Langsung ke konten utama

TEROR DALAM KEHIDUPAN BERINGAS

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Gelombang cerpen Indonesia mutakhir sungguh seperti gerak roda kereta; gemertak-keras-memekakkan, sangat beragam, bising dan kadang kala terlalu nyaring. Selepas Seno Gumira Ajidarma, Taufik Ikram Jamil, Gus tf Sakai, Joni Ariadinata, Agus Noor, Hudan Hidayat, Herlino Soleman, dan sederet panjang nama-nama yang acapkali menggelisahkan kita di hari Minggu, kini Teguh Winarsho AS coba meluncurkan antologi cerpennya. Meski namanya sudah sejak lama sering kita jumpai di banyak koran Minggu dan sejumlah tabloid atau majalah, sejauh pengamatan, kumpulan cerpennya Bidadari Bersayap Belati ini merupakan antologi pertamanya. Lalu, apakah kehadiran antologi ini sekadar semacam penggembira, menambah daftar nama dalam leksikon sastra –meski bukunya tak ikut terpanjang pada rak buku– atau cukup signifikan dan dipandang boleh mewarnai peta konstelasi cerpen Indonesia?

Dalam konteks itu, keterpukauan pada nama besar sering malah menjerumuskan kita pada sikap apriori dan subjektif. Akibatnya, belum apa-apa kita sudah terpengaruh dan mengendurkan sikap kritis kita untuk mencermati ihwal estetikanya. Di sini pula, teks menjadi jauh lebih penting daripada nama. Nama besar jika ekornya jatuh pada karya yang biasa saja, tentu juga tidaklah sedap didengar. Sebaliknya, nama baru namun menyodorkan karya yang menjanjikan, niscaya bakal memberi secercah optimisme dan pengharapan; kelak, menorehkan bentuk estetika yang khas dan cerdas dalam karya-karya berikutnya. Jadi, terimalah Bidadari Bersayap Belati ini secara lebih objektif. Siapa tahu, dari situ kita memperoleh banyak hal dan pertanyaan: adakah di sana tersembul sebuah kecenderungan yang menjanjikan?
***

Antologi ini memuat 18 cerpen. Sebagian besarnya sangat mungkin pernah mengganggu pikiran para pembaca koran hari Minggu. Mengganggu pikiran, lantaran dari sejumlah cerpennya itu, kadang kala menyeruak teror psikologis dan gertak makhluk banal yang kejam; gaya teror yang sangat berbeda dengan teror mental model Putu Wijaya. Atau, pikiran kita tiba-tiba dihadapkan pada sosok raja tega, pelaku tindak kriminal, atau pembunuh yang sengaja menikmati suasana mencekam yang menerkam persekitarannya dengan enteng. Dari sudut ini, Teguh tampak punya keseriusan yang cukup menakjubkan. Kadang kala, ia menggerakkan tokoh-tokohnya dengan pelahan, bahkan terkesan terlalu tenang, tanpa memperlihatkan ketergopohannya; satu sikap yang penting ditumbuhkan dalam diri seorang cerpenis, agar perenungannya dapat lebih intens.

Kesabaran membangun alur cerita dan usahanya mengecoh horison harapan pembaca, sungguh merupakan modal yang sangat berharga. Dengan itu, dalam sejumlah besar cerpennya, Teguh berhasil membina alur ceritanya menyerupai kisah-kisah detektif; memanfaatkan benar berbagai kejutan dan menciptakan trik-trik yang mengecoh. Sebuah siasat yang sering menjadi model estetik cerita detektif.

Meski begitu, ke-18 cerpen yang termuat dalam antologi ini tidak ada satu pun yang menampilkan sosok tokoh spion atau detektif yang coba membongkar kasus pembunuhan. Teguh sekadar mengambil pola alurnya yang mengecoh itu. Maka, kisah tentang seorang ibu yang gila, ayah yang bandit, anak yang sama brengseknya, preman gendeng atau perselingkuhan yang busuk, semua nyaris selalu berakhir dengan peristiwa yang tidak terduga; surprise yang menjengkelkan atau kejutan yang piawai.

Secara tematis, ada hal baru yang tampak hendak disodorkan antologi ini: dunia hitam dengan naluri-naluri gelapnya. Sememangnya tema model ini pernah juga diangkat beberapa cerpenis kita. Joni Ariadinata dalam Kali Mati (1999), tercatat salah satu di antaranya yang menonjol. Gambaran orang-orang marjinal yang tergusur, sebagaimana yang diangkat Ariadinata lebih dekat pada keliaran kaum gelandangan. Sementara Teguh, coba menyentuh kehidupan yang serba buas dan bergelimang teror: dunia pelacuran, perselingkuhan, ketertindasan dan penindasan perempuan, naluri lesbian dan homoseks, atau kegelisahan para preman. Dengan begitu, pikiran kita dibawa pada suasana yang terasa selalu dikejar teror psikologis; ketakutan, kecemasan, kepanikan, keteraniayaan, dan serangkaian peristiwa rencana pembunuhan. Kita seolah-olah sengaja dihadapkan pada bayangan tubuh yang bersimbah darah dan melesatnya roh yang mengejang kematian: segalanya menjadi begitu tragis. Dalam dunia yang demikian itu, nyawa manusia sungguh seperti tak punya makna apa-apa dan jasadnya boleh saja diperlakukan seenaknya menjadi alat permainan.

Jika ditarik lewat sebuah garis, antologi ini dapat dibagi ke dalam tema-tema besar yang mengangkat dunia wanita dalam sudut pandang yang gelap, kehidupan preman yang lebih gelap lagi, hubungan seks yang menyimpang atau naluri premanisme yang dapat menggoda siapa saja. Dilihat dari perspektif gender, kebusukan dunia wanita cenderung dihadirkan tidak berdiri sendiri. Ada penganiayaan dan ketidakadilan yang yang melatarbelakanginya, dan itu ditimpakan kaum lelaki pada kehidupan perempuan. Dengan begitu, kegelapan kehidupan kaum perempuan yang digambarkan dalam lebih dari separoh cerpen dalam antologi ini, semata-mata lantaran kebusukan lelaki. Dalam hal ini, Teguh agaknya hendak memprotes perlakuan itu, meski ia mengangkatnya lewat sisi gelap; sebuah keberpihakan gender yang ditampilkan secara paradoksal.

Bagaimana, misalnya, pilihan menjadi pelacur semata-mata untuk menggenapkan dosa ayah-ibu; atau pengabdian dan kesetiaan seorang istri kepada suami diejawantahkan lewat sajian hidangan kepala manusia, dan masih banyak peristiwa lain yang justru mencitrakan sosok perempuan dengan sejumlah naluri manusia-binatang. Maka, mencermati antologi ini patutlah kita menyiapkan kearifan (wisdom) dan menafsirkannya melalui logika akibat-sebab atau lewat perspektif gender jika hendak ditempatkan dalam konteks kritik sosial.

Sungguhpun begitu, dalam cerpen “Ibu: Hantu Sepanjang Hari,” “Iblis di Kepala Manusia,” “Ular Betina,” dan “Embun Cinta dan Sepasang Sayap Jelita” kita justru merasakan adanya kegeraman narator pada sosok seorang ibu. Ada dendam mendalam pada perlakuan biadab. Citra yang memancar dari keempat cerpen itu terkesan sebagai salah satu bentuk kesumat kegagalan seorang wanita menjadi ibu. Barangkali, inilah citra seorang ibu yang digambarkan paling busuk yang pernah muncul dalam cerpen Indonesia. Dalam konteks ini, Teguh tidak sekadar melawan prototipe dan pandangan klise tentang citra seorang ibu, tetapi juga menyodorkan model kritik sosial yang agaknya sengaja dibungkus dalam serangkaian peristiwa mengancam yang memaksa kita memasuki suasana tegangan yang mengasyikkan.
***

Model seperti tadi, tentu saja berbeda ketika kita mencermati cerpen-cerpen yang mengangkat premanisme atau kehidupan rumah tangga seorang preman. Digambarkan, bagaimana sosok raja tega menikmati keadaan jasad istrinya –lidah menjulur dengan mata melotot—yang mati dijerat tali jemuran (“Menjadi Mayat”), ayah yang tak sadar memperkosa anak gadisnya (“Ning di Mulut Harimau”) atau ayah yang berhasrat besar membunuh anak sendiri (“Televisi”). Dari kacamata moralitas, tentu perilaku yang demikian itu tak masuk daftar. Tetapi, penggambaran kesadisan itu memberi penyadaran kepada diri kita untuk melakukan retrospeksi, betapa keadaan itu sesungguhnya banyak terjadi dalam kehidupan kita dewasa ini. Dan Teguh sekadar mencoba memotret problem sosial itu. Persoalannya tinggal bergantung pada sensitivitas kita dalam menanggapinya; membiarkan kondisi masyarakat kita tetap carut marut seperti itu atau memusuhinya?
***

Bagaimanapun juga, sadar atau tidak, cerpen (sastra) dapat diperlakukan sebagai dunia alternatif ketika saluran-saluran komunikasi yang legal, tidak berfungsi. Sastra lalu berkesempatan untuk menawarkan dunia lain sebagai salah satu bentuk pemihakan atas diri manusia dan kemanusiaan dalam lingkaran problem sosial. Di sinilah, sastrawan punya caranya sendiri untuk melakukan pemihakan. Jika ia berteriak lantang menentang ketidakadilan dan penganiayaan, maka ia akan terjerumus pada propaganda dan dakwah. Karyanya akan hanyut dalam arus deras makna yang artifisial.

Sebaliknya, jika pemihakannya dikemas dengan halus dan pembelaannya pada manusia dan kemanusiaan disembunyikan dalam substansi cerita, maka sangat boleh jadi pembaca tak cukup jeli menangkap pesan estetiknya. Atau mungkin juga, pembaca tanpa sadar, ikut melakukan pemihakan dan tergoda menentang kebrengsekan dan ketakadilan. Di sinilah, sastra memainkan fungsinya. Ia tak perlu berkhotbah. Juga tak usah berbusa-busa membual macam tukang obat kaki lima. Sastra cukuplah menyajikan satu sisi potret sosial macam apapun kondisinya. Bahwa ia menyajikan potret buram, gelap, abu-abu, atau panorama indah yang cerah ceria, makna pesannya (massage) bukanlah terletak pada bentuk luarnya, melainkan pada sesuatu yang berada di balik itu.

Dalam jalur yang menampilkan sisi gelap, periksa saja, misalnya, kejorokan para penumpang kereta sebagaimana yang diangkat Idrus (“Kota-Harmoni”) atau kebusukan para gembel dalam “Lampor” atau Kali Mati, Joni Ariadinata. Apanya yang indah dari pelukisan Idrus tentang bau keringat dan terasi serta kaca jendela kereta yang penuh bekas ludah dan air sirih? Apanya yang menakjubkan dari deskripsi lumpur kental air comberan, belatung, dan bangkai binatang yang mengapung seperti yang dapat kita cermati dalam sejumlah cerpen Ariadinata? Estetika model apa pula yang ditawarkan Luxun ketika ia menguak kebringasan dan naluri liar seorang gila? Bagaimana pula Naguib Mahfouz yang mengumbar imajinasi dengan begitu beringas seperti sengaja lepas kendali?

Niscaya, kita masih dapat menderetkan contoh yang lebih panjang lagi perihal pesan moral dan nilai estetik yang ditawarkan sastrawan di belahan bumi ini. Bagaimana pula dengan antologi Bidadari Bersayap Belati yang menampilkan kebusukan perilaku manusia-binatang? Di manakah letak moralitasnya ketika Teguh bercerita tentang manusia-manusia yang justru tidak bermoral, biadab dan berhati iblis?

Dengan mengangkat tokoh-tokoh macam itu, Teguh sesungguhnya mengajak kita untuk memusuhi perilaku iblis macam yang digambarkannya. Itulah pesan moralnya, jika Bidadari Bersayap Belati hendak dikaitkan dengan persoalan moralitas. Dalam penggambaran manusia-binatang yang berperilaku iblis itu pula letak salah satu nilai estetiknya, di antara unsur intrinsik lainnya yang membangun struktur karya yang bersangkutan. Di situ pula kita secara proporsional dapat menempatkan Bidadari Bersayap Belati ini sebagai karya imajinatif, buah refleksi evaluatif atas problem sosial kita yang sudah mencapai ambang gawat.
***

Sesungguhnya, banyak hal dapat kita diskusikan atas kehadiran antologi Bidadari Bersayap Belati ini. Boleh jadi, sejumlah cerpen yang mengangkat tema-tema beringas dalam antologi ini bakal mengundang reaksi dan kontroversi. Justru di situlah, sastra mempertegas kembali fungsinya. Maka, anggap sajalah antologi ini sebagai provokator yang siap menjalankan tugasnya. Jika ia melakukan teror pada rasa kemanusiaan kita, eloklah kita tidak tergoda untuk melakukan kerusuhan!

Bojonggede, 18 Agustus 2002

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com