SEBUAH SUGESTI PEMBODOHAN

Imamuddin SA
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Sudah barang tentu kita mengenal istilah ini. Tidak hanya itu, jangankan dalam dunia kesusastraan (fiksi), bahkan kita sendiri kerap mengalaminya dalam realitas kehidupan sehari-hari. Ya, benar! Istilah itu adalah konflik.

Tidak dapat dielak lagi, jika kita mengatakan bahwa karya sastra merupakan mimesis. Karya sastra adalah gambaran realitas yang diusung oleh pengarang ke dalam bentuk teks tulis. Karya sastra adalah miniatur kehidupan. Jadi ini sudah tidak hal yang baru lagi jika di dalam sebuah karya sastra mengandung rekaman kejadian-kejadian yang melingkupi diri pribadi seseorang dengan realitas sosialnya. Ini bisa dibuktikan!

Mengapa demikian? Hal itu disebabkan oleh eksistensi karya sastra itu sendiri. Yaitu sebuah kreatifitas manusia. Yang dinamakan kratifitas sastra itu bersumber pada pengalaman pribadi seseorang yang telah diendapkan dalam pikiranya. Yang mengalami proses imajinatif, penilaian, serta perenungan. Entah itu murni dari pengalaman pribadinya. Atau bersumber pada pengalaman orang lain yang telah dikonsumsi menjadi pengalaman pribadi oleh seorang kreator (pengarang).

Dalam realitas ada tokoh. Dalam karya sastra (fiksi) juga ada tokoh. Kedua-duanya sama-sama memiliki karakter sebagi cermin lakuannya. Dalam realitas, seorang tokoh memiliki perjalanan hidup. Dalam karya sastra (fiksi) juga sama. Dalam realitas terjadi konflik dan pemecahan konflik. Dalam karya sastra (fiksi) juga terdapat hal yang sama. Peristiwa-peristiwa sosial juga terdapat dalam realitas masyarakat dan karya sastra (fiksi). Hal itulah yang kiranya menjadi pondasi dasar bahwa karya sastra (fiksi) adalah mimesis.

Agar tidak terlalu jauh pembahasannya, maka perlu dibatasi. Kita coba batasi pada wilayah konflik dalam karya sastra. Ini bukan konflik antar pengarang atau kritikus sastra perihal kehadiran karya sastra (fiksi) di tengah-tengah publik sastra. Melainkan konflik yang terbangun di dalam unsur intrinsi karya sastra. Yaitu unsur yang membangun karya sastra dari dalam yang terkandung pada alur cerita. Ya benar! Konflik yang ada dalam alur cerita.

Munculnya konflik dalam karya sastra sama persis dengan munculnya konflik dalam realitas kehidupan yang melingkupi diri pribadi seorang individu. Sama-sama bertumpu pada adanya problematika hidup. Entah itu problem pribadi dengan realitas sosial yang ada. Atau problem antarmanusia (antartokoh dalam fiksi). Ada konflik kecil. Ada pula konflik besar. Konflik besar biasanya hadir disebabkan oleh eksistensi konflik kecil. Konflik besar pada dasarnya akan mengarah pada klimaks dan peleraian. Namun perlu dicatat, bahwa tidak semua konflik sampai pada klimaks dan membutuhkan peleraian. Hanya konflik besar lah dapat mencapainya. Yaitu konflik yang menandai bahwa cerita itu akan segera usai.

Adanya konflik dalam alur cerita merupakan salah satu elemen inti yang mampu menggugah hati penikmat karya sastra (fiksi) untuk larut dalam alur cerita. Pembaca seolah-olah hadir sendiri sebagai pelaku cerita. Disinilah letak kejeniusan seorang pengarang. Dengan membubuhkan konflik, pembaca akan merasa tidak sadar bahwa dia sedang dibodohi oleh pengarang. Ia tidak sadar kalau sedang digeret masuk ke dalam alur cerita. Sehingga ia secara sepontanitas akan menunjukkan ekspresi marah, geram, benci, merenung, sedih, dan bahkan ada juga yang sampai meneteskan air mata. Namun semua itu tinggal kekuatan pengarang dalam menghadirkan konflik tersebut. Mampukah pengarang mempengaruhi pembaca?

Untuk memicu hadirnya konflik yang sanggup menyugesti pembaca, ada hal-hal yang patut diperhatikan sebelumnya. Salah satunya adalah penyematan falsafah hidup dalam konflik tersebut. Dengan adanya hal itu, pembaca akan larut untuk menyelami sekaligus merenungi ungkapan-ungkapan yang terujar oleh tokoh-tokohnya. Secara pribadi, pembaca akan mencoba membentur-benturkan ujaran-ujaran itu dengan realitas yang ada. Entah pembaca sepakat dengan ujaran itu. Atau tidak sepakat dan berontak hingga menggugah pemikiran serta penilaian yang baru. Ini sudah dapat dikatakan sebagai keberhasilan pengarang dalam melarutkan pribadi pembaca kedalam karyanya.

Selain itu, biasanya keterlarutan pembaca ke dalam cerita juga dapat ditempuh dengan jalan penajaman perilaku antartokoh serta pengembangan dan lama penceritaan saat terjadi konflik. Entah konflik yang terjadi antara tokoh antagonis dengan tokoh utama maupun tokoh protagonisnya dalam realitas cerita. Atau sebaliknya. Bisa juga penajaman perilaku tokoh utama dengan tokoh protagonis saat terjadi konflik. Penajaman serta pengembangan dan lama penceritaan konflik pribadi seorang tokoh juga termasuk di dalamnya. Missal: tokoh utama ada konflik dengan tokoh antagonis. Tokoh utama difitnah, diculik dan diadakan penyiksaan yang begitu sadis oleh tokoh antagonis. Peristiwa ini tidak sertamerta disajikan dengan bahasa leterleg seperti ungkapan di atas. Namun harus diperluas. Baik diungkapkan dengan dialog-dialog atau pengejawantahan kesadisan tersebut.

Hal itulah yang kiranya menjadi pemicu timbulnya ketertarikan dan keterlarutan pembaca akan sebuah karya sastra (fiksi) melalui konflik yang ada. Perlu dicatat juga bahwa dengan adanya konflik, secara alamiah akan memantik hadirnya pesan moral sekaligus nilai-nilai yang berharga baik secara implisit maupun eksplisit. Namun besar tidaknya pengaruhnya dalam pribadi penikmat karya sastra (fiksi) masih ditentukan oleh penajaman dan pengembangan cerita.

Sungguh, kekuatan inti dalam menyugesti penikmat karya sastra (fiksi) agar tertarik dan larut dalam sebuah karya terletak pada kekuatan pengarang dalam membangun konfliknya. Akan tetapi masih ada cara lain untuk menarik minat baca publik sastra terhadap sebuah karya, yaitu dengan menghadirkan suspene, surprise, plausubilitas, foreshadowing, dan backtracking. Agar penikmat karya sastra (fiksi) benar-benar menyelami dan larut ke dalam sebuah karya tersebut, maka buat saja konflik yang banyak. Tentunya semua itu juga harus disesuaikan dengan panjang karya yang dibuat oleh seorang pengarang. Banyak konflik namun kurang pengembangan juga mampu mengacaukan kekhusukkan penikmat saat melakukan proses pembacaan. Sekali lagi, konflik mampu menjadikan penikmat karya sastra (fiksi) secara sepontanitas akan menunjukkan ekspresi marah, geram, benci, merenung, sedih, dan bahkan menangis tersedu-sedu. Dan itulah kekuatan dahsyat yang terpancar lewat konflik dalam alur cerita. Yang kadang dirasa membodohi penikmatnya.

Kendalkemlagi, 01 Maret 2008

Komentar