Sastra China Diminati Anak Muda

Lia Anggia Nasution
http://www.seputar-indonesia.com/

Di Sumut, sastra China rupanya sedang digemari. Anak mudanya berbondongbondong mempelajari sastra ini, juga bahasa Mandarin.

Ini setidaknya bisa dilihat dari banyaknya peminat Program Studi (prodi) Sastra China di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan. Pada saat dibuka tahun 2007, prodi ini hanya ‘ditaksir’ 26 orang saja. Tapi tahun ini, jumlah calon mahasiswa yang tertarik mencapai ratusan orang hingga pihak kampus terpaksa menambah daya tampung kelas.

Ini tidak lain karena bahasa China dan Mandarin sudah mulai dipakai di negara-negara lain, bersanding dengan bahasa Inggris yang menjadi bahasa internasional. Ditambah lagi, banyak pula perusahaan yang kini mencari kandidat karyawan yang mampu berbahasa China atau Mandarin, selain bahasa Inggris. “Masyarakat sudah bisa melihat jurusan mana yang paling dibutuhkan untuk masa depan. Mungkin karena segala persyaratan itu pula yang membuat sastra China dilirik untuk dipelajari,”jelas Ketua Program Studi Sastra China di USU Thyrhaya Zein.

Perkembangan prodi sastra China di USU memang cukup menggembirakan. Biasanya, pihak USU hanya menerima 40 orang mahasiswa saja, sesuai daya tampung di kampus. Namun karena peminatnya bertambah terus tiap tahunnya, hingga mencapai ratusan, kampus yang berlokasi di Jalan dr Mansyur ini memperluas daya tampung prodi sastra China menjadi 70 orang mahasiwa. “Tahun ini mahasiswa yang diterima melalui jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) sebanyak 60 orang dan nanti mahasiswa yang diterima melalui UMB (Ujian Masuk Bersama) ada 10 orang.Total jadi 70 orang,”kata Thyrhaya.

Dalam prodi Sastra China, mahasiswa tidak hanya diajarkan tentang struktur dan gramatika bahasa, melainkan juga unsur bahasa,sastra juga budaya etnis Tionghoa sehingga bisa mengadaptasi langsung budaya Tiongkok. Dosen yang disediakan juga tidak main-main karena langsung didatangkan dari universitas terkemuka yaitu Jinan University di Guangzhou,Tiongkok. Hingga sekarang dosen dari Jinan University tercatat sebanyak tujuh orang yang berganti setiap semesternya. Sebelum sidang skripsi, mahasiswa juga harus melakukan praktek kerja lapangan di sekolah dengan mengajarkan sastra China dan bahasa Mandarin.

“Sebelumnya saya sudah menyurati sekolah SMA yang ada di Medan dan mereka (mahasiswa) sudah melakukan praktek mengajar langsung di sekolah,”terang Thyrhaya. Kurikulum yang menyeluruh membuat mahasiswa akhirnya tak hanya menguasai sastra China tapi juga budaya Tionghoa. Tak heran skripsi dari angkatan pertama mahasiswa sastra China USU beragam, mulai dari ciri khas masyarakat Tionghoa, budaya, sastra, sampai bahasanya.

“Bahkan ada yang mengangkat tentang giok,”ujarnya. Mahasiswa angkatan pertama yang jumlahnya 26 orang ini sangat membanggakan karena rata-rata mereka yang akan segera diwisuda pada 27 Juli mendatang lulus dengan predikat cumlaude. “IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) tertinggi mencapai 3,9,” tambah Thyrhaya bangga. Ia juga mengharapkan lulusan perdana sastra China ini dapat mengisi lowongan kerja di Kementerian Luar Negeri maupun di sektor perusahaan swasta.

Sementara itu,Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Sumut Indra Wahidin menyebutkan,program sastra China di USU memang merupakan satu prakarsa yang dilakukan pihaknya dengan Rektor USU pada 2005 yang kala itu masih dipimpin oleh Prof.Chairuddin Lubis. Setelah digelar nota kerja sama antara INTI Sumut dan USU, maka pihaknya berupaya untuk membantu memfasilitasi tim pengajar langsung dari Tiongkok. “Kerja sama yang kami lakukan itu tentunya beralaskan terhadap kebutuhan akan pentingnya dibuka prodi khusus sastra China,”sebut Indra.

Menyikapi banyaknya permintaan sementara daya tampung di USU yang masih minim, Indra menyebutkan USU harus segera mengantisipasinya.

13 July 2011

Komentar