Tampilkan postingan dengan label Theresia Purbandini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Theresia Purbandini. Tampilkan semua postingan

11/10/11

Manunggaling Kawulo-Gusti

Theresia Purbandini
Jurnal Nasional, 14 Sep 2008

ABDUL Hadi WM pernah melahirkan kumpulan puisi yang begitu pekat diwarnai pemikiran tasawuf Islam. Kumpulan puisi tersebut, Meditasi, memenangkan hadiah buku puisi terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1978. Lalu, bukunya yang juga banyak mendapat perhatian, Hamzah Fansuri, Penyair Sufi Aceh, melukiskan kecenderungan pemikiran sufistiknya.

Menurut penyair Yonathan Rahardjo, gaya sufistik ini juga disosialisasikan oleh Abdul Hadi WM yang mengembangkan pengaruhnya pada tradisi penulisan puisi 1970-1980an. Ia bersama Kuntowijoyo dengan sastra profetik dan sastra transenden, Emha Ainun Nadjib dengan estetika kaffah, Danarto dengan cerpen-cerpen Islam kejawen, Darmanto Jatman dan Linus Suryadi AG dengan estetika Jawa, serta Wisran Hadi dengan estetika Minang, Taufiq Ismail dengan sajak-sajak sosial-religiusnya — sama-sama mengembangkan estetika sastra yang kemudian dikenal sebagai sastra sufistik.

Pendapat Yonathan ini didukung oleh penyair Akhmad Sekhu, yang menyebutkan gerakan tersebut sebagai arus utama dari gerakan “kembali ke akar”. Kembali ke sumber. Di antaranya: menjadikan nilai-nilai Islam dan sufisme sebagai sumber ide dalam bersastra. “Jadi puisi sufistik di Indonesia tidak lahir begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh sastra klasik Timur Tengah. Sebuah tempat yang disebut-sebut juga sebagai awal atau cikal-bakal peradaban dunia,“ kata Akhmad.

Begotulah mata rantai yang panjang dari tradisi sastra sufistik pun bisa ditarik dari Ibnu Arabi, Hafiz, Jalaluddin Rumi, Al-Hallaj, yang di Indonesia mata rantai pun sudah mentradisi sejak Hamzah Fansyuri dengan Syair Perahu, lalu Amir Hamzah dengan sajak-sajak romantik-religiusnya. Barulah pada 1970-an, Abdul Hadi WM menghidupkannya kembali.

Estetika Timur

Sosok penting Abdul Hadi WM dianggap Yonathan tak hanya popularitas kepenyairannya, tapi juga dibekali paradigma sastra sufistik yang dikembangkannya. “Jelas sebetulnya dialah yang menyebarkan konsep ini, selain sebagai seniman dia juga ilmuwan sastra,” kata Yonathan.

Sejak 1970-an kecenderungan estetika Timur menguat dalam sastra Indonesia kontemporer, melalui puitika sufistik yang dikembangkan AbdulHadi WM. “Abdul Hadi WM ikut menafasi kebudayaan kita dengan puitika sufistik dan prinsip-prinsip seni Islami, yang ikut mendorong masyarakat ke arah pencerahan sosial dan spiritual. Pemikiran sufistik dianggap sebagai penyeimbang pengaruh budaya Barat yang hedonis dan sekular,“ kata Yonathan lagi.

Dalam salah satu puisinya, Tuhan Kita Begitu Dekat, diakui Yonathan, Abdul Hadi rupanya dengan tandas menuliskan tentang kemanunggalan atau menyatunya dirinya dengan Tuhan, seperti kemanunggalan api dengan panasnya. Dengan puisi itu Abdul Hadi ikut mengkristalkan konsep kemanunggalan makhluk dengan Tuhan yang dalam mistik Jawa disebut manunggaling kawulo-gusti dan dalam ilmu tasawuf disebut tasawuf union mistica atau wahdatul wujud.

Abdul Hadi menyediakan diri sebagai nyala, cahaya, penyuluh, penerang jalan, jika lampu Tuhan (agama) padam. Hal ini tampak sebagai komitmen Abdul Hadi dalam bersastra, seperti tersirat pada sajak-sajaknya yang lain, bahwa bersastra, menulis puisi, adalah bagian dari upaya untuk mencerahkan rohani masyarakat (pembaca).

Disisi lain, Akhmad Sekhu juga menambahkan bahwa puisi Abdul Hadi menyiratkan makna yang dalam di balik kesederhanaan kata-katanya. Sebuah karya yang populis, dikaryakan dengan totalitas melalui sumber-sumber agama dengan menyiratkan ayat-ayat agamanya serta bersentuhan dengan alam, karena alam merupakan ayat yang tercipta dari Tuhan. Yang tersirat dan yang tercipta disandingkan di dalam karya-karyanya yang bersifat pribadi, langsung menuju sang Penciptanya.

Mempengaruhi penyair 1980-an

Selanjutnya, gerakan sastra sufistik yang didukung oleh Abdul Hadi WM ini ternyata cukup “mempengaruhi” beberapa penyair 1980-an. Di antaranya sebutlah Ahmad Nurullah, Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Noor, Achmad Syubbanuddin Alwy, Mathori A. Elwa, Soni Farid Maulana, dll.

“Mereka dianggap memilih puitika sufistik sebagai landasan kreatifnya, dengan intensitas penulisan puisi yang juga bertema sufistik itu. Tapi, jelas di sini bisa terjadi politik sastra. Kecuali dengan jujur dan mau mempelajari begitu banyak karya lain yang bermunculan, kita akan menemukan karya puisi sufistik sejati,” ungkap Yonathan.

Yonathan mengingatkan, “dalam berkarya, tidak usahlah terbebani tema maupun kaidah yang akan membelenggu. Pelajari semua, namun dalam mencipta biarlah muncul secara alami. Sufistik adalah hubungan dengan Tuhan, jujurlah dengan hubungan itu dan jujurlah dalam menulis. Tak peduli apa pun label yang bakal disandang, sebab yang penting semua karya sebetulnya adalah menuju karya sufistik, meski bukan sufistik gaya Abdul Hadi WM.”

Sementara, perkembangan tema sufistik di kalangan penyair sekarang menurut Akhmad Sekhu, masih tetap ada. Tentu dalam rangka untuk mengenal dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Di tengah gelombang kehidupan hedonis yang serba materialistis ini, wajar tetap ada penyair yang agamis. “Hal ini patut kita syukuri, karena ada yang masih berpegang teguh pada norma agama. Ini berkaitan dengan keyakinan. Fenomena ini sungguh dahsyat.”

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/oase-budaya-manunggaling-kawulo-gusti.html

01/02/09

Memelihara Identitas Daerah

Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/

Ketika Bahasa Indonesia dijunjung tinggi, bahasa daerah seakan terdesak oleh bayang-bayang Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Namun meski tak banyak, dengan bermunculannya sastrawan-sastrawan daerah yang masih berkarya hingga kini, menjadi bukti kekuatan kesusastraan etnik dari posisinya yang marjinal.

Di lihat dari peta sastra Indonesia, sastra Sunda diakui dosen dan kritikus sastra Maman S Mahayana, justru berkembang sebelum kelahiran Balai Pustaka. Bahkan novel pertama yang terbit melalui Balai Pustaka, merupakan novel karya sastrawan Sunda bernama DK Ardiwinata, berjudul Baruang Ka Nu Ngarora, yang menceritakan tentang konflik birokrat pemerintahan dengan ningrat pada 1914. Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang dianggap novel berbahasa Melayu pertama yang diterbitkan Balai Pustaka, baru terbit pada 1920.

Selama enam tahun (1911-1916), Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat) yang didirikan pada 1908 menerima 598 naskah berbahasa Jawa, 204 berbahasa Sunda, dan 96 berbahasa Melayu. Gencarnya para pengarang mengirimkan naskah ke lembaga itu memaksa Pemerintah Belanda mengganti nama menjadi Kantoor voor de Volkslectuur (Kantor Bacaan Rakyat) yang kemudian lebih dikenal dengan nama Balai Pustaka (1917).

Diceritakan lebih lanjut oleh Maman, meski telah berubah nama menjadi Balai Pustaka dan membakukan bahasa Melayu, penggiat sastrawan Sunda tak kehilangan semangat untuk tetap meluapkan ekspresinya melalui penerbit-penerbit kecil.

Terbitnya beberapa surat kabar dan majalah berbahasa Sunda, seperti mingguan Sora Pasoendan (1914-1918), bulanan Papaes Nonoman (1914-1919), surat kabar Sipatahoenan (1923-1971), mingguan Sora Soenda (1923), Parahiangan (1929-1942), Sora Ra’jat Merdeka (1931-1932) yang memuat karya sastra Sunda, termasuk cerita bersambung (feuilleton) menunjukkan bahwa sastra Sunda telah berkembang baik. Bahkan diimbuhkan Maman, mengingat pentingnya peranan mingguan Parahiangan dalam melahirkan sastrawan Sunda, MA Salmoen menyebutkan adanya Angkatan Parahiangan dalam kesusastraan Sunda.

Sastra Sunda dan Balai Pustaka

Maman juga membandingkan pada rentang waktu 1914 hingga 1942, Balai Pustaka hanya menerbitkan sekitar 50-an novel Melayu, sedangkan novel Sunda yang terbit dalam kurun waktu yang sama hingga mencapai 40-an buah. “Ini berarti secara kuantitas penerbitan novel berbahasa Sunda hampir mendekati penerbitan novel Balai Pustaka,” ungkap pengamat yang kini tercatat sebagai kandidat doktor di Universitas Kebangsaan Malaysia itu.

Setelah merdeka sastra Sunda justru makin terdegradasi di bawah bayang-bayang bahasa Indonesia. Dinilai oleh Maman secara kualitatif, karya sastra anak Pasundan tidak kalah dengan kesusastraan yang ditulis dalam bentuk bahasa Indonesia, bahkan sastra etnik jauh lebih kuat nuansa maknanya. “Dalam bahasa Sunda banyak artikulasi yang tak bisa demikian sama maknanya bilamana diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti ‘brebet’ (yang mendekati arti ‘segera’) menjadi kurang mengena maknanya bila sudah di bahasa Indonesiakan,” ujar lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) tahun 1986 ini.

Kekuatan khas sastra Sunda juga dilihat oleh Wayan Sunarta, sastrawan asal Bali, terletak pada bahasa yang dengan leluasa diekspresikan tanpa memperhitungkan tata krama, sehingga rasanya lebih beragam dengan tidak hanya mengandalkan isinya. Hal ini disepakati Maman yang merasakan kekuatan rasa bahasa yang melekat lebih sempurna dengan pengecapan yang tak memiliki makna leksikal, namun tetap memberi bobot semantik.

Meski berjarak dalam keseharian, diibaratkan oleh Maman, ada kalanya kebudayaan etnik memiliki kelebihan ekspresif tertentu dibandingkan sastra berbahasa Indonesia. Kemunculan majalah Mangle yang hingga kini masih mempertahankan eksistensinya, dianggap Maman sebagai bentuk langsung sumbangan masyarakat Pasundan.

Maman juga mengatakan sastrawan Sunda tak hanya piawai mengangkat tema seputar dunia gaib. Novelis Achmad Bakri yang banyak menulis tentang kehidupan sosial juga disebut sebagai Bapak Realis Sunda, juga ada Tatang Sumarsono yang pernah mengedepankan tema reformasi yang terus mengikuti perkembangan zaman.

Rancage Memotivasi

Selain itu, penghargaan Rancage yang diprakarsai Ajip Rosidi memberikan motivasi bagi regenerasi sastrawan-sastrawan daerah yang dinilai Maman berpotensi seperti Tatang Sumarsono, Lilies Rosana, Joseph Iskandar, Ettie RS dalam membangun muatan ekpresinya secara etnik.

Yang masih jadi persoalan adalah: minimnya perhatian pemerintah terhadap dunia sastra umumnya, seakan makin menghimpit dunia sastra daerah yang memang terlanjur diposisikan sekunder. Apresiasi terhadap sastra etnik yang makin memprihatinkan dari generasi muda, mengancam punahnya salah satu identitas daerah tersebut.

Sastra Sunda sebagai salah satu sastra etnik dari sekian banyak sastra daerah warisan leluhur di Indonesia, seharusnya menjadi perhatian pemerintah dalam kaitan pembinaan dan pengembangan sastra sebagai badan pembentuk atau pemelihara nilai-nilai kebudayaan di masyarakat.

Hal ini juga diutarakan Wayan yang merasakan kurang maksimal perhatian pemerintah provinsi Bali dalam memfasilitasi sastrawan Bali yang kebanyakan menerbitkan buku melalui penerbit independen. “Pemerintah sebenarnya cukup membantu melalui proyek-proyek penerbitan seperti yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Bali. Namun kemasannya atau perwajahannya sangat jauh dari menarik, masih kaku dan kurang greget. Hal ini pula yang jadi sebab buku-buku tersebut kurang menarik perhatian khalayak luas.”

Menurut Maman, pemerintah layak memfasilitasi masyarakat agar tetap membaca karya sastra. “Sastra daerah khususnya, berisikan muatan lokal, yang justru bisa disosialisasikan lagi lewat penerapan kurikulum pendidikan di sekolah maupun di perguruan tinggi. Sastra menjadi aplikatif dan apresiatif.”

Pada prakteknya, perjalanan khasanah kesusastraan Sunda khususnya kini mengalami pengikisan. Bahkan diungkapkan Maman, menjadi persoalan juga di mana pelajaran bahasa Sunda justru hanya pada penerapan linguistik yang tidak memberi pencerahan nilai kehidupan terhadap masyarakat lokalnya. Ini hanya dapat diberikan oleh sastra. Karena itu dibutuhkan peran pemerintah untuk mendistribusikan karya-karya sastra daerah kepada pelajar, mahasiswa, maupun penggiat dan peminat sastra daerah melalui penerbit-penerbit yang lebih besar.

21/11/08

Menimbang Ekspresi Sufistik dalam Kata

Theresia Purbandini
http://www.jurnalnasional.com/

Acep Zamzam Noor adalah seorang penyair yang dilahirkan dan dibesarkan di pondok pesantren. Hal ini membuat nuansa keislaman dalam karya-karyanya sangat terasa. Cipasung adalah salah satu karya penyair kelahiran Cipasung, Tasikmalaya ini. Puisi itu menggambarkan keadaan desa yang tenang dan damai, dengan nuansa islami yang kental.

Selain nuansa keislaman, nuansa keindahan alam Jawa Barat pun sangat terasa. Beberapa puisinya, bahkan ada yang ditulis dengan menggunakan bahasa Sunda. Di Pondok pesantren Cipasung pula Acep mendirikan komunitas sastra, yaitu Sanggar Sastra Tasik dan Komunitas Azan, yang bergerak dalam pembinaan dan pemasyarakatan sastra.

Almarhum ayah Acep adalah seorang seorang ulama Nahdlatul Ulama. Namun meskipun dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pesantren, Acep ternyata tidak mengikuti jejak ayahnya menekuni bidang agama. Dia ternyata lebih memilih jalur kesenian sebagai jalan hidupnya. Karya-karyanya bahkan sudah dihadiahi penghargaan South East Asian (SEA) Write Award dari Kerajaan Thailand pada 2005.

Pengaruh lingkungan
Menurut Nur Zain Hae, penyair yang juga jadi Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta ini, Acep Zamzam Noor tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh lingkungannya sejak kecil, yakni kehidupan pesantren. Tapi Acep telah menemukan jalan kehidupannya sebagai seorang penyair, dan visi keseniannya cukup kokoh; tanpa dibayangi Bapaknya, seorang tokoh NU terkenal.

Kecenderungan Acep adalah menampilkan pengalaman spiritual melalui karyanya. “Acep mencoba menuangkan pengalaman spritual bukan lagi hanya miliknya pribadi, tetapi lebih meluas kepada alam. Cangkul dan lumpur yang dijadikan metafor tiba-tiba jadi milik semua mahluk ciptaan Tuhan yang juga punya jalan untuk memuji atau menujuNya,” ungkap Nur Zain Hae.

Ibarat pelukis ekspresionis, Acep berusaha menyatakan sikapnya dengan alam sebagai metafora, dengan gubahan pengalaman individunya yang juga mendapat pengaruh asing dari penyair asal Meksiko, Octavio Paz peraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1990. “Pemikirannya yang terbuka akan pengaruh dari luar, yang membuat saya menyukai karyanya, sehingga masih bisa dirasakan pertumbuhannya,” kata Nur Zain Hae.

Dalam perkembangan puisi modern, menurut Nur Zain Hae, tidak ada penyair yang benar-benar melakoni kehidupan sufi secara klasik. Yang ada kini hanyalah para penyair biasa yang mengalami banyak persoalan dan sebagian besar tidak mengikuti tradisi pemikiran sufistik secara ketat. Tetapi, sebagian mereka mencoba menonjolkan spiritualitas sebagai umat beriman.

Tren atau gejala musiman yang kerap melanda sebagian besar penyair era tahun 80-an, dalam perkembangan puisi modern, nyatanya membuka gerbang kesusasteraan Indonesia menuju kiblat religiusitas. Nur Zain Hae pun memasukkan nama Acep ke dalam daftar penyair yang mengidap tren ini. “Bagi saya, karya-karya Acep ‘fifity-fifity’ (50:50) antara sikapnya yang mengikuti tren dengan berinteraksi mengungkapkan perjalanan agamanya ke dalam bentuk puisi.”

Cara ungkap, bukan tujuan
Menurut Nur Zain Hae, sajak sufistik hanyalah salah satu sarana pengungkapan laku sifistik yang bukan merupakan tujuan. “Seperti ketika membaca biografi Jalaluddin Rumi, dia seperti mengucapkan syair tanpa disengaja dan puisi sufistiknya merupakan identitas laku sufistiknya secara spiritual,” katanya.

Batasan karya sastra sufistik agaknya masih berada dalam garis abu-abu. Tak ada kepastian yang menandakan sejauh mana patokan hasil karya dinilai memiliki roh secara sufistik dalam artian sesungguhnya. Ketika Nur Zain Hae berusaha menafsirkan kejanggalan tren sufistik ini dalam puisi, dinilainya bisa menjadi sebuah jebakan.

“Mudah saja menulis sajak dengan kata ganti Mu, pasti akan dianggap sebagai hasil karya untuk memuja Tuhan. Inilah karya yang bisa dibilang sebagai puisi sufistik masa kini; bukan sufistik klasik. Karena sesungguhnya tidak mudah menciptakan puisi yang beraliran sufistik. Sebab, harus diikuti pula dengan jejak perilaku si penganut sufistik itu. Jadi harus ditinjau, seberapa asli kadar pernyataan-pernyataan sufistik dalam teksnya,” ungkapnya.

Kuncinya menurut Nur Zain adalah apakah sang penyair dapat menyiasati kata ganti Mu, atau juga memiliki sifat pribadi yang sangat khusyuk dalam pengalaman spiritual. Sedangkan kita sebagai pembaca, harus memutuskan hubungan sejenak dengan sang penyair untuk menentukan jenis puisi ini sufistik atau tidak. Layaknya organisme yang otonom, sepanjang pengungkapan spiritual dapat mengugah pembaca, bisa dikatakan ia berhasil sebagai penyair sufistik. Karena membaca puisi bukan membaca biografi sang pengarang, melainkan isi yang tertoreh dalam puisi tersebut.

18/11/08

Menyimak Anonimitas di Panggung Teater

Theresia Purbandini
http://jurnalnasional.com/

Saat ini teater bukan lagi genre kesenian yang tidak terjangkau masyarakat, karena beban-beban estetik. Demikian juga dengan Kelompok Teater Payung Hitam dari Bandung, yang berkali-kali mementaskan Kaspar. Sebuah pementasan yang keseluruhannya memaksimalkan gestur tubuh aktor sebagai satu-satunya medium komunikasi dengan penonton.

Aktor-aktor Payung Hitam tidak berusaha membangun identifikasi watak yang jelas. Pertunjukan jadi miskin dialog, sekaligus jadi penunjuk adanya konvensi baru pertunjukan teater yang dibawakan secara kontemporer.

Menurut Arie F Batubara, pengamat teater yang mengikuti perkembangan Payung Hitam sejak awal: hal itu adalah bagian dari kecenderungan teater di Indonesia sekitar pertengahan 1990-an, yang mulai bergeser ke bentuk-bentuk teater eksperimental dibanding tahun 1980-an, yang masih terpaku pada naskah.

Kelompok ini menurut Arie, menjadi kelompok pertama dalam perjalanan sejarah teater Indonesia yang mengejar artistik dengan menggunakan multimedia, tanpa kehilangan makna sebagai sebuah kelompok yang memperhitungkan visi, misi, dan nilai. “Payung Hitam lebih mengungkapkan sisi ekperimennya melalui beberapa pertunjukan, seperti menggebuk-gebuk tong, yang tentu saja tak lazim bila mengacu pada teks yang sudah jadi,” ungkapnya menyontohkan.

Eskploratif tema melalui gerak jadi kekhasan Payung Hitam yang membuatnya menjadi ikon teater baru di Bandung. Hal ini disepakati oleh Jakob Soemardjo, kritikus sastra yang juga mengamati perkembangan teater di Indonesia. “Selama kurun waktu 30 tahun Teater Payung Hitam akhirnya mewujudkan pentingnya elemen gerak tubuh dibanding kekayaan dialog. Dengan mengangkat tema-tema protes sosial untuk menunjukkan kepedulian,” tutur Jakob.

Teater Payung Hitam Bandung pimpinan Rahman Sabur menurut Arie banyak mempertanyakan takdir hidup, serbuan kapitalisme, serta eksistensi diri di tengah galau situasi Indonesia, pertentangan Barat-Timur, kapitalisme-sosialisme, miskin-kaya, majikan-buruh, seperti juga Arjuna dan Karna yang menukil perangai baik dan buruk manusia.

Tema Daerah
"Payung hitam juga mengangkat tema-tema daerah, atau semangat lokalitas Jawa Barat. Hal ini tidak dilakukan semua kelompok teater. Banyak dari mereka mengandalkan naskah sebagai struktur cerita untuk memenuhi kebutuhan ekspresi mereka,” nilai Arie.

Salah satu putra Bandung yang melahirkan karya-karya yang juga dipentaskan Teater Payung Hitam adalah Saini KM, yang merupakan salah satu penulis produktif yang tergabung dalam Studi Klub Teater Bandung. Payung Hitam memilih karya Saini bukan karena mereka satu daerah. Sebab, menurut Arie, bila diprosentasekan, teater di Bandung lebih banyak mengacu pada naskah asing ketimbang naskah lokal demi alasan lebih mengakomodir kebutuhan berekspresi mereka.

Menurut Arie, pilihan itu karena Payung Hitam sedang mengeksplorasi sebuah bentuk kesadaran kreatif, yang akhirnya muncul sebagai tren teater Bandung bahkan Indonesia. “Perjalanan Payung Hitam, saya amati, kemudian mengandalkan olah kreatif dengan unsur gerak tubuh ketimbang kekuatan verbal melalui dialog.”

Teater Payung Hitam selanjutnya menempatkan unsur pencapaian artistik sebagai bagian terpenting dalam sebuah pentas. Hal ini dicapai dengan dukungan kekuatan tubuh aktor yang menjadi sumbu utama setiap pementasan, dengan menghadirkan olah gerak tubuh yang kadang tak lazim. “Aktor Payung Hitam sangat terlatih, bisa dilihat dari gerak tubuh yang amat lentur, bahkan melebihi seorang penari,” kata Jakob.

Tapi pandangan lain juga disampaikan oleh Arie perihal para aktor Payung Hitam ini di atas panggung. “Meskipun secara perspektif teater, mereka boleh jadi mengalami perkembangan secara sosial; tapi saya malah rindu dengan bentuk awal pementasan Payung Hitam yang betul-betul menggarap penokohan sesuai naskah."

Merindukan Naskah
Jakob pun mendukung. "Bukannya tidak bisa menikmati bentuk teater Payung Hitam yang sekarang. Tapi ada pengalaman artistik tertentu yang didapatkan penonton, ketika melihat naskah yang sudah dikenal dipentaskan di atas panggung.”

Siklus kembali ke masa purba bentuk teater, menurut Jakob, hanya sebatas pada olah gerak dan tubuh tanpa kekayaan kata-kata adalah perkembangan Teater Payung Hitam dewasa ini. Imaji-imaji yang dibangun di atas panggung sangat ditentukan oleh kemampuan sang aktor mengemban berbagai visi dari sebuah perannya yang tidak berkarakter pada satu garis naskah.

“Interpretasi terhadap pristiwa di atas panggung bisa dimaknai oleh pengetahuan si penonton. Tapi ia juga bisa menolak menafsirkannya. Sebab, olah gerak tubuh di panggung juga merupakan misteri dengan daya tarik yang tak mudah atau tak harus diungkap,” kata Jakob.

Adegan demi adegan penuh dengan permainan layar, hingga menghasilkan efek artistik yang memukau tanpa kehilangan kendali terhadap ide dalam tiap pementasan yang dihadirkan Rahman, menjadi unsur pelengkap dalam pementasannya. “Payung Hitam bisa dianggap teater miskin, dila dibandingkan dengan teater realis seperti Koma. Hanya menggunakan sarung sebagai simbol, dengan kesederhanaan, dapat mengantarkan ekspresinya bukan pada kesempurnaan wujud fisik, tapi pada optimalisasi eksplorasi,” ungkap Arie.

19/10/08

Multitafsir Pahlawan dalam Puisi

Jurnal Nasional, 12 Okt 2008
Theresia Purbandini

Dalam perkembangan puisi Indonesia terkini, tema pahlawan boleh dikata kurang mendapat perhatian. Ini berbeda bila kita membaca karya-karya puisi era 1945, 1966, atau kurun waktu sebelumnya, di mana tak sedikit penyair menuliskan semacam ode atau pujian terhadap sosok-sosok yang dianggap berjasa merebut kemerdekaan, sekaligus sebagai cara untuk memaknai kecintaan pada tanah air.

Chairil Anwar, salah satu yang penyair angkatan 45 yang menuangkan ekspresi kekagumannya terhadap sosok Diponegoro, menggambarkan getar api revolusi yang membara dari petikan puisinya terhadap pahlawan nasional asal Pulau Jawa itu.

Sajak Diponegoro menurut penyair Raudal Tanjung Banua adalah sebuah monumen pemahlawanan dalam puisi. Karena syairnya yang lugas layaknya orasi , seirama dengan semangat zaman berupa momen-momen politik yang mendera pada masa itu. “Sajak Diponegoro seperti sajak mimbar, jelas sekali menyuarakan kepentingan politik sekaligus kekaguman kepada sosok Diponegoro sebagai pahlawan nasional.” tegas Raudal yang aktif di Komunitas Rumahlebah Yogyakarta, AKAR Indonesia, dan jurnal Cerpen Indonesia ini.

Maka bukan hal yang aneh, di saat batin kemanusiaannya begitu merindukan semangat menghadapi hidup yang absurd, dengan gagah berani tiba-tiba Chairil mendapati sosok legendaris Pangeran Diponegoro sebagai konkretisasi dari kegairahannya mempertahankan hidup.

Proses perjalanan hidup Chairil pula yang mengilhami penulisan sajak Diponegoro, pada Februari 1943. Meski sama-sama berbicara tentang kematian, sajak-sajak yang ditulis Chairil menjelang akhir hayatnya lebih sublim dan intens. Dan sajak-sajak seperti Krawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, Aku, dan Diponegoro inilah yang menurut Raudal membuat Chairil Anwar menjadi legenda dalam dunia kepenyairan Indonesia.

Sementara penyair asal Bali, Warih Wisatsana mengatakan, tema kepahlawanan telah berkembang sejak puisi era Pujangga Baru, bahkan jauh sebelumnya, meski kandungannya lebih berupa lagu pujian untuk tanah air. Semisal karya-karya Mohamad Yamin, Rustam Effendi, STA, Sanusi Pane, dan lain-lain. Mereka dianggap Warih sebagai pelopor puisi bertema pahlawan.

Penyair yang juga berdomisili di Bali (Denpasar), Tan Lioe Ie mengutarakan bahwa sajak-sajak perjuangan didominasi oleh Chairil Anwar (Diponegoro), Toto Sudarto Bachtiar (Pahlawan Tak Dikenal), Rendra (Gerilya). “Kreativitas mereka cukup banyak melahirkan prosentase puisi dan bentuk kepedulian yang besar terhadap tema pahlawan dengan kualitas berima seperti balada pada umumnya,” ungkap penyair yang melakukan eksplorasi atas ritual dan mitologi Tionghoa untuk puisi Indonesia ini.

“Puisi Toto mengajak dan mengingatkan pembacanya untuk kembali merenung kan peperangan yang begitu kejam, sedangkan Rendra menceritakan pengorbanan kepentingan pribadi pahlawan demi membela negara. Mereka memeliki kepedulian yang tinggi dan dengan tanpa beban mereka merasa terpanggil untuk menulisnya,” Tan menambahkan.

Sering perputaran roda waktu, pergeseran makna pahlawan nampaknya telah meluas menjadi konotasi yang lebih plural. Bagi Tan Lioe Ie secara pribadi, arti pahlawan baginya tak hanya sekadar pahlawan nasional yang telah gugur di medan perang.

“Bagi saya, pahlawan tak terbatas dalam sebuah sosok saja melainkan sebuah gambaran realita yang memberikan kontribusinya juga adanya pengorbanan bagi banyak orang, seperti seorang petani yang berjasa akan beras bagi kebutuhan pokok bangsa kita, para TKI yang jauh dari sanak saudara dan menyumbangkan devisa pula bagi negara ini, guru sebagai pahlwan tanpa tanda jasa bahakan seorang ibu memegang peranan besar Karena telah melahirkan dan membesarkan orang-orang hebat dan masih banyak lainnya.”ungkap pengarang kumpulan puisi tunggalnya “Kita Bersaudara”.

Senada dengan analisis yang dikemukakan oleh Raudal, menurutnya tema pahlawan ini telah berkamuflase menjadi sajak sosial dimasa sekarang ini. “karenanya tidak ada patokan dari segi tema ini secara jelas, maka penempatan tokohnya makin beragam, tak hanya berdiri pada satu sosok melainkan masyarakat pun bisa menjadi pahlawan bila dilihat dari cara pandang yang lain.”ungkap pria kelahiran Sumatera Barat, 19 Januari 1975.

Warih dalam mengintrepretasikan makna pahlawan bagi hidupnya, “Saya merasa kini yang layak disebut pahlawan adalah rakyat biasa, wong cilik dalam arti yang sebenarnya, yang nerimo ing pandum, yang diperlakukan tidak adil tetapi tak mengeluh dan melakoni nasib untuk tetap berdaya upaya demi keluarga dan lingkungan terdekatnya. “tuturnya.

Bila ditinjau ke masa kini, menurut Tan hampir tak terdeteksi penyair-penyair muda yang ikut menyelami tema pahlawan seperti Chairil dkk. “mungkin karena masa sudah berbeda jaman, masalah yang timbul kini cenderung lebih sosial. Intensitas penyair pahlawan secara murni dapat dikatakan tidak ada namun lebih beragam dengan semangat heroik yang tetap terjaga secara implisit.”menurutnya.

Ditambahkan oleh Raudal, walaupun tema kepahlawanan telah bergeser namun sajak-sajak sosial yang lebih umum lebih meluber tanpa batasan karena terbayang oleh situasi jaman yang bergejolak saat ini. tak hanya secara heroik namun juga secara liris.”

Puisi tematik ini seringkali diangkat ketika datangnya hari bersejarah. Para penyair berlomba-lomba menulis puisi dengan tema kepahlawanan ketika momentumnya tiba. “padahal tema ini bisa saja diangkat kapan saja, perlunya ditumbuhkan kesadaran tinggi akan hal ini karena banyak karya bagus justru lahir.”diakui oleh Tan.

“Sajak pahlawan yang dilombakan pada hari bersejarah ini belum sampai pada estetika konteks sehari-hari, melainkan sebgai sajak seremoni. Padahal dengan berbagai upaya untuk menengok kebelakang tema pahlawan ini bukan hanya sekadar heroik namun sebagai kesadaran bersama.”ditambahkan oleh Raudal.

Sajak yang ideal menurut Raudal adalah sajak yang seharusnya diimbangi oleh sajak kamar, dimana sajak yang mampu menjadi bahan perenungan diri dan dapat dinikmati sendiri dan sajak mimbar yang secara lugas dan tegas dapat berpretensi untuk menyemangati pembacanya.

Sedangkan sajak yang ideal menurut Warih yang tergabung dalam Komunitas Sanggar Minum Kopi, dimana seorang penyair berhak membangun dunianya sendiri dalam puisi, termasuk di dalamnya penilaian yang subyektif terhadap sosok, figur atau sejarah. “Yang patut diperjuangkan penyair adalah bagaimana puisi itu tampil dengan penuh kualitas secara estetik maupun secara pesan yang merangkum kedalaman dan tugas penyair adalah melahirkan puisi yang bagus, apapun temanya. Selebihnya, tanggapan dan penilaian diserahkan kepada publik serta para apresiator.”

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita