Langsung ke konten utama

Setelah Lebaran

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

SEPULUH tahun yang lalu Bariah masih mencoba mudik tiap mau lebaran, ikut berdesakan dan reboh bawa oleh-oleh. Tapi saat sampai di rumah dan tidak kebagian kamar, karena kamar depan dipakai Kang Barjan dan anak-istri, kamar tengah dipakai Kang Barjun dan anak-istri, dan di dapur dipasang amben untuk Ayah yang sakit-sakitan, maka Bariah memutuskan tak akan pulang berlebaran, seperti pada hari lebaran 10 September yang lalu.

Terlebih saat tiga bulan sebelum lebaran, Ayah meninggal dan rumah keluarga diparuh, sementara Bariah hanya diwaris ladang samping yang dianggap pantas untuk tempat membangun rumah. Sakit hati mendengar omongan Kang Barjan, yang bilang, “Kamu punya penghasilan jadi bisa nyicil mbangun rumah.” Sakit oleh rasa enggan mereka ketika merespon kepulangannya ketika itu, yang dianggap seakan-akan (Bariah) ingin menumpang tinggal selamanya. Ketika Kang Barjan menyuruh menginap di Kang Barjun, dan Kang Barjun menganjurkan menginap di Kang Barjan, sehingga Bariah memilih tidur di bulik Karsih.

Ke mana, dalam empat belas tahun beruntun, Bariah selalu datang kalau pulang kampung. Sampai akhirnya Bariah memilih pindah ke P, kerja sebagai guru tidak tetap dan kos di sana, pulang sembarang waktu serta di hari yang sama kembali dari kampung. Nanti. Karena pada tujuh tahun terakhir Bariah hanya bisa tiarap sebagai yang tidak punya apa-apa, saat intens mengaduh dalam berziarah ke makam Ibu dan Ayah, saat tak bisa tidak harus memperbaharui KTP di desa, serta terpaksa tak bisa tidak kembali kerja di kota. Balik ke trek impian dengan banyak menahan perasaan serta keinginan, senantiasa berhemat, dan menabung sebanyak mungkin. Hal yang dimungkinkan oleh menumpang hidup dan kerja full sepanjang waktu di rumah orang lain.

Mbabu. Ya! Begitu lulus SMP, tujuh bulan sebelumnya Ibu meninggal: Bariah memilih menjadi pembantu di Jakarta, karena di kampung cuma jadi beban Ayah, jadi buruh tani di sawah, dan selebihnya nganggur. Melesat ke rumah orang lain, bekerja setengah menghamba agar disukai dan terpakai terus, karena Nariah ingin bersekolah di SMA dan kuliah, agar bisa jadi guru. Berbesar jiwa menjadi si yang disuruh ini-itu setiap saat bila si bos berada di rumah, jadi yang mengerjakan ini-itu bila si bos ada di kantor dan pulang dengan kepuasaan rumah bersih.

Ya! Ya! Tapi Bariah punya kamar khusus, dijamin makan-minum, dan boleh liburan, kemudian hari Sabtu-Minggu itu jadi momentum ikut Kejar paket C. Ya! Sambil gaji aman masuk rekening. Yang satu saat, setelah jadi guru, akan bisa dipakai membangun rumah sendiri.

* * *

“KAMU serius tak pulang berlebaran, tahun ini Bariah?” kata bos Nandang, asal Garut, yang kedua di rentangan sepuluh tahun. Bariah mengangguk, bilang kalau di kampung sudah tak ada Ayah dan Ibu lagi.

“Memang masih ada kakak, tapi tak enak didatangi karena mereka selalu curiga saya menggugat rumah warisan yang dibagi berdua. Jadi saya selalu memilih mudik setelah lebaran saja. Terasa lebih enak mudik saat lebaran usai, sehingga bisa nginap di rumah saudara lain yang kosong karena keluarga mereka itu sudah balik ke Jakarta, Bandung atau Surabaya,” kata Bariah, tersipu dan tersenyum.

Bos Nandang tersenyum. Puas karena rumahnya akan ada yang menjaga. Dan Bariah dikasih uang lembur, jatah makan seminggu, dan ditinggalkan mudik. Bahkan tiga tetangga di kiri-kanan dan di depan rumah, kemudian jadi lima rumah karena ada ditambah dua rumah lagi di sebelahnya, menitipkan rumah mereka, agar ditiliki serta dibersihkan ketika ditinggal mudik. Enteng karena, minimal hanya menghidupkan dan mematikan lampu, membuka dan menutup tirai, dan menyirami tanaman. Lima bulan kemudian, saat ongkos normal, angkutan tidak berjejal, dan harga oleh-oleh normal,tanpa perlu mejeng berbaju baru, baru pulang kampung. Ketemu saudara dan kerabat, mengaduh sambil ziarah di makam Ayah dan Ibu, dan kembali ke Jakarta. “Ajak adikmu, Bariah.”

“Tapi lik, aku nggak dipesan mencari pembantu. Lagi pula bos di tempatku tidak mengizinkan pembantu pulang saat lebaran,saat mereka sangat butuh tenaga kita,”

“Dasar medit. Pelit!” “Iya, lik. Kecuali,” “Kecuali apa?” “Sekedar latihan cari pengalaman sebelum ke Arab,” Mereka menjebi. Bariah sendiri sebenarnya ingin ikut jadi TKW ke Arab, atau cuma ke Hong-Kong, Singapura atau Malaysia. Tiga atau enam tahun kontrak. Tapi Bariah bimbang dengan cara menyimpan gaji.

Apa diamankan masuk ke rekening? Tapi bila begitu, saat habis kontrak dan pulang kampung: apa tak akan digrecoki tiga ponakan dan empat orang tuanya, yang munafik demi receh mau menerima kepulangannya itu?

Mungkin mereka malah ringan minta dikirim duit untuk mbangun rumah tapi itu tidak dibelanjakan sebab tak merasa perlu membangun rumah, seperti Amrina, yang pulang dan stress karena kiriman gaji tak jadi apa-apa. Ya! Padahal Bariah kepingin sekolah di SMA, lalu berkuliah dan lulus sebagai sarjana pendidikan yang berhak jadi guru,dan seterusnya. Ya! Nanti, nun.

* * *

KARENA itu, sesuai dengan petunjuk dan arahan bos Nandang, pas tiga tahun setelah Ayah meninggal: Bariah ikut program Kejar Paket C, yang diselesaikannya dalam empat tahun. Lalu ikut kuliah UT ambil Pendidikan Bahasa Indonesia, dan baru lulus setelah tujuh tahun, saat Bariah ikut bos Markum, yang asli Tegal. Pada usia tiga puluh empat Bariah pamit pada bos Markum, dan nekad ngekos di Ponorogo, selatan Dolopo,tempat asalnya, buat jadi guru tidak tetap. Ikut tes PNS, dan lulus sebagai guru PNS setelah empat kali ikut tes. Senang saat tetap ditempatkan di Ponorogo, mengajar di SMP Slahung, di pelosok. Tinggal (kos) sendiri, hidup apa adanya, dan senantiasa menyisihkan sebagian besar gajinya untuk cita-cita murni tunggal: membangun rumah dengan uang sendiri.

Nun di sana. Di mana Bariah bisa tenang mengurung diri, mengenang semua lelakon, dan senantiasa berdoa bagi Ayah dan Ibu sehabis shalat. Dan mungkin juga berharap akan didatangi jodoh dan kekal dalam perkawinan yang berorientasi kepada mempunyai anak dan membesarkan anak. Nun.

Dan sesekali pulang kampung, untuk berziarah dan bertemu sanak saudara, dan kembali di hari yang sama ke kesendirian. Nun di sana. Hidup dalam pengabdian dengan banyak menabung. Meski tabungan itu tidak jadi apa-apa, dan cuma jadi warisan yang dibagikan di antara Kang Barjan serta Kang Barjun, ketika Bariah kontan menunaikan kewajiban hidup, dan selesai sebagai manusia di usia lima puluh tahun. Mati dan dikuburkan di pemakaman di bawah naungan bambu,yang senantiasa berdesau saat angin lewat, melintasi palung sungai dengan gemercik air yang lembut menghilir saat kemarau tinggi. Berbaring di antara entah siapa, dan dikuburkan oleh si entah siapa, tapi bersungguh-sungguh ketika memakamkannya karena mereka merasa dipintarkan atau anaknya dipintarkan olehnya di SMP pelosok itu. Meski yang selalu diceritakan kepada mereka tak selalu masalah bahasa Indonesia, tapi semangat jangan menyerah selama masih hidup dan punya cita-cita,dengan cerita bagaimana Bariah jadi sarjana dan guru dengan mbabu. “Jangan lihat apa pekerjaananya, jangan lihat mulia atau hinanya pekerjaan itu, tapi,lihatlah sejauh mana pekerjaan itu memberi uang kepadamu, sehingga kita bisa berhemat dan memanpaatkannya untuk meraih ilmu dan kesemnpatan yang lebih baik. Jangan hargai apa pangkat dan pekerjaannya tapi hargailah setiap upaya orang untuk memperoleh penghasilan halal dan tidak tergantung belas kasihan orang lain.” kata Bariah, kalimat yang seperti bergaung mengiang saat setiap lebaran banyak dari bekas murid datang berziarah, bertemu dan bersalaman, lantas bersepakat berdoa bersama di kuburannya.

Di sana, padahal mereka itu cuma si entah siapa. Dan sesekali anak-anak bos Nandang dan bos Markum, yang Bariah asuh itu datang berkunjung dan berdoa, sementara itu kedua kakak, kakak ipar, dan lima keponakannya tak pernah mampir.

* * *

DALAM tajam aroma kemenyan, suara desau daun bambu dan gema gemuruh arus air saat penghujan tiba itu seperti mengajak buat tetap tinggal di Bumi dan kekal sebagai mahluk Bumi. Tapi Bariah tidak bisa berlama-lama karena harus kembali ke kesunyian (sendiri) sebelum masa kebangkitan itu tiba dan semua berjalan memasuki ruang dacin perhitungan,serta pelan menyeberangi titian tipis baik-buruk, langsung memasuki hisab dan kekekalan siksa atau anugerah. Nanti. Tempat di mana pulang tak berkaitan dengan tempat asal, rumah di mana kita dilahirkan dan dibesarkan, serta waktu di mana kita dimatangkan kasih sayang dan keimanan agar tegar mengembara ke seluruh pelosok. Nun, nanti. Saat pulang hanya diperhubungkan dengan apa yang telah kita perbuat selama berkeliaran di muka Bumi. Nanti, nun di belum terbayangkan. ***

Catatan:
reboh : repot dengan bawaan berlebihan di kedua tangan
amben : ranjang bambu
mbangun : membuat dan mendirikan rumah
mbabu : bekerja sebagai pembantu
ditiliki : selalu dikontrol dan dicek

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Indah dalam Buruk Rupa Dunia

Judul Buku : Cala Ibi
Penulis : Nukila Amal
Penerbit : Pena Gaia Klasik
Cetakan Pertama : April 2003
Tebal : 271 Halaman
Peresensi: Askolan Lubis
http://www.sinarharapan.co.id/

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Maia dalam fragmen terakhir (Surat dan Tanda Terakhir) dari novel Cala Ibi yang ditulis Nukila Amal ini.

Kalimat tersebut seolah hendak menegaskan tantang keberadaan karya ini: di tengah centang perenang realitas keseharian yang menyesakkan, Cala Ibi datang menyenandungkan irama lain yang teramat indah, namun acapkali dianggap tidak penting, yaitu mimpi.

Dengan memberi judul Cala Ibi (Naga)—yang tak lain adalah nama hewan agung lambang para kaisar Cina—pada novel ini, Nukila tampaknya hendak memberi tempat terhormat pada dunia bernama ”mimpi”.
Bagaimana tidak? Naga adalah hewan yang diyakini adanya, tapi tak seorangpun yang bisa memastikan atau melihat wujudnya.

Anehnya lagi, ia bukan sejenis reptil, tapi seperti ular. Bukan burung tapi bersayap dan bisa terbang. Bukan ikan, tapi bers…

POTRET MANUSIA MARJINAL DALAM CERPEN-CERPEN JONI ARIADINATA*

Maman S. Mahayana**)
http://mahayana-mahadewa.com/

00. Sastra adalah dunia yang serba mungkin; apapun bisa jadi mungkin (probability), termasuk di dalamnya, yang mustahil pun bisa saja menjadi mungkin. Jadi, dalam keser-bamungkinan atau kemustahilan itu, berbagai peristiwa yang mungkin dan yang mustahil, bisa saja terjadi sekali-sekali, gonta-ganti atau serempak secara tumpang-tindih. Oleh karena itu, salah satu kekhasan karya sastra (fiksi) yang sering dimanfaatkan untuk mem-bedakannya dengan karya nonfiksi adalah adanya kebolehjadian (plausibility) itu. Itulah sastra! Ia bisa menampilkan dunia yang realistik dan masuk akal secara meyakinkan. Na-mun, ia juga dapat menampilkan hal yang sebaliknya. Di sana, mungkin ada dunia jung-kir-balik, irasional, dan amburadul. Semua boleh saja terjadi, dan itu sah! Tidak ada rumus yang pasti yang berlaku universal. Selalu saja ada yang khas, unik, dan nyeleneh. Selalu ada saja kekhasan individual, meskipun ciri atau sifat-sifatnya, mungkin berlaku …

Sastra Indonesia Mutakhir: Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya

Jamal T. Suryanata
http://tuasmedia-2.blogspot.com/

/ 1 /

Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko. Di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian “sastra Indonesia” itu sendiri, juga dilantarankan oleh ketakrifan istilah “mutakhir” yang digunakan dalam judul tulisan ini memang cenderung bermakna bias (baca: bersifat deiktis).