Bandung Mawardi
Bali Post, 03 Feb 2013
MENULIS ibarat berdoa untuk terang. Aku berpengharapan memiliki buku “Taman Siswa” (Penerbitan dan Balai Buku Indonesia, 1952) garapan W. L. Febre dengan pamrih ingin mengerti tentang Ki Hadjar Dewantara dan Taman Siswa di masa lalu. Keinginan itu mengacu ke “Daftar Buku Indonesia” (1954). Aku membaca keterangan tentang buku “Taman Siswa” dan melihat gambar sampul depan: perempuan menari. Aku menulis doa sekian hari lalu di tulisan berjudul Buku… Doa itu terkabulkan. Jumat, 25 Januari 2013, aku telah mendapatkan dan menghatamkan buku “Taman Siswa”.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Bandung Mawardi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandung Mawardi. Tampilkan semua postingan
27/03/13
24/05/12
Haji: Pengarang, Imajinasi, Fakta Sosial
Bandung Mawardi
Republika, 14 Desember 2oo8
Ibadah haji mengantarkan muslim membuka pintu seribu satu kisah sejak Nabi Adam sampai pandangan eskatologis. Haji memiliki konvensi sebagai ibadah manusia pada Tuhan. Haji kerap mengingatkan pada imajinasi-religiusitas. Ibadah haji membuka kesadaran muslim untuk ziarah imajinasi dengan melampaui batas ruang dan waktu.
Republika, 14 Desember 2oo8
Ibadah haji mengantarkan muslim membuka pintu seribu satu kisah sejak Nabi Adam sampai pandangan eskatologis. Haji memiliki konvensi sebagai ibadah manusia pada Tuhan. Haji kerap mengingatkan pada imajinasi-religiusitas. Ibadah haji membuka kesadaran muslim untuk ziarah imajinasi dengan melampaui batas ruang dan waktu.
24/03/12
Kerbau dalam peradaban Jawa
Bandung Mawardi
http://www.harianjogja.com/
Kabar telah tersiar dan mengundang tanya. Perawatan dan pengelolaan delapan kerbau bule keturunan Kiai Slamet dialihkan dari Keraton Solo ke Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ). Berita ini mengingatkan kita tentang makna kerbau dalam arus peradaban Jawa, masa lalu dan masa sekarang. Kerbau dalam sejarah Jawa menjadi bab penting bagi elite tradisional, petani dan pemerintah kolonial. Kerbau dimaknai dari sakralitas sampai komoditas memakai nalar kapitalistik.
http://www.harianjogja.com/
Kabar telah tersiar dan mengundang tanya. Perawatan dan pengelolaan delapan kerbau bule keturunan Kiai Slamet dialihkan dari Keraton Solo ke Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ). Berita ini mengingatkan kita tentang makna kerbau dalam arus peradaban Jawa, masa lalu dan masa sekarang. Kerbau dalam sejarah Jawa menjadi bab penting bagi elite tradisional, petani dan pemerintah kolonial. Kerbau dimaknai dari sakralitas sampai komoditas memakai nalar kapitalistik.
24/12/11
Telepon dan Sastra: Ekstase dan Pembenaran Diri
Bandung Mawardi*
Kompas, 10 Mei 2008
TELEPON adalah sebuah kata yang lahir pada tahun 1796. Sebagai wujud dari teknologi komunikasi, telepon menemukan bentuk dan fungsi nyata saat Alexander Graham Bell (1874-1922) menemukan dan mematenkan perangkat tersebut. Telepon pun kemudian berkembang sebagai dasar dari revolusi besar komunikasi, bahkan tata hidup manusia secara umum.
Tak dapat dielak, telepon telah menjadi ikon modernitas yang juga menandai pergeseran nilai, bahkan struktur sosio-kultural. Umberto Eco antara lain menyatakan, sistem komunikasi modern telah melahirkan kesadaran akan lahirnya zaman komunikasi (age of communication), di mana telepon menjadi salah satu penanda utamanya. Jurgen Habermas mengakui pula peran telepon dalam kehidupan modern, sebagai medium komunikasi yang tak sekadar memenuhi keinginan menyampaikan atau menerima informasi, tetapi juga secara substansial menjadikan keinginan itu bisa diketahui.
Teknologi telepon mulai hadir di Batavia (Hindia Belanda) pada akhir abad XIX, untuk kepentingan kolonial dalam menjalankan komunikasi ekonomi-politik. Telepon sebagai teknologi komunikasi modern ikut menentukan konstruksi kehidupan modern di Hindia Belanda. Telepon hadir dan melahirkan kisah-kisah yang merepresentasikan kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Telepon adalah pengertian besar yang memberi kontribusi dalam mengonstruksi biografi Hindia Belanda sampai menjadi Indonesia.
Telepon dalam sastra
Kisah-kisah telepon itu hadir dalam berbagai teks sastra Indonesia modern. Sori Siregar, antara lain, mengapresiasinya dalam novel Telepon (1982). Tokoh Daud dalam novel itu menjadi representasi manusia yang merasakan bosan atau jenuh menjalani rutinitas kerja dan pola hidup modern di kota. Pelarian dari bosan itu adalah telepon. Telepon adalah hasrat dan pembebasan diri dari beban. Tokoh Daud memakai telepon untuk memberikan ancaman dan teror untuk orang lain sebagai manifestasi resistensi dan depresi.
Telepon pun menjadi horor. Situasi yang pada akhirnya dirasakan pula oleh Daud saat menerima balasan telepon dari orang lain. Dalam novelnya, Sori Siregar telah membuat telepon sebagai manifestasi manusia untuk hasrat, horor, kesepian, gelisah, dan depresi.
Seno Gumira Ajidarma menuliskan kisah telepon dalam cerpen Seorang Wanita yang Menunggu Telepon Berdering (1985). Telepon dalam cerpen itu adalah perkara ketergesaan dan keisengan. Dering telepon menjadi tanda seorang wanita tergesa memegang telepon dan melakukan komunikasi dengan harapan-harapan dari penantian. Seorang wanita menanti ada seorang (”suami”) yang mungkin menelepon. Penantian dering telepon pun bisa melahirkan ketololan diri.
Penantian dering itu melahirkan nostalgia yang tragis. ”Dulu kamu meneleponku tepat tengah malam, ketika aku sedang sendirian di rumah dan tidak bisa tidur. Mengapa kamu begitu iseng? Begitu berani. Apakah kamu seperti aku yang suka memutar nomor-nomor dengan harapan bertemu kekasih di jalur kosong, sunyi, dan bisu?” tulis Seno.
Nostalgia pun berhenti dalam penantian yang menyiksa. Bunyi membunuh sunyi. Seorang wanita merasa seakan telepon itu memiliki nyawa. Bunyi dering telepon adalah sihir. Telepon membuat seorang wanita itu harus memilih untuk bahagia atau kecewa.
Dalam puisi
Afrizal Malna mengisahkan telepon dalam puisi Jam Kerja Telepon (1986). Puisi itu menggambarkan sistem komunikasi modern dengan melakukan pemampatan ruang dan waktu. Telepon dianggap memberi kemudahan dan efisiensi dalam komunikasi. Telepon menjadi alat komunikasi modern yang mengatasi jarak dan waktu. Pemahaman dan pemakaian telepon dalam perkembangannya mengalami pergeseran fungsi dan makna: alat komunikasi, pemenuhan hasrat, dan identitas.
Tokoh Merlin dalam puisi itu mengucapkan: Saya menyaksikan orang-orang lahir dari telepon. Kelahiran identitas orang-orang modern dipengaruhi oleh tindakan komunikasi dengan telepon. Hal itu terjadi dalam suatu sistem dan proses yang mengaburkan pemahaman realitas subyek, pesan, ruang, dan waktu. Komunikasi dengan telepon dipresentasikan oleh suara yang melibatkan proses identifikasi (pembayangan-penghadiran) subyek dengan keterbatasan-keterbatasan.
Tokoh Merlin merasa bahwa ada kekuatan negatif atau destruktif yang ditemukan dalam telepon sebagai alat komunikasi modern: Saya mencium bau busuk dari telepon. Telepon dalam puisi Afrizal Malna adalah kerancuan identitas, hasrat, dan realitas, dalam tindakan komunikasi yang mereduksi substansi subyek, bahasa, dan pesan. Telepon adalah risiko.
Sementara penyair Sapardi Djoko Darmono menuliskan kisah telepon dalam puisi Tiga Percakapan Telepon. Dalam puisi ini, telepon menjadi perkara yang menyedihkan karena tidak ada komunikasi yang berproses, yang bersambung. Komunikasi dengan telepon seakan pertemuan monolog-monolog. Tindakan komunikasi dengan telepon kerap terganggu karena bahasa, posisi, kondisi telepon, operator, dan lain-lain. Sapardi Djoko Darmono dalam puisi itu membuat kalimat-kalimat yang kritis mengenai telepon dan tindakan komunikasi: ”Suaramu tak begitu jelas”, ”tapi, untuk apa aku nelpon?”, ”Halo! Halo! Jangan!”
Sedangkan Joko Pinurbo melihat telepon dengan cara lain lagi dalam puisinya, Telepon Genggam. Telepon genggam dalam tafsir Joko Pinurbo adalah ”surga kecil yang tak ingin ditinggalkan”. Telepon genggam melahirkan kisah-kisah senang, hiburan, ekstase, tragedi, mimpi, obsesi, hedonis, birahi, dan lain-lain. Telepon (genggam) tidak sekadar sarana komunikasi.
Dalam puisinya yang lain lagi, Selamat Tidur, Joko mengisahkan telepon genggam yang capek karena ulah manusia: ”Telepon genggam mau tidur. Capek. Seharian bermain/monolog. Banyak peran. Konyol. Nggak nyambung. Telepon genggam terlalu dipaksa bekerja keras dengan pelbagai dalih dan pamrih”.
Bisakah ungkapan Martin Heidegger bahwa komunikasi adalah manifestasi manusia menemukan pembenaran dan pembuktian pada hari ini terkait dengan telepon (genggam) dan hasrat komunikasi? Jean Baudrillard memperingatkan: ”Kita tidak lagi berperan dalam drama keterasingan, tetapi dalam ekstase komunikasi”. Begitukah?
* Bandung Mawardi, Pengurus Pustaka KABUT INSTITUT dan Redaktur Buletin Sastra Pawon (Solo)
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/05/telepon-dan-sastra-ekstase-dan.html
Kompas, 10 Mei 2008
TELEPON adalah sebuah kata yang lahir pada tahun 1796. Sebagai wujud dari teknologi komunikasi, telepon menemukan bentuk dan fungsi nyata saat Alexander Graham Bell (1874-1922) menemukan dan mematenkan perangkat tersebut. Telepon pun kemudian berkembang sebagai dasar dari revolusi besar komunikasi, bahkan tata hidup manusia secara umum.
Tak dapat dielak, telepon telah menjadi ikon modernitas yang juga menandai pergeseran nilai, bahkan struktur sosio-kultural. Umberto Eco antara lain menyatakan, sistem komunikasi modern telah melahirkan kesadaran akan lahirnya zaman komunikasi (age of communication), di mana telepon menjadi salah satu penanda utamanya. Jurgen Habermas mengakui pula peran telepon dalam kehidupan modern, sebagai medium komunikasi yang tak sekadar memenuhi keinginan menyampaikan atau menerima informasi, tetapi juga secara substansial menjadikan keinginan itu bisa diketahui.
Teknologi telepon mulai hadir di Batavia (Hindia Belanda) pada akhir abad XIX, untuk kepentingan kolonial dalam menjalankan komunikasi ekonomi-politik. Telepon sebagai teknologi komunikasi modern ikut menentukan konstruksi kehidupan modern di Hindia Belanda. Telepon hadir dan melahirkan kisah-kisah yang merepresentasikan kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Telepon adalah pengertian besar yang memberi kontribusi dalam mengonstruksi biografi Hindia Belanda sampai menjadi Indonesia.
Telepon dalam sastra
Kisah-kisah telepon itu hadir dalam berbagai teks sastra Indonesia modern. Sori Siregar, antara lain, mengapresiasinya dalam novel Telepon (1982). Tokoh Daud dalam novel itu menjadi representasi manusia yang merasakan bosan atau jenuh menjalani rutinitas kerja dan pola hidup modern di kota. Pelarian dari bosan itu adalah telepon. Telepon adalah hasrat dan pembebasan diri dari beban. Tokoh Daud memakai telepon untuk memberikan ancaman dan teror untuk orang lain sebagai manifestasi resistensi dan depresi.
Telepon pun menjadi horor. Situasi yang pada akhirnya dirasakan pula oleh Daud saat menerima balasan telepon dari orang lain. Dalam novelnya, Sori Siregar telah membuat telepon sebagai manifestasi manusia untuk hasrat, horor, kesepian, gelisah, dan depresi.
Seno Gumira Ajidarma menuliskan kisah telepon dalam cerpen Seorang Wanita yang Menunggu Telepon Berdering (1985). Telepon dalam cerpen itu adalah perkara ketergesaan dan keisengan. Dering telepon menjadi tanda seorang wanita tergesa memegang telepon dan melakukan komunikasi dengan harapan-harapan dari penantian. Seorang wanita menanti ada seorang (”suami”) yang mungkin menelepon. Penantian dering telepon pun bisa melahirkan ketololan diri.
Penantian dering itu melahirkan nostalgia yang tragis. ”Dulu kamu meneleponku tepat tengah malam, ketika aku sedang sendirian di rumah dan tidak bisa tidur. Mengapa kamu begitu iseng? Begitu berani. Apakah kamu seperti aku yang suka memutar nomor-nomor dengan harapan bertemu kekasih di jalur kosong, sunyi, dan bisu?” tulis Seno.
Nostalgia pun berhenti dalam penantian yang menyiksa. Bunyi membunuh sunyi. Seorang wanita merasa seakan telepon itu memiliki nyawa. Bunyi dering telepon adalah sihir. Telepon membuat seorang wanita itu harus memilih untuk bahagia atau kecewa.
Dalam puisi
Afrizal Malna mengisahkan telepon dalam puisi Jam Kerja Telepon (1986). Puisi itu menggambarkan sistem komunikasi modern dengan melakukan pemampatan ruang dan waktu. Telepon dianggap memberi kemudahan dan efisiensi dalam komunikasi. Telepon menjadi alat komunikasi modern yang mengatasi jarak dan waktu. Pemahaman dan pemakaian telepon dalam perkembangannya mengalami pergeseran fungsi dan makna: alat komunikasi, pemenuhan hasrat, dan identitas.
Tokoh Merlin dalam puisi itu mengucapkan: Saya menyaksikan orang-orang lahir dari telepon. Kelahiran identitas orang-orang modern dipengaruhi oleh tindakan komunikasi dengan telepon. Hal itu terjadi dalam suatu sistem dan proses yang mengaburkan pemahaman realitas subyek, pesan, ruang, dan waktu. Komunikasi dengan telepon dipresentasikan oleh suara yang melibatkan proses identifikasi (pembayangan-penghadiran) subyek dengan keterbatasan-keterbatasan.
Tokoh Merlin merasa bahwa ada kekuatan negatif atau destruktif yang ditemukan dalam telepon sebagai alat komunikasi modern: Saya mencium bau busuk dari telepon. Telepon dalam puisi Afrizal Malna adalah kerancuan identitas, hasrat, dan realitas, dalam tindakan komunikasi yang mereduksi substansi subyek, bahasa, dan pesan. Telepon adalah risiko.
Sementara penyair Sapardi Djoko Darmono menuliskan kisah telepon dalam puisi Tiga Percakapan Telepon. Dalam puisi ini, telepon menjadi perkara yang menyedihkan karena tidak ada komunikasi yang berproses, yang bersambung. Komunikasi dengan telepon seakan pertemuan monolog-monolog. Tindakan komunikasi dengan telepon kerap terganggu karena bahasa, posisi, kondisi telepon, operator, dan lain-lain. Sapardi Djoko Darmono dalam puisi itu membuat kalimat-kalimat yang kritis mengenai telepon dan tindakan komunikasi: ”Suaramu tak begitu jelas”, ”tapi, untuk apa aku nelpon?”, ”Halo! Halo! Jangan!”
Sedangkan Joko Pinurbo melihat telepon dengan cara lain lagi dalam puisinya, Telepon Genggam. Telepon genggam dalam tafsir Joko Pinurbo adalah ”surga kecil yang tak ingin ditinggalkan”. Telepon genggam melahirkan kisah-kisah senang, hiburan, ekstase, tragedi, mimpi, obsesi, hedonis, birahi, dan lain-lain. Telepon (genggam) tidak sekadar sarana komunikasi.
Dalam puisinya yang lain lagi, Selamat Tidur, Joko mengisahkan telepon genggam yang capek karena ulah manusia: ”Telepon genggam mau tidur. Capek. Seharian bermain/monolog. Banyak peran. Konyol. Nggak nyambung. Telepon genggam terlalu dipaksa bekerja keras dengan pelbagai dalih dan pamrih”.
Bisakah ungkapan Martin Heidegger bahwa komunikasi adalah manifestasi manusia menemukan pembenaran dan pembuktian pada hari ini terkait dengan telepon (genggam) dan hasrat komunikasi? Jean Baudrillard memperingatkan: ”Kita tidak lagi berperan dalam drama keterasingan, tetapi dalam ekstase komunikasi”. Begitukah?
* Bandung Mawardi, Pengurus Pustaka KABUT INSTITUT dan Redaktur Buletin Sastra Pawon (Solo)
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/05/telepon-dan-sastra-ekstase-dan.html
09/10/11
Sutardji, Puisi, Takdir
Bandung Mawardi*
Lampung Post, 7 Sep 2008
SUTARDJI Calzoum Bachri (SCB) dengan kalem menuturkan: Pemberian sekian penghargaan dan gelar kehormatan membuatnya malu karena merasa belum bisa berbuat apa-apa. Semua itu takdir.
Tuturan itu hadir karena SCB menjadi penerima penghargaan Achmad Bakrie 2008 bidang kesusastraan.
Pengakuan SCB mengingatkan penulis pada Nietzsche dalam Ecce Homo. Nietzsche dalam bab Mengapa Aku adalah Takdir dengan arogan mengakui: “Aku tahu takdirku…Aku bukan seorang manusia, aku sebuah dinamit.”
SCB memiliki kemiripan dengan pengakuan Nietzsche karena SCB dengan berani hadir dengan pembaharuan estetika puisi Indonesia modern. Kehadiran itu memakai kredo ampuh untuk keimanan atas realisasi pencapaian estetika. SCB menobatkan diri sendiri sebagai “dinamit” yang membuat ledakan besar dalam perpuisian Indonesia modern. Ledakan itu adalah O Amuk Kapak sebagai takdir penyair dan puisi.
SCB sejak awal mulai membuat takdir dan menciptakan kesempurnaan takdir itu dalam perbenturan dan konfrontasi besar dengan pembaca dan kondisi zaman. Orang-orang pun sejak itu mulai menaruh perhatian untuk ikhtiar memahami SCB dan puisi-puisinya. Sampai hari ini SCB belum selesai terpahami. SCB berlaku seperti Nietzsche yang selalu menanyakan: “Sudahkah aku dipahami?”
Pertanyaan itu dalam kasus SCB terus menemukan sekian jawaban dari A. Teeuw, Dami N. Toda, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, Umar Junus, Goenawan Mohamad, Rachmat Djoko Pradopo, Harry Aveling, Arief B. Prasetyo, Ignas Kleden, dan deretan nama yang masih panjang. Orang-orang itu ingin memahami SCB dalam sekian perspektif dan pamrih. “Sudahkah aku (SCB) dipahami?” Pertanyaan itu sampai hari ini terus menemukan jawaban.
Dami N. Toda dengan eksplisit mengakui takdir SCB itu dalam esai Peta Perpuisian Indonesia 1970-an dalam Sketsa. Eksekusi dari Dami N. Toda: Chairil adalah mata kanan dan Sutardji adalah mata kiri dalam perpuisian Indonesia modern.
Takdir itu hadir dalam polemik panjang mengenai kredo dan puisi-puisi SCB. Dami N. Toda adalah pembela militan untuk SCB dengan kepercayaan bahwa puisi-puisi SCB membuktikan pembaruan atau ledakan bom estetika. Kredo SCB menjadi alasan untuk takdir bahwa ada kebenaran estetik menantang alur besar perpuisian Indonesia modern. Kebenaran yang direalisasikan SCB: “Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian… Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan diri sendiri.”
Kehadiran kredo dan puisi-puisi SCB menentukan gairah kritik sastra mulai tahun 1970-an dengan pelbagai label dan teori. Dami N. Toda menjadi sosok penting dan menentukan untuk SCB mirip dengan peran H.B. Jassin untuk Chairil Anwar.
Dami N. Toda terus menulis tentang SCB dengan publikasi esai-esai (kritik sastra) penting dan mumpuni dalam kesusastraan Indonesia modern. Peran lain tampak pada sosok Umar Junus yang tekun mengkaji SCB dengan kritis. Umar Junus (1981) pun mengakui takdir SCB dan menilai bahwa kredo dan puisi-puisi (yang) mantra SCB itu menciptakan misteri atas misteri puisi. SCB hadir dengan pamrih emansipasi kata dari tirani dan permainan bahasa dengan kontradiksi-kontradiksi memukau.
Kesibukan tukang kritik mengurusi puisi-puisi SCB, membuat Ajip Rosidi gerah. Ajip Rosidi menuduh sekian tukang kritik terlena dan latah masuk pembicaraan puisi-puisi SCB dengan konsep mantra yang dicantumkan SCB dalam kredo. Ajip Rosidi sekadar menjadi interupsi karena tidak mengeluarkan keringat deras untuk membuat kondisi kritik sastra dan puisi mencapai ekstase.
A. Teeuw dengan analitis menunjukkan kontradiksi-kontradiksi dalam buku Tergantung Pada Kata (1980). A. Teeuw secara genit memberi judul untuk bab SCB dengan ungkapan kotradiktif Terikat dalam Pembebasan Kata. Judul itu adalah vonis utuh A. Teeuw mulai dari asumsi sampai konklusi.
Arus puisi dengan ruh modernitas bergulir sejak Pujangga Baru dan meledak dalam puisi-puisi Chairil Anwar menemukan penantang ampuh yakni SCB. Kredo puisi SCB adalah kekasih dan musuh untuk alur-alur perpuisian Indonesia modern. SCB hadir dengan puisi-puisi dalam tegangan tradisionalitas, modernitas, dan posmodernitas. Puisi-puisi SCB menjadi ledakan dalam kesadaran bahasa dan olahan estetik untuk membuka kemungkinan-kemungkinan struktur dan sistem makna. Kehadiran puisi-puisi SCB itu pun mengingatkan publik atas diri Chairil Anwar melalui revolusi dan pemberian ruh hidup atas potensi bahasa.
Perkara bahasa dalam revolusi Chairil Anwar dan SCB itu membuat Rachmat Djoko Pradopo kena rayuan dengan publikasi penelitian Bahasa Puisi Penyair Utama Sastra Indonesia Modern (1985). Penelitian itu menempuh jalan kecil karena cenderung akademis, formalistik, dan struktural. Penelitian itu sejak awal percaya bahwa Chairil Anwar dan SCB adalah pembaharu perpuisian Indonesia modern. Kekuatan dua penyair itu ada dalam permainan dan pengolahan bahasa.
Hal itu menjadi dalil baku Rachmat yang kaku dan kikuk: “Pembicaraan atau analisis puisi itu yang terpenting adalah analisis kebahasaan. Kepuitisan atau nilai estetis sajak itu terutama ditentukan oleh bahasa atau penggarapan bahasanya.”
Takdir SCB belum selesai dalam tulisan-tulisan tukang kritik sebagai malaikat pencatat kebaikan atau keburukan. SCB sebagai takdir masih mendapatkan perhatian dalam esai-esai mutakhir. Polemik SCB mulai tahun 1970-an mayoritas belum berubah dalam perkara-perkara baku kredo dan pencapaian estetika.
Kehadiran O Amuk Kapak jadi lahan tak pernah selesai digarap dan terus menumbuhkan sesuatu untuk dipanen. Buku-buku puisi lain dari SCB selalu jadi penantian tanpa akhir. SCB dengan genit menonton resah dan marah pembaca dan tukang kritik. Radhar Panca Dahana menilai kegenitan SCB menemukan klaim dalam kelakar bahwa O Amuk Kapak adalah puncak. Pertanyaan atas kelakar itu: Apakah SCB mau dan sanggup mencipta puncak-puncak lain?
Takdir yang diciptakan SCB memiliki usia panjang dan aura memukau. Pembacaan dan penilaian Arief B. Prasetyo (2002) atas puisi-puisi SCB menunjukkan kuasa SCB dalam rumah puisi Indonesia modern.
Arief B. Prasetyo merasa pukau SCB itu sejak bocah ingusan sampai ketika sanggup menjadi pembaca puisi yang kritis. Kepercayaan publik bahwa puncak SCB adalah O Amuk Kapak seakan menemukan penguatan pada kecurigaan Arief B. Prasetyo: “Jangan-jangan, justru lantaran telanjur menanggung beban sejarah di pundaknya, Sutardji kelak cuma akan menyulut batang mercon basah dengan buku puisi barunya. Itulah momen mengenaskan…”
Ignas Kleden dalam esai Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri (2007) membuat pembacaan lain dengan kritis. Kleden menilai kredo puisi SCB bukan teori tapi rencana kerja, program, desain, atau tekad. SCB bekerja menulis puisi untuk mencari kebenaran kredo itu. SCB membuktikan itu dengan sekian risiko dan kontradiksi.
Kleden mengakui SCB patut mendapatkan catatan-catatan penting karena sanggup melakukan dekonstruksi dalam konteks bahasa, sastra, dan kebudayaan. SCB memukau dan menggairahkan.
Sekian pembacaan dan penilaian atas puisi-puisi SCB adalah bukti antusiasme dan kerepotan publik dan tukang kritik sastra. SCB sebagai penyair ampuh pun menerima ganjaran-ganjaran besar atau “kutukan indah” dari pelbagai orang dan lembaga. Berita-berita mutakhir menyebutkan bahwa SCB mendapatkan acara-acara fenomenal: perayaan usia ke-66 tahun (14–19 Juli 2007) di TIM (Jakarta); Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (10 Desember 2007); peringatan 67 tahun SCB di Pekanbaru (Riau) dengan penerbitan buku puisi Atau Ngit Cari Agar dan peresmian bulan Juni sebagai “bulan Sutardji”; penerima penghargaan Achmad Bakrie 2008 untuk kesusastraan. SCB adalah takdir membawa berkah. Keren!
* Bandung Mawardi, Kritikus sastra dan peneliti Kabut Institut, Solo
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/apresiasi-sutardji-puisi-takdir.html
Lampung Post, 7 Sep 2008
SUTARDJI Calzoum Bachri (SCB) dengan kalem menuturkan: Pemberian sekian penghargaan dan gelar kehormatan membuatnya malu karena merasa belum bisa berbuat apa-apa. Semua itu takdir.
Tuturan itu hadir karena SCB menjadi penerima penghargaan Achmad Bakrie 2008 bidang kesusastraan.
Pengakuan SCB mengingatkan penulis pada Nietzsche dalam Ecce Homo. Nietzsche dalam bab Mengapa Aku adalah Takdir dengan arogan mengakui: “Aku tahu takdirku…Aku bukan seorang manusia, aku sebuah dinamit.”
SCB memiliki kemiripan dengan pengakuan Nietzsche karena SCB dengan berani hadir dengan pembaharuan estetika puisi Indonesia modern. Kehadiran itu memakai kredo ampuh untuk keimanan atas realisasi pencapaian estetika. SCB menobatkan diri sendiri sebagai “dinamit” yang membuat ledakan besar dalam perpuisian Indonesia modern. Ledakan itu adalah O Amuk Kapak sebagai takdir penyair dan puisi.
SCB sejak awal mulai membuat takdir dan menciptakan kesempurnaan takdir itu dalam perbenturan dan konfrontasi besar dengan pembaca dan kondisi zaman. Orang-orang pun sejak itu mulai menaruh perhatian untuk ikhtiar memahami SCB dan puisi-puisinya. Sampai hari ini SCB belum selesai terpahami. SCB berlaku seperti Nietzsche yang selalu menanyakan: “Sudahkah aku dipahami?”
Pertanyaan itu dalam kasus SCB terus menemukan sekian jawaban dari A. Teeuw, Dami N. Toda, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, Umar Junus, Goenawan Mohamad, Rachmat Djoko Pradopo, Harry Aveling, Arief B. Prasetyo, Ignas Kleden, dan deretan nama yang masih panjang. Orang-orang itu ingin memahami SCB dalam sekian perspektif dan pamrih. “Sudahkah aku (SCB) dipahami?” Pertanyaan itu sampai hari ini terus menemukan jawaban.
Dami N. Toda dengan eksplisit mengakui takdir SCB itu dalam esai Peta Perpuisian Indonesia 1970-an dalam Sketsa. Eksekusi dari Dami N. Toda: Chairil adalah mata kanan dan Sutardji adalah mata kiri dalam perpuisian Indonesia modern.
Takdir itu hadir dalam polemik panjang mengenai kredo dan puisi-puisi SCB. Dami N. Toda adalah pembela militan untuk SCB dengan kepercayaan bahwa puisi-puisi SCB membuktikan pembaruan atau ledakan bom estetika. Kredo SCB menjadi alasan untuk takdir bahwa ada kebenaran estetik menantang alur besar perpuisian Indonesia modern. Kebenaran yang direalisasikan SCB: “Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian… Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan diri sendiri.”
Kehadiran kredo dan puisi-puisi SCB menentukan gairah kritik sastra mulai tahun 1970-an dengan pelbagai label dan teori. Dami N. Toda menjadi sosok penting dan menentukan untuk SCB mirip dengan peran H.B. Jassin untuk Chairil Anwar.
Dami N. Toda terus menulis tentang SCB dengan publikasi esai-esai (kritik sastra) penting dan mumpuni dalam kesusastraan Indonesia modern. Peran lain tampak pada sosok Umar Junus yang tekun mengkaji SCB dengan kritis. Umar Junus (1981) pun mengakui takdir SCB dan menilai bahwa kredo dan puisi-puisi (yang) mantra SCB itu menciptakan misteri atas misteri puisi. SCB hadir dengan pamrih emansipasi kata dari tirani dan permainan bahasa dengan kontradiksi-kontradiksi memukau.
Kesibukan tukang kritik mengurusi puisi-puisi SCB, membuat Ajip Rosidi gerah. Ajip Rosidi menuduh sekian tukang kritik terlena dan latah masuk pembicaraan puisi-puisi SCB dengan konsep mantra yang dicantumkan SCB dalam kredo. Ajip Rosidi sekadar menjadi interupsi karena tidak mengeluarkan keringat deras untuk membuat kondisi kritik sastra dan puisi mencapai ekstase.
A. Teeuw dengan analitis menunjukkan kontradiksi-kontradiksi dalam buku Tergantung Pada Kata (1980). A. Teeuw secara genit memberi judul untuk bab SCB dengan ungkapan kotradiktif Terikat dalam Pembebasan Kata. Judul itu adalah vonis utuh A. Teeuw mulai dari asumsi sampai konklusi.
Arus puisi dengan ruh modernitas bergulir sejak Pujangga Baru dan meledak dalam puisi-puisi Chairil Anwar menemukan penantang ampuh yakni SCB. Kredo puisi SCB adalah kekasih dan musuh untuk alur-alur perpuisian Indonesia modern. SCB hadir dengan puisi-puisi dalam tegangan tradisionalitas, modernitas, dan posmodernitas. Puisi-puisi SCB menjadi ledakan dalam kesadaran bahasa dan olahan estetik untuk membuka kemungkinan-kemungkinan struktur dan sistem makna. Kehadiran puisi-puisi SCB itu pun mengingatkan publik atas diri Chairil Anwar melalui revolusi dan pemberian ruh hidup atas potensi bahasa.
Perkara bahasa dalam revolusi Chairil Anwar dan SCB itu membuat Rachmat Djoko Pradopo kena rayuan dengan publikasi penelitian Bahasa Puisi Penyair Utama Sastra Indonesia Modern (1985). Penelitian itu menempuh jalan kecil karena cenderung akademis, formalistik, dan struktural. Penelitian itu sejak awal percaya bahwa Chairil Anwar dan SCB adalah pembaharu perpuisian Indonesia modern. Kekuatan dua penyair itu ada dalam permainan dan pengolahan bahasa.
Hal itu menjadi dalil baku Rachmat yang kaku dan kikuk: “Pembicaraan atau analisis puisi itu yang terpenting adalah analisis kebahasaan. Kepuitisan atau nilai estetis sajak itu terutama ditentukan oleh bahasa atau penggarapan bahasanya.”
Takdir SCB belum selesai dalam tulisan-tulisan tukang kritik sebagai malaikat pencatat kebaikan atau keburukan. SCB sebagai takdir masih mendapatkan perhatian dalam esai-esai mutakhir. Polemik SCB mulai tahun 1970-an mayoritas belum berubah dalam perkara-perkara baku kredo dan pencapaian estetika.
Kehadiran O Amuk Kapak jadi lahan tak pernah selesai digarap dan terus menumbuhkan sesuatu untuk dipanen. Buku-buku puisi lain dari SCB selalu jadi penantian tanpa akhir. SCB dengan genit menonton resah dan marah pembaca dan tukang kritik. Radhar Panca Dahana menilai kegenitan SCB menemukan klaim dalam kelakar bahwa O Amuk Kapak adalah puncak. Pertanyaan atas kelakar itu: Apakah SCB mau dan sanggup mencipta puncak-puncak lain?
Takdir yang diciptakan SCB memiliki usia panjang dan aura memukau. Pembacaan dan penilaian Arief B. Prasetyo (2002) atas puisi-puisi SCB menunjukkan kuasa SCB dalam rumah puisi Indonesia modern.
Arief B. Prasetyo merasa pukau SCB itu sejak bocah ingusan sampai ketika sanggup menjadi pembaca puisi yang kritis. Kepercayaan publik bahwa puncak SCB adalah O Amuk Kapak seakan menemukan penguatan pada kecurigaan Arief B. Prasetyo: “Jangan-jangan, justru lantaran telanjur menanggung beban sejarah di pundaknya, Sutardji kelak cuma akan menyulut batang mercon basah dengan buku puisi barunya. Itulah momen mengenaskan…”
Ignas Kleden dalam esai Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri (2007) membuat pembacaan lain dengan kritis. Kleden menilai kredo puisi SCB bukan teori tapi rencana kerja, program, desain, atau tekad. SCB bekerja menulis puisi untuk mencari kebenaran kredo itu. SCB membuktikan itu dengan sekian risiko dan kontradiksi.
Kleden mengakui SCB patut mendapatkan catatan-catatan penting karena sanggup melakukan dekonstruksi dalam konteks bahasa, sastra, dan kebudayaan. SCB memukau dan menggairahkan.
Sekian pembacaan dan penilaian atas puisi-puisi SCB adalah bukti antusiasme dan kerepotan publik dan tukang kritik sastra. SCB sebagai penyair ampuh pun menerima ganjaran-ganjaran besar atau “kutukan indah” dari pelbagai orang dan lembaga. Berita-berita mutakhir menyebutkan bahwa SCB mendapatkan acara-acara fenomenal: perayaan usia ke-66 tahun (14–19 Juli 2007) di TIM (Jakarta); Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (10 Desember 2007); peringatan 67 tahun SCB di Pekanbaru (Riau) dengan penerbitan buku puisi Atau Ngit Cari Agar dan peresmian bulan Juni sebagai “bulan Sutardji”; penerima penghargaan Achmad Bakrie 2008 untuk kesusastraan. SCB adalah takdir membawa berkah. Keren!
* Bandung Mawardi, Kritikus sastra dan peneliti Kabut Institut, Solo
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/apresiasi-sutardji-puisi-takdir.html
24/05/11
Llosa Menggairahkan Sastra
Bandung Mawardi
Suara Karya, 21 Mei 2011
GABRIEL Garcia Marquez dalam pidato penerimaan Nobel Sastra 1982 mengabarkan bahwa Amerika Latin adalah dunia kekerasan, konflik ideologi, kemiskinan, perang saudara, politik diktaktor, dan rezim militeristik.
Dunia semrawut ini membuat Marques melawan dengan kata-kata. Sastra adalah pilihan untuk menguak labirin aib. Sastra menjalankan peran sebagai mikrofon pencerahan, penyadaran, dan pembebasan dengan pertaruhan bahasa, imajinasi, dan ideologis. Publik dunia pun menerima pukau dari kerja sastra Marquez.
Amerika Latin telah menjelma pancaran sastra untuk dunia. Marquez tampil dengan pergulatan estetika realisme-magis dan menebar sihir sastra bagi pembaca. Pikat sastra Latin mengenalkan dunia pada kerja sastra dari Pablo Neruda, Octavio Paz, Miguel Asturias, Jorge Luis Borges, Alejo Carpentier, Carlos Fuantes, dan Mario Vargas Llosa. Sastra Amerika Latin semakin memberi takjub pada dunia dengan penerimaan Nobel Sastra 2010 pada Mario Vargas Llosa. Momentum ini menandai geliat sastra dalam alur perubahan di Amerika Latin. Gambaran dunia Amerika Latin ala Marquez perlahan menemukan aksentuasi berbeda melalui lembaran-lembaran sastra produksi Llosa.
Nama Llosa mungkin masih agak asing di publik sastra Indonesia. Terjemahan-terjemahan sastra Amerika Latin ke dalam bahasa Indonesia memang melimpah tapi pilihan-pilihan pengarang terbatas. Buku-buku Gabriel Garcia Marquez merupakan jumlah terbesar ketimbang buku dari para pengarang Amerika Latin. Nama Llosa memang tidak sepopuler sosok Marquez. Para penikmat cerpen bisa membuka kembali lembaran-lembaran terjemahan sastra dunia untuk menemukan nama peraih Nobel Sastra 2010.
Nirwan Dewanto (1999) menyebut nama Llosa saat membincangkan ledakan sastra Amerika Latin bagi pembaca sastra dunia. Mario Vargas Llosa hidup dalam dunia represif kolonialis. Llosa mafhum fiksi mengandung watak subversif. Llosa pun menulis dengan kesusahan membedakan antara fiksi dengan realitas. Fiksi di dunia Amerika Latin menjangkiti dan meresap ke pelbagai ranah pengetahuan. Llosa memberi makna dunia Amerika Latin itu dengan kerja “novelisasi kehidupan.”
Llosa semakin membesarkan pancaran sastra Amerika Latin. Pengarang kelahiran 28 Maret 1936 ini menjadi juru bicara perkembangan sastra Amerika Latin mutakhir. Sosok ini memiliki arti penting dalam pengisahan dunia Amerika Latin. Argumentasi dari Akademi Swedia menjadi ciri dari spirit sastra Amerika Latin:
“Llosa mampu membuat pemetaan struktur kekuasaan dan penggambaran tajam atas perlawanan, pemberontakan, dan kekalahan seseorang.” Argumentasi ini mesti diletakkan dengan situasi politik, sosial, dan kultural di Amerika Latin seperti dikhotbahkan oleh Marquez sejak tahun 1980-an. Llosa juga diakui sanggup membebaskan diri dari rezim sastra realisme magis sebagai ciri terpenting sastra Amerika Latin pada periode 1960-an dan 1970-an dengan Marquez sebagai lokomotif.
Kemenangan Llosa juga menyeret sejarah ideologis para pengarang di Amerika Latin. Llosa pernah bermusuhan dengan Marquez secara ideologis dan manifestasi sastra. Sejarah itu menjadi impas dengan pengakuan kedua pengarang sebagai tokoh sastra dunia. Marquez menerima Nobel Sastra 1982 dan Llosa menerima Nobel Sastra 2010. Waktu memang terpaut jauh tapi buku-buku mereka adalah pancaran kegelisahan sastra Amerika Latin dalam jagat politik-kacau dari zaman ke zaman.
Sosok Llosa mungkin menandai peta sastra dunia secara baku dan fragmentatif. Corak sastra Amerika Latin seolah menebar sihir dalam menentukan kebermaknaan sastra dalam pergaulan global. Nobel Sastra sebagai legitimasi atas proyek sastra dunia memang tak sepi dari tendensi politik-ideologis. Pelbagai curiga telah dialamatkan pada Akademi Swedia tapi alur pemberian Nobel Sastra masih mencirikan tentang konsensus dan standarisasi sastra kelas dunia.
Pidato Gabriel Marquez dengan titel Kesunyian Amerika Latin (1982) mungkin bisa memberi penjelasan tentang kebermaknaan sastra Latin dalam kancah sastra dan politik-identitas di dunia. Marquez menjelaskan bahwa nasib manusia-manusia Amerika Latin terpengaruhi oleh kolonialisme dan resistensi secara politik-kultural. Biografi Amerika Latin seolah ingin dikonstruksi oleh Eropa. Perlawanan dengan sastra menjadikan dunia Amerika Latin merupakan dunia instabilitas. Marquez mengatakan: “…mereka (Eropa) berusaha mengukur kami dengan meteran mereka sendiri. Mereka lupa bahwa hidup itu tidak sama bagi semua orang. Pencarian identitas kami sendiri itu sangat meletihkan dan berdarah-darah…”
Biografi identitas dalam cengkeraman politik-kultural ala Eropa inilah penentu dari spirit sastra Amerika Latin mengandung perlawanan, pemberontakan, pembebasan, dan penyadaran. Llosa menyerap spirit itu untuk dikabarkan pada dunia kendati memakai sastra dalam genre dan pengucapan berbeda dari dominasi realisme-magis. Dunia telah menabalkan Llosa sebagai suara sastra dunia dengan kesejarahan dan biografi Amerika Latin. Pancaran sastra Amerika Latin dan kerja sastra para pengarang Amerika Latin telah ikut mengubah dan mendadani dunia dengan gelimang imajinasi dan olah bahasa. Llosa adalah suara dari dunia Amerika Latin untuk menggairahkan sastra di pelbagai negeri demi perayaan atas perubahan nasib dunia. Begitu.
Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/05/llosa-menggairahkan-sastra.html
Suara Karya, 21 Mei 2011
GABRIEL Garcia Marquez dalam pidato penerimaan Nobel Sastra 1982 mengabarkan bahwa Amerika Latin adalah dunia kekerasan, konflik ideologi, kemiskinan, perang saudara, politik diktaktor, dan rezim militeristik.
Dunia semrawut ini membuat Marques melawan dengan kata-kata. Sastra adalah pilihan untuk menguak labirin aib. Sastra menjalankan peran sebagai mikrofon pencerahan, penyadaran, dan pembebasan dengan pertaruhan bahasa, imajinasi, dan ideologis. Publik dunia pun menerima pukau dari kerja sastra Marquez.
Amerika Latin telah menjelma pancaran sastra untuk dunia. Marquez tampil dengan pergulatan estetika realisme-magis dan menebar sihir sastra bagi pembaca. Pikat sastra Latin mengenalkan dunia pada kerja sastra dari Pablo Neruda, Octavio Paz, Miguel Asturias, Jorge Luis Borges, Alejo Carpentier, Carlos Fuantes, dan Mario Vargas Llosa. Sastra Amerika Latin semakin memberi takjub pada dunia dengan penerimaan Nobel Sastra 2010 pada Mario Vargas Llosa. Momentum ini menandai geliat sastra dalam alur perubahan di Amerika Latin. Gambaran dunia Amerika Latin ala Marquez perlahan menemukan aksentuasi berbeda melalui lembaran-lembaran sastra produksi Llosa.
Nama Llosa mungkin masih agak asing di publik sastra Indonesia. Terjemahan-terjemahan sastra Amerika Latin ke dalam bahasa Indonesia memang melimpah tapi pilihan-pilihan pengarang terbatas. Buku-buku Gabriel Garcia Marquez merupakan jumlah terbesar ketimbang buku dari para pengarang Amerika Latin. Nama Llosa memang tidak sepopuler sosok Marquez. Para penikmat cerpen bisa membuka kembali lembaran-lembaran terjemahan sastra dunia untuk menemukan nama peraih Nobel Sastra 2010.
Nirwan Dewanto (1999) menyebut nama Llosa saat membincangkan ledakan sastra Amerika Latin bagi pembaca sastra dunia. Mario Vargas Llosa hidup dalam dunia represif kolonialis. Llosa mafhum fiksi mengandung watak subversif. Llosa pun menulis dengan kesusahan membedakan antara fiksi dengan realitas. Fiksi di dunia Amerika Latin menjangkiti dan meresap ke pelbagai ranah pengetahuan. Llosa memberi makna dunia Amerika Latin itu dengan kerja “novelisasi kehidupan.”
Llosa semakin membesarkan pancaran sastra Amerika Latin. Pengarang kelahiran 28 Maret 1936 ini menjadi juru bicara perkembangan sastra Amerika Latin mutakhir. Sosok ini memiliki arti penting dalam pengisahan dunia Amerika Latin. Argumentasi dari Akademi Swedia menjadi ciri dari spirit sastra Amerika Latin:
“Llosa mampu membuat pemetaan struktur kekuasaan dan penggambaran tajam atas perlawanan, pemberontakan, dan kekalahan seseorang.” Argumentasi ini mesti diletakkan dengan situasi politik, sosial, dan kultural di Amerika Latin seperti dikhotbahkan oleh Marquez sejak tahun 1980-an. Llosa juga diakui sanggup membebaskan diri dari rezim sastra realisme magis sebagai ciri terpenting sastra Amerika Latin pada periode 1960-an dan 1970-an dengan Marquez sebagai lokomotif.
Kemenangan Llosa juga menyeret sejarah ideologis para pengarang di Amerika Latin. Llosa pernah bermusuhan dengan Marquez secara ideologis dan manifestasi sastra. Sejarah itu menjadi impas dengan pengakuan kedua pengarang sebagai tokoh sastra dunia. Marquez menerima Nobel Sastra 1982 dan Llosa menerima Nobel Sastra 2010. Waktu memang terpaut jauh tapi buku-buku mereka adalah pancaran kegelisahan sastra Amerika Latin dalam jagat politik-kacau dari zaman ke zaman.
Sosok Llosa mungkin menandai peta sastra dunia secara baku dan fragmentatif. Corak sastra Amerika Latin seolah menebar sihir dalam menentukan kebermaknaan sastra dalam pergaulan global. Nobel Sastra sebagai legitimasi atas proyek sastra dunia memang tak sepi dari tendensi politik-ideologis. Pelbagai curiga telah dialamatkan pada Akademi Swedia tapi alur pemberian Nobel Sastra masih mencirikan tentang konsensus dan standarisasi sastra kelas dunia.
Pidato Gabriel Marquez dengan titel Kesunyian Amerika Latin (1982) mungkin bisa memberi penjelasan tentang kebermaknaan sastra Latin dalam kancah sastra dan politik-identitas di dunia. Marquez menjelaskan bahwa nasib manusia-manusia Amerika Latin terpengaruhi oleh kolonialisme dan resistensi secara politik-kultural. Biografi Amerika Latin seolah ingin dikonstruksi oleh Eropa. Perlawanan dengan sastra menjadikan dunia Amerika Latin merupakan dunia instabilitas. Marquez mengatakan: “…mereka (Eropa) berusaha mengukur kami dengan meteran mereka sendiri. Mereka lupa bahwa hidup itu tidak sama bagi semua orang. Pencarian identitas kami sendiri itu sangat meletihkan dan berdarah-darah…”
Biografi identitas dalam cengkeraman politik-kultural ala Eropa inilah penentu dari spirit sastra Amerika Latin mengandung perlawanan, pemberontakan, pembebasan, dan penyadaran. Llosa menyerap spirit itu untuk dikabarkan pada dunia kendati memakai sastra dalam genre dan pengucapan berbeda dari dominasi realisme-magis. Dunia telah menabalkan Llosa sebagai suara sastra dunia dengan kesejarahan dan biografi Amerika Latin. Pancaran sastra Amerika Latin dan kerja sastra para pengarang Amerika Latin telah ikut mengubah dan mendadani dunia dengan gelimang imajinasi dan olah bahasa. Llosa adalah suara dari dunia Amerika Latin untuk menggairahkan sastra di pelbagai negeri demi perayaan atas perubahan nasib dunia. Begitu.
Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/05/llosa-menggairahkan-sastra.html
26/12/10
Jejak Asketisme Intelektual
Bandung Mawardi *
http://www.korantempo.com/
Sejarah intelektual kerap diperkarakan dalam ranah kekuasaan. Wacana pengetahuan dan kekuasaan telah menjadi dominasi dalam pembentukan Indonesia dan konstruksi identitas intelektual. Pembacaan dan penafsiran intelektual dalam ranah kultural dan spiritual masih jarang diungkapkan dengan pelbagai alasan. Kondisi ini mungkin jadi dalil untuk Sartono Kartodirdjo (1921-2007) mengeluarkan risalah Asketisme Intelektual (1999). Risalah pendek ini menjadi tanda tanya dan tanda seru untuk publik memikirkan ulang identitas dan peran intelektual di negeri ini.
Risalah itu menjadi jalan lain untuk penyadaran bahwa kelahiran intelektual di negeri ini ditentukan oleh orientasi kultural-spiritual. Persemaian intelektual pada abad XX memang ada dalam bayang-bayang kuasa kolonialisme dan globalisasi, tapi masih memberi jalan untuk pilihan pada individu untuk mengafirmasi diri dalam olah kultural dan spiritual. Asketisme merupakan ikhtiar menjadi manusia-intelektual tanpa melupakan akar dan jejak sebagai fondasi. Wacana dan praktek asketisme intelektual pada saat ini mungkin ada di pinggiran tapi tidak bisa disepelekan.
Tokoh
Sartono Kartodirdjo lahir dan tumbuh dalam lingkungan kultural Jawa. Ahli sejarah ini memang melakukan petualangan pengetahuan ke pelbagai peradaban, tapi kentara memiliki akar kuat kejawaan. Ilmu sejarah justru mengantarkan Sartono pada kesadaran dan pencerahan terhadap hikmah Jawa. Hikmah Jawa ini memiliki keunikan ketika disandingkan dengan hikmah dari pelbagai peradaban dan agama. Sartono pun mafhum bahwa menjadi intelektual membutuhkan olah jiwa atau laku dan bukan sekadar urusan akademik dan kekuasaan.
Sartono mengungkapkan bahwa asketisme dilakoni dengan olah jiwa dalam moral dan spiritual dengan menghilangkan keinginan atau hawa nafsu jasmaniah. Definisi ini mendapati pembenaran dalam ajaran Wedhatama gubahan Mangkunegara IV mengenai mesu budi. Ajaran mesu budi ini dalam konteks Jawa berkaitan dengan nglakoni, prihatin, dan mengorientasikan diri dalam “dunia-dalam”. Pengertian konklusif dari mesu budi adalah kepemilikan etos dalam ikhtiar intelektual untuk memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, teknologi, atau politik. Asketisme intelektual itu menjadi identik dengan Sartono Kartodirdjo karena proses menjalani hidup mengaitkan diri dalam orientasi kultural-spiritual Jawa.
Catatan mengenai asketisme intelektual pada masa lalu bisa dicontohkan pada sosok Sosrokartono (1877-1952). Intelektual ini memiliki reputasi internasional karena otoritas pengetahuan dan penguasaan terhadap belasan bahasa asing. Sosrokartono tumbuh pada awal abad XX sebagai masa persemaian modernitas di Hindia Belanda. Gelar akademik dan pergaulan intelektual di Barat tidak membuat Sosrokartono larut dalam sihir rasionalitas-modernitas. Kesadaran kultural-spiritual Jawa masih kental dan disemaikan. Godaan-godaan politik-kekuasaan tidak diladeni dengan tunduk atau takut. Sosrokartono justru memilih pulang ke negeri sendiri. Asketisme dijalani dengan tapa brata (bertapa-meditasi), sebagai fondasi untuk pengajaran kepada sesama. Inilah pengabdian dari jalan asketisme intelektual.
Asketisme intelektual juga tampak pada sosok Soedjatmoko (1922-1989). Intelektual ini sejak mula sadar bahwa ikhtiar dan kerja intelektual mesti memiliki tarikan dengan akar tradisi. Soedjatmoko sendiri mengafirmasi kejawaan untuk memberi penggenapan dalam dialektika rasionalitas-spiritualitas. Asketisme terbentuk dalam pergulatan nilai dan peka untuk memberi tanggapan terhadap fakta-fakta sosial. Kaum intelektual di tengah bangsa sedang berkembang, tanpa kesanggupan mengembangkan hubungan dengan tradisi, akan tersisihkan atau teralienasi. Kesadaran dalam laku intelektual itu menentukan pemikiran-pemikiran Soedjtamoko cenderung memiliki akar-akar tradisi Jawa dan kontekstual. Revitalisasi menjadi kunci untuk mengolah tradisi dalam arus dan alur progresivitas zaman.
Jalan asketisme intelektual Sosrokartono, Soedjatmoko, dan Sartono Kartodirdjo itu kentara jarang ditempuh oleh para intelektual mutakhir. Sejarah terus mencatat bahwa keintiman intelektual dan kekuasaan tak bisa dimungkiri. Model ini mengandung hukum transaksi dan kompensasi. Intelektual susah menghindar dari godaan untuk masuk atau tunduk dalam kekuasaan. Pengabdian terhadap penguasa kadang jadi tindakan pragmatis atas nama status sosial dan material. Sosok intelektual mengalami dilema ketika dia tidak sanggup menghadapi kekuasaan dengan arif sebagai konsekuensi mesu budi.
Spirit kepakaran
Sartono mengungkapkan bahwa inti dari asketisme intelektual adalah pemunculan spirit kepakaran (expertise) dari intelektual. Kepakaran ini mesti memenuhi nilai-nilai: otoritas, otonomi, otentisitas, dan integritas. Nilai-nilai idealistik ini mungkin susah dibuktikan untuk menilai kehadiran sosok-sosok intelektual di negeri ini. Kaum intelektual mutakhir justru repot untuk menjadi pegawai negeri, mengurus proyek, atau mencari jabatan. Sikap pragmatis ditampilkan berbarengan dengan ketiadaan penghargaan dari negara terhadap jerih payah kaum intelektual. Kontradiksi terus terjadi tanpa janji ada penemuan solusi.
Asketisme intelektual mungkin solusi, tapi susah dijalani. Sistem pendidikan, sistem politik, tatanan sosial, dan lakon kultural mutakhir seperti jadi jerat dari hukum pasar. Modernitas dan kapitalisme telah mengajarkan bahwa hidup itu berat dan mesti dilakoni dengan kelihaian agar tak mati sia-sia. Ajaran itu lalu memunculkan risiko keserakahan dan pragmatisme. Kaum intelektual sebagai penyeru kesadaran kadang masuk dalam jerat-jerat itu, karena memperhitungkan pamrih dan pelbagai pengorbanan ketika menempuh pendidikan.
Siapa mau menempuhi jejak asketisme intelektual pada hari ini? Negeri ini telah sesak dengan intrik politik dan keramaian pasar. Kaum intelektual tanpa sungkan mengabdikan diri pada kekuasaan melalui partai politik, parlemen, kabinet, atau institusi negara tanpa kesadaran terhadap anutan kultural-spiritual. Keintelektualan bisa saja digadaikan untuk merayakan pamrih-pamrih duniawi. Asketisme intelektual mungkin jadi jalan kecil dan sepi. Begitu.
PENGGAGAS TEMU KAUM INTELEKTUAL MUDA DI BALAI SOEDJATMOKO, SOLO
http://www.korantempo.com/
Sejarah intelektual kerap diperkarakan dalam ranah kekuasaan. Wacana pengetahuan dan kekuasaan telah menjadi dominasi dalam pembentukan Indonesia dan konstruksi identitas intelektual. Pembacaan dan penafsiran intelektual dalam ranah kultural dan spiritual masih jarang diungkapkan dengan pelbagai alasan. Kondisi ini mungkin jadi dalil untuk Sartono Kartodirdjo (1921-2007) mengeluarkan risalah Asketisme Intelektual (1999). Risalah pendek ini menjadi tanda tanya dan tanda seru untuk publik memikirkan ulang identitas dan peran intelektual di negeri ini.
Risalah itu menjadi jalan lain untuk penyadaran bahwa kelahiran intelektual di negeri ini ditentukan oleh orientasi kultural-spiritual. Persemaian intelektual pada abad XX memang ada dalam bayang-bayang kuasa kolonialisme dan globalisasi, tapi masih memberi jalan untuk pilihan pada individu untuk mengafirmasi diri dalam olah kultural dan spiritual. Asketisme merupakan ikhtiar menjadi manusia-intelektual tanpa melupakan akar dan jejak sebagai fondasi. Wacana dan praktek asketisme intelektual pada saat ini mungkin ada di pinggiran tapi tidak bisa disepelekan.
Tokoh
Sartono Kartodirdjo lahir dan tumbuh dalam lingkungan kultural Jawa. Ahli sejarah ini memang melakukan petualangan pengetahuan ke pelbagai peradaban, tapi kentara memiliki akar kuat kejawaan. Ilmu sejarah justru mengantarkan Sartono pada kesadaran dan pencerahan terhadap hikmah Jawa. Hikmah Jawa ini memiliki keunikan ketika disandingkan dengan hikmah dari pelbagai peradaban dan agama. Sartono pun mafhum bahwa menjadi intelektual membutuhkan olah jiwa atau laku dan bukan sekadar urusan akademik dan kekuasaan.
Sartono mengungkapkan bahwa asketisme dilakoni dengan olah jiwa dalam moral dan spiritual dengan menghilangkan keinginan atau hawa nafsu jasmaniah. Definisi ini mendapati pembenaran dalam ajaran Wedhatama gubahan Mangkunegara IV mengenai mesu budi. Ajaran mesu budi ini dalam konteks Jawa berkaitan dengan nglakoni, prihatin, dan mengorientasikan diri dalam “dunia-dalam”. Pengertian konklusif dari mesu budi adalah kepemilikan etos dalam ikhtiar intelektual untuk memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, teknologi, atau politik. Asketisme intelektual itu menjadi identik dengan Sartono Kartodirdjo karena proses menjalani hidup mengaitkan diri dalam orientasi kultural-spiritual Jawa.
Catatan mengenai asketisme intelektual pada masa lalu bisa dicontohkan pada sosok Sosrokartono (1877-1952). Intelektual ini memiliki reputasi internasional karena otoritas pengetahuan dan penguasaan terhadap belasan bahasa asing. Sosrokartono tumbuh pada awal abad XX sebagai masa persemaian modernitas di Hindia Belanda. Gelar akademik dan pergaulan intelektual di Barat tidak membuat Sosrokartono larut dalam sihir rasionalitas-modernitas. Kesadaran kultural-spiritual Jawa masih kental dan disemaikan. Godaan-godaan politik-kekuasaan tidak diladeni dengan tunduk atau takut. Sosrokartono justru memilih pulang ke negeri sendiri. Asketisme dijalani dengan tapa brata (bertapa-meditasi), sebagai fondasi untuk pengajaran kepada sesama. Inilah pengabdian dari jalan asketisme intelektual.
Asketisme intelektual juga tampak pada sosok Soedjatmoko (1922-1989). Intelektual ini sejak mula sadar bahwa ikhtiar dan kerja intelektual mesti memiliki tarikan dengan akar tradisi. Soedjatmoko sendiri mengafirmasi kejawaan untuk memberi penggenapan dalam dialektika rasionalitas-spiritualitas. Asketisme terbentuk dalam pergulatan nilai dan peka untuk memberi tanggapan terhadap fakta-fakta sosial. Kaum intelektual di tengah bangsa sedang berkembang, tanpa kesanggupan mengembangkan hubungan dengan tradisi, akan tersisihkan atau teralienasi. Kesadaran dalam laku intelektual itu menentukan pemikiran-pemikiran Soedjtamoko cenderung memiliki akar-akar tradisi Jawa dan kontekstual. Revitalisasi menjadi kunci untuk mengolah tradisi dalam arus dan alur progresivitas zaman.
Jalan asketisme intelektual Sosrokartono, Soedjatmoko, dan Sartono Kartodirdjo itu kentara jarang ditempuh oleh para intelektual mutakhir. Sejarah terus mencatat bahwa keintiman intelektual dan kekuasaan tak bisa dimungkiri. Model ini mengandung hukum transaksi dan kompensasi. Intelektual susah menghindar dari godaan untuk masuk atau tunduk dalam kekuasaan. Pengabdian terhadap penguasa kadang jadi tindakan pragmatis atas nama status sosial dan material. Sosok intelektual mengalami dilema ketika dia tidak sanggup menghadapi kekuasaan dengan arif sebagai konsekuensi mesu budi.
Spirit kepakaran
Sartono mengungkapkan bahwa inti dari asketisme intelektual adalah pemunculan spirit kepakaran (expertise) dari intelektual. Kepakaran ini mesti memenuhi nilai-nilai: otoritas, otonomi, otentisitas, dan integritas. Nilai-nilai idealistik ini mungkin susah dibuktikan untuk menilai kehadiran sosok-sosok intelektual di negeri ini. Kaum intelektual mutakhir justru repot untuk menjadi pegawai negeri, mengurus proyek, atau mencari jabatan. Sikap pragmatis ditampilkan berbarengan dengan ketiadaan penghargaan dari negara terhadap jerih payah kaum intelektual. Kontradiksi terus terjadi tanpa janji ada penemuan solusi.
Asketisme intelektual mungkin solusi, tapi susah dijalani. Sistem pendidikan, sistem politik, tatanan sosial, dan lakon kultural mutakhir seperti jadi jerat dari hukum pasar. Modernitas dan kapitalisme telah mengajarkan bahwa hidup itu berat dan mesti dilakoni dengan kelihaian agar tak mati sia-sia. Ajaran itu lalu memunculkan risiko keserakahan dan pragmatisme. Kaum intelektual sebagai penyeru kesadaran kadang masuk dalam jerat-jerat itu, karena memperhitungkan pamrih dan pelbagai pengorbanan ketika menempuh pendidikan.
Siapa mau menempuhi jejak asketisme intelektual pada hari ini? Negeri ini telah sesak dengan intrik politik dan keramaian pasar. Kaum intelektual tanpa sungkan mengabdikan diri pada kekuasaan melalui partai politik, parlemen, kabinet, atau institusi negara tanpa kesadaran terhadap anutan kultural-spiritual. Keintelektualan bisa saja digadaikan untuk merayakan pamrih-pamrih duniawi. Asketisme intelektual mungkin jadi jalan kecil dan sepi. Begitu.
PENGGAGAS TEMU KAUM INTELEKTUAL MUDA DI BALAI SOEDJATMOKO, SOLO
16/09/10
Uang, Modernitas, dan Tafsir Sastra
Bandung Mawardi*
http://cetak.kompas.com/
Uang adalah wacana tak selesai untuk memperkarakan kehidupan manusia modern. Uang sebagai benda, kata, dan makna terus jadi kuasa untuk mengantarkan manusia pada permainan-permainan hidup dalam seribu satu risiko. Pengenalan manusia modern terhadap uang menjadi absorsi dan internalisasi untuk melakoni hidup dengan konstitusi atas nama nilai dan kompensasi. Uang sebagai juru bicara membuat manusia menerima mekanisme atau prosedur hidup dalam perhitungan angka untuk mencapai makna. Angka jadi penentu, tetapi makna kadang hadir dalam kesamaran.
Uang mengantarkan peradaban manusia pada pertaruhan ekonomi modern secara sistemik. Efek pertaruhan itu meluber dalam lakon politik, spiritualitas, sosial, pendidikan, dan kultural. Uang menjelma monster dengan sabda-sabda untuk memberi instruksi dan sanksi. Manusia-manusia modern jadi tokoh-tokoh dalam lakon fiksi modern karena uang telah mengaburkan fakta-fakta dalam nalar tradisional. Fiksi mutakhir adalah pembenaran uang dalam konstruksi nalar modern dengan penentuan tema, alur, dan latar.
Karl Marx dengan satire mengungkapkan uang adalah dewa. Uang telah menjadi penguasa manusia dan alam. Uang menjelma pusat dari nilai segala sesuatu. Uang telah merampas dunia dari tatanan kosmis yang mengacu pada norma spiritualitas dan kultural menuju ke tatanan ekonomi dan politik yang materialistik. Karl Marx pun menilai uang sebagai esensi alineatif dari eksistensi manusia dan laku kerja untuk hidup. Uang justru menemukan eksistensi dalam iman manusia karena ritual pemujaan dalam mekanisme produksi dan konsumsi.
Satire itu muncul dari lakon peradaban manusia modern dengan pemahaman uang sebagai dewa atau pusat. Fakta-fakta modernitas jadi ”fiksi realisme” atau ”fiksi absurd” karena kuasa uang. Georg Simmel memberi penjelasan lanjutan bahwa uang memang jadi pokok dan tokoh dalam modernitas. Dalil reflektif dari Simmel adalah modernitas digerakkan oleh kota dan uang. Kota adalah tempat modernitas dipusatkan dan diintensifkan. Uang adalah sebab untuk sebaran kuasa modernitas. Uang adalah lambang dan metafora yang terus mendapati terjemahan dan realisasi untuk lakon konstruktif atau destruktif.
Wacana uang di Eropa mendapat perhatian dari kalangan studi filsafat, sosiologi, ekonomi, politik, teologi, seni, dan sastra. Pelbagai pembacaan dan penilaian terhadap uang menjadi prosedur legitimasi uang dalam lakon manusia modern. Uang jadi dalil untuk alienasi, hedonisme, perbankan, kapitalisme, pasar bebas, revolusi, pasar modal, asuransi, dan globalisasi. Legitimasi uang pun menampakkan pengaruh pada laku spiritual, olah estetika, interaksi sosial, dan operasionalisasi demokrasi.
Uang dalam wacana-wacana kritis memang jadi momok untuk berkah atau kutukan. Pemahaman uang secara kuantitatif dan kualitatif lalu memunculkan kontradiksi-kontradiksi dilematis. Uang menjadi tukang sulap untuk manusia modern melakoni hidup sebagai fakta atau fiksi. Pembedaan rasionalitas dan irrasionalitas semakin tak mempan ketika uang menjebol definisi dan tafsir atas peradaban modern. Uang bisa menjelma dewa kapitalisme, spiritualisasi ekonomi, lokomotif politik, sakralitas prestise, mistik sosial, aktor seni populer, atau iblis kemiskinan.
Tafsir
Membaca dan menilai uang dalam garapan sastra tentu jadi tindakan reflektif untuk memahami resepsi manusia-manusia modern terhadap uang. Sastra memang pewartaan dalam bentuk dokumentasi fragmen-fragmen historis, sosiologis, etis, teologis, dan estetis. Sastra pun memiliki orientasi untuk memuat nubuat atas kondisi manusia dan peradaban modern dalam kuasa uang. Sastra memberi warta reflektif ketimbang analisis ekonomi atau sosiologi dengan suguhan data dan tafsir-tafsir ilmiah dan rasional.
Hugh Dalziel Duncan (1997) memberi paparan reflektif tentang uang dalam fiksi-fiksi modern. Uang adalah tema penting dalam arus modernitas dan hasrat manusia untuk melegitimasi eksistensi-esensi. Uang mengandung misteri dan kodrat hierarkis untuk membedakan derajat manusia dalam mengonsumsi seni atau materi-materi lain untuk klaim kemapanan atau prestise. Uang jadi kunci untuk menciptakan nikmat atau jatuh dalam sengsara.
Edith Wharton (1862-1937) dalam novel The House of Mirth (1905) memberikan deskripsi tentang relasi manusia modern dengan uang untuk eksplisitas eksistensi melalui tindakan konsumsi dan gaya hidup: ”Tuan Rosedale memiliki ketepatan khas rasanya dalam hal memuja nilai-nilai, dan untuk dilihat orang tatkala ia berjalan menuruni tangga di jam istirahat makan siang yang penuh sesak dengan ditemani oleh Nona Lily Bart sama rasanya dengan uang dalam kantong, sebagaimana kata-kata yang akan dipilih sendiri oleh Tuan Rosedale”. Uang adalah aura modernitas, tetapi mungkin jadi faktor untuk membuka aurat hedonisme dan kapitalisme.
Konklusi kritis diajukan Duncan ketika menilai novel-novel F Scott Fitzgerald dan Thomas Mann. Fitzgerald dalam novel The Great Gatsby menciptakan tokoh-tokoh yang terangsang secara seksual dan rohani oleh uang. Tokoh-tokoh dalam novel Buddenbrooks anggitan Thomas Mann justru luluh, membusuk, dan musnah oleh kuasa dan aura uang. Tokoh-tokoh itu adalah representasi dari lakon manusia-manusia modern di Amerika dan Jerman.
Fiksi-fiksi di Eropa memang kentara untuk mewartakan lakon uang dalam peradaban modern. Bagaimana lakon uang di negeri Indonesia? Novel-novel awal abad XX di Indonesia sudah merepresentasikan tema uang dalam kadar tertentu terkait dengan hasrat untuk hedonis, kawin paksa, gaya hidup modern oleh kaum pribumi, kemiskinan di desa dan kota, modal dalam pendidikan modern, atau progresivitas kebudayaan populer di kota. Penggarapan sastra dengan tema uang tentu bisa jadi dokumen untuk membaca resepsi dan perilaku orang Indonesia terhadap uang sebagai pamrih untuk hidup atau menjadi modern.
Eksplorasi terhadap tema uang justru masih jarang dilakukan oleh empu-empu sastra Indonesia. Kesanggupan untuk menggarap tema ini mungkin membuka wacana kompleks kesadaran atas fakta-fakta dalam garapan sastra. Uang tentu jadi perkara besar dalam biografi manusia-manusia Indonesia ketika dengan gairah atau gerah tumbuh dalam arus dan alur modernitas pada abad XX.
*) Peneliti Kabut Institut Solo dan Redaktur Jurnal Kandang Esai.
http://cetak.kompas.com/
Uang adalah wacana tak selesai untuk memperkarakan kehidupan manusia modern. Uang sebagai benda, kata, dan makna terus jadi kuasa untuk mengantarkan manusia pada permainan-permainan hidup dalam seribu satu risiko. Pengenalan manusia modern terhadap uang menjadi absorsi dan internalisasi untuk melakoni hidup dengan konstitusi atas nama nilai dan kompensasi. Uang sebagai juru bicara membuat manusia menerima mekanisme atau prosedur hidup dalam perhitungan angka untuk mencapai makna. Angka jadi penentu, tetapi makna kadang hadir dalam kesamaran.
Uang mengantarkan peradaban manusia pada pertaruhan ekonomi modern secara sistemik. Efek pertaruhan itu meluber dalam lakon politik, spiritualitas, sosial, pendidikan, dan kultural. Uang menjelma monster dengan sabda-sabda untuk memberi instruksi dan sanksi. Manusia-manusia modern jadi tokoh-tokoh dalam lakon fiksi modern karena uang telah mengaburkan fakta-fakta dalam nalar tradisional. Fiksi mutakhir adalah pembenaran uang dalam konstruksi nalar modern dengan penentuan tema, alur, dan latar.
Karl Marx dengan satire mengungkapkan uang adalah dewa. Uang telah menjadi penguasa manusia dan alam. Uang menjelma pusat dari nilai segala sesuatu. Uang telah merampas dunia dari tatanan kosmis yang mengacu pada norma spiritualitas dan kultural menuju ke tatanan ekonomi dan politik yang materialistik. Karl Marx pun menilai uang sebagai esensi alineatif dari eksistensi manusia dan laku kerja untuk hidup. Uang justru menemukan eksistensi dalam iman manusia karena ritual pemujaan dalam mekanisme produksi dan konsumsi.
Satire itu muncul dari lakon peradaban manusia modern dengan pemahaman uang sebagai dewa atau pusat. Fakta-fakta modernitas jadi ”fiksi realisme” atau ”fiksi absurd” karena kuasa uang. Georg Simmel memberi penjelasan lanjutan bahwa uang memang jadi pokok dan tokoh dalam modernitas. Dalil reflektif dari Simmel adalah modernitas digerakkan oleh kota dan uang. Kota adalah tempat modernitas dipusatkan dan diintensifkan. Uang adalah sebab untuk sebaran kuasa modernitas. Uang adalah lambang dan metafora yang terus mendapati terjemahan dan realisasi untuk lakon konstruktif atau destruktif.
Wacana uang di Eropa mendapat perhatian dari kalangan studi filsafat, sosiologi, ekonomi, politik, teologi, seni, dan sastra. Pelbagai pembacaan dan penilaian terhadap uang menjadi prosedur legitimasi uang dalam lakon manusia modern. Uang jadi dalil untuk alienasi, hedonisme, perbankan, kapitalisme, pasar bebas, revolusi, pasar modal, asuransi, dan globalisasi. Legitimasi uang pun menampakkan pengaruh pada laku spiritual, olah estetika, interaksi sosial, dan operasionalisasi demokrasi.
Uang dalam wacana-wacana kritis memang jadi momok untuk berkah atau kutukan. Pemahaman uang secara kuantitatif dan kualitatif lalu memunculkan kontradiksi-kontradiksi dilematis. Uang menjadi tukang sulap untuk manusia modern melakoni hidup sebagai fakta atau fiksi. Pembedaan rasionalitas dan irrasionalitas semakin tak mempan ketika uang menjebol definisi dan tafsir atas peradaban modern. Uang bisa menjelma dewa kapitalisme, spiritualisasi ekonomi, lokomotif politik, sakralitas prestise, mistik sosial, aktor seni populer, atau iblis kemiskinan.
Tafsir
Membaca dan menilai uang dalam garapan sastra tentu jadi tindakan reflektif untuk memahami resepsi manusia-manusia modern terhadap uang. Sastra memang pewartaan dalam bentuk dokumentasi fragmen-fragmen historis, sosiologis, etis, teologis, dan estetis. Sastra pun memiliki orientasi untuk memuat nubuat atas kondisi manusia dan peradaban modern dalam kuasa uang. Sastra memberi warta reflektif ketimbang analisis ekonomi atau sosiologi dengan suguhan data dan tafsir-tafsir ilmiah dan rasional.
Hugh Dalziel Duncan (1997) memberi paparan reflektif tentang uang dalam fiksi-fiksi modern. Uang adalah tema penting dalam arus modernitas dan hasrat manusia untuk melegitimasi eksistensi-esensi. Uang mengandung misteri dan kodrat hierarkis untuk membedakan derajat manusia dalam mengonsumsi seni atau materi-materi lain untuk klaim kemapanan atau prestise. Uang jadi kunci untuk menciptakan nikmat atau jatuh dalam sengsara.
Edith Wharton (1862-1937) dalam novel The House of Mirth (1905) memberikan deskripsi tentang relasi manusia modern dengan uang untuk eksplisitas eksistensi melalui tindakan konsumsi dan gaya hidup: ”Tuan Rosedale memiliki ketepatan khas rasanya dalam hal memuja nilai-nilai, dan untuk dilihat orang tatkala ia berjalan menuruni tangga di jam istirahat makan siang yang penuh sesak dengan ditemani oleh Nona Lily Bart sama rasanya dengan uang dalam kantong, sebagaimana kata-kata yang akan dipilih sendiri oleh Tuan Rosedale”. Uang adalah aura modernitas, tetapi mungkin jadi faktor untuk membuka aurat hedonisme dan kapitalisme.
Konklusi kritis diajukan Duncan ketika menilai novel-novel F Scott Fitzgerald dan Thomas Mann. Fitzgerald dalam novel The Great Gatsby menciptakan tokoh-tokoh yang terangsang secara seksual dan rohani oleh uang. Tokoh-tokoh dalam novel Buddenbrooks anggitan Thomas Mann justru luluh, membusuk, dan musnah oleh kuasa dan aura uang. Tokoh-tokoh itu adalah representasi dari lakon manusia-manusia modern di Amerika dan Jerman.
Fiksi-fiksi di Eropa memang kentara untuk mewartakan lakon uang dalam peradaban modern. Bagaimana lakon uang di negeri Indonesia? Novel-novel awal abad XX di Indonesia sudah merepresentasikan tema uang dalam kadar tertentu terkait dengan hasrat untuk hedonis, kawin paksa, gaya hidup modern oleh kaum pribumi, kemiskinan di desa dan kota, modal dalam pendidikan modern, atau progresivitas kebudayaan populer di kota. Penggarapan sastra dengan tema uang tentu bisa jadi dokumen untuk membaca resepsi dan perilaku orang Indonesia terhadap uang sebagai pamrih untuk hidup atau menjadi modern.
Eksplorasi terhadap tema uang justru masih jarang dilakukan oleh empu-empu sastra Indonesia. Kesanggupan untuk menggarap tema ini mungkin membuka wacana kompleks kesadaran atas fakta-fakta dalam garapan sastra. Uang tentu jadi perkara besar dalam biografi manusia-manusia Indonesia ketika dengan gairah atau gerah tumbuh dalam arus dan alur modernitas pada abad XX.
*) Peneliti Kabut Institut Solo dan Redaktur Jurnal Kandang Esai.
27/06/10
Perempuan Menjelaskan Perempuan
HERStory: Sejarah Perjalanan Payudara
Bandung Mawardi
http://suaramerdeka.com/
KARTINI adalah pemula dari kemauan dan kepentingan untuk menjelaskan perempuan melalui perspektif perempuan. Segepok surat Kartini telah menjadi suara perempuan dan tanda mata zaman bagi gerakan emansipasi perempuan di Indonesia.
Kartini menjelma inspirasi dari perubahan lakon perempuan dari zaman ke zaman. Naning Pranoto pun mengacu pada Kartini dalam ikhtiar menjelaskan perempuan oleh perempuan melalui tarikan sejarah sampai sampai realitas mutakhir.
Naning Pranoto menganggap Kartini adalah simbol dari gerakan penghapusan diskriminasi gender. Sejarah patriarkat dalam biografi diri Kartini telah menutupi terang dan mengurung perempuan dalam kegelapan. Pemikiran dan gerakan Kartini untuk melawan diskriminasi dengan model pendidikan merupakan bukti dari ikhtiar menuju terang dan membuka jalan bagi perempuan memiliki-mengembangkan diri.
Kartini dalam buku ini memang memberi inspirasi bersama sekian tokoh-tokoh perempuan kondang di dunia. Naning Parnoto dalam buku ini sengaja menampilkan sosok perempuan dengan penjelasan melalui paradigma perempuan. Model perempuan menjelaskan perempuan menjadi pilihan rasional untuk pemihakan tanpa harus membutakan diri untuk menganggap lelaki adalah musuh bebuyutan. Buku ini memihak perempuan dengan dalil lugas: “Musuh yang paling menindas bagi kaum perempuan adalah sistem yang sangat kejam tetapi tidak berkelamin.“
Mozaik Pemikiran
Buku ini hadir sebagai mozaik pemikiran dan kisah. Ramuan dan olah imajinasi menjadi pemberi nikmat dalam mengurusi pelbagai fakta tentang perempuan. 26 tulisan dalam buku ini memang terkesan beda tema tapi memiliki pengikat menjadikan perempuan sebagai subjek wacana. Suguhan tematik memang memikat perhatian pembaca karena relevan untuk memandang lakon perempuan dari perkara sepele sampai ke perkara kompleks.
Suguhan pertama adalah “Misteri di Balik Payudara“. Naning mengutip pemikiran Sigmund Freud dan ocehan Pablo Picasso untuk menelisik pandangan atas sejarah payudara melalui perbandingan perspektif lelaki dan perempuan. Freud menganggap payudara sama penting dengan penis bagi lelaki.
Payudara dan penis bersifat libidis: membangkitkan nafsu berahi secara instinktif atau sumber kenikmatan seksual. Picasso mengatakan: “Tanyalah pada lelaki apa yang diinginkannya?
Jawabannya singkat: sepasang payudara montok! Maka aku pun berkali-kali melukisnya dengan gairah.“
Dua pandangan itu dikembalikan Naning Pranoto pada tafsir historis-teologis mengenai makna asal payudara.
Patung Venus dalam peradaban Yunani merupakan simbol dari perempuan dengan payudara besar dan subur.
Payudara itu tidak sekadar sentral libido tapi mengandung makna sakral.
Kemontokan payudara adalah simbol kesuburan, kasih sayang, dan sumber kehidupan. Tafsir ini dihadirkan untuk memberi tanggapan atas perlakuan perempuan terhadap payudara.
Keengganan perempuan untuk menyusui bayi, operasi bedah plastikimplantasi payudara, dan praktik menjadikan payudara sebagai komoditas ekonomi merupakan masalah-masalah aktual dalam lakon perempuan mutakhir. Pemaknaan sekuler terhadap payudara telah ikut menentukan penghilangan sakralitas dan pemuliaan martabat perempuan.
Peran dan Makna
Lakon mutakhir juga membuat gerakan perempuan ada dalam perdebatan pelik. Perempuan menolak memiliki anak merupakan fenomena mengejutkan tapi telah terjadi di pelbagai negeri dengan pengajuan sekian argumentasi. Para tokoh feminis radikalliberal mengatakan bahwa keengganan untuk memiliki anak merupakan hak pilih perempuan dan harus dihormati.
Argumentasi ini ditopang oleh jalan perempuan dalam karier. Gerakan perempuan untuk membebaskan diri dari “penjara domestik“ dengan bekerja telah memicu pilihan kontroversial itu sejak 1970-an. Karier seperti pembebasan perempuan kendati mengandung konsekuensi dilematis. Naning Pranoto dalam urusan ini menampilkan jawaban tak tuntas melalui pengutipan pernyataan Betty Friedan dalam buku The Second Stage: “Mengombinasikan antara perkawinan, menjadi ibu, dan berkarier bukanlah hal mudah.“
Pelbagai pemikiran dan gerakan perempuan mutakhir memang gampang memicu perdebatan sengit. Naning Pranoto dengan elegan pun menampilkan tema lesbian, keperawanan, nikah siri, kekerasan dalam rumah tangga, makna tubuh, aborsi, narsisme perempuan, dan lain-lain untuk mencari terang dan penjelasan melalui perspektif perempuan. Pandangan miring atau kecaman kerap menimpa revolusi gerakan perempuan dalam tuduhantuduhan politis, etis, teologis, atau estetis. Konstruksi negatif itu diladeni dengan pembongkaran paradigma lama dan ikhtiar menggulirkan wacana produktif atas peran-nilai perempuan dalam spirit perubahan zaman.
Naning Pranoto mengutip penggalan surat Kartini (4 Oktober 1902): “Pelerjaan memajukan peradaban itu haruslah diserahkan kepada kaum perempuan –jika sudah demikian peradaban itu akan amat deras majunya.“ Optimisme atas peran perempuan dalam progresivitas peradaban menjadi acuan positif bagi gerakan perempuan untuk meruntuhkan pelbagai mitos tentang diskriminasi atau inferiorisasi terhadap kaum perempuan. Pelbagai gerakan feminis dengan aliran liberal, radikal, marxis dan sosialis, eksistensialis, multikultural, atau global mengarah pada penolakan mitos-mitos untuk merendahkan dan melemahkan peran perempuan. Perempuan justru adalah sosok melindungi dan menyelamatkan dalam riwayat peradaban manusia.
Gerakan menghadirkan perempuan sebagai subjek terus dilakukan kendati harus diramaikan dengan pertentangan pendapat. Ikhtiar membebaskan dan membuka jalan terang pada perempuan adalah agenda besar sepanjang abad dalam pelbagai ranah kehidupan: politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, seni, teknologi, dan kultural.
Margareth Mead mengungkapkan: “Membebaskan perempuan dari belenggu jiwa yang gelap sama dengan memberi penerangan kepada kaum lelaki.“ Misi pembebasan ini terasakan dalam buku ini dalam pelbagai serpihan kritik, argumentasi, kisah, dan usulan. Buku ini tidak sekadar untuk perempuan tetapi lelaki patut membaca agar ada pembelajaran bersama dan menghindari bias dikriminatif dalam memerkarakan diskursus perempuan.
Bandung Mawardi
http://suaramerdeka.com/
KARTINI adalah pemula dari kemauan dan kepentingan untuk menjelaskan perempuan melalui perspektif perempuan. Segepok surat Kartini telah menjadi suara perempuan dan tanda mata zaman bagi gerakan emansipasi perempuan di Indonesia.
Kartini menjelma inspirasi dari perubahan lakon perempuan dari zaman ke zaman. Naning Pranoto pun mengacu pada Kartini dalam ikhtiar menjelaskan perempuan oleh perempuan melalui tarikan sejarah sampai sampai realitas mutakhir.
Naning Pranoto menganggap Kartini adalah simbol dari gerakan penghapusan diskriminasi gender. Sejarah patriarkat dalam biografi diri Kartini telah menutupi terang dan mengurung perempuan dalam kegelapan. Pemikiran dan gerakan Kartini untuk melawan diskriminasi dengan model pendidikan merupakan bukti dari ikhtiar menuju terang dan membuka jalan bagi perempuan memiliki-mengembangkan diri.
Kartini dalam buku ini memang memberi inspirasi bersama sekian tokoh-tokoh perempuan kondang di dunia. Naning Parnoto dalam buku ini sengaja menampilkan sosok perempuan dengan penjelasan melalui paradigma perempuan. Model perempuan menjelaskan perempuan menjadi pilihan rasional untuk pemihakan tanpa harus membutakan diri untuk menganggap lelaki adalah musuh bebuyutan. Buku ini memihak perempuan dengan dalil lugas: “Musuh yang paling menindas bagi kaum perempuan adalah sistem yang sangat kejam tetapi tidak berkelamin.“
Mozaik Pemikiran
Buku ini hadir sebagai mozaik pemikiran dan kisah. Ramuan dan olah imajinasi menjadi pemberi nikmat dalam mengurusi pelbagai fakta tentang perempuan. 26 tulisan dalam buku ini memang terkesan beda tema tapi memiliki pengikat menjadikan perempuan sebagai subjek wacana. Suguhan tematik memang memikat perhatian pembaca karena relevan untuk memandang lakon perempuan dari perkara sepele sampai ke perkara kompleks.
Suguhan pertama adalah “Misteri di Balik Payudara“. Naning mengutip pemikiran Sigmund Freud dan ocehan Pablo Picasso untuk menelisik pandangan atas sejarah payudara melalui perbandingan perspektif lelaki dan perempuan. Freud menganggap payudara sama penting dengan penis bagi lelaki.
Payudara dan penis bersifat libidis: membangkitkan nafsu berahi secara instinktif atau sumber kenikmatan seksual. Picasso mengatakan: “Tanyalah pada lelaki apa yang diinginkannya?
Jawabannya singkat: sepasang payudara montok! Maka aku pun berkali-kali melukisnya dengan gairah.“
Dua pandangan itu dikembalikan Naning Pranoto pada tafsir historis-teologis mengenai makna asal payudara.
Patung Venus dalam peradaban Yunani merupakan simbol dari perempuan dengan payudara besar dan subur.
Payudara itu tidak sekadar sentral libido tapi mengandung makna sakral.
Kemontokan payudara adalah simbol kesuburan, kasih sayang, dan sumber kehidupan. Tafsir ini dihadirkan untuk memberi tanggapan atas perlakuan perempuan terhadap payudara.
Keengganan perempuan untuk menyusui bayi, operasi bedah plastikimplantasi payudara, dan praktik menjadikan payudara sebagai komoditas ekonomi merupakan masalah-masalah aktual dalam lakon perempuan mutakhir. Pemaknaan sekuler terhadap payudara telah ikut menentukan penghilangan sakralitas dan pemuliaan martabat perempuan.
Peran dan Makna
Lakon mutakhir juga membuat gerakan perempuan ada dalam perdebatan pelik. Perempuan menolak memiliki anak merupakan fenomena mengejutkan tapi telah terjadi di pelbagai negeri dengan pengajuan sekian argumentasi. Para tokoh feminis radikalliberal mengatakan bahwa keengganan untuk memiliki anak merupakan hak pilih perempuan dan harus dihormati.
Argumentasi ini ditopang oleh jalan perempuan dalam karier. Gerakan perempuan untuk membebaskan diri dari “penjara domestik“ dengan bekerja telah memicu pilihan kontroversial itu sejak 1970-an. Karier seperti pembebasan perempuan kendati mengandung konsekuensi dilematis. Naning Pranoto dalam urusan ini menampilkan jawaban tak tuntas melalui pengutipan pernyataan Betty Friedan dalam buku The Second Stage: “Mengombinasikan antara perkawinan, menjadi ibu, dan berkarier bukanlah hal mudah.“
Pelbagai pemikiran dan gerakan perempuan mutakhir memang gampang memicu perdebatan sengit. Naning Pranoto dengan elegan pun menampilkan tema lesbian, keperawanan, nikah siri, kekerasan dalam rumah tangga, makna tubuh, aborsi, narsisme perempuan, dan lain-lain untuk mencari terang dan penjelasan melalui perspektif perempuan. Pandangan miring atau kecaman kerap menimpa revolusi gerakan perempuan dalam tuduhantuduhan politis, etis, teologis, atau estetis. Konstruksi negatif itu diladeni dengan pembongkaran paradigma lama dan ikhtiar menggulirkan wacana produktif atas peran-nilai perempuan dalam spirit perubahan zaman.
Naning Pranoto mengutip penggalan surat Kartini (4 Oktober 1902): “Pelerjaan memajukan peradaban itu haruslah diserahkan kepada kaum perempuan –jika sudah demikian peradaban itu akan amat deras majunya.“ Optimisme atas peran perempuan dalam progresivitas peradaban menjadi acuan positif bagi gerakan perempuan untuk meruntuhkan pelbagai mitos tentang diskriminasi atau inferiorisasi terhadap kaum perempuan. Pelbagai gerakan feminis dengan aliran liberal, radikal, marxis dan sosialis, eksistensialis, multikultural, atau global mengarah pada penolakan mitos-mitos untuk merendahkan dan melemahkan peran perempuan. Perempuan justru adalah sosok melindungi dan menyelamatkan dalam riwayat peradaban manusia.
Gerakan menghadirkan perempuan sebagai subjek terus dilakukan kendati harus diramaikan dengan pertentangan pendapat. Ikhtiar membebaskan dan membuka jalan terang pada perempuan adalah agenda besar sepanjang abad dalam pelbagai ranah kehidupan: politik, ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, seni, teknologi, dan kultural.
Margareth Mead mengungkapkan: “Membebaskan perempuan dari belenggu jiwa yang gelap sama dengan memberi penerangan kepada kaum lelaki.“ Misi pembebasan ini terasakan dalam buku ini dalam pelbagai serpihan kritik, argumentasi, kisah, dan usulan. Buku ini tidak sekadar untuk perempuan tetapi lelaki patut membaca agar ada pembelajaran bersama dan menghindari bias dikriminatif dalam memerkarakan diskursus perempuan.
01/05/10
Sastra dan Konfrontasi
Bandung Mawardi*
http://www.surabayapost.co.id/
Gambaran seni dan peradaban di Barat memang pelik dan ikut menentukan kondisi kesusastraan dan peradaban di negeri ini. Babak menentukan terjadi pada tahun 1950-an dengan pemunculan risalah kritis dari Soedjatmoko dalam pengantar untuk majalah Konfrontasi (No. 1 Tahun I, Juli-Agustus 1954). Soedjatmoko menulis risalah “Mengapa Konfrontasi” untuk mewartakan tentang krisis dalam kesusastraan Indonesia modern. Krisis kesusastraan adalah tanda eksplisit atas krisis kebudayaan, krisis politik, dan krisis kepemimpinan pada tahun 1950-an. Soedjatmoko kentara memahami sastra sebagai fondasi signifikan dalam mengonstruksi Indonesia. Sastra pada masa itu adalah identitas dan motor untuk mengatakan Indonesia dalam pertaruhan intelektual, politik, dan kebudayaan.
Soedjatmoko dengan lugas mengungkapkan bahwa krisis politik di Indonesia (1950-an) merupakan gambaran dari realitas kebudayaan dan kesusastraan. Relasi antara sastra, politik, dan kebudayaan pada masa itu tidak sekadar pada ranah wacana tapi pada pergulatan fakta dan makna. Situasi itu mengalami reduksi pada kisah politik hari ini. Sastra terpencil dan terabaikan dalam pergulatan politik. Situasi ini menjadi keganjilan dalam proses transformasi kebudayaan dan politik di Indonesia. Politik menjelma lokomotif besar dan beringas. Konfrontasi adalah istilah dan tindakan untuk penyadaran dan perubahan.
Risalah Soedjatmoko memang fenomenal dan terbuktikan dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern. Sastra harus mempertanyakan diri dan meletakkan diri dalam posisi apa dalam proyek menjadi Indonesia. Sastra mungkin hanya memiliki peran kecil tapi tetap menentukan. Pertanyaan dan gugatan terus diarahkan pada sastra kendati kurang memiliki jalur strategis pada mekanisme pengambilan kebijakan oleh negara dan pemunculan sebagai opini publik. Sastra ikut menyelesaikan krisis atau suntuk dengan krisis sendiri dan mengimbuhi krisis di luar ranah kesusastraan?
Pertanyaan itu mungkin klise ketika merunut jejak-jejak sastra Indonesia modern sejak masa Balai Pustaka sampai hari ini. Publik mungkin masih percaya bahwa sastra memberi kesadaran untuk memberi tanggapan dari krisis nasionalisme sampai krisis identitas kultural. Orang-orang bakal fasih menyebutkan puisi-puisi Muhamad Yamin, novel Sitti Nurbaya, novel-novel Sutan Takdir Alisjahbana, novel-novel Hamka, puisi-puisi Chairil Anwar, esai-esai Asrul Sani, drama-drama Usmar Ismail, puisi-puisi Rendra, novel Atheis, dan lain-lain. Daftar ini ikut menentukan wajah dan ruh Indonesia dalam periode tahun 20-an sampai 1950-an.
Kehadiran sastra dalam konstruksi Indonesia itu memeng memberi andil untuk ikut menyelesaikan krisis dalam batas-batas tertentu. Sastra membuat orang mafhum dengan kondisi diri mulai dari abstraksi sampai pilihan tindakan. Akumulasi dari pengaruh sastra untuk mengatasi krisis ditentukan oleh iklim politik dan kebudayaan sehingga terkesan sekadar sebagai instrumen penyadaran atau perubahan. Soedjatmoko mengingatkan bahwa krisis sastra pada tahun 1950-an justru membuktikan bahwa sastra memiliki peran penting dalam sebaran nasionalisme dan identitas kultural di Indonesia. Soedjatmoko pun mengeluarkan konklusi: “Masalah pokok untuk 10 tahun pertama bagi Indonesia adalah masalah kebudayaan.” Konklusi ini sudah terlupakan sebab sampai hari ini agenda kebudayaan tak pernah masuk dalam desain besar kekuasaan mulai dari rezim Orde Lama sampai rezim Susilo Bambang Yudhoyono. Begitu.
*) Peneliti Kabut Institut Solo dan Redaktur Jurnal Kandang Esai.
http://www.surabayapost.co.id/
Gambaran seni dan peradaban di Barat memang pelik dan ikut menentukan kondisi kesusastraan dan peradaban di negeri ini. Babak menentukan terjadi pada tahun 1950-an dengan pemunculan risalah kritis dari Soedjatmoko dalam pengantar untuk majalah Konfrontasi (No. 1 Tahun I, Juli-Agustus 1954). Soedjatmoko menulis risalah “Mengapa Konfrontasi” untuk mewartakan tentang krisis dalam kesusastraan Indonesia modern. Krisis kesusastraan adalah tanda eksplisit atas krisis kebudayaan, krisis politik, dan krisis kepemimpinan pada tahun 1950-an. Soedjatmoko kentara memahami sastra sebagai fondasi signifikan dalam mengonstruksi Indonesia. Sastra pada masa itu adalah identitas dan motor untuk mengatakan Indonesia dalam pertaruhan intelektual, politik, dan kebudayaan.
Soedjatmoko dengan lugas mengungkapkan bahwa krisis politik di Indonesia (1950-an) merupakan gambaran dari realitas kebudayaan dan kesusastraan. Relasi antara sastra, politik, dan kebudayaan pada masa itu tidak sekadar pada ranah wacana tapi pada pergulatan fakta dan makna. Situasi itu mengalami reduksi pada kisah politik hari ini. Sastra terpencil dan terabaikan dalam pergulatan politik. Situasi ini menjadi keganjilan dalam proses transformasi kebudayaan dan politik di Indonesia. Politik menjelma lokomotif besar dan beringas. Konfrontasi adalah istilah dan tindakan untuk penyadaran dan perubahan.
Risalah Soedjatmoko memang fenomenal dan terbuktikan dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern. Sastra harus mempertanyakan diri dan meletakkan diri dalam posisi apa dalam proyek menjadi Indonesia. Sastra mungkin hanya memiliki peran kecil tapi tetap menentukan. Pertanyaan dan gugatan terus diarahkan pada sastra kendati kurang memiliki jalur strategis pada mekanisme pengambilan kebijakan oleh negara dan pemunculan sebagai opini publik. Sastra ikut menyelesaikan krisis atau suntuk dengan krisis sendiri dan mengimbuhi krisis di luar ranah kesusastraan?
Pertanyaan itu mungkin klise ketika merunut jejak-jejak sastra Indonesia modern sejak masa Balai Pustaka sampai hari ini. Publik mungkin masih percaya bahwa sastra memberi kesadaran untuk memberi tanggapan dari krisis nasionalisme sampai krisis identitas kultural. Orang-orang bakal fasih menyebutkan puisi-puisi Muhamad Yamin, novel Sitti Nurbaya, novel-novel Sutan Takdir Alisjahbana, novel-novel Hamka, puisi-puisi Chairil Anwar, esai-esai Asrul Sani, drama-drama Usmar Ismail, puisi-puisi Rendra, novel Atheis, dan lain-lain. Daftar ini ikut menentukan wajah dan ruh Indonesia dalam periode tahun 20-an sampai 1950-an.
Kehadiran sastra dalam konstruksi Indonesia itu memeng memberi andil untuk ikut menyelesaikan krisis dalam batas-batas tertentu. Sastra membuat orang mafhum dengan kondisi diri mulai dari abstraksi sampai pilihan tindakan. Akumulasi dari pengaruh sastra untuk mengatasi krisis ditentukan oleh iklim politik dan kebudayaan sehingga terkesan sekadar sebagai instrumen penyadaran atau perubahan. Soedjatmoko mengingatkan bahwa krisis sastra pada tahun 1950-an justru membuktikan bahwa sastra memiliki peran penting dalam sebaran nasionalisme dan identitas kultural di Indonesia. Soedjatmoko pun mengeluarkan konklusi: “Masalah pokok untuk 10 tahun pertama bagi Indonesia adalah masalah kebudayaan.” Konklusi ini sudah terlupakan sebab sampai hari ini agenda kebudayaan tak pernah masuk dalam desain besar kekuasaan mulai dari rezim Orde Lama sampai rezim Susilo Bambang Yudhoyono. Begitu.
*) Peneliti Kabut Institut Solo dan Redaktur Jurnal Kandang Esai.
14/04/10
Prosa Rumah: Referensi dan Representasi
Bandung Mawardi
http://www.lampungpost.com/
Rabindranath Tagore dalam novel The Home and The World mengisahkan politik, cinta, nasionalisme, ideologi kelas, dan kolonialisme. Tagore dalam novel itu mengonstruksi rumah dengan pandangan liris dan menegangkan. Rumah menjadi metafor untuk manusia dan negeri India yang merumuskan diri pada awal abad XX dalam kuasa kolonialisme Inggris dan modernitas.
Rumah berbeda dengan dunia (luar rumah). Rumah identik dengan runag (kurungan) yang tidak memberi kebebasan. Dunia identik dengan kebebasan dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dicari dan ditemukan. Tokoh Bimala berada dalam tegangan untuk lari dari rumah dan hadir di dunia atau menghidupi rumah dengan kesetiaan dan pembebasan diri yang menganut konvensi. Bimala sebagai perempuan sadar tradisi dan sadar pandangan politik-intelektual yang membebaskan dengan risiko besar. Rumah dan dunia adalah tragedi.
Rumah dan dunia dalam novel Tagore adalah kisah kekacauan dan ketertiban, politik radikal dan politik moderat, modernitas dan tradisionalis, kesetiaan dan pengkhianatan, kejujuran dan kebohongan, cinta dan kebencian, kelemahan dan kekuatan. Novel The Home and The World adalah representasi kisah kolonialisme dan modernitas. Tagore melahirkan kisah rumah sebagai seorang India tulen.
Kisah rumah lain dikisahkan V.S. Naipul. Pengarang ini lahir di Trinidad dari keluarga imigran India. Rumah dalam pemahaman Naipul adalah sesuatu yang dipikirkan dalam pemikiran seorang bocah. Rumah adalah sesuatu yang naif, fantasi, ketakutan, kebebasan, siksa, dan kemungkinan-kemungkinan tak terbatas. Rumah menjadi ruang untuk merumuskan identitas diri dan kultural.
Rumah adalah perkara gairah dan pertanyaan. Naipul mesti membedakan “rumah hidup” atau “rumah mati” dari sekian rumah yang pernah dihuni di sekian negeri. Naipul lalu mengisahkan rumah dalam teks-teks yang merepresentasikan identitas, sejarah, politik, geografi, dan peradaban. Teks penting dari Naipul mengenai rumah yakni novel A House for Mr Biswas. Naipul dalam novel itu mengisahkan rumah sebagai metafor untuk manusia yang merumuskan identitas.
Rumah adalah metafor yang kompleks untuk kisah manusia dan peradaban. Tagore dan Naipul sanggup mengisahkan rumah untuk pembaca di pelbagai negeri dalam realitas kultural yang berbeda. Bagaimana pengarang Indonesia mengisahkan rumah?
Asrul Sani lumayan intens dan representatif mengisahkan rumah dalam buku kumpulan cerpen Dari Suatu Masa, Dari Suatu Tempat (1971). Cerpen Beri Aku Rumah dengan satir mengisahkan seorang tokoh yang mencari rumah. Rumah adalah hidup dan ruang untuk biografi manusia yang lelah dalam perjalanan intelektual dan penggelandangan hidup. Tokoh dalam cerpen Asrul Sani melakukan migrasi epistemologis dan geografis tanpa ada kepastian bahwa migrasi berhenti karena ada rumah yang ditemukan. Tokoh itu merasa rumah adalah hak manusia. Pertanyaan yang muncul adalah hak itu belum tentu ada pemenuhan dalam bentuk pemberian atau pencarian.
Metafor rumah yang liris dikisahkan Asrul Sani dalam cerpen Perumahan bagi Fadjria Novari. Rumah adalah kisah manusia dan hidup yang mesti dijalani dengan nostalgia dan utopia. Rumah adalah kepergian dan kepulangan; awal dan akhir. Inilah alinea puitis dari Asrul Sani: “Orang tidak dapat terus-menerus hidup di bawah kolong langit. Kau harus cari tempat pulang dan tempat di mana pemberian dapat diberikan dan segala dapat dimulai.”
Trisno Sumardjo mengisahkan rumah dalam novel kecil berjudul Rumah Raya (1973). Rumah adalah kisah keluarga, harga diri, status sosial, pertikaian, dosa, dendam, kematian, benci, dan modernitas. Rumah Raden Mas Sumonegoro didirikan dengan kelicikan dan keserakahan untuk merebut dan menguasai tanah yang bukan hak.
Rumah besar dengan arsitektur dan peniruan perilaku hidup Eropa. Rumah didirikan untuk menghadirkan kuasa, status sosial (priyayi), dan kemodernan. Rumah itu jadi cerita orang-orang kota dengan segala yang mencengangkan dan menegangkan. Konflik terus lahir dalam rumah dan berhembus ke luar untuk menjadi gosip dan berita umum. Rumah itu perlahan menjadi kisah sedih dan tragis.
Rumah adalah metafora untuk biografi keluarga yang pecah dan kisah modernitas yang tidak terealisasikan dengan sempurna. Rumah tak mungkin jadi acuan tunggal dari harga diri dan modernitas. Kepercayaan atas peran rumah niscaya terbatasi oleh etika, kondisi zaman, dan progresivitas kultural. Rumah adalah kisah kehidupan dan kematian manusia dengan pelbagai pamrih, impian, dan tragedi.
Kisah rumah dituliskan Y.B. Mangunwijaya dalam cerpen Rumah Bambu yang ditulis pada tahun 1980. Cerpen itu identik dengan laku hidup Mangunwijaya dalam melibatkan diri dengan kehidupan rakyat kecil. Tokoh Parji adalah seroang miskin yang hidup dengan Pinuk (isteri) dan seorang bayi dalam rumah bambu. Rumah itu didirikan dan dihidupi dengan keterbatasan uang dan bantuan orang lain. Parji menginginkan rumah itu jadi ruang hidup yang harmonis. Parji menyebut rumah itu sebagai “sarang yang biar sederhana, akan tetapi bagus dan terhormat”.
Rumah bambu itu tak luput dari kisah pertikaian. Pinuk ingin rumah yang tidak sekadar itu, dan Parji tak mungkin bisa lekas menuruti. Pinuk memiliki argumen bahwa rumah itu tak baik untuk pertumbuhan bayi karena lantai yang bukan ubin. Argumen itu dibantah Parji, tapi tidak bisa berterima. Parji dan Pinuk terlanjur membuat pamrih dan pemaknaan berbeda untuk hidup bersama dalam rumah bambu. Rumah dalam cerpen Mangunwijaya adalah kisah kaum miskin berhadapan dengan sesuatu atau impian yang susah direalisasikan. Kebutuhan dan keinginan menjadi suatu keputusan dengan kompromi dan pilihan sadar. Rumah adalah penerimaan menjalani lakon hidup dengan keterbatasan-keterbatasan dan mimpi yang bisa diciptakan untuk penebus realitas atau mungkin menjadi perubahan mengejutkan.
Kisah-kisah rumah dalam teks sastra memberi keterbukaan untuk interpretasi dalam konteks sejarah, antropologi, geografi, arsitektur, sosiologi, politik, dan studi kebudayaan. Rumah menjadi referensi yang representatif untuk kisah manusia dan peradaban. Begitu.
*) Kritikus sastra; peneliti Kabut Institut; redaktur buletin sastra Pawon (Solo)
http://www.lampungpost.com/
Rabindranath Tagore dalam novel The Home and The World mengisahkan politik, cinta, nasionalisme, ideologi kelas, dan kolonialisme. Tagore dalam novel itu mengonstruksi rumah dengan pandangan liris dan menegangkan. Rumah menjadi metafor untuk manusia dan negeri India yang merumuskan diri pada awal abad XX dalam kuasa kolonialisme Inggris dan modernitas.
Rumah berbeda dengan dunia (luar rumah). Rumah identik dengan runag (kurungan) yang tidak memberi kebebasan. Dunia identik dengan kebebasan dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dicari dan ditemukan. Tokoh Bimala berada dalam tegangan untuk lari dari rumah dan hadir di dunia atau menghidupi rumah dengan kesetiaan dan pembebasan diri yang menganut konvensi. Bimala sebagai perempuan sadar tradisi dan sadar pandangan politik-intelektual yang membebaskan dengan risiko besar. Rumah dan dunia adalah tragedi.
Rumah dan dunia dalam novel Tagore adalah kisah kekacauan dan ketertiban, politik radikal dan politik moderat, modernitas dan tradisionalis, kesetiaan dan pengkhianatan, kejujuran dan kebohongan, cinta dan kebencian, kelemahan dan kekuatan. Novel The Home and The World adalah representasi kisah kolonialisme dan modernitas. Tagore melahirkan kisah rumah sebagai seorang India tulen.
Kisah rumah lain dikisahkan V.S. Naipul. Pengarang ini lahir di Trinidad dari keluarga imigran India. Rumah dalam pemahaman Naipul adalah sesuatu yang dipikirkan dalam pemikiran seorang bocah. Rumah adalah sesuatu yang naif, fantasi, ketakutan, kebebasan, siksa, dan kemungkinan-kemungkinan tak terbatas. Rumah menjadi ruang untuk merumuskan identitas diri dan kultural.
Rumah adalah perkara gairah dan pertanyaan. Naipul mesti membedakan “rumah hidup” atau “rumah mati” dari sekian rumah yang pernah dihuni di sekian negeri. Naipul lalu mengisahkan rumah dalam teks-teks yang merepresentasikan identitas, sejarah, politik, geografi, dan peradaban. Teks penting dari Naipul mengenai rumah yakni novel A House for Mr Biswas. Naipul dalam novel itu mengisahkan rumah sebagai metafor untuk manusia yang merumuskan identitas.
Rumah adalah metafor yang kompleks untuk kisah manusia dan peradaban. Tagore dan Naipul sanggup mengisahkan rumah untuk pembaca di pelbagai negeri dalam realitas kultural yang berbeda. Bagaimana pengarang Indonesia mengisahkan rumah?
Asrul Sani lumayan intens dan representatif mengisahkan rumah dalam buku kumpulan cerpen Dari Suatu Masa, Dari Suatu Tempat (1971). Cerpen Beri Aku Rumah dengan satir mengisahkan seorang tokoh yang mencari rumah. Rumah adalah hidup dan ruang untuk biografi manusia yang lelah dalam perjalanan intelektual dan penggelandangan hidup. Tokoh dalam cerpen Asrul Sani melakukan migrasi epistemologis dan geografis tanpa ada kepastian bahwa migrasi berhenti karena ada rumah yang ditemukan. Tokoh itu merasa rumah adalah hak manusia. Pertanyaan yang muncul adalah hak itu belum tentu ada pemenuhan dalam bentuk pemberian atau pencarian.
Metafor rumah yang liris dikisahkan Asrul Sani dalam cerpen Perumahan bagi Fadjria Novari. Rumah adalah kisah manusia dan hidup yang mesti dijalani dengan nostalgia dan utopia. Rumah adalah kepergian dan kepulangan; awal dan akhir. Inilah alinea puitis dari Asrul Sani: “Orang tidak dapat terus-menerus hidup di bawah kolong langit. Kau harus cari tempat pulang dan tempat di mana pemberian dapat diberikan dan segala dapat dimulai.”
Trisno Sumardjo mengisahkan rumah dalam novel kecil berjudul Rumah Raya (1973). Rumah adalah kisah keluarga, harga diri, status sosial, pertikaian, dosa, dendam, kematian, benci, dan modernitas. Rumah Raden Mas Sumonegoro didirikan dengan kelicikan dan keserakahan untuk merebut dan menguasai tanah yang bukan hak.
Rumah besar dengan arsitektur dan peniruan perilaku hidup Eropa. Rumah didirikan untuk menghadirkan kuasa, status sosial (priyayi), dan kemodernan. Rumah itu jadi cerita orang-orang kota dengan segala yang mencengangkan dan menegangkan. Konflik terus lahir dalam rumah dan berhembus ke luar untuk menjadi gosip dan berita umum. Rumah itu perlahan menjadi kisah sedih dan tragis.
Rumah adalah metafora untuk biografi keluarga yang pecah dan kisah modernitas yang tidak terealisasikan dengan sempurna. Rumah tak mungkin jadi acuan tunggal dari harga diri dan modernitas. Kepercayaan atas peran rumah niscaya terbatasi oleh etika, kondisi zaman, dan progresivitas kultural. Rumah adalah kisah kehidupan dan kematian manusia dengan pelbagai pamrih, impian, dan tragedi.
Kisah rumah dituliskan Y.B. Mangunwijaya dalam cerpen Rumah Bambu yang ditulis pada tahun 1980. Cerpen itu identik dengan laku hidup Mangunwijaya dalam melibatkan diri dengan kehidupan rakyat kecil. Tokoh Parji adalah seroang miskin yang hidup dengan Pinuk (isteri) dan seorang bayi dalam rumah bambu. Rumah itu didirikan dan dihidupi dengan keterbatasan uang dan bantuan orang lain. Parji menginginkan rumah itu jadi ruang hidup yang harmonis. Parji menyebut rumah itu sebagai “sarang yang biar sederhana, akan tetapi bagus dan terhormat”.
Rumah bambu itu tak luput dari kisah pertikaian. Pinuk ingin rumah yang tidak sekadar itu, dan Parji tak mungkin bisa lekas menuruti. Pinuk memiliki argumen bahwa rumah itu tak baik untuk pertumbuhan bayi karena lantai yang bukan ubin. Argumen itu dibantah Parji, tapi tidak bisa berterima. Parji dan Pinuk terlanjur membuat pamrih dan pemaknaan berbeda untuk hidup bersama dalam rumah bambu. Rumah dalam cerpen Mangunwijaya adalah kisah kaum miskin berhadapan dengan sesuatu atau impian yang susah direalisasikan. Kebutuhan dan keinginan menjadi suatu keputusan dengan kompromi dan pilihan sadar. Rumah adalah penerimaan menjalani lakon hidup dengan keterbatasan-keterbatasan dan mimpi yang bisa diciptakan untuk penebus realitas atau mungkin menjadi perubahan mengejutkan.
Kisah-kisah rumah dalam teks sastra memberi keterbukaan untuk interpretasi dalam konteks sejarah, antropologi, geografi, arsitektur, sosiologi, politik, dan studi kebudayaan. Rumah menjadi referensi yang representatif untuk kisah manusia dan peradaban. Begitu.
*) Kritikus sastra; peneliti Kabut Institut; redaktur buletin sastra Pawon (Solo)
05/04/09
Doa dan Puisi
Bandung Mawardi
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/
PUISI dan doa adalah urusan estetika dan religiositas. Puisi dan doa lahir dengan bahasa. Kata-kata memiliki peran dan kekuatan yang dikonstruksi untuk representasi atau realisasi. Puisi adalah konstruksi kata yang memiliki konvensi-konvensi estetika untuk mencapai sublimasi. Doa adalah konstruksi kata dengan konvensi-konvensi religius untuk mengucapkan dan mengungkapkan seruan, keluhan, pengharapan, dan kemauan. Doa dan puisi terus lahir dengan rahasia kata dan rahasia makna. Annemarie Schimmel (1996) menjelaskan bahwa doa adalah inti agama (lex orandi, lex credendi). Doa adalah suatu pengorbanan kata.
Tradisi sufistik memiliki catatan panjang kelahiran dan pewarisan doa-puisi yang mempertemukan dan meleburkan estetika-religius. Kaum sufi melantunkan kata-kata yang merepresentasikan kehidupan rohani. Kata-kata itu adalah doa-puisi yang mengantarkan sufi pada komunikasi religius dengan Tuhan dan mengabarkan pengetahuan pada manusia. Tradisi sufi mewariskan puisi-puisi Jalaluddin Rumi, Ibnu Arabi, Ibnu `Atha`illah, Fakhruddin Iraqi, Rabi`ah, Fariduddin Attar, Hafidz, dan lain-lain.
Doa-puisi Jalaluddin Rumi adalah salah satu puncak manifestasi estetika religius. Schimmel membaca dan menafsirkan Rumi untuk menemukan rumusan doa dalam tradisi sufi yang memiliki keunikan dibandingkan dengan pemahaman mayoritas. Rummi diakui sebagai seorang pendoa yang fasih melantunkan puisi-puisi dengan arahan pencapaian rahasia kata dan makna untuk sampai pada pengetahuan Tuhan. Rumi mengucapkan, “Aku telah begitu banyak berdoa sehingga aku berubah menjadi doa. Setiap orang yang melihatku meminta doa dariku.” Rumi melahirkan sekian puisi-doa yang mengantarkan kaum sufi dalam “jalan sufi”.
Doa ada dengan basis dan orientasi ibadah. Doa adalah tindakan untuk menghadirkan hubungan manusia dengan Tuhan. Hazrat Inayat Khan (2000) menjelaskan, doa bisa dimengerti dalam tiga jenis pemikiran: (1) Doa adalah rasa terima kasih kepada Tuhan; (2) Doa adalah pemujaan dari keberadaan Tuhan melalui keindahan alam; (3) Doa untuk nama dan kebenaran Tuhan.
Rumi dalam Masnawi mengabarkan bahwa doa adalah manifestasi ibadah hamba kepada Tuhan. Doa merupakan ajaran-ajaran hidup yang terkandung dalam Alquran dan Hadis. Doa puisi kaum sufi adalah pengetahuan yang berasal dari Tuhan dan diajarkan Nabi. Rumi mengingatkan, “Dengar, salah satu hadis yang diriwayatkan Nabi: Tiada doa yang sempurna tanpa kesiapan hati.” Doa adalah persoalan iman, cinta, dan rindu kepada Tuhan yang dimanifestasikan dalam bahasa.
Doa puisi yang dilantunkan Rabi`ah menjadi babak penting dalam tradisi sufi yang memuja cinta dalam kehendak dekat (intim) dan bertemu Tuhan. Rabi`ah kerap dikisahkan mengucapkan doa pada malam hari. Rabi’ah berada di atap rumahnya dengan mengenakan baju tidur. Inilah doa puisi indah Rabi’ah yang dikutip Margareth Smith: “Ya Allah, Ilahi Rabbi, tampak di atas sana bintang-bintang gemerlap cahayanya. Tiap pasang mata telah terlelap tidurnya. Raja-raja telah menutup rapat pintu gerbang-gerbangnya. Tiap kekasih sedang asyik dengan yang dicintanya. Sedang aku sendiri berdua bersama-Mu.” Doa puisi Rabi`ah mengandung arti percakapan cinta dengan Tuhan. Doa itu representasi dan realisasi cinta.
Doa puisi panjang dilantunkan Ibnu `Atha`illah dalam kitab Al-Hikam. Ibnu `Atha`illah melakukan munajat dalam doa-puisi yang kontemplatif. Kitab Al-Hikam bukan sekadar risalah tasawuf, melainkan manifestasi teks estetika religius. Ibnu “Atha`illah melantunkan doa-puisi: “Tuhanku, kapan saja dosa-dosaku membungkamku, maka kemurahan-Mu membuatku berbicara, dan kapan saja sifat-sifatku membuatku putus asa, maka karunia-Mu memberiku setitik harapan.” Ibnu `Atha`illah hidup dalam tradisi doa dengan perspektif makrifat. Pada masa itu doa adalah perkara penting yang dipelajari dan diamalkan oleh kaum sufi dengan acuan ayat-ayat Alquran. Ibnu ’Atha`illah mengekalkan amalan doa itu dalam bab akhir kitab Al-Hikam.
Doa-puisi hadir dalam kondisi manusia yang rindu dan menginginkan suatu pembahasan dan komunikasi. Kata-kata ada dalam konstruksi yang ingin menampung dan memungkinkan makna sebagai nilai yang sakral dan estetis. Doa puisi adalah realisasi yang ingin lepas dari kekangan (tirani) bahasa konvensional tanpa harus melakukan reduksi terhadap laku ajaran agama. Bahasa dalam penguasaan individual menjadi suatu ekspresi yang membuka kemungkinan-kemungkinan pesan dan makna. Doa puisi kaum sufi menjadi warisan yang dilantunkan dan dipahami dalam konteks estetika religius. Kitab dan risalah yang mengekalkan ekspresi sufi menemukan pewaris yang menerima sebagai teks untuk mengungkapkan diri dalam interpretasi dan pemahaman yang beragam.
Doa-doa dalam kitab suci menjadi basis religius yang menemukan tafsiran-tafsiran berbeda oleh kaum sufi. Doa dalam bahasa menemukan ekspresi dalam kompetensi dan kesadaran estetika religius. Kehadiran doa-puisi dari kaum puisi tidak menempati posisi yang menandingi doa-doa dalam kitab suci.
Penjelasan dan tafsir keberadaan doa didedahkan penyair-filosof Mohammad Iqbal. Doa menjadi prolog dalam puisi panjang Javid Nama. Iqbal mengisahkan manusia dalam pemahaman religius dan visi-visi yang imajinatif-puitis. Doa adalah pembebasan dan ikhtiar mencapai pengetahuan menuju Tuhan. Doa puisi Iqbal menjadi manifestasi yang memberi kesadaran religiositas.
Iqbal menulis, “Dalam kepedihan kuarungi kehidupan. Kini aku berdoa agar terbebas dari kegamangan.” Doa adalah realisasi yang positif dan konstruktif untuk laku hidup manusia yang dihadapkan pada realitas-realitas dunia yang hendak mengenali dan intim dengan Tuhan. Doa adalah ekspresi estetika religius yang mengantarkan manusia dalam pencerahan. Begitu.***
*) Kritikus sastra, peneliti Kabut Institut.
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/
PUISI dan doa adalah urusan estetika dan religiositas. Puisi dan doa lahir dengan bahasa. Kata-kata memiliki peran dan kekuatan yang dikonstruksi untuk representasi atau realisasi. Puisi adalah konstruksi kata yang memiliki konvensi-konvensi estetika untuk mencapai sublimasi. Doa adalah konstruksi kata dengan konvensi-konvensi religius untuk mengucapkan dan mengungkapkan seruan, keluhan, pengharapan, dan kemauan. Doa dan puisi terus lahir dengan rahasia kata dan rahasia makna. Annemarie Schimmel (1996) menjelaskan bahwa doa adalah inti agama (lex orandi, lex credendi). Doa adalah suatu pengorbanan kata.
Tradisi sufistik memiliki catatan panjang kelahiran dan pewarisan doa-puisi yang mempertemukan dan meleburkan estetika-religius. Kaum sufi melantunkan kata-kata yang merepresentasikan kehidupan rohani. Kata-kata itu adalah doa-puisi yang mengantarkan sufi pada komunikasi religius dengan Tuhan dan mengabarkan pengetahuan pada manusia. Tradisi sufi mewariskan puisi-puisi Jalaluddin Rumi, Ibnu Arabi, Ibnu `Atha`illah, Fakhruddin Iraqi, Rabi`ah, Fariduddin Attar, Hafidz, dan lain-lain.
Doa-puisi Jalaluddin Rumi adalah salah satu puncak manifestasi estetika religius. Schimmel membaca dan menafsirkan Rumi untuk menemukan rumusan doa dalam tradisi sufi yang memiliki keunikan dibandingkan dengan pemahaman mayoritas. Rummi diakui sebagai seorang pendoa yang fasih melantunkan puisi-puisi dengan arahan pencapaian rahasia kata dan makna untuk sampai pada pengetahuan Tuhan. Rumi mengucapkan, “Aku telah begitu banyak berdoa sehingga aku berubah menjadi doa. Setiap orang yang melihatku meminta doa dariku.” Rumi melahirkan sekian puisi-doa yang mengantarkan kaum sufi dalam “jalan sufi”.
Doa ada dengan basis dan orientasi ibadah. Doa adalah tindakan untuk menghadirkan hubungan manusia dengan Tuhan. Hazrat Inayat Khan (2000) menjelaskan, doa bisa dimengerti dalam tiga jenis pemikiran: (1) Doa adalah rasa terima kasih kepada Tuhan; (2) Doa adalah pemujaan dari keberadaan Tuhan melalui keindahan alam; (3) Doa untuk nama dan kebenaran Tuhan.
Rumi dalam Masnawi mengabarkan bahwa doa adalah manifestasi ibadah hamba kepada Tuhan. Doa merupakan ajaran-ajaran hidup yang terkandung dalam Alquran dan Hadis. Doa puisi kaum sufi adalah pengetahuan yang berasal dari Tuhan dan diajarkan Nabi. Rumi mengingatkan, “Dengar, salah satu hadis yang diriwayatkan Nabi: Tiada doa yang sempurna tanpa kesiapan hati.” Doa adalah persoalan iman, cinta, dan rindu kepada Tuhan yang dimanifestasikan dalam bahasa.
Doa puisi yang dilantunkan Rabi`ah menjadi babak penting dalam tradisi sufi yang memuja cinta dalam kehendak dekat (intim) dan bertemu Tuhan. Rabi`ah kerap dikisahkan mengucapkan doa pada malam hari. Rabi’ah berada di atap rumahnya dengan mengenakan baju tidur. Inilah doa puisi indah Rabi’ah yang dikutip Margareth Smith: “Ya Allah, Ilahi Rabbi, tampak di atas sana bintang-bintang gemerlap cahayanya. Tiap pasang mata telah terlelap tidurnya. Raja-raja telah menutup rapat pintu gerbang-gerbangnya. Tiap kekasih sedang asyik dengan yang dicintanya. Sedang aku sendiri berdua bersama-Mu.” Doa puisi Rabi`ah mengandung arti percakapan cinta dengan Tuhan. Doa itu representasi dan realisasi cinta.
Doa puisi panjang dilantunkan Ibnu `Atha`illah dalam kitab Al-Hikam. Ibnu `Atha`illah melakukan munajat dalam doa-puisi yang kontemplatif. Kitab Al-Hikam bukan sekadar risalah tasawuf, melainkan manifestasi teks estetika religius. Ibnu “Atha`illah melantunkan doa-puisi: “Tuhanku, kapan saja dosa-dosaku membungkamku, maka kemurahan-Mu membuatku berbicara, dan kapan saja sifat-sifatku membuatku putus asa, maka karunia-Mu memberiku setitik harapan.” Ibnu `Atha`illah hidup dalam tradisi doa dengan perspektif makrifat. Pada masa itu doa adalah perkara penting yang dipelajari dan diamalkan oleh kaum sufi dengan acuan ayat-ayat Alquran. Ibnu ’Atha`illah mengekalkan amalan doa itu dalam bab akhir kitab Al-Hikam.
Doa-puisi hadir dalam kondisi manusia yang rindu dan menginginkan suatu pembahasan dan komunikasi. Kata-kata ada dalam konstruksi yang ingin menampung dan memungkinkan makna sebagai nilai yang sakral dan estetis. Doa puisi adalah realisasi yang ingin lepas dari kekangan (tirani) bahasa konvensional tanpa harus melakukan reduksi terhadap laku ajaran agama. Bahasa dalam penguasaan individual menjadi suatu ekspresi yang membuka kemungkinan-kemungkinan pesan dan makna. Doa puisi kaum sufi menjadi warisan yang dilantunkan dan dipahami dalam konteks estetika religius. Kitab dan risalah yang mengekalkan ekspresi sufi menemukan pewaris yang menerima sebagai teks untuk mengungkapkan diri dalam interpretasi dan pemahaman yang beragam.
Doa-doa dalam kitab suci menjadi basis religius yang menemukan tafsiran-tafsiran berbeda oleh kaum sufi. Doa dalam bahasa menemukan ekspresi dalam kompetensi dan kesadaran estetika religius. Kehadiran doa-puisi dari kaum puisi tidak menempati posisi yang menandingi doa-doa dalam kitab suci.
Penjelasan dan tafsir keberadaan doa didedahkan penyair-filosof Mohammad Iqbal. Doa menjadi prolog dalam puisi panjang Javid Nama. Iqbal mengisahkan manusia dalam pemahaman religius dan visi-visi yang imajinatif-puitis. Doa adalah pembebasan dan ikhtiar mencapai pengetahuan menuju Tuhan. Doa puisi Iqbal menjadi manifestasi yang memberi kesadaran religiositas.
Iqbal menulis, “Dalam kepedihan kuarungi kehidupan. Kini aku berdoa agar terbebas dari kegamangan.” Doa adalah realisasi yang positif dan konstruktif untuk laku hidup manusia yang dihadapkan pada realitas-realitas dunia yang hendak mengenali dan intim dengan Tuhan. Doa adalah ekspresi estetika religius yang mengantarkan manusia dalam pencerahan. Begitu.***
*) Kritikus sastra, peneliti Kabut Institut.
Langganan:
Postingan (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita