Zul Afrita
http://www.padangekspres.co.id/
Tuhanku/ Dalam termangu/ Aku masih menyebut namaMu// Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh// cayaMu panas suci// Tuhanku// aku hilang bentuk/ remuk// Tuhanku // aku mengembara di negeri asing// Tuhanku/ di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling. (Doa, Chairil Anwar). Meskipun telah tiada, namun Penyair “binatang jalang” itu tetap hidup bersama sajaknya. Ia menyampaikan sebentuk renungan, bahwa manusia sehebat apa pun, sekuat apa pun, setegar apa pun, tak seseorang pun mampu berpaling dari kekuatan yang Maha Kuasa. Penghambaan ‘aku’ sempurna terlukis dalam sajak “Doa” di atas. Dengan sangat tulus dan jujur.
Seakan menampakkan kesadaran, Chairil memunajatkan doa kepada Sang Khalik. Ia merasakan dirinya tersalah, tersesat di negeri asing, terjebak dalam kehidupannya bebas, petualangan kumuh, morat-marit, kekacauan moral, bahkan kurang ajar. Seperti tak tanggung-tangung Chairil membandingkan dirinya dengan binatang jalang atau binatang buas dan liar. (dalam lirik sajak “Aku”: Debu Campur Deru).
Meskipun dikenal seorang bohemian, Charil seorang pujangga yang keras memagang prinsip, suka bekerja keras, teguh pendidirian, pada pilihan hidupnya. Ketika ia menulis pada lirik penutup sajak “Aku”: aku mau hidup seribu tahun lagi, namun di tengah kekerasan prinsipnya, ia sadar ada kekuatan Tuhan yang membuat ia tak mampu berpaling ketika Yang Maha Kuasa itu memanggilnya. Ia dijemput pada tanggal 28 April 1949 meskipun meninggal pada usia yang sangat muda, dalam usia 26 tahun 9 bula ia telah mewariskan karyanya: 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli dan 4 prosa terjemahan. Karena sangat berjasa dalam bidang sastra, maka Dewan Kesenian Jakarta memberikan hadiah anugerah sastra kepada sastrawan dan penyair dengan nama Anugerah Sastra Chairil Anwar, telah diterima oleh Moctar Lubis (1992) dan Sutarji Calzoum Bachri (1998).
Puisi merupakan cerminan masyarakat pada zamannya. Sehingga Chairil sebagai penyair angkatan ’45 tidak takut akan sensor yang keras. Ia bebas menyatakan pendapat setelah diproklamirkan kemerdekaan Indonesia, maka gerak menjadi bebas, dinamis, relealistis, revolusioner, serta memancarkan sastra bernafaskan ’45 yang dipeloporinya. Nursito (2000).
Ia merasakan ada sesuatu yang tidak sesuai dengan dirinya, budaya lama ia rasakan mengekang dirinya dalam berkarya. Kehidupan bebas telah membentuk ia tegar dan keras pada alasan dianggap benar. Meskipun akhirnya hatinya keras bak batu kembali lunak ketika dalam bermenung ia merasakan ada Tuhan seharusnya ia hambakan, ia anggap paling keras, bahkan ia terlarut dalam dunia asing adalah kehidupan membuat dirinya sering tidak mensyukuri nikmatnya dengan cahaya.
Pun dengan segala kekuatan Tuhan ia bisa menjadi seorang penyair yang mulanya ditentang orang-orang, dibenci, namun akhirnya ketika ia telah berpulang dan telah tiada orang-orang merasakan benar bahwa telah banyak yang diberikannya untuk kemerdekaan, untuk revolusi, untuk kehidupan ini, terlebih lagi dalam perjalan sastra Indonesia, ia berhasil menciptakan nilai baru dalan persajakan Indonesia dengan melepaskan diri dari budaya persajakan lama yang terikat dengan aturan baku. Akhrinya ia menciptakan dan menemukan gayanya sendiri sepanjang perjalanannya berkarya. Ia tidak terlalu mementingkan persajakan, bentuk, namun ia telah menciptakan sajak-sajak indah dan penuh nilai.
Emha Ainun Nadjib (1982), mengemukan ada beberapa kontribusi yang telah ditinggalkan si penyair “binatang jalang,” yang ditorehkan dalam sejarah perpuisian Indonesia modern dengan menggebrak gaya perpuisian lama, pertama, pembebasan dari konvensi puisi lama (pujangga baru dan seterusnya), kedua, pembebasan dari tekanan kepentingan propoganda politik, ketiga, perjuangan menegakkan apa yang dinamakan kemerdekaan berkreatifitas.
Sebagai manusia, Chairil bebas menentukan pilihan hidup sendiri seperti halnya orang lain. Semenjak dilahirkan di Medan, 26 Jui 1922, dari pasangan Toeloes (berasal dari Taeh, Kabupaten Lima Puluh Kota) – Saleh (Koto Gadang, Bukittinggi). Sebagai penyair, ia merangkai kata-kata mencipta metafor, dari ungkapan sehari-hari yang lebih sederhana dan mudah dipahami, namun terkadang keras, optimistis, enerjik, mengetuk hati, memiriskan perasaan, terkadang juga ungkapan-ungkapan yang meledak-ledak, semangat yang meluap-luap. Sehingga ruh dari perpusian itu mudah dicerna oleh pembaca. Meski ia telah melabuhkan hidupnya pada sajak, walau pada waktu yang sebentar.
Agaknya ia menjadi selegendaris itu tidak lain karena cita-cita besar dalam hidupnya yang keras memegang prinsip. Ia tak mau mendustai dirinya sendiri dengan tidak jujur dalam berkarya, sehingganya ia mencitakan gaya penulisan sajak sendiri berdasarkan kejujurannya, kebebasannya bersajak, sehingga ia menciptakan ‘dunia sendiri’, ia terus berkreatifitas dalam dunianya tanpa harus dirongrongi oleh ‘para penjajah’, dalam arti lebih luas, pembebasan berkreatifitas tanpa berbasa-basi. Hal ini tercermin dalam sajak-sajaknya banyak bercerita tentang kehidupan sehari-hari, perenungan, kesia-sian, kekacauan, kebrutalan, romantisme dan kegagalan.
Kehidupan pedih, keras dan mungkin ia rasakan sebentar, sehingga ia mengungkapkan, kerja belum selesai, belum apa-apa, (Kerawang-Bekasi) kemudian pada lirik sajak “Aku,” Aku mau hidup seribu tahun lagi.” Nampaknya ada sebuah kerja besar yang mesti harus diembannya, mungkin juga kita semua. Kerja besar itulah mempertahankan kemerdekaan, mengerjakan pekerjaan, persoalan hidup yang tak kunjung selesai sementara manusia dibawah aturan Tuhan tak bisa berbuat banyak karena kelemahan manusia sebagai makhluk yang serba terbatas.
Setelah Chairil tiada, orang-orang akhirnya menyadari dan merasakan betul bahwa ia masih tetap ada di sekitar kita meski hanya ruh karya-karyanya yang disumbangkan untuk kita semua. Ia memang telah tida namun pada hakikatnya ia tetap hidup, ia memberikan semangat enerjik tentang kehidupan, pelajaran berharga dalam sajak-sajaknya, memberikan kontribusi besar pada kemerdekaan, untuk kesusastraan modern Indonesia. Sajak-sajaknya tetap dibaca, dipahami, dipelajari, diambil hikmahnya, pelajaran, sejarah, inspirasi baru setelah membaca karya-karyanya yang tak akan pernah mati. Maka selamanya warisan budaya itu akan selalu dikenang.
Meski ia tak dinobatkan sebagai seorang pejuang. Menurut penulis ia tak kalah dengan para pahlawan kemerdekaan membela tanah air ini dengan memanggul senjata. Namun setidaknya perjuangannya dalam memerdekakan kebudayaan dengan puisi-puisinya, menyumbangkan pikiran untuk revolusi, pencapaian kemerdekan. Namun ia berjuang dengan caranya pula yaitu dengan ‘senjata kata’ yang sangat tajam bahkan lebih tajam dari bambu runcing, lebih pedih dari sembilu. Kata-kata yang terangkai dalam sajaknya sangat hebat penuh dengan estetika berbahasa. Ia telah memperkaya rasa kata dengan caranya yang akrab dan sederhana.
Kelegendarisan seorang Chairil tak terlepas dari orang lain, bisa itu pembaca yang membuat karyanya terus hidup, para kritikus, paus sastra H.B Jassin yang banyak mengulas karya-karyanya, juga para pakar pencinta sastra Indonesia – dari dalam dan luar negeri – terhadap hasil kerja Cairil. Jassin mengatakan bahwa keberhasilan Charil adalah karena keseriusannya dalan menggeluti pilihan hidup, serius dalam menekuni karya sastra. Jadi pelajaran berharga telah dihadiahkan kepada kita bahkan keberhasilan dicapai dengan kerja keras dan tak mengenal henti, apalagi sampai berputus asa.
Namun secara khususnya, Agus S. Sardjono, mengungkapkan kehebatan Chairil karena ia menulis sajak bermutu tinggi dan dua hal yang melatarbelakanginya. Pertama, jenis Sastara Mimbar, sastra yang mengandung suatu ideologi atau pemikiran besar tertentu, seperti revolusi, perang, dan sejenisnya dengan demikian ‘sastra mimbar’ adalah sastra yang tematis sangat erat hubungannya dengan keadaan dan persoalan zaman. Seperti, puisi “Aku”, “Catetan Tahun 1946”, “Perjanjian dengan Bung Karno”, dan “Kerawang-Bekasi”. Kedua, Charil menciptakan karya jenis ‘Sastra Kamar’, yang menggarap tema-tema keseharian serta berlatar situasi keseharian. Seperti, “Derai-Derai Cemara”, “Senja di Pelabuhan Kecil”, “Penghidupan”.
Selain itu hal yang sangat mempengaruhi kekaryaan Chairil adalah kebiasannya yang haus akan bacaan, ia gila membaca sampai-sampai kegilannnya itu ia suka mencuri buku. Tidak saja buku-buku dalam negeri namun juga buku-buku luar negeri seperti Eropa telah disantapnya. Karena suka membaca, ia menguasai tiga bahasa asing, Inggris, Belanda, Jerman. Sehingga ia bisa menikmati karya-karya penulis besar dunia seperti, John Steinbeck, Ernest Hemingway, Andre Gide, Rainer Maria Rilke, Willem Elsschot, Edgar du Peron, J. Slauerhoff, Arcibald Mac Leish, W.H Auden, Conrad Aiken, Hsu Chih Mo. Sehingga karena kesentimenan orang-orang terhadapnya ia dianggap telah memplagiat sajak dari penyair terkenal dari Eropa.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Zul Afrita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zul Afrita. Tampilkan semua postingan
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita