05/10/11

Camus, Caligula, Asrul Sani: Mempertimbangkan Kembali (Eksistensi) Kebudayaan Kita

Raudal Tanjung Banua
http://sastra-indonesia.com/

Pada tanggal 4 Jan 1960, Albert Camus, penulis lakon Caligula, meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil dekat Villeblein. Ia lahir di Mondovi, Aljazair, 7 November 1913, tetapi lebih dikenal dalam khazanah filsafat dan sastra Prancis. Berasal dari keluarga veteran Marne, Camus mencecap kehidupan yang sulit; kemiskinan, perang dan penyakit. Mungkin pengalaman ini yang membekas pada aktivitas dan karya-karyanya kemudian.

Camus misalnya, bergabung dengan koran bawah tanah Combat yang mewartakan penderitaan manusia di tengah kecamuk perang dunia kedua. Sebagai filsuf yang hidup sezaman dengan Sartre, Camus menolak pandangan kaum materialisme dan kaum idealisme. Yang pertama menganggap eksistensi manusia sama dengan eksistensi materi atau benda-benda; yang kedua kelewat mengagungkan pikiran manusia di atas segalanya. Sembari itu, ia melancarkan otokritik terhadap kaum eksistensialisme yang kadangkala menisbikan hakikat kemerdekaan manusia.

Sementara karya dramanya yang masyhur, Caligula, pada kenyataannya lahir sebagai sublimasi pengalaman empiris dan filosofisnya, sehingga sangat kritis, pedas dan memiliki keberpihakan yang tidak konvensional.

Ke dalam khazanah sastra-drama Indonesia, Caligula diterjemahkan oleh Asrul Sani, yang meninggal 11 Januari (kebetulan sama-sama Januari) 2004 di Jakarta. Asrul lahir di Rao, Pasaman, Sumatera Barat, 10 Juni 1926 dan dikenal luas dalam khazanah sastra, teater, film dan pemikir budaya tanah air.

Asrul di antaranya mendirikan perkumpulan “Gelanggang Seniman Merdeka” bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin; mengasuh rubrik budaya “Gelanggang” di warta sepekan Siasat; serta bersama-sama pula menerbitkan buku puisi monumental Tiga Menguak Takdir. Dalam teater, ia antara lain dikenal sebagai pendiri dan Direktur Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang menjadi tonggak teater modern (akademik) Indonesia, di samping menerjemahkan banyak lakon asing pilihan, termasuk Caligula. Di film, namanya abadi bersama karya film yang disutradarai-nya seperti Pagar Kawat Berduri, Apa yang Kau Cari Palupi, Salah Asuhan dan drama Makhamah.

Kenyataan bahwa Asrul Sani sebagai pemikir kebudayaan, terlihat dari pernyataan “Surat Kepercayaan Gelangga-ng” yang digagasnya. Surat yang dimuat pertama kali dalam “Gelanggang”/Siasat, 23 Oktober 1950 itu, menjadi sangat terkenal terutama karena pandangannya yang menyatakan “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia; dan kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tak ingat kepada melap-lap kebudayaan lama sampai berkilat untuk dibanggakan.”

Lalu, apakah hubungan antara Albert Camus, Caligula dan Asrul Sani? Tentu saja sebuah hubungan sangat kompleks, sarat dengan idiom kemanusiaan yang menarik untuk diaktualkan.

Albert Camus – Asrul Sani: Tindakan dan Pandangan

Albert Camus merupakan sosok yang ingin terlibat dal-am segala hal; tak hanya merenungkan segala sesuatu dari meja kafe–sebagaimana dilakukan Sartre dan kekasihnya, Simone de Beauvoir–atau dari belakang meja akademi dalam konteks Asrul Sani, melainkan terjun langsung ke lapangan kebudayaan.

Empirisme ini melahirkan gagasan dan tindakan yang memberi antitesa pada kemapanan. Camus misalnya tidak dapat menerima begitu saja ungkapan rasionalitas yang ditoreh Descrates, Corgito ego sum, “Aku berfikir maka aku ada”, namun melangkah lebih jauh, “Aku memberontak maka aku ada!” Lewat cara ini, Camus tidak menerima begitu saja paham eksistensialisme yang telah dirintis dengan bersahaja oleh Kierkegaard atau Nietzsche yang heroik —dan tidak pula menjadi varian bagi kemegahan Sartre. Meskipun dibanding Sartre, Camus lebih dikenal sebagai sastrawan ketimbang filsuf, sesuatu yang ironis dan tak adil sebenarnya.

Padahal, pandangan Camus mewarnai filsafat eksistensialisme dengan antitesa terhadap kaum materialisme dan idealisme, sekaligus otokritik trhadap eksistensialisme. Camus percaya bahwa untuk menjadi “ada” manusia harus merumuskan “cara” dan menempuh “upaya” dan itu tidak mungkin dilakukan oleh benda-benda; akan tetapi “cara” dan “upaya” itu terletak di atas kemerdekaan diri, jiwa yang otonom. Ada suara pemberontakan di situ, tapi sekaligus kearifan merumuskan pandangan relatif netral.

Di sisi lain, Asrul Sani menyadari eksistensi manusia Indonesia dibangun lewat proses kebudayaan yang agung dimasa silam, tapi itu tidak bisa diisolasi dari dunia-lapang luas. “Surat Pernyataan Gelanggang” sesungguhnya berangkat dari sini: menjadi antitesa “Polemik Kebudayaan” antara STA & Armjn Pane. Namun, “jalan tengah” yang ditawarkan Asrul kerap dipahami sebagai “jalan aman”, padahal itulah jalan ideal.

Nirwan Dewanto misalnya, kerap mengutip pernyataan ini secara sepenggal, khususnya “kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia” yang kemudian dianggap mewakili pandangan Asrul dkk. Padahal, pernyataan itu mestilah dipahami secara utuh, tak sepenggalan, apalagi berpretensi memojokkan. Nirwan menganggap ketegasan sikap tersebut sebagai “upaya meminta-minta” pada dunia, khususnya Barat, padahal disimpulkan dari sekerat kalimat! Sungguh ironis!


Teks dan Konteks Caligula: Mempertimbangkan Eksistensi Kebudayaan Kita

Caligula merupakan karya masterpiece Albert Camus yang memuat pandangannya terhadap hidup, takdir dan nasib sebagai satu-kesatuan rumusan eksistensialisme. Bukan suatu kebetulan, sebagai penerjemah, Asrul juga berurusan deng-an idiom “takdir” dalam merumuskan posisi dan eksistensi (kebudayaan) manusia Indonesia. Kata “takdir” pada buku puisi Asrul dkk. kadang ditafsirkan merujuk Sutan Takdir Alisyahbana (STA) yang pandangannya hendak dibongkar Asrul. Akan tetapi, “takdir” juga merujuk pada pusaran eksistensialisme, katakanlah dalam konteks kesastrawanannya yang mesti menjalani takdir: “dikutuk” untuk terus menjadi manusia gelisah, seperti Sisiphus atau Caligula.

Teks Caligula sendiri bercerita tentang menghilangnya Caligula, seorang raja muda, dari istana; membawa kesedihan mendalam atas meninggalnya orang yang dicintainya, Drusila. Ia mengembara di lorong kota Roma sembari mengolah pikirannya perihal hidup dan nasib. Sejauh manakah kemerdekaan manusia atas takdir kalau orang yang dicintai seorang raja pun tak luput dari kerkap tangan takdir? Takdir macam apakah yang dijalani manusia shingga harus menderita, misalnya oleh perang dan pembunuhan?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengantar Caligula pada kesimpulan bahwa takdir mesti dilawan karena mengancam kemerdekaan dan eksistensi manusia. Ia pulang, dan segera melaksanakan gagasan pencerahan tersebut: hidup yang keras dan tak terduga, manusia yang akan mati dan tidak berbahagia, haruslah dihadapi dengan cara yang keras dan tak terduga pula. Maka tak terduga, Caligula menzalimi kerajaannya: membunuh, memperkosa, dan melecehkan rakyatnya sendiri. Absurditas ini memberi antitesa pada takdir: kalau manusia mati dan ia tak bahagia, maka harus ada tindakan yang membuat mati tidak sekadar persoalan bahagia atau menderita, tapi persoalan cara dan upaya mempertahankan eksistensi.

Kita bisa mengaktualkan teks ini dalam konteks dunia sekarang yang penuh paradoks dan ironisme. Ada ancaman terhadap eksistensi (kebudayaan) manusia karena yang menang tampaknya adalah pandangan materialisme yang menganggap manusia tak ubahnya benda-benda yang bisa dieksploitasi seenaknya. Lewat imprealisme gaya baru, kapitalis-me dan militerisme internasional, pandangan itu mewujud terutama di negaranegara dunia ketiga, termasuk Indonesia! Sementara itu, kaum idealisme yang kelewat jumawa mengagungkan pikiran, jelas masih bertengger di menara gading dan sebagian menjadi korban (kalau tidak pengikut), kekuasaan. Sudah barang tentu ini mengancam eksistensi budaya dan ekologi, mematikan nalar dan daya kritis, dan yang lebih tragis: mengancam kemerdekaan manusia dalam menentukan nasib sendiri. Perdagangan bebas, perang dan invansi, jelas menolak “cara” dan “upaya” lain di luar mainstream.

Reaksi terhadap hal itu muncul beragam dari yang kooperatif hingga yang radikal seperti terorisme. Di satu sisi, terorisme menyebabkan kegoncangan pada seluruh tatanan hidup manusia (termasuk kebudayaan) tapi sebenarnya berpangkal pada satu soal: eksistensi. Tragedi 11 September yang mengguncang AS (kemudian juga Jakarta dan Bali, di sini!) jelas mengancam eksistensi umat manusia, akan tetapi di sisi lain sadarkah kita bahwa ada juga kelompok manusia yang eksistensinya tak terakui? Kelompok inilah yang kemudian bertindak dengan “cara” dan “upaya” yang sangat tidak lazim—membajak pesawat, menabrak menara, mele-dakkan bom (bunuh diri)—sebagaimana Caligula bertindak dengan caranya sendiri.

Di sinilah suara Camus kembali bergema: manusia, sia-papun ia, harus merebut eksistensinya, yang berarti mere-but kemerdekaannya, dari ketertindasan apapun. Karena manusia bukan objek, tapi subjek, maka berbagai “cara” dan “upaya” ditempuh dalam menghadapi tekanan nasib. Semestinya kita bertanya: siapa yang menekan dan siapa yang tertekan? Siapa yang tidak merdeka dan siapa yang leluasa? Di balik kutuk dan serapah terhadap teroris (sebagaimana juga terhadap Caligula), sesungguhnya kita perlu sedikit menyisakan suara jernih: bukankah Amerika dan sekutunya lewat noe-imperialisme, kapitalisme dan militer-isme dengan leluasa menekan eksistensi kelompok lain? Ketertindasan, apa boleh buat, telah memunculkan “cara” dan “upaya” yang tidak lazim dalam sejarah perjuangan eksistensi umat manusia. Separatisme, fundamentalisme, juga terorisme adalah sederet cara dan upaya yang terpaksa ditempuh untuk menunjukkan keberadaan diri atau kelompok tersisih.

Betapapun cara dan upaya itu tidak lazim, bahkan mengancam eksistensi itu sendiri, namun tidaklah untuk didiamkan dan dibutakan. Menjawab cara dan upaya yang tidak lazim dengan caracara yang juga tidak lazim seperti penangkapan konyol, main tuduh, perang, agresi, dan operasi militer hanya akan berbuntut pada kenyataan bahwa kekerasan adalah cara yang lazim. Maraknya jaringan terorisme, serta bergolaknya sejumlah daerah di Indonesia dari Aceh hingga Papua, boleh jadi berpangkal dari tertindasnya kebudayaan, rusaknya ekologi dan terancamnya eksistensi para pendukungnya. Tapi bukankah kita seperti membutakan mata , menulikan telinga?

Kalau demikian kenyataannya,maka penerjemahan Asrul Sani atas lakon Caligula karya Albert Camus, bertahuntahun yang lalu, memiliki nilai aktual dan relevansi dalam mempertimbangkan sikap dan eksistensi kebudayaan kita, baik ke luar maupun ke dalam, hingga hari ini. Ke luar, bagaimanakah sikap bangsa ini atas hegemoni kebudayaan kapital dan industrial; apakah mesti dilanjutkan atau ditiru untuk menggilas eksistensi kebudayaan non mainstream? Ke dalam, apa kabar kebudayaan Indonesia hari ini, apa kabar kemanusiaan kita, di tengah hingar-bingar politik reformasi, otonomi atau MTV?***

Tidak ada komentar: