Theresia Purbandini
Jurnal Nasional, 14 Sep 2008
ABDUL Hadi WM pernah melahirkan kumpulan puisi yang begitu pekat diwarnai pemikiran tasawuf Islam. Kumpulan puisi tersebut, Meditasi, memenangkan hadiah buku puisi terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1978. Lalu, bukunya yang juga banyak mendapat perhatian, Hamzah Fansuri, Penyair Sufi Aceh, melukiskan kecenderungan pemikiran sufistiknya.
Menurut penyair Yonathan Rahardjo, gaya sufistik ini juga disosialisasikan oleh Abdul Hadi WM yang mengembangkan pengaruhnya pada tradisi penulisan puisi 1970-1980an. Ia bersama Kuntowijoyo dengan sastra profetik dan sastra transenden, Emha Ainun Nadjib dengan estetika kaffah, Danarto dengan cerpen-cerpen Islam kejawen, Darmanto Jatman dan Linus Suryadi AG dengan estetika Jawa, serta Wisran Hadi dengan estetika Minang, Taufiq Ismail dengan sajak-sajak sosial-religiusnya — sama-sama mengembangkan estetika sastra yang kemudian dikenal sebagai sastra sufistik.
Pendapat Yonathan ini didukung oleh penyair Akhmad Sekhu, yang menyebutkan gerakan tersebut sebagai arus utama dari gerakan “kembali ke akar”. Kembali ke sumber. Di antaranya: menjadikan nilai-nilai Islam dan sufisme sebagai sumber ide dalam bersastra. “Jadi puisi sufistik di Indonesia tidak lahir begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh sastra klasik Timur Tengah. Sebuah tempat yang disebut-sebut juga sebagai awal atau cikal-bakal peradaban dunia,“ kata Akhmad.
Begotulah mata rantai yang panjang dari tradisi sastra sufistik pun bisa ditarik dari Ibnu Arabi, Hafiz, Jalaluddin Rumi, Al-Hallaj, yang di Indonesia mata rantai pun sudah mentradisi sejak Hamzah Fansyuri dengan Syair Perahu, lalu Amir Hamzah dengan sajak-sajak romantik-religiusnya. Barulah pada 1970-an, Abdul Hadi WM menghidupkannya kembali.
Estetika Timur
Sosok penting Abdul Hadi WM dianggap Yonathan tak hanya popularitas kepenyairannya, tapi juga dibekali paradigma sastra sufistik yang dikembangkannya. “Jelas sebetulnya dialah yang menyebarkan konsep ini, selain sebagai seniman dia juga ilmuwan sastra,” kata Yonathan.
Sejak 1970-an kecenderungan estetika Timur menguat dalam sastra Indonesia kontemporer, melalui puitika sufistik yang dikembangkan AbdulHadi WM. “Abdul Hadi WM ikut menafasi kebudayaan kita dengan puitika sufistik dan prinsip-prinsip seni Islami, yang ikut mendorong masyarakat ke arah pencerahan sosial dan spiritual. Pemikiran sufistik dianggap sebagai penyeimbang pengaruh budaya Barat yang hedonis dan sekular,“ kata Yonathan lagi.
Dalam salah satu puisinya, Tuhan Kita Begitu Dekat, diakui Yonathan, Abdul Hadi rupanya dengan tandas menuliskan tentang kemanunggalan atau menyatunya dirinya dengan Tuhan, seperti kemanunggalan api dengan panasnya. Dengan puisi itu Abdul Hadi ikut mengkristalkan konsep kemanunggalan makhluk dengan Tuhan yang dalam mistik Jawa disebut manunggaling kawulo-gusti dan dalam ilmu tasawuf disebut tasawuf union mistica atau wahdatul wujud.
Abdul Hadi menyediakan diri sebagai nyala, cahaya, penyuluh, penerang jalan, jika lampu Tuhan (agama) padam. Hal ini tampak sebagai komitmen Abdul Hadi dalam bersastra, seperti tersirat pada sajak-sajaknya yang lain, bahwa bersastra, menulis puisi, adalah bagian dari upaya untuk mencerahkan rohani masyarakat (pembaca).
Disisi lain, Akhmad Sekhu juga menambahkan bahwa puisi Abdul Hadi menyiratkan makna yang dalam di balik kesederhanaan kata-katanya. Sebuah karya yang populis, dikaryakan dengan totalitas melalui sumber-sumber agama dengan menyiratkan ayat-ayat agamanya serta bersentuhan dengan alam, karena alam merupakan ayat yang tercipta dari Tuhan. Yang tersirat dan yang tercipta disandingkan di dalam karya-karyanya yang bersifat pribadi, langsung menuju sang Penciptanya.
Mempengaruhi penyair 1980-an
Selanjutnya, gerakan sastra sufistik yang didukung oleh Abdul Hadi WM ini ternyata cukup “mempengaruhi” beberapa penyair 1980-an. Di antaranya sebutlah Ahmad Nurullah, Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Noor, Achmad Syubbanuddin Alwy, Mathori A. Elwa, Soni Farid Maulana, dll.
“Mereka dianggap memilih puitika sufistik sebagai landasan kreatifnya, dengan intensitas penulisan puisi yang juga bertema sufistik itu. Tapi, jelas di sini bisa terjadi politik sastra. Kecuali dengan jujur dan mau mempelajari begitu banyak karya lain yang bermunculan, kita akan menemukan karya puisi sufistik sejati,” ungkap Yonathan.
Yonathan mengingatkan, “dalam berkarya, tidak usahlah terbebani tema maupun kaidah yang akan membelenggu. Pelajari semua, namun dalam mencipta biarlah muncul secara alami. Sufistik adalah hubungan dengan Tuhan, jujurlah dengan hubungan itu dan jujurlah dalam menulis. Tak peduli apa pun label yang bakal disandang, sebab yang penting semua karya sebetulnya adalah menuju karya sufistik, meski bukan sufistik gaya Abdul Hadi WM.”
Sementara, perkembangan tema sufistik di kalangan penyair sekarang menurut Akhmad Sekhu, masih tetap ada. Tentu dalam rangka untuk mengenal dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Di tengah gelombang kehidupan hedonis yang serba materialistis ini, wajar tetap ada penyair yang agamis. “Hal ini patut kita syukuri, karena ada yang masih berpegang teguh pada norma agama. Ini berkaitan dengan keyakinan. Fenomena ini sungguh dahsyat.”
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/oase-budaya-manunggaling-kawulo-gusti.html
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Theresia Purbandini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Theresia Purbandini. Tampilkan semua postingan
11/10/11
01/02/09
Memelihara Identitas Daerah
Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/
Ketika Bahasa Indonesia dijunjung tinggi, bahasa daerah seakan terdesak oleh bayang-bayang Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Namun meski tak banyak, dengan bermunculannya sastrawan-sastrawan daerah yang masih berkarya hingga kini, menjadi bukti kekuatan kesusastraan etnik dari posisinya yang marjinal.
Di lihat dari peta sastra Indonesia, sastra Sunda diakui dosen dan kritikus sastra Maman S Mahayana, justru berkembang sebelum kelahiran Balai Pustaka. Bahkan novel pertama yang terbit melalui Balai Pustaka, merupakan novel karya sastrawan Sunda bernama DK Ardiwinata, berjudul Baruang Ka Nu Ngarora, yang menceritakan tentang konflik birokrat pemerintahan dengan ningrat pada 1914. Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang dianggap novel berbahasa Melayu pertama yang diterbitkan Balai Pustaka, baru terbit pada 1920.
Selama enam tahun (1911-1916), Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat) yang didirikan pada 1908 menerima 598 naskah berbahasa Jawa, 204 berbahasa Sunda, dan 96 berbahasa Melayu. Gencarnya para pengarang mengirimkan naskah ke lembaga itu memaksa Pemerintah Belanda mengganti nama menjadi Kantoor voor de Volkslectuur (Kantor Bacaan Rakyat) yang kemudian lebih dikenal dengan nama Balai Pustaka (1917).
Diceritakan lebih lanjut oleh Maman, meski telah berubah nama menjadi Balai Pustaka dan membakukan bahasa Melayu, penggiat sastrawan Sunda tak kehilangan semangat untuk tetap meluapkan ekspresinya melalui penerbit-penerbit kecil.
Terbitnya beberapa surat kabar dan majalah berbahasa Sunda, seperti mingguan Sora Pasoendan (1914-1918), bulanan Papaes Nonoman (1914-1919), surat kabar Sipatahoenan (1923-1971), mingguan Sora Soenda (1923), Parahiangan (1929-1942), Sora Ra’jat Merdeka (1931-1932) yang memuat karya sastra Sunda, termasuk cerita bersambung (feuilleton) menunjukkan bahwa sastra Sunda telah berkembang baik. Bahkan diimbuhkan Maman, mengingat pentingnya peranan mingguan Parahiangan dalam melahirkan sastrawan Sunda, MA Salmoen menyebutkan adanya Angkatan Parahiangan dalam kesusastraan Sunda.
Sastra Sunda dan Balai Pustaka
Maman juga membandingkan pada rentang waktu 1914 hingga 1942, Balai Pustaka hanya menerbitkan sekitar 50-an novel Melayu, sedangkan novel Sunda yang terbit dalam kurun waktu yang sama hingga mencapai 40-an buah. “Ini berarti secara kuantitas penerbitan novel berbahasa Sunda hampir mendekati penerbitan novel Balai Pustaka,” ungkap pengamat yang kini tercatat sebagai kandidat doktor di Universitas Kebangsaan Malaysia itu.
Setelah merdeka sastra Sunda justru makin terdegradasi di bawah bayang-bayang bahasa Indonesia. Dinilai oleh Maman secara kualitatif, karya sastra anak Pasundan tidak kalah dengan kesusastraan yang ditulis dalam bentuk bahasa Indonesia, bahkan sastra etnik jauh lebih kuat nuansa maknanya. “Dalam bahasa Sunda banyak artikulasi yang tak bisa demikian sama maknanya bilamana diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti ‘brebet’ (yang mendekati arti ‘segera’) menjadi kurang mengena maknanya bila sudah di bahasa Indonesiakan,” ujar lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) tahun 1986 ini.
Kekuatan khas sastra Sunda juga dilihat oleh Wayan Sunarta, sastrawan asal Bali, terletak pada bahasa yang dengan leluasa diekspresikan tanpa memperhitungkan tata krama, sehingga rasanya lebih beragam dengan tidak hanya mengandalkan isinya. Hal ini disepakati Maman yang merasakan kekuatan rasa bahasa yang melekat lebih sempurna dengan pengecapan yang tak memiliki makna leksikal, namun tetap memberi bobot semantik.
Meski berjarak dalam keseharian, diibaratkan oleh Maman, ada kalanya kebudayaan etnik memiliki kelebihan ekspresif tertentu dibandingkan sastra berbahasa Indonesia. Kemunculan majalah Mangle yang hingga kini masih mempertahankan eksistensinya, dianggap Maman sebagai bentuk langsung sumbangan masyarakat Pasundan.
Maman juga mengatakan sastrawan Sunda tak hanya piawai mengangkat tema seputar dunia gaib. Novelis Achmad Bakri yang banyak menulis tentang kehidupan sosial juga disebut sebagai Bapak Realis Sunda, juga ada Tatang Sumarsono yang pernah mengedepankan tema reformasi yang terus mengikuti perkembangan zaman.
Rancage Memotivasi
Selain itu, penghargaan Rancage yang diprakarsai Ajip Rosidi memberikan motivasi bagi regenerasi sastrawan-sastrawan daerah yang dinilai Maman berpotensi seperti Tatang Sumarsono, Lilies Rosana, Joseph Iskandar, Ettie RS dalam membangun muatan ekpresinya secara etnik.
Yang masih jadi persoalan adalah: minimnya perhatian pemerintah terhadap dunia sastra umumnya, seakan makin menghimpit dunia sastra daerah yang memang terlanjur diposisikan sekunder. Apresiasi terhadap sastra etnik yang makin memprihatinkan dari generasi muda, mengancam punahnya salah satu identitas daerah tersebut.
Sastra Sunda sebagai salah satu sastra etnik dari sekian banyak sastra daerah warisan leluhur di Indonesia, seharusnya menjadi perhatian pemerintah dalam kaitan pembinaan dan pengembangan sastra sebagai badan pembentuk atau pemelihara nilai-nilai kebudayaan di masyarakat.
Hal ini juga diutarakan Wayan yang merasakan kurang maksimal perhatian pemerintah provinsi Bali dalam memfasilitasi sastrawan Bali yang kebanyakan menerbitkan buku melalui penerbit independen. “Pemerintah sebenarnya cukup membantu melalui proyek-proyek penerbitan seperti yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Bali. Namun kemasannya atau perwajahannya sangat jauh dari menarik, masih kaku dan kurang greget. Hal ini pula yang jadi sebab buku-buku tersebut kurang menarik perhatian khalayak luas.”
Menurut Maman, pemerintah layak memfasilitasi masyarakat agar tetap membaca karya sastra. “Sastra daerah khususnya, berisikan muatan lokal, yang justru bisa disosialisasikan lagi lewat penerapan kurikulum pendidikan di sekolah maupun di perguruan tinggi. Sastra menjadi aplikatif dan apresiatif.”
Pada prakteknya, perjalanan khasanah kesusastraan Sunda khususnya kini mengalami pengikisan. Bahkan diungkapkan Maman, menjadi persoalan juga di mana pelajaran bahasa Sunda justru hanya pada penerapan linguistik yang tidak memberi pencerahan nilai kehidupan terhadap masyarakat lokalnya. Ini hanya dapat diberikan oleh sastra. Karena itu dibutuhkan peran pemerintah untuk mendistribusikan karya-karya sastra daerah kepada pelajar, mahasiswa, maupun penggiat dan peminat sastra daerah melalui penerbit-penerbit yang lebih besar.
http://jurnalnasional.com/
Ketika Bahasa Indonesia dijunjung tinggi, bahasa daerah seakan terdesak oleh bayang-bayang Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Namun meski tak banyak, dengan bermunculannya sastrawan-sastrawan daerah yang masih berkarya hingga kini, menjadi bukti kekuatan kesusastraan etnik dari posisinya yang marjinal.
Di lihat dari peta sastra Indonesia, sastra Sunda diakui dosen dan kritikus sastra Maman S Mahayana, justru berkembang sebelum kelahiran Balai Pustaka. Bahkan novel pertama yang terbit melalui Balai Pustaka, merupakan novel karya sastrawan Sunda bernama DK Ardiwinata, berjudul Baruang Ka Nu Ngarora, yang menceritakan tentang konflik birokrat pemerintahan dengan ningrat pada 1914. Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang dianggap novel berbahasa Melayu pertama yang diterbitkan Balai Pustaka, baru terbit pada 1920.
Selama enam tahun (1911-1916), Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat) yang didirikan pada 1908 menerima 598 naskah berbahasa Jawa, 204 berbahasa Sunda, dan 96 berbahasa Melayu. Gencarnya para pengarang mengirimkan naskah ke lembaga itu memaksa Pemerintah Belanda mengganti nama menjadi Kantoor voor de Volkslectuur (Kantor Bacaan Rakyat) yang kemudian lebih dikenal dengan nama Balai Pustaka (1917).
Diceritakan lebih lanjut oleh Maman, meski telah berubah nama menjadi Balai Pustaka dan membakukan bahasa Melayu, penggiat sastrawan Sunda tak kehilangan semangat untuk tetap meluapkan ekspresinya melalui penerbit-penerbit kecil.
Terbitnya beberapa surat kabar dan majalah berbahasa Sunda, seperti mingguan Sora Pasoendan (1914-1918), bulanan Papaes Nonoman (1914-1919), surat kabar Sipatahoenan (1923-1971), mingguan Sora Soenda (1923), Parahiangan (1929-1942), Sora Ra’jat Merdeka (1931-1932) yang memuat karya sastra Sunda, termasuk cerita bersambung (feuilleton) menunjukkan bahwa sastra Sunda telah berkembang baik. Bahkan diimbuhkan Maman, mengingat pentingnya peranan mingguan Parahiangan dalam melahirkan sastrawan Sunda, MA Salmoen menyebutkan adanya Angkatan Parahiangan dalam kesusastraan Sunda.
Sastra Sunda dan Balai Pustaka
Maman juga membandingkan pada rentang waktu 1914 hingga 1942, Balai Pustaka hanya menerbitkan sekitar 50-an novel Melayu, sedangkan novel Sunda yang terbit dalam kurun waktu yang sama hingga mencapai 40-an buah. “Ini berarti secara kuantitas penerbitan novel berbahasa Sunda hampir mendekati penerbitan novel Balai Pustaka,” ungkap pengamat yang kini tercatat sebagai kandidat doktor di Universitas Kebangsaan Malaysia itu.
Setelah merdeka sastra Sunda justru makin terdegradasi di bawah bayang-bayang bahasa Indonesia. Dinilai oleh Maman secara kualitatif, karya sastra anak Pasundan tidak kalah dengan kesusastraan yang ditulis dalam bentuk bahasa Indonesia, bahkan sastra etnik jauh lebih kuat nuansa maknanya. “Dalam bahasa Sunda banyak artikulasi yang tak bisa demikian sama maknanya bilamana diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti ‘brebet’ (yang mendekati arti ‘segera’) menjadi kurang mengena maknanya bila sudah di bahasa Indonesiakan,” ujar lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) tahun 1986 ini.
Kekuatan khas sastra Sunda juga dilihat oleh Wayan Sunarta, sastrawan asal Bali, terletak pada bahasa yang dengan leluasa diekspresikan tanpa memperhitungkan tata krama, sehingga rasanya lebih beragam dengan tidak hanya mengandalkan isinya. Hal ini disepakati Maman yang merasakan kekuatan rasa bahasa yang melekat lebih sempurna dengan pengecapan yang tak memiliki makna leksikal, namun tetap memberi bobot semantik.
Meski berjarak dalam keseharian, diibaratkan oleh Maman, ada kalanya kebudayaan etnik memiliki kelebihan ekspresif tertentu dibandingkan sastra berbahasa Indonesia. Kemunculan majalah Mangle yang hingga kini masih mempertahankan eksistensinya, dianggap Maman sebagai bentuk langsung sumbangan masyarakat Pasundan.
Maman juga mengatakan sastrawan Sunda tak hanya piawai mengangkat tema seputar dunia gaib. Novelis Achmad Bakri yang banyak menulis tentang kehidupan sosial juga disebut sebagai Bapak Realis Sunda, juga ada Tatang Sumarsono yang pernah mengedepankan tema reformasi yang terus mengikuti perkembangan zaman.
Rancage Memotivasi
Selain itu, penghargaan Rancage yang diprakarsai Ajip Rosidi memberikan motivasi bagi regenerasi sastrawan-sastrawan daerah yang dinilai Maman berpotensi seperti Tatang Sumarsono, Lilies Rosana, Joseph Iskandar, Ettie RS dalam membangun muatan ekpresinya secara etnik.
Yang masih jadi persoalan adalah: minimnya perhatian pemerintah terhadap dunia sastra umumnya, seakan makin menghimpit dunia sastra daerah yang memang terlanjur diposisikan sekunder. Apresiasi terhadap sastra etnik yang makin memprihatinkan dari generasi muda, mengancam punahnya salah satu identitas daerah tersebut.
Sastra Sunda sebagai salah satu sastra etnik dari sekian banyak sastra daerah warisan leluhur di Indonesia, seharusnya menjadi perhatian pemerintah dalam kaitan pembinaan dan pengembangan sastra sebagai badan pembentuk atau pemelihara nilai-nilai kebudayaan di masyarakat.
Hal ini juga diutarakan Wayan yang merasakan kurang maksimal perhatian pemerintah provinsi Bali dalam memfasilitasi sastrawan Bali yang kebanyakan menerbitkan buku melalui penerbit independen. “Pemerintah sebenarnya cukup membantu melalui proyek-proyek penerbitan seperti yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Bali. Namun kemasannya atau perwajahannya sangat jauh dari menarik, masih kaku dan kurang greget. Hal ini pula yang jadi sebab buku-buku tersebut kurang menarik perhatian khalayak luas.”
Menurut Maman, pemerintah layak memfasilitasi masyarakat agar tetap membaca karya sastra. “Sastra daerah khususnya, berisikan muatan lokal, yang justru bisa disosialisasikan lagi lewat penerapan kurikulum pendidikan di sekolah maupun di perguruan tinggi. Sastra menjadi aplikatif dan apresiatif.”
Pada prakteknya, perjalanan khasanah kesusastraan Sunda khususnya kini mengalami pengikisan. Bahkan diungkapkan Maman, menjadi persoalan juga di mana pelajaran bahasa Sunda justru hanya pada penerapan linguistik yang tidak memberi pencerahan nilai kehidupan terhadap masyarakat lokalnya. Ini hanya dapat diberikan oleh sastra. Karena itu dibutuhkan peran pemerintah untuk mendistribusikan karya-karya sastra daerah kepada pelajar, mahasiswa, maupun penggiat dan peminat sastra daerah melalui penerbit-penerbit yang lebih besar.
21/11/08
Menimbang Ekspresi Sufistik dalam Kata
Theresia Purbandini
http://www.jurnalnasional.com/
Acep Zamzam Noor adalah seorang penyair yang dilahirkan dan dibesarkan di pondok pesantren. Hal ini membuat nuansa keislaman dalam karya-karyanya sangat terasa. Cipasung adalah salah satu karya penyair kelahiran Cipasung, Tasikmalaya ini. Puisi itu menggambarkan keadaan desa yang tenang dan damai, dengan nuansa islami yang kental.
Selain nuansa keislaman, nuansa keindahan alam Jawa Barat pun sangat terasa. Beberapa puisinya, bahkan ada yang ditulis dengan menggunakan bahasa Sunda. Di Pondok pesantren Cipasung pula Acep mendirikan komunitas sastra, yaitu Sanggar Sastra Tasik dan Komunitas Azan, yang bergerak dalam pembinaan dan pemasyarakatan sastra.
Almarhum ayah Acep adalah seorang seorang ulama Nahdlatul Ulama. Namun meskipun dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pesantren, Acep ternyata tidak mengikuti jejak ayahnya menekuni bidang agama. Dia ternyata lebih memilih jalur kesenian sebagai jalan hidupnya. Karya-karyanya bahkan sudah dihadiahi penghargaan South East Asian (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand pada 2005.
Pengaruh lingkungan
Menurut Nur Zain Hae, penyair yang juga jadi Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta ini, Acep Zamzam Noor tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh lingkungannya sejak kecil, yakni kehidupan pesantren. Tapi Acep telah menemukan jalan kehidupannya sebagai seorang penyair, dan visi keseniannya cukup kokoh; tanpa dibayangi Bapaknya, seorang tokoh NU terkenal.
Kecenderungan Acep adalah menampilkan pengalaman spiritual melalui karyanya. “Acep mencoba menuangkan pengalaman spritual bukan lagi hanya miliknya pribadi, tetapi lebih meluas kepada alam. Cangkul dan lumpur yang dijadikan metafor tiba-tiba jadi milik semua mahluk ciptaan Tuhan yang juga punya jalan untuk memuji atau menujuNya,” ungkap Nur Zain Hae.
Ibarat pelukis ekspresionis, Acep berusaha menyatakan sikapnya dengan alam sebagai metafora, dengan gubahan pengalaman individunya yang juga mendapat pengaruh asing dari penyair asal Meksiko, Octavio Paz peraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1990. “Pemikirannya yang terbuka akan pengaruh dari luar, yang membuat saya menyukai karyanya, sehingga masih bisa dirasakan pertumbuhannya,” kata Nur Zain Hae.
Dalam perkembangan puisi modern, menurut Nur Zain Hae, tidak ada penyair yang benar-benar melakoni kehidupan sufi secara klasik. Yang ada kini hanyalah para penyair biasa yang mengalami banyak persoalan dan sebagian besar tidak mengikuti tradisi pemikiran sufistik secara ketat. Tetapi, sebagian mereka mencoba menonjolkan spiritualitas sebagai umat beriman.
Tren atau gejala musiman yang kerap melanda sebagian besar penyair era tahun 80-an, dalam perkembangan puisi modern, nyatanya membuka gerbang kesusasteraan Indonesia menuju kiblat religiusitas. Nur Zain Hae pun memasukkan nama Acep ke dalam daftar penyair yang mengidap tren ini. “Bagi saya, karya-karya Acep ‘fifity-fifity’ (50:50) antara sikapnya yang mengikuti tren dengan berinteraksi mengungkapkan perjalanan agamanya ke dalam bentuk puisi.”
Cara ungkap, bukan tujuan
Menurut Nur Zain Hae, sajak sufistik hanyalah salah satu sarana pengungkapan laku sifistik yang bukan merupakan tujuan. “Seperti ketika membaca biografi Jalaluddin Rumi, dia seperti mengucapkan syair tanpa disengaja dan puisi sufistiknya merupakan identitas laku sufistiknya secara spiritual,” katanya.
Batasan karya sastra sufistik agaknya masih berada dalam garis abu-abu. Tak ada kepastian yang menandakan sejauh mana patokan hasil karya dinilai memiliki roh secara sufistik dalam artian sesungguhnya. Ketika Nur Zain Hae berusaha menafsirkan kejanggalan tren sufistik ini dalam puisi, dinilainya bisa menjadi sebuah jebakan.
“Mudah saja menulis sajak dengan kata ganti Mu, pasti akan dianggap sebagai hasil karya untuk memuja Tuhan. Inilah karya yang bisa dibilang sebagai puisi sufistik masa kini; bukan sufistik klasik. Karena sesungguhnya tidak mudah menciptakan puisi yang beraliran sufistik. Sebab, harus diikuti pula dengan jejak perilaku si penganut sufistik itu. Jadi harus ditinjau, seberapa asli kadar pernyataan-pernyataan sufistik dalam teksnya,” ungkapnya.
Kuncinya menurut Nur Zain adalah apakah sang penyair dapat menyiasati kata ganti Mu, atau juga memiliki sifat pribadi yang sangat khusyuk dalam pengalaman spiritual. Sedangkan kita sebagai pembaca, harus memutuskan hubungan sejenak dengan sang penyair untuk menentukan jenis puisi ini sufistik atau tidak. Layaknya organisme yang otonom, sepanjang pengungkapan spiritual dapat mengugah pembaca, bisa dikatakan ia berhasil sebagai penyair sufistik. Karena membaca puisi bukan membaca biografi sang pengarang, melainkan isi yang tertoreh dalam puisi tersebut.
http://www.jurnalnasional.com/
Acep Zamzam Noor adalah seorang penyair yang dilahirkan dan dibesarkan di pondok pesantren. Hal ini membuat nuansa keislaman dalam karya-karyanya sangat terasa. Cipasung adalah salah satu karya penyair kelahiran Cipasung, Tasikmalaya ini. Puisi itu menggambarkan keadaan desa yang tenang dan damai, dengan nuansa islami yang kental.
Selain nuansa keislaman, nuansa keindahan alam Jawa Barat pun sangat terasa. Beberapa puisinya, bahkan ada yang ditulis dengan menggunakan bahasa Sunda. Di Pondok pesantren Cipasung pula Acep mendirikan komunitas sastra, yaitu Sanggar Sastra Tasik dan Komunitas Azan, yang bergerak dalam pembinaan dan pemasyarakatan sastra.
Almarhum ayah Acep adalah seorang seorang ulama Nahdlatul Ulama. Namun meskipun dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pesantren, Acep ternyata tidak mengikuti jejak ayahnya menekuni bidang agama. Dia ternyata lebih memilih jalur kesenian sebagai jalan hidupnya. Karya-karyanya bahkan sudah dihadiahi penghargaan South East Asian (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand pada 2005.
Pengaruh lingkungan
Menurut Nur Zain Hae, penyair yang juga jadi Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta ini, Acep Zamzam Noor tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh lingkungannya sejak kecil, yakni kehidupan pesantren. Tapi Acep telah menemukan jalan kehidupannya sebagai seorang penyair, dan visi keseniannya cukup kokoh; tanpa dibayangi Bapaknya, seorang tokoh NU terkenal.
Kecenderungan Acep adalah menampilkan pengalaman spiritual melalui karyanya. “Acep mencoba menuangkan pengalaman spritual bukan lagi hanya miliknya pribadi, tetapi lebih meluas kepada alam. Cangkul dan lumpur yang dijadikan metafor tiba-tiba jadi milik semua mahluk ciptaan Tuhan yang juga punya jalan untuk memuji atau menujuNya,” ungkap Nur Zain Hae.
Ibarat pelukis ekspresionis, Acep berusaha menyatakan sikapnya dengan alam sebagai metafora, dengan gubahan pengalaman individunya yang juga mendapat pengaruh asing dari penyair asal Meksiko, Octavio Paz peraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1990. “Pemikirannya yang terbuka akan pengaruh dari luar, yang membuat saya menyukai karyanya, sehingga masih bisa dirasakan pertumbuhannya,” kata Nur Zain Hae.
Dalam perkembangan puisi modern, menurut Nur Zain Hae, tidak ada penyair yang benar-benar melakoni kehidupan sufi secara klasik. Yang ada kini hanyalah para penyair biasa yang mengalami banyak persoalan dan sebagian besar tidak mengikuti tradisi pemikiran sufistik secara ketat. Tetapi, sebagian mereka mencoba menonjolkan spiritualitas sebagai umat beriman.
Tren atau gejala musiman yang kerap melanda sebagian besar penyair era tahun 80-an, dalam perkembangan puisi modern, nyatanya membuka gerbang kesusasteraan Indonesia menuju kiblat religiusitas. Nur Zain Hae pun memasukkan nama Acep ke dalam daftar penyair yang mengidap tren ini. “Bagi saya, karya-karya Acep ‘fifity-fifity’ (50:50) antara sikapnya yang mengikuti tren dengan berinteraksi mengungkapkan perjalanan agamanya ke dalam bentuk puisi.”
Cara ungkap, bukan tujuan
Menurut Nur Zain Hae, sajak sufistik hanyalah salah satu sarana pengungkapan laku sifistik yang bukan merupakan tujuan. “Seperti ketika membaca biografi Jalaluddin Rumi, dia seperti mengucapkan syair tanpa disengaja dan puisi sufistiknya merupakan identitas laku sufistiknya secara spiritual,” katanya.
Batasan karya sastra sufistik agaknya masih berada dalam garis abu-abu. Tak ada kepastian yang menandakan sejauh mana patokan hasil karya dinilai memiliki roh secara sufistik dalam artian sesungguhnya. Ketika Nur Zain Hae berusaha menafsirkan kejanggalan tren sufistik ini dalam puisi, dinilainya bisa menjadi sebuah jebakan.
“Mudah saja menulis sajak dengan kata ganti Mu, pasti akan dianggap sebagai hasil karya untuk memuja Tuhan. Inilah karya yang bisa dibilang sebagai puisi sufistik masa kini; bukan sufistik klasik. Karena sesungguhnya tidak mudah menciptakan puisi yang beraliran sufistik. Sebab, harus diikuti pula dengan jejak perilaku si penganut sufistik itu. Jadi harus ditinjau, seberapa asli kadar pernyataan-pernyataan sufistik dalam teksnya,” ungkapnya.
Kuncinya menurut Nur Zain adalah apakah sang penyair dapat menyiasati kata ganti Mu, atau juga memiliki sifat pribadi yang sangat khusyuk dalam pengalaman spiritual. Sedangkan kita sebagai pembaca, harus memutuskan hubungan sejenak dengan sang penyair untuk menentukan jenis puisi ini sufistik atau tidak. Layaknya organisme yang otonom, sepanjang pengungkapan spiritual dapat mengugah pembaca, bisa dikatakan ia berhasil sebagai penyair sufistik. Karena membaca puisi bukan membaca biografi sang pengarang, melainkan isi yang tertoreh dalam puisi tersebut.
18/11/08
Menyimak Anonimitas di Panggung Teater
Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/
Saat ini teater bukan lagi genre kesenian yang tidak terjangkau masyarakat, karena beban-beban estetik. Demikian juga dengan Kelompok Teater Payung Hitam dari Bandung, yang berkali-kali mementaskan Kaspar. Sebuah pementasan yang keseluruhannya memaksimalkan gestur tubuh aktor sebagai satu-satunya medium komunikasi dengan penonton.
Aktor-aktor Payung Hitam tidak berusaha membangun identifikasi watak yang jelas. Pertunjukan jadi miskin dialog, sekaligus jadi penunjuk adanya konvensi baru pertunjukan teater yang dibawakan secara kontemporer.
Menurut Arie F Batubara, pengamat teater yang mengikuti perkembangan Payung Hitam sejak awal: hal itu adalah bagian dari kecenderungan teater di Indonesia sekitar pertengahan 1990-an, yang mulai bergeser ke bentuk-bentuk teater eksperimental dibanding tahun 1980-an, yang masih terpaku pada naskah.
Kelompok ini menurut Arie, menjadi kelompok pertama dalam perjalanan sejarah teater Indonesia yang mengejar artistik dengan menggunakan multimedia, tanpa kehilangan makna sebagai sebuah kelompok yang memperhitungkan visi, misi, dan nilai. “Payung Hitam lebih mengungkapkan sisi ekperimennya melalui beberapa pertunjukan, seperti menggebuk-gebuk tong, yang tentu saja tak lazim bila mengacu pada teks yang sudah jadi,” ungkapnya menyontohkan.
Eskploratif tema melalui gerak jadi kekhasan Payung Hitam yang membuatnya menjadi ikon teater baru di Bandung. Hal ini disepakati oleh Jakob Soemardjo, kritikus sastra yang juga mengamati perkembangan teater di Indonesia. “Selama kurun waktu 30 tahun Teater Payung Hitam akhirnya mewujudkan pentingnya elemen gerak tubuh dibanding kekayaan dialog. Dengan mengangkat tema-tema protes sosial untuk menunjukkan kepedulian,” tutur Jakob.
Teater Payung Hitam Bandung pimpinan Rahman Sabur menurut Arie banyak mempertanyakan takdir hidup, serbuan kapitalisme, serta eksistensi diri di tengah galau situasi Indonesia, pertentangan Barat-Timur, kapitalisme-sosialisme, miskin-kaya, majikan-buruh, seperti juga Arjuna dan Karna yang menukil perangai baik dan buruk manusia.
Tema Daerah
"Payung hitam juga mengangkat tema-tema daerah, atau semangat lokalitas Jawa Barat. Hal ini tidak dilakukan semua kelompok teater. Banyak dari mereka mengandalkan naskah sebagai struktur cerita untuk memenuhi kebutuhan ekspresi mereka,” nilai Arie.
Salah satu putra Bandung yang melahirkan karya-karya yang juga dipentaskan Teater Payung Hitam adalah Saini KM, yang merupakan salah satu penulis produktif yang tergabung dalam Studi Klub Teater Bandung. Payung Hitam memilih karya Saini bukan karena mereka satu daerah. Sebab, menurut Arie, bila diprosentasekan, teater di Bandung lebih banyak mengacu pada naskah asing ketimbang naskah lokal demi alasan lebih mengakomodir kebutuhan berekspresi mereka.
Menurut Arie, pilihan itu karena Payung Hitam sedang mengeksplorasi sebuah bentuk kesadaran kreatif, yang akhirnya muncul sebagai tren teater Bandung bahkan Indonesia. “Perjalanan Payung Hitam, saya amati, kemudian mengandalkan olah kreatif dengan unsur gerak tubuh ketimbang kekuatan verbal melalui dialog.”
Teater Payung Hitam selanjutnya menempatkan unsur pencapaian artistik sebagai bagian terpenting dalam sebuah pentas. Hal ini dicapai dengan dukungan kekuatan tubuh aktor yang menjadi sumbu utama setiap pementasan, dengan menghadirkan olah gerak tubuh yang kadang tak lazim. “Aktor Payung Hitam sangat terlatih, bisa dilihat dari gerak tubuh yang amat lentur, bahkan melebihi seorang penari,” kata Jakob.
Tapi pandangan lain juga disampaikan oleh Arie perihal para aktor Payung Hitam ini di atas panggung. “Meskipun secara perspektif teater, mereka boleh jadi mengalami perkembangan secara sosial; tapi saya malah rindu dengan bentuk awal pementasan Payung Hitam yang betul-betul menggarap penokohan sesuai naskah."
Merindukan Naskah
Jakob pun mendukung. "Bukannya tidak bisa menikmati bentuk teater Payung Hitam yang sekarang. Tapi ada pengalaman artistik tertentu yang didapatkan penonton, ketika melihat naskah yang sudah dikenal dipentaskan di atas panggung.”
Siklus kembali ke masa purba bentuk teater, menurut Jakob, hanya sebatas pada olah gerak dan tubuh tanpa kekayaan kata-kata adalah perkembangan Teater Payung Hitam dewasa ini. Imaji-imaji yang dibangun di atas panggung sangat ditentukan oleh kemampuan sang aktor mengemban berbagai visi dari sebuah perannya yang tidak berkarakter pada satu garis naskah.
“Interpretasi terhadap pristiwa di atas panggung bisa dimaknai oleh pengetahuan si penonton. Tapi ia juga bisa menolak menafsirkannya. Sebab, olah gerak tubuh di panggung juga merupakan misteri dengan daya tarik yang tak mudah atau tak harus diungkap,” kata Jakob.
Adegan demi adegan penuh dengan permainan layar, hingga menghasilkan efek artistik yang memukau tanpa kehilangan kendali terhadap ide dalam tiap pementasan yang dihadirkan Rahman, menjadi unsur pelengkap dalam pementasannya. “Payung Hitam bisa dianggap teater miskin, dila dibandingkan dengan teater realis seperti Koma. Hanya menggunakan sarung sebagai simbol, dengan kesederhanaan, dapat mengantarkan ekspresinya bukan pada kesempurnaan wujud fisik, tapi pada optimalisasi eksplorasi,” ungkap Arie.
http://jurnalnasional.com/
Saat ini teater bukan lagi genre kesenian yang tidak terjangkau masyarakat, karena beban-beban estetik. Demikian juga dengan Kelompok Teater Payung Hitam dari Bandung, yang berkali-kali mementaskan Kaspar. Sebuah pementasan yang keseluruhannya memaksimalkan gestur tubuh aktor sebagai satu-satunya medium komunikasi dengan penonton.
Aktor-aktor Payung Hitam tidak berusaha membangun identifikasi watak yang jelas. Pertunjukan jadi miskin dialog, sekaligus jadi penunjuk adanya konvensi baru pertunjukan teater yang dibawakan secara kontemporer.
Menurut Arie F Batubara, pengamat teater yang mengikuti perkembangan Payung Hitam sejak awal: hal itu adalah bagian dari kecenderungan teater di Indonesia sekitar pertengahan 1990-an, yang mulai bergeser ke bentuk-bentuk teater eksperimental dibanding tahun 1980-an, yang masih terpaku pada naskah.
Kelompok ini menurut Arie, menjadi kelompok pertama dalam perjalanan sejarah teater Indonesia yang mengejar artistik dengan menggunakan multimedia, tanpa kehilangan makna sebagai sebuah kelompok yang memperhitungkan visi, misi, dan nilai. “Payung Hitam lebih mengungkapkan sisi ekperimennya melalui beberapa pertunjukan, seperti menggebuk-gebuk tong, yang tentu saja tak lazim bila mengacu pada teks yang sudah jadi,” ungkapnya menyontohkan.
Eskploratif tema melalui gerak jadi kekhasan Payung Hitam yang membuatnya menjadi ikon teater baru di Bandung. Hal ini disepakati oleh Jakob Soemardjo, kritikus sastra yang juga mengamati perkembangan teater di Indonesia. “Selama kurun waktu 30 tahun Teater Payung Hitam akhirnya mewujudkan pentingnya elemen gerak tubuh dibanding kekayaan dialog. Dengan mengangkat tema-tema protes sosial untuk menunjukkan kepedulian,” tutur Jakob.
Teater Payung Hitam Bandung pimpinan Rahman Sabur menurut Arie banyak mempertanyakan takdir hidup, serbuan kapitalisme, serta eksistensi diri di tengah galau situasi Indonesia, pertentangan Barat-Timur, kapitalisme-sosialisme, miskin-kaya, majikan-buruh, seperti juga Arjuna dan Karna yang menukil perangai baik dan buruk manusia.
Tema Daerah
"Payung hitam juga mengangkat tema-tema daerah, atau semangat lokalitas Jawa Barat. Hal ini tidak dilakukan semua kelompok teater. Banyak dari mereka mengandalkan naskah sebagai struktur cerita untuk memenuhi kebutuhan ekspresi mereka,” nilai Arie.
Salah satu putra Bandung yang melahirkan karya-karya yang juga dipentaskan Teater Payung Hitam adalah Saini KM, yang merupakan salah satu penulis produktif yang tergabung dalam Studi Klub Teater Bandung. Payung Hitam memilih karya Saini bukan karena mereka satu daerah. Sebab, menurut Arie, bila diprosentasekan, teater di Bandung lebih banyak mengacu pada naskah asing ketimbang naskah lokal demi alasan lebih mengakomodir kebutuhan berekspresi mereka.
Menurut Arie, pilihan itu karena Payung Hitam sedang mengeksplorasi sebuah bentuk kesadaran kreatif, yang akhirnya muncul sebagai tren teater Bandung bahkan Indonesia. “Perjalanan Payung Hitam, saya amati, kemudian mengandalkan olah kreatif dengan unsur gerak tubuh ketimbang kekuatan verbal melalui dialog.”
Teater Payung Hitam selanjutnya menempatkan unsur pencapaian artistik sebagai bagian terpenting dalam sebuah pentas. Hal ini dicapai dengan dukungan kekuatan tubuh aktor yang menjadi sumbu utama setiap pementasan, dengan menghadirkan olah gerak tubuh yang kadang tak lazim. “Aktor Payung Hitam sangat terlatih, bisa dilihat dari gerak tubuh yang amat lentur, bahkan melebihi seorang penari,” kata Jakob.
Tapi pandangan lain juga disampaikan oleh Arie perihal para aktor Payung Hitam ini di atas panggung. “Meskipun secara perspektif teater, mereka boleh jadi mengalami perkembangan secara sosial; tapi saya malah rindu dengan bentuk awal pementasan Payung Hitam yang betul-betul menggarap penokohan sesuai naskah."
Merindukan Naskah
Jakob pun mendukung. "Bukannya tidak bisa menikmati bentuk teater Payung Hitam yang sekarang. Tapi ada pengalaman artistik tertentu yang didapatkan penonton, ketika melihat naskah yang sudah dikenal dipentaskan di atas panggung.”
Siklus kembali ke masa purba bentuk teater, menurut Jakob, hanya sebatas pada olah gerak dan tubuh tanpa kekayaan kata-kata adalah perkembangan Teater Payung Hitam dewasa ini. Imaji-imaji yang dibangun di atas panggung sangat ditentukan oleh kemampuan sang aktor mengemban berbagai visi dari sebuah perannya yang tidak berkarakter pada satu garis naskah.
“Interpretasi terhadap pristiwa di atas panggung bisa dimaknai oleh pengetahuan si penonton. Tapi ia juga bisa menolak menafsirkannya. Sebab, olah gerak tubuh di panggung juga merupakan misteri dengan daya tarik yang tak mudah atau tak harus diungkap,” kata Jakob.
Adegan demi adegan penuh dengan permainan layar, hingga menghasilkan efek artistik yang memukau tanpa kehilangan kendali terhadap ide dalam tiap pementasan yang dihadirkan Rahman, menjadi unsur pelengkap dalam pementasannya. “Payung Hitam bisa dianggap teater miskin, dila dibandingkan dengan teater realis seperti Koma. Hanya menggunakan sarung sebagai simbol, dengan kesederhanaan, dapat mengantarkan ekspresinya bukan pada kesempurnaan wujud fisik, tapi pada optimalisasi eksplorasi,” ungkap Arie.
19/10/08
Multitafsir Pahlawan dalam Puisi
Jurnal Nasional, 12 Okt 2008
Theresia Purbandini
Dalam perkembangan puisi Indonesia terkini, tema pahlawan boleh dikata kurang mendapat perhatian. Ini berbeda bila kita membaca karya-karya puisi era 1945, 1966, atau kurun waktu sebelumnya, di mana tak sedikit penyair menuliskan semacam ode atau pujian terhadap sosok-sosok yang dianggap berjasa merebut kemerdekaan, sekaligus sebagai cara untuk memaknai kecintaan pada tanah air.
Chairil Anwar, salah satu yang penyair angkatan 45 yang menuangkan ekspresi kekagumannya terhadap sosok Diponegoro, menggambarkan getar api revolusi yang membara dari petikan puisinya terhadap pahlawan nasional asal Pulau Jawa itu.
Sajak Diponegoro menurut penyair Raudal Tanjung Banua adalah sebuah monumen pemahlawanan dalam puisi. Karena syairnya yang lugas layaknya orasi , seirama dengan semangat zaman berupa momen-momen politik yang mendera pada masa itu. “Sajak Diponegoro seperti sajak mimbar, jelas sekali menyuarakan kepentingan politik sekaligus kekaguman kepada sosok Diponegoro sebagai pahlawan nasional.” tegas Raudal yang aktif di Komunitas Rumahlebah Yogyakarta, AKAR Indonesia, dan jurnal Cerpen Indonesia ini.
Maka bukan hal yang aneh, di saat batin kemanusiaannya begitu merindukan semangat menghadapi hidup yang absurd, dengan gagah berani tiba-tiba Chairil mendapati sosok legendaris Pangeran Diponegoro sebagai konkretisasi dari kegairahannya mempertahankan hidup.
Proses perjalanan hidup Chairil pula yang mengilhami penulisan sajak Diponegoro, pada Februari 1943. Meski sama-sama berbicara tentang kematian, sajak-sajak yang ditulis Chairil menjelang akhir hayatnya lebih sublim dan intens. Dan sajak-sajak seperti Krawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, Aku, dan Diponegoro inilah yang menurut Raudal membuat Chairil Anwar menjadi legenda dalam dunia kepenyairan Indonesia.
Sementara penyair asal Bali, Warih Wisatsana mengatakan, tema kepahlawanan telah berkembang sejak puisi era Pujangga Baru, bahkan jauh sebelumnya, meski kandungannya lebih berupa lagu pujian untuk tanah air. Semisal karya-karya Mohamad Yamin, Rustam Effendi, STA, Sanusi Pane, dan lain-lain. Mereka dianggap Warih sebagai pelopor puisi bertema pahlawan.
Penyair yang juga berdomisili di Bali (Denpasar), Tan Lioe Ie mengutarakan bahwa sajak-sajak perjuangan didominasi oleh Chairil Anwar (Diponegoro), Toto Sudarto Bachtiar (Pahlawan Tak Dikenal), Rendra (Gerilya). “Kreativitas mereka cukup banyak melahirkan prosentase puisi dan bentuk kepedulian yang besar terhadap tema pahlawan dengan kualitas berima seperti balada pada umumnya,” ungkap penyair yang melakukan eksplorasi atas ritual dan mitologi Tionghoa untuk puisi Indonesia ini.
“Puisi Toto mengajak dan mengingatkan pembacanya untuk kembali merenung kan peperangan yang begitu kejam, sedangkan Rendra menceritakan pengorbanan kepentingan pribadi pahlawan demi membela negara. Mereka memeliki kepedulian yang tinggi dan dengan tanpa beban mereka merasa terpanggil untuk menulisnya,” Tan menambahkan.
Sering perputaran roda waktu, pergeseran makna pahlawan nampaknya telah meluas menjadi konotasi yang lebih plural. Bagi Tan Lioe Ie secara pribadi, arti pahlawan baginya tak hanya sekadar pahlawan nasional yang telah gugur di medan perang.
“Bagi saya, pahlawan tak terbatas dalam sebuah sosok saja melainkan sebuah gambaran realita yang memberikan kontribusinya juga adanya pengorbanan bagi banyak orang, seperti seorang petani yang berjasa akan beras bagi kebutuhan pokok bangsa kita, para TKI yang jauh dari sanak saudara dan menyumbangkan devisa pula bagi negara ini, guru sebagai pahlwan tanpa tanda jasa bahakan seorang ibu memegang peranan besar Karena telah melahirkan dan membesarkan orang-orang hebat dan masih banyak lainnya.”ungkap pengarang kumpulan puisi tunggalnya “Kita Bersaudara”.
Senada dengan analisis yang dikemukakan oleh Raudal, menurutnya tema pahlawan ini telah berkamuflase menjadi sajak sosial dimasa sekarang ini. “karenanya tidak ada patokan dari segi tema ini secara jelas, maka penempatan tokohnya makin beragam, tak hanya berdiri pada satu sosok melainkan masyarakat pun bisa menjadi pahlawan bila dilihat dari cara pandang yang lain.”ungkap pria kelahiran Sumatera Barat, 19 Januari 1975.
Warih dalam mengintrepretasikan makna pahlawan bagi hidupnya, “Saya merasa kini yang layak disebut pahlawan adalah rakyat biasa, wong cilik dalam arti yang sebenarnya, yang nerimo ing pandum, yang diperlakukan tidak adil tetapi tak mengeluh dan melakoni nasib untuk tetap berdaya upaya demi keluarga dan lingkungan terdekatnya. “tuturnya.
Bila ditinjau ke masa kini, menurut Tan hampir tak terdeteksi penyair-penyair muda yang ikut menyelami tema pahlawan seperti Chairil dkk. “mungkin karena masa sudah berbeda jaman, masalah yang timbul kini cenderung lebih sosial. Intensitas penyair pahlawan secara murni dapat dikatakan tidak ada namun lebih beragam dengan semangat heroik yang tetap terjaga secara implisit.”menurutnya.
Ditambahkan oleh Raudal, walaupun tema kepahlawanan telah bergeser namun sajak-sajak sosial yang lebih umum lebih meluber tanpa batasan karena terbayang oleh situasi jaman yang bergejolak saat ini. tak hanya secara heroik namun juga secara liris.”
Puisi tematik ini seringkali diangkat ketika datangnya hari bersejarah. Para penyair berlomba-lomba menulis puisi dengan tema kepahlawanan ketika momentumnya tiba. “padahal tema ini bisa saja diangkat kapan saja, perlunya ditumbuhkan kesadaran tinggi akan hal ini karena banyak karya bagus justru lahir.”diakui oleh Tan.
“Sajak pahlawan yang dilombakan pada hari bersejarah ini belum sampai pada estetika konteks sehari-hari, melainkan sebgai sajak seremoni. Padahal dengan berbagai upaya untuk menengok kebelakang tema pahlawan ini bukan hanya sekadar heroik namun sebagai kesadaran bersama.”ditambahkan oleh Raudal.
Sajak yang ideal menurut Raudal adalah sajak yang seharusnya diimbangi oleh sajak kamar, dimana sajak yang mampu menjadi bahan perenungan diri dan dapat dinikmati sendiri dan sajak mimbar yang secara lugas dan tegas dapat berpretensi untuk menyemangati pembacanya.
Sedangkan sajak yang ideal menurut Warih yang tergabung dalam Komunitas Sanggar Minum Kopi, dimana seorang penyair berhak membangun dunianya sendiri dalam puisi, termasuk di dalamnya penilaian yang subyektif terhadap sosok, figur atau sejarah. “Yang patut diperjuangkan penyair adalah bagaimana puisi itu tampil dengan penuh kualitas secara estetik maupun secara pesan yang merangkum kedalaman dan tugas penyair adalah melahirkan puisi yang bagus, apapun temanya. Selebihnya, tanggapan dan penilaian diserahkan kepada publik serta para apresiator.”
Theresia Purbandini
Dalam perkembangan puisi Indonesia terkini, tema pahlawan boleh dikata kurang mendapat perhatian. Ini berbeda bila kita membaca karya-karya puisi era 1945, 1966, atau kurun waktu sebelumnya, di mana tak sedikit penyair menuliskan semacam ode atau pujian terhadap sosok-sosok yang dianggap berjasa merebut kemerdekaan, sekaligus sebagai cara untuk memaknai kecintaan pada tanah air.
Chairil Anwar, salah satu yang penyair angkatan 45 yang menuangkan ekspresi kekagumannya terhadap sosok Diponegoro, menggambarkan getar api revolusi yang membara dari petikan puisinya terhadap pahlawan nasional asal Pulau Jawa itu.
Sajak Diponegoro menurut penyair Raudal Tanjung Banua adalah sebuah monumen pemahlawanan dalam puisi. Karena syairnya yang lugas layaknya orasi , seirama dengan semangat zaman berupa momen-momen politik yang mendera pada masa itu. “Sajak Diponegoro seperti sajak mimbar, jelas sekali menyuarakan kepentingan politik sekaligus kekaguman kepada sosok Diponegoro sebagai pahlawan nasional.” tegas Raudal yang aktif di Komunitas Rumahlebah Yogyakarta, AKAR Indonesia, dan jurnal Cerpen Indonesia ini.
Maka bukan hal yang aneh, di saat batin kemanusiaannya begitu merindukan semangat menghadapi hidup yang absurd, dengan gagah berani tiba-tiba Chairil mendapati sosok legendaris Pangeran Diponegoro sebagai konkretisasi dari kegairahannya mempertahankan hidup.
Proses perjalanan hidup Chairil pula yang mengilhami penulisan sajak Diponegoro, pada Februari 1943. Meski sama-sama berbicara tentang kematian, sajak-sajak yang ditulis Chairil menjelang akhir hayatnya lebih sublim dan intens. Dan sajak-sajak seperti Krawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, Aku, dan Diponegoro inilah yang menurut Raudal membuat Chairil Anwar menjadi legenda dalam dunia kepenyairan Indonesia.
Sementara penyair asal Bali, Warih Wisatsana mengatakan, tema kepahlawanan telah berkembang sejak puisi era Pujangga Baru, bahkan jauh sebelumnya, meski kandungannya lebih berupa lagu pujian untuk tanah air. Semisal karya-karya Mohamad Yamin, Rustam Effendi, STA, Sanusi Pane, dan lain-lain. Mereka dianggap Warih sebagai pelopor puisi bertema pahlawan.
Penyair yang juga berdomisili di Bali (Denpasar), Tan Lioe Ie mengutarakan bahwa sajak-sajak perjuangan didominasi oleh Chairil Anwar (Diponegoro), Toto Sudarto Bachtiar (Pahlawan Tak Dikenal), Rendra (Gerilya). “Kreativitas mereka cukup banyak melahirkan prosentase puisi dan bentuk kepedulian yang besar terhadap tema pahlawan dengan kualitas berima seperti balada pada umumnya,” ungkap penyair yang melakukan eksplorasi atas ritual dan mitologi Tionghoa untuk puisi Indonesia ini.
“Puisi Toto mengajak dan mengingatkan pembacanya untuk kembali merenung kan peperangan yang begitu kejam, sedangkan Rendra menceritakan pengorbanan kepentingan pribadi pahlawan demi membela negara. Mereka memeliki kepedulian yang tinggi dan dengan tanpa beban mereka merasa terpanggil untuk menulisnya,” Tan menambahkan.
Sering perputaran roda waktu, pergeseran makna pahlawan nampaknya telah meluas menjadi konotasi yang lebih plural. Bagi Tan Lioe Ie secara pribadi, arti pahlawan baginya tak hanya sekadar pahlawan nasional yang telah gugur di medan perang.
“Bagi saya, pahlawan tak terbatas dalam sebuah sosok saja melainkan sebuah gambaran realita yang memberikan kontribusinya juga adanya pengorbanan bagi banyak orang, seperti seorang petani yang berjasa akan beras bagi kebutuhan pokok bangsa kita, para TKI yang jauh dari sanak saudara dan menyumbangkan devisa pula bagi negara ini, guru sebagai pahlwan tanpa tanda jasa bahakan seorang ibu memegang peranan besar Karena telah melahirkan dan membesarkan orang-orang hebat dan masih banyak lainnya.”ungkap pengarang kumpulan puisi tunggalnya “Kita Bersaudara”.
Senada dengan analisis yang dikemukakan oleh Raudal, menurutnya tema pahlawan ini telah berkamuflase menjadi sajak sosial dimasa sekarang ini. “karenanya tidak ada patokan dari segi tema ini secara jelas, maka penempatan tokohnya makin beragam, tak hanya berdiri pada satu sosok melainkan masyarakat pun bisa menjadi pahlawan bila dilihat dari cara pandang yang lain.”ungkap pria kelahiran Sumatera Barat, 19 Januari 1975.
Warih dalam mengintrepretasikan makna pahlawan bagi hidupnya, “Saya merasa kini yang layak disebut pahlawan adalah rakyat biasa, wong cilik dalam arti yang sebenarnya, yang nerimo ing pandum, yang diperlakukan tidak adil tetapi tak mengeluh dan melakoni nasib untuk tetap berdaya upaya demi keluarga dan lingkungan terdekatnya. “tuturnya.
Bila ditinjau ke masa kini, menurut Tan hampir tak terdeteksi penyair-penyair muda yang ikut menyelami tema pahlawan seperti Chairil dkk. “mungkin karena masa sudah berbeda jaman, masalah yang timbul kini cenderung lebih sosial. Intensitas penyair pahlawan secara murni dapat dikatakan tidak ada namun lebih beragam dengan semangat heroik yang tetap terjaga secara implisit.”menurutnya.
Ditambahkan oleh Raudal, walaupun tema kepahlawanan telah bergeser namun sajak-sajak sosial yang lebih umum lebih meluber tanpa batasan karena terbayang oleh situasi jaman yang bergejolak saat ini. tak hanya secara heroik namun juga secara liris.”
Puisi tematik ini seringkali diangkat ketika datangnya hari bersejarah. Para penyair berlomba-lomba menulis puisi dengan tema kepahlawanan ketika momentumnya tiba. “padahal tema ini bisa saja diangkat kapan saja, perlunya ditumbuhkan kesadaran tinggi akan hal ini karena banyak karya bagus justru lahir.”diakui oleh Tan.
“Sajak pahlawan yang dilombakan pada hari bersejarah ini belum sampai pada estetika konteks sehari-hari, melainkan sebgai sajak seremoni. Padahal dengan berbagai upaya untuk menengok kebelakang tema pahlawan ini bukan hanya sekadar heroik namun sebagai kesadaran bersama.”ditambahkan oleh Raudal.
Sajak yang ideal menurut Raudal adalah sajak yang seharusnya diimbangi oleh sajak kamar, dimana sajak yang mampu menjadi bahan perenungan diri dan dapat dinikmati sendiri dan sajak mimbar yang secara lugas dan tegas dapat berpretensi untuk menyemangati pembacanya.
Sedangkan sajak yang ideal menurut Warih yang tergabung dalam Komunitas Sanggar Minum Kopi, dimana seorang penyair berhak membangun dunianya sendiri dalam puisi, termasuk di dalamnya penilaian yang subyektif terhadap sosok, figur atau sejarah. “Yang patut diperjuangkan penyair adalah bagaimana puisi itu tampil dengan penuh kualitas secara estetik maupun secara pesan yang merangkum kedalaman dan tugas penyair adalah melahirkan puisi yang bagus, apapun temanya. Selebihnya, tanggapan dan penilaian diserahkan kepada publik serta para apresiator.”
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita