggal kepadanya. Banyak versi tentang sejarah hidupnya, mulai gaya memimpin sampai kebiasaannya yang bergelut dalam dunia literasi. Seperti, gaya kepemimpinannya tak sedikit orang (utamanya Amerika) menilai bahwa ia adalah pemimpin otoriter, ganas, dan radikal.
Klaim diatas terkesan paradoks, ketika mendengar penuturan dan kesaksian orang Amerika lainnya yaitu Robert Ellis. Ellis adalah seorang perawat militer Amerika yang bertugas memeriksa kesehatan Saddam dipenjara sejak Januari hingga Agustus 2004. Bagi Ellis, sebagaimana yang ia saksikan dipenjara, Saddam adalah sosok pria yang amat santun, suka bertafakkur, gemar membaca dan menulis (hal 37).
Didunia literasi (tulis-menulis), ia dikenal sebagai novelis. Seperti, empat hasil karya sastranya (novel), Zabibah wa al-Mulk (Zabibah dan Sang Raja) terbit tahun 2001, al-Qal’ah al-Hashinah (Benteng Pertahanan), Rijal wa al-Madinah (Pahlawan dan Kota), dan Akhreej Minha Ya Mal un. Novel terakhirnya ini, berkisah tentang manusia yang tamak, licik, culas, dan haus kekuasaan yang menjadi simbol rapuhnya kehormatan dan harga diri.
Seorang pengamat sastra, mengatakan bahwa novel-novel saddam itu termasuk dalam kategori “sastra perang”. Dilihat dari judul-judulnya pun, novel itu kiranya tak dapat dilepaskan dari senjata, dan alat-alat perang lainnya. Keempat dari karya sastranya, sangat dekat dengan diri empirik penulis. Seperti, latar sejarah hidup, dan kondisi sosial masyarakat Arab. Sehingga, novel-novel itu pun yang memudahkan para agen rahasia, seperti CIA (Amerika Serikat), M16 (Inggris), dan Mossad (Israel) mendedahkan dan menelusuri kepribadian saddam. Karena, novel-novel itu diyakini oleh mereka sebagai novel biografi saddam, dan tokoh-tokoh yang dibangun didalamnya adalah prototipe saddam sendiri.
Pada saat menjadi penguasa Irak, hari-hari itu Saddam tidak melaluinya dengan gersang, dan tanpa semangat apapun. Sebagai pemompa semangatnya dalam memimpin, ia menyejajarkan dirinya dengan raja agung zaman Babilonia, Nabukadnesar, yang pernah menaklukkan Jerusalem. Sehingga, Saddam pernah menyandang gelar “Singa dari Babilon”. Selain itu, Saddam juga berkeinginan mengulangi kehebatan pemimpin akbar Timur Tengah, sang penakluk Jerussalem, Sultan Salah al-Din Yusuf bin Ayyub atau saladin (1137-1193).
Sosok Pemberani
Said K. Aburish, wartawan dan penulis buku Saddam Hussein: The Politics of Revenge, menulis, masa kecil Saddam penuh dengan penderitaan karena keluarganya miskin. Sebagai bocah laki-laki, ia harus membantu mencari nafkah keluarga. Kemiskinan yang melilit menyebabkan ia harus mencuri agar keluarganya bisa tetap makan. Ia mencuri apa saja yang bisa dimakan, seperti telur, ayam, dan barang-barang lainnya. Sebuah potret buram dari Saddam kecil.
Saddam kecil, sering dikeroyoki oleh bocah-bocah asal desa yang sama, entah apa penyebabnya. Untuk melindungi dirinya, Saddam kecil kerap keluar rumah berbekal sebatang besi. Kadang besi itu ia panaskan hingga membara, lalu didepan anak-anak itu besi tersebut ditusukkan pada binatang agar anak-anak segan kepadanya (hal 10).
Dimata teman-temannya, Saddam kecil dikenal sebagai bocah yang suka berkelahi, jagoan, dan suka menggertak yang lemah. Tempaan hidup yang seperti itu, membawa Saddam memimpin sebuah geng jalanan ketika usianya baru 16 tahun. Ia tumbuh sebagai seorang yang penuh keberanian dan tidak mudah digertak.
Watak-watak itulah, ternyata tetap melekat pada dirinya ketika lawan politiknya menggertak. Termasuk Amerika Serikat dan sekutunya ketika memberinya ultimatum selama 48 jam untuk segera meninggalkan Irak. Sampai detik terakhir nafas pun, watak ini tetap dipertahankannnya.
Terakhir, buku ini sangat membantu bagi siapapun yang ingin mengetahui sejarah hidup Saddam. Didalamnya, selain memaparkan kronologi perang Irak, masa-masa kepemimpinan, foto-foto eksklusif detik-detik kematian, dan juga dilengkapi dengan hari-hari penting dalam hidup Saddam. Seperti, tanggal 28 April 1988 Saddam Hussein dianugerahi tanda kehormatan the Order of the People.
Penulis : NS. Mahmud dkk.
Penerbit : An-Naba’
Cetakan : I, Pebruari 2007
Tebal : vi + 105 hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Hikayat pemegang tampuk kekuasaan Irak selama tiga dasawarsa - sejak tahun 1979 hingga 2003 - telah berakhir. “Saddam”, begitulah namanya dipanggil. Dengan nama lengkap: Saddam Hussein al-Majid al-Tikriti, lahir pada tanggal 28 April 1937 di Desa Auja, Tikrit, Irak. Ia pernah mengukir kejayaan gemilang dibumi Irak. Bahkan, ia pula tercatat sebagai tokoh besar dikawasan Timur Tengah dan Teluk. Dengan hiruk pikuk menuju jayanya kekuasaan, banyak pengalaman pahit dan menyakitkan dirasakannya.
Saddam menapaki karir politiknya hingga kepuncak lewat jalan darah. Ia memulai langkahnya dengan kudeta atas Jenderal Qassim (1960), lalu mengobarkan revolusi atas presiden Abdul Rahman (1968), dan melucuti kekuasaan Presiden Ahmad Hassan al-Bakr, sepupunya sendiri, tahun (1979). Sampai akhir hikayat pun, berujung dengan tragis, yaitu dihukum gantung (31 Desember 2006).
Abdul Hussein al-Dujaili, salah seorang saksi mata mengemukakan penyebab Saddam diseret ke tiang gantungan. Adalah karena pembantaian oleh unit Garda Republik yang dikerahkan Dujail atas instruksi Saddam. Lebih 600 orang dari 80 keluarga ditangkap dan dibawa ke penjara rahasia Baghdad, 148 orang diantaranya sampai kini tidak diketahui nasibnya.
Berakhirnya Saddam ditiang gantungan, juga mengakhiri hidupnya diusia 69 tahun, delapan bulan, dua hari, 22 jam setelah dieksekusi. Dan dipenghujung usianya ini, ia sempat melontarkan pernyataan tegar: “Inilah akhir hidupku. Saya mengawali hidupku sebagai pejuang karena itu kematian tidak menakutkanku,” seperti disiarkan jaringan televisi CNN dan BBC.
Bersamaan dengan berakhirnya Saddam, maka dapat ditafsirkan sebagai kemenangan klan Bush; baik Bush senior dan yunior, AS sebagai Negara “polisi dunia” dan sistem kapitalisme (sekutunya). Sebab, melihat proses pengadilan Saddam hingga jatuhnya eksekusi hukum gantung, adalah tak lebih dari buah desain dari Amerika Serikat. Saddam dan Irak digambarkan oleh AS sebagai “Poros Setan” (axis of evil).
Banyak kalangan menolak atas hukuman Saddam tersebut. Bagi Vatikan, kejadian itu merupakan sebuah berita yang tragis. “Itu adalah alasan bagi kita untuk bersedih, meski ini menyangkut orang bersalah dalam sebuah kejahatan kemanusiaan yang serius. Sikap gereja Katolik yang menolak hukuman mati dengan alasan apapun harus ditegaskan lagi disini.” (Jawa Pos, 31/12/06)
Bagaimana pun, penguasa Irak yang fenomenal ini mempunyai segudang kesan disisakan pada kerabat dekat dan rakyatnya. Tak cukup rasanya, ketika kita hanya menyematkan karakter tunggal kepadanya. Banyak versi tentang sejarah hidupnya, mulai gaya memimpin sampai kebiasaannya yang bergelut dalam dunia literasi. Seperti, gaya kepemimpinannya tak sedikit orang (utamanya Amerika) menilai bahwa ia adalah pemimpin otoriter, ganas, dan radikal.
Klaim diatas terkesan paradoks, ketika mendengar penuturan dan kesaksian orang Amerika lainnya yaitu Robert Ellis. Ellis adalah seorang perawat militer Amerika yang bertugas memeriksa kesehatan Saddam dipenjara sejak Januari hingga Agustus 2004. Bagi Ellis, sebagaimana yang ia saksikan dipenjara, Saddam adalah sosok pria yang amat santun, suka bertafakkur, gemar membaca dan menulis (hal 37).
Didunia literasi (tulis-menulis), ia dikenal sebagai novelis. Seperti, empat hasil karya sastranya (novel), Zabibah wa al-Mulk (Zabibah dan Sang Raja) terbit tahun 2001, al-Qal’ah al-Hashinah (Benteng Pertahanan), Rijal wa al-Madinah (Pahlawan dan Kota), dan Akhreej Minha Ya Mal un. Novel terakhirnya ini, berkisah tentang manusia yang tamak, licik, culas, dan haus kekuasaan yang menjadi simbol rapuhnya kehormatan dan harga diri.
Seorang pengamat sastra, mengatakan bahwa novel-novel saddam itu termasuk dalam kategori “sastra perang”. Dilihat dari judul-judulnya pun, novel itu kiranya tak dapat dilepaskan dari senjata, dan alat-alat perang lainnya. Keempat dari karya sastranya, sangat dekat dengan diri empirik penulis. Seperti, latar sejarah hidup, dan kondisi sosial masyarakat Arab. Sehingga, novel-novel itu pun yang memudahkan para agen rahasia, seperti CIA (Amerika Serikat), M16 (Inggris), dan Mossad (Israel) mendedahkan dan menelusuri kepribadian saddam. Karena, novel-novel itu diyakini oleh mereka sebagai novel biografi saddam, dan tokoh-tokoh yang dibangun didalamnya adalah prototipe saddam sendiri.
Pada saat menjadi penguasa Irak, hari-hari itu Saddam tidak melaluinya dengan gersang, dan tanpa semangat apapun. Sebagai pemompa semangatnya dalam memimpin, ia menyejajarkan dirinya dengan raja agung zaman Babilonia, Nabukadnesar, yang pernah menaklukkan Jerusalem. Sehingga, Saddam pernah menyandang gelar “Singa dari Babilon”. Selain itu, Saddam juga berkeinginan mengulangi kehebatan pemimpin akbar Timur Tengah, sang penakluk Jerussalem, Sultan Salah al-Din Yusuf bin Ayyub atau saladin (1137-1193).
Sosok Pemberani
Said K. Aburish, wartawan dan penulis buku Saddam Hussein: The Politics of Revenge, menulis, masa kecil Saddam penuh dengan penderitaan karena keluarganya miskin. Sebagai bocah laki-laki, ia harus membantu mencari nafkah keluarga. Kemiskinan yang melilit menyebabkan ia harus mencuri agar keluarganya bisa tetap makan. Ia mencuri apa saja yang bisa dimakan, seperti telur, ayam, dan barang-barang lainnya. Sebuah potret buram dari Saddam kecil.
Saddam kecil, sering dikeroyoki oleh bocah-bocah asal desa yang sama, entah apa penyebabnya. Untuk melindungi dirinya, Saddam kecil kerap keluar rumah berbekal sebatang besi. Kadang besi itu ia panaskan hingga membara, lalu didepan anak-anak itu besi tersebut ditusukkan pada binatang agar anak-anak segan kepadanya (hal 10).
Dimata teman-temannya, Saddam kecil dikenal sebagai bocah yang suka berkelahi, jagoan, dan suka menggertak yang lemah. Tempaan hidup yang seperti itu, membawa Saddam memimpin sebuah geng jalanan ketika usianya baru 16 tahun. Ia tumbuh sebagai seorang yang penuh keberanian dan tidak mudah digertak.
Watak-watak itulah, ternyata tetap melekat pada dirinya ketika lawan politiknya menggertak. Termasuk Amerika Serikat dan sekutunya ketika memberinya ultimatum selama 48 jam untuk segera meninggalkan Irak. Sampai detik terakhir nafas pun, watak ini tetap dipertahankannnya.
Terakhir, buku ini sangat membantu bagi siapapun yang ingin mengetahui sejarah hidup Saddam. Didalamnya, selain memaparkan kronologi perang Irak, masa-masa kepemimpinan, foto-foto eksklusif detik-detik kematian, dan juga dilengkapi dengan hari-hari penting dalam hidup Saddam. Seperti, tanggal 28 April 1988 Saddam Hussein dianugerahi tanda kehormatan the Order of the People.
09/08/08
Pemantik Kesadaran Revolusioner
Judul Buku : Trilogi Kesadaran (Kajian Budaya Semi, Anatomi Kesadaran, dan Ras Pemberontak)
Penulis : Nurel Javissyarqi
Penerbit : Pustaka Pujangga
Cetakan : I, Oktober 2006
Tebal : xxx + 490 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Berpacu pada aforisma padat Rene Descartes, Cogito Ergo Sum (Aku Berpikir, Maka Aku Ada), ada kemiripan ketika membaca pemikiran Nurel dalam buku ini. Nurel bisa dikatakan sosok muda yang gila akan makna kesadaran. Ia berani menggugat tanpa tedeng aling-aling akan kemapanan dalam dirinya. Pemberontakan jiwanya telah mewarnai kanvas-kanvas kehidupan untuk dituangkan. Seturut Descartes, yaitu sosok filsuf ‘yang menyangsikan segalanya’, “cogito”.
Trilogi kesadaran, merupakan buah refleksi anatomi kesadaran Nurel demi mengembang-terbangkan sayap-sayap pemikirannya. Ujung pemikirannya, dibidikkan pada ranah pembebasan orisinalitas jiwa insan dari ketertindasan atas masa perubahan (pancaroba). Jejak jajakan intelektualnya, diberangkatkan dari asal kesadaran akan eksistensi diri menuju kegelisahan besar atas sejarah zaman. Lahan kesangsiannya adalah kehidupan sehari-hari dalam menggali nilai-nilai.
Berkiblat pada Goenawan Muhamad dipengantar bukunya, Eksotopi, berujar: “Sejak selama hampir separuh abad terakhir; seorang Indonesia adalah seorang yang peka oleh pengalamannya dengan kekuasaan. Pengalaman itu, sesuatu yang traumatis, bermula dari tubuhnya, dari ruang bersama tempat ia tinggal dan bergerak, dari saat pertemuannya dengan orang lain, dari penentuan identitas, dari kehidupannya berbahasa dan menafsirkan, dari kepercayaannya.”
Adalah sosok Nurel, kelahiran tanah Lamongan, 08 Maret 1976, sebagian dari orang Indonesia yang dimaksud Goenawan telah mempertajam pengalaman, dan menisbatkan dirinya untuk jadi wakil suara-suara pedesaan. Lewat karya-karya lainnya, Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga & Kulya Dalam Relung Filsafat, dan juga buku ini, menghantarkan kepada pemahaman, bahwa ada generasi muda yang memiliki kesadaran revolusioner saat ini.
Budaya Semi
Dikajian ini, Nurel memosisikan kesadaran asimetris dengan segala kebijakan-kebijakan Negara yang digulirkan. Ia tak mudah terima kenyataan bulat-bulat, terus digugat hingga temukan kesadaran versinya. Kalau saya maknai, ia seolah mendambakan bangsa mandiri, tanpa intervensi siapapun. “Kenapa kita selalu belajar pada bangsa sudah ompong (yang telah kenyang pengalaman hingga seenak udelnya berbuat onar dimuka bumi). Bukankah bangsa asing sudah cukup mengocok perut otak kita, sebagai bola bekel, adu domba antara ideologi dalam pada bangsa kita sendiri.”
Ditopang “kesadaran murni”, ia sangat berharap bangsa ini percaya diri, dan mampu ciptakan wejangan sendiri walaupun itu bobrok. Bangsa yang tak lagi didekte oleh bangsa asing, ruh pendidikan tak lagi dikonsumsi dari negeri seberang, yang nyata-nyata tak sesuai dengan kepribadian kita.
Renung kesadaran Nurel, sengaja diletupkan meraih kembalinya karakter asli bangsa. Berpayung cinta tanah airnya, “Ingat, kita memilikinya; danau indah, rawa-rawa menawan, lautan megawan, kepulauan, rentet sekalung putri raja. Tapi dengan apa kita suguhkan kepada dunia, jikalau masih selalu pulas tidur mendengkur, mabuk tak bisa berbuat atas kekuasaan anggur asing.”
Budaya semi, dianggap Nurel sebagai penelitian pseudo ilmiah. Ia tuangkan kesadaran bebas ditengah pergulatan bangsa ini. Manusia yang benar-benar sempurna, bebas secara definitif, dan sempurna puas dengan diri yang sebenarnya. Jika penguasa malas adalah kebuntuan, maka perbudakan yang giat bekerja, sebaliknya merupakan sumber dari seluruh kemajuan manusiawi, sosial, dan historis. Sejarah adalah sejarah budak yang bekerja. (Alexander Koje’ve, dikutip Fukuyama).
Anatomi Kesadaran
Dijelaskan Nurel, anatomi kesadaran merupakan gabungan psikologi diri dalam meramu filsafat kalbu keimanan dengan memakai timbangan nalar (hlm 172). Anatomi kesadaran adalah pemaknaan diri didepan cermin. Merefleksi segala yang ada bertopangan kesadaran diri, menelisik, meneliti bahwa perubahan harus terus dirasakan berkesadaran puncak.
Sebagaimana manfaat kesadaran, anatomi kesadaran merupakan esensi paling dalam. Yaitu, pengembangan fitrah insani untuk terus diperjuangkan meski pada ranah mengecewakan. Karakter suatu kesadaran takkan terbentuk jika tak mau merawat (kegelisahan atas keseimbangan integralitas diri sebagai diri bangsa). Garis inilah, yang selalu digebu agar terbentuk wacana baru, yaitu kesadaran diri.
Dicontohkan Nurel: “misalnya kita terkadang terima sepucuk surat dari kawan lama, lalu tahu-tahu dapati kegembiraan, sebab kawan itu tak berhubungan lama, bagi tanda mengingat lewat datangnya surat. Ketiba-tibaan inilah macam rindu tersembuhkan atas gerak luar yang nanti membentuk kesadaran baru, kiranya sapaan kalimat lembut memanggil jiwa atau sebaliknya jika surat yang datang berberita tragedi, kita bisa memberi motivasi agar yang terselubung permasalahan cepat teratasi.”
Anatomi kesadaran dapat mewujud atas kesungguhan cita, menancapkan kepercayaan yang dalam, agar gerak langkah menambah penciptaan atas kerja keras, demi mencapai tujuan yang diharapkan.
Ras Pemberontak
Jiwa pemberontak tak dapat dilepaskan dari kesadaran. Ruh kesadaranlah, menyebabkan seseorang memberontak, menggugat, dan mendekonstruksi. Apapun disekitarnya, perlu diselaraskan dengan pemahaman dan kesadaran. Karena, kesadaran mutlak pemberontak hanya bersemai didalam diri.
Refleksi Nurel: “Kesadaran itu kekuasaan terbangun, berlangsung bagi naluri, berkembang dari sekumpulan pertanyaan dan ruang kosong penentu pijakan. Perbendaharaan dari sembuhan nalar atas daya tarik kontrak sosial dan kontrol tampak dinamai kesadaran kekuasaan.” (hlm 315).
Kekuasaan dan kesadaran adalah cara pandang mendasar, hadir atas penjajalan (percobaan) persepsi hingga menghasilkan premis penentu. Yaitu, dibangun melalui sarana mental evolusi nilai, terus dikembangkan di alam sekitar, dan hidup kita sehari-hari.
Yang terpenting, cara kerja membuang kebiasaan lama, bangun berkekuatan baru, berasal dari tiap diri kita masing-masing. Jiwa pemberontak, yang benar-benar berharap revolusi diri-dari revolusi nilai positif- yang selama ini kita abaikan.
Buku ini lewat refleksi-refleksi kristal sang pengarang, memberikan stimulus hebat menuju manusia berkesadaran. Membacanya, kesadaran mapan kita terkikis, digugat, hingga direstorasi. Menjadi referensi, bagi siapapun yang ingin bergerak sosial (social movement) menuju revolusi sosial.
Penulis : Nurel Javissyarqi
Penerbit : Pustaka Pujangga
Cetakan : I, Oktober 2006
Tebal : xxx + 490 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
Berpacu pada aforisma padat Rene Descartes, Cogito Ergo Sum (Aku Berpikir, Maka Aku Ada), ada kemiripan ketika membaca pemikiran Nurel dalam buku ini. Nurel bisa dikatakan sosok muda yang gila akan makna kesadaran. Ia berani menggugat tanpa tedeng aling-aling akan kemapanan dalam dirinya. Pemberontakan jiwanya telah mewarnai kanvas-kanvas kehidupan untuk dituangkan. Seturut Descartes, yaitu sosok filsuf ‘yang menyangsikan segalanya’, “cogito”.
Trilogi kesadaran, merupakan buah refleksi anatomi kesadaran Nurel demi mengembang-terbangkan sayap-sayap pemikirannya. Ujung pemikirannya, dibidikkan pada ranah pembebasan orisinalitas jiwa insan dari ketertindasan atas masa perubahan (pancaroba). Jejak jajakan intelektualnya, diberangkatkan dari asal kesadaran akan eksistensi diri menuju kegelisahan besar atas sejarah zaman. Lahan kesangsiannya adalah kehidupan sehari-hari dalam menggali nilai-nilai.
Berkiblat pada Goenawan Muhamad dipengantar bukunya, Eksotopi, berujar: “Sejak selama hampir separuh abad terakhir; seorang Indonesia adalah seorang yang peka oleh pengalamannya dengan kekuasaan. Pengalaman itu, sesuatu yang traumatis, bermula dari tubuhnya, dari ruang bersama tempat ia tinggal dan bergerak, dari saat pertemuannya dengan orang lain, dari penentuan identitas, dari kehidupannya berbahasa dan menafsirkan, dari kepercayaannya.”
Adalah sosok Nurel, kelahiran tanah Lamongan, 08 Maret 1976, sebagian dari orang Indonesia yang dimaksud Goenawan telah mempertajam pengalaman, dan menisbatkan dirinya untuk jadi wakil suara-suara pedesaan. Lewat karya-karya lainnya, Ujaran-ujaran Hidup Sang Pujangga & Kulya Dalam Relung Filsafat, dan juga buku ini, menghantarkan kepada pemahaman, bahwa ada generasi muda yang memiliki kesadaran revolusioner saat ini.
Budaya Semi
Dikajian ini, Nurel memosisikan kesadaran asimetris dengan segala kebijakan-kebijakan Negara yang digulirkan. Ia tak mudah terima kenyataan bulat-bulat, terus digugat hingga temukan kesadaran versinya. Kalau saya maknai, ia seolah mendambakan bangsa mandiri, tanpa intervensi siapapun. “Kenapa kita selalu belajar pada bangsa sudah ompong (yang telah kenyang pengalaman hingga seenak udelnya berbuat onar dimuka bumi). Bukankah bangsa asing sudah cukup mengocok perut otak kita, sebagai bola bekel, adu domba antara ideologi dalam pada bangsa kita sendiri.”
Ditopang “kesadaran murni”, ia sangat berharap bangsa ini percaya diri, dan mampu ciptakan wejangan sendiri walaupun itu bobrok. Bangsa yang tak lagi didekte oleh bangsa asing, ruh pendidikan tak lagi dikonsumsi dari negeri seberang, yang nyata-nyata tak sesuai dengan kepribadian kita.
Renung kesadaran Nurel, sengaja diletupkan meraih kembalinya karakter asli bangsa. Berpayung cinta tanah airnya, “Ingat, kita memilikinya; danau indah, rawa-rawa menawan, lautan megawan, kepulauan, rentet sekalung putri raja. Tapi dengan apa kita suguhkan kepada dunia, jikalau masih selalu pulas tidur mendengkur, mabuk tak bisa berbuat atas kekuasaan anggur asing.”
Budaya semi, dianggap Nurel sebagai penelitian pseudo ilmiah. Ia tuangkan kesadaran bebas ditengah pergulatan bangsa ini. Manusia yang benar-benar sempurna, bebas secara definitif, dan sempurna puas dengan diri yang sebenarnya. Jika penguasa malas adalah kebuntuan, maka perbudakan yang giat bekerja, sebaliknya merupakan sumber dari seluruh kemajuan manusiawi, sosial, dan historis. Sejarah adalah sejarah budak yang bekerja. (Alexander Koje’ve, dikutip Fukuyama).
Anatomi Kesadaran
Dijelaskan Nurel, anatomi kesadaran merupakan gabungan psikologi diri dalam meramu filsafat kalbu keimanan dengan memakai timbangan nalar (hlm 172). Anatomi kesadaran adalah pemaknaan diri didepan cermin. Merefleksi segala yang ada bertopangan kesadaran diri, menelisik, meneliti bahwa perubahan harus terus dirasakan berkesadaran puncak.
Sebagaimana manfaat kesadaran, anatomi kesadaran merupakan esensi paling dalam. Yaitu, pengembangan fitrah insani untuk terus diperjuangkan meski pada ranah mengecewakan. Karakter suatu kesadaran takkan terbentuk jika tak mau merawat (kegelisahan atas keseimbangan integralitas diri sebagai diri bangsa). Garis inilah, yang selalu digebu agar terbentuk wacana baru, yaitu kesadaran diri.
Dicontohkan Nurel: “misalnya kita terkadang terima sepucuk surat dari kawan lama, lalu tahu-tahu dapati kegembiraan, sebab kawan itu tak berhubungan lama, bagi tanda mengingat lewat datangnya surat. Ketiba-tibaan inilah macam rindu tersembuhkan atas gerak luar yang nanti membentuk kesadaran baru, kiranya sapaan kalimat lembut memanggil jiwa atau sebaliknya jika surat yang datang berberita tragedi, kita bisa memberi motivasi agar yang terselubung permasalahan cepat teratasi.”
Anatomi kesadaran dapat mewujud atas kesungguhan cita, menancapkan kepercayaan yang dalam, agar gerak langkah menambah penciptaan atas kerja keras, demi mencapai tujuan yang diharapkan.
Ras Pemberontak
Jiwa pemberontak tak dapat dilepaskan dari kesadaran. Ruh kesadaranlah, menyebabkan seseorang memberontak, menggugat, dan mendekonstruksi. Apapun disekitarnya, perlu diselaraskan dengan pemahaman dan kesadaran. Karena, kesadaran mutlak pemberontak hanya bersemai didalam diri.
Refleksi Nurel: “Kesadaran itu kekuasaan terbangun, berlangsung bagi naluri, berkembang dari sekumpulan pertanyaan dan ruang kosong penentu pijakan. Perbendaharaan dari sembuhan nalar atas daya tarik kontrak sosial dan kontrol tampak dinamai kesadaran kekuasaan.” (hlm 315).
Kekuasaan dan kesadaran adalah cara pandang mendasar, hadir atas penjajalan (percobaan) persepsi hingga menghasilkan premis penentu. Yaitu, dibangun melalui sarana mental evolusi nilai, terus dikembangkan di alam sekitar, dan hidup kita sehari-hari.
Yang terpenting, cara kerja membuang kebiasaan lama, bangun berkekuatan baru, berasal dari tiap diri kita masing-masing. Jiwa pemberontak, yang benar-benar berharap revolusi diri-dari revolusi nilai positif- yang selama ini kita abaikan.
Buku ini lewat refleksi-refleksi kristal sang pengarang, memberikan stimulus hebat menuju manusia berkesadaran. Membacanya, kesadaran mapan kita terkikis, digugat, hingga direstorasi. Menjadi referensi, bagi siapapun yang ingin bergerak sosial (social movement) menuju revolusi sosial.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita