Langsung ke konten utama

Alur Hikayat Singa Babilonia

Judul Buku : Detik-detik Kematian Saddam
Penulis : NS. Mahmud dkk.
Penerbit : An-Naba’
Cetakan : I, Pebruari 2007
Tebal : vi + 105 hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*

Hikayat pemegang tampuk kekuasaan Irak selama tiga dasawarsa - sejak tahun 1979 hingga 2003 - telah berakhir. “Saddam”, begitulah namanya dipanggil. Dengan nama lengkap: Saddam Hussein al-Majid al-Tikriti, lahir pada tanggal 28 April 1937 di Desa Auja, Tikrit, Irak. Ia pernah mengukir kejayaan gemilang dibumi Irak. Bahkan, ia pula tercatat sebagai tokoh besar dikawasan Timur Tengah dan Teluk. Dengan hiruk pikuk menuju jayanya kekuasaan, banyak pengalaman pahit dan menyakitkan dirasakannya.

Saddam menapaki karir politiknya hingga kepuncak lewat jalan darah. Ia memulai langkahnya dengan kudeta atas Jenderal Qassim (1960), lalu mengobarkan revolusi atas presiden Abdul Rahman (1968), dan melucuti kekuasaan Presiden Ahmad Hassan al-Bakr, sepupunya sendiri, tahun (1979). Sampai akhir hikayat pun, berujung dengan tragis, yaitu dihukum gantung (31 Desember 2006).

Abdul Hussein al-Dujaili, salah seorang saksi mata mengemukakan penyebab Saddam diseret ke tiang gantungan. Adalah karena pembantaian oleh unit Garda Republik yang dikerahkan Dujail atas instruksi Saddam. Lebih 600 orang dari 80 keluarga ditangkap dan dibawa ke penjara rahasia Baghdad, 148 orang diantaranya sampai kini tidak diketahui nasibnya.

Berakhirnya Saddam ditiang gantungan, juga mengakhiri hidupnya diusia 69 tahun, delapan bulan, dua hari, 22 jam setelah dieksekusi. Dan dipenghujung usianya ini, ia sempat melontarkan pernyataan tegar: “Inilah akhir hidupku. Saya mengawali hidupku sebagai pejuang karena itu kematian tidak menakutkanku,” seperti disiarkan jaringan televisi CNN dan BBC.

Bersamaan dengan berakhirnya Saddam, maka dapat ditafsirkan sebagai kemenangan klan Bush; baik Bush senior dan yunior, AS sebagai Negara “polisi dunia” dan sistem kapitalisme (sekutunya). Sebab, melihat proses pengadilan Saddam hingga jatuhnya eksekusi hukum gantung, adalah tak lebih dari buah desain dari Amerika Serikat. Saddam dan Irak digambarkan oleh AS sebagai “Poros Setan” (axis of evil).

Banyak kalangan menolak atas hukuman Saddam tersebut. Bagi Vatikan, kejadian itu merupakan sebuah berita yang tragis. “Itu adalah alasan bagi kita untuk bersedih, meski ini menyangkut orang bersalah dalam sebuah kejahatan kemanusiaan yang serius. Sikap gereja Katolik yang menolak hukuman mati dengan alasan apapun harus ditegaskan lagi disini.” (Jawa Pos, 31/12/06)

Bagaimana pun, penguasa Irak yang fenomenal ini mempunyai segudang kesan disisakan pada kerabat dekat dan rakyatnya. Tak cukup rasanya, ketika kita hanya menyematkan karakter tunggal kepadanya. Banyak versi tentang sejarah hidupnya, mulai gaya memimpin sampai kebiasaannya yang bergelut dalam dunia literasi. Seperti, gaya kepemimpinannya tak sedikit orang (utamanya Amerika) menilai bahwa ia adalah pemimpin otoriter, ganas, dan radikal.

Klaim diatas terkesan paradoks, ketika mendengar penuturan dan kesaksian orang Amerika lainnya yaitu Robert Ellis. Ellis adalah seorang perawat militer Amerika yang bertugas memeriksa kesehatan Saddam dipenjara sejak Januari hingga Agustus 2004. Bagi Ellis, sebagaimana yang ia saksikan dipenjara, Saddam adalah sosok pria yang amat santun, suka bertafakkur, gemar membaca dan menulis (hal 37).

Didunia literasi (tulis-menulis), ia dikenal sebagai novelis. Seperti, empat hasil karya sastranya (novel), Zabibah wa al-Mulk (Zabibah dan Sang Raja) terbit tahun 2001, al-Qal’ah al-Hashinah (Benteng Pertahanan), Rijal wa al-Madinah (Pahlawan dan Kota), dan Akhreej Minha Ya Mal un. Novel terakhirnya ini, berkisah tentang manusia yang tamak, licik, culas, dan haus kekuasaan yang menjadi simbol rapuhnya kehormatan dan harga diri.

Seorang pengamat sastra, mengatakan bahwa novel-novel saddam itu termasuk dalam kategori “sastra perang”. Dilihat dari judul-judulnya pun, novel itu kiranya tak dapat dilepaskan dari senjata, dan alat-alat perang lainnya. Keempat dari karya sastranya, sangat dekat dengan diri empirik penulis. Seperti, latar sejarah hidup, dan kondisi sosial masyarakat Arab. Sehingga, novel-novel itu pun yang memudahkan para agen rahasia, seperti CIA (Amerika Serikat), M16 (Inggris), dan Mossad (Israel) mendedahkan dan menelusuri kepribadian saddam. Karena, novel-novel itu diyakini oleh mereka sebagai novel biografi saddam, dan tokoh-tokoh yang dibangun didalamnya adalah prototipe saddam sendiri.

Pada saat menjadi penguasa Irak, hari-hari itu Saddam tidak melaluinya dengan gersang, dan tanpa semangat apapun. Sebagai pemompa semangatnya dalam memimpin, ia menyejajarkan dirinya dengan raja agung zaman Babilonia, Nabukadnesar, yang pernah menaklukkan Jerusalem. Sehingga, Saddam pernah menyandang gelar “Singa dari Babilon”. Selain itu, Saddam juga berkeinginan mengulangi kehebatan pemimpin akbar Timur Tengah, sang penakluk Jerussalem, Sultan Salah al-Din Yusuf bin Ayyub atau saladin (1137-1193).

Sosok Pemberani
Said K. Aburish, wartawan dan penulis buku Saddam Hussein: The Politics of Revenge, menulis, masa kecil Saddam penuh dengan penderitaan karena keluarganya miskin. Sebagai bocah laki-laki, ia harus membantu mencari nafkah keluarga. Kemiskinan yang melilit menyebabkan ia harus mencuri agar keluarganya bisa tetap makan. Ia mencuri apa saja yang bisa dimakan, seperti telur, ayam, dan barang-barang lainnya. Sebuah potret buram dari Saddam kecil.

Saddam kecil, sering dikeroyoki oleh bocah-bocah asal desa yang sama, entah apa penyebabnya. Untuk melindungi dirinya, Saddam kecil kerap keluar rumah berbekal sebatang besi. Kadang besi itu ia panaskan hingga membara, lalu didepan anak-anak itu besi tersebut ditusukkan pada binatang agar anak-anak segan kepadanya (hal 10).

Dimata teman-temannya, Saddam kecil dikenal sebagai bocah yang suka berkelahi, jagoan, dan suka menggertak yang lemah. Tempaan hidup yang seperti itu, membawa Saddam memimpin sebuah geng jalanan ketika usianya baru 16 tahun. Ia tumbuh sebagai seorang yang penuh keberanian dan tidak mudah digertak.

Watak-watak itulah, ternyata tetap melekat pada dirinya ketika lawan politiknya menggertak. Termasuk Amerika Serikat dan sekutunya ketika memberinya ultimatum selama 48 jam untuk segera meninggalkan Irak. Sampai detik terakhir nafas pun, watak ini tetap dipertahankannnya.

Terakhir, buku ini sangat membantu bagi siapapun yang ingin mengetahui sejarah hidup Saddam. Didalamnya, selain memaparkan kronologi perang Irak, masa-masa kepemimpinan, foto-foto eksklusif detik-detik kematian, dan juga dilengkapi dengan hari-hari penting dalam hidup Saddam. Seperti, tanggal 28 April 1988 Saddam Hussein dianugerahi tanda kehormatan the Order of the People.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com