Langsung ke konten utama

Pengorbanan dan Pengkhianatan

M. Kanzul Fikri
http://www.radarmojokerto.co.id/

Wulan adalah salah satu santriwati yang pandai dan rupawan, dan juga termasuk keturunan priyayi. Maka tidak perlu heran bila dia menjadi idaman kaum Adam. Namanya sudah tidak asing lagi di telinga kaum Adam. Baik di sekolah maupun di pondok putra. Salah satu lelaki yang menaruh hati padanya adalah teman sekelasnya. Yang statusnya sebagai santri alias berasrama di pondok, yaitu Romy.

Romy diam-diam mulai suka dengan Wulan sejak kelas sati MTs. Namun Romy tidak pernah mempunyai keberanian untuk mengatakan kepada Wulan. Bagi Romy, Wulan terlalu sempurna untuk dirinya. Tetapi dengan adanya dukungan dari sahabatnya Toni, akhirnya Romy memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Wulan dengan sepucuk surat yang dilipat begitu rapi. Namanya juga anak pondok, tidak mungkin berani ngomong langsung.

Namun sampai kelas dua MTs, tidak pernah satu pun balasan yang diterima oleh Romy. Mungkin Wulan tidak menaruh hati pada Romy. Oleh karena itu Romy berfikir untuk melupakan orang yang dicintainya itu. Namun sikap Wulan yang seolah-olah memberi harapan membuat Romy bingung. Sebagai pelarian, Romy terpaksa berpacaran dengan Yuli, adik kelas Romy.

Teman-teman Romy banyak yang mengetahui tentang hubungan Romy dengan Yuli. Namun hubungan tersebut tidak berjalan lama. Hal itu dikarenakan Romy masih sulit untuk bisa melupakan Wulan. Bagaimana bisa melupakan, kalau setiap hari Romy masih sering melihat sosok Wulan. Karena keduanya masih sekelas. Di mata teman-teman, Romy dicap sebagai lelaki brengsek, yang telah menjadikan adik kelasnya sebagi pelarian cintanya. Kalau hubungan sudah tidak cocok, kenapa harus diteruskan. Itulah prinsip Romy.

Memasuki kelas tiga MTs, diadakan pengacakan kelas. Yang hasilnya Romy dengan Wulan harus pisah kelas. Entah mengapa perasaan Romy semakin kuat terhadap Wulan. Sebab itu pula Romy memberanikan diri untuk mengungkapkan bahwa perasaannya masih tetap seperti dulu. Ajaib bin Ajaib, tiba-tiba Romy mendapatkan surat. Setelah dibaca ternyata surat tersebut adalah jawaban dari Wulan. Hati Romy berbunga-bunga bercampur gelisah. Kegelisahan itu timbul karena wulan meminta bukti kalau perasaan Romy masih tetap seperti dulu.

Hari-hari yang dijalani Romy hanya memikirkan cara untuk membuktikan perasaannya terhadap Wulan. Romy tidak pernah berkosentrasi dalam belajar. Dia mengorbankan belajarnya hanya karena Wulan. Padahal Romy tahu, kalau di antara hal-hal yang bisa merusak jiwa-jiwa pemuda adalah seorang perempuan. Tapi itu tidak pernah digubrisnya.

Setelah Romy merasa tidak punya cara yang tepat untuk membuktikan cintanya. Romy memberanikan diri mengungkapkan perasannya langsung empat mata dengan Wulan. Padahal sebenarnya Romi juga anak yang pemalu. Tapi dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Itu semua dilakukannya semata-mata agar Wulan percaya tentang apa yang pernah dikatakan oleh Romy. Setelah dia mengatakan semuanya kepada Wulan. Wulan tidak banyak bicara. Dia hanya meminta waktu untuk memikirkan masalah tersebut. Wulan bingung, apakah Romy sungguh-sungguh mencintainya.

Sahabat Romy, Toni, diam-diam tahu tentang perasaan si Romy yang suka dengan Wulan. Toni merasa kasihan dengan Romy. Tanpa sepengetahuan Romy, diam-diam Toni berusaha meyakinkan si Wulan, bahwa Romy sungguh-sungguh mencintainya sejak kelas satu MTs. Wulan terkejut dengan pernyataan Toni yang terkenal sebagai sahabat dekat Romy itu. Toni juga memaksa Wulan untuk menerima cinta Romy. Karena Toni tahu, kalau Wulan akan pindah sekolah setelah lulus kelas tiga, tidakmelanjutkan sekolah di Madrsah Aliyah di pondok itu. Toni merasa kasihan dengan Romy. Meskipun Toni tahu seandainya Romy tahu tentang hal ini, pasti Romy akan marah besar padanya. Dan persahabatan mereka akan hancur. Toni tidak pernah memperdulikan hal itu. Bagi Toni, kebahagiaan Romy adalah segala-galanya.

Setelah kurang dari dua minggu. Akhirnya Romi mendapatkan jawaban dari Wulan, yang intinya Wulan memberi kesempatan pada Romy. Hati Romy sedikit tidak percaya bercampur bahagia. Dia tak tahu bahwa Wulan menerima dia karena paksaan dari sahabatnya sendiri. Setelah hubungan keduanya berjalan kurang lebih sepuluh bulan, tiba-tiba Romy merasa ada sedikit perubahan dari diri kekasihnya. Wulan yang biasanya pendiam dan pemalu.kini tak lagi seperti itu.

Waktu liburan Wulan meminta putus dengan Romy dengan alasan yang bermacam-macam. Karena Wulan tahu bahwa dirinya sebentar lagi akan pindah sekolah. Romy mau tidak mau berusaha menerima kenyataan itu. Bagi dia kebahagiaan Wulan lebih penting daripada kebahagiaannya. Romy menyangka kalau Wulan selama ini tidak sepenuhnya suka dengan dirinya. Karena Romy merasa Wulan tidak pernah mau mengerti apa yang Romy rasakan. Tetapi perasaan itu hanya disimpan dalam hati. Romy tidak pernah berani menanyakan tentang hal itu pada Wulan.

Setelah pengumuman kelulusan. Romy mendengar kabar bahwa wulan tidak jadi pindah sekolah. Perasaan Romy senang berbaur tak percaya. Setelah awal tahun ajaran baru. Ternyata Wulan benar-benar tidak jadi pindah sekolah. Romy merasa senang karena dia masih tetap bisa melihat Wulan, walaupun sudah tidak ada hubungan diantara keduanya.

Setelah kelas dua MA, saat itu liburan ramadhan telah tiba. Para santri berebut surat izin agar diperbolehkan untuk pulang ke kampung halaman. Sesampai di rumah Romy langsung bermushafahah[1]dengan kedua orang tuanya. Betapa bangganya orang tua Romy.

Dua hari sebelum masuk efektif, Toni datang kerumahnya untuk bersilaturrahim. Ditengah-tengah pembicaraan, tiba-tiba Toni meminta maaf dan menceritakan semuanya tentang Wulan. Romy terkejut dan tidak menyangka bahwa Wulan dulu, benar-benar terpaksa menerima dirinya. Romy mencoba bersabar dan mengendalikan dirinya. Agar tidak terbawa emosi dan amarah.

”Mengapa baru sekarang aku tahu?” Celetuk dalam hati Romy. Dia merasa dibohongi oleh Wulan.

“Mengapa disaat aku terlanjur sayang dengan Wulan. Aku harus menerima kenyataan yang pahit ini?” Itulah kata-kata yang diucapkan Romy.

”memang hidup ini tidak seperti apa yang kita inginkan. Belajarlah menerima kenyataan.” Itulah kata-kata yang diucapkan Toni saat melihat sahabatnya yang duduk diam termenung. Dan kata-kata itulah yang membuat Romy menjadi lebih tegar dalam menghadapi kenyataan.

*) M. Kanzul Fikri adalah siswa MA AL-ANWAR Paculgowang kelas XII IPS B. Sekarang nyantri di Pondok Pesantren AL-ANWAR Paculgowang.

__________
Footnote :
[1] Bersalaman


Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com