Suatu Malam di Ujung Tahun

Ahmad Zaini *
http://sastra-indonesia.com/

Sepi dalam keramaian. Mungkin itulah gambaran batinku saat ini. Di tengah muda-mudi sedang mempersiapkan pesta dalam menyambut pergantian tahun baru, aku menyendiri di sebuah taman bunga di halaman rumah. Taman yang asri dengan semerbak bau wangi bunga yang sedang mekar. Kelopaknya yang elok dengan dikelilingi binatang penghisap madu, kudekati dan kuciumi tanpa mempedulikan ancaman binatang-binatang itu menyengat hidungku. Oh, betapa harum dan indahnya bunga ini.


Sejak siang tadi teman-teman berencana mengajakku begadang semalam suntuk di alun-alun kota. Namun aku menolak. Teman-temanku menyadari dan tidak tersinggung sedikit pun karena aku menolaknya dengan cara yang halus. Dan mereka rata-rata tahu tabiatku. Sebenarnya sejak dulu ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku tak pernah sekali pun mengikuti pesta dalam menyambut pergantian tahun baru. Aku lebih suka menyendiri meratapi usiaku yang semakin tahun semakin bertambah tua seiring dengan pergantian tahun baru itu. Kebetulan tanggal 1 Januari adalah hari ulang tahunku. Sebuah momen yang sangat tepat untuk memperbaiki diri dari segala dosa dan salah yang kulakukan pada tahun sebelumnya.

Rusli, teman akrabku, pernah berkata pada saya bahwa aku ini adalah anak yang kuper alias kurang pergaulan. Namun ucapannya itu tak membuatku lantas menjauh darinya. Aku tetap berteman akrab dengannya Aku tetap berpegang teguh pada jati diriku. Sebagai orang yang suka menyendiri di saat muda-mudi larut dalam pesta perayaan menyambut tahun baru.

“Apa gunanya menghambur-hamburkan uang untuk mabuk-mabukkan? Masih banyak kegiatan lain yang positif tanpa membutuhkan biaya,” kataku pada Rusli.

“Apakah ini tidak bermanfaat?” bantah Rusli kemudian.

“Memang ada manfaatnya, tapi lebih banyak sia-sianya daripada manfaat yang kita peroleh”.

“Kalau tidak ada manfaatnya kenapa para pejabat itu, kok, mengundang masyarakat untuk merayakan pergantian tahun baru di alun-alun dengan mengadakan pesta kembang api dan terompet yang tentunya memakan biaya tidak sedikit?”

“Mereka itu hanya sekedar mencari popularitas belaka. Sok merakyat pada mereka yang datang di laun-alun.”

“Ya, sudahlah kalau kamu tidak mau. Saya akan berangkat sendiri. Selamat Tahun Baru, ya!”

“Terima kasih!”

Sepeda motor yang diparkir di halaman rumahku kemudian dipacu dengan suara meraung memecah keheningan malam bercampur gerimis lembut yang membelai wajahnya.

“Oh, zaman edan. Zaman sudah tua,”

Aku menyendiri meratapi pergantian tahun baru ini dengan mengadakan malam renungan di taman bunga tepat di depan rumahku. Segera aku mencari tempat yang sunyi di tengah-tengah taman itu. Sebuah tikar aku gelar kemudian aku bersimpuh untuk melakukan meditasi sambil menunggu pergantian tahun baru.

Udara malam semakin dingin di tengah gerimis yang juga ikut mewarnai pergantian tahun baru ini. Tetesan air hujan membelai rambut hingga wajahku kemudian merembet hingga ke bibirku yang selalu berdoa dan membaca apa saja memohon keselamatan pada Sang Pencipta dalam tahun yang akan datang ini. Pikiranku semakin memuncak ketika aku teringat ayah bundaku yang sudah meninggal lima tahun yang lalu. Aku teringat ketika keluargaku masih utuh. Ayah, ibu, kakak dan adik bergembira ria di taman ini. Aku teringat ayahku yag selalu menasihati diriku agar kelak menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Anak yang bisa membedakan antara yang benar dan yang salah. Juga ibuku yang selalu membela diriku jika ayah emosi ketika pulang kerja dan tidak memembawa hasil apa-apa sedang aku hanya bermain-main saja di taman ini juga. Kakakku walau ia sering mengajakku bermain tak jarang memukuliku hingga aku menangis dan berlari merengek minta perlindungan ibu. Adikku yang lucu yang selalu merengek minta gendong di punggung. Kini mereka telah pergi untuk selama-lamanya.

Sewaktu kakakku akan mengikuti acara wisuda di kampus, ayah, ibu, kakak dan adik berngkat bersama-sama dalam satu kendaraan. Aku kebetulan tidak ikut karena sekolahku ada kegiatan ulangan semester. Sangat disayangkan sebenarnya tidak bisa hadir dan menyaksikan kakak yang diwisuda setelah belajar selama empat tahun di kampus terkenal di ibu kota itu. Namun nahas nasib rombongan keluargaku. Ketika di sebuah tanjakan mesin mobil yang mereka tumpangi mati. Tanpa kendali mobil tersebut mundur dan masuk ke jurang. Mobil tersebut hancur dan keluargaku tewas semua dalam kejadian itu.

“Ayah, ibu, kakak, adik!” tanpa terasa mulutku memanggil-manggil mereka. Dan sesaat kemudian air hujan terasa asin bercampur air mata yang tak kusadari mengalir bersama tetesan gerimis.

Aku baru terjaga dari meditasi ketika bunyi petasan dan kembang api bersahut-sahutan di alun-alun kota diiringi raungan suara sepeda motor dengan knalpot yang sengaja diblong tanpa ada pengedap suara. Suara terompet pun ikut bersahut-sahutan di sepanjang jalan sekitar alun-alun. Muda-mudi berboncengan dengan dandanan beraneka macam. Mereka meniup terompet sekuat nafasnya. Rusli yang berboncengan dengan teman wanitanya mendekati diriku kemudian meniupkan terompet secara bersama-sama kepadaku sembari mengucapkan selamat tahun baru.

“Terima kasih! Terima kasih!”

Kemudian mereka kembali berputar-putar mengitari alun-alun kota dengan mengendarai sepeda. Ada yang berdiri, menggantung di atas jalan beraspal, menyunggingkan pantatnya dan berbagai atraksi lainnya. Mereka berekspresi untuk mencari perhatian dari rekan-rekan yang lain tanpa menghiraukan keselamatan mereka sendiri.

Warna kembang api menghias langit yang terbungkus gelap malam. Kilatannya menembus angkasa sesekali mengeluarkan rentetan bunyi letusan. Kemudian diiringi sorak sorai kegembiraan.

“Selamat Tahun Baru! Selamat Tahun Baru!” ucap mereka pada siapa saja yang mereka jumpai di alun-alun itu. Muda-mudi di sekeliling alun-alun itu berpelukan hangat menyambut pergantian tahun. Bahkan tak jarang dari mereka yang berpesta dengan mengacung-acungkan botol minuman keras dengan berteriak sesuka hatinya.

“Apakah seperti itu cara pemuda dari sebuah bangsa yang beradab dalam merayakan pergantian tahun? Tahukah mereka makna dari pergantian tahun baru itu?” Tanya dalam hatiku.

Sebenarnya merayakan pergantian tahun baru tidak berarti harus berpesta pora, konvoi kendaraan, atau minum-minuman keras. Merayakan pergantian tahun baru dapat dilakukan dengan mengadakan acara renungan malam untuk meneliti perbuatan kita pada setahun yang lalu. Apakah tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya? Atau sama saja. Atau bahkan tahun ini lebih jelek dari tahun sebelumnya. Atau kita bisa dengan mengadakan doa bersama. Memohon kepada Tuhan agar diberi umur panjang sehingga dapat dipergunakan untuk melakukan amal kebajikan, menambah pahala, mencari ridho Tuhan sebagai bekal kehidupan kekal nanti.

Namun mereka masih muda tentu jiwanya masih labil. Mereka ingin mengekspresikan dirinya bahwa dirinyalah yang paling hebat dibandingkan dengan yang lain. Sehingga melakukan hal-hal yang tidak pantas menurut ukuran budaya kita.

Kerumunan muda-mudi itu tiba-tiba semburat menjauh dari suara rintihan salah seorang pemuda. Ya, ada seorang pemuda yang meringkuk, terkulai lemas bersimbah darah. Perutnya robek dan sebagian ususnya terbuarai keluar. Aku penasaran ingin segera melihat siapa pemuda tersebut? Dengan langkah cepat dan hati-hati karena takut terkena imbas dari kejadian itu, aku mendekati pemuda yang sudah ditinggal lari oleh pemuda yang lain.

“Rusli! Rusli! Kenapa kau? Katakan Rus, siapa yang tega melakukan ini?”tanyaku pada Rusli dengan setengah memaksa.

Rusli hanya bisa memandang tajam ke arahku tanpa bisa berucap apa-apa. Tangannya bergerak menunjuk ke arah pojok alun-alun. Kuikuti saja gerak tangan Rusli sebagi bahasa isyarat pengganti lisannya yang sedang menahan sakit.

“Siapa, Rus yang Kau tunjuk?”

“An…An…Anita!” jawabnya terbata-bata yang tak lama kemudian Rusli meregang nyawa. Ia tewas.

“Rusli……!” teriakku dengan lantang hingga membuat orang yang berkerumun di pojok alun-alun menoleh ke arahku.

Jasad Rusli yang tergolek tak bernyawa perlahan kutaruh di atas rerumputan alun-alun. Kuberanjak dan berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Rusli sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya. Kumelihat sekilas dari sela-sela orang yang berkerumun di tempat itu. seorang gadis yang menangis sesenggukan dengan menyilang kedua tangannya menutupi payudara dan kemaluannya.

“Masya Allah! Anita?!”

Langsung aku mendekatinya dan menutupkan pakaiannya yang tercabik-cabik dari tubuhnya. Rupanya Anita telah diperkosa oleh beberapa pemuda yang sudah melarikan diri dari tempat kejadian itu. Menurut pengakuan dari beberapa orang yang melihat kejadian yang memalukan sekaligus memilukan itu ada sekitar lima pemuda yang memperkosanya. Rusli hendak melindungi Anita dari aksi bejat mereka namun Rusli tidak mampu menghadapi kelima pemuda yang dalam keadaan mabuk tersebut sehingga ia terkapar bersimbah darah terkena sabetan senjata tajam dan kepalanya dikepruk dengan botol meniuman keras.

Sesaat kemudian suara ambulance yang dikawal beberapa kendaraan polisi datang kemudian polisi segera mengamankan tempat kejadian dengan melingkarkan garis polisi agar memudahkan proses evakuasi. Mayat Rusli diangkut dengan ambulance ke rumah sakit guna keperluan otopsi. Sementara Anita juga demikian, ia divisum oleh tim dokter rumah sakit untuk meyakinkan pihak berwajib bahwa ia telah menjadi korban pemerkosaan.

Pesta pora tahun baru berubah menjadi tangis duka bagi diriku karena nasib yang dialami temanku. Dan aku bingung harus bagaimana mengatakan semua itu kepada orang tua mereka. Apakah aku harus menceritakan peristiwa yang sebenarnya? Atau harus aku tutupi peristiwa yang menimpa Anita demi masa depannya? Aku kebingungan. Kemudian aku pasrahkan saja semua pada Tuhan Yang Mahatahu segala-galanya.

*) Cerpenis tinggal di Wanar, Pucuk Lamongan.

Komentar