Langsung ke konten utama

Cerita-cerita Pulau Buru: Sejarah dan Nyanyi Burung Kedasih

Ignas Kleden
http://majalah.tempointeraktif.com/

Pramoedya ist ein Begriff—Pramoedya bukan sekadar nama, tetapi sebuah pengertian, bahkan sebuah konsepsi. Kata-kata itu diucapkan oleh seorang ibu yang amat simpatik, Prof. Irene Hilgers-Hesse, Ketua Jurusan Melayu di Universitas Koeln, ketika mengundang seorang mahasiswa filsafat di Muenchen tahun 1980, yang kebetulan saya sendiri, untuk membicarakan buku Bumi Manusia yang baru saja terbit.

Pramoedya memang telah membuat namanya menjadi sebuah pengertian jauh sebelum diasingkan selama 14 tahun. Namun rupanya belantara pengasingan itulah yang memberinya pengertian tentang sejarah Indonesia dan bahkan tentang manusia dalam sejarah. Membaca empat jilid roman sejarah Pulau Buru—Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca—adalah menelusuri riwayat hidup Minke, anak seorang bupati Jawa, yang menolak meneruskan jabatan bapaknya, bersekolah Belanda di HBS, kuliah kedokteran di STOVIA, dan menjadi orang pergerakan yang menciptakan reputasinya sebagai wartawan-pengarang yang sanggup menulis dengan pisau belati.

Akan tetapi membaca riwayat Minke adalah berhadapan dengan sebuah thick description tentang keadaan Hindia Belanda di Pulau Jawa pada saat pergantian abad, sementara dengan mengikuti lukisan serba rinci tentang struktur sosial dan kebudayaan kolonial pada masa itu, kita belajar tentang kesanggupan dan ketidaksanggupan manusia dalam berhadapan dengan sejarahnya.

Para ahli filsafat sejarah masih berdebat apakah sebetulnya sejarahlah yang membentuk manusia (sebagaimana diajarkan oleh Hegel dan Marx, misalnya), ataukah sebetulnya manusia sendirilah yang membentuk sejarahnya (sebagaimana dibela secara militan oleh Karl Popper).

Adalah unik bahwa Pramoedya sendiri telah melibatkan diri dalam teka-teki filsafat itu dengan caranya sendiri. Dalam pandangannya, sejarah adalah gelombang dahsyat yang siap menggulung siapa saja, tetapi manusia bukanlah sepotong gabus yang setelah terombang-ambing dapat diempas ke daratan dan menjadi sampah di pantai.

Tokoh-tokoh Pramoedya memang kalah dilanda sejarahnya, tapi sekaligus juga sanggup mengalahkan kekalahannya sendiri dengan mengatasi baik ketakutan maupun kesombongan untuk tidak menang. “Kita kalah, Ma, bisikku.” “Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”. Itulah kalimat penutup buku Bumi Manusia yang dengan keindahan yang getir menunjukkan persaingan abadi antara determinisme sejarah dan pilihan moral yang bebas.

Di tangan Pramoedya, sejarah selalu merupakan kisah tentang unggulnya kekuatan-kekuatan anonim dalam suatu zaman, yang penuh daya-dera yang menggilas, tetapi gagal menghentikan seseorang untuk mengatakan “tidak!” Weltanschuung pengarang ini mirip kombinasi antara keberanian dan kerendahan hati sekaligus: sejarah akan mendesakkan diri ke mana saja, tetapi manusia tetap tak terkalahkan.

Apakah karena itu perjuangan dan heroisme dalam roman-roman ini selalu berkibar di tangan perempuan? Apakah simpati pengarang kepada perempuan diakibatkan oleh nasib mereka yang sering terkungkung di bawah kekerasan patriarki sebagai sebuah kekuatan sejarah, dan karena itu perempuanlah yang menjadi kawan seperjuangan pengarang menghadapi kekerasan politik? Ataukah oleh hormat kepada tokoh-tokoh perempuan yang besar peranannya dalam biografi pengarang?

Apa pun sebabnya, Pramoedya telah menampilkan sebarisan srikandi, sebagai pendekar yang bertarung dengan kekuatan sejarah. Sanikem dijual oleh ayahnya kepada seorang administratur pabrik gula di Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Herman Mellema. Dia menerima dirinya sebagai seorang nyai dengan nama Nyai Ontosoroh karena tak kuasa melawan kehendak ayahnya yang ingin naik pangkat. Tapi ia tak mau menjadi nyai yang dungu. Dengan bimbingan tuannya, dia belajar membaca dan menulis, belajar bicara bahasa Belanda, dan membaca beberapa bahasa Barat, mahir menyusun pembukuan dan mengelola perusahaan susu dan perlahan-lahan mengumpulkan modal sendiri.

Sayang, kedudukannya sebagai nyai tidak dilindungi hukum mana pun, dan karena itu tidak mempunyai hak hukum apa pun. Setelah tuannya meninggal, seluruh hartanya, bahkan anak perempuannya, Annelies, harus diserahkan ke ahli waris Herman Mellema, berdasarkan keputusan pengadilan di Amsterdam. Demikian pun Bunda, ibu Minke. Dengan cara yang elegan Bunda memainkan peran agen-ganda antara Minke dan ayahnya, seorang bupati di kota B, yang gandrung jabatan dan silau oleh kekuasaan. Diperingatkannya Minke agar tahu memberi sembah kepada ayahnya, sementara di pihak lain dia dapat menerima bahwa anaknya menjadi bupati dan ingin jadi manusia merdeka selama dia tetap menjadi “kedasih yang bersambut”.

Perempuan lain adalah Ang San Mei, seorang gadis Tionghoa. Dia belajar pada sebuah sekolah menengah Katolik di Sanghai, ikut pergerakan kaum muda di Cina untuk untuk menggulingkan Kaisarina Ye Si, dan mengalami persekusi oleh kaum tua yang ingin mempertahankan politik tradisional. Mei meninggalkan Cina dan pergi ke selatan. Di Batavia dia bekerja (dan menyamar) sebagai guru bahasa Inggris. Minke menikah untuk kali kedua dengan Mei dalam suatu perkawinan yang aneh. Hidup bersama selama lima tahun, kesempatan berkumpul sangat jarang, karena tiap malam Mei—dengan izin suaminya—meninggalkan rumah untuk mengatur pergerakan kaum muda bersama kawan-kawannya yang ada di Batavia, sedangkan Minke sendiri cukup sibuk dengan kuliahnya di Stovia.

Kesehatan Mei melorot. Dia jatuh sakit dan meninggal dalam kesunyian setelah dirawat dua bulan di rumah sakit. Mei adalah representasi perjuangan melawan ancient regime dan memberi romantika yang indah kepada Jejak Langkah, yang sarat dengan gagasan politik. Sepeninggal Mei, Minke berkenalan dengan seorang gadis cantik berdarah biru, dari latar belakang Indonesia Timur. Gadis Maluku ini bernama Prinses van Kasiruta, dibuang bersama ayahnya ke daerah Priangan, karena gerakan politik. Dia berpendidikan MULO, mahir berbahasa Belanda, dapat berbahasa Melayu dan sedikit Sunda, dan karena itu diminta menjadi pembantu redaksi Medan, yang dipimpin Minke.

Sang Pemimpin Redaksi, Minke, kemudian meminang Prinses pada bapaknya, Tuan Raja, dalam pengasingan, dan mereka menikah. Dibesarkan dalam keluarga pergerakan, Prinses ternyata pandai menunggang kuda dan menggunakan senjata api berkat latihan sejak kecil. Dia menjadi pembela Minke terhadap musuh-musuh politiknya yang selalu mengancamnya secara fisik. Dalam suatu serangan diam-diam terhadap Minke, Prinses, yang menyamar tanpa diketahui suaminya, menghadapi seorang diri anggota geng tersebut, menembak tiga di antaranya, dua mati seketika, dan seorang dapat diselamatkan di rumah sakit.

Sebagai seorang terpelajar, dia tetap mempertahankan etos perempuan Kasiruta: “Dia akan membunuh suami durhaka. Dan dia akan membunuh pendurhaka suami yang dicintainya.” Karena “yang kuketahui hanya suamiku….” dan “yang ada hanya suamiku”. Bercinta, baginya, adalah saling melindungi. Apakah di sini pengarang telah bergulat dengan masalah gender equality bahkan jauh sebelum istilah itu muncul dalam wacana kaum feminis? Lalu Piah, pembantu rumah tangga yang melayani Minke dan Prinses. Di luar pengetahuan Minke, Prinses telah memberinya pendidikan politik. Ketika Minke dibuang ke luar Jawa tanpa dapat ditemani oleh istrinya (karena dilarang pemerintah), Piah dimintanya bersumpah setia untuk Prinses. Jawaban Piah sangat menggetarkan perasaan: “Sampai hati Juragan menuntut sumpah dari sahaya, sumpah untuk tuan sahaya, sumpah untuk pemimpin sahaya? Tidakkah cukup saya sebagai anggota Syarikat?”

Ketika Minke mengucapkan selamat tinggal dan menitipkan Prinses, jaminan Piah adalah: “Juragan tetap di hati kami.” Perempuan desa ini merepresentasikan orang kecil berjiwa besar. Perempuan yang paling berhasil tentulah Siti Soendari, anak teman sekolah Minke, yang tinggal di Pemalang. Ditinggal mati oleh ibu, Siti Soendari dibesarkan ayahnya dalam suasana terpelajar. Selepas sekolah, Soendari memilih menjadi perempuan merdeka yang bekerja untuk cita-citanya. Dengan sopan tetapi teguh dia menampik setiap bujukan ayahnya yang dipaksa oleh Belanda, agar segera menikahkan anaknya.

Dia berhasil mengatasi rasa takut kepada ayahnya demi mempertahankan cita-citanya, suatu hal yang masih tak dapat diwujudkan oleh R.A. Kartini sebelumnya. Kalau dia hidup tahun 1990-an tentulah Soendari juga akan mengucap: Women’s right: Human right. Sebaliknya, tokoh lelaki dalam roman-roman Pulau Buru adalah tawanan kekuatan sejarah. Bagi mereka sejarah menjadi captive history, yang membawa mereka turun naik bersama alunan gelombang.

Sastrotomo adalah prototip pribumi pegawai kolonial yang melihat jabatan sebagai tujuan hidup. Dia bersedia merendahkan diri, mempertaruhkan keluarga dan menjual anak perempuannya sendiri untuk membayar kenaikan pangkat sebagai juru bayar di pabrik gula. Anak gadisnya, Sanikem, diserahkan ke administratur Herman Mellema, yang kemudian menjadi pemilik perkebunan Boerderij Buitenzorg, tempat Sanikem mendapatkan namanya Nyai Ontosoroh.

Kisah yang sama berulang pada anak laki-laki Sastrotomo bernama Sastro Kassier, pemegang kas di pabrik gula Tulangan. Dia juga harus menyerahkan anak perempuannya, Surati, kepada penguasa pabrik gula yang baru, Frits Homerus Vlekkenbaaij, yang oleh penduduk setempat dipanggil Tuan Plikemboh. Sebelum menyerahkan diri ke Plikemboh, Surati sengaja menularkan dirinya dengan penyakit cacar, yang sedang mewabah. Plikemboh kena tular dan meninggal dunia, sedangkan Surati diambil kembali oleh keluarganya dan hidup dengan muka penuh bopeng.

Tipe laki-laki lainnya adalah si Darsam dan Trunodongso, dua pendekar yang selalu siap mati untuk tanah majikan dan tanahnya sendiri. Sayangnya, mereka tidak menyadari bahwa senjata parang yang mereka banggakan tak dapat menghadapi kekuatan politik yang tak mereka pahami, tetapi yang akibatnya mereka rasakan setiap hari. Demikian pula Marko, yang dengan semangat berkobar bekerja untuk Medan, terlalu sedikit pengetahuan politiknya, sehingga menurunkan berita yang dianggap menghina Gubernur Jenderal. Akibatnya, Minke sebagai Pemimpin Redaksi Medan harus menjalani hukum pembuangan ke luar Pulau Jawa.

Ada pula Pangemanann, seorang pribumi asal Minahasa yang beruntung mendapatkan pendidikan tinggi, dan bahkan sempat mengikuti kuliah beberapa tahun di Universitas Sorbonne. Dengan jabatan yang sangat tinggi sebagai komisaris polisi, dia kemudian menjadi pegawai Algemeene Secretarie pusat, yang mengatur kekuasaan kolonial di Hindia Belanda. Bergaji besar dan status sosial yang tinggi, dia praktis tidak mengalami tekanan ekonomi apa pun, menjadi anggota Kamar Bola, tempat orang dapat menemui pejabat-pejabat tinggi di Batavia pada waktu senggang. Anehnya, semua itu tidak sanggup menghilangkan kompleks inferioritasnya karena merasa tidak memiliki keberanian yang ada pada Minke.

Dia goyah di antara kekagumannya kepada tokoh pergerakan itu dan kewajibannya untuk menangkapnya. Di pihak orang Eropa, terlihat bahwa para penguasa pabrik gula, “orang dengan lidah api”, mempunyai moral yang dekaden. Mereka dapat menyuruh bunuh para petani dengan gerak jari tangannya, atau memaksakan seorang bawahannya menyerahkan anak gadisnya untuk dijadikan nyai. Ada pula orang Eropa pegawai tinggi yang bunuh diri dengan sublimat seperti Simon de Lange, seorang lulusan universitas di Belanda, bujangan muda yang dipuja banyak wanita.

Tipe lainnya adalah ahli hukum yang hanya bekerja untuk uang seperti halnya Mr. Deradera Lelliobuttocks, yang buruk rupa. Sebaliknya orang-orang Eropa yang mendukung perjuangan Minke biasanya gagal atau cacat. Pelukis Prancis Jean Marais, yang ikut berperang di Aceh untuk Belanda, terpaksa hidup dengan satu kaki. Atau Dr. Martinet, yang merawat Annelies dan sangat paham psikoanalisa, gagal merebut hati Nyai Ontosoroh. Ada juga Herbert de la Croix, asisten residen, tak sanggup membela perkara Minke, meletakkan jabatan dan kembali ke Eropa. Atau Henrik Frischboten, ahli hukum yang selalu membantu Minke dengan nasihat-nasihat hukumnya, menderita impotensi seksual dalam perkawinannya dengan Miriam de la Croix.

Sikap terhadap laki-laki dan perempuan ini rupanya berdampak pada komposisi dan teknik literer. Pembicaraan antara Minke dan perempuan selalu akrab dan menyenangkan. Terasa benar bahwa teks sendirilah yang menghasilkan dan mengharuskan munculnya percakapan-percakapan tersebut. Pada hemat saya, dialog yang terbagus selalu berlangsung antara Minke dan Bundanya. Ibu ini menjadi gabungan yang unik antara sikap naif dan kedalaman filosofis. Sebaliknya, percakapan dengan Nyai Ontosoroh menyajikan kecerdasan alamiah, kekerasan hati dan dendam yang tak teratasi yang justru menjadi energi untuk maju.

Percakapan Minke dengan Mei adalah lukisan cinta dua orang yang tak sepenuhnya saling memahami, tetapi penuh kepercayaan satu pada yang lainnya. Sebaliknya percakapan-percakapan dengan Annelies yang labil mengungkapkan saktinya cinta yang menyembuhkan. Di pihak lain dialog antara Minke dan laki-laki hampir selalu menjadi diskusi yang kering dan serebral.

Renungan-renungan Pangemanann lebih merupakan risalah filsafat. Pembicaraan Minke dengan Gubernur Jenderal Van Heutz sangat mirip notulen diskusi politik. Demikian pula uraian-uraian Tuan R., seperti Pangemanann, layak dijadikan makalah studi perbandingan kebudayaan Jawa dan Eropa. Tak kurang menjemukan pembicaraan Minke dengan ayahnya yang berputar sekitar kekuasaan dan pentingnya jabatan tinggi. Contoh seperti ini dapat diperbanyak dengan mudah dan dapat dipungut secara random dari keempat jilid yang dibicarakan di sini.

Pertanyaan yang menarik: Mengapa dalam hubungan dengan perempuan cerita menjadi tekstual dan pengarang menjadi story-teller yang mahir, sementara dalam hubungan dengan laki-laki cerita menjadi autorial, dan pengarang menjadi komentator ceritanya sendiri? Salah satu sebabnya, mungkin, karena dalam hubungan dengan perempuan dialog terjadi antara dua atau beberapa pribadi. Sebaliknya dalam dialog dengan laki-laki, pembicaraan berlangsung antara dua gagasan. Maka yang menentukan bukanlah apa yang dibicarakan, tetapi apakah ada suasana yang melahirkan pembicaraan itu secara wajar tanpa dipaksakan oleh sebuah rencana.

Bahkan pembicaraan tentang sejarah dan kebudayaan yang bersifat ilmiah pengetahuan hidup dan akrab, sebagaimana terjadi antara Minke dan dua gadis bersaudara De la Croix, Miriam, dan Sarah (Bumi Manusia: 133-141). Diskusi itu penuh senda-gurau dan sindir-menyindir khas siswa-siswa HBS, dan muncul sebagai hasil interaksi antara tiga pribadi dengan tiga watak. Sementara itu diskusi Pangemanann dengan Tuan R. dan Tuan L. (juga mengenai sejarah dan kebudayaan) tidak berhubungan dengan watak tertentu, dapat terjadi antara siapa saja, asal saja ada keahlian cukup pada para pembicara tentang sejarah kebudayaan (Rumah Kaca: 66-71; 113-116). Yang muncul adalah pertemuan dua atau tiga gagasan (dan bukan dua atau tiga pribadi) sekalipun diskusi itu mengandung kritik kebudayaan dan keterangan sosiologis yang bermutu tinggi.

Apakah ini berarti lelaki menjadi korban yang ditelan oleh kekuatan sejarah zamannya, sedangkan perempuan adalah representasi kehendak moral yang bebas? Seandainya pun tipologi ini benar, ini hanyalah sebuah kecenderungan, sebuah pola, yang ternyata tidak dimutlakkan oleh pengarangnya sendiri.

Annelies, anak gadis Nyai Ontosoroh, dan Herman Mellema, adalah gadis labil menjadi frigid karena pernah dicoba digagahi oleh abang kandungnya sendiri, Robert Mellema. Dia dinikahkan dengan Minke, sebentar menjadi “Bunga Akhir Abad” dengan semerbak yang merebak ke seantero Jawa, dipisahkan dari suaminya, dan meninggal dalam kesendirian di sebuah kota kecil di Belanda. Dia gugur sebagai korban pertarungan dua dunia (Belanda dan Jawa), dua hukum (Eropa dan Islam), dan dua moralitas (Belanda dan pribumi).

Demikian pula Nyai Ontosoroh, yang akhirnya dapat berbahagia dengan pelukis timpang, Jean Marais, setelah mereka meninggalkan Hindia Belanda dan mencoba peruntungan baru di Prancis. Hindia Belanda pada akhirnya menjadi representasi sempurna kekuatan sejarah yang tak terlawankan.

Orang dapat memilih mengikut ke mana pun arus sejarah akan membawanya. Orang dapat pula memilih menantangnya, sekalipun dengan kepastian tentang kekalahan yang akan dideritanya. Pilihan lain adalah meninggalkan sama sekali Hindia Belanda. Sebab, kematian, seperti juga kebahagiaan, bukanlah bahagian sejarah tetapi berada nun jauh di luar sana, entah di mana.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com