Langsung ke konten utama

MALIN PASAL PENGHABISAN, MALIN KUNDANG JILID KEDUA

Catatan Singkat Proses Kreatif Teater Wadtera SMP 1 Mojoagung dalam rangka Pekan Seni Pelajar Jatim 2011
Bambang Irawan*
http://www.radarmojokerto.co.id/

Antara Wewe Gombel dan Malin

Setelah sengaja terlibat secara langsung dalam dua proses kreatif terakhir teater Wadtera SMP 1 Mojoagung, yaitu proses drama Wewe Gombel dan proses Malin Pasal Penghabisan, penulis menemukan sesuatu yang menarik untuk diungkap. Yaitu, kedua drama tersebut memiliki beberapa persamaan, baik secara kontekstual atau persamaan nasib. Berbicara mengenani nasib, Wewe Gombel dipilih menjadi penampil terbaik atau dalam bahasa halus Dewan Kesenian Jombang, kelompok penerima dana hibah dalam hajatan Hibah Teater Kompetitif 2010. Sedangkan Malin Pasal Penghabisan berhak menyandang predikat 5 penyaji terbaik non ranking dan 5 sutradara terbaik non ranking (M.S. Nugroho) Lomba Teater tingkat SMP/MTs Pekan Seni Pelajar Jawa Timur 2011 di Probolinggo 22 Juni yang lalu.

Kesamaan selanjutnya, keduanya mengusung tema yang sama, tentang eksistensi seorang ibu, walau dalam perspektif yang berbeda. Ibu (mama) dalam Wewe Gombel lebih condong kepada penggambaran ibu yang zalim kepada anaknya (Bella). Sebaliknya, Malin Pasal Penghabisan memberikan porsi terzalimi untuk seorang ibu (Bundo). Walau pada akhirnya dia pun ikut-ikutan terseret untuk zalim kepada putranya sendiri, Malin Kundang, dengan mengutuknya menjadi batu. Terlepas dari hal zalim menzalimi, sadar atau tidak hal-hal semacam itulah yang sekarang sedang terjadi menjadi peristiwa sosial di sekitar kita. Ibu menelantarkan anak-anaknya, peristiwa penolakan pada kehadiran sang anak, yang sampai pada perbuatan kriminal. Pula sebaliknya, anak-anak yang memilih untuk meniadakan rasa bakti kepada orang tua mereka atau menelantarkannya balik.

Atau barangkali karena naskah drama ini ditulis oleh orang yang sama, M.S. Nugroho yang notabene adalah seorang bapak. Yang secara otomatis dengan naluri kebapakannya (tapi sebenarnya saya lebih condong ke diksi naluri keibuan) menuangkan segala ketakutan psikologisnya secara mendalam sebagai orang tua dalam bentuk karya drama. Sehingga dengan sisi psikologi yang mengena, dua naskah drama ini mendapatkan juara 3 (Wewe Gombel) dan nominator (Malin The End Scene) pada lomba penulisan naskah drama remaja Dewan Kesenian Jawa Timur 2008. Jadi persamaan terakhirnya adalah, teater Wadtera memilih dua naskah drama yang telah teruji dan kredibel dalam dua proses terakhirnya.

Pemilihan naskah yang berat

Seorang bijak pernah berkata bahwa sangat sulit menjelaskan bagaimana rasanya asin kepada orang yang belum pernah merasakan asin. Atau kita ambil salah satu contoh pada konteks dunia penulisan saat ini, rumitnya menjelaskan tentang isu plagiarisme cerpen Dodolitdodolitdodolibret karya Seno Gumira Ajidarma dan Tiga Pendeta-nya Tolstoy kepada anak TK yang belum mengenal sastra. Gambaran Itulah yang dihadapi M.S. Nugroho sebagai sutradara.

Merunut apa yang disampaikan dewan juri, Harwi Mardiyanto, Rusdi Zaky dan Darmanto Rajab, ketika evaluasi sesaat sebelum pengumuman pemenang. Ketiga juri mempunyai pendapat yang hampir seragam tentang pemilihan naskah. Harwi menyatakan ketidak nyamanannya kepada pemaksaan naskah-naskah atau tokoh-tokoh dewasa untuk pelajar SMP. Rusdi Zaky berpendapat proses adaptasi naskah harus dengan pola pikir yang bisa dipakai untuk para pelajar, karena pada dasarnya drama itu menyenangkan dan mencerahkan. Dan Darmanto Rajab lebih ekstrim lagi, “Drama itu tidak harus menderita, menderita bagi pelakonnya atau bagi penontonnya.”

Di sinilah kapabilitas seorang sutradara dipertaruhkan, bagaimana cara memamah sesuatu yang keras menjadi lunak, untuk diberikan dan lantas dicerna aktor-aktornya. Perjuangan yang sangat berat untuk menanamkan karakter dengan psikologi yang complicated, karakter seorang bundo kepada pelajar SMP, yang ternyata empat kali lipat dari usia sebenarnya.

Pledoi seorang bundo

Sebelum menyaksikan repertoar ini, atau sekedar membaca naskah dramanya, tentu orang akan membayangkan atau mengingat kembali tentang cerita si anak durhaka Malin Kundang. Atau jangan-jangan orang akan malas membacanya atau emoh untuk memasang mata menyaksikan pertunjukan, lantas ngeluyur pergi. Semata karena cerita rakyat ini sudah begitu klise di masyarakat, karena sebagian orang beranggapan, sangat tidak menarik melakukan atau menikmati sesuatu pada hal-hal yang predictable atau mudah diduga. Walaupun sebenarnya naskah/pertunjukan ini menawarkan sesuatu yang unpredictable.

Malin kundang adalah cerita rakyat asal Sumatera Barat, berkisah tentang seorang anak yang durhaka kepada ibunya, dan karena kedurhakaannya tersebut, ia dikutuk menjadi batu oleh ibunya sendiri. Cerita serupa atau hampir mirip juga dapat ditemukan di negara lain. Di Brunei Darussalam ada cerita Nakhoda Manis. Di Malaysia terdapat Si Tenggang. Bahkan yang terakhir ini pernah diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1975, dengan judul Nakoda Tenggang : sebuah legenda dari Malaysia / oleh A. Damhoeri. Akan tetapi dari semua cerita tersebut lebih mengekspos tokoh Malin dengan jalan hidupnya. Bagaimana bila fokus penceritaan diseret dari tokoh Malin ke tokoh Bundo?

Dengan label “Revitalisasi cerita Rakyat Sumatera Barat”, penulis naskah mencoba melakukan hal tersebut di atas. Memulai cerita dengan kesedihan dan rasa sepi seorang bundo, karena telah kehilangan anak semata wayangnya, menjadi batu. Kesepian yang mendalam sampai pada akhirnya membawa bundo dalam dunia imaginer yang menyakitkan.

Tokoh bundo membuat pembelaan bahwa pengutukan adalah bukan kehendaknya, melainkan hanya faktor ketidak sengajaan, dan betapa bundo menyesali perbuatannya.

“...Bundo memang bersalah. Bundo memang telah mengutuk kau. Badan ini memang tak layak sebagai seorang Bundo. Bundo memang pantas mati untuk menebus kesalahan bundo...”(adegan 2)

“(Bundo menangis sendiri) Kutuk apa, dosa apa. Mengapa langit tidak mengubahku menjadi batu saja? Menjadi batu lebih punya makna daripada kesedihan seorang bundo. (Mengutuk diri sendiri) Batulah aku. Batulah aku. Batulah aku! (Sepi) Mengapa langit tak menjawab? Mengapa aku tak menjadi batu?...” (adegan 7)

Keberanian sang penulis naskah dalam mendobrak cerita konvensional dan kepiawaian sang sutradara dalam memvisualisasikannya di panggung pertunjukan adalah hal yang perlu diapresiasi secara bijak. Menawarkan bentuk baru yang secara otomatis memberikan khasanah berbeda pada perkembangan cerita rakyat nusantara. Apalagi dalam pemanggungannya, sutradara memilih bentuk pertunjukan randai, sebuah seni pertunjukkan rakyat dari Sumatera Barat. Teater rakyat yang berangkat dari pengembangan sile atau silat.

Dengan kata lain Malin Pasal Penghabisan, mempunyai posisi sebagai sekuel dari cerita sebelumnya, yang ini menurut pandangan bebas saya. Bukan mustahil apabila dikemudian hari akan muncul sekuel atau bahkan prekuelnya, mungkin. Atau setelah ini akan bermunculan naskah-naskah baru revitalisasi cerita rakyat nusantara yang lain? Cerita rakyat Jombang misalnya?
__________

Penulis: Bambang Irawan, Pelaku teater dan penikmat seni, sekarang aktif di kelompok Alief Mojoagung, Jombang

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com