http://www.sastra-indonesia.com/
KUBUR PANJANG
Dalam usianya yang ke-700, dia kembali bangkit dari kuburnya. Berjalan ke pantai dan pergi mencari sore. Sambil sesekali mengingati tubuhnya yang limbung. Lewat perseteruan ujung parang. Dan kesetiaan untuk tetap menyimpan rahasia. Yang telah dititipkan guru. Saat seluruh bandar yang dipijak masih seperti lembaran lontar yang kosong. Yang bolong.
Dan ususnya terburai. Limpa dan hatinya yang keluar diseretnya. Lima ekor kera cuma menatap. Rimbun pohon setigi merunduk sesaat dia lewat. Meski langkahnya lebam seperti diarah ketam. Lalu seekor belibis melintas. Di sebelahnya, ada yang menunggang sapu terbang. Perawakannya kabur. Tapi, rasanya, selalu menyebut nama istri sunan yang tak mau dimadu: “Dinda, Dinda!”
Di karang yang licin dia pun bersedekuh. Matanya terpicing. Tapi langit keruh. Apa perseteruan ujung parang yang melimbungkan tubuhnya dulu telah mengusir sore? Ya, dia pun terlentang. Seluruh tubuhnya penat. Dan rahasia guru masih disimpannya. Disimpan di jantung sebelah dalam. Bersebelahan dengan denyut yang tak bisa berhenti: “Tak-tak-tak…”
“Guru, bagaimana rahasia ini dapat aku lepas,” Akh, racaunya pelan. Dan dari sela bakau yang subur, dia pun melihat istri sunan yang tak mau dimadu itu menangis. Menderas tafsir. Yang isinya: “Ketahuilah, ada yang memang tampak telanjang. Ada pula yang membayang. Di antara keduanya, ada yang terus mengapung. Ada yang terus mengepung. Dan memanjang…”
(Gresik, 2007)
PEMBUANGAN
Dia menipuku. Sebab dia tak punya itikad. Hanya mau
membayar dengan janji. Dan karcis kapal muat ke pulau
yang menumbuhkan nasi hijau, marmer dan losmen kuno
dengan gambar punden. Tapi, anehnya, aku mau saja
ditipunya. Barangkali karena bau tubuhnya. Seperti bau tubuh
wanita kuning. Mata sipit. Yang pernah menulis sekian
serdadu bunuh diri. Hanya karena matahari sedikit usil.
Menurunkan hujan. Dan di kapal muat ini, aku teringat
sepatunya. Sepatu yang juga menipuku. Sepatu perak dengan
gandulan potongan kuping. Yang katanya: “Setiap aku
berjalan, kuping inilah yang akan menguping setiap yang
aku sapa: hai!” Dan di kapal muat ini juga, aku
teringat seragamnya. Seragam yang juga menipuku. Seragam
yang bersulam dua mata. Yang satu juling. Satunya
lagi menyala penuh muslihat. Menyergap setiap yang lewat.
Dan sederet miliknya yang lain. Miliknya yang juga
menipuku. Menipu langsung atau tidak. Dengan ini atau itu.
Dan dengan sentuhan atau cengkraman. Yang kerap
menjelma taring yang keling. Tapi, akh, kapal muat terus saja
melaju. Dan dia tetap menipuku. Dan anehnya, lagi-lagi
aku tetap mau ditipunya. Sebab, di luar semuanya, jika kapal
muat ini nanti tiba di pulau, aku pasti tahu tak akan ada
apa-apa. Kecuali sisa mabuk laut dan muntahan yang pahit.
Sedang di pinggiran pulau, aku akan bertemu dengan
kuburan wanita kuning. Wanita kuning yang baunya aku sukai
itu. Wanita kuning yang pernah berbisik padaku: “Ajari
aku untuk memetik kecapi. Tanpa serdadu, matahari, nasi hijau,
marmer dan juga losmen kuno dengan gambar punden,”
Rantai di kakiku pun menggerincing…
(Gresik, 2007)
KOMALASA
Kapal ramping yang selurup dan menyembul. Merapat. Menurunkan
yang lunglai. Yang melambai. Dan yang merasa masih menyimpan
langgam di mulutnya. Langgam dari perangkat bumbung. Seperti
demam atau dengung di surau. Dengung lembut yang mirip degup.
“Dulu, orang-orang usil yang datang. Juga orang-orang putih, coklat
dan ungu,”
Dan gapura pulau. Apa tidak lebih mirip perut yang terbuka?
Perut meski bergigi, tapi siapa pun bisa masuk. Lalu
berdiam. Dan meraba apa yang bisa diraba: ladang, tambak,
warung sampai pasar yang penuh bulu.
“Dulu, orang-orang yang datang itu menjual bawang, kopi, gula
dan juga tali.”
Matahari makin tinggi. Sebuah kamar dari rumah terbuka. Dan
ketika akan mencatat. Melintas kuntul. Melintas juga yang siaga.
Mengusung senapan. Senapan bagi yang menyusui. Yang punya
selempang di perut dan dada. Dan telapak yang berkuku gasal.
“Itu muskil, itu muskil!” begitu dulu orang-orang yang datang menyela.
Tapi, karena kapal ramping telah henti. Kamar telah terisi. Maka,
lebih baik mandi, keramas dan menaburi bedak di tiap jengkal
keringat. Lalu berkeliling. Seperti si bengal yang mencari
layang-layangnya. Yang tersangkut di genting. Genting dari
rumah orang-orang yang datang dulu itu.
Rumah yang ketika di malam tiba merangkak ke pantai. Dua kaki
dan dua tangannya bersisik keras. Seperti menorehi pasir. Lalu
memberi siratan: “Biarlah hanya surau yang tertinggal. Hanya surau
yang mendengung. Dan menyelimuti kekelabuan pulau.”
“Komalasa, kaukah itu yang telah menyalakan unggun? Dan menaburkan
tungku. Menjelma pernik. Menjelma renik. Tepat ketika angkasa mengelupas
engselnya. Dan yang berkuda berkebat seakan satelit?”
(Gresik 2007)
*) Dari kumpulan puisi Mardi Luhung bertitel “BUWUN” diterbitkan PUstaka puJAngga, 2010.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Mardi Luhung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mardi Luhung. Tampilkan semua postingan
30/08/10
05/07/10
Puisi-Puisi Mardi Luhung
http://www.sastra-indonesia.com/
PULAU
Pulau kita tak keliru. Tapi, memang terlalu cantik.
Padahal kita tak butuh kecantikan. Apalagi untuk
sebuah ketenggelaman yang akan tiba. Ketenggelaman
yang seluruh dirinya dibungkus asap dan kabut.
Yang cuma matanya saja menyala. Dan dengusnya
pernah mengisi setiap relung-lubang. Saat kita
yang telanjang mengingati kelalaian yang sering
merangsek. Sambil membidik bagian-tepi-pelipis.
Agar dapat mengusir si pengelabu. Memang pulau
kita tak keliru. Tapi, karena terlalu cantik, maka
banyak yang menyuntingnya. Dan banyak pula yang
akan menukarnya dengan puisi atau kembang.
Yang kelak akan berkhianat, atau menyingkap
pakaian kita di malam yang dingin. Agar kita
mematung di dermaga itu. Sambil menunjuk-nunjuk
jejak pesawat di angkasa yang memberat.
Yang pernah menyelinap di selimut-masa-kanak-kita.
Dan menidurkan kita seperti si waktu-apung.
Si waktu-apung yang selalu menjulurkan tangannya.
Untuk merapikan pulau kita. Pulau kita yang beda.
Memang, pulau kita tak keliru. Dan kita, kadang
ada baiknya membuka seluruh daya-peluk-lekuk. Dan
memahami, jika esok ketenggelaman itu tiba sudah,
tak ada yang boleh menyebut pulau kita sembarangan!
(Gresik, 2007)
KASTOBA
Ketika dia mati kepalanya aku letakkan di selatan.
Dan ketika aku mati kepalaku dia letakkan di utara.
Kami, berdua, adalah pasangan kekasih yang sesekali
waktu mengguriskan titian panjang. Terus sampai
pada mimpi yang merapat di kelokan-gelap-ranjang.
Dan di langit yang sengit, beribu biji api menyiagakan
tubuhnya. Mencoba mengejari kami. Seperti kejaran talkin
yang mujarab. Yang selalu berpendaran di ujung jukung.
Yang mencari pintu pantai. Tempat para-penyair-mabuk
kembali dari dunia yang lain yang kerap menyesatkannya.
Dunia yang pernah kami kunjungi. Dunia setiap yang
dipanggil dengan kegemetaran, selalu leluasa melepaskan
jerohannya. Dan menghantui siapa saja yang melintas
dengan nyawa tinggal seleher. Sambil terus menghafali
letak-liang-gelap yang bertuliskan nama sendiri.
Dan sebagai pasangan kekasih, kami memang mati bersamaan.
Padahal kami tak berjanji. Apalagi memarafkan amanat
di kersik-surat-segel. Kami hanya percaya, sejak lahir:
“Hidup kami memang menyatu,” Yang hanya terpisah
di dua wadag yang saling mengenal dan menyayang.
Seperti matahari dan bulan yang kerap mengintip. Dan
kerap saling mengirim kabar dan muslihat. Sampai
setiap ketakmungkinan yang benderang menetes. Di kedua
mata kami yang jingga. Dan makin menjingga oleh uluran
embun dari ujung saga. Embun yang menyemburi si penjaga.
Dan di hadapanmu, apa yang makin menjingga itu menyepuh.
Menyepuh setiap yang tak lagi kau ingat. Juga setiap
yang tak lagi membuatmu mampu menerakan teka-teki.
Tentang kepala, pasangan kekasih, selatan, utara dan
juga tentang beribu biji api yang menyiagakan tubuhnya.
Beribu biji api yang mencoba mengejari kami itu!
(Gresik, 2007)
KUDUK-KUDUK
Dan memang pantai masih tak bergeming. Tetap rapat pada kekelabuan. Pada setiap yang datang dari yang tak terpikir. Dan angkasa. Dan setiap yang telah merusak ketinggian angkasa, seperti ribuan igauan yang akan turun dan berpesta di sini. Seperti pesta para penerjang yang menyerak. Dengan napas tersenggal. Dengan keringat yang membanjir. Seperti ketika bayi 7 bulan turun ke tanah. Seekor korban dipotong. Dan yang mampu membaca lintasan angin pun menusuk-nusuk jantungnya sendiri: huh!
Ya, mereka memang menjaga bapak di bakau-bakau. Tapi, ibu dan kaumnya mereka jaga dimana? Arena telah digaris. Di sudutnya, sepasang mata yang dipenuhi rasa menyelidik pun telah mendatangkan sekian penghitung. Yang akan mengusir ketidak-beranian yang licin. “Siapa yang lari itu pengecut!” Dan kau, yang barangkali lari, telah kehilangan kaki dan tangan. Hanya lidahmu yang terus menggelinjang. Padahal di depanmu, mereka, si penerjang makin asik dengan lompatan dan ocehannya.
Dan mereka memang menghibur dan menyenangkan benturan. Wujudnya cadas. Liat dan keling. Dan sekian nama yang lolos pun diguritkan dalam-dalam. Sedang yang jatuh duluan dan terjebak, cuma bisa menangis sambil menjabak-jambak rambutnya. Nama mereka tak boleh disebut-sebut. Lihat, lihatlah, lidah mereka jadi tak terkontrol. Apa menggelinding atau digelinding selalu dipaku di tengah asap. Jutaan warna terus menyergap. Dan jutaan yang lain pun menyerbu. Tapi dari persembunyian yang rahasia, ada juga yang menyela: “Selalu saja letusan tak lumrah itu lahir belakangan!”
(Gresik, 2007)
*) Dari kumpulan puisi Mardi Luhung bertitel “BUWUN” diterbitkan PUstaka puJAngga, 2010.
PULAU
Pulau kita tak keliru. Tapi, memang terlalu cantik.
Padahal kita tak butuh kecantikan. Apalagi untuk
sebuah ketenggelaman yang akan tiba. Ketenggelaman
yang seluruh dirinya dibungkus asap dan kabut.
Yang cuma matanya saja menyala. Dan dengusnya
pernah mengisi setiap relung-lubang. Saat kita
yang telanjang mengingati kelalaian yang sering
merangsek. Sambil membidik bagian-tepi-pelipis.
Agar dapat mengusir si pengelabu. Memang pulau
kita tak keliru. Tapi, karena terlalu cantik, maka
banyak yang menyuntingnya. Dan banyak pula yang
akan menukarnya dengan puisi atau kembang.
Yang kelak akan berkhianat, atau menyingkap
pakaian kita di malam yang dingin. Agar kita
mematung di dermaga itu. Sambil menunjuk-nunjuk
jejak pesawat di angkasa yang memberat.
Yang pernah menyelinap di selimut-masa-kanak-kita.
Dan menidurkan kita seperti si waktu-apung.
Si waktu-apung yang selalu menjulurkan tangannya.
Untuk merapikan pulau kita. Pulau kita yang beda.
Memang, pulau kita tak keliru. Dan kita, kadang
ada baiknya membuka seluruh daya-peluk-lekuk. Dan
memahami, jika esok ketenggelaman itu tiba sudah,
tak ada yang boleh menyebut pulau kita sembarangan!
(Gresik, 2007)
KASTOBA
Ketika dia mati kepalanya aku letakkan di selatan.
Dan ketika aku mati kepalaku dia letakkan di utara.
Kami, berdua, adalah pasangan kekasih yang sesekali
waktu mengguriskan titian panjang. Terus sampai
pada mimpi yang merapat di kelokan-gelap-ranjang.
Dan di langit yang sengit, beribu biji api menyiagakan
tubuhnya. Mencoba mengejari kami. Seperti kejaran talkin
yang mujarab. Yang selalu berpendaran di ujung jukung.
Yang mencari pintu pantai. Tempat para-penyair-mabuk
kembali dari dunia yang lain yang kerap menyesatkannya.
Dunia yang pernah kami kunjungi. Dunia setiap yang
dipanggil dengan kegemetaran, selalu leluasa melepaskan
jerohannya. Dan menghantui siapa saja yang melintas
dengan nyawa tinggal seleher. Sambil terus menghafali
letak-liang-gelap yang bertuliskan nama sendiri.
Dan sebagai pasangan kekasih, kami memang mati bersamaan.
Padahal kami tak berjanji. Apalagi memarafkan amanat
di kersik-surat-segel. Kami hanya percaya, sejak lahir:
“Hidup kami memang menyatu,” Yang hanya terpisah
di dua wadag yang saling mengenal dan menyayang.
Seperti matahari dan bulan yang kerap mengintip. Dan
kerap saling mengirim kabar dan muslihat. Sampai
setiap ketakmungkinan yang benderang menetes. Di kedua
mata kami yang jingga. Dan makin menjingga oleh uluran
embun dari ujung saga. Embun yang menyemburi si penjaga.
Dan di hadapanmu, apa yang makin menjingga itu menyepuh.
Menyepuh setiap yang tak lagi kau ingat. Juga setiap
yang tak lagi membuatmu mampu menerakan teka-teki.
Tentang kepala, pasangan kekasih, selatan, utara dan
juga tentang beribu biji api yang menyiagakan tubuhnya.
Beribu biji api yang mencoba mengejari kami itu!
(Gresik, 2007)
KUDUK-KUDUK
Dan memang pantai masih tak bergeming. Tetap rapat pada kekelabuan. Pada setiap yang datang dari yang tak terpikir. Dan angkasa. Dan setiap yang telah merusak ketinggian angkasa, seperti ribuan igauan yang akan turun dan berpesta di sini. Seperti pesta para penerjang yang menyerak. Dengan napas tersenggal. Dengan keringat yang membanjir. Seperti ketika bayi 7 bulan turun ke tanah. Seekor korban dipotong. Dan yang mampu membaca lintasan angin pun menusuk-nusuk jantungnya sendiri: huh!
Ya, mereka memang menjaga bapak di bakau-bakau. Tapi, ibu dan kaumnya mereka jaga dimana? Arena telah digaris. Di sudutnya, sepasang mata yang dipenuhi rasa menyelidik pun telah mendatangkan sekian penghitung. Yang akan mengusir ketidak-beranian yang licin. “Siapa yang lari itu pengecut!” Dan kau, yang barangkali lari, telah kehilangan kaki dan tangan. Hanya lidahmu yang terus menggelinjang. Padahal di depanmu, mereka, si penerjang makin asik dengan lompatan dan ocehannya.
Dan mereka memang menghibur dan menyenangkan benturan. Wujudnya cadas. Liat dan keling. Dan sekian nama yang lolos pun diguritkan dalam-dalam. Sedang yang jatuh duluan dan terjebak, cuma bisa menangis sambil menjabak-jambak rambutnya. Nama mereka tak boleh disebut-sebut. Lihat, lihatlah, lidah mereka jadi tak terkontrol. Apa menggelinding atau digelinding selalu dipaku di tengah asap. Jutaan warna terus menyergap. Dan jutaan yang lain pun menyerbu. Tapi dari persembunyian yang rahasia, ada juga yang menyela: “Selalu saja letusan tak lumrah itu lahir belakangan!”
(Gresik, 2007)
*) Dari kumpulan puisi Mardi Luhung bertitel “BUWUN” diterbitkan PUstaka puJAngga, 2010.
20/11/08
Sajak-Sajak Mardi Luhung
http://www.korantempo.com/
Yang Mendayung
Aku terlalu tua untuk mengejar ke mana arah impianmu kau dayung. Balapan ini harus diakhiri. Panji di pulau-pulau biarlah untukmu. Dan untukku selingkar cambuk yang akan aku cambukkan ke tubuh sendiri. Tubuh yang begitu luka karena terlalu percaya, jika dirimu selalu dekat dengan darah dan nganga.
Di mataku yang rabun, aku melihat kau melambai seperti karang yang menguap. Lalu melebar seperti papan-tarung yang meluas. Apa kau juga akan memenjarakan aku dengan jarak yang tak berdepa ini? Ataukah kau memang cuma ingin menjadikan aku semacam laron yang terbang sendirian di keluasan yang kelam? Yang lebam?
Semua yang aku punya pun seperti patung. Dan juga seperti ombak yang pecah, semburatlah semua yang ada. Dan seperti kepingan perak, semua semburatan itu pun tampak bersinaran. Bersinaran di sepanjang padang laut. Di sepanjang sayap-sayap burung yang bangkit dari mimpi seorang kelasi yang terlalu terkenang.
Pada yang telah melengketi kelambu ranjangnya. Yang membuat setiap kerahasiaannya menyeruak. Seperti seruakan dari kekelabuan yang tak terukur. Tempat aku selalu menanamkan bunga-bunga di dedasaran. Yang bersemi dengan warna-warna tak pernah terpejam. Warna-warna dirimu! Warna-warna yang meluncur dan tenggelam!
Ya, ya, aku terlalu tua untuk meneruskan balapan ini! Dan kini, yang terbaik yang aku pilih adalah meringkuk di kelukaan. Dan sesekali pikiran pun terulur: "Jauh ke ketinggian sana. Jauh ke luas-luas lautan yang baru. Yang tak pernah kau tahu, betapa cambuk akan terus aku cambukkan ke tubuh sendiri. Dan eranganku pun menjelma lorong."
Seperti lorong yang akan mengantar setiap yang aku berikan padamu, untuk senantiasa berkata: "Aku selalu berusaha pada ketak-terdugaan. Dan aku selalu mengajakmu untuk mempercayai tentang kehilangan yang begitu indah. Dan setiap yang tiba dengan pahit garam, kita tatap dengan gumpalan-gumpalan cahaya!"
Aku terlalu tua untuk mengejar ke mana arah impianmu kau dayung!
(Gresik, 2006)
Kepada Cinta
"Jika aku datang, maka aku luka!" Begitu katamu padaku. Dan aku, yang semalaman menunggu di ruangan, seperti tak lelah-lelahnya menguping risik. Ada harap, kau akan mengendap, mengintip dan memasukkan suratmu lewat sela-sela pintu. Surat yang berwarna ungu. Surat yang aromanya seperti keringat para penziarah sehabis memanjati pepohonan dan menuruninya. Hanya untuk selembar daun yang kabarnya "pernah dirajah oleh orang suci yang punya hati dari gundukan sinar yang licin."
Dan di dermaga sana, aku dengar ada yang meributkan pasar yang terbakar. Juga sebuah masjid yang runtuh hanya karena goyah yang menyeberang. Dan juga mayat tujuh potong yang tak diketahui, siapakah dia dan apa pula jenis kelaminnya? Jam di dinding pun terus menggelinding. Lewat jarum pendeknya, aku tahu: "Ternyata tak ada siapa pun yang melukai hatimu. Dan tak ada siapa pun yang meremehkanmu."
"Lalu, mengapa, mengapa, mengapa kau tak datang?" Udara pun terasa tersingkap. Seekor ular mendesis di balik meja. Dan dengan pelan, seperti meloloskan seragamnya, ular itu pun meloloskan kulitnya. Ada lendir, serbuk sisik dan remah-remah darah tertabur. Dan ada juga bayanganku yang tiba-tiba merunduk, mencium bibir ular itu. Seterusnya, sekian racun lidah ular itu pun membekas di mulutku. Seperti sebuah tato yang demikian indah dan menggemaskan.
Dan sejak itu, aku tahu, kau memang tak mau datang. Tak mau menyelipkan surat. Dan tak mau mengendap dan mengintip. Sampai suatu ketika, seperti ular, aku pun meloloskan seragamku, meloloskan kulitku. Dan bibirku yang bertato pun dicium oleh sebentuk bayangan yang muncul dari rengatan tembok: "Aku akan mengganti dia yang tak datang lagi. Dan aku akan selalu menemani umurmu sepanjang-panjangnya," bisik bayangan itu.
"Lalu, kini lupakah aku padamu? Ah, selalu saja, aku merasa selalu ada yang hilang di luaran!"
(Gresik, 2006)
Yang Mendayung
Aku terlalu tua untuk mengejar ke mana arah impianmu kau dayung. Balapan ini harus diakhiri. Panji di pulau-pulau biarlah untukmu. Dan untukku selingkar cambuk yang akan aku cambukkan ke tubuh sendiri. Tubuh yang begitu luka karena terlalu percaya, jika dirimu selalu dekat dengan darah dan nganga.
Di mataku yang rabun, aku melihat kau melambai seperti karang yang menguap. Lalu melebar seperti papan-tarung yang meluas. Apa kau juga akan memenjarakan aku dengan jarak yang tak berdepa ini? Ataukah kau memang cuma ingin menjadikan aku semacam laron yang terbang sendirian di keluasan yang kelam? Yang lebam?
Semua yang aku punya pun seperti patung. Dan juga seperti ombak yang pecah, semburatlah semua yang ada. Dan seperti kepingan perak, semua semburatan itu pun tampak bersinaran. Bersinaran di sepanjang padang laut. Di sepanjang sayap-sayap burung yang bangkit dari mimpi seorang kelasi yang terlalu terkenang.
Pada yang telah melengketi kelambu ranjangnya. Yang membuat setiap kerahasiaannya menyeruak. Seperti seruakan dari kekelabuan yang tak terukur. Tempat aku selalu menanamkan bunga-bunga di dedasaran. Yang bersemi dengan warna-warna tak pernah terpejam. Warna-warna dirimu! Warna-warna yang meluncur dan tenggelam!
Ya, ya, aku terlalu tua untuk meneruskan balapan ini! Dan kini, yang terbaik yang aku pilih adalah meringkuk di kelukaan. Dan sesekali pikiran pun terulur: "Jauh ke ketinggian sana. Jauh ke luas-luas lautan yang baru. Yang tak pernah kau tahu, betapa cambuk akan terus aku cambukkan ke tubuh sendiri. Dan eranganku pun menjelma lorong."
Seperti lorong yang akan mengantar setiap yang aku berikan padamu, untuk senantiasa berkata: "Aku selalu berusaha pada ketak-terdugaan. Dan aku selalu mengajakmu untuk mempercayai tentang kehilangan yang begitu indah. Dan setiap yang tiba dengan pahit garam, kita tatap dengan gumpalan-gumpalan cahaya!"
Aku terlalu tua untuk mengejar ke mana arah impianmu kau dayung!
(Gresik, 2006)
Kepada Cinta
"Jika aku datang, maka aku luka!" Begitu katamu padaku. Dan aku, yang semalaman menunggu di ruangan, seperti tak lelah-lelahnya menguping risik. Ada harap, kau akan mengendap, mengintip dan memasukkan suratmu lewat sela-sela pintu. Surat yang berwarna ungu. Surat yang aromanya seperti keringat para penziarah sehabis memanjati pepohonan dan menuruninya. Hanya untuk selembar daun yang kabarnya "pernah dirajah oleh orang suci yang punya hati dari gundukan sinar yang licin."
Dan di dermaga sana, aku dengar ada yang meributkan pasar yang terbakar. Juga sebuah masjid yang runtuh hanya karena goyah yang menyeberang. Dan juga mayat tujuh potong yang tak diketahui, siapakah dia dan apa pula jenis kelaminnya? Jam di dinding pun terus menggelinding. Lewat jarum pendeknya, aku tahu: "Ternyata tak ada siapa pun yang melukai hatimu. Dan tak ada siapa pun yang meremehkanmu."
"Lalu, mengapa, mengapa, mengapa kau tak datang?" Udara pun terasa tersingkap. Seekor ular mendesis di balik meja. Dan dengan pelan, seperti meloloskan seragamnya, ular itu pun meloloskan kulitnya. Ada lendir, serbuk sisik dan remah-remah darah tertabur. Dan ada juga bayanganku yang tiba-tiba merunduk, mencium bibir ular itu. Seterusnya, sekian racun lidah ular itu pun membekas di mulutku. Seperti sebuah tato yang demikian indah dan menggemaskan.
Dan sejak itu, aku tahu, kau memang tak mau datang. Tak mau menyelipkan surat. Dan tak mau mengendap dan mengintip. Sampai suatu ketika, seperti ular, aku pun meloloskan seragamku, meloloskan kulitku. Dan bibirku yang bertato pun dicium oleh sebentuk bayangan yang muncul dari rengatan tembok: "Aku akan mengganti dia yang tak datang lagi. Dan aku akan selalu menemani umurmu sepanjang-panjangnya," bisik bayangan itu.
"Lalu, kini lupakah aku padamu? Ah, selalu saja, aku merasa selalu ada yang hilang di luaran!"
(Gresik, 2006)
30/10/08
Tepi
Mardi Luhung*
Aku berada di lautan puisiku. Lautan itu tak bertepi. Aku ingin
menangkap ikan tambun kuning. Tapi, aku malah dapat yang hitam:
“Ikan tambun hitam!" Dari ikan tambun hitam aku menyuling cat.
Cat yang berliter-liter. Aku ingin mengecat semuanya. Agar
menjadi hitam seperti dekor tonil. Tonil tentang bapak
yang selalu berganti kulit.
Di dalam tonil aku mengelem rambutku. Memasang sayap dan
tengkurap di atas meja. Di depanku telah masuk tokoh. Tokoh garang
bunting 9 bulan. Kata tokoh itu: “Mainkan aku dengan yang selalu
merapikan celana dalamnya. Yang persis di depannya ada
gambar mawar disilang tengah!"
Aku buru-buru melengos. Lalu aku memberinya tikus:
“Jangan masukkan tikus ini ke pikiranmu!" sergahku. Terus
terbang ke bulan. Terbang di atas kepala para pengendus yang
berseloroh aku telah menemukan! Di bulan aku merasa rindu rumput.
Tapi rumput telah menjelma jumput. Aku ingin digambar.
Tapi siapa yang akan menggambar.
Dan aku juga merasa rindu sepedaku. Rindu pada bannya.
Rindu pada tanah yang menempel di bannya. Tanah yang telah
menumbuhkan mambang dan yang rajin menggali kuburan.
“Tapi, setiap ada yang dikubur, mengapa wajahku yang selalu tampak?"
Aku pun berbicara pada diriku sendiri. Dan aku teringat pada
sahabatku yang telah menjual ginjalnya.
Sahabatku yang pusing ketika mendengar pidato begini:
“Aduh, jangan ribut, ini negara, bukan pasar!" Dan kata sahabatku itu:
“Om, Om, itu tadi dengus kerbau kan?" Aku pun jadi tersenyum.
Senyumku demikian datar. Sedatar kaki ibu yang melayang. Kaki ibu
yang keluar dari malam. Kaki ibu yang cemerlang. Dan kaki ibu yang
mengajari aku agar berdandan:
“Oh, tanyakan apa aku mau ke pesta?" Sayangnya, di bulan tak ada
pesta. Sedangkan, di bumi, lihatlah, lautan puisiku semakin tak bertepi.
(Gresik, 2008)
*)Salah satu buku puisinya berjudul Ciuman Bibirku yang Kelabu (2007).
Aku berada di lautan puisiku. Lautan itu tak bertepi. Aku ingin
menangkap ikan tambun kuning. Tapi, aku malah dapat yang hitam:
“Ikan tambun hitam!" Dari ikan tambun hitam aku menyuling cat.
Cat yang berliter-liter. Aku ingin mengecat semuanya. Agar
menjadi hitam seperti dekor tonil. Tonil tentang bapak
yang selalu berganti kulit.
Di dalam tonil aku mengelem rambutku. Memasang sayap dan
tengkurap di atas meja. Di depanku telah masuk tokoh. Tokoh garang
bunting 9 bulan. Kata tokoh itu: “Mainkan aku dengan yang selalu
merapikan celana dalamnya. Yang persis di depannya ada
gambar mawar disilang tengah!"
Aku buru-buru melengos. Lalu aku memberinya tikus:
“Jangan masukkan tikus ini ke pikiranmu!" sergahku. Terus
terbang ke bulan. Terbang di atas kepala para pengendus yang
berseloroh aku telah menemukan! Di bulan aku merasa rindu rumput.
Tapi rumput telah menjelma jumput. Aku ingin digambar.
Tapi siapa yang akan menggambar.
Dan aku juga merasa rindu sepedaku. Rindu pada bannya.
Rindu pada tanah yang menempel di bannya. Tanah yang telah
menumbuhkan mambang dan yang rajin menggali kuburan.
“Tapi, setiap ada yang dikubur, mengapa wajahku yang selalu tampak?"
Aku pun berbicara pada diriku sendiri. Dan aku teringat pada
sahabatku yang telah menjual ginjalnya.
Sahabatku yang pusing ketika mendengar pidato begini:
“Aduh, jangan ribut, ini negara, bukan pasar!" Dan kata sahabatku itu:
“Om, Om, itu tadi dengus kerbau kan?" Aku pun jadi tersenyum.
Senyumku demikian datar. Sedatar kaki ibu yang melayang. Kaki ibu
yang keluar dari malam. Kaki ibu yang cemerlang. Dan kaki ibu yang
mengajari aku agar berdandan:
“Oh, tanyakan apa aku mau ke pesta?" Sayangnya, di bulan tak ada
pesta. Sedangkan, di bumi, lihatlah, lautan puisiku semakin tak bertepi.
(Gresik, 2008)
*)Salah satu buku puisinya berjudul Ciuman Bibirku yang Kelabu (2007).
24/08/08
Sajak Mardi Luhung
TERBELAH SUDAH JANTUNGKU
Aku diletakkan di antara dagingmu
yang digarami persetujuan dan peseturuan
akan mengambang di antara kejejakkanmu
sambil menjilati garammu itu
lewat bidang dadamu
aku melihat hari-hari jadi seperti babi
mengendus-ngendus di gigir pedang tajam sambil
menyerahkan tubuhnya berdikit-dikit dibelah
dan luka-luka darah pun meleler
darahmu ataukah sekalian darahku?
dan itu bercampur seperti adonan yang diubek
dalam piala kristal milik para sakit
yang sekaligus penguasa dan pemegang tali
para akrobat yang di malam-malam sedap
memutar bulan seperti memutar pantat
pantatku yang keras dan kering ini
aku memang milikmu dan kau milikkukah?
aku memang pasir, laut, siwalan, ceruk, ikan?
kau apakah juga memang nelayan, jaring, perahu, kemudi?
sang pasangan abadi yang tak pernah undur
melintasi apa yang telah ditudingkan
Tao dalam jalan, dalam nama, dalam sakti
Kresna dalam gita kewajiban dan pengorbanan
Sufi dalam dzikir yang menelan dan memuntahkan matahari itu
“Sang Prosa Abadi!” Ya, itulah Sang Prosa Abadi! yang telah digelapkan para kelasi lewat lambung kapal Columbus dari perburuan sampai benua baru, dari benua baru sampai kamar
sendiri, dan dari kamar sendiri sampai kegemetaranmu
yang kusentuh ketika kita saling berdekapan,
berciuman lalu bersetubuh dan berak di lantai-lantai
membuat balairung jadi kakus panjang
dan menyeret Ken Arok tegak ke depan
si penjaga taman yang di matanya masih menyimpan
bagaimana fantastisnya merkuri di balik kain sang permaisuri
apakah itu memang cinta ataukah teror?
apakah itu memang begitu, kekasihku?
akh, kini tak ada lain
kecuali kita mesti menelusup ke semak-semak
seperti ular itu, seperti kalajengking itu
lantaran telah terhunus kehendak kejam
kehendak saling culik dan curiga, saling gigit dan terkam
sampai areal pun memusar pada ketiak Kurusetra, Singosari,
Bosnia, Tembok Cina, lalu terselip
pada ranjang si Salman Rushdie
yang menghitung waktu dengan keringat dingin
kegembiraan dengan dinding pengap
dan membuat kelepak jadi daging kurus
yang tulangnya saling menonjol dan rapuh
“Pletak!”: Patah! Ya, patahlah tulang-tulang kita
berserakan seperti jajaran kepulauan di khatulistiwa ini
jajaran mahkota yang di tajuknya sesak akan
suara yang mengerang-ngerang
yang timbul-tenggelam penuh daya, penuh tenaga
pukul-memukul tanpa henti, tanpa lelah
saling pandang-memandang dengan mengusung
nama, tubuh, alamat, kartu, catatan, surat jalan
sampai pada yang dekat-dekat dengan batin yang tersisa
yang melamar ibu kandung dan menikam dada ayah yang berujud anjing, lalu menendang sampai jadi gunung
lantaran tak bisa meneropong itu semua
jika begini,
terbelah, ya, terbelah sudah jantungku dalam kegemetaranmu
itu, kekasihku……
Gresik, 1995
Aku diletakkan di antara dagingmu
yang digarami persetujuan dan peseturuan
akan mengambang di antara kejejakkanmu
sambil menjilati garammu itu
lewat bidang dadamu
aku melihat hari-hari jadi seperti babi
mengendus-ngendus di gigir pedang tajam sambil
menyerahkan tubuhnya berdikit-dikit dibelah
dan luka-luka darah pun meleler
darahmu ataukah sekalian darahku?
dan itu bercampur seperti adonan yang diubek
dalam piala kristal milik para sakit
yang sekaligus penguasa dan pemegang tali
para akrobat yang di malam-malam sedap
memutar bulan seperti memutar pantat
pantatku yang keras dan kering ini
aku memang milikmu dan kau milikkukah?
aku memang pasir, laut, siwalan, ceruk, ikan?
kau apakah juga memang nelayan, jaring, perahu, kemudi?
sang pasangan abadi yang tak pernah undur
melintasi apa yang telah ditudingkan
Tao dalam jalan, dalam nama, dalam sakti
Kresna dalam gita kewajiban dan pengorbanan
Sufi dalam dzikir yang menelan dan memuntahkan matahari itu
“Sang Prosa Abadi!” Ya, itulah Sang Prosa Abadi! yang telah digelapkan para kelasi lewat lambung kapal Columbus dari perburuan sampai benua baru, dari benua baru sampai kamar
sendiri, dan dari kamar sendiri sampai kegemetaranmu
yang kusentuh ketika kita saling berdekapan,
berciuman lalu bersetubuh dan berak di lantai-lantai
membuat balairung jadi kakus panjang
dan menyeret Ken Arok tegak ke depan
si penjaga taman yang di matanya masih menyimpan
bagaimana fantastisnya merkuri di balik kain sang permaisuri
apakah itu memang cinta ataukah teror?
apakah itu memang begitu, kekasihku?
akh, kini tak ada lain
kecuali kita mesti menelusup ke semak-semak
seperti ular itu, seperti kalajengking itu
lantaran telah terhunus kehendak kejam
kehendak saling culik dan curiga, saling gigit dan terkam
sampai areal pun memusar pada ketiak Kurusetra, Singosari,
Bosnia, Tembok Cina, lalu terselip
pada ranjang si Salman Rushdie
yang menghitung waktu dengan keringat dingin
kegembiraan dengan dinding pengap
dan membuat kelepak jadi daging kurus
yang tulangnya saling menonjol dan rapuh
“Pletak!”: Patah! Ya, patahlah tulang-tulang kita
berserakan seperti jajaran kepulauan di khatulistiwa ini
jajaran mahkota yang di tajuknya sesak akan
suara yang mengerang-ngerang
yang timbul-tenggelam penuh daya, penuh tenaga
pukul-memukul tanpa henti, tanpa lelah
saling pandang-memandang dengan mengusung
nama, tubuh, alamat, kartu, catatan, surat jalan
sampai pada yang dekat-dekat dengan batin yang tersisa
yang melamar ibu kandung dan menikam dada ayah yang berujud anjing, lalu menendang sampai jadi gunung
lantaran tak bisa meneropong itu semua
jika begini,
terbelah, ya, terbelah sudah jantungku dalam kegemetaranmu
itu, kekasihku……
Gresik, 1995
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita