Tampilkan postingan dengan label Zul Afrita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zul Afrita. Tampilkan semua postingan

12/01/09

Chairil, si Penyair “binatang jalang”

Zul Afrita
http://www.padangekspres.co.id/

Tuhanku/ Dalam termangu/ Aku masih menyebut namaMu// Biar susah sungguh mengingat Kau penuh seluruh// cayaMu panas suci// Tuhanku// aku hilang bentuk/ remuk// Tuhanku // aku mengembara di negeri asing// Tuhanku/ di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling. (Doa, Chairil Anwar). Meskipun telah tiada, namun Penyair “binatang jalang” itu tetap hidup bersama sajaknya. Ia menyampaikan sebentuk renungan, bahwa manusia sehebat apa pun, sekuat apa pun, setegar apa pun, tak seseorang pun mampu berpaling dari kekuatan yang Maha Kuasa. Penghambaan ‘aku’ sempurna terlukis dalam sajak “Doa” di atas. Dengan sangat tulus dan jujur.

Seakan menampakkan kesadaran, Chairil memunajatkan doa kepada Sang Khalik. Ia merasakan dirinya tersalah, tersesat di negeri asing, terjebak dalam kehidupannya bebas, petualangan kumuh, morat-marit, kekacauan moral, bahkan kurang ajar. Seperti tak tanggung-tangung Chairil membandingkan dirinya dengan binatang jalang atau binatang buas dan liar. (dalam lirik sajak “Aku”: Debu Campur Deru).

Meskipun dikenal seorang bohemian, Charil seorang pujangga yang keras memagang prinsip, suka bekerja keras, teguh pendidirian, pada pilihan hidupnya. Ketika ia menulis pada lirik penutup sajak “Aku”: aku mau hidup seribu tahun lagi, namun di tengah kekerasan prinsipnya, ia sadar ada kekuatan Tuhan yang membuat ia tak mampu berpaling ketika Yang Maha Kuasa itu memanggilnya. Ia dijemput pada tanggal 28 April 1949 meskipun meninggal pada usia yang sangat muda, dalam usia 26 tahun 9 bula ia telah mewariskan karyanya: 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli dan 4 prosa terjemahan. Karena sangat berjasa dalam bidang sastra, maka Dewan Kesenian Jakarta memberikan hadiah anugerah sastra kepada sastrawan dan penyair dengan nama Anugerah Sastra Chairil Anwar, telah diterima oleh Moctar Lubis (1992) dan Sutarji Calzoum Bachri (1998).

Puisi merupakan cerminan masyarakat pada zamannya. Sehingga Chairil sebagai penyair angkatan ’45 tidak takut akan sensor yang keras. Ia bebas menyatakan pendapat setelah diproklamirkan kemerdekaan Indonesia, maka gerak menjadi bebas, dinamis, relealistis, revolusioner, serta memancarkan sastra bernafaskan ’45 yang dipeloporinya. Nursito (2000).

Ia merasakan ada sesuatu yang tidak sesuai dengan dirinya, budaya lama ia rasakan mengekang dirinya dalam berkarya. Kehidupan bebas telah membentuk ia tegar dan keras pada alasan dianggap benar. Meskipun akhirnya hatinya keras bak batu kembali lunak ketika dalam bermenung ia merasakan ada Tuhan seharusnya ia hambakan, ia anggap paling keras, bahkan ia terlarut dalam dunia asing adalah kehidupan membuat dirinya sering tidak mensyukuri nikmatnya dengan cahaya.

Pun dengan segala kekuatan Tuhan ia bisa menjadi seorang penyair yang mulanya ditentang orang-orang, dibenci, namun akhirnya ketika ia telah berpulang dan telah tiada orang-orang merasakan benar bahwa telah banyak yang diberikannya untuk kemerdekaan, untuk revolusi, untuk kehidupan ini, terlebih lagi dalam perjalan sastra Indonesia, ia berhasil menciptakan nilai baru dalan persajakan Indonesia dengan melepaskan diri dari budaya persajakan lama yang terikat dengan aturan baku. Akhrinya ia menciptakan dan menemukan gayanya sendiri sepanjang perjalanannya berkarya. Ia tidak terlalu mementingkan persajakan, bentuk, namun ia telah menciptakan sajak-sajak indah dan penuh nilai.

Emha Ainun Nadjib (1982), mengemukan ada beberapa kontribusi yang telah ditinggalkan si penyair “binatang jalang,” yang ditorehkan dalam sejarah perpuisian Indonesia modern dengan menggebrak gaya perpuisian lama, pertama, pembebasan dari konvensi puisi lama (pujangga baru dan seterusnya), kedua, pembebasan dari tekanan kepentingan propoganda politik, ketiga, perjuangan menegakkan apa yang dinamakan kemerdekaan berkreatifitas.

Sebagai manusia, Chairil bebas menentukan pilihan hidup sendiri seperti halnya orang lain. Semenjak dilahirkan di Medan, 26 Jui 1922, dari pasangan Toeloes (berasal dari Taeh, Kabupaten Lima Puluh Kota) – Saleh (Koto Gadang, Bukittinggi). Sebagai penyair, ia merangkai kata-kata mencipta metafor, dari ungkapan sehari-hari yang lebih sederhana dan mudah dipahami, namun terkadang keras, optimistis, enerjik, mengetuk hati, memiriskan perasaan, terkadang juga ungkapan-ungkapan yang meledak-ledak, semangat yang meluap-luap. Sehingga ruh dari perpusian itu mudah dicerna oleh pembaca. Meski ia telah melabuhkan hidupnya pada sajak, walau pada waktu yang sebentar.

Agaknya ia menjadi selegendaris itu tidak lain karena cita-cita besar dalam hidupnya yang keras memegang prinsip. Ia tak mau mendustai dirinya sendiri dengan tidak jujur dalam berkarya, sehingganya ia mencitakan gaya penulisan sajak sendiri berdasarkan kejujurannya, kebebasannya bersajak, sehingga ia menciptakan ‘dunia sendiri’, ia terus berkreatifitas dalam dunianya tanpa harus dirongrongi oleh ‘para penjajah’, dalam arti lebih luas, pembebasan berkreatifitas tanpa berbasa-basi. Hal ini tercermin dalam sajak-sajaknya banyak bercerita tentang kehidupan sehari-hari, perenungan, kesia-sian, kekacauan, kebrutalan, romantisme dan kegagalan.

Kehidupan pedih, keras dan mungkin ia rasakan sebentar, sehingga ia mengungkapkan, kerja belum selesai, belum apa-apa, (Kerawang-Bekasi) kemudian pada lirik sajak “Aku,” Aku mau hidup seribu tahun lagi.” Nampaknya ada sebuah kerja besar yang mesti harus diembannya, mungkin juga kita semua. Kerja besar itulah mempertahankan kemerdekaan, mengerjakan pekerjaan, persoalan hidup yang tak kunjung selesai sementara manusia dibawah aturan Tuhan tak bisa berbuat banyak karena kelemahan manusia sebagai makhluk yang serba terbatas.

Setelah Chairil tiada, orang-orang akhirnya menyadari dan merasakan betul bahwa ia masih tetap ada di sekitar kita meski hanya ruh karya-karyanya yang disumbangkan untuk kita semua. Ia memang telah tida namun pada hakikatnya ia tetap hidup, ia memberikan semangat enerjik tentang kehidupan, pelajaran berharga dalam sajak-sajaknya, memberikan kontribusi besar pada kemerdekaan, untuk kesusastraan modern Indonesia. Sajak-sajaknya tetap dibaca, dipahami, dipelajari, diambil hikmahnya, pelajaran, sejarah, inspirasi baru setelah membaca karya-karyanya yang tak akan pernah mati. Maka selamanya warisan budaya itu akan selalu dikenang.

Meski ia tak dinobatkan sebagai seorang pejuang. Menurut penulis ia tak kalah dengan para pahlawan kemerdekaan membela tanah air ini dengan memanggul senjata. Namun setidaknya perjuangannya dalam memerdekakan kebudayaan dengan puisi-puisinya, menyumbangkan pikiran untuk revolusi, pencapaian kemerdekan. Namun ia berjuang dengan caranya pula yaitu dengan ‘senjata kata’ yang sangat tajam bahkan lebih tajam dari bambu runcing, lebih pedih dari sembilu. Kata-kata yang terangkai dalam sajaknya sangat hebat penuh dengan estetika berbahasa. Ia telah memperkaya rasa kata dengan caranya yang akrab dan sederhana.

Kelegendarisan seorang Chairil tak terlepas dari orang lain, bisa itu pembaca yang membuat karyanya terus hidup, para kritikus, paus sastra H.B Jassin yang banyak mengulas karya-karyanya, juga para pakar pencinta sastra Indonesia – dari dalam dan luar negeri – terhadap hasil kerja Cairil. Jassin mengatakan bahwa keberhasilan Charil adalah karena keseriusannya dalan menggeluti pilihan hidup, serius dalam menekuni karya sastra. Jadi pelajaran berharga telah dihadiahkan kepada kita bahkan keberhasilan dicapai dengan kerja keras dan tak mengenal henti, apalagi sampai berputus asa.

Namun secara khususnya, Agus S. Sardjono, mengungkapkan kehebatan Chairil karena ia menulis sajak bermutu tinggi dan dua hal yang melatarbelakanginya. Pertama, jenis Sastara Mimbar, sastra yang mengandung suatu ideologi atau pemikiran besar tertentu, seperti revolusi, perang, dan sejenisnya dengan demikian ‘sastra mimbar’ adalah sastra yang tematis sangat erat hubungannya dengan keadaan dan persoalan zaman. Seperti, puisi “Aku”, “Catetan Tahun 1946”, “Perjanjian dengan Bung Karno”, dan “Kerawang-Bekasi”. Kedua, Charil menciptakan karya jenis ‘Sastra Kamar’, yang menggarap tema-tema keseharian serta berlatar situasi keseharian. Seperti, “Derai-Derai Cemara”, “Senja di Pelabuhan Kecil”, “Penghidupan”.

Selain itu hal yang sangat mempengaruhi kekaryaan Chairil adalah kebiasannya yang haus akan bacaan, ia gila membaca sampai-sampai kegilannnya itu ia suka mencuri buku. Tidak saja buku-buku dalam negeri namun juga buku-buku luar negeri seperti Eropa telah disantapnya. Karena suka membaca, ia menguasai tiga bahasa asing, Inggris, Belanda, Jerman. Sehingga ia bisa menikmati karya-karya penulis besar dunia seperti, John Steinbeck, Ernest Hemingway, Andre Gide, Rainer Maria Rilke, Willem Elsschot, Edgar du Peron, J. Slauerhoff, Arcibald Mac Leish, W.H Auden, Conrad Aiken, Hsu Chih Mo. Sehingga karena kesentimenan orang-orang terhadapnya ia dianggap telah memplagiat sajak dari penyair terkenal dari Eropa.

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita