Langsung ke konten utama

Tepi

Mardi Luhung*

Aku berada di lautan puisiku. Lautan itu tak bertepi. Aku ingin
menangkap ikan tambun kuning. Tapi, aku malah dapat yang hitam:
“Ikan tambun hitam!" Dari ikan tambun hitam aku menyuling cat.
Cat yang berliter-liter. Aku ingin mengecat semuanya. Agar
menjadi hitam seperti dekor tonil. Tonil tentang bapak
yang selalu berganti kulit.
Di dalam tonil aku mengelem rambutku. Memasang sayap dan
tengkurap di atas meja. Di depanku telah masuk tokoh. Tokoh garang
bunting 9 bulan. Kata tokoh itu: “Mainkan aku dengan yang selalu
merapikan celana dalamnya. Yang persis di depannya ada
gambar mawar disilang tengah!"
Aku buru-buru melengos. Lalu aku memberinya tikus:
“Jangan masukkan tikus ini ke pikiranmu!" sergahku. Terus
terbang ke bulan. Terbang di atas kepala para pengendus yang
berseloroh aku telah menemukan! Di bulan aku merasa rindu rumput.
Tapi rumput telah menjelma jumput. Aku ingin digambar.
Tapi siapa yang akan menggambar.
Dan aku juga merasa rindu sepedaku. Rindu pada bannya.
Rindu pada tanah yang menempel di bannya. Tanah yang telah
menumbuhkan mambang dan yang rajin menggali kuburan.
“Tapi, setiap ada yang dikubur, mengapa wajahku yang selalu tampak?"
Aku pun berbicara pada diriku sendiri. Dan aku teringat pada
sahabatku yang telah menjual ginjalnya.
Sahabatku yang pusing ketika mendengar pidato begini:
“Aduh, jangan ribut, ini negara, bukan pasar!" Dan kata sahabatku itu:
“Om, Om, itu tadi dengus kerbau kan?" Aku pun jadi tersenyum.
Senyumku demikian datar. Sedatar kaki ibu yang melayang. Kaki ibu
yang keluar dari malam. Kaki ibu yang cemerlang. Dan kaki ibu yang
mengajari aku agar berdandan:
“Oh, tanyakan apa aku mau ke pesta?" Sayangnya, di bulan tak ada
pesta. Sedangkan, di bumi, lihatlah, lautan puisiku semakin tak bertepi.

(Gresik, 2008)

*)Salah satu buku puisinya berjudul Ciuman Bibirku yang Kelabu (2007).

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com