Menuju Malin Kundang Teater?

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Membicarakan teks naskah teater Berkas-berkas Ingatan dan Tubuh-tubuh yang Menafsirkan–Gegerungan Gegirangan (Komodo Books, 2011), kumpulan dua berkas teks dramatik Harris Priadie Bah tak bisa dilepaskan dengan konsep seorang Harris sebagai penulis naskah, sutradara sekaligus aktor teaternya bersama kawan aktor yang lain.

Dalam kerangka teater modern, sebuah teks, di atas kertas naskah ataupun dalam pemanggungan diliputi semangat eksplorasi teknis ataupun tematis. Semangat realisme teater di Rusia atau kebangkitan teater buruh di Amerika adalah siasat eksplorasi tema terepresentasi dari ledakan komunal dan sosial peradaban dan habitat masing-masing.

Sementara itu, unsur teknis dengan kadar yang berbeda akan mengeksplorasi pencarian dari tataran sederhana hingga yang teramat canggih. Seorang aktor termasuk di pemanggungan teater tradisi yang menghafal naskah lisan akan menyuarakan tema dan teknis itu dengan sebaik-baiknya.

Perkembangan dunia pemikiran ikut merayakan dua elemen utama itu dengan klaim konsep mereka sebagai konsep yang baru, konsep yang cerdas dan brilian. Eksplorasi teknik berteater jauh melambung tinggi melebihi teater tradisi. Eksplorasi yang bisa meliputi unsur filosofis, surealistik, hingga struktur yang serupa potongan mozaik.

Teater Kami tak bisa lepas dari wacana Harris Priadie Bah. Mulanya, penonton bisa saja mengira teater ini mengambil napas pemikiran sejarah teater dunia. Namun, ternyata, Harris membuat tesis-antitesis lalu membuat sintesis baru atas jelajah teks-panggung teaternya.

Syahdan, malam 3 Juli 2006, saya menonton pertunjukan Teater Kami dengan lakon Perjamuan Kata dan Tubuh-tubuh yang Membaca adaptasi bebas terhadap karya Hirata Oriza, penulis naskah teater yang terkemuka di Jepang. Lima aktor Teater Kami menampilkan adegan kesibukan: seseorang salat subuh diriingi azan, orang main gaple, orang gosok gigi, pelacur berceloteh, lakon suami ngamuk, dan seterusnya. Fragmen, mozaik, back-tracking, filmis.

Gila, pikir saya. Jakarta dan Tokyo ternyata tak berbeda di kepala kita. Ramai, sumpek, cepat, ngebut, hantam. Hancur! Ternyata, dengan pengalaman pertunjukan Kwartet Kematian dan Berkas-berkas Ingatan Sang Perawan (Death And The Maiden), The Key (2005), Perjamuan Kata dan Tubuh-tubuh yang Membaca (2006), MenOs (2008), Gegerungan (2009), tibalah saya pada pembacaan kredo di pengantar buku Berkas-berkas Ingatan dan Tubuh-tubuh yang Menafsirkan–Gegerungan Gegirangan yang punya sikap, tegas, dan lugas.

Kami, lewat salah satu kaki tangan-nya, Harris Priadie Bah, menjadi seorang Malin Kundang. Ia berkhianat pada wacana setelah terlebih dulu mengimaninya. Seorang pendurhaka! Si Malin Kundang, yang memiliki dua kesadaran. Seperti yang diulas di atas, Malin Kundang teknik dan Malin Kundang tematik.

Malin Kundang setidaknya mereka mencoba mendobrak tatatan atas teks penokohan sekaligus perwatakan yang mapan. Tokoh tak lagi berfokus pada karakter individual yang wajib diselami sebagaimana teks sastra ataupun teks naskah drama, namun lebih pada “ungkapan bersama” terhadap sebuah kondisi yang sama-sama dirasakan para aktornya.

Tokoh yang tak setia pada narasi dan bangunan tokoh yang utuh. Setting waktu tidak dihadirkan dalam bentuk siang atau malam begitu saja, dalam bentuk jam atau lonceng weker saja, melainkan dibiarkan melompat ke sana-kemari. Ini kemungkinan, atau betulkah mereka Malin Kundang? Atau, jangan-jangan mereka malah jadi anak emas teater modern? Bukankah “Malin Kundang” justru adalah konsep teater modern, semakin subversif justru semakin disukai.

Makna “Kami”

Istilah “kami” dalam Teater Kami sendiri kemudian dijadikan sebagai istilah yang mengacu pada sebuah konsep. Menurut Prof Dr H Mudjia Rahardjo, M.Si (2010), dalam bahasa Inggris, kedua kata “kami” dan “kita” hanya diwakili oleh kata “we”, dalam bahasa Arab “nahnu”, dalam bahasa Jerman “wir“, dalam bahasa Belanda “wij“, dalam bahasa Perancis “nous”, sedangkan dalam bahasa Rusia “Mbl”. Dengan kata lain, untuk mengungkapkan konsep “kita” dan “kami”, dalam bahasa Inggris, Arab, Jerman, Belanda, Prancis, dan Rusia hanya ada satu kata.

Ketika teater ini mengklaim sebagai “kami” dan bukan “kita”, maka akan memisahkannya dengan istilah “mereka”. Kami, bisa pernyataan kelompok, yang merasa-rasa sebagai orang teater, seniman, orang Indonesia, pribumi dan banyak bentuk blokade lain untuk memisahkannya dengan kelompok “mereka”.

Ke-kami-an juga menjadi pintu untuk menuju pembelokan dua lorong. “Kami”, mempengaruhi cara berpikir tematis atas teater yang mereka garap. Kami, menjadi liyan, kami menjadi negeri yang punya perbedaan, kami menjadi komunal yang lain, “kami” bukan “aku”, “mereka” atau “kalian” atau “kita” karena lebih mewakili sebuah kelompok dapat dibaca sebagai kesadaran lokal dan komunal di tengah nafsu global dan universal.

Selain lokal dan komunal, kami, di dalam kesadaran tematis, membangkitkan kesadaran personal. Trans- individual terantar pada kebangkitan bersama kami. Kami yang orang Indonesia, negara dunia ketiga, kelompok yang tak sejahtera, gerakan kelompok yang berwacana sekaligus menderita.

Keluhan kami di naskah teater ini sangat berat, tapi semua berasal dari masalah sepele, perut lapar, ingin merokok, kemiskinan, banyak utang, dibohongi kegiatan teater yang tak berguna dan tak sejahtera, seniman yang membubung idealisme tapi ditohok kesejahteraan ekonomi dan masa depan, seniman yang terpuruk dan memburam.

Keluhan kami dapat menjadi kejujuran, apalagi bila diyakini bahwa persoalan utang-piutang mereka akan diperihkan dan dialami juga oleh para penontonnya.

Kami bisa dimaknai sebagai tema, dapat berkembang menjadi sebuah pembaruan teknik. Bila para kalangan teater realisme sosialis dan komunis mengangkat persoalan kelompok dengan ideologi dan partai, Teater Kami tak terlalu “repot”, cukup dengan mengatakan semua penderitaan itu adalah milik “kami”.

Sebaliknya, mereka tentu akan menolak ketika dituding bagian dari individualisme sekaligus pragmatisme. Suaranya komunal, tetapi penghayatannya individual. Hanya, sejauh manakah masalah individual atau masalah keluarga dihayati dengan makna kami? Bagaimana “kita”, “dunia”, bahkan dunia “saya” penonton dapat berempati terhadap kejadian yang dialami oleh “kami”?

Inilah yang diungkap Mas Nano: “... Diperlukan kerja ekstra keras agar yang personal itu jadi milik orang lain pula... Teater baru terasa kehadirannya, ketika ada orang lain yang kemudian merasa, bahwa, permasalahan yang diungkap di pentas bukan permasalahan yang asing, melainkan permasalahan milik mereka juga...”

Naskah teater ini dicurigai hasil stek sambung dari persoalan kehidupan aktor-aktornya. Namun, segala curhat dari pribadi-pribadi para aktor ini kemudian secara cerdas dijadikan dialog yang kata-katanya dibalik, ditesis-antitesiskan, menjadi sekumpulan dialog yang bernas.

Di pihak lain, persoalan itu, karena menjadi persoalan para teaterawan yang miskin, rakyat yang miskin, negara dunia ketiga yang miskin, seolah ini merupakan sebuah sikap, konsep bahkan pemberontakan. Teater, telah menyatukan benak di dalam kepala teaterawan, rakyat, warga negara miskin, menjadi sebuah manifesto “kami” di atas panggung.

Judul Buku : Berkas-berkas Ingatan dan Tubuh-tubuh yang Menafsirkan–Gegerungan Gegirangan
Penulis : Harris Priadie Bah
Penerbit : Komodo Books, 2011
Tebal : 72 halaman

Komentar