Jejak Asketisme Intelektual

Bandung Mawardi *
http://www.korantempo.com/

Sejarah intelektual kerap diperkarakan dalam ranah kekuasaan. Wacana pengetahuan dan kekuasaan telah menjadi dominasi dalam pembentukan Indonesia dan konstruksi identitas intelektual. Pembacaan dan penafsiran intelektual dalam ranah kultural dan spiritual masih jarang diungkapkan dengan pelbagai alasan. Kondisi ini mungkin jadi dalil untuk Sartono Kartodirdjo (1921-2007) mengeluarkan risalah Asketisme Intelektual (1999). Risalah pendek ini menjadi tanda tanya dan tanda seru untuk publik memikirkan ulang identitas dan peran intelektual di negeri ini.

Risalah itu menjadi jalan lain untuk penyadaran bahwa kelahiran intelektual di negeri ini ditentukan oleh orientasi kultural-spiritual. Persemaian intelektual pada abad XX memang ada dalam bayang-bayang kuasa kolonialisme dan globalisasi, tapi masih memberi jalan untuk pilihan pada individu untuk mengafirmasi diri dalam olah kultural dan spiritual. Asketisme merupakan ikhtiar menjadi manusia-intelektual tanpa melupakan akar dan jejak sebagai fondasi. Wacana dan praktek asketisme intelektual pada saat ini mungkin ada di pinggiran tapi tidak bisa disepelekan.

Tokoh

Sartono Kartodirdjo lahir dan tumbuh dalam lingkungan kultural Jawa. Ahli sejarah ini memang melakukan petualangan pengetahuan ke pelbagai peradaban, tapi kentara memiliki akar kuat kejawaan. Ilmu sejarah justru mengantarkan Sartono pada kesadaran dan pencerahan terhadap hikmah Jawa. Hikmah Jawa ini memiliki keunikan ketika disandingkan dengan hikmah dari pelbagai peradaban dan agama. Sartono pun mafhum bahwa menjadi intelektual membutuhkan olah jiwa atau laku dan bukan sekadar urusan akademik dan kekuasaan.

Sartono mengungkapkan bahwa asketisme dilakoni dengan olah jiwa dalam moral dan spiritual dengan menghilangkan keinginan atau hawa nafsu jasmaniah. Definisi ini mendapati pembenaran dalam ajaran Wedhatama gubahan Mangkunegara IV mengenai mesu budi. Ajaran mesu budi ini dalam konteks Jawa berkaitan dengan nglakoni, prihatin, dan mengorientasikan diri dalam “dunia-dalam”. Pengertian konklusif dari mesu budi adalah kepemilikan etos dalam ikhtiar intelektual untuk memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, teknologi, atau politik. Asketisme intelektual itu menjadi identik dengan Sartono Kartodirdjo karena proses menjalani hidup mengaitkan diri dalam orientasi kultural-spiritual Jawa.

Catatan mengenai asketisme intelektual pada masa lalu bisa dicontohkan pada sosok Sosrokartono (1877-1952). Intelektual ini memiliki reputasi internasional karena otoritas pengetahuan dan penguasaan terhadap belasan bahasa asing. Sosrokartono tumbuh pada awal abad XX sebagai masa persemaian modernitas di Hindia Belanda. Gelar akademik dan pergaulan intelektual di Barat tidak membuat Sosrokartono larut dalam sihir rasionalitas-modernitas. Kesadaran kultural-spiritual Jawa masih kental dan disemaikan. Godaan-godaan politik-kekuasaan tidak diladeni dengan tunduk atau takut. Sosrokartono justru memilih pulang ke negeri sendiri. Asketisme dijalani dengan tapa brata (bertapa-meditasi), sebagai fondasi untuk pengajaran kepada sesama. Inilah pengabdian dari jalan asketisme intelektual.

Asketisme intelektual juga tampak pada sosok Soedjatmoko (1922-1989). Intelektual ini sejak mula sadar bahwa ikhtiar dan kerja intelektual mesti memiliki tarikan dengan akar tradisi. Soedjatmoko sendiri mengafirmasi kejawaan untuk memberi penggenapan dalam dialektika rasionalitas-spiritualitas. Asketisme terbentuk dalam pergulatan nilai dan peka untuk memberi tanggapan terhadap fakta-fakta sosial. Kaum intelektual di tengah bangsa sedang berkembang, tanpa kesanggupan mengembangkan hubungan dengan tradisi, akan tersisihkan atau teralienasi. Kesadaran dalam laku intelektual itu menentukan pemikiran-pemikiran Soedjtamoko cenderung memiliki akar-akar tradisi Jawa dan kontekstual. Revitalisasi menjadi kunci untuk mengolah tradisi dalam arus dan alur progresivitas zaman.

Jalan asketisme intelektual Sosrokartono, Soedjatmoko, dan Sartono Kartodirdjo itu kentara jarang ditempuh oleh para intelektual mutakhir. Sejarah terus mencatat bahwa keintiman intelektual dan kekuasaan tak bisa dimungkiri. Model ini mengandung hukum transaksi dan kompensasi. Intelektual susah menghindar dari godaan untuk masuk atau tunduk dalam kekuasaan. Pengabdian terhadap penguasa kadang jadi tindakan pragmatis atas nama status sosial dan material. Sosok intelektual mengalami dilema ketika dia tidak sanggup menghadapi kekuasaan dengan arif sebagai konsekuensi mesu budi.

Spirit kepakaran

Sartono mengungkapkan bahwa inti dari asketisme intelektual adalah pemunculan spirit kepakaran (expertise) dari intelektual. Kepakaran ini mesti memenuhi nilai-nilai: otoritas, otonomi, otentisitas, dan integritas. Nilai-nilai idealistik ini mungkin susah dibuktikan untuk menilai kehadiran sosok-sosok intelektual di negeri ini. Kaum intelektual mutakhir justru repot untuk menjadi pegawai negeri, mengurus proyek, atau mencari jabatan. Sikap pragmatis ditampilkan berbarengan dengan ketiadaan penghargaan dari negara terhadap jerih payah kaum intelektual. Kontradiksi terus terjadi tanpa janji ada penemuan solusi.

Asketisme intelektual mungkin solusi, tapi susah dijalani. Sistem pendidikan, sistem politik, tatanan sosial, dan lakon kultural mutakhir seperti jadi jerat dari hukum pasar. Modernitas dan kapitalisme telah mengajarkan bahwa hidup itu berat dan mesti dilakoni dengan kelihaian agar tak mati sia-sia. Ajaran itu lalu memunculkan risiko keserakahan dan pragmatisme. Kaum intelektual sebagai penyeru kesadaran kadang masuk dalam jerat-jerat itu, karena memperhitungkan pamrih dan pelbagai pengorbanan ketika menempuh pendidikan.

Siapa mau menempuhi jejak asketisme intelektual pada hari ini? Negeri ini telah sesak dengan intrik politik dan keramaian pasar. Kaum intelektual tanpa sungkan mengabdikan diri pada kekuasaan melalui partai politik, parlemen, kabinet, atau institusi negara tanpa kesadaran terhadap anutan kultural-spiritual. Keintelektualan bisa saja digadaikan untuk merayakan pamrih-pamrih duniawi. Asketisme intelektual mungkin jadi jalan kecil dan sepi. Begitu.

PENGGAGAS TEMU KAUM INTELEKTUAL MUDA DI BALAI SOEDJATMOKO, SOLO

Komentar