15/01/09

Teluk Hayat

Raudal Tanjung Banua
http://www.suaramerdeka.com/

1.
INI sebuah teluk yang tak bisa diterka perangainya, kadang langit terang cuaca, riaknya tenang tak berbusa, ombak hanya bertenaga seekor kuda poni, dan pemandang­an cantik ini tak satu pun ‘kan menghalangi; tetapi pada hari-hari tertentu, tak pandang Kamis atau Minggu, ia bisa tak terduga, mengombak keras bagai tenaga seribu ekor kuda jalang membelah hamparan padang prairi, mengelucak setiap yang dilalui dengan tangan-tangan gaibnya, ligat mengguncang perahu dan kapal-kapal, bahkan sungai yang bermuara di lengkung teluk itu tampak seperti hendak berbalik ke hulu, membuat siapa pun dicengkram lungkrah ketakutan tanpa bisa menerka kapan semua ini akan berakhir —angin reda ombak reda, gelombang melipat punggung terjalnya, buih kembali ke sebotol bir....

Namun, meski harapan itu tak terucap dalam doa, hari-hari yang lebih sering tetap saja menyenangkan di mana orang-orang duduk melingkar di kedai terbuka menghadap dermaga, terbahak, dan beberapa tampak menunjuk-nunjuk langit biru laut biru dan karang-karangnya yang biru, seakan penuh rencana; dan persis saat itu perempuan-perempuan teluk lewat dengan rok terkembang selebar payung di udara, di atas kepala mereka; kaki jenjang mereka melangkah ringan ke tepian teluk membawa mangkuk-mangkuk berisi minyak ikan sembilang, kadang mereka menyanyi riang, bola mata mereka setengah pejam seperti bola-bola apung petani mutiara yang menari-nari separo tenggelam di bagian teluk yang tak terlalu dalam; bersamaan dengan itu, satu-dua laki-laki di kedai akan meningkahi seperti gusar untuk akhirnya berteriak, ”Hoii, marilah mampir!” Maka gantian perempuan-perempuan itu terkikik, mempercepat langkah mau singgah, tapi begitu sudah dekat, mereka membelok ke lorong sempit di mana ujungnya menuju ke air, dan bagai camar mandi di pasir, mereka lalu akan kembali melangkah ringan dan bahagia di antara ikan-ikan segar, licin ubur-ubur yang dibuang kembali ke laut, meninggalkan para lelaki setengah berahi terceguk, ngelangut.

Di air surut segerombolan anak-anak tampak menyisir tepi teluk, dengan pantat setengah terbuka dan punggung bungkuk memungut tripang dan ganggang, segenggam dua genggam cukuplah mereka bawa pulang dengan jejak kaki memanjang di pasir hingga hilang di jalan setapak di balik karang-karang hitam lengas, di mana rumah-rumah kecil kelabu orang dirikan dengan dapur yang selalu hangat sebab tripang dan ganggang yang disunting anak-anak mereka cukup menyalakan api di tungku buat dihidangkan sebagai sayur dan camilan, sehingga terasa belaka betapa teluk itu memberi segala yang diingini kepada para penghuni atau siapa pun yang singgah, meski kadang memang ada sekali berapa waktu masa di mana teluk itu seperti seorang dungu, menerima siapa pun yang tiba meski tidak mengenal mereka, tapi begitulah teluk itu ada, terbuka menerima dengan rida, memberikan apa pun yang ada padanya, menadahkan bening airnya untuk berkaca dan layaklah tempat bercermin melihat urat-urat hidup di wajah-wajah yang masih bisa sumringah ketika teraba urat malunya, maka bergumamlah mereka, ”Inilah Teluk Hayat, teluk di mana kami merasa hidup, menyandarkan nasib dan tidak ada alasan meninggalkannya sampai kiamat tiba....”

Ya, Teluk Hayat adalah rahim bumi dengan ceruknya melindungi siapa saja yang membutuhkan tanpa membeda-bedakan, apakah bajak laut terkutuk atau pelaut suci yang baik hati, semua diterimanya dengan tiada gugatan. Begitulah sampai suatu hari datang tukang ukur dan tukang keker (seperti tukang tenung) menjengkal segala yang ada di Teluk Hayat dan semua orang menerima tanpa curiga, bahkan cuaca di Teluk Hayat tampak sangat bersahabat, sebuah kedungu­an yang entah. Kapal-kapal kayu terus saja datang dan pergi, melilitkan temberang mengo­kohkan andang-andang, mengibarkan panji-panji, bendera dan samanera, berkibar bagai sayap elang putih elang hitam camar putih camar hitam, mengepak tiada henti, begitulah orang di teluk itu mungkin mengenang, sebagaimana mereka mengenang pokok nipah, pohon bakau, popok hantu-blau, batang nibung di darat agak ketinggian dan pohon-pohon tanimbang dengan sulur-sulurnya yang lebat bagai sungut kucing liar, kelewat damai. Pada hari itulah, sebelas tahun silam, di bangun sorga pertambangan. Di sana. Di Teluk Hayat.


2.
TUGASKU hanya melaporkan. Tak ada yang disembunyikan. Ada 43 titik pertambangan. Konon, 2.158 juta ton persediaan. Butuh waktu berpuluh atau beratus tahun untuk menghabiskan itu tambang. Surat-surat telah lama dibuat. Rencana lama dirancang. Reposisi berlanjut. Lobi-lobi tak butuh waktu panjang. Pemerintah lokal butuh dana segar. Pemerintah pusat apalagi. Orang-orang parlemen. Preman dan pembesar, apa bedanya? Maka, kilang didirikan. Para pekerja dikirim. Dana dibagi-bagikan. Seperti siluman. Jadi bancakan. Tak apa. Ada banyak investasi di sini. Semua akan kembali dalam waktu singkat. Dalam kalkulasi politik jangka panjang, sebenarnya tak ada setoran. Hanya sedikit pajak. Bagi yang berhak. Sedikit untuk militer. Lebih sedikit lagi untuk orang sekitar. Dalam waktu singkat, semua berdiri. Nun di Teluk Hayat.

Sebagai juru survei, yang mengukur dan mengeker, aku dan rombonganku hanyalah mencatat apa yang seharusnya dicatat. Titik-titik potensial. Pusat pasti tambang tembaga. Tentu saja aku, sebagaimana orang-orang Teluk Hayat yang kelewat bahagia sehingga tampak jadi dungu, tak punya kekuatan apa-apa untuk mengubah keputusan memakmurkan negara. Hanya bagaimanapun, sebagai juru survei yang baik, aku dan timku merekomendasikan beberapa titik potensial di pinggiran Sungai Kuwalu, yang bermuara langsung ke Teluk Hayat, harus rela tak ditambang, minimal berapa tahun ke depan: sampai ditemukan teknik yang lebih canggih menyaring tailing atau sisa material.

Jika dipaksakan, kataku waktu itu, akan membahayakan langsung warga yang kini hidup terjepit di tepian teluk, terkucil oleh tembok-tembok kota baru pertambangan, seperti benteng raksasa kolonial. Tentu, kami tahu juga, bahwa lambat-laun bencana itu pasti akan tiba, di mana limbah tembaga ke mana lagi mengalir kalau bukan ke laut, melewati anak-anak sungai kecil di selingkar bibir Teluk Hayat. Tapi, dengan tidak meng­alirkannya langsung ke induk Sungai Kuwalu, mungkin kiamat bisa ditunda: diharapkan warga berpindah alamiah, pelan-pelan, ke luar dari lingkaran Teluk Hayat, yang beberapa tahun lalu masih disebut sebagai tempat keramat yang tidak akan diting­galkan sampai kiamat tiba. Tapi, kiamat itu ternyata tiba, dan akan lebih cepat lagi jika tujuh titik pertambangan persis di tepi Sungai Kuwalu digarap. Dan ini harus dicegah.

Mula-mula para pembesar PT Tambera Raya tak bisa terima. Tapi hasrat korupsi ternyata bisa juga melindungi niat ”suci” kami —meski hanya sementara. Rumusnya mudah: mereka, para pembesar tambang itu, merasa titik-titik potensial di tepi Sungai Kuwalu adalah tabungan pribadi mereka! Diam-diam bisa mereka tambang sendiri, nanti, lalu dijual sendiri lewat jalan belakang, sehingga persoalannya bukan menunggu alat yang canggih, melainkan menunggu waktu yang tepat menelikung dalam lipatan tembok kota yang tebal: kapan si kecil perlu Mercedez terbaru hadiah Valentine Days, kapan si sulung studi ke Penisylvenia supaya —dalam konteks mutakhir— secerdas seberuntung Obama, dan istri tersayang menganggukkan kepala penuh wibawa dipi­nang partai politik besar dengan nomor urut khusus bagi mesin uang.


3.
”KENAPA mesti Teluk Hayat?”
”Entah.”
”Kenapa mesti tambang?”
”Tak cukup ikan-ikan, perahu, mutiara dan kerang lokan?”
”Aku tak tahu.”
”Sayang, itu teluk yang tenang, asyik buat pakansi. Murah-meriah.”
”Karel, aku jadi beerahi...”
”Ingat seprainya yang bergambar anak lumba-lumba?”
”Bukan, ingat pantainya dengan selusin anak lumba-lumba.”
”Ke mana mereka sekarang?”
”Jangan mau pusing, Karel!”
”Kenapa marah-marah, Bapa’? Kitorang tidak berhutang, kitorang menawar...î
”Sudah tak zamannya, Ibu. Kitorang berdagang tak mudah dapatkan ikan, teluk keruh, nelayan mengeluh, eh, Ibu juga mesti mengerti.”
”Iya, Bapa’, kitorang mengerti. Tambah seekor ya...”
”Ini, ini...”
”Kenapa perahunya dibalikkan, Bapak?”
”Bapak tak bisa ke laut, Nak.”
”Kenapa, Bapak?”
”Nanti kau akan tahu, Nak.”
”Keluargaku sakit dan gatal-gatal, apa yang sebenarnya terjadi?”
”Datanglah ke Puskesmas besok...”

Itu hanyalah beberapa suara yang sempat terekam di lingkungan Teluk Hayat dan sekitarnya. Ibarat gemersik radio, suara itu kubiarkan, tak kumatikan...


4.
JADI begitulah, ke atas arah barat daya tepian Teluk Hayat, tumbuh sebuah kota tambang yang menjunjung harapan besar kemakmuran —segelintir orang. Di pal 137 kau akan lihat sebuah plat nama sederhana bertulisan nama kota: TAMBERAHAYAT. Warga lokal, dengan asumsi lebih sederhana menyebut lebih singkat: Tembayat. (Niscayalah para pendatang dari Jawa akan teringat nama sebuah tempat dengan sunannya yang keramat.) Dan masuklah ke gerbang kota (meski ini sukar: Yang tidak berkepentingan dilarang masuk!), maka akan kau lihat pemandangan yang sungguh tak sederhana. Pemandangan yang mencengang­kan dari infrastruktur dan tata kota, yang bahkan kota-kota di Jawa pun tak bisa menandinginya. Jalanannya lebar dan bersih. Trotoarnya tak kalah lebar, penuh taman, tak ada pedagang kaki lima; sepi saja, tak banyak orang lalu-lalang. Lampu merah di perempatan dilengkapi kamera otomatis entah untuk apa, dan meski sepi, terlebih siang hari, setiap kendaraan akan berhenti patuh bila lampu merah menyala. Tak ada lengking klakson. Orang-orang bertopi baja duduk agung di kendaraan mereka berselempangkan sabuk pengaman, meski tak ada tukang tilang tentu saja.

Mungkin kau bertanya, bagaimana mereka membangun kota ini bagai semalam? Bahkan jika benar fakta sejatinya: sebelas tahun produksi berjalan? Inilah dongeng modern yang tidak segagap dongeng masa silam —kudengar kisah itu waktu di Yogya: membangun candi semalam tapi gagap oleh fajar dan kukuk ayam. Tidak. Tamberahayat dibangun tanpa takut bahkan jika planet mars jatuh di tempat itu, para perencana kota tanpa kikuk akan berkata, ”Mari kita survei, mana tahu ada tembaganya juga!”

O, kawan, mungkin hanya aku yang kikuk. Aku, si tukang survei (orang-orang Teluk Hayat suka memanggilku ”Si Om Tukang Keker”), tetap merasa gugup sampai kini bahkan hanya dengan membayangkan jalanan kotanya yang tak pernah lagi kutempuh. Maklumlah, kuputuskan tak lagi turun lapangan. Untuk pengembangan kawasan tambang, yang dulu sempat kurintis, kami tak lagi dilibatkan. Mana mungkin perusahaan korporat itu masih mau memakai keahlianku. Aku baru sadar, dulu aku dipakai bukan soal keahlian, tapi karena aku orang lokal. Teluk Hayat masuk ke dalam distrik tempat asalku, hanya saja desaku lebih ke pedalaman, di hulu Sungai Kuwalu. Selesai studi Geologi di sebuah universitas di Jawa, berkat bea siswa dari pastoran, aku bersama istri dan adik iparku membentuk perusahaan partikelir yang meladeni urusan survei, pemetaan dan konsultasi kecil-kecilan. David Kurnick, kepala perencana Tamberahayat, tak mau meluputkan kami untuk ikut terlibat, meski sekadar pelengkap.

Kadang kupikir, kota itu aneh: banyak orang, tapi terasa sepi, hidup dikungkung tembok benteng, hari-hari habis di lorong tambang, dan malam hari, para ekspatariat yang kulitnya seperti kepiting bakar Teluk Hayat dan hidungnya sepanjang moncong todak, berbaur dengan para pendatang berbagai puak, yang seriang dan sedungu orang-orang di kedai-kedai terbuka Teluk Hayat dulu, meneguk minuman terbaik dari botol-botol bermerk luar negeri yang tak akan kau temui di swalayan Pulau Jawa sekalipun, kecuali beberapa botol bekas yang dilemparkan ke Sungai Kuwalu, hanyut terbawa arus ke bawah, dan terdampar di tepian Teluk Hayat yang merana, jika beruntung, anak-anak yang sudah tak punya kegiatan lagi memungut tripang dan ganggang akan ganti berebut memungut botol dan segala benda-benda bekas yang lolos dari pagar kota.

Dalam masa pensiunku sekarang, dengan sedikit sesal betapa perusahaan kecilku ikut membuka jalan bagi kemaruknya Teluk Hayat, sayup-sayup Tamberahayat merasuki tidur siangku: kota yang punya rumah sakit sendiri, toko-toko sendiri, pelabuhan sendiri, kapal sendiri, bank sendiri, mungkin presiden sendiri. Sebuah helipad tengadah ke langit­, menunggu capung besi memuntahkan orang-orang penting yang memualkan itu, dengan dasi berkibaran ditiup angin baling-baling. Tak seorang pribumi pun boleh mendekat. Kau harus punya kartu sendiri dengan pin yang mesti hapal di luar kepala untuk berbagai keperluan. Dan untuk memasuki gerbang kota, kau harus berlaku sebagai orang yang diperlukan. Jika tidak, selusin anjing penjaga akan menghardikmu: ”Pergi rubbish!”

Aku saja yang dulu dikontrak oleh mereka, tidak boleh lagi mendekat. Termasuk ketika aku memaksakan diri menghadap para penjaga untuk menyampaikan keadaan warga yang mulai gatal-gatal, tak dapat ikan tangkapan dan hidup berantakan. Aku menduga, para pembesar telah membuka pundi-pundi uangnya dengan menambang beberapa titik ”terlarang” di pinggir Sungai Kuwalu. Aku tahu rahasia itu. Maka aku sampaikan kepada para penjaga bahwa aku diminta datang oleh Mc Ortiz dan Mr Kinu —dua orang penting— untuk menyurvei wilayah baru lebih ke atas, ke arah hutan lindung, dan sebagai juru survei aku tak bisa membuang waktu di gardu yang berisik oleh radio panggil. Untunglah, seseorang mengenalku, dan lalu sambil bersungut aku mereka antar ke blok Cemara —deretan rumah-rumah para petinggi. Mc Ortiz ternyata pindah ke Brazilia —huh, ce­robohnya para penjaga dungu itu!— sehingga aku hanya bisa menemui Mr Kinu. Satu setengah jam menunggu. Bel melengking. Waktu adalah uang-emas.

”Apa yang kau inginkan Peter?”
”Tidak banyak, Mister. O, bahkan hampir-hampir tidak ada.”
”Ada perang suku yang perlu kauamankan? Berapa anggaran?”
”Tidak Mr Kinu. Tapi ada sedikit: mohon jangan menambang beberapa titik di tepi sungai, sebab tailing langsung hanyut ke teluk dan warga terancam.”
”Itu tidak benar, Peter. Kami datangkan alat pintar dari Arizon. Lagi pula, sumber air kami yang utama juga berasal dari sungai, tapi kami tak gatal-gatal. Jangan khawatir.”
”Saya dan warga khawatir. Tiga bayi meninggal di Puskesmas. Delapan KK menge­lupas kulitnya, dan seorang buta.”
”Sudah kukatakan, kami bahkan tak gatal, Peter...”
”Sumber air kota ini dialirkan dari sungai bagian atas, Mister. Sementara titik yang ditambang berada arah ke bawah. Tentu saja orang di sini selamat, dan yang di bagian muara menderita. Kecuali kalau Sungai Kuwalu berbalik arah....”
”Cukup, Peter! Saya tak punya waktu.”


5.
DAN aku pun tak punya waktu berpanjang-panjang, sebagaimana alam mungkin juga sudah tak punya waktu. Sudah kukatakan, bukan? Ini sebuah teluk yang tak bisa diterka perangainya, kadang langit terang cuaca, riaknya tenang tak berbusa, ombak bertenaga seekor kuda poni; tetapi pada suatu hari, ia berubah perangainya: mengombak keras bagai tenaga seribu ekor kuda jalang membelah hamparan padang prairi, mengelucak setiap yang dilalui dengan tangan-tangan gaibnya, ligat mengguncang perahu dan kapal-kapal, bahkan sungai yang bermuara di lengkung teluk itu akhirnya benar-benar berbalik ke hulu mengirim kembali tailing dan racun tambang sampai bagian sungai yang terjauh, sampai ke sumber air kota Tamberahayat, dan ketika badai reda dan sungai kembali mencari muaranya, racun maut itu telah tersedot ke rumah-rumah warga kota tercinta.

Tak ada yang tahu, kecuali satu kata: wabah...(35)

/Rumahlebah Yogyakarta, Juni 2006-November 2008

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Anzib A. Junianto A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.D. Zubairi A.S. Laksana Abang Eddy Adriansyah Abdi Purmono Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Abdul Kirno Tanda Abdul Wachid B.S. Abdurahman Wahid Abidah el Khalieqy Abiyyu Abu Salman Acep Zamzam Noor Achiar M Permana Ade Ridwan Yandwiputra Adhika Prasetya Adi Marsiela Adi Prasetyo Adreas Anggit W. Adrian Ramdani Afrizal Malna Afthonul Afif Agama Para Bajingan Aguk Irawan Mn Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Agus Utantoro Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Nurhasim Ahmad Sahidah Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajie Najmudin Ajip Rosidi Akbar Ananda Speedgo Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Saefudin Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akhudiat Alan Woods Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alhafiz K Ali Shari'ati Alizar Tanjung Alvi Puspita Alwi Karmena Amarzan Loebis Amien Kamil Amien Wangsitalaja Amiruddin Al Rahab Amirullah Amril Taufiq Gobel Amy Spangler An. Ismanto Andrea Hirata Andy Riza Hidayat Anes Prabu Sadjarwo Anett Tapai Anindita S Thayf Anjrah Lelono Broto Anne Rufaidah Anton Kurnia Anton Suparyanto Anung Wendyartaka Anwar Holid Aprinus Salam Ari Dwijayanthi Arie MP Tamba Arif B. Prasetyo Arif Bagus Prasetyo Arif Hidayat Aris Darmawan Aris Kurniawan Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran Arwan Tuti Artha AS Sumbawi Asarpin Asef Umar Fakhruddin Asep Sambodja Asep Yayat Askolan Lubis Asrul Sani Asvi Marwan Adam Asvi Warman Adam Audifax Awalludin GD Mualif Awaludin Marwan Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Bambang Bujono Bambang Irawan Bambang Kempling Bambang Unjianto Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonnie Triyana Bre Redana Brunel University London Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hatees Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cepi Zaenal Arifin Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chamim Kohari Cucuk Espe D Pujiyono D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damanhuri Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Dantje S Moeis Darju Prasetya Darwin David Krisna Alka Dedy Tri Riyadi Deni Ahmad Fajar Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dian Hartati Dian Sukarno Dicky Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Dodi Ambardi Dody Kristianto Donatus Nador Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dwi Arjanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Khoirotun Nisa’ Dwi Pranoto Dwicipta Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Eko Hendri Saiful Eko Suprianto Emha Ainun Nadjib Endah Sulwesi Endi Haryono Endri Y Enung Sudrajat Erwin Erwin Dariyanto Erwin Setia Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evieta Fadjar F. Aziz Manna Fadjriah Nurdiarsih Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fakhrunnas MA Jabbar Fanani Rahman Farida-Suliadi Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Feby Indirani Felik K. Nesi Fenny Aprilia Festival Sastra Gresik Fikri MS Firdaus Muhammad Firman Nugraha Fuad Nawawi Galang Ari P. Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Gerakan Literasi Nasional Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gunawan Maryanto Guntur Alam Gus tf Sakai Gusti Eka H Marjohan HA. Cholil Mudjirin Hadi Napster Halim HD Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hanik Uswatun Khasanah Hans Pols Hardi Hamzah Haris del Hakim Haris Firdaus Hasan Gauk Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Hawe Setiawan Helwatin Najwa Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Heru Kurniawan Heru Nugroho Hudan Hidayat Hudan Nur Hudel Humaidiy AS Humam S Chudori I.B. Putera Manuaba Ibn Ghifarie Ibnu Rizal Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Idrus Ignas Kleden Ika Karlina Idris Ilham khoiri Ilham Yusardi Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tranggono Indrian Koto Intan Indah Prathiwie Inung AS Iskandar Noe Iskandar P Nugraha Iwan Nurdaya-Djafar Iyut Fitra J.J. Rizal Jacques Derrida Jafar Fakhrurozi Jafar M Sidik Jafar M. Sidik Jaleswari Pramodhawardani Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamrin Abubakar Janual Aidi Javed Paul Syatha Jean Couteau Jean-Marie Gustave Le Clezio Jefri al Malay Jihan Fauziah JJ Rizal JJ. Kusni Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo Joko Pinurbo Jokowi Undercover Jonathan Ziberg Joni Ariadinata Joni Lis Efendi Jual Buku Juli Jumari HS Junaidi Jusuf AN Kang Warsa Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasijanto Sastrodinomo Kasnadi Katrin Bandel Kedung Darma Romansha Keith Foulcher Khansa Arifah Adila Khisna Pabichara Khrisna Pabichara Kirana Kejora Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kristine McKenna Kritik Sastra Kukuh Yudha Karnanta Kurie Suditomo Kurniawan Yunianto Kuswaidi Syafi'ie Kuswinarto L. Ridwan Muljosudarmo Lan Fang Langgeng W Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Leo Kelana Leo Tolstoy Lia Anggia Nasution Linda Christanty Liza Wahyuninto LN Idayanie Lukman Santoso Az Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Abdullah Badri M Aditya M Anta Kusuma M Fadjroel Rachman M. Arman AZ M. Faizi M. Harir Muzakki M. Kanzul Fikri M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S. M. Misbahuddin M. Mushthafa M. Nahdiansyah Abdi M. Raudah Jambak M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Makyun Subuki Maman S Mahayana Marcus Suprihadi Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Maroeli Simbolon S. Sn Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Mashuri Matroni Matroni El-Moezany Mawar Kusuma Max Lane Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Misbahus Surur Miziansyah J. Moh. Samsul Arifin Mohammad Eri Irawan Muhammad Antakusuma Muhammad Firdaus Rahmatullah Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Muhammd Ali Fakih AR Muhidin M. Dahlan Mukhlis Al-Anshor Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Murnierida Pram Musa Asy’arie Mustafa Ismail N. Syamsuddin CH. Haesy Nandang Darana Nara Ahirullah Naskah Teater Nazar Nurdin Nenden Lilis A Nezar Patria Nina Herlina Lubis Ning Elia Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nobel Noor H. Dee Noval Jubbek Novelet Nu’man ‘Zeus’ Anggara Nunik Triana Nur Faizah Nur Wahida Idris Nurcholish Madjid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nuriel Imamah Nurman Hartono Nuruddin Al Indunissy Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Obrolan Oka Rusmini Oktamandjaya Wiguna Olivia Kristinasinaga Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Oyos Saroso H.N. Pandu Jakasurya Parak Seni Parakitri T. Simbolon PDS H.B. Jassin PDS. H.B. Jassin Pembebasan Sastra Pramoedya Ananta Toer Pramoedya Ananta-Toer Pringadi Abdi Surya Pringadi AS Prof. Tamim Pardede sebut Bambang Prosa Proses Kreatif Puisi PuJa Puji Santosa Puput Amiranti N PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Rahmat Hidayat Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ranang Aji S.P. Ranggawarsita Ratih Kumala Ratna Sarumpaet Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Rengga AP Resensi Resistensi Kaum Pergerakan Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Ridwan Munawwar Galuh Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riswan Hidayat Riyadi KS Rodli TL Rofiqi Hasan Rojil Nugroho Bayu Aji Rukardi S Sopian S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sainul Hermawan Sajak Sakinah Annisa Mariz Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sanggar Teater Jerit Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sari Oktafiana Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Sastra Liar Masa Awal Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Selo Soemardjan Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Sevgi Soysal Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siswoyo Sita Planasari A Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitor Situmorang Slamet Hadi Purnomo Sobih Adnan Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sotyati Sri Wintala Achmad St. Sunardi Stefanus P. Elu Stevy Widia Sugi Lanus Sugilanus G. Hartha Suherman Sukardi Rinakit Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Surat Suripto SH Suryadi Suryanto Sastroatmodjo Susianna Susiyo Guntur Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyadi San Syafruddin Hasani Syahruddin El-Fikri Syaiful Amin Syifa Aulia Syu’bah Asa T Agus Khaidir Tasyriq Hifzhillah Tatang Pahat Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Ranusastra Asmara Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tia Setiadi Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tony Herdianto Tosa Poetra Tri Purna Jaya Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulfatin Ch Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Universitas Indonesia Universitas Jember Urwatul Wustqo Usman Arrumy Utami Widowati UU Hamidy Veronika Ninik Vien Dimyati Vino Warsono Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Heriyadi Wahyu Hidayat Wahyu Utomo Walid Syaikhun Wan Anwar Wandi Juhadi Warih Wisatsana Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Budiartha Wayan Supartha Wendoko Wicaksono Adi William Bradley Horton Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Wong Wing King Y. Wibowo Yang Lian Yanuar Yachya Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopie Setia Umbara Yos Rizal Suriaji Yoserizal Zein Yosi M Giri Yudhi Fachrudin Yudhi Herwibowo Yulia Permata Sari Yurnaldi Yusri Fajar Yuval Noah Harari Z. Afif Zacky Khairul Uman Zakki Amali Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae Zhou Fuyuan Zul Afrita