24/12/11

Negeri Fabel

Samsudin Adlawi
http://www.jawapos.co.id/

SUDAH banyak sebutan untuk negeri ini. Sampai-sampai sulit mengingatnya. Memperhatikan fenomena akhir-akhir ini, julukan terbaru yang juga layak disandang negeri tercinta ini adalah negeri fabel. Fabel diambil dari bahasa Belanda. Yakni, cerita yang menggunakan hewan sebagai tokoh utamanya. Misalnya, cerita Kancil dan Tantri yang cukup populer di kalangan anak-anak Indonesia sejak dulu sampai sekarang.

Kisah fabel dianggap paling menarik bagi pembaca. Karena itulah, banyak sekali penulis prosa yang memanfaatkan kehebatan dan karakter hewan sebagai tokoh utama dalam karyanya. Pengarang fabel terkemuka di dunia adalah Michael de La Fontaine dari Prancis. Fariduddin Attar dari Persia juga tidak kalah hebatnya. Karya fabel penyair sufi itu yang cukup mashur berjudul Musyawarah Burung (MB). MB sudah diterjemahkan ke banyak bahasa di dunia, termasuk bahasa Indonesia.

Belakangan, aura fabelitas di negeri ini sangat terasa. Bukan hanya mengejawantah dalam sebuah buku cerita yang ditulis para sastrawan, lebih dari itu, fabelitas sudah mewujud dalam kehidupan nyata. Hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Masih segar dalam ingatan ketika Yosep Rizal membawa seekor kerbau dalam aksi demonstrasi pada 28 Januari silam di Jakarta. Aksi tersebut untuk merayakan 100 hari pemerintahan kabinet SBY. Yosep menegaskan, aksinya itu tidak dimaksudkan untuk mengumpamakan seseorang dengan kerbau. Namun, semua orang pasti tahu bahwa kerbau merupakan binatang gendut dan lamban.

Karena itu, kehadiran kerbau yang diberi nama ”si Lebay” tersebut, ketika itu, langsung menjadi buah bibir. Bahkan, Presiden SBY sampai membahasnya dalam rapat kerja di Istana Cipanas, Jawa Barat. Tak berhenti di situ saja. Polisi akhirnya melarang peserta demo membawa kerbau.

Sekitar tiga bulan sebelum aksi ”si Lebay”, cicak dan buaya sudah lebih dulu populer di mata dan telinga masyarakat Indonesia. Mantan Kabareskrim Komjen Susno Duaji-lah yang memopulerkan lewat pernyataan: Jika dibandingkan, ibaratnya, di sini buaya di situ cicak. Cicak kok melawan buaya. Cicak mengasosiasi ke KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan buaya untuk Mabes Polri. Kebetulan saat itu memang sedang seru-serunya perseteruan antara KPK dan Mabes Polri gara-gara ada indikasi kuat upaya kriminalisasi terhadap pimpinan KPK. Mereka ”bertarung” bukan hanya di dalam kandang. Tapi, juga di gedung DPR, ruang sidang MK (Mahkamah Konstitusi), bahkan sampai ke Istana Presiden. Boneka cicak dan buaya laris manis setelah itu. Demikian pula aksesori yang lain. Pokoknya, pada akhir 2009, cicak dan buaya jadi bintang.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, popularitas cicak dan buaya mulai pudar. Begitu pula kerbau ”si Lebay”. Saat masyarakat mulai melupakan cicak, buaya, dan kerbau, tiba-tiba nama babi menyeruak. Gara-garanya, gambar sampul majalah Tempo edisi 28 Juni-4 Juli. Cover bertajuk Rekening Gendut Perwira Polisi itu memuat ilustrasi seorang perwira polisi sedang menuntun celengan babi. Kontan saja, institusi korps berbaju cokelat tersinggung berat. Gambar sampul dan isi berita Tempo itu dinilai telah melukai perasaan polisi. Dengan emosional, Mabes Polri langsung menyatakan akan menggugat Tempo di pengadilan. Namun, gugatan itu akhirnya urung dilakukan setelah dilakukan pertemuan dengan kepala dingin yang dimediatori Dewan Pers.

Akhirnya, kedua pihak, Tempo dan Mabes Polri, sepakat tidak melanjutkan ”kasus babi gendut” tersebut ke ranah hukum. Meski begitu, bukan berarti kisah fable di negeri ini berakhir. Sebab, tak lama berselang, muncul nama luwak atawa musang. Ini setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) menginformasikan bahwa kopi luwak haram dikonsumsi karena diolah dari kotoran binatang pengerat itu. Tetapi, popularitas luwak tidak lama seperti teman-temannya terdahulu (cicak, buaya, kerbau, dan babi). Sebab, sehari kemudian, MUI buru-buru membuat koreksi fatwanya dengan menyatakan bahwa kopi luwak halal diminum asalkan sebelum dikonsumsi lebih dulu dicuci secara syar’i.

Wa ba’du. Jamaknya, kisah dalam sebuah fabel menyiratkan pesan moral atau setidaknya makna yang mendalam. Tapi, sayang, sebagian di antara kita tidak pandai menangkap pesan moral yang tersurat dalam kisah-kisah fabel itu. Kegagalan menangkap pesan tersebut terlihat dari masih maraknya korupsi di negara ini. Perilaku korup menjangkiti para pejabat dari pusat hingga ke desa. Bahkan, kebiasaan tikus itu juga merasuki aparat penegak hukum yang tugasnya memproses dan mengadili pelaku korupsi. Bagaimana akan berhasil menangkap tikus kalau kucingnya juga berperilaku seperti tikus.

Parahnya lagi, bangsa ini tidak hanya dirasuki perilaku tikus. Namun, juga mulai ada yang bertingkah seperti ayam. Mereka berbuat mesum tidak hanya dengan satu lawan jenis. Hebatnya lagi, mereka merekam adegan-adegan seksualitasnya dalam bentuk video. Bahkan, ada juga yang bangga telah berhasil merebut suami orang dan mempertontonkan kemesraan kepada khalayak. Anehnya, perilaku ayamisme itu dilakukan public figure yang selama ini diidolakan masyarakat, terutama para remaja. Perilaku dan gaya hidupnya selalu dicontoh. Mulai gaya rambut, model pakaian, sampai cara bicara dan menyanyinya. Semua diduplikat mentah-mentah.

Perilaku hewani tersebut memantik reaksi Presiden SBY. Sampai-sampai, dalam sebulan terkahir, sudah tiga kali SBY menyampaikan sorotannya. Terakhir dia sampaikan dalam Milad Ke-35 MUI, 25 Juli lalu. SBY meminta para ulama lebih serius menyelamatkan kehidupan berbangsa dengan menjaga moral, akhlak, dan budi pekerti di kalangan masyarakat (Jawa Pos, 25/7).

Memang sudah saatnya presiden turun tangan sebelum negara ini benar-benar berubah menjadi kebun binatang. Tapi, keprihatinan dan imbauan serta pembentukan tim secara parsial sekalipun tidak akan efektif. Ketika moral sudah jatuh di titik nadir paling rendah, hanya satu yang dibutuhkan. Yakni, dekonstruksi menyeluruh terhadap tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)

*) Penyair tinggal di Banyuwangi

Tidak ada komentar: