Langsung ke konten utama

Almarhum WS Rendra, Sosok dengan Berbagai Wajah (1)

Dicky, Eko Suprianto
http://www.surya.co.id/

PENYAIR dan dramawan Willibrordus Surendra Broto Rendra yang akrab dipanggil WS Rendra alias Si Burung Merak, wafat di RS Mitra Keluarga, Jakarta, akibat serangan jantung, pukul 22.10 WIB, Kamis (6/8). Banyak kenangan terhadap pria berusia 73 tahun itu, termasuk kehidupan pribadinya. Kemarin, jenazah Rendra dimakamkan di dalam kompleks Bengkel Teater Rendra, Depok, usai salat Jumat. Makamnya cuma berjarak 7 meter dari makam Mbah Surip -sahabat dan pengagum Rendra.
.
KESEDIHAN mendalam terpancar dari wajah Putu Wijaya, karib WS Rendra, ketika datang ke rumah duka, Bengkel Teater Rendra, Jl Cipayung Raya, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8). “Sebenarnya Mas Willy (panggilan Rendra) mau mengadakan pementasan, namun keburu meninggal. Nanti, 100 hari setelah ini, jika saya dan teman-teman punya kekuatan, akan melanjutkan apa yang Mas Willy mulai,” kata Putu.

Ada tekad dalam dada Putu Wijaya Cs untuk mengatakan, “Mas, kau tak akan pernah pergi, Mas!” Putu berencana menggelar dua pementasan untuk mengenang WS Rendra. “Nanti pada 17 Agustus. Kami sudah ngobrol-ngobrol juga dengan Menteri Komunikasi dan Informasi M Nuh. Beliau akan mendukung acara tersebut,” tambahnya.

Dan satu lagi, pementasan akan dilaksanakan pada 100 hari meninggalnya Rendra. “Saya mencoba merealisasikannya. Judul pementasannya, Burung Merak,” katanya.
Bintang film senior Yati Octavia juga pernah dekat dengan Rendra ketika sama-sama berakting dalam film Yang Muda Yang Bercinta pada 1977, mengaku tak pernah melupakan Rendra sebagai sosok berwibawa.

“Saya kan kadang-kadang kalau syuting itu suka tak acuh. Di film Yang Muda Yang Bercinta, ia mengajari soal dialog. Katanya, harus jelas dan yang serius,” kata Yati.

Di luar film, Yati mengaku kagum pada Rendra yang sempat menikah hingga tiga kali. “Saya kagum, ia punya tiga istri tapi akur gitu. Saya tidak berani bertanya. Kok bisa ya. Waktu syuting, Mbak Sitoresmi itu datang bersama Mbak Narti, berduaan gitu,” kenangnya.

Dalam perjalanan hidupnya, Rendra pertama kali menikah dengan Sunarti Suwandi, 31 Maret 1959. Perkawinan tersebut menghasilkan lima anak yaitu Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Clara Sinta.

Rendra kemudian menikahi muridnya di Bengkel Teater, Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat. Waktu melamar putri bangsawan Kraton Yogyakarta tersebut, Rendra ditemani Sunarti. Perkawinan Rendra dan Sitoresmi dilakukan 12 Agustus 1970, disaksikan budayawan Tauqif Ismail dan Ajip Rosidi.

Usai menikah dengan Sitoresmi dan memeluk agama Islam, nama Rendra berubah menjadi Wahyu Sulaeman Rendra. Dari Sitoresmi, Rendra mendapatkan empat anak yaitu Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Kisah `Burung Merak`

Tak berhenti sampai di situ, Rendra kemudian mempersunting Ken Zuraida. Dengan perempuan kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, ini Rendra dikaruniai dua anak, Isaias Sadewa dan Maryam Supraba.
Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979. Dua tahun kemudian giliran Sunarti juga diceraikan.

Kehidupan Rendra dalam satu atap dengan dua istri-lah, yang membawanya mendapat julukan `Si Burung Merak`. Berawal ketika ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta.

Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, “Itu Rendra! Itu Rendra!” Sejak itu, julukan Burung Merak melekat pada dirinya.

Kekaguman pada sosok Rendra juga diungkapkan mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang juga mantan aktivis mahasiswa, Mulyana W Kusumah. “Kemampuan Rendra dalam berpidato juga sangat luar biasa. Saat diberikan kesempatan untuk menyampaikan pidato selama 15 menit, almarhum berpidato hingga 45 menit tanpa membuat jenuh,” katanya.

Di mata Mulyana, dalam hal budaya Rendra belum ada tandingannya. “Dia mempunyai visi dalam hal kebudayaan dan sangat menarik pikiran-pikirannya, bahkan hingga akhir hayat masih berkarya dan berpartisipasi dalam memikirkan negara,” ungkap Mulyana.

Apa yang diungkapkan Mulyana tak berlebihan. Beberapa haris sebelum menghembuskan nafas terakhir, Rendra masih meninggalkan wasiat berupa puisi. “Dia meninggalkan satu puisi. Puisi itu menyebutkan masih banyak keinginannya tetapi dia tidak bisa. Jadi daya masih ada tapi dia tidak bisa mengatasi kelelahannya,” kata sahabat Rendra, sastrawan Jose Rizal Manua.

Puisi itu dibuat Rendra sekitar 3-4 hari lalu saat dia masih dirawat di rumah sakit. Dari sekian banyak tulisan yang dibuat Rendra, Jose ingat betul isi keinginannya. Puisi tersebut disampaikan seorang putri Rendra.
“Saya waktu itu ada di dalam kamar (rumah sakit), saya melihat puisi itu saya baca dalam hati. Menyentuh,” paparnya./

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com