(Apresiasi Atas Buku Leksikon Sastra Riau)
Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/
Betapa pun pakar semiotika Roland Barthes (1915-1980) menggemaungkan, “the death of the author,” saya yakin, kita masih sangat percaya bahwa sosok sastrawan (pengarang) tak dapat dengan mudah “terpisah” dengan karyanya.
Dan tentu, kita juga tahu bahwa Roland Barthes memang tidak sedang hendak “memisahkan” keduanya, meski dia menandaskan tentang “matinya seorang pengarang.” Sebab, makna kematian di sini bukan berarti nama si pengarang serta merta terhapus dari karyanya, menjadi anonim nasibnya, akan tetapi ini soal “makna” yang menguar dari teks karyanya itu. Di titik ini, si pengarang tidak lagi punya “kekuatan” untuk menjangkau makna akhir dari (teks) karyanya. Tak ada otoritas tunggal. Begitu sampai ke tangan pembaca, teks seperti liar tak terkendali, dan “tanda-tanda” bertebaran, memproduksi makna-makna baru. Maka, jika begitu, bukankah yang “hidup” dan terus “lahir” adalah para pembaca?
Lalu, apa kabar si pengarang? Ya, mestinya dia tetap sebagai pengarang, yang terus bekerja melahirkan teks yang baru. Teks yang juga kelak, setelah lahir, akan menempuh perjalanan nasib yang sama. Apakah kemudian teks itu akan diterima dan tumbuh dalam dunia permaknaan pembaca yang beragam dan luas, serta menuai populeritas tersebab berbagai faktor yang membesarkannya, atau ia tersudut di ruang-ruang sunyi dan kehilangan daya hidup (juga oleh tersebab berbagai faktor intrinsik atau ekstrinsik), tentu kita serahkan saja pada waktu. Yang pasti, pengarang tak boleh berhenti dan menyerah oleh “nasib tak baik” yang menimpa karyanya, juga “nasib tak baik” yang juga kerap menimpa diri si pengarang sendiri. Tak beruntung secara ekonomi misalnya, tak pula “dihargai” dalam lingkungan sosial yang masih jauh dari tradisi keberaksaraan, dan sejumlah ketakberuntungan lain yang kerap membuat banyak orang untuk lari dari pilihan menjadi pengarang. Maka kondisi semcam ini pun, pengarang (mestinya) tetap terus saja menyusun jejak-jejak biografisnya (lewat karya-karya) dalam sejarah duniakepenulisan/kesusastraan, sampai ia menemu batas, menemu tetes akhir dari tinta kalamnya.
Jejak. Ya, ihwal merekam jejak inilah yang sesungguhnya terkait dengan hadirnya berbagai buku dalam berbagai bentuk: kamus, leksikon, ensiklopedi, buku pintar, bibliografi, dan entah apa lagi namanya. Ihwal merekam jejak inilah pula yang sedikit-banyak dapat “mengobati” rasa kecil-hati si pengarang, untuk kemudian membantunya meneguhkan eksistensi, baik secara individu maupun komunal. Tapi kenapa jejak? Sebab yang tertulis/tertera di sana adalah sesuatu yang lampau, yang telah terjadi, yang telah dilalui, sebuah sejarah. Maka dalam konteks dunia penciptaan sastra, jejak itu adalah karya. Jejak seorang pengarang adalah karya. Tak pernah ada yang namanya pengarang, sebelum karya lahir. Dan “nilai” dari karya pulalah yang akan membuat jejak perjalanan seorang pengarang menjadi penting atau tidak, menjadi bernilai atau sekedar tercatat namanya.
Selain itu, tak dapat dinafikan bahwa kehadiran buku-buku sejenis ini adalah referensi penting bagi para peneliti sastra, terutama yang hendak mendekati kajian melalui struktural genetik, psikologi sastra, sosiologi sastra, dan beberapa pendekatan lain. Studi tentang tokoh sastra pun secara historis, sudah sangat banyak dilakukan para sejarawan bahkan sejak era Yunani Kuno. Dan aspek biografi, menjadi tak terhindarkan hadir sebagai salah satu sumber utama mereka. Artinya, lewat studi inilah kelak sebuah buku sejenis ini diuji, apakah nama-nama yang tercantum di dalamnya representatif atau tidak, sudah patut dicatat atau belum.
Cukup banyak, buku yang mencoba merekam jejak dunia kesusastraan kita di Indonesia. Pamusuk Eneste saja setidaknya telah menyusun dua buku sejenis, Leksikon Susastra Indonesia (Balai Pustaka, 2000), dan Buku Pintar Sastra Indonesia (Kompas, 2001). Berikutnya Hasanuddin WS dengan buku Ensiklopedia Sastra Indonesia (Titian Bandung, 2004). Jauh sebelumnya, di tahun 1989, seorang dosen dari University of London, Ernest Ullich Krastz, juga telah menyusun Bibliografi Karya Sastra Indonesia, spesifikasi tentang naskah drama, prosa, dan puisi yang terbit di majalah di tahun 1920-1980. Belum lagi yang ruang lingkupnya lebih kedaerahan, seperti Leksikon Sastra Jakarta, Leksikon Sastra Aceh, dan termasuklah di Riau yang kini telah hadir buku Leksikon Sastra Riau, selain juga di dunia maya yang sedang dikerjakan oleh Sutrianto dengan tajuk Pusat Dokumentasi Sastra Melayu Riau. Apapun bentuk dan namanya, saya kira, pencinta sastra Riau khususnya, patut menyambut baik berbagai upaya untuk pengembangan dan pergerakan sastra di negeri ini.
Leksikon Sastra Riau yang disusun oleh Husnu Abadi dan M Badri (diterbitkan oleh BKKI Riau dan UIR Press, Januari 2009) adalah juga sebuah jejak. Karena dalam buku setebal 154 halaman ini terkandung biografi 173 sastrawan. Jika mendasarkan diri pada isi kandungan buku ini (yang hanya berisi biografi sastrawan) maka andai boleh saya memberi usul, ihwal penyebutan judul buku, hemat saya lebih terwakili jika diubah menjadi Leksikon Sastrawan Riau Modern. Kata “sastrawan” di sana jelas merujuk kepada individu pengarangnya, yang memang nampaknya menjadi fokus dalam penyusunan leksikon ini. Sebab, jika dipakai kata “sastra” maka mestinya yang terkandung di dalamnya tak hanya biografi sastrawannya, akan tetapi berbagai hal-ihwal yang terkait dengan dunia sastra di Riau secara lebih luas.
Semisal yang dapat kita tengok dalam buku yang disusun Pamusuk Eneste di atas. Dalam Leksikon Susastra Indonesia, selain biografi sastrawan juga tercantum berbagai majalah sastra dan penerbit sastra. Agaknya, untuk lebih spesifik lagi, dalam Buku Pintar Sastra Indonesia, Pamusuk membagi dalam sejumlah sub: Biografi Pengarang dan Karyanya, Majalah Sastra, Penerbit Sastra, Penerjemah, Lembaga Sastra, sampai pada Daftar Hadiah dan Penghargaan. Sementara itu, untuk kata “modern” sebenarnya hanya memberi garis pembatas dan wilayah kerja penyusunan buku ini, sebab memang lebih terfokus pada sastrawan Riau modern, tak termasuk para pengarang klasik macam Raja Ali Haji, Raja Zaleha, dan yang lain-lain lagi.
Saya percaya, sebagai sebuah awal dari kerja yang sebetulnya tak bisa dikatakan mudah, Leksikon Sastra Riau (selanjutnya disingkat LSR) ini, tentu saja memiliki sejumlah kelemahan. Tidak mudah, karena tak semua penyuka sastra yang mau dengan rajin mengungkai satu persatu riwayat hidup sastrawan dan karyanya. Kerja semacam ini, sesungguhnya lebih pada kerja “pengabdian” terhadap dunia sastra. Kerja yang lebih didasari dari betapa pentingnya mencatat dan mengumpulkan proses kreativitas di dunia sastra. Jika pun kemudian terdapat kelemahan, ia adalah jalan menuju “kesempurnaan” (meski tak ada yang betul-betul sempurna di dunia ini). Lima tahun terkahir misalnya, saya juga telah turut melakukan kerja semacam itu, dengan mengkliping (hampir) semua karya penulis Riau yang termuat di media massa dan buku. Selain untuk dokumentasi, saya sangat membutuhkannya untuk dapat melakukan pembacaan atas pergerakan sastra yang terjadi dari tahun ke tahun. Setidaknya, tiap akhir tahun (sejak 2005-2008) saya berupaya untuk menulis “Catatan Sastra Riau.” Maka, harapan terbesar kita terhadap hadirnya LSR tentu dalam proses kerja-kerja berikutnya, bisa menjadi salah satu data dan dokumen representatif dan komprehensif tentang dunia sastra (di) Riau.
Untuk berupaya ikut mendukung terwujudnya harapan itu, di sini saya hendak mendiskusikan sejumlah hal. Selain, judul buku yang sudah saya ulas di atas, hal lain yang hemat saya patut dipertimbangkan adalah tentang penjelasan-penjelasan yang lebih “akademis” (di samping soal rujukan yang sudah disarankan dalam esai Musa Ismail di Harian Riau Pos, beberapa waktu lalu) dan lebih argumentatif tentang berbagai aspek metode yang dipakai penyusun dalam mengerjakan buku ini. Penjelasan itu tentu diharapkan tertera pada pengantar buku, sehingga pembaca dapat merujuknya ketika menemukan sejumlah hal yang “mengganggu.” Nah, pengantar yang saya temukan dalam buku LSR ini, hemat saya belum memadai untuk dapat menjawab beberapa hal yang “mengganggu” itu.
Di antaranya soal selektivitas nama-nama yang masuk dalam LSR. Bagaimanakah sebenarnya metode (atau semacam standarisasi) yang dipakai penyusun untuk memilih dan juga memilah nama-nama yang masuk dalam daftar inventarisasi (daftar pendataan awal). Jika memang tujuannya “sekedar” bersifat dokumentatif, semata-mata hendak mengumpulkan semua yang “pernah” menulis sastra, meski hanya satu-dua karya, maka buku ini pun akan berhenti pada setakat titik itu. Kegelisahan awal penyusun—yang sempat diutarakan dalam pengantar buku ini—memberi kesan pada saya bahwa sebab utama buku LSR disusun adalah lebih pada karena tidak banyak ditemukannya nama-nama sastrawan Riau dalam berbagai buku sejenis. Saya kira, boleh jadi kerisauan ini juga menjadi kerisauan kita semua. Namun, andai saja, penyusun dapat menjelaskan satu atau dua nama yang dimaksud (yang tidak masuk dalam buku sejenis), dengan sejumlah data yang ada, maka ini tentu dapat membantu menyempurnakan buku yang disusun oleh Hasanuddin, maupun Pamusuk. Sebab, seturut Husnu Abadi, saya meyakini bahwa para penyusun buku sejenis, tampaknya memang tidak maksimal menjangkau “titik-titik penyebaran informasi.”
Agaknya, tidak banyaknya nama-nama sastrawan Riau masuk dalam buku sejenis itulah yang kemudian mendasari dan memotivasi penyusun buku LSR untuk juga menyertakan sejumlah nama yang menurut saya “mengganggu,” sehingga proses selektivitas menjadi terkesan lemah.
Misalnya, penjelasan biografis atas nama Qori Islami (hal. 78), yang lebih menunjukkan bahwa ia adalah seorang pembaca puisi, tanpa menyertakan satu pun judul karya, membuat nama itu tak representatif untuk masuk, meski telah melakukan pembacaan puisi sampai ke luar negeri. Contoh lain, nama Asori (tertulis di LSR, sementara dalam buku antologi puisi & cerpen pemenang lomba DKR, 1994 tertulis Nasori) dan nama Ruswanto (hal. 83) terdapat kesamaan kalimat biografi, yang membedakan hanya satu karya mereka masing-masing. Hal ini, saya kira, juga membuat pembacaan kita atas pengarang tersebut sangat terbatas, dan belum memadai untuk dapat disertakan dalam sebuah leksikon. Contoh lain, pada nama Saidat Dahlan (hal. 85), tak ada contoh karya sastra yang disebut di sana.
Menjadi juri lomba penulisan sastra, saya kira, tak serta merta dapat memberi kategori sastrawan atas tokoh tersebut. Selain itu, agaknya penting juga membuat klasifikasi menjadi “Kritikus Sastra Riau” misalnya pada sejumlah nama yang tertera dalam LSR ini, seperti UU Hamidy, Muchtar Ahmad, dan beberapa nama lain.
Selektivitas juga terkait tentang penjelasan apakah sastrawan yang tertera dalam LSR dapat disebut sebagai “sastrawan Riau.” Penyusun memang telah memberi penjelasan prihal ini dalam pengantar, dengan kategori: lahir di Riau, atau tinggal di Riau, atau yang pernah mengenyam aura negeri Riau dengan bertempat tinggal beberapa masa di Riau. Pada prinsipnya, saya turut sepakat dengan kategori tersebut. Meskipun, harus juga dilihat apakah sastrawan tersebut juga melakukan proses menulis di Riau, dan ikut “mengalami” pergerakan sastra (di) Riau. Nama Sariamin Ismail (hal. 87) misalnya, dari keterangan biografinya, agak ragu bagi kita apakah ia bisa dikatakan sebagai sastrawan Riau.
Sementara ia lahir di Pasaman, jadi guru di Bengkulu dan Bukittinggi. Keterangan bahwa “terakhir bermukim di Pekanbaru, dan punya kegemaran memelihara bunga” tak dapat menunjukkan indikasi yang akurat dan kuat bahwa ia dapat dikatakan sebagai sastrawan Riau. Meskipun misalnya banyak orang dari generasi Sariamin mengatakan bahwa ia memang benar sastrawan Riau, tapi jika merujuk ke buku LSR, pernyataan itu sulit dibenarkan.
Selain Sariamin, ada nama Aldian Arifin (hal. 6), yang bagi saya, juga sulit untuk mengindikasikan bahwa ia adalah sastrawan Riau. Terutama karena sejumlah data utama menunjukkan ia lebih cenderung ke Sumatera Utara. Selain itu, hemat saya, penting juga bagi penyusun untuk memberi penjelasan lebih kuat tentang kenapa para sastrawan dari Kepulauan Riau juga masuk dalam buku ini.
Saya kira, terlepas dari berbagai tema diskusi yang saya suguhkan di atas, saya hendak mengapresiasi bahwa boleh jadi penyusun buku LSR ini sedang hendak memperlihatkan panorama (atau mungkin dinamika) perkembangan sastra Riau itu. Jika kita semua yakin bahwa mereka yang tercatat dalam LSR ini adalah para sastrawan Riau, maka hari ini, saat ini, kita patut berbangga sekaligus bersedih. Kenapa? Bangga karena rupanya demikian ramai sastrawan kita, demikian semarak dunia sastra kita. Bersedih, karena kita harus bertanya, di manakah (karya-karya) sebagian dari mereka kini?***
SPN Marhalim Zaini, SSn, menulis dalam berbagai genre. Sepuluh bukunya telah terbit. Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan Portugal. Terpilih sebagai 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 dan 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 oleh Anugerah Pena Kencana. Diundang baca karya pada International Literary Biennale 2005 dan Ubud Writers and Readers Faetival 2007. Kini berkhidmat sebagai Kepala Sekolah Menulis Paragraf.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Marhalim Zaini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marhalim Zaini. Tampilkan semua postingan
16/03/11
28/09/10
Bagaimana Memotivasi Diri untuk Terus Menulis?
Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/
JUDUL tulisan ini, adalah juga pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang penulis pemula yang mengirimkan karyanya ke Xpresi. Agaknya sobat kita ini sedang merasa stagnasi dalam menulis. Atau tiba-tiba merasa bahwa proses kreatif menulis yang dia jalani tidak “memberikan apapun” padanya. Atau, karena sebab-sebab yang lain, sehingga ia “malas” untuk kembali menulis.
Adik-adik, ini namanya penyakit. Dan penyakit sejenis ini, memang kerap menjangkiti banyak penulis kita, terutama mereka yang belum “mantap” pilihan hidupnya untuk menjadi seorang penulis. Tentu, penulis pemula adalah sasaran empuk penyakit ini. Tapi, tak sedikit pula, para penulis “yang sudah jadi” berguguran, berhenti menulis.
Saya kira, tiap penyakit tentu ada obatnya. Namun sebelum kita mencari obatnya, kita harus tahu dulu indikasi-indikasi yang menyebabkan seorang penulis kehilangan motivasi untuk menulis, dan memilih untuk berpaling. Indikasi itu bisa kita lacak dari berbagai sisi. Misalnya, yang paling banyak dialami adalah, ketika ia merasa bahwa dunia menulis tak dapat memberi “jaminan” ekonomis padanya.
Sebab lain, bisa jadi karena merasa tulisan-tulisannya tidak mendapat apresiasi (sebagaimana yang diharapkan) dari pembaca, juga kerap ditolak media massa. Dengan begitu, ia kecewa dan merasa bahwa tulisannya tak berguna bagi orang lain. Sebab lain lagi, bisa jadi juga karena ia merasa dunia menulis itu adalah dunia yang sepi, yang tak banyak diminati orang, dan lalu tergoda dengan dunia yang lain, yang lebih populer dan massif.
Nah, indikasi-indikasi itu bisa bertambah. Sebab tiap orang tentu memiliki problem-problem yang berbeda. Namun, jika kita mau sedikit bersabar dan terus belajar, saya kira kita pun segera menemukan berbagai kiat dan aktivitas yang bisa memotivasi kita untuk kembali menulis. Apa itu?
Di antaranya, bergabunglah dengan berbagai komunitas menulis. Dunia sepi, bisa akan terobati jika kita bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat dan profesi serupa dengan kita.
Di sana, kita berdiskusi, bertukar informasi, dan saling mengkritisi karya. Atau, datanglah kepada para penulis yang “mapan”, berbincang-bincang, atau melihat bagaimana proses kreatif dia menulis, serap energinya dengan menggali pengalaman-pengalamannya.
Jika tidak ada komunitas, kenapa tidak kita buat komunitas sendiri. Kumpulkan beberapa kawan yang gemar membaca dan menulis. Tak perlu ramai, tiga atau lima orang saja cukup. Buatlah pertemuan-pertemuan rutin, membahas karya. Saya kira, segera kita akan termotivasi untuk menulis, jika kita membaca karya kawan-kawan kita itu. Boleh juga membuat agenda-agenda lain, yang sifatnya membangkitkan motivasi.
Selain itu, satu kiat yang paling mudah adalah membaca buku, membaca karya orang lain yang termuat di media massa. Berkunjung ke toko buku atau ke perpustakaan harus diagendakan tiap minggu, untuk menjaga semangat dan energi kita dalam menulis.
Motivasi pun akan terus terjaga, jika kita kembali bertanya pada diri kita sendiri, benarkah niat kita untuk menjadi penulis? Sudah mantapkah niat itu, atau cuma sekedar ikut-ikutan? Tak akan ada yang berhasil jika dikerjakan dengan setengah-setengah, bukan?
Baiklah, mari kita simak karya kawan-kawan kita edisi ini. Ada Yusparizal dengan cerpen “Telat Seminggu.” Ceritanya dituturkan dengan lancar dengan plot linier. Konflik-konfliknya meski belum terasa mendalam, tetap bisa kita nikmati. Agaknya, Yusparizal ke depan harus berani mengangkat tema-tema lain yang jarang disentuh oleh penulis lain. Atau tema sederhana, tapi dengan cara menulis yang berbeda.
Puisi, “Derap Sang Penerjang” karya Resty Zuliyanti. Puisi yang cukup panjang ini memang terasa belum kokoh susunan diksinya. Terasa juga melompat-lompat, terutama dalam membangun metafora. Meski, kita cukup paham apa yang hendak disampaikan oleh Resty. Puisi lain, ada Wari Rahmawati, “Kau yang Tidak Menjawab.” Sebuah puisi naratif yang sederhana. Agaknya, perlu diperkuat pencarian metaforanya, dengan pencitraan-pencitraan. Sehingga puisinya tidak terasa menggantung.
Puisi berikut “Sang Bintang” karya Muhammad Hadi. Antara satu bait dengan bait berikutnya, masih terasa berjarak. Tidak padu. Bait pertama yang cukup imajis itu, mestinya dipertahankan pada bait-bait berikutnya. Hanya saja, saya suka dengan penutup puisi ini, “aku ingin bintang tetap tinggi/ meski dilirik rendah/ dari genangan air.” Puisi “Membaca Hari” karya Zulkarnaen, cukup kuat membangun diksi, juga irama. Repetisi (pengulangan) pada diksi tertentu, cukup memberi penegasan atas makna. Tentu, Zul harus terus menggali perbendaharaan kata, agar puisinya kaya.
Dua puisi terakhir, “Tangisan Anak Bulan” karya Riza Rizki, dan “Air Mata” karya May Moon Nasution. Riza kadang bisa menghadirkan imaji yang kuat dalam puisinya, meski kadang tak bisa bertahan sampai akhir. Tema kepedihan sosial yang diangkat, hampir terasa juga pada puisi May. Meski May lebih lugas memberi penekanan pada rasa marah dan kecewa.***
http://www.riaupos.com/
JUDUL tulisan ini, adalah juga pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang penulis pemula yang mengirimkan karyanya ke Xpresi. Agaknya sobat kita ini sedang merasa stagnasi dalam menulis. Atau tiba-tiba merasa bahwa proses kreatif menulis yang dia jalani tidak “memberikan apapun” padanya. Atau, karena sebab-sebab yang lain, sehingga ia “malas” untuk kembali menulis.
Adik-adik, ini namanya penyakit. Dan penyakit sejenis ini, memang kerap menjangkiti banyak penulis kita, terutama mereka yang belum “mantap” pilihan hidupnya untuk menjadi seorang penulis. Tentu, penulis pemula adalah sasaran empuk penyakit ini. Tapi, tak sedikit pula, para penulis “yang sudah jadi” berguguran, berhenti menulis.
Saya kira, tiap penyakit tentu ada obatnya. Namun sebelum kita mencari obatnya, kita harus tahu dulu indikasi-indikasi yang menyebabkan seorang penulis kehilangan motivasi untuk menulis, dan memilih untuk berpaling. Indikasi itu bisa kita lacak dari berbagai sisi. Misalnya, yang paling banyak dialami adalah, ketika ia merasa bahwa dunia menulis tak dapat memberi “jaminan” ekonomis padanya.
Sebab lain, bisa jadi karena merasa tulisan-tulisannya tidak mendapat apresiasi (sebagaimana yang diharapkan) dari pembaca, juga kerap ditolak media massa. Dengan begitu, ia kecewa dan merasa bahwa tulisannya tak berguna bagi orang lain. Sebab lain lagi, bisa jadi juga karena ia merasa dunia menulis itu adalah dunia yang sepi, yang tak banyak diminati orang, dan lalu tergoda dengan dunia yang lain, yang lebih populer dan massif.
Nah, indikasi-indikasi itu bisa bertambah. Sebab tiap orang tentu memiliki problem-problem yang berbeda. Namun, jika kita mau sedikit bersabar dan terus belajar, saya kira kita pun segera menemukan berbagai kiat dan aktivitas yang bisa memotivasi kita untuk kembali menulis. Apa itu?
Di antaranya, bergabunglah dengan berbagai komunitas menulis. Dunia sepi, bisa akan terobati jika kita bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat dan profesi serupa dengan kita.
Di sana, kita berdiskusi, bertukar informasi, dan saling mengkritisi karya. Atau, datanglah kepada para penulis yang “mapan”, berbincang-bincang, atau melihat bagaimana proses kreatif dia menulis, serap energinya dengan menggali pengalaman-pengalamannya.
Jika tidak ada komunitas, kenapa tidak kita buat komunitas sendiri. Kumpulkan beberapa kawan yang gemar membaca dan menulis. Tak perlu ramai, tiga atau lima orang saja cukup. Buatlah pertemuan-pertemuan rutin, membahas karya. Saya kira, segera kita akan termotivasi untuk menulis, jika kita membaca karya kawan-kawan kita itu. Boleh juga membuat agenda-agenda lain, yang sifatnya membangkitkan motivasi.
Selain itu, satu kiat yang paling mudah adalah membaca buku, membaca karya orang lain yang termuat di media massa. Berkunjung ke toko buku atau ke perpustakaan harus diagendakan tiap minggu, untuk menjaga semangat dan energi kita dalam menulis.
Motivasi pun akan terus terjaga, jika kita kembali bertanya pada diri kita sendiri, benarkah niat kita untuk menjadi penulis? Sudah mantapkah niat itu, atau cuma sekedar ikut-ikutan? Tak akan ada yang berhasil jika dikerjakan dengan setengah-setengah, bukan?
Baiklah, mari kita simak karya kawan-kawan kita edisi ini. Ada Yusparizal dengan cerpen “Telat Seminggu.” Ceritanya dituturkan dengan lancar dengan plot linier. Konflik-konfliknya meski belum terasa mendalam, tetap bisa kita nikmati. Agaknya, Yusparizal ke depan harus berani mengangkat tema-tema lain yang jarang disentuh oleh penulis lain. Atau tema sederhana, tapi dengan cara menulis yang berbeda.
Puisi, “Derap Sang Penerjang” karya Resty Zuliyanti. Puisi yang cukup panjang ini memang terasa belum kokoh susunan diksinya. Terasa juga melompat-lompat, terutama dalam membangun metafora. Meski, kita cukup paham apa yang hendak disampaikan oleh Resty. Puisi lain, ada Wari Rahmawati, “Kau yang Tidak Menjawab.” Sebuah puisi naratif yang sederhana. Agaknya, perlu diperkuat pencarian metaforanya, dengan pencitraan-pencitraan. Sehingga puisinya tidak terasa menggantung.
Puisi berikut “Sang Bintang” karya Muhammad Hadi. Antara satu bait dengan bait berikutnya, masih terasa berjarak. Tidak padu. Bait pertama yang cukup imajis itu, mestinya dipertahankan pada bait-bait berikutnya. Hanya saja, saya suka dengan penutup puisi ini, “aku ingin bintang tetap tinggi/ meski dilirik rendah/ dari genangan air.” Puisi “Membaca Hari” karya Zulkarnaen, cukup kuat membangun diksi, juga irama. Repetisi (pengulangan) pada diksi tertentu, cukup memberi penegasan atas makna. Tentu, Zul harus terus menggali perbendaharaan kata, agar puisinya kaya.
Dua puisi terakhir, “Tangisan Anak Bulan” karya Riza Rizki, dan “Air Mata” karya May Moon Nasution. Riza kadang bisa menghadirkan imaji yang kuat dalam puisinya, meski kadang tak bisa bertahan sampai akhir. Tema kepedihan sosial yang diangkat, hampir terasa juga pada puisi May. Meski May lebih lugas memberi penekanan pada rasa marah dan kecewa.***
29/01/10
Belajar Bercinta dengan Laut
Marhalim Zaini
Koran Tempo, Minggu, 19 Juni 2005
Segala yang datang dari laut, cintailah.
Tentang perjalanan. Tentang hidup yang tak terukur. Dan sesuatu yang tiba-tiba membuat kita merasa tidak lengkap. Di mana ia? Seorang saja yang hilang, pasti hati kita lengang. Kehilangan itu kian akrab. Seakrab kematian. Dan laut, selalu menyimpan ketakterdugaan. Ia, lelaki yang pergi bersama subuh. Aku, perempuan yang menanti seperti luluh. Kami, sepasang kekasih, yang disebabkan laut, maka harus melepas pagut.
Ini bekas barut perahumu. Apa yang tertulis di pasir, itulah yang kutunggu. Ingat, akulah ibu untuk calon anak-anakmu kelak. Bukankah telah kautanam di batas pantai, sebuah janji? Bahwa kepulanganmu adalah pasti. Aku perempuan yang tak ingin diingkari, menatap laut yang tak berbatas di matamu, seperti mimpi yang tak bertepi. Apakah kita sedang bermimpi? Tidak. Perasaanku adalah saksi. Sewaktu kau menyerah pada laut, dan membiarkan tangannya membawamu, aku sebenarnya sedang belajar mengekalkan kecupan selamat tinggalmu di hatiku. Belajar memahami kerelaan seorang ibu saat melepas anak-anaknya pergi, dan rela menerima kapanpun mereka kembali.
Dan ketahuilah, aku berhasil. Sebagai seorang perempuan kampung yang sederhana, keberhasilan ini bagiku sungguh menakjubkan. Aku tidak lagi menangis. Aku pun telah berhasil mengekalkan air mata menjadi butiran tawa anak-anak yang berlarian mengejar kupu-kupu di bawah rumah panggung. Kalaupun aku menangis, adalah tangisan yang tak sebenarnya. Dan itu hanya sebagai senjata untuk kemudian memenangkan permainan secara telak. Bukankah selalu ada permakluman bagi mereka yang menangis?
Demikianlah, kau kukekalkan. Segalanya yang sempat kukenang. Dan hidup di tepian ini, tak banyak yang dapat kuberi nama pada setiap yang singgah, selain laut yang selalu menyimpan ketakterdugaan. Dan aku yakin, kau di sana. Aku sering mencuri kabar dari mulut-mulut para pelaut yang singgah, bahwa kau masih di sana. Di suatu tempat yang terlampau asing untuk disebut. Dan di sana, tidak ada perempuan, katanya. Tak ada perempuan yang sepertiku. Berkebaya, berambut panjang, berselendang, lembut, ramah, dan selalu memandang ke bawah sambil menyembunyikan senyum simpul yang menawan. Benarkah? Kalau begitu, aku tentu tak perlu merasa cemburu. Dan tidak ada gunanya cemburu. Laut begitu luas untuk bisa dicemburui.
Maka, cukuplah aku tahu bahwa kau masih di sana. Dan mereka percaya padaku. Anak-anak itu percaya padaku. Kau ingat, anak-anak yang selalu mengganggu saat kita duduk berdua di pohon kelapa tumbang menghadap ke laut? Anak-anak itu kini telah berkeluarga. Dan anak-anak yang sedang duduk bersila di depanku ini, yang demikian percaya dengan segala kisah-kisahku tentangmu, adalah anak-anak yang dilahirkan dari anak-anak yang dulu mengganggu kita itu. Mereka memanggil aku nenek. Lucu kan? Tanpa perkawinan pun rupanya orang bisa saja memiliki cucu. Dan aku semakin yakin, bahwa kau telah benar-benar kukekalkan. Bahkan jika aku pun kelak telah dikekalkan oleh waktu, anak-anak ini akan selalu mengekalkan kisahmu di ingatannya.
“Jadi, Hang Jebat itu kekasih nenek?”
Mereka anak-anak cerdas. Dan aku seorang tua yang kian renta. Pertanyaan mereka yang lugas harus kujawab dengan terbata-bata. Tapi, sebagai seorang nenek yang baik, dan sebagai seorang perempuan tua yang sangat ingin kisahnya didengarkan, aku tak pernah memberi jawaban yang membuat mereka kecewa. Aku takut mereka merajuk, dan tak lagi mau mendengarkan ceritaku.
“Hang Jebat itu seorang pelaut. Sedangkan nenek hanya seorang gadis kampung yang sederhana. Kami bertemu saat orang tua kalian masih seusia kalian. Nenek kan pintar mengaji. Dan Hang Jebat seorang lelaki yang sangat suka belajar. Neneklah yang mengajarinya mengaji. Dan apakah kalian suka belajar? Kalau kalian mau pintar, ya harus rajin belajar.”
“Nenek pernah dicium Hang Jebat?”
Huss! Apa pertanyaan semacam ini pantas aku jawab? Dan apakah pertanyaan itu memang pantas ditanyakan oleh anak-anak seumur mereka? Aku gamang. Anak-anak yang lebih cepat dewasa dibanding umurnya. Dan untunglah aku belum sempat kawin dan memiliki anak. Barangkali, anak-anakku baru akan terlahir setelah aku tak bisa lagi mengucapkan nama-namanya. Anak-anakku akan terlahir dari kisah-kisahku yang tak pernah berakhir. Dan mereka, tentu sangat suka berlayar. Suka belajar. Sebab laut adalah Ayah mereka (yang selalu mendenyarkan debar).
Seperti anak ayam yang pulang ke kandang, azan magriblah yang memanggil mereka pulang. Di kepala mereka telah dikekalkan sebuah ingatan. Aku bahagia. Rupanya kebahagiaan seorang nenek adalah saat cucu-cucunya datang mengunjunginya, dan dengan riang meminta didongengkan tentang masa lampau, tentang kenangan-kenangan, lalu pulang dengan ingatan-ingatan yang dikekalkan. Dan kebahagiaan terbesar adalah saat timbul rasa penasaran dalam diri mereka dan kemudian dengan rasa keingintahuan yang besar mereka bertanya tentang, “Lalu, Nenek bagaimana?” Tentu, mereka tak mau mendengar sosok hero mereka lemah dan terkalahkan, “Ah, nenek ini kan gadis kampung yang sederhana. Tapi karena nenek orangnya memang suka belajar, ya tidak ada yang tidak bisa dilakukan selagi kita punya kemauan. Dan nenek belajar dari laut. Kalian tahu, laut itu kaya ilmu. Laut membuat pandangan kita menjadi lebih luas. Dan saat memandangnya, kita menjadi tahu, bahwa hidup kita itu terbatas. Karena tahu hidup kita terbatas, maka kita tidak boleh sombong.”
“Jadi Hang Jebat itu, menuntut ilmu di laut ya Nek?”
“Ya. Dan karena laut itu demikian luas, maka tentu saja membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa mempelajari semua ilmu-ilmunya. Dan Hang Jebat adalah seorang lelaki tangguh. Ia takkan pernah berhenti, sebelum mendapatkan apa yang dicarinya. Dan kalian, jadilah anak-anak yang tangguh ya…”
Anak-anak itu menganggukkan kepala dengan cepat dan serempak. Aku tersenyum, seperti melihat boneka-boneka yang hidup. Selepas itu mereka tampak demikian kegirangan. Mereka turun tangga rumahku sambil mengacungkan tangan-tangan kecilnya ke langit dan meneriakkan, “Akulah Hang Jebat! Akulah Hang Jebat!” Dan gaung suara mereka kian jauh, terbawa angin laut pada senja yang lepuh.
Sejak itu, setiap petang datang hanya mengabarkan lengang. Aku heran, kenapa anak-anak itu tak lagi bertandang ke rumahku. Aku merasa kisah-kisahku belum seluruhnya habis kuceritakan. Apakah mereka tak tertarik lagi dengan ceritaku? Atau, mereka telah menemukan seseorang yang lain, yang bisa menyampaikan cerita-cerita yang lebih hebat dan lebih memikat? Tapi setahuku, tak ada orang tua lain di kampung ini yang memiliki kisah dan nasib badan sehebat aku. Mereka semua punya keluarga. Mereka kawin, punya anak, punya cucu. Mereka semua hidup dengan masa lampau yang lengkap. Masa depan yang gampang ditangkap. Akulah satu-satunya seorang tua yang masih tahan belajar bersabar. Belajar menunda waktu dengan menunggu dan menunggu. Banyak dari mereka yang seumurku telah pikun. Jangankan untuk mengingat masa lampau, mengingat di mana letak kacamata yang menempel di matanya saja mereka tidak bisa. Diam-diam aku sebenarnya bangga. Bahwa inilah rupanya pelajaran berharga itu. Mengingat dan menunggu sesuatu yang datangnya dari laut, membuat aku terhindar dari penyakit lupa. Terima kasih, kekasih…
Tapi ke mana anak-anak itu? Aku harus menyelesaikan sejumlah ingatan lain yang masih tersisa, untuk segera kukekalkan di ingatan mereka. Mereka adalah harapanku. Aku merasa tak yakin dengan sisa usia yang memutih di rambutku ini, dapat bertahan untuk waktu yang agak panjang. Hidup seperti telah menuntut sesuatu yang lain dari nafasnya yang patah-patah di dadaku. Dan pada mereka, anak-anak yang belia, hidup masih sesegar tunas daun-daun jambu saat hijaunya basah oleh sapuan embun pagi. Aku memang harus bergegas. Belajar dengan kesungguhan yang lebih tinggi. Menyelesaikan segalanya, dan menyerahkannya kembali pada laut. Tapi, apakah segalanya akan selesai?
Gaung suara anak-anak itu, lamat-lamat seperti dapat kutangkap. “Akulah Hang Jebat! Akulah Hang Jebat!” Tapi di mana mereka? Tak kudengar suara kaki-kaki mereka yang berlari menuju kemari. Debu-debu jalan setapak itu, yang biasanya membuat ingus mereka menghitam di wajahnya, tak juga kulihat berterbangan di udara petang. Kulit tebu, ampas tebu, daun-daun ubi kayu, reranting patah ubi kayu, dan sobekan kertas layang-layang, sobekan kertas perahu mainan, buah congkak karet, buah semunting, tak lagi kulihat berserak di bawah tangga rumahku. Padahal aku paling suka jika mereka datang dengan sampah-sampah itu. Setiap pagi aku bisa mendengarkan suara sapu lidiku sendiri, mengumpulkan satu-persatu sampah-sampah itu. Bagiku, inilah kenikmatan pagi. Saat sebuah pekerjaan dapat kutuntaskan sendiri, dan melihat halaman rumahku bersih kembali. Bukankah kita terbiasa ingin melihat sebuah pagi yang bersih?
Ah, sunyi juga rasanya. Gaung itu kukira juga adalah gaung kesunyian yang terngiang-ngiang di telingaku. Beginilah agaknya, perasaan seseorang yang telah sekian lama belajar pada kesunyian. Ia sangat peka terhadap bunyi. Bahkan hanya untuk sebuah gaung. Engkau, apakah juga masih sedang belajar pada kesunyian? Apakah laut bergemuruh itu, masih menyisakan kesunyian? Belum juga usai kau mempelajarinya? Ingat, akulah ibu untuk calon anak-anakmu kelak. Jangan biarkan janjimu di batas pantai itu berubah. Aku lihat, abrasi memang telah menggeser garis pantai itu. Sudah lama aku tak ke pantai. Dan mungkin batasnya sudah sangat jauh bergeser. Bakau-bakaunya, pasti sudah serupa gigiku ini, ompong. Pohon-pohon kelapanya, yang dulu condong, kini pastilah telah tumbang. Aku cemas, kau kembali pada saat semuanya telah hanyut. Aku takut, kau kembali pada saat semuanya telah tiada.
Tapi, suara apa itu? Dari bingkai jendela yang setengah terbuka, mataku yang tua hanya mampu melihat debu-debu jalan yang mengepul ke udara. Ah, anak-anak itu kembali? Tapi ini hari masih pagi. Apakah mereka tidak sekolah? Tapi, bukan. Aku kira itu serombongan orang-orang yang sepertinya aku kenal. Mereka berbelok ke arahku. Benar, mereka adalah tetangga-tetanggaku. Mereka sepertinya adalah para orang tua dari anak-anak yang setiap petang mendengarkan kisahku. Dan mereka adalah anak-anak yang dulu sering mengganggu saat kami duduk berdua di atas batang pohon kelapa tumbang menghadap ke laut. Tapi, ada apa?
“Ajaran apa yang telah kautanamkan di kepala anak-anak kami, Nek Tun?”
“Ya. Setiap petang datang, sepulang sekolah, mereka langsung berlari ke arah laut.”
“Dan kini, tak hanya setiap petang, tapi setiap hari, dari pagi sampai petang mereka di laut. Mereka malas sekolah. Mulutnya meracau tak tentu arah. Hang Jebat, Hang Jebat, nama itu terus yang mereka teriakkan.”
“Janganlah pula anak-anak kami jadi sasaran dendammu pada kekasihmu Hang Jebat yang tak setia itu, Nek Tun!”
Satu hal yang terbaik bagiku kini adalah diam. Mereka nampaknya mengamuk. Apakah aku harus bertanggungjawab terhadap anak-anak mereka yang tak mau sekolah? Aku hanya bercerita. Itu saja. Apakah itu salah? Lalu, sebenarnya kenapa anak-anak itu lebih betah memandang laut, aku sendiri tak tahu sebabnya. Aku tak pernah mengajarkan pada mereka untuk jadi seperti Hang Jebat. Aku hanya meminta mereka untuk jadi anak-anak yang tangguh. Tapi, aku kira, mereka adalah anak-anak yang tangguh. Dan mereka kini tahu, bahwa laut kaya ilmu. Mereka mulai belajar bercinta dengan laut. Maafkan, jika aku telah berhasil mengekalkan ingatan-ingatan pada mereka. Dan kau Hang Jebat, kembalilah. Biarkan anak-anak ini yang menggantikanmu…***
Pekanbaru, 2005.
Koran Tempo, Minggu, 19 Juni 2005
Segala yang datang dari laut, cintailah.
Tentang perjalanan. Tentang hidup yang tak terukur. Dan sesuatu yang tiba-tiba membuat kita merasa tidak lengkap. Di mana ia? Seorang saja yang hilang, pasti hati kita lengang. Kehilangan itu kian akrab. Seakrab kematian. Dan laut, selalu menyimpan ketakterdugaan. Ia, lelaki yang pergi bersama subuh. Aku, perempuan yang menanti seperti luluh. Kami, sepasang kekasih, yang disebabkan laut, maka harus melepas pagut.
Ini bekas barut perahumu. Apa yang tertulis di pasir, itulah yang kutunggu. Ingat, akulah ibu untuk calon anak-anakmu kelak. Bukankah telah kautanam di batas pantai, sebuah janji? Bahwa kepulanganmu adalah pasti. Aku perempuan yang tak ingin diingkari, menatap laut yang tak berbatas di matamu, seperti mimpi yang tak bertepi. Apakah kita sedang bermimpi? Tidak. Perasaanku adalah saksi. Sewaktu kau menyerah pada laut, dan membiarkan tangannya membawamu, aku sebenarnya sedang belajar mengekalkan kecupan selamat tinggalmu di hatiku. Belajar memahami kerelaan seorang ibu saat melepas anak-anaknya pergi, dan rela menerima kapanpun mereka kembali.
Dan ketahuilah, aku berhasil. Sebagai seorang perempuan kampung yang sederhana, keberhasilan ini bagiku sungguh menakjubkan. Aku tidak lagi menangis. Aku pun telah berhasil mengekalkan air mata menjadi butiran tawa anak-anak yang berlarian mengejar kupu-kupu di bawah rumah panggung. Kalaupun aku menangis, adalah tangisan yang tak sebenarnya. Dan itu hanya sebagai senjata untuk kemudian memenangkan permainan secara telak. Bukankah selalu ada permakluman bagi mereka yang menangis?
Demikianlah, kau kukekalkan. Segalanya yang sempat kukenang. Dan hidup di tepian ini, tak banyak yang dapat kuberi nama pada setiap yang singgah, selain laut yang selalu menyimpan ketakterdugaan. Dan aku yakin, kau di sana. Aku sering mencuri kabar dari mulut-mulut para pelaut yang singgah, bahwa kau masih di sana. Di suatu tempat yang terlampau asing untuk disebut. Dan di sana, tidak ada perempuan, katanya. Tak ada perempuan yang sepertiku. Berkebaya, berambut panjang, berselendang, lembut, ramah, dan selalu memandang ke bawah sambil menyembunyikan senyum simpul yang menawan. Benarkah? Kalau begitu, aku tentu tak perlu merasa cemburu. Dan tidak ada gunanya cemburu. Laut begitu luas untuk bisa dicemburui.
Maka, cukuplah aku tahu bahwa kau masih di sana. Dan mereka percaya padaku. Anak-anak itu percaya padaku. Kau ingat, anak-anak yang selalu mengganggu saat kita duduk berdua di pohon kelapa tumbang menghadap ke laut? Anak-anak itu kini telah berkeluarga. Dan anak-anak yang sedang duduk bersila di depanku ini, yang demikian percaya dengan segala kisah-kisahku tentangmu, adalah anak-anak yang dilahirkan dari anak-anak yang dulu mengganggu kita itu. Mereka memanggil aku nenek. Lucu kan? Tanpa perkawinan pun rupanya orang bisa saja memiliki cucu. Dan aku semakin yakin, bahwa kau telah benar-benar kukekalkan. Bahkan jika aku pun kelak telah dikekalkan oleh waktu, anak-anak ini akan selalu mengekalkan kisahmu di ingatannya.
“Jadi, Hang Jebat itu kekasih nenek?”
Mereka anak-anak cerdas. Dan aku seorang tua yang kian renta. Pertanyaan mereka yang lugas harus kujawab dengan terbata-bata. Tapi, sebagai seorang nenek yang baik, dan sebagai seorang perempuan tua yang sangat ingin kisahnya didengarkan, aku tak pernah memberi jawaban yang membuat mereka kecewa. Aku takut mereka merajuk, dan tak lagi mau mendengarkan ceritaku.
“Hang Jebat itu seorang pelaut. Sedangkan nenek hanya seorang gadis kampung yang sederhana. Kami bertemu saat orang tua kalian masih seusia kalian. Nenek kan pintar mengaji. Dan Hang Jebat seorang lelaki yang sangat suka belajar. Neneklah yang mengajarinya mengaji. Dan apakah kalian suka belajar? Kalau kalian mau pintar, ya harus rajin belajar.”
“Nenek pernah dicium Hang Jebat?”
Huss! Apa pertanyaan semacam ini pantas aku jawab? Dan apakah pertanyaan itu memang pantas ditanyakan oleh anak-anak seumur mereka? Aku gamang. Anak-anak yang lebih cepat dewasa dibanding umurnya. Dan untunglah aku belum sempat kawin dan memiliki anak. Barangkali, anak-anakku baru akan terlahir setelah aku tak bisa lagi mengucapkan nama-namanya. Anak-anakku akan terlahir dari kisah-kisahku yang tak pernah berakhir. Dan mereka, tentu sangat suka berlayar. Suka belajar. Sebab laut adalah Ayah mereka (yang selalu mendenyarkan debar).
Seperti anak ayam yang pulang ke kandang, azan magriblah yang memanggil mereka pulang. Di kepala mereka telah dikekalkan sebuah ingatan. Aku bahagia. Rupanya kebahagiaan seorang nenek adalah saat cucu-cucunya datang mengunjunginya, dan dengan riang meminta didongengkan tentang masa lampau, tentang kenangan-kenangan, lalu pulang dengan ingatan-ingatan yang dikekalkan. Dan kebahagiaan terbesar adalah saat timbul rasa penasaran dalam diri mereka dan kemudian dengan rasa keingintahuan yang besar mereka bertanya tentang, “Lalu, Nenek bagaimana?” Tentu, mereka tak mau mendengar sosok hero mereka lemah dan terkalahkan, “Ah, nenek ini kan gadis kampung yang sederhana. Tapi karena nenek orangnya memang suka belajar, ya tidak ada yang tidak bisa dilakukan selagi kita punya kemauan. Dan nenek belajar dari laut. Kalian tahu, laut itu kaya ilmu. Laut membuat pandangan kita menjadi lebih luas. Dan saat memandangnya, kita menjadi tahu, bahwa hidup kita itu terbatas. Karena tahu hidup kita terbatas, maka kita tidak boleh sombong.”
“Jadi Hang Jebat itu, menuntut ilmu di laut ya Nek?”
“Ya. Dan karena laut itu demikian luas, maka tentu saja membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa mempelajari semua ilmu-ilmunya. Dan Hang Jebat adalah seorang lelaki tangguh. Ia takkan pernah berhenti, sebelum mendapatkan apa yang dicarinya. Dan kalian, jadilah anak-anak yang tangguh ya…”
Anak-anak itu menganggukkan kepala dengan cepat dan serempak. Aku tersenyum, seperti melihat boneka-boneka yang hidup. Selepas itu mereka tampak demikian kegirangan. Mereka turun tangga rumahku sambil mengacungkan tangan-tangan kecilnya ke langit dan meneriakkan, “Akulah Hang Jebat! Akulah Hang Jebat!” Dan gaung suara mereka kian jauh, terbawa angin laut pada senja yang lepuh.
Sejak itu, setiap petang datang hanya mengabarkan lengang. Aku heran, kenapa anak-anak itu tak lagi bertandang ke rumahku. Aku merasa kisah-kisahku belum seluruhnya habis kuceritakan. Apakah mereka tak tertarik lagi dengan ceritaku? Atau, mereka telah menemukan seseorang yang lain, yang bisa menyampaikan cerita-cerita yang lebih hebat dan lebih memikat? Tapi setahuku, tak ada orang tua lain di kampung ini yang memiliki kisah dan nasib badan sehebat aku. Mereka semua punya keluarga. Mereka kawin, punya anak, punya cucu. Mereka semua hidup dengan masa lampau yang lengkap. Masa depan yang gampang ditangkap. Akulah satu-satunya seorang tua yang masih tahan belajar bersabar. Belajar menunda waktu dengan menunggu dan menunggu. Banyak dari mereka yang seumurku telah pikun. Jangankan untuk mengingat masa lampau, mengingat di mana letak kacamata yang menempel di matanya saja mereka tidak bisa. Diam-diam aku sebenarnya bangga. Bahwa inilah rupanya pelajaran berharga itu. Mengingat dan menunggu sesuatu yang datangnya dari laut, membuat aku terhindar dari penyakit lupa. Terima kasih, kekasih…
Tapi ke mana anak-anak itu? Aku harus menyelesaikan sejumlah ingatan lain yang masih tersisa, untuk segera kukekalkan di ingatan mereka. Mereka adalah harapanku. Aku merasa tak yakin dengan sisa usia yang memutih di rambutku ini, dapat bertahan untuk waktu yang agak panjang. Hidup seperti telah menuntut sesuatu yang lain dari nafasnya yang patah-patah di dadaku. Dan pada mereka, anak-anak yang belia, hidup masih sesegar tunas daun-daun jambu saat hijaunya basah oleh sapuan embun pagi. Aku memang harus bergegas. Belajar dengan kesungguhan yang lebih tinggi. Menyelesaikan segalanya, dan menyerahkannya kembali pada laut. Tapi, apakah segalanya akan selesai?
Gaung suara anak-anak itu, lamat-lamat seperti dapat kutangkap. “Akulah Hang Jebat! Akulah Hang Jebat!” Tapi di mana mereka? Tak kudengar suara kaki-kaki mereka yang berlari menuju kemari. Debu-debu jalan setapak itu, yang biasanya membuat ingus mereka menghitam di wajahnya, tak juga kulihat berterbangan di udara petang. Kulit tebu, ampas tebu, daun-daun ubi kayu, reranting patah ubi kayu, dan sobekan kertas layang-layang, sobekan kertas perahu mainan, buah congkak karet, buah semunting, tak lagi kulihat berserak di bawah tangga rumahku. Padahal aku paling suka jika mereka datang dengan sampah-sampah itu. Setiap pagi aku bisa mendengarkan suara sapu lidiku sendiri, mengumpulkan satu-persatu sampah-sampah itu. Bagiku, inilah kenikmatan pagi. Saat sebuah pekerjaan dapat kutuntaskan sendiri, dan melihat halaman rumahku bersih kembali. Bukankah kita terbiasa ingin melihat sebuah pagi yang bersih?
Ah, sunyi juga rasanya. Gaung itu kukira juga adalah gaung kesunyian yang terngiang-ngiang di telingaku. Beginilah agaknya, perasaan seseorang yang telah sekian lama belajar pada kesunyian. Ia sangat peka terhadap bunyi. Bahkan hanya untuk sebuah gaung. Engkau, apakah juga masih sedang belajar pada kesunyian? Apakah laut bergemuruh itu, masih menyisakan kesunyian? Belum juga usai kau mempelajarinya? Ingat, akulah ibu untuk calon anak-anakmu kelak. Jangan biarkan janjimu di batas pantai itu berubah. Aku lihat, abrasi memang telah menggeser garis pantai itu. Sudah lama aku tak ke pantai. Dan mungkin batasnya sudah sangat jauh bergeser. Bakau-bakaunya, pasti sudah serupa gigiku ini, ompong. Pohon-pohon kelapanya, yang dulu condong, kini pastilah telah tumbang. Aku cemas, kau kembali pada saat semuanya telah hanyut. Aku takut, kau kembali pada saat semuanya telah tiada.
Tapi, suara apa itu? Dari bingkai jendela yang setengah terbuka, mataku yang tua hanya mampu melihat debu-debu jalan yang mengepul ke udara. Ah, anak-anak itu kembali? Tapi ini hari masih pagi. Apakah mereka tidak sekolah? Tapi, bukan. Aku kira itu serombongan orang-orang yang sepertinya aku kenal. Mereka berbelok ke arahku. Benar, mereka adalah tetangga-tetanggaku. Mereka sepertinya adalah para orang tua dari anak-anak yang setiap petang mendengarkan kisahku. Dan mereka adalah anak-anak yang dulu sering mengganggu saat kami duduk berdua di atas batang pohon kelapa tumbang menghadap ke laut. Tapi, ada apa?
“Ajaran apa yang telah kautanamkan di kepala anak-anak kami, Nek Tun?”
“Ya. Setiap petang datang, sepulang sekolah, mereka langsung berlari ke arah laut.”
“Dan kini, tak hanya setiap petang, tapi setiap hari, dari pagi sampai petang mereka di laut. Mereka malas sekolah. Mulutnya meracau tak tentu arah. Hang Jebat, Hang Jebat, nama itu terus yang mereka teriakkan.”
“Janganlah pula anak-anak kami jadi sasaran dendammu pada kekasihmu Hang Jebat yang tak setia itu, Nek Tun!”
Satu hal yang terbaik bagiku kini adalah diam. Mereka nampaknya mengamuk. Apakah aku harus bertanggungjawab terhadap anak-anak mereka yang tak mau sekolah? Aku hanya bercerita. Itu saja. Apakah itu salah? Lalu, sebenarnya kenapa anak-anak itu lebih betah memandang laut, aku sendiri tak tahu sebabnya. Aku tak pernah mengajarkan pada mereka untuk jadi seperti Hang Jebat. Aku hanya meminta mereka untuk jadi anak-anak yang tangguh. Tapi, aku kira, mereka adalah anak-anak yang tangguh. Dan mereka kini tahu, bahwa laut kaya ilmu. Mereka mulai belajar bercinta dengan laut. Maafkan, jika aku telah berhasil mengekalkan ingatan-ingatan pada mereka. Dan kau Hang Jebat, kembalilah. Biarkan anak-anak ini yang menggantikanmu…***
Pekanbaru, 2005.
19/10/08
Sajak-Sajak Marhalim Zaini
Jurnal Nasional, 19 Okt 2008
Seribu Lima Ratus Sebelas
seribu lima ratus sebelas
di dinding gereja merah saga
burung-burung hitam
melepas gaun melaka.
tembok meninggi
membangun ritus
di kaki langit tua
aku menurunkan
gumpalan kota
dari pundak malam
yang memberat
di anak tangga ke tujuh
pada dingin
yang disalibkan.
aku tamu
berharap bertemu
separuh tubuhku
di tanah bekas waktu
menurunkan gerimis
menjejakkan kaki portugis
tapi tangis itu
tangis itu juga yang mencumbu
menggelapkan segala peluk
pada kutuk
ia hinggap di ujung-ujung rambutku
membangun jembatan rumpang ke masa lalu.
ia menungguku
dentang jam pada lengang
mengirimkan becak penuh bunga
seorang tua menebak wajah sejarah
di raut asing bahasa lautku
tapi ia tahu
di jalan lurus yang kurus
sebuah kota sedang bekerja
membuat pagar dari kaki-kaki
pendatang yang kekar
turunkan aku di sini, tuan
di mana rumah itu
tempat kebisuan dibatukan
gedung tua saling pandang
membuat tubuhku terasa telanjang
aku takut menyebut siak
mulutku tertinggal di kursi retak
aku ragu memanggil lingga
lambaiku tersangkut di singapura
duhai
jauhlah badan
di tanah orang
berebut rumah
di negeri sendiri
pada senja tua
burung-burung hitam melepas
seribu lima ratus sebelas gaun melaka
di bawah tembok gereja yang meninggi
aku membangun ritus merah saga
di kota-kota tua
di anak tangga ke tujuh
pada dingin malam
yang disalibkan.
Melaka, 2004-2008
Riwayat Sampah Rumah
seperti hujan
ia turun berkerumun
menyusun kulit kayu
di tidurku
sungai duku yang layu
mematikan lampu-lampu
membiarkan anak-anak
berdebur di tidurmu
seorang ibu dari
onggokan sampah rumah
mengibas debu
dari sepotong ubi kayu
yang bau batu:
ini malam, atau pagi
yang mati?
ia seperti renta
kardus-kardus buangan
dari derita sungai
yang menanggung sisa
tak ada api di wajah mereka
hangusnya mengirimkan
ikan-ikan keli dari suku asli
yang terapung mati
ke jantungmu
(mungkin yang berendam
tadi malam
membungkus bangkai hutan
dalam plastik waktu
aku tak pernah mendengar
ada tangis yang menyerupai lagu)
orang sungai
tak mengerti puisi
ia hanya mengutip anak pasir
satu-satu dari tanah tubuhnya
yang basah
berjanji mengembalikan
garam pada asinnya
mengembalikan asin
pada lautnya
(seusai demam panjang itu
hari-hari saling menunda cerita
tentang sebuah kota mati
yang ditinggalkan puisi)
hanya bahasa kuli
belajar berdiri
di atas jembatan usia
menuju sepi
belajar merumuskan tubuh
dalam hitungan jam
yang diam-diam
membidikkan tikam
ia turun berkerumun dalam hujan
yang menyusun kulit kayu di rumahku
lampu-lampu sungai duku
membiarkan anak-anak layu
dalam debur tidur seorang ibu
dalam mimpinya
sepotong ubi kayu
ia temukan dalam onggokan
riwayat sampah rumah
jadi batu di bawah abu
tungku waktu.
Pekanbaru, 2004-2008
Gelang Rotan
Sehabis lembubu, jumat oleng.
Kau memeluk kaki-kaki rumah
seperti gelang rotan memeluk
kaki-kaki perempuan
Semalam, menyumpah mulutmu
pada selat hantu:
“Oi, burung sipumpung, raja lelaki,
pinang aku, sungai sepi
yang pandai menari.”
Daun birahi merimbun di dahimu,
bekas kecup selamat tinggal
yang kekal. Serupa siput,
matamu mengintip dari celah kerudung
dari bilik batu-batu rindumu.
diam-diam ada api berkecambah
dalam kebayamu. Ada pulau terbakar
dalam sarungmu.
(sarung nelayan, tempat senja
menyimpan amis matahari)
Setelah karam berkali-kali
kau tahu, kematin adalah upacara
yang selalu tak tuntas.
Masih tersisa hidup di gelang rotan
sebagai sepasang kenangan.
Lalu kau ringkus musim
dalam ketiakmu yang bau kemenyan.
Mengusap perut laut
tubuh yang terus naik pasang.
Memanggil burung-burung
menemani sunyi sepanjang malam
menyusun nama-nama tuhan
di ujung puting yang kering sentuhan.
Dan sepotong riwayat kampung pasir
dalam gerimis, kaukenang, kautimang,
ibarat bayi dari kelahiran yang sungsang.
Di sini, lelaki menjadi gelang rotan yang
memeluk kaki-kaki perempuan.
Yogyakarta, 2003-2008
Seribu Lima Ratus Sebelas
seribu lima ratus sebelas
di dinding gereja merah saga
burung-burung hitam
melepas gaun melaka.
tembok meninggi
membangun ritus
di kaki langit tua
aku menurunkan
gumpalan kota
dari pundak malam
yang memberat
di anak tangga ke tujuh
pada dingin
yang disalibkan.
aku tamu
berharap bertemu
separuh tubuhku
di tanah bekas waktu
menurunkan gerimis
menjejakkan kaki portugis
tapi tangis itu
tangis itu juga yang mencumbu
menggelapkan segala peluk
pada kutuk
ia hinggap di ujung-ujung rambutku
membangun jembatan rumpang ke masa lalu.
ia menungguku
dentang jam pada lengang
mengirimkan becak penuh bunga
seorang tua menebak wajah sejarah
di raut asing bahasa lautku
tapi ia tahu
di jalan lurus yang kurus
sebuah kota sedang bekerja
membuat pagar dari kaki-kaki
pendatang yang kekar
turunkan aku di sini, tuan
di mana rumah itu
tempat kebisuan dibatukan
gedung tua saling pandang
membuat tubuhku terasa telanjang
aku takut menyebut siak
mulutku tertinggal di kursi retak
aku ragu memanggil lingga
lambaiku tersangkut di singapura
duhai
jauhlah badan
di tanah orang
berebut rumah
di negeri sendiri
pada senja tua
burung-burung hitam melepas
seribu lima ratus sebelas gaun melaka
di bawah tembok gereja yang meninggi
aku membangun ritus merah saga
di kota-kota tua
di anak tangga ke tujuh
pada dingin malam
yang disalibkan.
Melaka, 2004-2008
Riwayat Sampah Rumah
seperti hujan
ia turun berkerumun
menyusun kulit kayu
di tidurku
sungai duku yang layu
mematikan lampu-lampu
membiarkan anak-anak
berdebur di tidurmu
seorang ibu dari
onggokan sampah rumah
mengibas debu
dari sepotong ubi kayu
yang bau batu:
ini malam, atau pagi
yang mati?
ia seperti renta
kardus-kardus buangan
dari derita sungai
yang menanggung sisa
tak ada api di wajah mereka
hangusnya mengirimkan
ikan-ikan keli dari suku asli
yang terapung mati
ke jantungmu
(mungkin yang berendam
tadi malam
membungkus bangkai hutan
dalam plastik waktu
aku tak pernah mendengar
ada tangis yang menyerupai lagu)
orang sungai
tak mengerti puisi
ia hanya mengutip anak pasir
satu-satu dari tanah tubuhnya
yang basah
berjanji mengembalikan
garam pada asinnya
mengembalikan asin
pada lautnya
(seusai demam panjang itu
hari-hari saling menunda cerita
tentang sebuah kota mati
yang ditinggalkan puisi)
hanya bahasa kuli
belajar berdiri
di atas jembatan usia
menuju sepi
belajar merumuskan tubuh
dalam hitungan jam
yang diam-diam
membidikkan tikam
ia turun berkerumun dalam hujan
yang menyusun kulit kayu di rumahku
lampu-lampu sungai duku
membiarkan anak-anak layu
dalam debur tidur seorang ibu
dalam mimpinya
sepotong ubi kayu
ia temukan dalam onggokan
riwayat sampah rumah
jadi batu di bawah abu
tungku waktu.
Pekanbaru, 2004-2008
Gelang Rotan
Sehabis lembubu, jumat oleng.
Kau memeluk kaki-kaki rumah
seperti gelang rotan memeluk
kaki-kaki perempuan
Semalam, menyumpah mulutmu
pada selat hantu:
“Oi, burung sipumpung, raja lelaki,
pinang aku, sungai sepi
yang pandai menari.”
Daun birahi merimbun di dahimu,
bekas kecup selamat tinggal
yang kekal. Serupa siput,
matamu mengintip dari celah kerudung
dari bilik batu-batu rindumu.
diam-diam ada api berkecambah
dalam kebayamu. Ada pulau terbakar
dalam sarungmu.
(sarung nelayan, tempat senja
menyimpan amis matahari)
Setelah karam berkali-kali
kau tahu, kematin adalah upacara
yang selalu tak tuntas.
Masih tersisa hidup di gelang rotan
sebagai sepasang kenangan.
Lalu kau ringkus musim
dalam ketiakmu yang bau kemenyan.
Mengusap perut laut
tubuh yang terus naik pasang.
Memanggil burung-burung
menemani sunyi sepanjang malam
menyusun nama-nama tuhan
di ujung puting yang kering sentuhan.
Dan sepotong riwayat kampung pasir
dalam gerimis, kaukenang, kautimang,
ibarat bayi dari kelahiran yang sungsang.
Di sini, lelaki menjadi gelang rotan yang
memeluk kaki-kaki perempuan.
Yogyakarta, 2003-2008
26/09/08
Pengantin Hamil
Riau Pos, 30 Maret 2003, Harian Bernas, 27 Juli 2003
Marhalim Zaini
“Kita akan bersanding, sayang. Duduk di atas pelaminan, seperti raja dan permaisuri. Daun inai yang diracik halus, akan menghiasi jemari tangan dan kaki kita dengan getah merahnya. Beras pulut, beraroma kuning kunyit, akan ditabur oleh sanak saudara di atas kepala kita, sebagai tanda, restu dan doa telah diberi. Maka hati kita pun bernyanyi, diiringi barzanji yang melantun dari mulut gadis-gadis kampung yang molek. Rampak pukulan kompang dari tangan-tangan pemuda yang belia, akan semakin menggetarkan jiwa kita, bahwa saat itu, dunia menjadi milik kita berdua. Tunggulah, sayang. Abang akan pulang….”
Bibir Suri tak pernah bisa berhenti untuk terus membaca sekeping surat lusuh di tangannya. Surat pertama yang ia terima, seminggu setelah kepergian kekasihnya, sampai kini setelah genap tujuh bulan, surat yang lain tak kunjung datang. Suri menanti, sembari terus membaca surat pertama berkali-kali. Suri menanti, sembari merasakan perutnya makin lama makin berisi. Ada bayi yang terus meronta meminta hak hidupnya dijaga. Bayi yang tak dipinta, hasil persetubuhan cinta yang liar.
“Kita harus segera menikah, sayang,” bisik Suri suatu malam yang hujan. Usai sebuah prosesi (atas nama cinta) terlunaskan. Tapi suara hujan di luar jendela, membawa pertanyaan Suri ke dasar malam. Jawaban sang kekasih hanya berupa dekapan diam dalam senyum ragu yang panjang. Dan mereka pun kembali tenggelam. Membuang jauh ingatan tentang beban kecemasan. Tentang hari esok atau lusa yang suram. Mereka tak kuasa menahan kenikmatan cinta yang terus meregang mengaliri seluruh tubuh dosa yang telanjang.
Sampai waktu begitu jenuh. Sang kekasih tiba-tiba pamit ke seberang, “Sayang, demi masa depan kita, Abang harus pergi. Mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita. Bukankah kita harus segera menikah?” Tak ada jawaban untuk sebuah keputusan yang logis. Suri mengangguk perlahan. Meski tak bisa ditampiknya, bahwa kecemasan itu tiba-tiba menyerang. Matanya memerah menahan resah. Di hatinya hanya ada gumam, “Selamat jalan kecemasan. Selamat jalan harapan.”
Di tepian pelabuhan, Suri berdiri melambaikan tangan. Kapal berangkat meninggalkan ombak kenangan. Hempasannya menampar wajah orang-orang yang ditinggalkan. Suri tentu tak sendiri. Sebab di pelabuhan ini, setiap petang dan pagi kapal-kapal senantiasa datang dan pergi. Membawa perantau juga pelancong yang tak puas hidup hanya di satu pulau.
Maka Suri tak boleh menangis. Ia sadar, bahwa menangis hanya akan menghanyutkannya ke laut luas tak berbatas. Dan Suri khawatir ia tak bisa kembali mengendalikan diri sebagai perempuan yang tabah, layaknya para perempuan di Teluk Gambut ini, yang harus mampu hidup dengan kaki dan tangan sendiri. Suami – bagaimanapun kelak Suri harus bersuami – tak sepenuhnya sebagai tempat bergantung hidup. Paling tidak Suri, yang baru seumur jagung ini, sudah pandai menganyam tikar pandan dan menyadap karet, sebuah keahlian wajib bagi penghuni kampung yang bernama perempuan.
Suri memang tak pernah menangis. Sampai saat ini, ketika usia bayi dalam perutnya beranjak tujuh bulan, dan hanya sekeping kabar yang datang dari kekasihnya, Suri tak menangis. Pun ketika ia diam-diam suatu malam yang pekat terpaksa meninggalkan rumah orang tuanya, pergi ke hutan durian ujung kampung dan tinggal sendiri di sebuah pondok bekas, Suri tak menangis. Suri takut, jika sampai orang tuanya tahu tentang kehamilannya sebelum menikah, jelas akan menimbulkan tangis banyak orang, Suri tak mau melihat orang menangis.
Tapi orang tua Suri, sejak Suri menghilang lima bulan yang lalu pasti tak henti-hentinya menangis. Sampai kini, sewaktu Suri diketemukan orang kampung yang sedang mencari kayu bakar di hutan durian, dan dipaksa pulang ke rumah untuk dihakimi, Suri sedikit pun tak menangis. Hanya kepalanya menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya dari rasa malu dan bersalah. Sementara Emak meraung-raung. Abah berkali-kali mengangkat tangannya hendak melayangkan tampar ke pipi Suri. Para tetangga dan sanak famili mulai bergunjing. Kampung pun seketika menjadi serupa orang Cina karam atau orang Jepang yang kalah Perang.
Pertanyaan pun bertubi-tubi menyerang Suri. Tapi Suri tak menjawab. Sebab Suri sendiri tak tahu kenapa ia sampai berbuat begitu. Awalnya, ia sangat suka kalau kekasihnya mencium bibirnya. Kemudian lama-lama ia pun menyukai sentuhan-sentuhan kekasihnya. Dan ia tak sadar bahwa kelak sentuhan-sentuhan itu berujung pada kenikmatan yang luar biasa. Sejak itu, ia menyangka bahwa itulah yang dinamakan cinta.
“Percuma Guru Murad mengajar kau ngaji setiap malam, akhirnya zina juga yang kaukerjakan. Dasar anak yang tak tau diuntung!” Semburan suara Abah berdenging di telinga Suri. Suri tertunduk semakin dalam. Suri tahu, ia telah berdosa. Dan Suri juga tahu, dosa ini begitu memalukan bagi keluarganya. Apalagi Abahnya adalah orang terpandang di kampung ini. Tapi apakah cinta adalah dosa? Suri bingung. Usianya yang masih belia, membuat pikiran Suri bercabang dua. Dosa mengantar Suri ke pintu neraka. Cinta memberi Suri kebahagiaan yang luar biasa.
“Sudah kubilang jangan sering keluar malam. Tapi kau degil. Tak pernah dengar cakap aku. Sekarang tengoklah akibatnya. Perut kau buncit, tak tahu entah siapa jantannya.” Suara Abah menyambar-nyambar serupa petir. Suri bergeming. Kepalanya sedikit pusing. Teringat kekasih di seberang. Seorang lelaki tanggung, anak Pak Selamet, kepala desa, tetangga sebelah rumah. Suri kembali bingung. Haruskah ia mengatakan siapa yang harus bertanggungjawab terhadap bayi dalam perutnya itu. Dan bagaimanakah caranya membahasakan kedalaman cintanya pada sang kekasih, kepada kedua orang tuanya. Suri memilih untuk diam.
“Suri!” Abah membentak. “Katakan siapa lelaki itu!”
Pada awalnya Suri ragu. Tapi tiba-tiba tumbuh keberanian dalam hatinya. Keberanian yang datang dari keinginan besar untuk segera dinikahkan. Suri pun perlahan mengulurkan sepucuk surat yang lusuh, yang tak pernah lepas dari genggamannya. Mata Abah menyala penuh tanya. Emak berhenti dari raungannya. Orang-orang kampung terdiam dari gunjingannya. Ada satu pertanyaan dengan seribu jawaban yang mendesak-desak dalam benak mereka. Siapakah gerangan sang jantan yang begitu berani menghamili anak tunggal orang terpandang di kampung ini?
***
Malam yang hujan. Tempiasnya leleh di kaca jendela. Ada bayang-bayang kenangan least di mata Suri yang layu. Ada bekas aroma tubuh lelaki di sekeliling dinding kamar ini. Lelaki, kekasihnya yang jauh. Lelaki yang sebentar lagi akan duduk bersanding di sampingnya. Suri rindu. Rindu yang menyala. Apalagi ketika orang tuanya justru kini merestui hubungan mereka, Suri semakin menyala. Meski sesungguhnya Suri tertanya-tanya, kenapa setelah tahu bahwa lelaki yang menghamilinya adalah anak Pak Selamet, kepala desa, tetangga sebelah rumah, semua orang terdiam. Orang tuanya pun langsung merencanakan sebuah pesta besar-besaran. Dan tak henti-hentinya tawa renyah menggelegar setiap ada pertemuan panitia pesta di rumahnya. Seakan semua riuh tangis dua hari yang lalu telah lenyap ditelan bumi.
Suri menduga, inilah keajaiban cinta itu. Kini ia semakin percaya bahwa kekuatan cinta akan mengantarkannya pada kebahagiaan yang luar biasa. Cinta rupanya mampu merubah kemurkaan menjadi kebaikan. Suri tambah yakin bahwa cintanya bukanlah dosa. Nyatanya, semua orang kini telah memberi ucapan selamat padanya. Bukankah orang yang berdosa tak bisa selamat dunia dan akhirat. Mata Suri terpejam. Meyakinkan hatinya.
Ah, malam yang hujan. Tempiasnya leleh di hati Suri. Tempias rindu yang menggelora. Ada bayangan kekasihnya muncul dari jendela. Persis serupa malam-malam yang dulu, saat kekasihnya masuk dari jendela ketika semua orang telah terlelap. Saat kekasihnya mendekap tubuhnya dalam pelukan hangat seorang lelaki. Saat pergumulan pun terjadi. Mata Suri terpejam. Menikmati ribuan gerakan bayangan yang berkelindan. Dan hujan malam itu, membawa Suri hanyut ke laut mimpi.
Mimpi yang indah. Mimpi bersanding di atas pelaminan bersama sang kekasih. Mimpi menjadi raja dan permaisuri. Mimpi beras pulut beraroma kuning kunyit ditabur di atas kepalanya. Mimpi menyaksikan aura kebahagiaan dari gadis-gadis kampung yang melantunkan barzanji. Mimpi mendengarkan rampak kompang yang ditabuh oleh pemuda-pemuda belia. Mimpi menyaksikan tatapan ribuan pasang mata bahagia dari para tamu undangan. Mimpi peluk cium sang kekasih. Mimpi…
***
Sejak peristiwa itu, hampir setiap bulannya, gadis-gadis kampung hamil sebelum menikah. Dan hampir setiap bulan pula kita dapat menyaksikan sepasang pengantin yang ganjil (sebab dalam perut pengantin perempuannya telah tersimpan seorang bayi) dengan pakaian adat kampung Teluk Gambut. Diarak di sepanjang jalan, dengan janur dan bunga manggar yang berseri-seri. Rupanya mimpi Suri telah menjadi mimpi semua pemuda dan pemudi. Mimpi yang direstui. Mimpi bersanding di atas pelaminan sebagai Pengantin Hamil.***
Yogyakarta, Akhir Maret 2003
Marhalim Zaini
“Kita akan bersanding, sayang. Duduk di atas pelaminan, seperti raja dan permaisuri. Daun inai yang diracik halus, akan menghiasi jemari tangan dan kaki kita dengan getah merahnya. Beras pulut, beraroma kuning kunyit, akan ditabur oleh sanak saudara di atas kepala kita, sebagai tanda, restu dan doa telah diberi. Maka hati kita pun bernyanyi, diiringi barzanji yang melantun dari mulut gadis-gadis kampung yang molek. Rampak pukulan kompang dari tangan-tangan pemuda yang belia, akan semakin menggetarkan jiwa kita, bahwa saat itu, dunia menjadi milik kita berdua. Tunggulah, sayang. Abang akan pulang….”
Bibir Suri tak pernah bisa berhenti untuk terus membaca sekeping surat lusuh di tangannya. Surat pertama yang ia terima, seminggu setelah kepergian kekasihnya, sampai kini setelah genap tujuh bulan, surat yang lain tak kunjung datang. Suri menanti, sembari terus membaca surat pertama berkali-kali. Suri menanti, sembari merasakan perutnya makin lama makin berisi. Ada bayi yang terus meronta meminta hak hidupnya dijaga. Bayi yang tak dipinta, hasil persetubuhan cinta yang liar.
“Kita harus segera menikah, sayang,” bisik Suri suatu malam yang hujan. Usai sebuah prosesi (atas nama cinta) terlunaskan. Tapi suara hujan di luar jendela, membawa pertanyaan Suri ke dasar malam. Jawaban sang kekasih hanya berupa dekapan diam dalam senyum ragu yang panjang. Dan mereka pun kembali tenggelam. Membuang jauh ingatan tentang beban kecemasan. Tentang hari esok atau lusa yang suram. Mereka tak kuasa menahan kenikmatan cinta yang terus meregang mengaliri seluruh tubuh dosa yang telanjang.
Sampai waktu begitu jenuh. Sang kekasih tiba-tiba pamit ke seberang, “Sayang, demi masa depan kita, Abang harus pergi. Mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita. Bukankah kita harus segera menikah?” Tak ada jawaban untuk sebuah keputusan yang logis. Suri mengangguk perlahan. Meski tak bisa ditampiknya, bahwa kecemasan itu tiba-tiba menyerang. Matanya memerah menahan resah. Di hatinya hanya ada gumam, “Selamat jalan kecemasan. Selamat jalan harapan.”
Di tepian pelabuhan, Suri berdiri melambaikan tangan. Kapal berangkat meninggalkan ombak kenangan. Hempasannya menampar wajah orang-orang yang ditinggalkan. Suri tentu tak sendiri. Sebab di pelabuhan ini, setiap petang dan pagi kapal-kapal senantiasa datang dan pergi. Membawa perantau juga pelancong yang tak puas hidup hanya di satu pulau.
Maka Suri tak boleh menangis. Ia sadar, bahwa menangis hanya akan menghanyutkannya ke laut luas tak berbatas. Dan Suri khawatir ia tak bisa kembali mengendalikan diri sebagai perempuan yang tabah, layaknya para perempuan di Teluk Gambut ini, yang harus mampu hidup dengan kaki dan tangan sendiri. Suami – bagaimanapun kelak Suri harus bersuami – tak sepenuhnya sebagai tempat bergantung hidup. Paling tidak Suri, yang baru seumur jagung ini, sudah pandai menganyam tikar pandan dan menyadap karet, sebuah keahlian wajib bagi penghuni kampung yang bernama perempuan.
Suri memang tak pernah menangis. Sampai saat ini, ketika usia bayi dalam perutnya beranjak tujuh bulan, dan hanya sekeping kabar yang datang dari kekasihnya, Suri tak menangis. Pun ketika ia diam-diam suatu malam yang pekat terpaksa meninggalkan rumah orang tuanya, pergi ke hutan durian ujung kampung dan tinggal sendiri di sebuah pondok bekas, Suri tak menangis. Suri takut, jika sampai orang tuanya tahu tentang kehamilannya sebelum menikah, jelas akan menimbulkan tangis banyak orang, Suri tak mau melihat orang menangis.
Tapi orang tua Suri, sejak Suri menghilang lima bulan yang lalu pasti tak henti-hentinya menangis. Sampai kini, sewaktu Suri diketemukan orang kampung yang sedang mencari kayu bakar di hutan durian, dan dipaksa pulang ke rumah untuk dihakimi, Suri sedikit pun tak menangis. Hanya kepalanya menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya dari rasa malu dan bersalah. Sementara Emak meraung-raung. Abah berkali-kali mengangkat tangannya hendak melayangkan tampar ke pipi Suri. Para tetangga dan sanak famili mulai bergunjing. Kampung pun seketika menjadi serupa orang Cina karam atau orang Jepang yang kalah Perang.
Pertanyaan pun bertubi-tubi menyerang Suri. Tapi Suri tak menjawab. Sebab Suri sendiri tak tahu kenapa ia sampai berbuat begitu. Awalnya, ia sangat suka kalau kekasihnya mencium bibirnya. Kemudian lama-lama ia pun menyukai sentuhan-sentuhan kekasihnya. Dan ia tak sadar bahwa kelak sentuhan-sentuhan itu berujung pada kenikmatan yang luar biasa. Sejak itu, ia menyangka bahwa itulah yang dinamakan cinta.
“Percuma Guru Murad mengajar kau ngaji setiap malam, akhirnya zina juga yang kaukerjakan. Dasar anak yang tak tau diuntung!” Semburan suara Abah berdenging di telinga Suri. Suri tertunduk semakin dalam. Suri tahu, ia telah berdosa. Dan Suri juga tahu, dosa ini begitu memalukan bagi keluarganya. Apalagi Abahnya adalah orang terpandang di kampung ini. Tapi apakah cinta adalah dosa? Suri bingung. Usianya yang masih belia, membuat pikiran Suri bercabang dua. Dosa mengantar Suri ke pintu neraka. Cinta memberi Suri kebahagiaan yang luar biasa.
“Sudah kubilang jangan sering keluar malam. Tapi kau degil. Tak pernah dengar cakap aku. Sekarang tengoklah akibatnya. Perut kau buncit, tak tahu entah siapa jantannya.” Suara Abah menyambar-nyambar serupa petir. Suri bergeming. Kepalanya sedikit pusing. Teringat kekasih di seberang. Seorang lelaki tanggung, anak Pak Selamet, kepala desa, tetangga sebelah rumah. Suri kembali bingung. Haruskah ia mengatakan siapa yang harus bertanggungjawab terhadap bayi dalam perutnya itu. Dan bagaimanakah caranya membahasakan kedalaman cintanya pada sang kekasih, kepada kedua orang tuanya. Suri memilih untuk diam.
“Suri!” Abah membentak. “Katakan siapa lelaki itu!”
Pada awalnya Suri ragu. Tapi tiba-tiba tumbuh keberanian dalam hatinya. Keberanian yang datang dari keinginan besar untuk segera dinikahkan. Suri pun perlahan mengulurkan sepucuk surat yang lusuh, yang tak pernah lepas dari genggamannya. Mata Abah menyala penuh tanya. Emak berhenti dari raungannya. Orang-orang kampung terdiam dari gunjingannya. Ada satu pertanyaan dengan seribu jawaban yang mendesak-desak dalam benak mereka. Siapakah gerangan sang jantan yang begitu berani menghamili anak tunggal orang terpandang di kampung ini?
***
Malam yang hujan. Tempiasnya leleh di kaca jendela. Ada bayang-bayang kenangan least di mata Suri yang layu. Ada bekas aroma tubuh lelaki di sekeliling dinding kamar ini. Lelaki, kekasihnya yang jauh. Lelaki yang sebentar lagi akan duduk bersanding di sampingnya. Suri rindu. Rindu yang menyala. Apalagi ketika orang tuanya justru kini merestui hubungan mereka, Suri semakin menyala. Meski sesungguhnya Suri tertanya-tanya, kenapa setelah tahu bahwa lelaki yang menghamilinya adalah anak Pak Selamet, kepala desa, tetangga sebelah rumah, semua orang terdiam. Orang tuanya pun langsung merencanakan sebuah pesta besar-besaran. Dan tak henti-hentinya tawa renyah menggelegar setiap ada pertemuan panitia pesta di rumahnya. Seakan semua riuh tangis dua hari yang lalu telah lenyap ditelan bumi.
Suri menduga, inilah keajaiban cinta itu. Kini ia semakin percaya bahwa kekuatan cinta akan mengantarkannya pada kebahagiaan yang luar biasa. Cinta rupanya mampu merubah kemurkaan menjadi kebaikan. Suri tambah yakin bahwa cintanya bukanlah dosa. Nyatanya, semua orang kini telah memberi ucapan selamat padanya. Bukankah orang yang berdosa tak bisa selamat dunia dan akhirat. Mata Suri terpejam. Meyakinkan hatinya.
Ah, malam yang hujan. Tempiasnya leleh di hati Suri. Tempias rindu yang menggelora. Ada bayangan kekasihnya muncul dari jendela. Persis serupa malam-malam yang dulu, saat kekasihnya masuk dari jendela ketika semua orang telah terlelap. Saat kekasihnya mendekap tubuhnya dalam pelukan hangat seorang lelaki. Saat pergumulan pun terjadi. Mata Suri terpejam. Menikmati ribuan gerakan bayangan yang berkelindan. Dan hujan malam itu, membawa Suri hanyut ke laut mimpi.
Mimpi yang indah. Mimpi bersanding di atas pelaminan bersama sang kekasih. Mimpi menjadi raja dan permaisuri. Mimpi beras pulut beraroma kuning kunyit ditabur di atas kepalanya. Mimpi menyaksikan aura kebahagiaan dari gadis-gadis kampung yang melantunkan barzanji. Mimpi mendengarkan rampak kompang yang ditabuh oleh pemuda-pemuda belia. Mimpi menyaksikan tatapan ribuan pasang mata bahagia dari para tamu undangan. Mimpi peluk cium sang kekasih. Mimpi…
***
Sejak peristiwa itu, hampir setiap bulannya, gadis-gadis kampung hamil sebelum menikah. Dan hampir setiap bulan pula kita dapat menyaksikan sepasang pengantin yang ganjil (sebab dalam perut pengantin perempuannya telah tersimpan seorang bayi) dengan pakaian adat kampung Teluk Gambut. Diarak di sepanjang jalan, dengan janur dan bunga manggar yang berseri-seri. Rupanya mimpi Suri telah menjadi mimpi semua pemuda dan pemudi. Mimpi yang direstui. Mimpi bersanding di atas pelaminan sebagai Pengantin Hamil.***
Yogyakarta, Akhir Maret 2003
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita