Langsung ke konten utama

Pengantin Hamil

Riau Pos, 30 Maret 2003, Harian Bernas, 27 Juli 2003
Marhalim Zaini

“Kita akan bersanding, sayang. Duduk di atas pelaminan, seperti raja dan permaisuri. Daun inai yang diracik halus, akan menghiasi jemari tangan dan kaki kita dengan getah merahnya. Beras pulut, beraroma kuning kunyit, akan ditabur oleh sanak saudara di atas kepala kita, sebagai tanda, restu dan doa telah diberi. Maka hati kita pun bernyanyi, diiringi barzanji yang melantun dari mulut gadis-gadis kampung yang molek. Rampak pukulan kompang dari tangan-tangan pemuda yang belia, akan semakin menggetarkan jiwa kita, bahwa saat itu, dunia menjadi milik kita berdua. Tunggulah, sayang. Abang akan pulang….”

Bibir Suri tak pernah bisa berhenti untuk terus membaca sekeping surat lusuh di tangannya. Surat pertama yang ia terima, seminggu setelah kepergian kekasihnya, sampai kini setelah genap tujuh bulan, surat yang lain tak kunjung datang. Suri menanti, sembari terus membaca surat pertama berkali-kali. Suri menanti, sembari merasakan perutnya makin lama makin berisi. Ada bayi yang terus meronta meminta hak hidupnya dijaga. Bayi yang tak dipinta, hasil persetubuhan cinta yang liar.

“Kita harus segera menikah, sayang,” bisik Suri suatu malam yang hujan. Usai sebuah prosesi (atas nama cinta) terlunaskan. Tapi suara hujan di luar jendela, membawa pertanyaan Suri ke dasar malam. Jawaban sang kekasih hanya berupa dekapan diam dalam senyum ragu yang panjang. Dan mereka pun kembali tenggelam. Membuang jauh ingatan tentang beban kecemasan. Tentang hari esok atau lusa yang suram. Mereka tak kuasa menahan kenikmatan cinta yang terus meregang mengaliri seluruh tubuh dosa yang telanjang.

Sampai waktu begitu jenuh. Sang kekasih tiba-tiba pamit ke seberang, “Sayang, demi masa depan kita, Abang harus pergi. Mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita. Bukankah kita harus segera menikah?” Tak ada jawaban untuk sebuah keputusan yang logis. Suri mengangguk perlahan. Meski tak bisa ditampiknya, bahwa kecemasan itu tiba-tiba menyerang. Matanya memerah menahan resah. Di hatinya hanya ada gumam, “Selamat jalan kecemasan. Selamat jalan harapan.”

Di tepian pelabuhan, Suri berdiri melambaikan tangan. Kapal berangkat meninggalkan ombak kenangan. Hempasannya menampar wajah orang-orang yang ditinggalkan. Suri tentu tak sendiri. Sebab di pelabuhan ini, setiap petang dan pagi kapal-kapal senantiasa datang dan pergi. Membawa perantau juga pelancong yang tak puas hidup hanya di satu pulau.

Maka Suri tak boleh menangis. Ia sadar, bahwa menangis hanya akan menghanyutkannya ke laut luas tak berbatas. Dan Suri khawatir ia tak bisa kembali mengendalikan diri sebagai perempuan yang tabah, layaknya para perempuan di Teluk Gambut ini, yang harus mampu hidup dengan kaki dan tangan sendiri. Suami – bagaimanapun kelak Suri harus bersuami – tak sepenuhnya sebagai tempat bergantung hidup. Paling tidak Suri, yang baru seumur jagung ini, sudah pandai menganyam tikar pandan dan menyadap karet, sebuah keahlian wajib bagi penghuni kampung yang bernama perempuan.

Suri memang tak pernah menangis. Sampai saat ini, ketika usia bayi dalam perutnya beranjak tujuh bulan, dan hanya sekeping kabar yang datang dari kekasihnya, Suri tak menangis. Pun ketika ia diam-diam suatu malam yang pekat terpaksa meninggalkan rumah orang tuanya, pergi ke hutan durian ujung kampung dan tinggal sendiri di sebuah pondok bekas, Suri tak menangis. Suri takut, jika sampai orang tuanya tahu tentang kehamilannya sebelum menikah, jelas akan menimbulkan tangis banyak orang, Suri tak mau melihat orang menangis.

Tapi orang tua Suri, sejak Suri menghilang lima bulan yang lalu pasti tak henti-hentinya menangis. Sampai kini, sewaktu Suri diketemukan orang kampung yang sedang mencari kayu bakar di hutan durian, dan dipaksa pulang ke rumah untuk dihakimi, Suri sedikit pun tak menangis. Hanya kepalanya menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya dari rasa malu dan bersalah. Sementara Emak meraung-raung. Abah berkali-kali mengangkat tangannya hendak melayangkan tampar ke pipi Suri. Para tetangga dan sanak famili mulai bergunjing. Kampung pun seketika menjadi serupa orang Cina karam atau orang Jepang yang kalah Perang.

Pertanyaan pun bertubi-tubi menyerang Suri. Tapi Suri tak menjawab. Sebab Suri sendiri tak tahu kenapa ia sampai berbuat begitu. Awalnya, ia sangat suka kalau kekasihnya mencium bibirnya. Kemudian lama-lama ia pun menyukai sentuhan-sentuhan kekasihnya. Dan ia tak sadar bahwa kelak sentuhan-sentuhan itu berujung pada kenikmatan yang luar biasa. Sejak itu, ia menyangka bahwa itulah yang dinamakan cinta.

“Percuma Guru Murad mengajar kau ngaji setiap malam, akhirnya zina juga yang kaukerjakan. Dasar anak yang tak tau diuntung!” Semburan suara Abah berdenging di telinga Suri. Suri tertunduk semakin dalam. Suri tahu, ia telah berdosa. Dan Suri juga tahu, dosa ini begitu memalukan bagi keluarganya. Apalagi Abahnya adalah orang terpandang di kampung ini. Tapi apakah cinta adalah dosa? Suri bingung. Usianya yang masih belia, membuat pikiran Suri bercabang dua. Dosa mengantar Suri ke pintu neraka. Cinta memberi Suri kebahagiaan yang luar biasa.

“Sudah kubilang jangan sering keluar malam. Tapi kau degil. Tak pernah dengar cakap aku. Sekarang tengoklah akibatnya. Perut kau buncit, tak tahu entah siapa jantannya.” Suara Abah menyambar-nyambar serupa petir. Suri bergeming. Kepalanya sedikit pusing. Teringat kekasih di seberang. Seorang lelaki tanggung, anak Pak Selamet, kepala desa, tetangga sebelah rumah. Suri kembali bingung. Haruskah ia mengatakan siapa yang harus bertanggungjawab terhadap bayi dalam perutnya itu. Dan bagaimanakah caranya membahasakan kedalaman cintanya pada sang kekasih, kepada kedua orang tuanya. Suri memilih untuk diam.

“Suri!” Abah membentak. “Katakan siapa lelaki itu!”
Pada awalnya Suri ragu. Tapi tiba-tiba tumbuh keberanian dalam hatinya. Keberanian yang datang dari keinginan besar untuk segera dinikahkan. Suri pun perlahan mengulurkan sepucuk surat yang lusuh, yang tak pernah lepas dari genggamannya. Mata Abah menyala penuh tanya. Emak berhenti dari raungannya. Orang-orang kampung terdiam dari gunjingannya. Ada satu pertanyaan dengan seribu jawaban yang mendesak-desak dalam benak mereka. Siapakah gerangan sang jantan yang begitu berani menghamili anak tunggal orang terpandang di kampung ini?
***

Malam yang hujan. Tempiasnya leleh di kaca jendela. Ada bayang-bayang kenangan least di mata Suri yang layu. Ada bekas aroma tubuh lelaki di sekeliling dinding kamar ini. Lelaki, kekasihnya yang jauh. Lelaki yang sebentar lagi akan duduk bersanding di sampingnya. Suri rindu. Rindu yang menyala. Apalagi ketika orang tuanya justru kini merestui hubungan mereka, Suri semakin menyala. Meski sesungguhnya Suri tertanya-tanya, kenapa setelah tahu bahwa lelaki yang menghamilinya adalah anak Pak Selamet, kepala desa, tetangga sebelah rumah, semua orang terdiam. Orang tuanya pun langsung merencanakan sebuah pesta besar-besaran. Dan tak henti-hentinya tawa renyah menggelegar setiap ada pertemuan panitia pesta di rumahnya. Seakan semua riuh tangis dua hari yang lalu telah lenyap ditelan bumi.

Suri menduga, inilah keajaiban cinta itu. Kini ia semakin percaya bahwa kekuatan cinta akan mengantarkannya pada kebahagiaan yang luar biasa. Cinta rupanya mampu merubah kemurkaan menjadi kebaikan. Suri tambah yakin bahwa cintanya bukanlah dosa. Nyatanya, semua orang kini telah memberi ucapan selamat padanya. Bukankah orang yang berdosa tak bisa selamat dunia dan akhirat. Mata Suri terpejam. Meyakinkan hatinya.

Ah, malam yang hujan. Tempiasnya leleh di hati Suri. Tempias rindu yang menggelora. Ada bayangan kekasihnya muncul dari jendela. Persis serupa malam-malam yang dulu, saat kekasihnya masuk dari jendela ketika semua orang telah terlelap. Saat kekasihnya mendekap tubuhnya dalam pelukan hangat seorang lelaki. Saat pergumulan pun terjadi. Mata Suri terpejam. Menikmati ribuan gerakan bayangan yang berkelindan. Dan hujan malam itu, membawa Suri hanyut ke laut mimpi.

Mimpi yang indah. Mimpi bersanding di atas pelaminan bersama sang kekasih. Mimpi menjadi raja dan permaisuri. Mimpi beras pulut beraroma kuning kunyit ditabur di atas kepalanya. Mimpi menyaksikan aura kebahagiaan dari gadis-gadis kampung yang melantunkan barzanji. Mimpi mendengarkan rampak kompang yang ditabuh oleh pemuda-pemuda belia. Mimpi menyaksikan tatapan ribuan pasang mata bahagia dari para tamu undangan. Mimpi peluk cium sang kekasih. Mimpi…
***

Sejak peristiwa itu, hampir setiap bulannya, gadis-gadis kampung hamil sebelum menikah. Dan hampir setiap bulan pula kita dapat menyaksikan sepasang pengantin yang ganjil (sebab dalam perut pengantin perempuannya telah tersimpan seorang bayi) dengan pakaian adat kampung Teluk Gambut. Diarak di sepanjang jalan, dengan janur dan bunga manggar yang berseri-seri. Rupanya mimpi Suri telah menjadi mimpi semua pemuda dan pemudi. Mimpi yang direstui. Mimpi bersanding di atas pelaminan sebagai Pengantin Hamil.***

Yogyakarta, Akhir Maret 2003

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com