Langsung ke konten utama

Bagaimana Memotivasi Diri untuk Terus Menulis?

Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/

JUDUL tulisan ini, adalah juga pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang penulis pemula yang mengirimkan karyanya ke Xpresi. Agaknya sobat kita ini sedang merasa stagnasi dalam menulis. Atau tiba-tiba merasa bahwa proses kreatif menulis yang dia jalani tidak “memberikan apapun” padanya. Atau, karena sebab-sebab yang lain, sehingga ia “malas” untuk kembali menulis.

Adik-adik, ini namanya penyakit. Dan penyakit sejenis ini, memang kerap menjangkiti banyak penulis kita, terutama mereka yang belum “mantap” pilihan hidupnya untuk menjadi seorang penulis. Tentu, penulis pemula adalah sasaran empuk penyakit ini. Tapi, tak sedikit pula, para penulis “yang sudah jadi” berguguran, berhenti menulis.

Saya kira, tiap penyakit tentu ada obatnya. Namun sebelum kita mencari obatnya, kita harus tahu dulu indikasi-indikasi yang menyebabkan seorang penulis kehilangan motivasi untuk menulis, dan memilih untuk berpaling. Indikasi itu bisa kita lacak dari berbagai sisi. Misalnya, yang paling banyak dialami adalah, ketika ia merasa bahwa dunia menulis tak dapat memberi “jaminan” ekonomis padanya.

Sebab lain, bisa jadi karena merasa tulisan-tulisannya tidak mendapat apresiasi (sebagaimana yang diharapkan) dari pembaca, juga kerap ditolak media massa. Dengan begitu, ia kecewa dan merasa bahwa tulisannya tak berguna bagi orang lain. Sebab lain lagi, bisa jadi juga karena ia merasa dunia menulis itu adalah dunia yang sepi, yang tak banyak diminati orang, dan lalu tergoda dengan dunia yang lain, yang lebih populer dan massif.

Nah, indikasi-indikasi itu bisa bertambah. Sebab tiap orang tentu memiliki problem-problem yang berbeda. Namun, jika kita mau sedikit bersabar dan terus belajar, saya kira kita pun segera menemukan berbagai kiat dan aktivitas yang bisa memotivasi kita untuk kembali menulis. Apa itu?

Di antaranya, bergabunglah dengan berbagai komunitas menulis. Dunia sepi, bisa akan terobati jika kita bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat dan profesi serupa dengan kita.

Di sana, kita berdiskusi, bertukar informasi, dan saling mengkritisi karya. Atau, datanglah kepada para penulis yang “mapan”, berbincang-bincang, atau melihat bagaimana proses kreatif dia menulis, serap energinya dengan menggali pengalaman-pengalamannya.

Jika tidak ada komunitas, kenapa tidak kita buat komunitas sendiri. Kumpulkan beberapa kawan yang gemar membaca dan menulis. Tak perlu ramai, tiga atau lima orang saja cukup. Buatlah pertemuan-pertemuan rutin, membahas karya. Saya kira, segera kita akan termotivasi untuk menulis, jika kita membaca karya kawan-kawan kita itu. Boleh juga membuat agenda-agenda lain, yang sifatnya membangkitkan motivasi.

Selain itu, satu kiat yang paling mudah adalah membaca buku, membaca karya orang lain yang termuat di media massa. Berkunjung ke toko buku atau ke perpustakaan harus diagendakan tiap minggu, untuk menjaga semangat dan energi kita dalam menulis.

Motivasi pun akan terus terjaga, jika kita kembali bertanya pada diri kita sendiri, benarkah niat kita untuk menjadi penulis? Sudah mantapkah niat itu, atau cuma sekedar ikut-ikutan? Tak akan ada yang berhasil jika dikerjakan dengan setengah-setengah, bukan?
Baiklah, mari kita simak karya kawan-kawan kita edisi ini. Ada Yusparizal dengan cerpen “Telat Seminggu.” Ceritanya dituturkan dengan lancar dengan plot linier. Konflik-konfliknya meski belum terasa mendalam, tetap bisa kita nikmati. Agaknya, Yusparizal ke depan harus berani mengangkat tema-tema lain yang jarang disentuh oleh penulis lain. Atau tema sederhana, tapi dengan cara menulis yang berbeda.

Puisi, “Derap Sang Penerjang” karya Resty Zuliyanti. Puisi yang cukup panjang ini memang terasa belum kokoh susunan diksinya. Terasa juga melompat-lompat, terutama dalam membangun metafora. Meski, kita cukup paham apa yang hendak disampaikan oleh Resty. Puisi lain, ada Wari Rahmawati, “Kau yang Tidak Menjawab.” Sebuah puisi naratif yang sederhana. Agaknya, perlu diperkuat pencarian metaforanya, dengan pencitraan-pencitraan. Sehingga puisinya tidak terasa menggantung.

Puisi berikut “Sang Bintang” karya Muhammad Hadi. Antara satu bait dengan bait berikutnya, masih terasa berjarak. Tidak padu. Bait pertama yang cukup imajis itu, mestinya dipertahankan pada bait-bait berikutnya. Hanya saja, saya suka dengan penutup puisi ini, “aku ingin bintang tetap tinggi/ meski dilirik rendah/ dari genangan air.” Puisi “Membaca Hari” karya Zulkarnaen, cukup kuat membangun diksi, juga irama. Repetisi (pengulangan) pada diksi tertentu, cukup memberi penegasan atas makna. Tentu, Zul harus terus menggali perbendaharaan kata, agar puisinya kaya.

Dua puisi terakhir, “Tangisan Anak Bulan” karya Riza Rizki, dan “Air Mata” karya May Moon Nasution. Riza kadang bisa menghadirkan imaji yang kuat dalam puisinya, meski kadang tak bisa bertahan sampai akhir. Tema kepedihan sosial yang diangkat, hampir terasa juga pada puisi May. Meski May lebih lugas memberi penekanan pada rasa marah dan kecewa.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Indah dalam Buruk Rupa Dunia

Judul Buku : Cala Ibi
Penulis : Nukila Amal
Penerbit : Pena Gaia Klasik
Cetakan Pertama : April 2003
Tebal : 271 Halaman
Peresensi: Askolan Lubis
http://www.sinarharapan.co.id/

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Maia dalam fragmen terakhir (Surat dan Tanda Terakhir) dari novel Cala Ibi yang ditulis Nukila Amal ini.

Kalimat tersebut seolah hendak menegaskan tantang keberadaan karya ini: di tengah centang perenang realitas keseharian yang menyesakkan, Cala Ibi datang menyenandungkan irama lain yang teramat indah, namun acapkali dianggap tidak penting, yaitu mimpi.

Dengan memberi judul Cala Ibi (Naga)—yang tak lain adalah nama hewan agung lambang para kaisar Cina—pada novel ini, Nukila tampaknya hendak memberi tempat terhormat pada dunia bernama ”mimpi”.
Bagaimana tidak? Naga adalah hewan yang diyakini adanya, tapi tak seorangpun yang bisa memastikan atau melihat wujudnya.

Anehnya lagi, ia bukan sejenis reptil, tapi seperti ular. Bukan burung tapi bersayap dan bisa terbang. Bukan ikan, tapi bers…

POTRET MANUSIA MARJINAL DALAM CERPEN-CERPEN JONI ARIADINATA*

Maman S. Mahayana**)
http://mahayana-mahadewa.com/

00. Sastra adalah dunia yang serba mungkin; apapun bisa jadi mungkin (probability), termasuk di dalamnya, yang mustahil pun bisa saja menjadi mungkin. Jadi, dalam keser-bamungkinan atau kemustahilan itu, berbagai peristiwa yang mungkin dan yang mustahil, bisa saja terjadi sekali-sekali, gonta-ganti atau serempak secara tumpang-tindih. Oleh karena itu, salah satu kekhasan karya sastra (fiksi) yang sering dimanfaatkan untuk mem-bedakannya dengan karya nonfiksi adalah adanya kebolehjadian (plausibility) itu. Itulah sastra! Ia bisa menampilkan dunia yang realistik dan masuk akal secara meyakinkan. Na-mun, ia juga dapat menampilkan hal yang sebaliknya. Di sana, mungkin ada dunia jung-kir-balik, irasional, dan amburadul. Semua boleh saja terjadi, dan itu sah! Tidak ada rumus yang pasti yang berlaku universal. Selalu saja ada yang khas, unik, dan nyeleneh. Selalu ada saja kekhasan individual, meskipun ciri atau sifat-sifatnya, mungkin berlaku …

Sastra Indonesia Mutakhir: Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya

Jamal T. Suryanata
http://tuasmedia-2.blogspot.com/

/ 1 /

Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko. Di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian “sastra Indonesia” itu sendiri, juga dilantarankan oleh ketakrifan istilah “mutakhir” yang digunakan dalam judul tulisan ini memang cenderung bermakna bias (baca: bersifat deiktis).