Langsung ke konten utama

Bulan Sastra Indonesia di Jombang

Siti Sa’adah
Radar Mojokerto, 24 Juli 2011

Meskipun belum ada kesepakatan secara menyeluruh mengenai peringatan Bulan Sastra Indonesia, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMP Bahtra Indonesia) STKIP PGRI Jombang telah mengagendakan peringatan tersebut pada bulan April. Bulan sastra disebut oleh Sapardi Djoko Damono sebagai hari sastra jatuh tepat pada 28 April yang sekaligus untuk mengenang Chairil Anwar. Bulan Sastra Indonesia yang telah berlangsung pada 15-16 April 2011 di kampus STKIP PGRI Jombang merupakan agenda baru HMP Bahtra Indonesia yang merupakan pengembangan agenda Bulan Chairil yang telah dilaksanakan sebanyak tiga kali setiap tahun sejak kepemimpinan Ikhsanul Fikri (2008) yang sekarang menjadi ketua Sanggar Teater Gendhing dan Rahmad Sularso Nh. (2009 dan 2010). Pergantian nama dari Bulan Chairil ke Bulan Sastra ini bertujuan agar kegiatan tidak terpaku pada sosok Chairil saja, melainkan terbuka untuk mengangkat sastrawan lain seperti Pramoedya

Ananta Toer yang wafat pada bulan ini.

Adapun rangkaian acaranya yaitu Kompetisi Karikatur dengan tema Kartini dalam imaji, Kompetisi Musikalisasi Puisi dengan tema Lebih Dekat dengan Cak Nun, Nonton dan Diskusi Film Dokumenter Sastra Pramoedya Ananta Toer, Bedah buku kumpulan puisi Lelah Membaca Indonesia karya Saiful Hadjar dengan acara pendukung Karnaval Puisi untuk Chairil, musik band oleh UKM Musik STIKP PGRI Jombang, dan musikalisasi puisi oleh Sanggar Bintang.

Kompetisi Karikatur Kartini dalam Imaji tingkat SMA digelar dalam rangka menyambut hari Kartini yang biasa diperingati pada tanggal 21 April, kompetisi ini gelar di hari pertama, 15 April 2011 pukul 08.30 pagi, diikuti oleh 20 peserta. Juara pertama oleh Esti Vita Ningtyas (JUara I, MA Wahab Hasbullah Tambak Beras), Ikok Muslimat (Juara II, SMAN Ploso), Fendik Bahauddin (Juara III, MA Al-Anwar Paculgowang) dengan juri Eko Utomo dan Budi Bahagia dari KOPI Jombang. Kegiatan ini diniatkan untuk mengapresiasi dan menyerap semangat Kartini melalui media gambar berupa karikatur, dan peserta dibebaskan menggambarkan sosok Kartini dengan imajinasi seluas-luasnya. Esti Vita Ningtyas yang aktif di Komunitas Pena (KOMA) ini menggambar kartini “bertangan seribu” berumbul Kartini Masa kini dengan fungsi berbeda untuk setiap tangannya, ada yang menuntun anak, memegang HP, menggunakan Laptop, menyetrika, memasak dan berolahraga. Hal ini tentunya untuk menggambarka bahwa perempuan bisa melakukan banyak hal dengan tidak meniadakan kodrat dan kewajibannya sebagai perempuan atau ibu. Lain lagi dengan Ikok Muslimat yang menggambarkan ironi emansipasi wanita dengan kartini (baca: perempuan, ibu) berpeluh mengayuh becak sedangkan sang suami menyuapi anaknya di rumah, ini merupakan emansipasi yang dimaknai begitu sempit dan menjadi lucu. Fendik Bahauddin menggambarkan sosok Kartini yang sedang mengajar wanita-wanita Indonesia. Dan masih banyak lagi ide peserta yang dituangkan dalam ajang ini.

Agenda kedua di hari pertama yaitu Nonton Bareng dan Diskusi Film Dokumenter Sastra Pramoedya Ananta Toer, yang merupakan salah satu film dari 40 film Dokumenter Sastrawan Indonesia yang diproduksi oleh Yayasan Lontar. Film ini didapatkan penyelenggara dari koleksi Dewan Kesenian Jawa Timur melalui Abdul Malik dan sampai di tangan penyelenggara melalui Jabbar Abdullah. Dalam diskusi menghadirkan Muh. Syafrudin Hadi seorang guru sastra dan Aditya Ardi Nugroho yang dikenal dengan sebutan Genjus dari LISWAS Ngoro. Syafrudin Hadi dengan ulasannya yang berjudul Pramoedya dan Historiografi Sejarah Indonesia menjelaskan, “Melalui beberapa novel sejarahnya, Pram mencoba mendekontruksikan sejarah Indonesia, selama ini sejarah Indonesia sangatlah subyektif dan istanasentris, hal ini terlihat dalam penerbitan buku-buku sejarah sejak zaman Soharto terutama buku wajib mahasiswa sejarah, yaitu karangan Marwati Junaid Pusponegoro maupun Nugroho Notosusanto yang terangkum dalam Sejarah Nasional Indonesia jilid 1 sampai 6, Historiografi Sejarah Nasional ini terkesan kaku dan penuh dengan subyektifitas penguasa kala itu. Melalui Tetralogi Arok Dedes dan Tetralogi Buru dan Keluarga Gerilya serta Perburuan Pram membuat mata masyarakat bahwa Sejarah Nasional Indonesia tidak hanya bersifat istanasentris berbau subyektif.”

Sedangkan Aditya Ardi Nugroho bertutur tentang Pramoedya Ananta Toer dan “Sastra Revolusioner,” serta madzhab realisme sosialis yang dianut Pram, diantara pandangannya sastra harus merupakan representasi kondisi objektif masyarakat yang tertindas oleh system kapitalis yang menindas, Genjus juga menerangkan, “Pada dasarnya aliran ini berpijak dari suatu sikap penolakan terhadap sastra (dan seni pada umumnya) borjuis. Sastra borjuis banyak dicirikan oleh kecenderungan mendewakan hal-hal yang bersifat teknis dan formal, yang dituduh para penganut realism sosialis sebagai pencideraan terhadap publik sastra, karena berusaha menjauhkan sastrawan dan peminat sastra dari realitas sesungguhnya.”

Di dalam film berdurasi hampir setengah jaim ini Pram menceritakan sosok ibunya yang menjadi panutan dan menjadi teladannya, tentang pendidikannya selama di sekolah dasar yang harus dia tempuh lebih lama dari sewajarnya, mengenai kekaryaannya sampai sisi lain hidupnya seperti berhubungan seks dengan noni Belanda saat dia pergi ke Belanda yang kemudian menambah kepercayaan dirinya dan merasa sederajat dengan manusia manapun.

Agenda Bulan Sastra Indonesia 2011 pada hari kedua yaitu Kompetisi Musikalisasi puisi Lebih dekat dengan Cak Nun, dimana peserta harus menampilkan dua puisi, satu puisi karya Cak Nun dan satu lagi puisi karya siswa. Penyelenggara mengangkat puisi Cak Nun sebagai naskah wajib agar siswa di Jombang bisa mengapresiasi, meneladani serta menyerap semangat kekaryaan beliau, sehingga mereka bisa merasakan spirit serta kedekatan dengan putra kelahiran Jombang yang telah berkiprah di tingkat nasional dan internasional. Ada tujuh naskah puisi yang ditentukan yaitu Abacadabra Kita Ngumpet… , Syair Bonsai, Kudekap kusayang-sayang, Dari Bukit Kotamu, Sajak Merah Putih, Puisi Jalanan, Sajak Terompet. Hasil penilaian dua juri yaitu Zaidan Afwaja (S’KETIKA) dan Alfi R. Siregar (Ketua KELBINTERBANG) menetapkan SMAM Muhammadiyah 1 Jombang sebagai juara pertama yang diwakili oleh Aditya Mahendra Putra, M. Ainun Najib, Sukma Tri Wobowo, Amelia dan Fajar Zakaria dengan musikalisasi Puisi Jalanan dan Tinggalkanku Sendiri. MAN Jombang dari grup B sebagai juara II yang diwakili oleh Achmad Anshori, M. Rizal Hidayatullah, Erkha Nata, Ahmad Fauzan dengan musikalisasi puisi Sajak Merah Putih dan Pagi, serta MAN Jombang dari grup A sebagai juara III yang diwakili oleh Iwan Susanto, M. Shobir Farid Niamilah, M. Irfansyah danYusuf Jailani dengan musikalisasi puisi Sajak Merah Putih dan Mata Batin dan Negeri Indonesia.

Puncak agenda Bulan Sastra Indonesia 2011 yaitu bedah buku kumpulan puisi Lelah Membaca Indonesia karya Saiful Hadjar, penyair dan perupa senior dari Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB) Surabaya. Dengan gayanya yang menarik Saiful Hadjar membuka bedah buku dengan membaca puisi Padi, //semakin merunduk / semakin berisi / dikupas / dimasak / dimakan / enak / sedang kita semakin berisi / tak seenak padi//. Diskusi yang diikuti 250 peserta ini bergulir dengan pengulas Deny Tri Aryanti (Penulis, Ketua Komite Teater DKJT), dan Siti Maisaroh (dosen sastra STKIP PGRI Jombang) dan dimoderatori oleh Purwanto dari Kelompok

Alief Mojoagung. Deny menuturkan dalam ulasannya, “Parodi tertulis dalam antologi ini ingin mereprentasikan kondisi ”keduluan” hingga ”kekinian” yang selalu berputar-putar pada diksi datar yang dirangkai sehingga menjadi rangkaian sajak yang bersimbol.”. Sedangkan Siti Maisaroh mendedah kumpulan puisi Lelah Membaca Indonesia ini memiliki nilai kearifan dan kebijaksanaan hidup, humor, daya kontemplatif serta satire yang kritis. Kekompleksan problematika kehidupan yang terekam dalam karya tersebut mencakup persoalan-persoalan kemanusiaan, sosial, politik, hukum, moral, bahkan filosofis. Diskusi ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa setempat dan para pemerhati dan penikmat sastra di Jombang, dengan suguhan musikalisasi puisi Peluru karya Saiful Hadjar dan Kabut karya Emha Ainun Nadjib oleh Sanggar Bintang.

Semoga dengan adanya Bulan Sastra Indonesia 2011 ini bisa menggiatkan kekaryaan dan apresiasi seni di Jombang serta membangun jejaring budaya yang sangat penting bagi perkembangan seni dan budaya di Jombang dan sekitarnya.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com