Langsung ke konten utama

Pembelajaran di Balik Gunung Matahari

Eko Hendri Saiful
_Harian Surya, 2011

Ketika saya berjalan hilir mudik di lingkungan kampus untuk mengikuti kegiatan perkulihaan, beberapa rekan mahasiswa baru menyapa.  Mereka menjabat tanganku dan  bertanya tentang kabar , kegiatan  dan juga tempat tinggalku.  Kami bercakap-cakap mengenai banyak hal. Salah satunya mengenai identitas rekan-rekan mahasiswa yang menjadi panitia Osma 2011. Mereka juga menanyakan mengenai makna tema ’’Mendaki Gunung Matahari ’’ padaku. Aku merasa mendapatkan pengalaman dan pelajaran baru dari percakapan kami. Mereka juga bercerita mengenai kesan dan pesan selama Osma berlangsung.


Jarak antara senior dan junior yang sempat di batasi oleh Osma telah hilang seiring berjalannya waktu. Rasa sakit,  panas, dan kelelahan selama mengikuti apel siang telah hilang dan melebur menjadi sebuah kesan yang saling membuka hati masing-masing. Antara senior dan junior. Antara peserta dan panitia. Senang hati saya ketika mendengar beberapa dari mereka memberikan apresiasi terhadap kesuksesan Osma 2011.  Kebanggaan timbul dihati. Sekalipun aku hanya seekor semut yang memiliki kegersangan motivasi yang hidup dalam keluarga besar kepanitiaan Osma.

Mengingat Minggu lalu. Kembang api yang berjajar di samping panggung meluncur deras ke udara dengan cahayanya yang memancar memecah kegelapan malam. Bersama itu pula sirine berbunyi dengan suaranya yang melengking menjadi tanda berakhirnya Osma 2011. Kembang api dan sirine itulah yang menjadi saksi dan bukti akan kerekatan hati antara panitia, peserta dan pimpinan kampus. Kerekatan hati yang tertanam di ladang mimpi. Dan ladang itu tersimbolkan oleh keanggunan malam inagurasi Osma 2011. Keanggunan yang hanya mampu terlukiskan oleh mata, telinga, pikiran dan hati kita.

Saya menangis ketika malam inagurasi usai. Perdebatan, pertengkaran, kekacauan dan permusuhan telah berkumpul menjadi sebuah keutuhan energi yang menggerakkan tangan dan kaki kami untuk berjoget dan menghibur diri. Di belakang kami duduklah ayah dan ibu kami yang merestui putra-putrinya untuk sejenak menghibur diri. Walaupun saya tahu bahwa ada tetesan air mata yang berlinang di hati mereka atas kebanggaanya terhadap usaha kami.

Ada banyak tawa yang terangkum dalam pesan. Ada banyak duka yang tertulis dalam buku pengalaman. Dan ada banyak harapan yang tergores dalam kertas mimpi. Semua itu adalah tanda bahwa Tuhan menghendaki kami untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, dan saling menjaga keutuhan. Namun, akankah hal itu akan hilang begitu saja?

Jujur. Berat di hati saya melupakan segala tawa yang menjadi rezeki kami selama Osma. Bahkan langkah ini terasa berat ketika aku ingin melepas kelelahan dengan pergi meninggalkan kampus usai acara Osma. Kami panitia, sudah sering berbagi. Tanpa di sadari, kita telah menjadi sebuah keluarga yang dibangun dari pondasi perpecahan hingga tersusun menjadi sebuah gubug yang bertiang kepedulian, bertembok kebersamaan, dan beratapkan kebahagian. Sebuah anugerah yang luar biasa.

Matahari yang terbit hari ini telah lebih baik dari kemarin. Dan saya yakin bahwa esok matahari akan lebih bersolek diri dan membuktikan bahwa ia akan lebih baik dari pada hari ini. Kini matahari itu tidaklah terbit sendiri. Dia telah menemukan sahabatnya yang memiliki persamaan mimpi. Panitia dan peserta Osma 2011 telah bersatu dan bersama - sama mendaki Gunung Matahari selama tujuh hari. Gunung yang sakti itu telah ditaklukkan.  Kita telah berada di puncaknya. Dan selama itu pula ada banyak kesan yang terkunci oleh buku diari.

Saat itu apel siang. Bunyi megaphone dengan kekuatan super menggetarkan telinga peserta dan panitia seraya menuntun mereka untuk berkumpul di lapangan. ’’Ayo cepat kumpul..........!’’. megaphone yang satunya mengikuti ’’ Cepat. Yang terlambat maju ke depan!’’.

Hari semakin panas. Dan apel siang telah dimulai. Tiba-tiba  seorang peserta Osma jatuh pingsan dan  tergeletak di tanah tak sadarkan diri. Mukanya memucat. Badannya lemas. Alhasil hampir semua panitia berlari menuju kearahnya. Sementara dari sudut yang lain, seorang panitia sedang terengah-engah menyeret tandu yang diambil dari ruang UKS. Dengan segala kekuatan yang ada dan nafas yang tersendat –sendat, kami berlari menggotong  peserta itu menuju UKS. Tentu kita masih ingat dengan peristiwa itu. Coba kita bayangkan seandainya salah satu dari keempat pembawa tandu itu tidak ada, pastilah jatuh peserta itu. Ternyata dibalik hati kita masing-masing masih tersimpan kerekatan hati dan kerjasama yang sulit untuk dihapus dari ingatan kita. Dan kita, panitia Osma , telah bekerjasama untuk menggotong peserta itu dengan penuh ketulusuan jiwa.

Masihkah kita ingat ketika engkau dimarahai saat engkau terlambat? Saat itu engkau menangis di depan gerbang kampus. Sepatumu sempat terbalik karena ketakutanmu. Hati kami tertawa melihatmu. Sementara ayahmu membujukmu untuk masuk ke barisan teman-temanmu. Yang aneh saat engkau berjalan-jalan diwaktu malam setelah malam inagurasi selesai. Kala itu pukul 01.30 WIB Mereka bilang engkau kesurupan. Namun benarkah demikian? Dan kamipun mengikutimu dengan sabar. Sekalipun bibir kami mengkerut dengan teriakan keras memarahimu, namun hati kami merasa iba, bahkan kadang bangga akan jiwa-jiwa kedisiplinanmu. Dan kami sadar, engkaulah yang mengingatkan kami untuk selalu bersikap dewasa.

Saat ini engkau (peserta Osma) telah memasuki negeri baru. Negeri yang menjadi tempat persemedian Gunung Matahari. Engkau tidak lagi menenteng papan nama besar dan tas kresek warna merah. Bau kunyit, lidah buaya, ketumbar, dan mangkudu telah hilang dari tubuhmu. Dan bau itu kini telah mengubah bentuknya menjadi bau harum mimpi-mimpimu di negeri yang baru. Nasi tiwul yang kau makan di malam itu kini engkau tahu arti kehadirannya. Bukan hanya perbekalan yang disiapkan oleh sie kegiatan Osma. Melainkan karena itu semua adalah bentuk kenikmatan yang harus engkau rasakan. Kami mengajakmu untuk bersukur atas apa yang Tuhan berikan kepadamu.

Dengan adanya pembagian jadwal perkuliahan yang tertempel di dinding perkuliahan berarti telah menghapus jadwal Osma 2011. Kemungkinan kenangan di masa-masa itupun akan hilang oleh tertelan kesibukan masing-masing. Yang tersisa hanyalah video dan foto yang mungkin tak setiap hari kita lihat. Yang tersisa hanyalah co-card-co card yang berserakan di ruangan. Yang tersisa hanyalah spanduk dan banner yang terinjak-injak oleh kaki-kaki kita. Bahkan pelanggaran-pelanggaran yang dulu kita jaga gini hanyalah sebuah file yang tersimpan rapat di flasdisk dan komputer. Tak jarang pula kita pun enggan menyapa rekan-rekan panitia yang dulu bahu membahu bersama. Dan kita telah lupa, bahwa kita harus melakukan sesuatu di punak Gunung Matahari. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?

Merenungi ungkapan Elbert Hubbart yang bertuliskan, pagi ini aku terbangun dan bersyukur atas sahabat-sahabat yang kumiliki,sahabat lama maupun baru. Semestinya kita tidak hanya mengabadikan melalui foto dan video, melainkan merekam dengan hati kita masing masing. Sahabat yang dulu membantu kita membawa sound sistem. Sahabat yang dulu membantu kulisnita untuk berteriak-teriak di lapangan. Dan shabat yang dulu mengambilkan  makanan di malam apel. Karena sesungguhnya apa yang kita lakukan di Osma adalah sebuah bentuk kepedulian dan pengabdian kita pada almameter.

Keindahan puncak Gunung Matahari yang konon ada sebuah wayang gunungan hanya mampu direkam oleh mereka yang memiliki kesucian batin. Akan terangkum dalam diare kehidupan kita lewat kata-katanya yang menggelisahkan hati. Mungkin itu pula yang akan selalu mengingatkan kita tentang keanggunan malam inagurasi. Dan ketika kami mengingat malam itu, berarti kami telah mengingat wajah-wajah polos adik kami yang duduk dengan mata yang melotot kearah panggung. Keterpesonaan mereka pada apa yang kami sajikan telah mengukir kebanggan kami sebagai panittia Osma. Dan semua itu telah terekam di dalam hati kami yang menghantarkan ke sebuah negeri yang penuh dengan ketulusan, cahaya, dan mimipi karena di negeri itu telah lahir 200 matahari baru. Matahari itu akan abadi di negeri kami,  STKIP PGRI Ponorogo. Sukses untuk Osma 2011, untuk panitia, peserta, dan kampus kami....mohon maaf untuk peserta yang telah tersakiti. Karena kami hanyalah matahari yang sedang mengalami keredupan cahaya. (Eko/redaksi)

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com