Langsung ke konten utama

Waktu dalam Puisi Eko Suryadi WS

Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Demi Waktu

(1) Demi masa, (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (Al-Asr, QS 103:1-3)

Dalam konteks “demi Masa” kita dituntut beradaptasi dan melakukan penguatan dari waktu ke waktu untuk menempatkan kita sebagai bagian dari dinamika. Lebih dari sekadar wacana, kita segera diingatkan akan pentingnya memasuki wilayah-wilayah yang belum kita kuasai. Membaca puisi adalah salah satu cara memasuki wilayah mendiskusikan kebenaran. Puisi yang saya maksud di sini adalah karya penyair dari Kotabaru.

Kata kunci puisi karya Eko Suryadi WS yang terhimpun dalam buku Di Batas Laut yang diterbitkan oleh LP2M AKPB Kotabaru pada 2005 ini adalah waktu. Kumpulan puisi yang disunting oleh YS Agus Suseno ini memuat 87 puisi karya Eko yang pernah dipublikasikan di media lokal dan nasional, di antologi pribadi dan bersama. Sejumlah pihak yang membantu penyusunan buku ini, seperti Ali Syamsudin Arsy, M. Rifani Djamhari, Maman S. Tawie, Micky Hidayat, Jarkasi, dan Haderani Thalib disebut oleh penyunting dalam sekapur sirihnya. Belum ada pembicaraan lain setelah D. Zawawi Imron membahasnya di Aruh Sastra III di Kotabaru pada 2005. Apa yang dibicarakan penyair itu tak terlalu berbeda dengan apa yang ditulisnya di akhir buku ini.

Puisi Eko sebagian menempatkan waktu untuk mengingatkan dirinya sendiri atas peristiwa pribadi dan sosial dan sebagian yang lain waktu dijadikan penanda untuk mengingatkan masyarakat tentang momentum sosial yang penting sebagai bekal menghadapi masa depan. Puisinya dalam buku ini mengajak kita memahami makan waktu kebahasaan.

Waktu kebahasaan adalah perwujudan secara kebahasaan konsep waktu dengan melibatkan peristiwa dengan pengujaran. Ada tiga jenis perwujudan waktu secara kebahasaan, yakni waktu gramatikal, waktu leksikal, dan waktu dalam rangka wacana. Pengungkapan konsep waktu sifatnya deiktis atau dinamis. Artinya, unsur bahasa yang dipergunakan untuk menyatakan waktu hanya memiliki makna temporal yang jelas bila dihubungkan dengan suatu referen. Bila referennya diganti, maka muatan semantisnya juga berubah (lihat Hoed, 1992: 36-38).

Waktu dalam pengungkapan estetik puisi Eko dapat digolongkan sebagai waktu kronis (temps chronique) dan waktu kebahasaan (temps linguistique) dalam taksonomi waktu Benveniste (dalam Hoed, 1992: 2). Dalam membicarakan waktu, Berveniste membedakan waktu dalam tiga pengertian, yaitu waktu fisis (waktu yang secara alamiah kita alami, bersifat sinambung, linier, tak terhingga, dan berjalan terus tanpa dapat kita alami lagi), waktu kronis (waktu yang dipikirkan kembali atau dikonseptualisasikan oleh manusia berdasarkan suatu atau sejumlah peristiwa yang ditetapkan oleh masyarakat atau seseorang sebagai titik acuan dalam waktu fisis), dan waktu kebahasaan (waktu yang dilibatkan dalam tuturan dan sistem bahasa yang kita pakai).

Oleh karena itu waktu kronis sosial dan waktu kronis pribadi dapat kita bedakan. Waktu kronis sosial terwujud dalam kalender, tapi waktu kronis pribadi terwujud dalam pengalaman pribadi. Dengan demikian, waktu kronis sebenarnya merupakan landasan bagi penentuan waktu kebahasaan (Hoed, 1992: 40).

Waktu Anti Dehumanisasi

Bacalah sajak-sajaknya dalam dua puluh halaman pertama buku ini. Puisi itu dapat membawa pembacanya pada alam malam dan kesunyian dalam persepsi dan konsepsi penyairnya. Kesepian antara lain dihayati secara dewasa atau kesepian sebagai kemampuan diri bersahabat dengan diri sendiri. Cara ini jelas bertentangan dengan kesepian dalam konsepsi umum yang antara lain dimaknai sebagai ketakmampuan diri bersahabat dengan diri sendiri sehingga kesepian menjadi semacam siksaan saat orang-orang terdekat kita pergi. Eko menyatakan dalam sajaknya:


Dunia adalah dinding dari sejuta teka-teki
di mana manusia seperti engkau juga aku dan dia
saling butuhkan sepi

(sajak “Sebelum”, hal. 9)

Memilih sepi dalam puisi seperti mencipta waktu senggang dalam konsep Fransiscus Simon (lihat dalam Muhammad Ridha, Kompas, 2010). Waktu digunakan untuk mendiskusikan kebenaran dan upaya menjunjungnya. Waktu dipakai untuk merefleksikan gelagat peristiwa kehidupan yang telah, sedang, dan akan ada.

Waktu semacam ini telah di ambang kepunahan karena secara masif digilas oleh logika konsumsi. Seluruh waktu manusia habis tersita oleh kerja, mengejar bermacam-macam kebutuhan, ambisi, dan cita-cita. Jam kerja yang padat membuat manusia seperti robot yang dijalankan oleh mesin kerja kapitalisme. Kembali ke sepi bisa berarti menjauh dari dehumanisasi waktu.

Humanisasi waktu dalam puisi Eko diwujudkan dalam personifikasi seperti saat malam memisah mimpi (1), waktu yang berkemas (4), menatapmu lewat telunjuk waktu (5), waktu yang mencorat-coret dinding (25), dan ruhnya diburu waktu (28).

Seperti halnya Aristoteles pernah berharap agar rakyatnya memiliki waktu senggang yang seluas-luasnya. Sebab, katanya, meminjam Xenophon, ”kerja menyita seluruh waktu dan dengan kerja, orang tidak memiliki waktu luang untuk republik dan teman-temannya”. Tapi, bisakah kita berharap hal itu terjadi saat ini? Berharap agar saat-saat yang meditatif, kontemplatif, dan romantis dapat kita nikmati atau bahkan kita rayakan sebagai sebuah upacara pembebasan manusia dari penjara kerja. Memimpikan berhentinya roda kapitalisme, roda mesin penghasil uang dan laba (Ridha, Kompas, 2010).

Waktu Personal, Waktu Sosial

Salah satu momentum yang mungkin terulang dan secara tersirat diharapkan jangan terulang oleh Eko antara lain dicatat dalam sajak “Salemba” (h. 92). Dalam sajak ini waktu historis disimpan di kaca jendela, di jalan, di lorong-lorong. Lintasan waktu yang menyedihkan itu membuat ia tiba-tiba ingin pulang. Pulang bisa berarti kembali ke tempat asal, Kotabaru yang dibayangkannya sebagai negeri damai. Pulang bisa pula bermakna lain yang lebih sublim dan filosofis.

Eko menjadi salah seorang pencatat pengalaman batin masyarakat Indonesia secara umum dan Kalsel secara khusus dan Kotabaru secara lebih spesifik, memasuki abad XXI dalam sajaknya “Matahari Tahun 2000″ (h. 98). Puisi ini pun dapat menjadi tonggak pengukur untuk mengetahui setidaknya sampai tahun ini (sudah satu dekade) negeri ini belum berbuat yang berarti.

Doanya dalam sajak ini masih sangat relevan di tengah belum sinkronnya hubungan pusat dan daerah dalam memperbaiki keadaan daerah dan bangsa. Negeri ini, kata sajak ini, masih dirobek oleh tangan kita sendiri. Ini perlu digarisbawahi di tengah sikap kekanak-kanakan orang kebanyakan yang sering menuding bangsa lain sebagai perusak negeri ini tanpa menyisakan sedikit momen introspeksi atas kesalahan diri yang menahun dan akut.

Waktu dalam puisi Eko bukan substansi yang lepas dari suasana hati. Suasana sepi nyaris selalu terikat pada waktu malam, menjelang malam, atau tengah malam. Sifat malam secara universal memang memetaforkan suasana hati yang jatuh, sedih (meski tak harus cengeng). Sebaliknya suasana hati yang riang terikat pada waktu pagi.

Misalnya, ketika Eko ingin menyimpan kenangan manisnya di masa anak-anak yang penuh keriangan, menceritakan kedekatannya dengan gunung, sungai, dan laut, maka ia memilih waktu pagi untuk sajak “Kasidah Kota” (h.100).

Silakan teruskan pembacaan yang lebih serius pada kumpulan puisi ini, terutama soal sifat deiktis waktu dan metafora dan personifikasi waktu dalam puisi karena penelusuran yang sungguh-sungguh mengenai hal ini bisa menjadi ukuran objektif dari perspektif kebahasaan dan kesastraan dalam menakar kualitas puisi.

Setidaknya kita mendapatkan pelajaran dari kumpulan puisi ini bahwa waktu dalam sajak bisa menjadi penuntun kita memahami persepsi seorang penyair atau perasaan kolektif masyarakat terhadap peristiwa yang melintas dalam waktu fisis mekanis.

Waktu kronis dalam puisi tak semata konsepsi waktu dan peristiwa pribadi. Dalam konsepsi waktu yang individual, jika kita cermati lebih hati-hati, bisa juga kita temukan pertemuan antara konsepsi waktu yang personal dan sosial.

Loktara, 26.08.2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Indah dalam Buruk Rupa Dunia

Judul Buku : Cala Ibi
Penulis : Nukila Amal
Penerbit : Pena Gaia Klasik
Cetakan Pertama : April 2003
Tebal : 271 Halaman
Peresensi: Askolan Lubis
http://www.sinarharapan.co.id/

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Maia dalam fragmen terakhir (Surat dan Tanda Terakhir) dari novel Cala Ibi yang ditulis Nukila Amal ini.

Kalimat tersebut seolah hendak menegaskan tantang keberadaan karya ini: di tengah centang perenang realitas keseharian yang menyesakkan, Cala Ibi datang menyenandungkan irama lain yang teramat indah, namun acapkali dianggap tidak penting, yaitu mimpi.

Dengan memberi judul Cala Ibi (Naga)—yang tak lain adalah nama hewan agung lambang para kaisar Cina—pada novel ini, Nukila tampaknya hendak memberi tempat terhormat pada dunia bernama ”mimpi”.
Bagaimana tidak? Naga adalah hewan yang diyakini adanya, tapi tak seorangpun yang bisa memastikan atau melihat wujudnya.

Anehnya lagi, ia bukan sejenis reptil, tapi seperti ular. Bukan burung tapi bersayap dan bisa terbang. Bukan ikan, tapi bers…

POTRET MANUSIA MARJINAL DALAM CERPEN-CERPEN JONI ARIADINATA*

Maman S. Mahayana**)
http://mahayana-mahadewa.com/

00. Sastra adalah dunia yang serba mungkin; apapun bisa jadi mungkin (probability), termasuk di dalamnya, yang mustahil pun bisa saja menjadi mungkin. Jadi, dalam keser-bamungkinan atau kemustahilan itu, berbagai peristiwa yang mungkin dan yang mustahil, bisa saja terjadi sekali-sekali, gonta-ganti atau serempak secara tumpang-tindih. Oleh karena itu, salah satu kekhasan karya sastra (fiksi) yang sering dimanfaatkan untuk mem-bedakannya dengan karya nonfiksi adalah adanya kebolehjadian (plausibility) itu. Itulah sastra! Ia bisa menampilkan dunia yang realistik dan masuk akal secara meyakinkan. Na-mun, ia juga dapat menampilkan hal yang sebaliknya. Di sana, mungkin ada dunia jung-kir-balik, irasional, dan amburadul. Semua boleh saja terjadi, dan itu sah! Tidak ada rumus yang pasti yang berlaku universal. Selalu saja ada yang khas, unik, dan nyeleneh. Selalu ada saja kekhasan individual, meskipun ciri atau sifat-sifatnya, mungkin berlaku …

Sastra Indonesia Mutakhir: Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya

Jamal T. Suryanata
http://tuasmedia-2.blogspot.com/

/ 1 /

Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko. Di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian “sastra Indonesia” itu sendiri, juga dilantarankan oleh ketakrifan istilah “mutakhir” yang digunakan dalam judul tulisan ini memang cenderung bermakna bias (baca: bersifat deiktis).