Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2011

Jalaluddin Rumi Lahir di Banyuwangi*

Anett Tapai
http://sastra-indonesia.com/

Sajak-sajak (puisi) dalam antologi ini adalah sajak kehidupan. Seperti halnya sastra itu sendiri yang diciptakan oleh kehidupan, maka sastra adalah gambaran kehidupan. Di sini ada kehidupan orang kaya, ada pula kehidupan orang miskin, ada kehidupan orang yang suka mengumpulkan harta saja, ada juga kehidupan orang baik. Yang lebih menarik adalah ada kehidupan orang kota dengan segala gayanya, dan ada pula kehidupan manusia yang penuh dengan kekurangannya.

Jika dipahami secara keseluruhan, antologi ini ibarat miniatur kecil dunia. Segala kajadian terekam dengan baik dalam buku ini. Maka pantas jika saya katakan, membaca buku ini adalah membaca muka dunia. Seperti juga saya melihat muka saya sendiri pada cermin.

Penyair merekam semua itu dalam sebuah kata-kata dan kalimat sehingga bisa dinikmati dengan nuansa yang berbeda. Tetapi, maknanya sangat menusuk. Katajamannya menggambarkan keadaan dunia, membuat penyair seperti seorang fotografer yang sel…

Masih Dihuni Muka Lama

Risang Anom Pujayanto
http://www.surabayapost.co.id/

”Sebagian besar sastrawan Surabaya dihasilkan dari lomba baca puisi, tapi lomba baca puisi 2009 kemarin seperti tidak ada yang bisa diharapkan untuk memunculkan nama baru di kancah kesusastraan daerah maupun nasional,” kata Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Sabrot D Malioboro saat memberikan sambutannya di acara Malam Sastra Surabaya (Malsasa) 2009, di pendapa Taman Budaya-Jatim (29/12). Malsasa 2009 diharapkan dapat kembali memotivasi geliat kesusastraan Surabaya ke depan, lanjutnya.

Seperti Malsasa 2007 yang bertajuk ’Surabaya 714’, Malsasa 2009 juga menggelarpentaskan puisi dan geguritan. Hanya saja cerita pendek (cerpen) atau cerita cekak (cerkak) tidak kembali ditampilkan. Ini bukan menjadi masalah karena konsep awal Malsasa yang dilakukan sejak tahun 1989 memang adalah sekumpulan penyair untuk turut berpartisipasi merayakan hari jadi kota pahlawan. Dengan versi khas penyair, mereka menulis dan membacakan puisi.

Khusus Malsa…

Negeri Fabel

Samsudin Adlawi
http://www.jawapos.co.id/

SUDAH banyak sebutan untuk negeri ini. Sampai-sampai sulit mengingatnya. Memperhatikan fenomena akhir-akhir ini, julukan terbaru yang juga layak disandang negeri tercinta ini adalah negeri fabel. Fabel diambil dari bahasa Belanda. Yakni, cerita yang menggunakan hewan sebagai tokoh utamanya. Misalnya, cerita Kancil dan Tantri yang cukup populer di kalangan anak-anak Indonesia sejak dulu sampai sekarang.

Kisah fabel dianggap paling menarik bagi pembaca. Karena itulah, banyak sekali penulis prosa yang memanfaatkan kehebatan dan karakter hewan sebagai tokoh utama dalam karyanya. Pengarang fabel terkemuka di dunia adalah Michael de La Fontaine dari Prancis. Fariduddin Attar dari Persia juga tidak kalah hebatnya. Karya fabel penyair sufi itu yang cukup mashur berjudul Musyawarah Burung (MB). MB sudah diterjemahkan ke banyak bahasa di dunia, termasuk bahasa Indonesia.

Belakangan, aura fabelitas di negeri ini sangat terasa. Bukan hanya mengejawantah d…

Syahadat Sosial: Rekomendasi Revitalisasi Pemikiran Keagamaan

Hasnan Bachtiar
http://sastra-indonesia.com/

SYAHADAT sosial adalah hal yang baru, kendati tidak benar-benar baru di hadapan pengetahuan. Teori baru, selalu bersifat historis, memiliki konteks yang spesial dengan semangat zaman yang menerangi. Entah berwarna cerah maupun redup dalam perwujudannya sebagai wacana ataupun pengetahuan praktis.

Wacana ini, terutama di dalam Islam, pernah menjadi teori-teori mutakhir. Sebenarnya sebagai wacana liar, tidak perlu susah payah mendeklarasikan sebagai teori dalam satu rangkaian epistemologis yang otentik. Kiranya lebih adil, kalau menyebut pemikiran-pemikiran pendahulu sebagai inspirasi kelahiran ke-baru-an.

Dari beberapa pemikiran, sebut saja tauhid sosial, teologi transformatif, ilmu sosial profetik, pribumisasi Islam dan lain sebagainya, telah menjadi arus lain, di samping pemikiran lama yang telah mapan.

Teori-teori ini bukan a historis. Sekali lagi, sinaran zaman yang paling nyata, menghendaki adanya pemikiran yang lebih baru dari sebelumny…

Sejarah Pers: Kata “Merdeka” Pertama Terbit di Medan

Andy Riza Hidayat
Kompas, 12 Sep 2008

JAUH sebelum proklamasi kemerdekaan republik ini, kata ”merdeka” sudah menjadi slogan sebuah koran di Medan, Sumatera Utara. Belum ada satu koran pun yang berani menyatakan slogan kemerdekaan saat itu. Namun, Benih Merdeka sudah memulainya di Medan tahun 1916.

Kata ”merdeka” bahkan menjadi nama surat kabar harian yang pada awal penerbitannya dipimpin Mohammad Samin. Benih Merdeka bukan saja nama sebuah koran, melainkan juga menjadi awal tersebarnya semangat pembebasan dari belenggu penjajah.

Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari mengatakan, Benih Merdeka menjadi pelopor penanaman ideologi kemerdekaan kepada pembacanya sebelum proklamasi.

Dari hasil penelitiannya, periode 1885-1942 terdapat 133 media cetak terbit di Sumut. Hanya Benih Merdeka yang dengan tegas mencantumkan kata ”merdeka”. Terbitnya Benih Merdeka di Medan sekaligus membuktikan sejarah perlawanan penjajahan tidak terpusat …

Revolusi Tiongkok 1949

Alan Woods
Diterjemahkan Pandu Jakasurya
dari “The Chinese Revolution of 1949 – Part One”, Alan Woods, 1 Oktober 2009.

Bagi kaum Marxis, Revolusi Tiongkok adalah peristiwa terbesar kedua dalam sejarah umat manusia, yang kebesarannya hanya dapat diungguli oleh Revolusi Bolshevik 1917. Jutaan manusia, yang sampai saat itu telah diperlakukan seperti binatang-binatang pemikul beban imperialisme, mematahkan rantai imperialisme dan kapitalisme, dan menapaki panggung sejarah dunia.

Revolusi Tiongkok Pertama 1925-1927 adalah sebuah revolusi proletarian yang otentik. Tetapi revolusi tersebut gugur sebelum waktunya karena kebijakan-kebijakan keliru yang diinstruksikan Stalin dan Bukharin, yang menempatkan klas pekerja Tiongkok di bawah borjuasi yang konon demokratis pimpinan Chiang Kai-shek. Partai Komunis Tiongkok (PKT) melebur ke dalam Kuomintang (KMT). Bahkan, Stalin mengundang Chiang Kai-shek untuk menjadi anggota Komite Eksekutif Komunis Internasional (Komintern).

Kebijakan pembawa malapet…

`Macdonalisasi` Produk Budaya Serba Instant

Ahmadun Yosi Herfanda
Republika, 29 April 2007

SUATU hari, para pemuda dari 31 provinsi di Indonesia berkumpul di atas KRI Sangkurilang. Sambil berlayar mengarungi Laut Jawa, mereka mempertunjukkan berbagai atraksi seni-budaya — dan tentu juga mempelajari masalah-masalah kelautan.

Meski bertajuk Kapal Pemuda Nusantara, acara dalam rangka Festival Internasional Pemuda dan Olahraga Bahari yang popular sebagai Festival Bahari itu penuh sentuhan seni-budaya. “Di dalam kapal, mereka juga melakukan semacam pertukaran budaya. Pemuda dari Ambon, misalnya, memakai pakaian Jawa dan memainkan tari Jawa,” kata Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI DR Adhyaksa Dault.

Tampaknya, Adhyaksa Dault, meski harus mengurus olahraga, tidak melupakan peran seni-budaya untuk membangun jati diri bangsa. Sebab, kebudayaan merupakan aspek penting nation and character building. “Kebudayaan menjadi jembatan pemersatu kita,” ujarnya dalam ‘diskusi terbatas’ di Jakarta, Kamis (26/4) lalu.

DR Adhyaksa membe…

Surat Terbuka Pramoedya Ananta-Toer kepada Keith Foulcher

Surat Terbuka Pramoedya Ananta-Toer kepada Keith Foulcher
http://arusbawah20.wordpress.com/

Salam,

Surat 26 Februari 1985 saya terima kemarin, juga surat terbuka Achdiat K. Mihardja untuk teman-teman (sarjana) Australia yang dilampirkan. Terimakasih.

Lampiran itu memang mengagetkan, apalagi menyangkut-nyangkut diri saya, dan tetap dalam kesatuan semangat kaum manikebuis pada taraf sekarang: membela diri dan membela diri tanpa ada serangan sambil merintihkan kesakitannya masa lalu, yang sebenarnya lecet pun mereka tidak menderita sedikit pun. Total jendral dari semua yang dialami oleh kaum manikebuis dalam periode terganggu kesenangannya, belum lagi mengimbangi penganiayaan, penindasan, penghinaan, perampasan dan perampokan yang dialami oleh satu orang Pram. Setelah mereka berhasil ikut mendirikan rezim militer, dengan meminjam kata-kata dalam surat terbuka tsb.:

“All forgotten and forgiven” dan revisiannya: “We’ve forgiven but not forgotten.” Saya hanya bisa mengelus dada. Kemunafikan…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com