Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002
Teguh Winarsho AS
Perempuan tua yang ikut mengejar laju mobil terus berlari sekuat tenaga. Ia
seperti tak mau ketinggalan dengan para lelaki yang mendahuluinya. Entah apa
yang mendorong perempuan tua itu mengejar laju mobil. Bukankah lebih enak tinggal
di rumah? Dan, jika memang perlu mengetahui kabar yang dibawa oleh pengendara
mobil itu, bukankah juga lebih enak jika menunggu para lelaki itu pulang? Kalau
memang benar hanya kabar yang ia butuhkan, sangat mudah didapat. Tetangga kanan
kiri, bahkan tanpa diminta pun pasti akan bercerita. Jadi untuk apa ia mesti
berlari? Untuk apa memaksakan diri? Salah-salah justru bisa celaka? Jatuh?
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Teguh Winarsho AS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teguh Winarsho AS. Tampilkan semua postingan
06/08/21
11/08/11
Sepuluh Ribu Rupiah untuk Tuhan
Teguh Winarsho AS
http://www.suarakarya-online.com/
DUDUK menyendiri di pojok serambi masjid usai shalat tarawih, Darbi menahan lapar. Wajahnya pucat. Tubuhnya berkeringat. Perutnya terus melilit-lilit perih, seperti disengat kalajengking. Wajar, sewaktu buka puasa sore tadi perutnya hanya terganjal dua potong pisang goreng dan segelas air putih.
Darbi tak tega menyantap nasi dan lauk sekadarnya saat melihat dua anaknya yang baru kelas empat dan tiga SD menjalani puasa pertama mereka. Meski menahan lapar, tapi terselip rasa bangga di dada Darbi melihat dua anaknya yang masih kecil sanggup puasa sehari penuh. Anak-anak lain jarang yang sanggup melakukannya.
Riuh rendah suara orang ngobrol dan tertawa di serambi masjid sedikit pun tidak menerbitkan minat Darbi untuk bergabung. Darbi memilih duduk menyendiri di pojok. Perutnya semakin sering berkerucuk, melilit perih. Berkali-kali dilihatnya Haji Barkah di serambi masjid, mengenakan surban dan kopiah putih dikelilingi beberapa anak muda. Tapi Haji Barkah seperti tak melihat keberadaan Darbi. Haji Barkah terus ngobrol dan tertawa bersama anak-anak muda. Terlihat cerah wajah Haji Barkah. Terlihat bersemangat laki-laki tua itu saat menceritakan kejadian-kejadian lucu. Kadang terbesit keinginan di hati Darbi mendatangi Haji Barkah. Menyibak kerumunan anak-anak muda itu lalu membisikkan sesuatu di telinga Haji Barkah. Darbi tahu Haji Barkah pasti tak keberatan. Uang sepuluh ribu bagi Haji Barkah yang memiliki puluhan hektar sawah dan dua toko kelontong di pasar, tentu tidak seberapa. Semua orang kampung tahu Haji Barkah kaya raya. Tapi Darbi selalu ragu, gamang. Anak-anak muda itu pasti akan bertanya-tanya dan menatap heran. Ah, Darbi tak ingin dirinya tampak begitu hina di hadapan anak-anak muda itu. Darbi tak mau keinginannya pinjam uang pada Haji Barkah menimbulkan rasa belas kasihan dari anak-anak muda itu. Cukuplah dirinya yang menanggung semuanya.
Dalam diam Darbi merutuki nasibnya yang kurang mujur. Mestinya usai buka puasa sore tadi ia langsung mendatangi rumah Haji Barkah, pinjam uang. Tentu tak ada orang lain yang tahu kecuali keluarga Haji Barkah. Tentu Haji Barkah juga akan langsung meminjaminya uang. Uang sepuluh ribu rupiah bagi orang seperti Haji Barkah, tentu tak seberapa. Tapi, ya, ya, Darbi ingat, ia memang sengaja tak datang ke rumah Haji Barkah karena tahu istri Haji Barkah terkenal pelit. Tak habis pikir Darbi jika datang ke rumah Haji Barkah, tapi yang menemui istrinya.
Malam kian larut. Suara orang mengaji terdengar kian sayup dan redup. Darbi terus menunggu. Menunggu anak-anak muda itu pulang sehingga ia punya banyak kesempatan untuk bicara empat mata dengan Haji Barkah. Tapi anak-anak muda itu justru semakin betah mendengar cerita-cerita lucu Haji Barkah. Bahkan beberapa anak muda yang baru selesai tadarus, ikut bergabung di situ. Darbi merasa ada sesuatu yang mulai menusuk-nusuk perutnya, tajam.
Tiba-tiba Darbi ingat dua anaknya di rumah. Lima jam lagi mereka harus makan sahur. Tapi sudah tak ada beras tersisa di dapur. Satu-satunya harapan hanya pada Haji Barkah. Sepuluh ribu rupiah.
* * *
TAMPAK dua anak muda keluar dari dalam masjid membawa kotak infak. Pada bulan ramadan perolehan infak jauh lebih besar dibanding bulan-bulan lainnya. Diedarkan pada jamaah shalat subuh dan tarawih. Dua anak muda itu membawa kotak infak ke tengah kerumunan di serambi masjid, di hadapan Haji Barkah. Seperti biasa kotak infak itu akan dibuka dan dihitung bersama-sama lalu dicatat di papan tulis digabung dengan saldo hari kemarin.
Hati-hati dua anak muda itu membuka kotak infak dan menuang isinya. Tampak pecahan uang logam dan kertas berhamburan di lantai, beberapa berdenting menggelinding. Takjub mata Darbi menatap lembaran-lembaran uang itu. Kantuknya berangsur lenyap. Darbi tahu di mana uang itu nanti akan disimpan.
“Jumlah semuanya enam puluh dua ribu tiga ratus rupiah! Semoga barokah!” Berkata Haji Barkah penuh semangat sambil menggenggam uang infak ditunjukkan pada anak-anak muda di sekelilingnya yang tanpa dikomando segera mengangguk-angguk takzim, mengamini.
“Tapi biar kas masjid kita ini jumlahnya cepat banyak, akan kutambah lagi.” Berkata demikian Haji Barkah mengeluarkan satu lembar uang dua puluh ribu dari saku baju. Kembali Haji Barkah mempertontonkan uang itu pada anak-anak muda yang kembali mengangguk-angguk takzim.
Untuk kedua kalinya malam ini Darbi merasa ada sesuatu yang menusuk-nusuk perutnya, tajam.
* * *
MALAM dingin. Satu-persatu anak-anak muda itu pulang. Lalu Haji Barkah yang terakhir. Tak ingin kesempatannya hilang, Darbi cepat-cepat bangkit dari pojok serambi masjid menghampiri Haji Barkah. Pulang bersama melewati jalan kampung remang. Kabut mulai turun menyelimuti lampu-lampu di pinggir jalan. Tapi entah kenapa Darbi masih dicekam ragu, gamang, mengutarakan niatnya pinjam uang.
“Kudengar kedua anakmu sudah mulai puasa penuh,” ucap Haji Barkah di tengah jalan.
“Alhamdulillah, Pak Haji.” Darbi menjawab dengan bibir pucat gemetar menahan lapar.
“Bagus, bagus. Pendidikan agama memang harus ditanamkan sejak dini. Mudah-mudahan mereka tidak mengikuti jejak Ibunya.”
Semula Darbi tidak sadar dengan apa yang dikatakan Haji Barkah. Tapi ketika kemudian sadar, Darbi tersentak menunduk, merah padam mukanya. Teringat Darbi, mantan istrinya yang sudah pisah dua tahun lalu, kini memang suka dibawa pergi laki-laki. Semua orang kampung tahu. Sebenarnya sudah lama Darbi ingin membunuh ingatannya pada perempuan itu, tapi orang lain entah disengaja atau tidak justru sering mengingatkannya.
Darbi dan Haji Barkah terus berjalan beriringan. Rumah Haji Barkah semakin dekat. Membuat Darbi kian dicekam gelisah. Kesempatan untuk pinjam uang tinggal sebentar lagi. Darbi menghirup nafas panjang mencoba memberanikan diri. “Hmm, maaf, Pak Haji, saya mau merepotkan Pak Haji.” Terputus sejenak suara Darbi menahan sungkan. “Saya mau pinjam uang sepuluh ribu. Insya Allah lusa saya kembalikan.”
Haji Barkah menoleh menatap Darbi lalu buru-buru merogoh saku bajunya. Masih ada selembar sepuluh ribu kusam. “Aduh. Darbi, Darbi, kenapa kamu nggak bilang waktu di masjid tadi? Uangku tinggal sepuluh ribu. Kamu tahu sendiri, uang ini jatah untuk infak subuh besok. Aku harus memberi contoh pada orang-orang kampung bagaimana cara memakmurkan masjid. Besok pagi saja kalau istriku sudah berangkat ke pasar, kamu datang ke rumah” Haji Barkah menepuk-nepuk pundak Darbi.
“Tapi.” Belum selesai Darbi bersuara, Haji Barkah lebih cepat menukas.
“Sudahlah, besok pagi saja. Kamu tidak perlu pinjam, tapi kukasih. Cuma sepuluh ribu kan? Jangan kawatir.” Berkata demikian Haji Barkah belok menuju rumahnya. Langkahnya gegas, tergesa.
Darbi seperti masih ingin mengucapkan sesuatu, tapi lidahnya benar-benar kelu.
* * *
PEDIH dan teriris-iris hati Darbi melihat dua anaknya tidur beralas tikar. Tiga jam lagi ia harus membangunkan kedua bocah kecil itu untuk makan sahur. Tapi hingga saat ini Darbi tak pegang uang sepeser pun. Haji Barkah, satu-satunya harapannya baru menjanjikan besok pagi setelah istrinya berangkat ke pasar. Tiba-tiba berkelebat dalam benak Darbi lembaran-lembaran uang infak yang tadi ia lihat di masjid. Beberapa lembar uang itu tampak masih baru dan licin. Darbi tahu di mana tempat menyimpannya.
Niat Darbi sudah bulat. Darbi kembali keluar rumah berjalan mengendap-endap menghampiri masjid. Menyelinap masuk ke dalam masjid ketika situasi benar-benar sudah aman. Di dalam masjid Darbi melihat dua anak muda tidur pulas di dekat mimbar. Sejenak Darbi menghentikan langkah, tiba-tiba ragu dengan niatnya. Tapi bayangan kedua anaknya yang besok harus puasa terus berkelebat-kelebat dalam benaknya. Darbi segera menghampiri salah satu ruangan tempat menyimpan uang infak. Darbi bersyukur, pintu ruangan itu tidak dikunci. Hati-hati Darbi membuka kotak infak lalu mengambil uang sepuluh ribu rupiah dari situ. Pulang.
* * *
SESAK dan sengal nafas Darbi duduk di kursi menghadap meja makan. Wajahnya tampak letih, pucat, berkeringat. Perutnya semakin terasa perih, melilit-lilit. Matanya mulai berkunang-kunang. Sepanjang hidup baru kali ini ia mencuri. Ia tahu hukuman apa bagi seorang pencuri. Tapi sebentar lagi ia dan kedua anaknya perlu makan sahur untuk menjalankan puasa di hari kedua. Puasa hukumnya wajib. Dan satu lembar uang sepuluh ribu yang baru ia ambil dari kotak infak masjid masih erat dalam genggaman tangannya. Uang itu nanti akan ia belanjakan untuk beli makan sahur bersama kedua anaknya.
Darbi masih mengatur nafasnya yang sesak, sengal, ketika tiba-tiba Niken, anak sulungnya bangun berjalan menghampiri. “Tadi Ibu datang. Ngasih duit.” Suara Niken serak mengangsurkan satu lembar sepuluh ribu pada Darbi.
Gemetar tangan Darbi sewaktu menerima uang itu. Darbi tahu dari mana uang itu didapat mantan istrinya. Kini di tangan Darbi terdapat dua lembar uang. Keduanya cukup untuk makan sahur ala kadarnya bersama dua anaknya. Tapi mendadak Darbi disergap bingung, gelisah, uang mana yang akan ia gunakan?
Malam terus merambat kelam. Sebentar lagi waktu imsak datang.
* Depok, 2005
Teguh Winarsho AS, lahir di Kulonprogo (Yogyakarta), 27 Desember 1973. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit, Bidadari Bersayap Belati (2002), Perempuan Semua Orang (2004), Kabar dari Langit (2004), Tato Naga (2005) dan novel Tunggu Aku di Ulegle, roman dan tragedi di bumi serambi Mekah (2005).
http://www.suarakarya-online.com/
DUDUK menyendiri di pojok serambi masjid usai shalat tarawih, Darbi menahan lapar. Wajahnya pucat. Tubuhnya berkeringat. Perutnya terus melilit-lilit perih, seperti disengat kalajengking. Wajar, sewaktu buka puasa sore tadi perutnya hanya terganjal dua potong pisang goreng dan segelas air putih.
Darbi tak tega menyantap nasi dan lauk sekadarnya saat melihat dua anaknya yang baru kelas empat dan tiga SD menjalani puasa pertama mereka. Meski menahan lapar, tapi terselip rasa bangga di dada Darbi melihat dua anaknya yang masih kecil sanggup puasa sehari penuh. Anak-anak lain jarang yang sanggup melakukannya.
Riuh rendah suara orang ngobrol dan tertawa di serambi masjid sedikit pun tidak menerbitkan minat Darbi untuk bergabung. Darbi memilih duduk menyendiri di pojok. Perutnya semakin sering berkerucuk, melilit perih. Berkali-kali dilihatnya Haji Barkah di serambi masjid, mengenakan surban dan kopiah putih dikelilingi beberapa anak muda. Tapi Haji Barkah seperti tak melihat keberadaan Darbi. Haji Barkah terus ngobrol dan tertawa bersama anak-anak muda. Terlihat cerah wajah Haji Barkah. Terlihat bersemangat laki-laki tua itu saat menceritakan kejadian-kejadian lucu. Kadang terbesit keinginan di hati Darbi mendatangi Haji Barkah. Menyibak kerumunan anak-anak muda itu lalu membisikkan sesuatu di telinga Haji Barkah. Darbi tahu Haji Barkah pasti tak keberatan. Uang sepuluh ribu bagi Haji Barkah yang memiliki puluhan hektar sawah dan dua toko kelontong di pasar, tentu tidak seberapa. Semua orang kampung tahu Haji Barkah kaya raya. Tapi Darbi selalu ragu, gamang. Anak-anak muda itu pasti akan bertanya-tanya dan menatap heran. Ah, Darbi tak ingin dirinya tampak begitu hina di hadapan anak-anak muda itu. Darbi tak mau keinginannya pinjam uang pada Haji Barkah menimbulkan rasa belas kasihan dari anak-anak muda itu. Cukuplah dirinya yang menanggung semuanya.
Dalam diam Darbi merutuki nasibnya yang kurang mujur. Mestinya usai buka puasa sore tadi ia langsung mendatangi rumah Haji Barkah, pinjam uang. Tentu tak ada orang lain yang tahu kecuali keluarga Haji Barkah. Tentu Haji Barkah juga akan langsung meminjaminya uang. Uang sepuluh ribu rupiah bagi orang seperti Haji Barkah, tentu tak seberapa. Tapi, ya, ya, Darbi ingat, ia memang sengaja tak datang ke rumah Haji Barkah karena tahu istri Haji Barkah terkenal pelit. Tak habis pikir Darbi jika datang ke rumah Haji Barkah, tapi yang menemui istrinya.
Malam kian larut. Suara orang mengaji terdengar kian sayup dan redup. Darbi terus menunggu. Menunggu anak-anak muda itu pulang sehingga ia punya banyak kesempatan untuk bicara empat mata dengan Haji Barkah. Tapi anak-anak muda itu justru semakin betah mendengar cerita-cerita lucu Haji Barkah. Bahkan beberapa anak muda yang baru selesai tadarus, ikut bergabung di situ. Darbi merasa ada sesuatu yang mulai menusuk-nusuk perutnya, tajam.
Tiba-tiba Darbi ingat dua anaknya di rumah. Lima jam lagi mereka harus makan sahur. Tapi sudah tak ada beras tersisa di dapur. Satu-satunya harapan hanya pada Haji Barkah. Sepuluh ribu rupiah.
* * *
TAMPAK dua anak muda keluar dari dalam masjid membawa kotak infak. Pada bulan ramadan perolehan infak jauh lebih besar dibanding bulan-bulan lainnya. Diedarkan pada jamaah shalat subuh dan tarawih. Dua anak muda itu membawa kotak infak ke tengah kerumunan di serambi masjid, di hadapan Haji Barkah. Seperti biasa kotak infak itu akan dibuka dan dihitung bersama-sama lalu dicatat di papan tulis digabung dengan saldo hari kemarin.
Hati-hati dua anak muda itu membuka kotak infak dan menuang isinya. Tampak pecahan uang logam dan kertas berhamburan di lantai, beberapa berdenting menggelinding. Takjub mata Darbi menatap lembaran-lembaran uang itu. Kantuknya berangsur lenyap. Darbi tahu di mana uang itu nanti akan disimpan.
“Jumlah semuanya enam puluh dua ribu tiga ratus rupiah! Semoga barokah!” Berkata Haji Barkah penuh semangat sambil menggenggam uang infak ditunjukkan pada anak-anak muda di sekelilingnya yang tanpa dikomando segera mengangguk-angguk takzim, mengamini.
“Tapi biar kas masjid kita ini jumlahnya cepat banyak, akan kutambah lagi.” Berkata demikian Haji Barkah mengeluarkan satu lembar uang dua puluh ribu dari saku baju. Kembali Haji Barkah mempertontonkan uang itu pada anak-anak muda yang kembali mengangguk-angguk takzim.
Untuk kedua kalinya malam ini Darbi merasa ada sesuatu yang menusuk-nusuk perutnya, tajam.
* * *
MALAM dingin. Satu-persatu anak-anak muda itu pulang. Lalu Haji Barkah yang terakhir. Tak ingin kesempatannya hilang, Darbi cepat-cepat bangkit dari pojok serambi masjid menghampiri Haji Barkah. Pulang bersama melewati jalan kampung remang. Kabut mulai turun menyelimuti lampu-lampu di pinggir jalan. Tapi entah kenapa Darbi masih dicekam ragu, gamang, mengutarakan niatnya pinjam uang.
“Kudengar kedua anakmu sudah mulai puasa penuh,” ucap Haji Barkah di tengah jalan.
“Alhamdulillah, Pak Haji.” Darbi menjawab dengan bibir pucat gemetar menahan lapar.
“Bagus, bagus. Pendidikan agama memang harus ditanamkan sejak dini. Mudah-mudahan mereka tidak mengikuti jejak Ibunya.”
Semula Darbi tidak sadar dengan apa yang dikatakan Haji Barkah. Tapi ketika kemudian sadar, Darbi tersentak menunduk, merah padam mukanya. Teringat Darbi, mantan istrinya yang sudah pisah dua tahun lalu, kini memang suka dibawa pergi laki-laki. Semua orang kampung tahu. Sebenarnya sudah lama Darbi ingin membunuh ingatannya pada perempuan itu, tapi orang lain entah disengaja atau tidak justru sering mengingatkannya.
Darbi dan Haji Barkah terus berjalan beriringan. Rumah Haji Barkah semakin dekat. Membuat Darbi kian dicekam gelisah. Kesempatan untuk pinjam uang tinggal sebentar lagi. Darbi menghirup nafas panjang mencoba memberanikan diri. “Hmm, maaf, Pak Haji, saya mau merepotkan Pak Haji.” Terputus sejenak suara Darbi menahan sungkan. “Saya mau pinjam uang sepuluh ribu. Insya Allah lusa saya kembalikan.”
Haji Barkah menoleh menatap Darbi lalu buru-buru merogoh saku bajunya. Masih ada selembar sepuluh ribu kusam. “Aduh. Darbi, Darbi, kenapa kamu nggak bilang waktu di masjid tadi? Uangku tinggal sepuluh ribu. Kamu tahu sendiri, uang ini jatah untuk infak subuh besok. Aku harus memberi contoh pada orang-orang kampung bagaimana cara memakmurkan masjid. Besok pagi saja kalau istriku sudah berangkat ke pasar, kamu datang ke rumah” Haji Barkah menepuk-nepuk pundak Darbi.
“Tapi.” Belum selesai Darbi bersuara, Haji Barkah lebih cepat menukas.
“Sudahlah, besok pagi saja. Kamu tidak perlu pinjam, tapi kukasih. Cuma sepuluh ribu kan? Jangan kawatir.” Berkata demikian Haji Barkah belok menuju rumahnya. Langkahnya gegas, tergesa.
Darbi seperti masih ingin mengucapkan sesuatu, tapi lidahnya benar-benar kelu.
* * *
PEDIH dan teriris-iris hati Darbi melihat dua anaknya tidur beralas tikar. Tiga jam lagi ia harus membangunkan kedua bocah kecil itu untuk makan sahur. Tapi hingga saat ini Darbi tak pegang uang sepeser pun. Haji Barkah, satu-satunya harapannya baru menjanjikan besok pagi setelah istrinya berangkat ke pasar. Tiba-tiba berkelebat dalam benak Darbi lembaran-lembaran uang infak yang tadi ia lihat di masjid. Beberapa lembar uang itu tampak masih baru dan licin. Darbi tahu di mana tempat menyimpannya.
Niat Darbi sudah bulat. Darbi kembali keluar rumah berjalan mengendap-endap menghampiri masjid. Menyelinap masuk ke dalam masjid ketika situasi benar-benar sudah aman. Di dalam masjid Darbi melihat dua anak muda tidur pulas di dekat mimbar. Sejenak Darbi menghentikan langkah, tiba-tiba ragu dengan niatnya. Tapi bayangan kedua anaknya yang besok harus puasa terus berkelebat-kelebat dalam benaknya. Darbi segera menghampiri salah satu ruangan tempat menyimpan uang infak. Darbi bersyukur, pintu ruangan itu tidak dikunci. Hati-hati Darbi membuka kotak infak lalu mengambil uang sepuluh ribu rupiah dari situ. Pulang.
* * *
SESAK dan sengal nafas Darbi duduk di kursi menghadap meja makan. Wajahnya tampak letih, pucat, berkeringat. Perutnya semakin terasa perih, melilit-lilit. Matanya mulai berkunang-kunang. Sepanjang hidup baru kali ini ia mencuri. Ia tahu hukuman apa bagi seorang pencuri. Tapi sebentar lagi ia dan kedua anaknya perlu makan sahur untuk menjalankan puasa di hari kedua. Puasa hukumnya wajib. Dan satu lembar uang sepuluh ribu yang baru ia ambil dari kotak infak masjid masih erat dalam genggaman tangannya. Uang itu nanti akan ia belanjakan untuk beli makan sahur bersama kedua anaknya.
Darbi masih mengatur nafasnya yang sesak, sengal, ketika tiba-tiba Niken, anak sulungnya bangun berjalan menghampiri. “Tadi Ibu datang. Ngasih duit.” Suara Niken serak mengangsurkan satu lembar sepuluh ribu pada Darbi.
Gemetar tangan Darbi sewaktu menerima uang itu. Darbi tahu dari mana uang itu didapat mantan istrinya. Kini di tangan Darbi terdapat dua lembar uang. Keduanya cukup untuk makan sahur ala kadarnya bersama dua anaknya. Tapi mendadak Darbi disergap bingung, gelisah, uang mana yang akan ia gunakan?
Malam terus merambat kelam. Sebentar lagi waktu imsak datang.
* Depok, 2005
Teguh Winarsho AS, lahir di Kulonprogo (Yogyakarta), 27 Desember 1973. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit, Bidadari Bersayap Belati (2002), Perempuan Semua Orang (2004), Kabar dari Langit (2004), Tato Naga (2005) dan novel Tunggu Aku di Ulegle, roman dan tragedi di bumi serambi Mekah (2005).
16/09/10
Ular Betina
Teguh Winarsho AS
http://www.sinarharapan.co.id/
Malam pucat di mata Tamin seperti selembar kertas kusam. Jidatnya berleleran keringat, tampak licin berkilat. Pandangan matanya remang, kabur, seperti dilingkupi kabut tebal. Tamin menggosok-gosok matanya dengan ujung jarinya yang berkuku panjang. Ada rasa perih menusuk. Juga kantuk yang masih mengutuk. Tapi Tamin tak mungkin bisa tidur lagi. Tamin akan melek sampai pagi bahkan siang hari. Sebab mimpi buruk itu pasti akan mengendap-endap mendatangi tidurnya begitu ia berhasil mengatupkan kelopak mata dan merapatkan selimut ke sekujur tubuhnya.
Begitulah, tengah malam Tamin selalu terbangun oleh mimpi buruk ketika sorenya habis bercinta dengan Linda, istrinya. Selalu begitu setiap malam hingga membuat Tamin bosan. Sejak itu Tamin tak pernah bisa tidur lagi meski matanya ia katupkan rapat-rapat. Meski lampu kamar ia padamkan dan selimut ia bentangkan menutup ke sekujur tubuhnya.
Bayangan mimpi buruk itu terus berkelebat-kelebat dalam batok kepalanya. Kenikmatan bercinta yang baru ia reguk bersama istri tercinta, yang belum hilang sepenuhnya berubah malapetaka. Tamin benar-benar tersiksa. Kecewa. Tamin iri melihat istrinya yang tidur pulas di sampingnya. Begitu nyaman seperti tanpa beban.
Kadang muncul keinginan di hati Tamin untuk membangunkan Linda yang tengah terlelap itu lalu menceritakan mimpi yang baru dialaminya. Tapi Tamin selalu ragu. Apalagi setelah melihat seraut wajah cantik yang tidur lelap itu. Begitu tenang dan damai.
Tamin sadar istrinya tentu sangat capek setelah seharian kerja banting tulang. Tamin tak tega. Diam-diam Tamin justru membetulkan letak selimut Linda yang sedikit tersingkap memperlihatkan paha mulus membuat jakunnya bergerak naik turun. Menelan ludah serak.
Tersiksa di atas ranjang, gelisah, sumpek, tak bisa tidur, Tamin bergerak ke dapur bikin kopi lantas duduk di teras depan. Berbatang-batang rokok ia habiskan di situ sambil menikmati kerlip bintang di langit kelam dan hembusan angin malam yang dingin menyegarkan. Tubuhnya memang terasa lebih segar dan enteng, tapi tidak kepalanya. Bayangan mimpi buruk itu terus menggeliat-geliat dalam batok kepalanya seperti ada puluhan serangga menggerogoti sel-sel saraf otaknya. Saking jengkelnya kadang Tamin membentur-benturkan kepalanya di dinding berharap bayangan mimpi buruk itu segera lenyap dari batok kepalanya. Tetapi bayangan mimpi buruk itu tak mau hilang. Tamin justru merasakan kepalanya nyeri seperti ditusuk-tusuk ratusan jarum tajam.
Tamin sering heran sendiri kenapa dirinya selalu mimpi buruk setiap kali habis bercinta dengan istrinya. Malam-malam lain, ketika ia tak menjamah istrinya, ia tak mimpi apa-apa. la bisa tidur nyenyak. Bahkan saking nyenyaknya kadang sampai bangun kesiangan—dan hanya mendapati secarik kertas pesan Linda di atas meja dengan tulisan seperti cakar ayam yang mengabarkan bahwa ia telah berangkat kerja. Sudah lama Tamin merindukan suasana malam yang indah dengan tidurnya yang nyenyak dan panjang tanpa gangguan mimpi buruk meski sorenya ia habis bercinta habis-habisan dengan istrinya.
Tapi cita-cita itu tak pernah terlaksana. Tamin masih ingat mimpi buruk itu mulai mengusik tidurnya sejak Linda banting setir dari seorang ibu rumah tangga menjadi pekerja kantoran yang cukup sukses. Tamin tak bisa berbuat apa-apa. Sebab ia sendiri nganggur total setelah dipecat dengan tidak hormat dari perusahaan tempatnya kerja atas tuduhan korupsi uang jatah lembur milik beberapa karyawan bagian gudang.
Seperti seorang kakek tua renta, seharian Tamin hanya duduk mencangkung di teras rumah menghabiskan berbatang-batang rokok, sedikit kue dan kopi. Pikirannya kacau. Gelisah. Wajahnya muram berkerut, terlipat-lipat, membuat ia tampak jauh lebih tua dari usia seharusnya. Tak ada pekerjaan yang bisa dilakukan dengan baik dalam kondisi pikiran kacau dan gelisah. Tamin sadar itu. Karenanya ia malas mencari pekerjaan sebelum kegelisahannya sirna. Tapi, dari hari ke hari kegelisahannya justru kian bertambah banyak seperti tak ada habisnya. Persoalan yang ia hadapi terus menumpuk-numpuk seperti tumpukan pakaian kotor di pojok kamar. Tamin pusing. Kepalanya berdengung-dengung, berat, seperti mau pecah.
Apalagi jika Tamin ingat gunjingan tetangga kanan kiri yang belakangan sering menyindirnya sebagai laki-laki brengsek, bodoh, pemalas, tak mau bekerja. Membuat Tamin semakin dongkol, jarang keluar rumah. Membuat Tamin malas menyapa atau sekadar menganggukkan kepala pada para tetangga yang kebetulan melintas di jalan depan rumahnya. Tamin diam-diam malu pada mereka. Tamin merasa dirinya tak berguna, gagal menjadi seorang suami yang baik.
Satu-satunya jalan yang ingin segera ditempuh Tamin adalah menceritakan mimpi buruk itu pada istrinya. Siapa tahu istrinya bisa mencarikan jalan keluar. Tapi lagi-lagi Tamin ragu, takut, khawatir, jika istrinya malah marah-marah setelah mendengar ceritanya.
Bukan tidak mungkin Linda kemudian purik, pulang ke rumah orangtuanya. Atau tiba-tiba minta cerai. Betapa celaka!
Tamin tak ingin membuat istrinya marah hanya karena persoalan sepele; mimpi. Tamin tak mau ditinggalkan istrinya. Tamin takut nanti tak akan ada lagi orang yang mengurusnya; memberi makan, minum, rokok, pakaian dan lain-lain. Siapa? Sejak di-PHK ia tak punya masukan uang sedikit pun kecuali dari Linda. Padahal ia harus merokok, makan, minum, dan sesekali jalan-jalan di akhir bulan. ltu semua sudah menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan. Tamin sadar tanpa uluran tangan Linda, hidupnya akan berubah neraka. Bagi Tamin, Linda ibarat bank berjalan yang bisa dimintai duit kapan saja. Adalah tindakan bodoh jika sampai membuat Linda marah. Apalagi sampai minta pulang ke rumah orang tuanya. Karena itu Tamin sering mengalah, tak mau ribut-ribut apalagi bikin gara-gara.
Kecuali mimpi buruk yang terus menerus mengusik tidur setiap kali habis bercinta dengan istrinya, sebenarnya kehidupan Tamin cukup bahagia. Sangat bahagia. la tak perlu susah payah bekerja, seperti tetangga kanan kiri karena semua kebutuhan keluarga sudah dipenuhi Linda. Tamin tinggal duduk ongkang-ongkang di teras depan; menikmati hisapan demi hisapan tembakau kretek sembari menyruput kopi kental dan melahap kue sekadarnya. Bolehlah sesekali melakukan pekerjaan ringan, menyapu halaman, memotong rumput, mengecat dinding atau mengepel lantai.
Gunjingan tetangga kanan kiri yang kian deras dialamatkan kepada dirinya bisa ia anggap sebagai angin lalu. Tak perlu digubris. Bukankah hanya orang-orang iri dan yang tak punya pekerjaan saja yang masih suka bergunjing? Jadi pada dasarnya mereka sedang menertawakan diri mereka sendiri, begitu Tamin selalu menghibur diri. Tamin yakin suatu kali jika sudah capek tentu mulut-mulut nyinyir itu akan bungkam sendiri. Atau kalau memang ia sudah tak sabar dan terpaksa harus turun tangan, dengan senang hati ia akan membungkam mulut-mulut itu dengan sekop atau balok kayu. Sebagai laki-laki Tamin juga punya harga diri.
Satu-satunya persoalan yang kini mengusik ketenangan hidup Tamin adalah soal mimpi buruk itu. Tamin tak habis pikir bagaimana mungkin mimpi buruk itu selalu datang setiap kali ia habis bercinta dengan istrinya. Pada malam-malam lain ketika ia tak menyentuh istrinya, ia bisa tidur nyenyak tak mimpi apa-apa. Pernah suatu kali Tamin mencoba tidak tidur semalaman setelah sorenya bercinta habis-habisan dengan istrinya. Ia minum kopi dan menyulut rokok sebanyak-banyaknya untuk mengusir rasa kantuk. Tamin berhasil tidak tidur hingga pagi dan siang hari. Tapi ketika sore sedikit angin mulai berembus masuk, dingin memeluk, ia mulai tak kuat menahan kantuk, tertidur di atas kursi empuk, dan kembali menjumpai mimpi buruk. Lebih ganas dan liar. Tamin sontak terbangun persis orang kesurupan. Jantungnya berdebar. Matanya melotot merah. Keringat dingin mengucur deras membuat tubuhnya basah menggigil seperti orang habis kecebur kolam.
***
TAMIN merasa istrinya dari hari ke hari kian bertambah cantik. Bibirnya yang tebal dan kenyal selalu dicat lipstik wama merah muda. Menggairahkan. Sangat serasi dengan kulit wajahnya yang putih mulus. Rambutnya yang panjang juga selalu digelung rapi begitu pulang kerja hingga lehernya yang jenjang tampak cemerlang. Bau parfum bercampur keringat sesekali meruap lamat. Membuat hidung Tamin kembang kempis, gelagapan, tak kuasa menahan sesuatu yang menggelegak di dada. Membuat mata Tamin jelalatan persis mata kucing jantan yang tengah berahi. Tapi Tamin sadar, sangat sadar, mimpi buruk itu pasti akan menyergap tidurnya jika ia sampai berani menggauli istrinya. Karenanya Tamin berusaha sekuat tenaga menahan birahinya. la tak mau kenikmatan sesaat itu dibalas dengan malapetaka berkepanjangan. Paling-paling ia kemudian lari ke kamar mandi.
Tetapi suatu malam Tamin benar-benar tak kuat menahan birahi pada Linda yang tampak begitu cantik seperti bidadari baru turun dari surga. Kecantikan Linda membuat Tamin lupa akan mimpi buruk yang pasti mengusik tidurnya. Begitulah, malam itu Tamin begitu bersemangat menggauli Linda setelah sebelumnya minum dua butir viagra. Ibarat seorang petani yang sudah lama mengharapkan turun hujan lebat, Tamin menghempaskan cangkul sedalam-dalamnya di ladang Linda. Keringat dingin berleleran. Selimut dan bantal berhamburan. Tamin benar-benar kesetanan. Sementara Linda hanya bisa pasrah memenuhi kewajiban. Satu jam. Tamin terkapar. Lemas. Lelap.
Tengah malam Tamin terloncat dan atas ranjang. Wajahnya pucat. Mimpi buruk itu kembali menyergapnya! ”Ular! Ular! Ular!” Tamin berteriak-teriak. Tubuhnya menggigil basah keringat, Sontak Linda terbangun. Bengong. Menggosok-gosok mata. Letih. Perih.
”Ada ular besar! Aku takut! Takut…. Takut….” Suara Tamin berangsur pelan menyadari bahwa ular itu hanya ada dalam mimpinya.
Linda bergerak mendekati Tamin. Langkahnya hati-hati. Tamin masih menggigil, gemetar, di sudut kamar.
”Tidak usah takut. Kau hanya mimpi….” suara Linda lembut. Mesra. ”Kau mimpi apa, Sayang?”
Tamin terngungun. ”Aaaku….mimpi menggauli seekor ular betina besar….” ucap Tamin seperti tak sadar. Tapi ingatannya segera melayang pada peristiwa beberapa waktu lalu saat ia menemui seorang pintar yang menafsirkan mimpi itu sebagai pengkhianatan Linda terhadap dirinya. Benarkah?
Linda tampak kaget. Tetapi dengan cepat ia bisa menguasai diri. Tersenyum merengkuh bahu Tamin. ”Sudahlah, mungkin kau terlalu lelah.”
Tamin seperti ingin berkata-kata lagi, tapi Linda telah mendaratkan satu kecupan mesra di bibirnya. Membuat bibir Tamin bergetar, tenggorokannya gatal seperti tersumpal batu. Malam larut. Tapi diam-diam Linda memendam keinginan untuk segera menelepon seseorang. Kepada orang itu Linda ingin membatalkan kencan yang telah ia sepakati esok hari. Juga esok dan esoknya lagi, sampai keadaan benar-benar aman.
”Tidurlah, Sayang. Atau, kau masih ingin…..” Linda tak melanjutkan kata-katanya melihat Tamin menggelengkan kepala. Lesu. Pucat….
Depok, November 2001
http://www.sinarharapan.co.id/
Malam pucat di mata Tamin seperti selembar kertas kusam. Jidatnya berleleran keringat, tampak licin berkilat. Pandangan matanya remang, kabur, seperti dilingkupi kabut tebal. Tamin menggosok-gosok matanya dengan ujung jarinya yang berkuku panjang. Ada rasa perih menusuk. Juga kantuk yang masih mengutuk. Tapi Tamin tak mungkin bisa tidur lagi. Tamin akan melek sampai pagi bahkan siang hari. Sebab mimpi buruk itu pasti akan mengendap-endap mendatangi tidurnya begitu ia berhasil mengatupkan kelopak mata dan merapatkan selimut ke sekujur tubuhnya.
Begitulah, tengah malam Tamin selalu terbangun oleh mimpi buruk ketika sorenya habis bercinta dengan Linda, istrinya. Selalu begitu setiap malam hingga membuat Tamin bosan. Sejak itu Tamin tak pernah bisa tidur lagi meski matanya ia katupkan rapat-rapat. Meski lampu kamar ia padamkan dan selimut ia bentangkan menutup ke sekujur tubuhnya.
Bayangan mimpi buruk itu terus berkelebat-kelebat dalam batok kepalanya. Kenikmatan bercinta yang baru ia reguk bersama istri tercinta, yang belum hilang sepenuhnya berubah malapetaka. Tamin benar-benar tersiksa. Kecewa. Tamin iri melihat istrinya yang tidur pulas di sampingnya. Begitu nyaman seperti tanpa beban.
Kadang muncul keinginan di hati Tamin untuk membangunkan Linda yang tengah terlelap itu lalu menceritakan mimpi yang baru dialaminya. Tapi Tamin selalu ragu. Apalagi setelah melihat seraut wajah cantik yang tidur lelap itu. Begitu tenang dan damai.
Tamin sadar istrinya tentu sangat capek setelah seharian kerja banting tulang. Tamin tak tega. Diam-diam Tamin justru membetulkan letak selimut Linda yang sedikit tersingkap memperlihatkan paha mulus membuat jakunnya bergerak naik turun. Menelan ludah serak.
Tersiksa di atas ranjang, gelisah, sumpek, tak bisa tidur, Tamin bergerak ke dapur bikin kopi lantas duduk di teras depan. Berbatang-batang rokok ia habiskan di situ sambil menikmati kerlip bintang di langit kelam dan hembusan angin malam yang dingin menyegarkan. Tubuhnya memang terasa lebih segar dan enteng, tapi tidak kepalanya. Bayangan mimpi buruk itu terus menggeliat-geliat dalam batok kepalanya seperti ada puluhan serangga menggerogoti sel-sel saraf otaknya. Saking jengkelnya kadang Tamin membentur-benturkan kepalanya di dinding berharap bayangan mimpi buruk itu segera lenyap dari batok kepalanya. Tetapi bayangan mimpi buruk itu tak mau hilang. Tamin justru merasakan kepalanya nyeri seperti ditusuk-tusuk ratusan jarum tajam.
Tamin sering heran sendiri kenapa dirinya selalu mimpi buruk setiap kali habis bercinta dengan istrinya. Malam-malam lain, ketika ia tak menjamah istrinya, ia tak mimpi apa-apa. la bisa tidur nyenyak. Bahkan saking nyenyaknya kadang sampai bangun kesiangan—dan hanya mendapati secarik kertas pesan Linda di atas meja dengan tulisan seperti cakar ayam yang mengabarkan bahwa ia telah berangkat kerja. Sudah lama Tamin merindukan suasana malam yang indah dengan tidurnya yang nyenyak dan panjang tanpa gangguan mimpi buruk meski sorenya ia habis bercinta habis-habisan dengan istrinya.
Tapi cita-cita itu tak pernah terlaksana. Tamin masih ingat mimpi buruk itu mulai mengusik tidurnya sejak Linda banting setir dari seorang ibu rumah tangga menjadi pekerja kantoran yang cukup sukses. Tamin tak bisa berbuat apa-apa. Sebab ia sendiri nganggur total setelah dipecat dengan tidak hormat dari perusahaan tempatnya kerja atas tuduhan korupsi uang jatah lembur milik beberapa karyawan bagian gudang.
Seperti seorang kakek tua renta, seharian Tamin hanya duduk mencangkung di teras rumah menghabiskan berbatang-batang rokok, sedikit kue dan kopi. Pikirannya kacau. Gelisah. Wajahnya muram berkerut, terlipat-lipat, membuat ia tampak jauh lebih tua dari usia seharusnya. Tak ada pekerjaan yang bisa dilakukan dengan baik dalam kondisi pikiran kacau dan gelisah. Tamin sadar itu. Karenanya ia malas mencari pekerjaan sebelum kegelisahannya sirna. Tapi, dari hari ke hari kegelisahannya justru kian bertambah banyak seperti tak ada habisnya. Persoalan yang ia hadapi terus menumpuk-numpuk seperti tumpukan pakaian kotor di pojok kamar. Tamin pusing. Kepalanya berdengung-dengung, berat, seperti mau pecah.
Apalagi jika Tamin ingat gunjingan tetangga kanan kiri yang belakangan sering menyindirnya sebagai laki-laki brengsek, bodoh, pemalas, tak mau bekerja. Membuat Tamin semakin dongkol, jarang keluar rumah. Membuat Tamin malas menyapa atau sekadar menganggukkan kepala pada para tetangga yang kebetulan melintas di jalan depan rumahnya. Tamin diam-diam malu pada mereka. Tamin merasa dirinya tak berguna, gagal menjadi seorang suami yang baik.
Satu-satunya jalan yang ingin segera ditempuh Tamin adalah menceritakan mimpi buruk itu pada istrinya. Siapa tahu istrinya bisa mencarikan jalan keluar. Tapi lagi-lagi Tamin ragu, takut, khawatir, jika istrinya malah marah-marah setelah mendengar ceritanya.
Bukan tidak mungkin Linda kemudian purik, pulang ke rumah orangtuanya. Atau tiba-tiba minta cerai. Betapa celaka!
Tamin tak ingin membuat istrinya marah hanya karena persoalan sepele; mimpi. Tamin tak mau ditinggalkan istrinya. Tamin takut nanti tak akan ada lagi orang yang mengurusnya; memberi makan, minum, rokok, pakaian dan lain-lain. Siapa? Sejak di-PHK ia tak punya masukan uang sedikit pun kecuali dari Linda. Padahal ia harus merokok, makan, minum, dan sesekali jalan-jalan di akhir bulan. ltu semua sudah menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan. Tamin sadar tanpa uluran tangan Linda, hidupnya akan berubah neraka. Bagi Tamin, Linda ibarat bank berjalan yang bisa dimintai duit kapan saja. Adalah tindakan bodoh jika sampai membuat Linda marah. Apalagi sampai minta pulang ke rumah orang tuanya. Karena itu Tamin sering mengalah, tak mau ribut-ribut apalagi bikin gara-gara.
Kecuali mimpi buruk yang terus menerus mengusik tidur setiap kali habis bercinta dengan istrinya, sebenarnya kehidupan Tamin cukup bahagia. Sangat bahagia. la tak perlu susah payah bekerja, seperti tetangga kanan kiri karena semua kebutuhan keluarga sudah dipenuhi Linda. Tamin tinggal duduk ongkang-ongkang di teras depan; menikmati hisapan demi hisapan tembakau kretek sembari menyruput kopi kental dan melahap kue sekadarnya. Bolehlah sesekali melakukan pekerjaan ringan, menyapu halaman, memotong rumput, mengecat dinding atau mengepel lantai.
Gunjingan tetangga kanan kiri yang kian deras dialamatkan kepada dirinya bisa ia anggap sebagai angin lalu. Tak perlu digubris. Bukankah hanya orang-orang iri dan yang tak punya pekerjaan saja yang masih suka bergunjing? Jadi pada dasarnya mereka sedang menertawakan diri mereka sendiri, begitu Tamin selalu menghibur diri. Tamin yakin suatu kali jika sudah capek tentu mulut-mulut nyinyir itu akan bungkam sendiri. Atau kalau memang ia sudah tak sabar dan terpaksa harus turun tangan, dengan senang hati ia akan membungkam mulut-mulut itu dengan sekop atau balok kayu. Sebagai laki-laki Tamin juga punya harga diri.
Satu-satunya persoalan yang kini mengusik ketenangan hidup Tamin adalah soal mimpi buruk itu. Tamin tak habis pikir bagaimana mungkin mimpi buruk itu selalu datang setiap kali ia habis bercinta dengan istrinya. Pada malam-malam lain ketika ia tak menyentuh istrinya, ia bisa tidur nyenyak tak mimpi apa-apa. Pernah suatu kali Tamin mencoba tidak tidur semalaman setelah sorenya bercinta habis-habisan dengan istrinya. Ia minum kopi dan menyulut rokok sebanyak-banyaknya untuk mengusir rasa kantuk. Tamin berhasil tidak tidur hingga pagi dan siang hari. Tapi ketika sore sedikit angin mulai berembus masuk, dingin memeluk, ia mulai tak kuat menahan kantuk, tertidur di atas kursi empuk, dan kembali menjumpai mimpi buruk. Lebih ganas dan liar. Tamin sontak terbangun persis orang kesurupan. Jantungnya berdebar. Matanya melotot merah. Keringat dingin mengucur deras membuat tubuhnya basah menggigil seperti orang habis kecebur kolam.
***
TAMIN merasa istrinya dari hari ke hari kian bertambah cantik. Bibirnya yang tebal dan kenyal selalu dicat lipstik wama merah muda. Menggairahkan. Sangat serasi dengan kulit wajahnya yang putih mulus. Rambutnya yang panjang juga selalu digelung rapi begitu pulang kerja hingga lehernya yang jenjang tampak cemerlang. Bau parfum bercampur keringat sesekali meruap lamat. Membuat hidung Tamin kembang kempis, gelagapan, tak kuasa menahan sesuatu yang menggelegak di dada. Membuat mata Tamin jelalatan persis mata kucing jantan yang tengah berahi. Tapi Tamin sadar, sangat sadar, mimpi buruk itu pasti akan menyergap tidurnya jika ia sampai berani menggauli istrinya. Karenanya Tamin berusaha sekuat tenaga menahan birahinya. la tak mau kenikmatan sesaat itu dibalas dengan malapetaka berkepanjangan. Paling-paling ia kemudian lari ke kamar mandi.
Tetapi suatu malam Tamin benar-benar tak kuat menahan birahi pada Linda yang tampak begitu cantik seperti bidadari baru turun dari surga. Kecantikan Linda membuat Tamin lupa akan mimpi buruk yang pasti mengusik tidurnya. Begitulah, malam itu Tamin begitu bersemangat menggauli Linda setelah sebelumnya minum dua butir viagra. Ibarat seorang petani yang sudah lama mengharapkan turun hujan lebat, Tamin menghempaskan cangkul sedalam-dalamnya di ladang Linda. Keringat dingin berleleran. Selimut dan bantal berhamburan. Tamin benar-benar kesetanan. Sementara Linda hanya bisa pasrah memenuhi kewajiban. Satu jam. Tamin terkapar. Lemas. Lelap.
Tengah malam Tamin terloncat dan atas ranjang. Wajahnya pucat. Mimpi buruk itu kembali menyergapnya! ”Ular! Ular! Ular!” Tamin berteriak-teriak. Tubuhnya menggigil basah keringat, Sontak Linda terbangun. Bengong. Menggosok-gosok mata. Letih. Perih.
”Ada ular besar! Aku takut! Takut…. Takut….” Suara Tamin berangsur pelan menyadari bahwa ular itu hanya ada dalam mimpinya.
Linda bergerak mendekati Tamin. Langkahnya hati-hati. Tamin masih menggigil, gemetar, di sudut kamar.
”Tidak usah takut. Kau hanya mimpi….” suara Linda lembut. Mesra. ”Kau mimpi apa, Sayang?”
Tamin terngungun. ”Aaaku….mimpi menggauli seekor ular betina besar….” ucap Tamin seperti tak sadar. Tapi ingatannya segera melayang pada peristiwa beberapa waktu lalu saat ia menemui seorang pintar yang menafsirkan mimpi itu sebagai pengkhianatan Linda terhadap dirinya. Benarkah?
Linda tampak kaget. Tetapi dengan cepat ia bisa menguasai diri. Tersenyum merengkuh bahu Tamin. ”Sudahlah, mungkin kau terlalu lelah.”
Tamin seperti ingin berkata-kata lagi, tapi Linda telah mendaratkan satu kecupan mesra di bibirnya. Membuat bibir Tamin bergetar, tenggorokannya gatal seperti tersumpal batu. Malam larut. Tapi diam-diam Linda memendam keinginan untuk segera menelepon seseorang. Kepada orang itu Linda ingin membatalkan kencan yang telah ia sepakati esok hari. Juga esok dan esoknya lagi, sampai keadaan benar-benar aman.
”Tidurlah, Sayang. Atau, kau masih ingin…..” Linda tak melanjutkan kata-katanya melihat Tamin menggelengkan kepala. Lesu. Pucat….
Depok, November 2001
03/02/09
Manequin
Teguh Winarsho AS
http://entertainmen.suaramerdeka.com/
KATANYA kau akan menceritakan kepadaku kisah cinta yang mengagumkan. Kenapa tak kauceritakan sekarang?" pintaku pada Renata, kekasihku, pada suatu sore di bangku taman. Awalnya Renata hanya diam. Tapi beberapa saat kemudian dengan wajah malu-malu ia mulai bercerita:
Di sebuah kota kecil yang malam-malamnya terasa panjang dan membosankan, seorang laki-laki tampan keluar dari toko pakaian berjalan tergesa-gesa menyusuri trotoar. Kala itu malam belum terlalu larut, tapi gerimis yang turun seolah mempercepat kelam. Sesekali kilat memercik dari atap langit membuat jalan aspal di depan berkilatan. Sekejap udara tampak terang benderang seperti pesta kembang api, lalu kembali gelap. Hanya lampu-lampu kota yang kian redup, pucat dan menggigil kedinginan.
Tapi laki-laki tampan itu terus berjalan menyusuri trotoar yang lengang. Matanya yang biru terkadang mengerjap-ngerjap bahagia menatap gerimis yang terus berpendar. Langkahnya ringan seperti melayang. Dimasukinya sebuah jalan kampung dengan jantung berdebar seperti cinta yang kini baru mekar di hatinya. Meski terkadang ia merasa lucu jika ingat bagaimana mungkin ada cinta bisa mekar di hatinya. Cinta? Hmm. Kata itu sering ia dengungkan di kepalanya seolah masih belum percaya jika sesuatu yang berkobar hangat penuh gairah rindu yang membakar seluruh perasaannya itu adalah cinta. Ya, cinta! Kata itu, meski terasa asing diucapkan, tapi begitu indah didengar. Telinganya mampu menangkap keindahan-keindahan itu hingga kadang ia hanyut, terlena dalam khayalan.
Maka, di toko pakaian tempat ia banyak menghabiskan hari-harinya, ia mulai senang mendengarkan lagu-lagu romantis. Senang mencuri dengar orang-orang yang kebetulan masuk toko dan bicara tentang cinta. Ia juga sangat senang menatap berlama-lama sepasang kekasih yang diam-diam sedang bercumbu di trotoar seberang jalan di bawah tirai gerimis menjelang malam. Semua itu begitu mengasyikkan. Ia ingin seperti mereka. Menumpahkan segenap rindu yang menyesak di dada. Meski ia sadar dirinya hanyalah sebuah manequin, boneka besar yang dipajang dalam toko dengan pakaian dan dandanan bagus, membuat gadis-gadis remaja dan ibu-ibu muda sering melotot berdecak kagum.
Ya, cinta itu pulalah yang kini menggerakkan kedua kakinya keluar dari toko, menyelinap di antara para pengunjung yang datang. Mereka menatap kagum dan sama sekali tidak sadar kalau dirinya sebuah manequin. Kekaguman telah membutakan kesadaran mereka. Ia sendiri merasa seperti mimpi. Sebelumnya ia tak percaya jika cinta yang terus berkobar di dadanya mampu membuat dirinya bisa berjalan seperti layaknya manusia. Memang, pada awalnya agak kaku dan berat hingga ia harus ekstrahati-hati agar tidak jatuh terpeleset. Tapi setelah berjalan cukup jauh langkahnya menjadi ringan seperti melayang.
Ia tidak tahu sejak kapan sebenarnya bisa berjalan seperti manusia. Yang ia ingat pada suatu hari seorang laki-laki datang ke toko, berjalan tergesa-gesa lalu tanpa sengaja menabrak dari belakang membuat ia sempoyongan mau rubuh. Beruntung perempuan cantik yang datang bersama laki-laki itu segera menahan tubuhnya. Ia tak jadi jatuh. Tapi sentuhan lembut tangan perempuan itu tiba-tiba membuat tubuhnya bergetar hebat, seperti mengalirkan kekuatan gaib. Mungkin sejak itu sebenarnya ia bisa berjalan, paling tidak menggerak-gerakkan tubuhnya.
Ah, ia juga ingat ketika beberapa hari kemudian perempuan itu datang lagi ke toko dan tanpa sengaja bersitatap dengannya. Darahnya langsung berdesir saat perempuan itu tersenyum lembut sambil mengedipkan mata. Ia balas berkedip. Perempuan itu kemudian mendekatinya. Langkahnya hati-hati seolah takut jika ada orang lain yang memperhatikannya. Aroma parfum yang menguar dari tubuh perempuan itu kian menusuk hidungnya. Tapi tentu saja baginya bukan perkara sulit menebak parfum yang dikenakan perempuan itu; poison-christian dior, yang ia tahu persis di counter sebelah mana parfum itu dijual di toko. Ia sudah terbiasa dengan bau parfum semacam itu dan tentu saja masih banyak parfum lainnya. Tapi entah kenapa menjadi istimewa ketika yang memakai perempuan itu. Perempuan itu berdiri satu langkah didepannya, masih tersenyum. Tapi ia tahu perempuan itu sebenarnya sedang bersedih. Sorot matanya sayu, redup, seperti diselubungi kabut.
Tiba-tiba perempuan itu menyentuh tangannya lalu menciumnya. Ia kaget luar biasa. Ia belum pernah diperlakukan seperti itu. Ada perasaan asing yang perlahan-lahan menjalar dalam tubuhnya. Ia ingin balas menggenggam tangan perempuan itu lalu meraih tubuhnya dalam dekapan, seperti sepasang kekasih yang sering ia lihat di trotoar seberang jalan. Tapi ia ragu apakah bisa melakukan hal itu. Ia sadar dirinya hanya sebuah manequin yang dipajang di pojok ruangan toko untuk memamerkan pakaian. Untuk kedua kalinya perempuan itu mencium tangannya ketika dari arah belakang muncul sosok laki-laki berambut cepak menggertak: "Gila! Apa-apaan kamu ini!" Mata laki-laki itu melotot. Lalu menarik tangan perempuan itu dengan kasar.
Ia benar-benar jijik pada laki-laki itu. Badannya tinggi besar. Wajahnya keras. Mungkin dia preman. Tapi melihat caranya menggertak dan menarik tangan perempuan itu yang begitu khas dan terlatih, tentu dia sudah terbiasa melakukan hal-hal seperti itu. Ia merasa kasihan pada perempuan itu. Tentu perempuan itu malu dan sakit hati. Ia masih ingat betapa wajah perempuan itu mendadak berubah merah-pucat.
Tapi beberapa hari kemudian perempuan itu datang lagi ke toko. Kali ini ia datang sendiri. Mengenakan rok pendek cokelat dan kaos putih bergambar bunga mekar dan beberapa ekor kupu-kupu yang terbang mengelilinginya. Perempuan itu tampak tergesa-gesa. Melihat-lihat baju lalu memberikan secarik kertas berisi alamat rumahnya. Semula ia tidak tahu apa maksud perempuan itu. Tapi setelah hari-hari berlalu dan ia tak pernah menjumpai perempuan itu, sementara hatinya terus ditangkup rindu, ia baru sadar harus menemui perempuan itu. Tentu perempuan itu memberi alamat rumahnya agar ia datang ke sana.
Ya, kini ia memang sedang mencari rumah perempuan itu. Gerimis masih turun ketika ia menyusuri jalan kampung yang becek dan licin. Berkali-kali ia harus melompat menghindari genangan air. Cahaya lampu membias samar pada tembok-tembok kusam penuh corat-coret pilox. Sungguh menyebalkan. Menjijikkan. Ia tak terbiasa berada di tempat kotor seperti itu. Meski begitu ia terus berjalan. Rindunya sudah tak tertahankan. Rumah demi rumah ia lalui dengan jantung terus berdebar.
Entah sudah berapa kilo ia berjalan, tapi rumah perempuan itu belum juga ia temukan. Beberapa perempuan berdandan menor di pinggir jalan sempat menggodanya. Satu dua orang mencubit pantatnya dengan gemas lalu tertawa cekikian. Ia tak habis pikir kenapa begitu banyak perempuan berkeliaran di malam gerimis seperti itu. Mereka cantik-cantik dan menggairahkan. Tapi ia tak tertarik dengan mereka. Ia hanya tertarik pada perempuan cantik yang beberapa waktu lalu memberikan alamat rumahnya.
Ia sering membayangkan suatu kali bisa bercinta dengan perempuan itu. Ia sudah bosan jadi boneka berdiri kaku di pojok toko dengan pakaian dan dandanan yang selalu berganti tiga minggu sekali. Ia ingin menghabiskan malam-malam yang dingin dan panjang bersama perempuan itu. Ia ingin menikmati cinta yang sedang berkobar hangat bersama perempuan itu. Mungkin sampai pagi, siang, sore, atau malah sampai malam berikutnya. Begitu seterusnya. Ah, betapa indahnya. Pasti perempuan itu tidak keberatan. Ia tahu diam-diam perempuan itu juga jatuh hati padanya.
Tapi, ups! Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya di sebuah tikungan jalan sepi ketika dalam kelebat samar, ia menangkap sosok perempuan itu sedang berjalan sambil bergandengan mesra dengan laki-laki yang pernah menabraknya di toko. Laki-laki yang suka membentak dan bertindak kasar. Ah, kenapa perempuan itu masih bersama laki-laki itu? Apa yang menarik dari laki-laki tinggi besar itu? Berbagai pertanyaan langsung memenuhi benaknya. Hingga ia tak kuasa menahan diri. Jantungnya berdetak kencang menahan cemburu. Ia kembali melangkah mengejar perempuan itu. "Hai! Apakah kamu masih ingat aku?" Ia bertanya dengan napas tersengal-sengal.
Perempuan itu terkejut. Sesaat matanya mengerjap bahagia. Ada segumpal kerinduan di matanya. Tapi ketika dia sadar saat itu sedang berjalan bersama kekasihnya, laki-laki yang suka bertindak kasar, wajah perempuan itu tiba-tiba berubah dingin. Bahkan dengan ekpresi ketakutan perempuan itu cepat-cepat merapat pada laki-laki tinggi besar disebelahnya. "Kamu siapa? Aku tidak kenal kamu!" Kata perempuan itu sinis. "Sayang, sebaiknya laki-laki mabuk itu disuruh pergi! Aku takut..." Lanjut perempuan itu merajuk pada kekasihnya. Laki-laki itu mengangguk.
Tahu bahaya mengancam ia mundur teratur. Ia sadar tak mungkin bisa mengalahkan laki-laki tinggi besar itu. Laki-laki itu pasti pinta berkelahi. Sedang ia tak bisa berkelahi. Ia tak pernah diajari meninju orang. Ia benci kekerasan. Dengan perasaan perih ia pulang menembus remang malam. Menerobos gerimis yang terus berderai. Langkahnya gontai tak bersemangat. Jiwanya merintih. Tubuhnya menggigil kedinginan. Di sebuah tikungan jalan mendadak tubuhnya oleng, sempoyongan lalu ambruk.
Entah berapa lama ia pingsan. Ketika sadar ia mendapati tubuhnya terkapar di atas ranjang. Di sebelahnya seorang perempuan menunggu dengan tatapan penuh kekaguman. Perempuan itu, meski agak tua, tapi sebenarnya masih cukup cantik. Ia menggosok-gosok mata untuk memperjelas penglihatannya. Ia takjub melihat isi ruangan kamar yang penuh perabotan mahal. Tapi belum juga puas menatap seluruh isi ruangan kamar, tiba-tiba perempuan itu dengan tergesa-gesa membungkus tubuhnya dengan selimut lalu membopong ke dalam gudang ketika terdengar deru mobil masuk halaman. ?Sial! Sesore ini tua bangka itu sudah pulang. Maaf, untuk sementara kamu kutaruh di gudang!? Kata perempuan itu bergegas keluar sambil mengunci pintu.
Ia ingin berontak, tapi sia-sia. Ia sudah tak bertenaga. Sebab cinta sudah lenyap dari hatinya. Begitulah, kekuatan cinta sejati mampu menghidupkan benda-benda mati. Sedang cinta palsu hanya membuat seseorang seolah-olah hidup tapi sesungguhnya mati...
"Apakah kamu puas dengan ceritaku?" tanya Renata setelah mengakhiri ceritanya.
"Tunggu! Sepertinya aku pernah tahu cerita itu. Dan, kenapa laki-laki tinggi besar yang suka bertindak kasar yang kamu ceritakan tadi mirip sekali dengan diriku?" aku balik bertanya.
Tapi Renata hanya tersenyum dan diam...
Depok, 2006.
http://entertainmen.suaramerdeka.com/
KATANYA kau akan menceritakan kepadaku kisah cinta yang mengagumkan. Kenapa tak kauceritakan sekarang?" pintaku pada Renata, kekasihku, pada suatu sore di bangku taman. Awalnya Renata hanya diam. Tapi beberapa saat kemudian dengan wajah malu-malu ia mulai bercerita:
Di sebuah kota kecil yang malam-malamnya terasa panjang dan membosankan, seorang laki-laki tampan keluar dari toko pakaian berjalan tergesa-gesa menyusuri trotoar. Kala itu malam belum terlalu larut, tapi gerimis yang turun seolah mempercepat kelam. Sesekali kilat memercik dari atap langit membuat jalan aspal di depan berkilatan. Sekejap udara tampak terang benderang seperti pesta kembang api, lalu kembali gelap. Hanya lampu-lampu kota yang kian redup, pucat dan menggigil kedinginan.
Tapi laki-laki tampan itu terus berjalan menyusuri trotoar yang lengang. Matanya yang biru terkadang mengerjap-ngerjap bahagia menatap gerimis yang terus berpendar. Langkahnya ringan seperti melayang. Dimasukinya sebuah jalan kampung dengan jantung berdebar seperti cinta yang kini baru mekar di hatinya. Meski terkadang ia merasa lucu jika ingat bagaimana mungkin ada cinta bisa mekar di hatinya. Cinta? Hmm. Kata itu sering ia dengungkan di kepalanya seolah masih belum percaya jika sesuatu yang berkobar hangat penuh gairah rindu yang membakar seluruh perasaannya itu adalah cinta. Ya, cinta! Kata itu, meski terasa asing diucapkan, tapi begitu indah didengar. Telinganya mampu menangkap keindahan-keindahan itu hingga kadang ia hanyut, terlena dalam khayalan.
Maka, di toko pakaian tempat ia banyak menghabiskan hari-harinya, ia mulai senang mendengarkan lagu-lagu romantis. Senang mencuri dengar orang-orang yang kebetulan masuk toko dan bicara tentang cinta. Ia juga sangat senang menatap berlama-lama sepasang kekasih yang diam-diam sedang bercumbu di trotoar seberang jalan di bawah tirai gerimis menjelang malam. Semua itu begitu mengasyikkan. Ia ingin seperti mereka. Menumpahkan segenap rindu yang menyesak di dada. Meski ia sadar dirinya hanyalah sebuah manequin, boneka besar yang dipajang dalam toko dengan pakaian dan dandanan bagus, membuat gadis-gadis remaja dan ibu-ibu muda sering melotot berdecak kagum.
Ya, cinta itu pulalah yang kini menggerakkan kedua kakinya keluar dari toko, menyelinap di antara para pengunjung yang datang. Mereka menatap kagum dan sama sekali tidak sadar kalau dirinya sebuah manequin. Kekaguman telah membutakan kesadaran mereka. Ia sendiri merasa seperti mimpi. Sebelumnya ia tak percaya jika cinta yang terus berkobar di dadanya mampu membuat dirinya bisa berjalan seperti layaknya manusia. Memang, pada awalnya agak kaku dan berat hingga ia harus ekstrahati-hati agar tidak jatuh terpeleset. Tapi setelah berjalan cukup jauh langkahnya menjadi ringan seperti melayang.
Ia tidak tahu sejak kapan sebenarnya bisa berjalan seperti manusia. Yang ia ingat pada suatu hari seorang laki-laki datang ke toko, berjalan tergesa-gesa lalu tanpa sengaja menabrak dari belakang membuat ia sempoyongan mau rubuh. Beruntung perempuan cantik yang datang bersama laki-laki itu segera menahan tubuhnya. Ia tak jadi jatuh. Tapi sentuhan lembut tangan perempuan itu tiba-tiba membuat tubuhnya bergetar hebat, seperti mengalirkan kekuatan gaib. Mungkin sejak itu sebenarnya ia bisa berjalan, paling tidak menggerak-gerakkan tubuhnya.
Ah, ia juga ingat ketika beberapa hari kemudian perempuan itu datang lagi ke toko dan tanpa sengaja bersitatap dengannya. Darahnya langsung berdesir saat perempuan itu tersenyum lembut sambil mengedipkan mata. Ia balas berkedip. Perempuan itu kemudian mendekatinya. Langkahnya hati-hati seolah takut jika ada orang lain yang memperhatikannya. Aroma parfum yang menguar dari tubuh perempuan itu kian menusuk hidungnya. Tapi tentu saja baginya bukan perkara sulit menebak parfum yang dikenakan perempuan itu; poison-christian dior, yang ia tahu persis di counter sebelah mana parfum itu dijual di toko. Ia sudah terbiasa dengan bau parfum semacam itu dan tentu saja masih banyak parfum lainnya. Tapi entah kenapa menjadi istimewa ketika yang memakai perempuan itu. Perempuan itu berdiri satu langkah didepannya, masih tersenyum. Tapi ia tahu perempuan itu sebenarnya sedang bersedih. Sorot matanya sayu, redup, seperti diselubungi kabut.
Tiba-tiba perempuan itu menyentuh tangannya lalu menciumnya. Ia kaget luar biasa. Ia belum pernah diperlakukan seperti itu. Ada perasaan asing yang perlahan-lahan menjalar dalam tubuhnya. Ia ingin balas menggenggam tangan perempuan itu lalu meraih tubuhnya dalam dekapan, seperti sepasang kekasih yang sering ia lihat di trotoar seberang jalan. Tapi ia ragu apakah bisa melakukan hal itu. Ia sadar dirinya hanya sebuah manequin yang dipajang di pojok ruangan toko untuk memamerkan pakaian. Untuk kedua kalinya perempuan itu mencium tangannya ketika dari arah belakang muncul sosok laki-laki berambut cepak menggertak: "Gila! Apa-apaan kamu ini!" Mata laki-laki itu melotot. Lalu menarik tangan perempuan itu dengan kasar.
Ia benar-benar jijik pada laki-laki itu. Badannya tinggi besar. Wajahnya keras. Mungkin dia preman. Tapi melihat caranya menggertak dan menarik tangan perempuan itu yang begitu khas dan terlatih, tentu dia sudah terbiasa melakukan hal-hal seperti itu. Ia merasa kasihan pada perempuan itu. Tentu perempuan itu malu dan sakit hati. Ia masih ingat betapa wajah perempuan itu mendadak berubah merah-pucat.
Tapi beberapa hari kemudian perempuan itu datang lagi ke toko. Kali ini ia datang sendiri. Mengenakan rok pendek cokelat dan kaos putih bergambar bunga mekar dan beberapa ekor kupu-kupu yang terbang mengelilinginya. Perempuan itu tampak tergesa-gesa. Melihat-lihat baju lalu memberikan secarik kertas berisi alamat rumahnya. Semula ia tidak tahu apa maksud perempuan itu. Tapi setelah hari-hari berlalu dan ia tak pernah menjumpai perempuan itu, sementara hatinya terus ditangkup rindu, ia baru sadar harus menemui perempuan itu. Tentu perempuan itu memberi alamat rumahnya agar ia datang ke sana.
Ya, kini ia memang sedang mencari rumah perempuan itu. Gerimis masih turun ketika ia menyusuri jalan kampung yang becek dan licin. Berkali-kali ia harus melompat menghindari genangan air. Cahaya lampu membias samar pada tembok-tembok kusam penuh corat-coret pilox. Sungguh menyebalkan. Menjijikkan. Ia tak terbiasa berada di tempat kotor seperti itu. Meski begitu ia terus berjalan. Rindunya sudah tak tertahankan. Rumah demi rumah ia lalui dengan jantung terus berdebar.
Entah sudah berapa kilo ia berjalan, tapi rumah perempuan itu belum juga ia temukan. Beberapa perempuan berdandan menor di pinggir jalan sempat menggodanya. Satu dua orang mencubit pantatnya dengan gemas lalu tertawa cekikian. Ia tak habis pikir kenapa begitu banyak perempuan berkeliaran di malam gerimis seperti itu. Mereka cantik-cantik dan menggairahkan. Tapi ia tak tertarik dengan mereka. Ia hanya tertarik pada perempuan cantik yang beberapa waktu lalu memberikan alamat rumahnya.
Ia sering membayangkan suatu kali bisa bercinta dengan perempuan itu. Ia sudah bosan jadi boneka berdiri kaku di pojok toko dengan pakaian dan dandanan yang selalu berganti tiga minggu sekali. Ia ingin menghabiskan malam-malam yang dingin dan panjang bersama perempuan itu. Ia ingin menikmati cinta yang sedang berkobar hangat bersama perempuan itu. Mungkin sampai pagi, siang, sore, atau malah sampai malam berikutnya. Begitu seterusnya. Ah, betapa indahnya. Pasti perempuan itu tidak keberatan. Ia tahu diam-diam perempuan itu juga jatuh hati padanya.
Tapi, ups! Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya di sebuah tikungan jalan sepi ketika dalam kelebat samar, ia menangkap sosok perempuan itu sedang berjalan sambil bergandengan mesra dengan laki-laki yang pernah menabraknya di toko. Laki-laki yang suka membentak dan bertindak kasar. Ah, kenapa perempuan itu masih bersama laki-laki itu? Apa yang menarik dari laki-laki tinggi besar itu? Berbagai pertanyaan langsung memenuhi benaknya. Hingga ia tak kuasa menahan diri. Jantungnya berdetak kencang menahan cemburu. Ia kembali melangkah mengejar perempuan itu. "Hai! Apakah kamu masih ingat aku?" Ia bertanya dengan napas tersengal-sengal.
Perempuan itu terkejut. Sesaat matanya mengerjap bahagia. Ada segumpal kerinduan di matanya. Tapi ketika dia sadar saat itu sedang berjalan bersama kekasihnya, laki-laki yang suka bertindak kasar, wajah perempuan itu tiba-tiba berubah dingin. Bahkan dengan ekpresi ketakutan perempuan itu cepat-cepat merapat pada laki-laki tinggi besar disebelahnya. "Kamu siapa? Aku tidak kenal kamu!" Kata perempuan itu sinis. "Sayang, sebaiknya laki-laki mabuk itu disuruh pergi! Aku takut..." Lanjut perempuan itu merajuk pada kekasihnya. Laki-laki itu mengangguk.
Tahu bahaya mengancam ia mundur teratur. Ia sadar tak mungkin bisa mengalahkan laki-laki tinggi besar itu. Laki-laki itu pasti pinta berkelahi. Sedang ia tak bisa berkelahi. Ia tak pernah diajari meninju orang. Ia benci kekerasan. Dengan perasaan perih ia pulang menembus remang malam. Menerobos gerimis yang terus berderai. Langkahnya gontai tak bersemangat. Jiwanya merintih. Tubuhnya menggigil kedinginan. Di sebuah tikungan jalan mendadak tubuhnya oleng, sempoyongan lalu ambruk.
Entah berapa lama ia pingsan. Ketika sadar ia mendapati tubuhnya terkapar di atas ranjang. Di sebelahnya seorang perempuan menunggu dengan tatapan penuh kekaguman. Perempuan itu, meski agak tua, tapi sebenarnya masih cukup cantik. Ia menggosok-gosok mata untuk memperjelas penglihatannya. Ia takjub melihat isi ruangan kamar yang penuh perabotan mahal. Tapi belum juga puas menatap seluruh isi ruangan kamar, tiba-tiba perempuan itu dengan tergesa-gesa membungkus tubuhnya dengan selimut lalu membopong ke dalam gudang ketika terdengar deru mobil masuk halaman. ?Sial! Sesore ini tua bangka itu sudah pulang. Maaf, untuk sementara kamu kutaruh di gudang!? Kata perempuan itu bergegas keluar sambil mengunci pintu.
Ia ingin berontak, tapi sia-sia. Ia sudah tak bertenaga. Sebab cinta sudah lenyap dari hatinya. Begitulah, kekuatan cinta sejati mampu menghidupkan benda-benda mati. Sedang cinta palsu hanya membuat seseorang seolah-olah hidup tapi sesungguhnya mati...
"Apakah kamu puas dengan ceritaku?" tanya Renata setelah mengakhiri ceritanya.
"Tunggu! Sepertinya aku pernah tahu cerita itu. Dan, kenapa laki-laki tinggi besar yang suka bertindak kasar yang kamu ceritakan tadi mirip sekali dengan diriku?" aku balik bertanya.
Tapi Renata hanya tersenyum dan diam...
Depok, 2006.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita