Buku, Iman, Pembebasan

Damanhuri *
Lampung Post,3 Mei 2009

“Biara tanpa buku seperti kota tanpa harta, tangsi tanpa tentara,
dapur tanpa bumbu, kebun tanpa tumbuhan, padang tanpa bunga,
pohon tanpa daun.”
The Name of the Rose, Umberto Eco

Selintas, tak ada pertautan antara tiga persoalan yang saya pilih jadi judul tulisan ini. Buku, iman, dan pembebasan memang seolah tak meninggalkan anasir yang memungkinkan kita merajutkan benang merah antarketiganya. Salah duga yang gampang dilacak beberapa penyebab utamanya dalam pandangan-dunia kita yang umumnya dualistik, gemar menilik persoalan melulu dari satu dimensi–”ini-atau-itu-isme” (either-or-ism), kata Naquib al-Attas; parsial, bahkan hitam-putih (Manichean)—dan dalam keseharian biasanya muncul dalam jargon–yang penting praktik, bukan teori”.

Padahal, waham ihwal adanya diskrepansi antartiga pokok soal yang sesungguhnya saling berkelindan itu dalam beberapa jenak saja akan tampak kerapuhannya bila kaum muslim, misalnya, sudi berpaling pada sejarah pewahyuan Quran di mana ayat-ayat awal (96: 1–5) yang diterima Nabi adalah perintah membaca (iqra). Etos membaca (baca: mencintai ilmu, memuliakan buku) yang kian diteguhkan dalam pelbagai ayat lain, juga hadis Nabi, tentang pentingnya berpikir dan meneroka segala fenomena.

Karena itu, sebenarnya tak ada ikhtilaf tentang pentingnya memuliakan buku dan mencintai ilmu. Saya kira, afirmasi juga layak segera diberikan kepada siapa pun yang percaya bahwa iman yang otentik mustahil bisa digapai tanpa bekal ilmu. Dan, sejak manusia memasuki zaman yang disebut Marshall McLuhan “galaksi Gutenberg” atau “kapitalisme-percetakan”, tak diragukan lagi buku merupakan salah satu sumber utama ilmu. Mata air bagi iman-yang-bernalar—fides quearens intellectum.

Diungkapkan dalam kalimat lain: kian beragam dan luas bahan bacaan seorang mukmin, kian berwarna dan lapang pula perspektif keagamaan-keimanan yang potensial dihayati. Tak terlalu mengagetkan jika berbagai sikap ekstrem dalam beragama hampir selalu muncul dari keterbatasan bahan bacaan dan kedangkalan pengetahuan agama pelakunya. Sehingga, apa yang biasa disebut sebagai “efek pembebasan” dari agama pun lenyap dan justru bermetamorfosis jadi iman yang ofensif. Iman opresif yang gampang “mengoranglainkan” (othering) siapa pun yang tak sepaham, semazhab, atau seakidah.

Seorang cendekiawan kita pernah menggunakan dua metafora tentang iman: iman sebagai “benteng” dan iman sebagai “suluh”. Dengan kiasan benteng, iman dipancangkan tidak lain sebagai sesuatu yang kukuh, rapat, dan bergeming; dengan suluh, iman diandaikan sebagai “sesuatu yang berjalan untuk menjelajah sebuah dunia yang tak selamanya terang dan rata.” Sayangnya, iman sebagai benteng itulah yang tampaknya tengah dipeluk kebanyakan orang.

***

Begitulah, ajaran agung agama memang tak selalu berhasil memengaruhi perilaku para pemeluknya. Pun sejarah tak selamanya mudah dijadikan cermin bening oleh pewarisnya di belakang hari.

Maka jika kaum muslim-awal berhasil mentransformasikan etos yang diwariskan kitab suci itu dengan melakukan olah intelektual tak kenal henti, sebagian (besar?) kaum muslim saat ini melakukan hal sebaliknya. Jika di masa lalu umat Islam berhasil menerjemahkan beragam khazanan Yunani dan Persia serta melakukan pelbagai sintesis kreatif yang menakjubkan, tradisi itu kini begitu sulit kita temukan.

Jika di masa lalu perbalahan pemahaman (keagamaan) melahirkan sebukit buku yang bermutu, hasil yang muncul dari palagan kontestasi penafsiran di tengah kita saat ini tak lebih dari pseudo-buku berisi daftar nama tokoh yang dituding sebagai “muslim liberal” yang dalam derik waktu yang sama juga berarti kafir, murtad, dan serakan stigma lainnya. Buku-buku yang justru antibuku dan hanya menghasut para pembacanya untuk menghina aktivitas berpikir dan berolah nalar.

Kondisi mencemaskan itu dalam beberapa segi juga kian diperburuk oleh tren baru di sebagian kaum muda urban yang lebih gandrung mengikuti beragam workshop atau pelatihan manajemen berbasis spiritualitas sembari mengerlingkan sebelah mata bagi segala jenis erudisi intelektual. Buku-buku yang biasa diserap dengan baik oleh pasar pun tak jauh dari buku-buku kategori “panduan ibadah” atau “psikologi spiritual”. Padahal, seperti pernah dirisaukan Haidar Bagir, jika absennya buku-buku wacana pemikiran terus berlangsung, akibat yang hampir tak bisa ditampik adalah keringnya dinamika pemikiran dan menyempitnya cakrawala penghayatan agama.

Khaled Abou El-Fadl barangkali benar ketika mengatakan bahwa kaum muslim saat ini telah terpangkas dari tradisi intelektual kaum muslim-awal. Telah kehilangan etos pengetahuan maupun landasan moral dan intelektual. Sehingga, alih-alih perayaan atas warisan agung di masa lalu itu, apa yang kita saksikan justru bercokolnya—apa yang disebut Abou El-Fadl dalam Musyawarah Buku (Serambi, 2002)–”pola pikir Mongol”.

Seperti dicatat dalam sejarah, tahun 1258 Hulagu serta balatentara Mongol mengaramkan Baghdad dalam merahnya darah dan hitamnya tinta. Sejarah pun bertutur bahwa mayat-mayat yang dicacah balatentara yang beringas itu menyesaki dan membuat macet jejalanan kota. Pun ribuan judul buku yang mereka jarah konon berhasil memampatkan aliran sungai.

Ironisnya, kata Abou El-Fadl, tragedi itu seolah kembali berulang dengan wajah berbeda dan modus yang lebih canggih. Sebab, sebagaimana peristiwa tujuh abad lampau itu, saat ini pun sebagian kaum muslim masih dibantai di banyak penjuru dunia. Sedangkan teks-teks mereka justru dibantai oleh kaum muslim sendiri.

Begitulah, di masa lalu pembantaian buku ditempuh dengan membakar atau menghanyutkan dan menenggelamkannya ke palung-palung sungai. Di masa kini, “pembantaian” tersebut berbentuk pengeditan diam-diam atau melarangnya beredar di tengah umat. Hasilnya, menurut Abou El-Fadl lagi, buku Fatawa dan al-Jawab al-Shahih karya Ibn Taymiyah yang kini beredar adalah edisi yang telah disensor. Pun buku Bihar al-Anwar yang beredar sebenarnya tanpa tiga jilid lain yang dianggap melawan arus-utama ortodoksi.

Tak boleh dilupakan, “penyuntingan semena-mena” sebenarnya juga menimpa tafsir masyhur The Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary karya Abdullah Yusuf Ali. Berbeda dari teks aslinya, edisi-edisi yang belakangan diterbitkan Amana Corporation/IIIT atau Ifta/King Fahd Holy Qur’an Printing Complex, misalnya, adalah “versi baru” tanpa disertai beberapa apendiks serta penafsiran dengan perspektif tasawuf. Hal yang, seperti direkam dengan baik oleh MA Sherif dalam biografi Yusuf Ali yang ditulisnya (Jiwa yang Resah, Mizan, 1997), disesalkan banyak kalangan dan sempat menjadi polemik panjang.

Prestasi kaum muslim sekaligus ironi yang mengirinya itu penting diungkapkan sekadar untuk menunjukkan sesuatu yang mungkin sudah jadi klise karena begitu kerapnya diulang-ulang: watak kosmopolitanisme Islam dan sikap terbuka kaum muslim-awal dalam menerima dan menyambut kehadiran “yang lain”, the others. Sikap yang akhir-akhir ini seolah raib dari kesadaran umat Islam dan berganti dengan sikap selalu curiga dan bahkan memusuhi (si)apa pun yang dianggap berbeda. Simtom yang diistilahkan Ali Ahmad Said (Adonis) sebagai “past-ism”, “masa-lalu-isme”: penolakan serta ketakutan akan setiap hal yang baru, beda, dan tak-umum.

Merujuk Abou El-Fadl untuk kali kesekian, kaum muslim saat ini tampaknya memang lebih senang pada, dan begitu cepat terpukau oleh, pleonasme sebuah pidato ketimbang memuliakan keanggunan khazanah pemikiran Islam yang tak tepermanai itu. Lebih terpesona oleh pidato yang gaduh (dan kerap angkuh), pemahaman-umum yang siap-pakai, dan terkesan jeri masuk dalam keheningan laku untuk—meminjam anak judul buku Abou El-Fadl itu–menelusuri keindahan Islam dari buku ke buku.

***

Penghormatan yang tinggi atas buku tentu saja bukan monopoli tradisi Islam. Sebab, sebagaimana khazanah Islam, tradisi Kristiani pun menyodorkan imperatif yang tak jauh berbeda. Dalan novel masyhur The Name of the Rose karya Umberto Eco (Jalasutra, 2003), misalnya, untuk menunjukkan betapa pentingnya buku (membaca) dan alangkah tak memadainya hidup hanya dengan doa (betapapun itu tugas utama para biarawan) atau mendaraskan kitab suci tanpa menelisik potensi makna yang dikandungnya, tokoh kepala biara dalam novel karya pakar semiotika dari Italia itu juga berujar: “Biara tanpa buku seperti kota tanpa harta, tangsi tanpa tentara, dapur tanpa bumbu, kebun tanpa tumbuhan, padang tanpa bunga, pohon tanpa daun”.

Walhasil, tak ada dalih untuk tak merayakan buku. Tak tersedia alasan untuk tak memuliakan siapa pun yang tak kenal letih menulis, merawat, dan menyemarakkan dunia, buku. Dunia yang menjadi suaka jiwa manusia dari proses pelupaan. Sehingga, jika “manusia merasa baru menemukan diri dan nilainya dalam Tuhan,” kata Sindhunata suatu ketika, “maka Tuhan pun harus dicarinya bukan hanya dengan berdoa tapi juga dengan membaca.”

Akhirnya, sepotong sajak Joko Pinurbo berjudul Buku barangkali tepat untuk menutup tulisan ini: Hadiah terindah yang kudapat dari buku adalah ingatan:/pacar terakhir yang selalu membujukku agar tidak/ mudah mati dalam kehidupan, hidup dalam kematian.
____________________
*) Damanhuri, Penyuka buku
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/05/buku-iman-pembebasan.html

Komentar