Almarhum WS Rendra, Sosok dengan Berbagai Wajah (2-Habis)

Dicky, Rahmat Hidayat
http://www.surya.co.id/

KISAH nostalgia lain yang menarik diungkapkan Kamto, cerpenis yang sudah bertahun tahun akrab dengan WS Rendra. Mereka sudah akrab sejak muda. Kamto menyapa sahabatnya itu dengan sebutan Willy. Pada malam sebelum sahabatnya itu meninggal, ia mengaku sempat ke luar rumah, dan melihat malam diterangi bulan purnama.

Kamto mengaku teringat masa lalu, ketika dia masih berusia 25 tahun, dan Willy berusia 20 tahun. Turut budayawan Ajip Rosidi yang bergabung, dan mereka berdiri di depan kantor pos di Pasar Baru, Jakarta.

“Di depan Kali Ciliwung, Willy memanggil kami untuk melihat di kali itu. Di kali itu tercermin bulan purnama. Terus Willy bilang, dia menemukan satu bait sajaknya, “Bulan telah pingsan di atas kota Jakarta!” Dan itu tak pernah saya lupa,” ungkap pria yang banyak melahirkan cerpen bernafas sastra dan kini menginjak usia 79 tahun.

Pada dekade 70 an, tatkala pers diberangus, ketika Komandao Keamanan dan Ketertiban mengatur semuanya, wartawan memerlukan seorang pemberani, reformis, dan pemberontak. Seperti dituturkan Parni Hadi, wartawan senior yang memberi kesaksian menyebutkan, WS Rendra yang selalu tampil alakadarnya tapi gagah berani maju ke lini depan. Rendra tampil menjadi penyambung lidah rakyat yang memperjuangkan kebebasan berekspresi dan berpendapat.

“Bagaimana kalau untuk almarhum ini, dunia jurnalistik menghadiahkan karya sastra. Baik karya sastra ataupun karya yang lainnya. Saya bersama RRI siap bersama untuk mendukung dan menjadi decision maker untuk penyelenggaraan WS Rendra Award,” tutur Parni.

Rendra memang sering berurusan dengan penguasa Orde Baru. Ia pernah meringkuk dalam penjara antara Mei 1978 sampai Oktober 1979. Semua itu adalah pertanda tak terelakkan dari sebab akibat sikap dan tindakannya sebagai seniman yang mendambakan kebenaran, keadilan dan kebebasan. Tapi kejadian tersebut tak membuat pria kelahiran Solo, 7 November 1935 itu berhenti menelurkan kekesalannya terhadap banyak hal lewat sajak, puisi, maupun drama.

“Saya baru tahu sekarang bahwa beliau sangat tangguh. Jarang ada yang seperti beliau. Beliau mengajarkan, inilah kesenian dan bukan untuk cari uang. Ada nilai nilai yang tanpa disadari. Ada nilai bagaimana mengenal diri, kalau dalam ketauhidan,” kata David, sahabat sang penyair itu.

Kenangan lain dikemukakan Prof Dr Arief Rachman, praktisi pendidikan, terkait pesan WS Rendra semasa hidupnya. Menurut Arief, WS Rendra sempat menitipkan satu pesan yang bukan kalimat biasa. Saking perlunya wasiat itu, ia merasa perlu untuk mengungkapkan kepada hadirin saat melayat Rendra di Bengkel Teater, Jumat lalu.

Arief berharap hadirin dapat meneruskan perjuangan yang telah dilakukan dan dirintis WS Rendra yakni mendidik bangsa, membudayakan bangsa, dan membuat bangsa Indonesia beradab.

“Beliau mengatakan, sebuah bangsa tidak cukup terdidik. Sebuah bangsa itu harus berbudaya. Tapi, kata beliau, budayawan harus jadi tulang punggung peradaban. Kalimat ini saya sampaikan pada suatu konferensi internasional di Unesco. Hingga mengundang perdebatan. Apakah semua orang yang terdidik itu beradab atau tidak? Apakah negara yang maju itu beradab atau tidak?” ujarnya dengan nada haru dan mata berkaca kaca.

Adapun budayawan Emha Ainun Najib atau Cak Nun mengungkapkan bahwa WS Rendra yang masuk Islam pada usia 35 tahun dan mengubah namanya menjadi Wahyu Sulaemen Rendra, sering konsultasi kepadanya. Ia masih ingat WS Rendra selalu menangis bila berbicara tentang Tuhan.

“Dia sangat mencintai Tuhannya. Dia sering menanyakan kepada saya tentang Islam, dan di saat itu pula dia kemudian menangis, benar benar menangis,” kata Cak Nun. Bahkan, Cak Nun seakan ingin menegaskan bahwa istrinya, Novia Kolopaking, tahu tentang hal itu dan kerap melihat WS Rendra menangis saat bertanya tentang Islam.

“Jadi, Rendra mengenal Islam ini masih Islam syar’i. Dia belum bisa masuk ke wilayah wilayah, dialogis sudah tapi filosofis belum, tasawuf belum,” kata Cak Nun.

Cak Nun mengaku punya hasrat yang gagal tercapai tentang sosok WS Rendra yang ia anggap sebagai figur lengkap sebagai seniman sejati. Cak Nun sangat ingin memunculkan seorang figur WS Rendra “baru” yang dikenalnya selama ini. “Cita cita saya dulu adalah ada Rendra ketiga. Yaitu Rendra yang spiritual, Rendra yang sublim, Rendra yang inner strenght nya bisa muncul. Dia sudah arif, tapi belum pada kristalisasi estetik,” ujarnya.

“Dia itu nangis nangis kalau saya ceritakan asmaulhusnah, kalau saya katakan apa bedanya Ahad sama Wahid, Rohmat sama Rofiq, nangisnya pasti serius kayak anak kecil, karena dia sangat mencintai Tuhan nya” kata Cak Nun.

Pribadi WS Rendra yang sangat mencintai agama yang dianutnya, tidak seperti orang yang kebanyakan, hanya menangis di saat tidak berbicara tentang Tuhan. “Jarang ada orang di dunia yang menangis kayak gitu. 0rang akan menangis kalau kehilangan saham, dia tidak,” kata Cak Nun menegaskan.

Komentar