Langsung ke konten utama

Belati

Noval Jubbek
http://sastra-indonesia.com/

“kalau kau hendak bertandang, bawalah belati yang kau janjikan pada hari kamis atau ahir pekan”

mungkin, tak ada yang pernah tahu seperti apa pemburuan yang terjadi dalam lingkaran dingin seperti ini. termasuk aku yang selalu saja membiarkan rasa pasrah itu berlari lebih dulu, mendahului apa saja. tangan yang tak sampai satu meter, kaki yang mulai kaku dan mata yang memandang tak lebih dari ujung marka.

“aku membawa belati yang masihlah basah, nona!”

belati yang pernah bersarang di perut bapakku, tetap menyimpan bau anyir. meski kembang tujuh rupa dari segala macam ujung kuburan paling angker aku kumpulkan, dan dicampurkan pada air yang ditimba dari ceruk tujuh sumur paling keramat aku siramkan sebagai tumbal. kilatnya yang samar masih perih.

“bagaimana aku bisa tau dan percaya bahwa belati ini masih basah, niman?”

“dengarkan saja detak jantungnya, nona”

“hah, kau sudah gila?”

“bolehlah kau berkata begitu, sebab masih banyak pemaklumanku pada yang belum membuktikan”

pada gagang yang berbentuk punuk unta, atau yang lebih mirip kepala manusia purba itu, ada detak yang teratur. seperti bunyi yang keluar dari tubuh jam pada dinding kamarku. pada malam-malam hening diselingi dengan suara lolong anjing yang membuat suasana semakin nampak cekam. detak itu akan keluar dari gagang belati dengan susah payah. entah semacam lintah atau cacing merayap melalui ujung jari manis menjalar menuju telapak tangan dan masuk pada tubuh nadiku.

maka, setiap pagi akan ada tubuh yang segar kembali. dan jika kau akan bertanya apakah detak itu masih bersemayam dalam diriku pagi ini, aku tak bisa menjawab. sebab setiap kali detak itu menyusup, aku seperti terhipnotis dan tertidur, atau semacam mabuk yang menahan muntah, hanya bisa mengeluarkan liur.

“lalu bagaimana kau bisa mengatakan tubuh segarmu bersebab dari detak belati itu, niman?”

“lihatlah, bekas luka pada pergelangan tanganku, nona!”

mungkin, pada malam penyusupan itu ada perombakan besar-besaran pada organ tubuhku. pohon akasia dan beringin yang tumbuh di dalam dadaku dipangkas dengan rapih membentuk dinosaurus seperti dalam filem-filem. rumput liar dicabuti lalu di ganti dengan rumput taman yang hijau dan rata semacam permadani, tapi aku sarankan kau tak mulai tergoda dengan kata-kata. sebab masih tersisa dan mungkin lebih banyak keliaran dalam hijau itu. telapak kakkiku diganti dengan kaki kuda. seperti pada dongeng rakyat madura tentang peri yang berkaki kuda, berparas cantik dan tampan, namun sungguh mengerikan. sedang otakku diamplas sampai licin dan mengkilat. bahkan tiap lekukannya tak tumbuh lagi lumut dan karang. tapi sekali lagi kau tak boleh mudah percaya akan hal yang mengkilat itu.

” sekarang apa maumu, niman?”

“aku hanya ingin kau percaya dan menerima belati ini, nona!”

“tapi, pada penejlasanmu tadi kau memintaku tak percaya padamu”

“itu hanya sekedar nasehat, mungkin, agar kau tak lupa padaku, nona!”

“kau punya alasan lain, niman?”

“tidak, selain karena aku mencintai kau dan anak-anakku”

***

hari kamis, tanggal tigabelas, bulan enam, tahun duaribu. belati yang aku temukan dari dalam goa tiga tahun lalu telah aku hujamkan pada perut bapakku. oleh karena terjadi perselisihan dalam perut yang menjerit-jerit dan tersebab bapakku tak mau lagi membakar tungku pada punggungku yang telah basah oleh airmata.

malang.2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Indah dalam Buruk Rupa Dunia

Judul Buku : Cala Ibi
Penulis : Nukila Amal
Penerbit : Pena Gaia Klasik
Cetakan Pertama : April 2003
Tebal : 271 Halaman
Peresensi: Askolan Lubis
http://www.sinarharapan.co.id/

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Maia dalam fragmen terakhir (Surat dan Tanda Terakhir) dari novel Cala Ibi yang ditulis Nukila Amal ini.

Kalimat tersebut seolah hendak menegaskan tantang keberadaan karya ini: di tengah centang perenang realitas keseharian yang menyesakkan, Cala Ibi datang menyenandungkan irama lain yang teramat indah, namun acapkali dianggap tidak penting, yaitu mimpi.

Dengan memberi judul Cala Ibi (Naga)—yang tak lain adalah nama hewan agung lambang para kaisar Cina—pada novel ini, Nukila tampaknya hendak memberi tempat terhormat pada dunia bernama ”mimpi”.
Bagaimana tidak? Naga adalah hewan yang diyakini adanya, tapi tak seorangpun yang bisa memastikan atau melihat wujudnya.

Anehnya lagi, ia bukan sejenis reptil, tapi seperti ular. Bukan burung tapi bersayap dan bisa terbang. Bukan ikan, tapi bers…

POTRET MANUSIA MARJINAL DALAM CERPEN-CERPEN JONI ARIADINATA*

Maman S. Mahayana**)
http://mahayana-mahadewa.com/

00. Sastra adalah dunia yang serba mungkin; apapun bisa jadi mungkin (probability), termasuk di dalamnya, yang mustahil pun bisa saja menjadi mungkin. Jadi, dalam keser-bamungkinan atau kemustahilan itu, berbagai peristiwa yang mungkin dan yang mustahil, bisa saja terjadi sekali-sekali, gonta-ganti atau serempak secara tumpang-tindih. Oleh karena itu, salah satu kekhasan karya sastra (fiksi) yang sering dimanfaatkan untuk mem-bedakannya dengan karya nonfiksi adalah adanya kebolehjadian (plausibility) itu. Itulah sastra! Ia bisa menampilkan dunia yang realistik dan masuk akal secara meyakinkan. Na-mun, ia juga dapat menampilkan hal yang sebaliknya. Di sana, mungkin ada dunia jung-kir-balik, irasional, dan amburadul. Semua boleh saja terjadi, dan itu sah! Tidak ada rumus yang pasti yang berlaku universal. Selalu saja ada yang khas, unik, dan nyeleneh. Selalu ada saja kekhasan individual, meskipun ciri atau sifat-sifatnya, mungkin berlaku …

Sastra Indonesia Mutakhir: Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya

Jamal T. Suryanata
http://tuasmedia-2.blogspot.com/

/ 1 /

Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko. Di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian “sastra Indonesia” itu sendiri, juga dilantarankan oleh ketakrifan istilah “mutakhir” yang digunakan dalam judul tulisan ini memang cenderung bermakna bias (baca: bersifat deiktis).