Pemikiran Dan Syair-Syairnya Hamzah Fansuri

Written by Siswoyo
http://waspadamedan.com/

Hamzah Fansuri adalah seorang ulama suluk, pujangga yang menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui syair-syairnya yang sangat terkenal di abad ke 16. Seorang pengelana negeri-negeri Arab dan Parsi dalam rangka menimba ilmu, juga dijelajahinya Pahang dan Kudus.

Kitab- kitab ulama besar Parsi Jalaluddin Rami sangat mempengaruhi jiwanya. Bahkan beliau bercita-cita menterjemahkan kitab-kitab dalam bahasa Arab dan bahasa Parsi ke dalam bahasa Melayu. Setelah sekian lama melakukan pengembaraan ke berbagai negeri, Hamzah Fansuri kembali ke tanah lahirnya Barus.

Fansuri adalah Barus

Di zaman sekarang ini, kalau disebut Fansuri maka sebutan itu adalah Hamzah Fansuri. Nama Fansuri telah melekat pada Hamzah Fansuri padahal Fansuri adalah nama Wilayah Barus yang sejak zaman dulu terkenal dengan kapur barusnya.

Di Barus hidup sibur talibun dan gurindam Barus yang terkenal itu. Salah satu gurindam Barus berbunyi sebagai berikut :

Tipu Aceh gurindam Barus
Olok- olok pembayar hutang

Mungkin etnis Aceh merasa tersinggung mengenai kata “tipu Aceh”, yang dirasa seolah-olah orang Aceh itu penipu semua. Padahal sejarah membuktikan yang dimaksud dengan “tipu Aceh” adalah strategi dan diplomasi orang Aceh dalam menghadapi bangsa asing yang datang dari Barat.

Seperti menghadapi Portugis, Belanda, Inggris. Sementara itu Sultan Aceh mempunyai diplomasi yang begitu lihai dalam kegiatan dagang dengan pihak pendatang dari Barat.

Salah satu contoh strategi yang disebut “tipu Aceh” itu adalah taktik yang dilakukan oleh Teuku Umar Johan Pahlawan. Pada saat persiapan amunisinya telah berkurang dan memerlukan tambahan senjata. Teuku Umar pura-pura menyerah berpihak kepada Belanda dalam masa Perang Aceh. Setelah persenjataan dan amunisi telah banyak terkumpul, maka Teuku Umar bergabung kembali dengan pasukannya dan kembali menyerang Belanda.

Sangking enaknya orang Barus mengobrol dengan menggunakan gurindam dan pantunnya, orang yang berhutang tidak perlu membayar hutangnya. Artinya orang yang berhutang bisa lemas melalui kata-katanya yang ucapannya manis dan menawan hati.

Dada Meraxa dalam bukunya “Sejarah Kebudayaan Suku-suku di Sumut” (1973) mengungkapkan kesusastraan lisan di Barus pada masa yang lalu tumbuh dan berkembang dengan suburnya. Pantun, talibun, gurindam terdengar di mana-mana. Dalam acara perkawinan anak negeri, di kedai-kedai kopi, di lerang gunung diantara anak gembala. Bahkan di tepi laut juga terdengar diantara nelayan yang berjiwa seni.

Kias mengkias dimasukkan dalam gurindam curahan hati para remaja atau derita hidup dialirkan dalam pantun “talibun”. Yang paling disukai dimasa yang lalu hingga masa sekarang adalah satu lagu yang terkenal bernama “Sikambang”.

Hamzah Fansuri seorang ulama yang pemikiran-pemikirannya mengenai Tuhan didakwahkan dalam bentuk syair, juga mengisi syairnya dengan filsafat. Seseorang yang pernah mempelajari ilmu filsafat dapat merasakan tingginya tasauf dalam syair yang berbunyi sebagai berikut :

Banyak insan terlalu bebal
Sangkanya dunia abadi kekal
Enak matanya tidur di bantal
Segala salahnya dia tak soal
Mari segala yang mubtadi
Mencapai hakikat Muhammad Nabi
Karena ilmu pertama terjadi
Kenyataaan Maklukat dari Ilahi
Barang siapa arif mengenal
Ia sempurna bahagia
Karena ilmu itulah yang mulia
Kenyataan Tuhan selalu sedia.
Ayuhai segala bernama fakir
Amal diperbanyak ingat dan fakir
Tatkala sekarat jangan menyingkir
Itu pesuruh dari pada Amir.

Hamzah Fansuri melakukan penggembaraan ke berbagai negeri termasuk Mekah dan shalat di Kakbah mencari Tuhan. Inspirasinya yang maha kudus dilukiskannya dalam satu syair yang isinya amat mendalam.

Hamzah Fansuri didalam Mekkah
Mencari Tuhan dibait alka’bah
Di Barus di Kudus terlalu payah
Akhirnya dapat didalam rumah

Melalui syair ini jelaslah beliau seorang ulama yang tidak puas-puasnya mencari ilmu dan senantiasa merasakan Tuhan meliputi segalanya. Maka untuk mengenal Tuhan beliau bersyair sebagai berikut :

Sidang fakir empunya kata
Tuhanmu lahir terlalu nyata
Jika sungguh engkau bermata
Lihat dirimu pandanglah nyata

Dalam syair ini Hamzah Fansuri kemukakan, bahwa Tuhanmu lahir terlalu nyata, jika sungguh engkau bermata”. Lihat dirimu pandanglah nyata. Yang dimaksud oleh ulama itu kekuasaan Tuhan itu terlalu nyata Tuhan yang menjadikan langit dan bumi serta anak manusia yang begitu sempurna serta seluruh isi alam ini. Karena itu tidak heran kalau Allah menyindir anak manusia dalam Al-quran “Afala takkilun?” “(Apakah engkau tidak berakal?”).

Nama Hamzah Fansuri terkenal dan dikenal dimana-mana. Popularitasnya itu juga sampai kedalam Kraton Sultan Iskandar Muda Mahkuta Alam (1607-1936). Di dalam Kraton Iskandar Muda sebelumnya telah ada beberapa orang ulama yang terkenal, seperti Syekh Syamsuddin bin Abdullah Al Sumatrani, Syekh Ibrahim Al Syami dan Syekh Nurruddin Al Raniri dari Gujarat yang menulis kitab Bustanussalatin. Syekh Al Raniri sangat besar pengaruhnya terhadap Sultan Iskandar Muda. Dimasa itu bahasa yang digunakan dalam Kraton Sultan Aceh adalah bahasa Melayu.

Karena kemasyuran nama ulama Hamzah Fansuri maka beliau diundang oleh Sultan Iskandar Muda ke Aceh yang pusat Kesultanan di Lameri (Kutaraja). Penghujung abad ke 16 yaitu tahun 1596 berangkatlah Hamzah Fansuri ke Kutaraja (Banda Aceh sekarang) bersama 20 orang sahabatnya untuk memangku jabatan sebagai ulama dan Penasehat Sultan dalam lingkungan Kraton. Dimasa itu daerah pesisir barat termasuk Barus berada dalam kawasan takluk Sultan Iskandar Muda.

Setelah beberapa lama Hamzah Fansuri mengajar di Kesultanan Aceh dirasakan sekali faham antara satu ulama dengan yang lain tidak dapat disatukan. Masing-masing membawakan Mazhabnya sendiri-sendiri. Sehari demi sehari, sebulan demi sebulan pertentangan terus berlangsung seperti api dalam sekam. Hamzah Fansuri telah melihat dan merasakan hal tersebut, tetapi beliau tidak perduli.

Pernah sekali terjadi perdebatan antara Ulama Al Raniri dengan Hamzah Fansuri dan Hamzah Fansuri menguraikan pendapatnya sebagai berikut :

Aku melihat Tuhan dengan mata Tuhan
Aku mendengar dengan telinga Tuhan
Aku merasa dengan lidah Tuhan
Akulah Tuhan

Ucapan yang sedemikian rupa itu sangat menggemparkan terutama di lingkungan Kraton. Apalagi pengajian umum pada waktu itu belum sampai sejauh pelajaran suluk Hamzah Fansuri. Lawan-lawan Hamzah Fansuri terutama Al Raniri seorang ulama yang sangat berpengaruh dalam Kraton memberitahukan kepada Sultan Iskandar Muda Hamzah Fansuri mengaku Tuhan.

Hukumnya orang yang demikian adalah kafir. Karena itu Sultan memerintahkan untuk membakar semua kitab-kitab Hamzah Fansuri dan beliaupun di penjarakan. Kemudian beliau kembali ke Barus dan mengajar di negeri kelahirannya.

Mengenai ucapan Hamzah Fansuri dalam perdebatannya dengan Syekh Al Raniri yang mengatakan “Aku melihat Tuhan dengan mata Tuhan”. Baru-baru ini penulis menanyakan kepada Ustaz Dr. H.Sarbaini Tanjung,MA ketika dilangsungkan pengajian subuh setelah shalat subuh berjamaah di Mesjid Taqarub Jalan Darussalam Medan, mengenai pengertian kalimat tersebut di atas.

Ustaz Sarbaini Tanjung kemudian menanyakan kepada kami kelengkapan dari kalimat Hamzah Fansuri tersebut. Kami katakan bunyinya sebagai berikut :

Aku melihat Tuhan dengan mata Tuhan
Aku mendengar dengan telinga Tuhan
Aku merasa dengan lidah Tuhan
Akulah Tuhan

Dijelaskan oleh Ustaz Sarbaini Tanjung, tiga baris kalimat tersebut memang ada dalam hadis tetapi yang tidak boleh digunakan kata-kata “Akulah Tuhan”. Dalam kaitan ini katanya Husin al Halaz pernah mengatakan, Tuhan dalam kantong jubahnya, beliau dibunuh. Demikian juga Abu Jazid Al Bustami, ketika ditanya apakah Abu Yazid ada di rumah, beliau menjawab Abu Yazid tidak ada, yang ada Tuhan. Karena ucapannya itu dia juga dibunuh.

Penilaian manusia terhadap seseorang yang menggunakan kata-kata “Akulah Tuhan”, mungkin berbeda dengan penilaian Allah, kita tidak tahu bagaimana penilaian Allah terhadap mereka. Dikatakan oleh Ustaz Sarbaini Tanjung, kata-kata “Akulah Tuhan” tidak boleh digunakan.

Last but not least Hamzah Fansuri adalah seorang ulama suluk dan seorang pujangga yang banyak menulis prosa dan puisi termasuk syair yang di dalamnya menyampaikan pesan dakwah. Tapi sayang di masa beliau hidup tidak terpelihara dengan baik. Apalagi ada masalah perbedaan paham yang menyebabkan kitab-kitabnya dibakar. Kebetulan masih ada juga yang tertinggal di antara Syair Dagang antara lain berbunyi sebagai berikut :

Wahai dagang yang hina
Ketahui hidup dalam dunia
Sebagai jati tiada berbunga
Bagi burung tiada berguna
Wahai sekalian kita yang kurang
Nafsumu itu lawan berperang
Jauhkan tamak baiklah kurang
Jaga dirimu jatuh ke jurang
Amat-amati membuang diri
Menjadi dagang di segenap negeri
Baik-baik engkau pikiri
Supaya selamat hari-hari.

@http://waspadamedan.com/07 June 2010

Komentar