Mudik Primordial

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Jutaan orang kini mempertaruhkan hidupnya di kota. Dan jutaan pula yang kembali ke kampung asal ketika menjelang Lebaran. Sebagian besar pulang karena kemauan sendiri, rindu sanak keluarga dan rumah tempat dia dilahirkan. Sebagian karena ada yang diminta oleh keluarganya untuk pulang atau kembali, berkumpul bersama-sama sambil merayakan hari raya Idul Fitri dengan suka cita.

Tak heran jika mudik jadi tradisi paling menyita perhatian di Indonesia. Dari musik sampai puisi terdapat tema mudik. Dari cerita sampai berita dipenuhi oleh tema mudik. Dan rumah tidak lagi bermakna sesuatu yang hanya fisik, tapi sesuatu yang religius.

Dari sisi agama, rumah adalah tempat kembali. Dalam Kitab Suci, al-Qur’an misalnya, cukup banyak menggambarkan persoalan reantau atau hijrah, pulang dan rumah. Ada rumah Allah (bayt-al Allah) atau bayt-al-Ma’mur, rumah yang dituju. Semuanya menunjukkan makna pencarian dan kembali dalam arti fisik sekaligus batin. Idul Fitri disebut sebagai hari raya untuk meraih kesucian kembali. Kembali menjadi suci lagi setelah diri ternodai.

Idul Fitri juga bisa disebut momen nostalgis, sebuah hari untuk mengingat ikrar dan perjanjian dengan yang Mahasuci. Segala kenangan di rumah dan di kampung halaman atau di perut ibunda, yang telah kita tinggalkan, ingin kita raih kembali, ingin kita datangi kembali. Tak heran jika hanya sedikit orang di negeri ini yang tidak melakukan mudik saat Lebaran, sementara sebagian besar berbondong-bondong untuk bisa pulang ke tanah kelahiran, sekalipun yang ingin didatangi hanya rumah bambu beratapkan ilalang dan berdindingkan geribik, seperti dalam lagu Rumah Kita Ahmad Albar.

Memang ada yang kenes dan nenes di situ. Ada sesuatu yang terasa rutin dan karena itu kehilangan kedalaman di situ. Tapi apa boleh buat, kita bukan tanpa masalalu. Kita tidak lahir dalam rumah yang vakum. Karena itu, pulang dan kembali adalah bagian sah dari sebuah perjalanan. Tapi terlampau mengingat rumah dan masalalu juga, akan membelenggu ruang gerak kita sendiri. Karena itu, sikap yang jumawa adalah menerima kehilangan masa lalu dengan lapang dada.

Tanpa itu maka konflik antara masa lalu dan masa kini akan terus mewarnai perjalanan hidup kita. Memang, untuk sebagian orang ada yang sengaja mempertahankan konflik batin tersebut. Sengaja memupuk tarik-ulur antara dua dunia tersebut. Terutama di kalangan seniman. Tapi ada yang tak betah hidup dalam tarik-menarik semacam itu. Ia ingin segera membunuh yang satu dan demi menyemarakkan yang satu.

Sastra dan agama cukup banyak memberi teladan soal itu, juga pilihan-pilihan yang mestiu diambil atau tak hendak diambil. Yang jelas kita tak bisa menolak dua dunia itu, ia kenyataan yang akan selalu memergoki kita. Kita bisa saja memberi porsi lebih tinggi pada yang satu atau lebih rendah pada yang satunya, tapi ia kenyataan sejarah yang tak mungkin sepenuhnya bisa ditampik. Dualisme itu memang ada dan menjadi bagian dari hidup.

Kita tidak sedang bicara soal rumah papan atau rumah tembok, atau rumah semi permanen. Kita sedang bicara soal rumah sejarah. Sebuah tempat, sebuah identitas, bahkan sebuah kosmos. Demikian pula ketika bicara soal rantau atau hijrah; kita sedang memperkarakan sebuah pergolakan, perasaan, emosi, jatidiri, hakikatdiri, bahkan hargadiri. Semua itu syarat konflik, baik konflik fisik maupun konflik batin.

Ada cerita nyata soal kebijakan mudik di negeri ini. Pada suatu hari raya pemerintah—terutama aparat kepolisian—mengeluarkan ketentuan agar pemudik dilarang mudik membawa kendaraan roda dua dengan membawa anak dan istri serta barang-barang dalam satu motor. Hal ini terlampau berisiko. Seorang pemudik tetap saja nekat. Satu-dua orang juga nekat. Bahkan cukup banyak yang memaksakan mudik dengan melanggar ketentuan yang dikeluarkan kepolisian.

Di sebuah perjalanan ada razia kendaraan bermotor. Seorang pemudik terkena razia dan ditanya oleh polisi mengapa memaksakan diri mudik dengan membawa anak-istri dan barang-barang di atas motor. Si pemudik tak mau kalah jawab: ”Kalau saya mampu Pak, kami sekeluarga mudik dengan naik pesawat! Kami tahu risiko mudik dengan motor, apalagi penuh muatan seperti ini, tapi ini yang kami punya! Kalau tidak sini kan uang kami mudik naik pesawat! Kami mudik dengan motor semacam ini karena nanti kalau di kampung motor bisa kami pakai ke sana ke mari, untuk kendaraan berkunjung ke rumah pamiliki, teman. Kalau kami pulang naik kendaraan umum, ketika Lebaran di kampung kami hanya gigit jari. Kami tak bisa persiran ke mana-mana karena tak ada kendaraan pribadi!”

Polisi itu diam dan menyuruh si pemudik melanjutkan perjalanan. Tentu setelah memberi saran agar si pemudik berhati-hati. Si pemudik tampak begitu puas, merasa menang berdebat dengan polisi.

Itulah fenomena yang terjadi di negeri kita. Orang akan memaksakan mudik sekalipun ada aturan formal yang mencegahnya. Dengan kata lain, mudik tak bisa dicegah. Saya sendiri punya pengalaman yang cukup banyak soal mudik. Saya pernah jatuh dari motor ketika mudik. Saya pernah mengalami tabrakan dengan kendaraan motor yang berlawanan arah ketika mudik dengan motor juga. Sungguh, tak bahagianya bila seorang pemudik yang karam dalam perjalanan pulang menuju kampung halaman. Betapa kecewa ia ketika tidak sampai di rumahnya dan harus mendekam di rumah sakit saat orang merayakan hari Raya Idul Fitri.

Kita tak ingin jadi pemudik yang tak sampai pada pencarian yang kita impikan, karena kita manusia yang membawa sifat ”rindu-rupa rindu rasa”, kata Amir Hamzah. Kita memang manusia yang cengeng. Baru sehari kita tinggalkan rumah dan kampung halaman sudah rindu menggebu. Hanya orang-orang tertentu yang betah jadi manusia rantau, manusia hijrah, selamanya. Kendati begitu, perasaan rindu terhadap rumah, keluarga, kampung halaman, tentu saja tak sepenuhnya bisa disirnakan.

Apa sesungguhnya hakikat mudik itu hingga setiap tahun kita menyaksikan jutaan manusia Indonesia menjalaninya. Ribuan jawaban dan alasan bisa kita cari pembenarannya. Mudik bisa dilihat secara individual, sosial, atau bisa dibaca dalam kerangka antropologi, fenomenologi, sosiologi, psikologi, filsafat, puisi, prosa, dan banyak lagi. Bagi kaum sufi makna mudik tentu berbeda bagi kaum pemuja syariat.

Saya teringat sebuah kisah tentang al-Hallaj. Dalam kitabnya dengan judul sangat simbolik, Ta-Sin (atau Tawasin), ia menamakan perjalanan menuju Tuhan sebagai lingkaran “titik primordial”. Dalam penjelasannya, titik primordial tersebut digambarkan sebagai sumber sekaligus muara kehidupan manusia, yang tak pernah bertambah atau berkurang. Tidak pula habis-kikis dengan sendirinya, karena pencarian tak pernah selesai, terus mengulang dan berputar dalam lingkaran primordial yang sama. Dosa yang pernah datang mendekat, akan terkikis, sambil mencari ia datang kembali, berhamburan ia pergi, menggairahkan ia hadir, menjauh ia terbang, sambil mencari ia datang, dari ketakjuban, ia bergegas, sambil bermaaf-maafan ia lebur, dan seterusnya, dan seterusnya.

Lingkaran primordial itu dilukiskan al-Hallaj dalam bentuk simbol tanda baca titik yang membentuk lingkaran yang tak putus-putusnya, terus berulang, belum sudah, dan berulang kembali. Dalam bahasa ibu saya, fenomena ini diistilahkan sebagai olok mulang; yang dekat dengan pemaknaan arus balik dari darat ke laut dalam roman tebal Pramoedya Ananta Toer.

Adalah menarik ketika makna mudik primordial itu juga diapresiasi oleh sastrawan peraih Nobel Sastra di bidang kepenulisan puisi, Octavia Paz, dalam karyanya The Other Voice (Suara Lain). Ia melukiskan perjalanan puisi modern ibarat perjalanan sejarah kemanusiaan yang mencari kepenuhan martabatnya dengan semangat menghadirkan kembali asal primordial: perjalanan bolak-balik ke kala mula, sebelum ketidakadilan lahir, ke kurun sebelum munculnya kesenjangan, perselisihan, ke mudian menyusuri waktu kini dan ke masa depan, terus-menerus mencari persilangan waktu, memusar ke satu titik, pertemuan yang melebur kala silam, kini dan kelak.

Kembali ke dalam konteks mudik primordial, setipa pemudik merindukan asal primordial. Ketika si pemudik telah sampai ke rumah primordial, ia ibarat telah sampai ke kampung halaman. Kemudian ia akan bergegas memenuhi panggilan-Nya; mula-mula membersihkan diri, mandi, bersalin, menanggalkan baju yang berpeluh keringat saat di perjalanan dan menggantinya dengan baju yang bersih untuk menyambut panggilan takbir dan tahmid dengan harapan agar mudik fisiknya bisa dibalas Tuhan.

Penyair yang mencari rumah sejarah akan mencari kepenuhan dirinya lewat apa saja. Ada yang lewat agama dan ada pula lewat sastra. Tatkala ia mengamati kisaran air, atau ombak suak ujung kalak, ia akan terinspirasi dan menulis puisi. Ketika ia sedang mandi di kali dan terperangkap alimbubu, ia membayangkan pusaran waktu, lalu lahirlah puisi.

Menghayati mudik primordial dalam puisi-puisi penyair kita sungguh tak ternilai harganya. Mereka jarang menampilkan identitas atau rasa kedaerahan yang sempit, sebagaimana banyak dikhawatirkan oleh para kritikus. Tak ada manusia suku Chandala dan Arya dalam puisi-puisi penyair kita yang bicara tentang rumah dan identitas. Tak pernah saya temukan adanya semangat etno-nasionalisme sebagaimana dalam karya-karya sastra Amerika Latin, yang dikhawatirkan para kritikus ketika penyair kita gandrung kembali ke asal, ke akar, ke alam lokal dan tanah air.

Penyair kita hanya kembali ke dalam pencarian kedalaman di pedalaman, yang walau meniscayakan keterbatasan karena itu memang bahasa ruang, namun lebih baik ketimbang melanglang-buana di negeri-negeri mancanegara tapi tak menghasilkan karya yang sebanding dengan jauhnya perjalanan kecuali hanya beberapa catatan perjalanan yang dangkal.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/

Komentar