“Tolok Ukur dan Nilai” dari Kekuatan

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

Pada periode kehidupan kita sekarang ini, suatu nilai yang hendaknya dimiliki oleh setiap manusia adalah kekuatan. Selayaknya di dalam suatu pertempuran, kekuatan menjadi faktor utama yang dapat menentukan hasil. Menang atau kalah, dapat dilihat dari pola kekuatan yang dimiliki. Meskipun kita belum menyaksikan peperangan yang sebenarnya, dari pengamatan akan kekuatan masing-masing pihak, peramalan kemenangan dapat ditentukan.Kekuatan yang oleh beberapa orang seringkali diucapkan dengan istilah “energi” terdapat tiga bentuk. Penggolongan ini hanya atas hasil dari renungan mengenai paradigma yang berlandaskan pada susunan komponen manusia. Yaitu, kekuatan badan, pikiran dan batin. Masing-masing komponen tersebut memiliki tempat dan kekuatan tersendiri. Juga memiliki tatacara pengembangan yang seringkali berbeda.

Kekuatan badan misalnya, dapat dibangun dengan gaya hidup sehat (secara medis). Mungkin saja, di dalamnya terdapat sikap yang mau menjauhi rokok, minuman berakhohol, Narkoba, menjalankan berbagai ritual di antaranya cukup tidur, berolahraga, dan serta cukup mengkonsumsi makan-makanan empat sehat lima sempurna. Kekuatan pikiran terletak di akal manusia yang dapat dikembangkan dengan proses belajar. Batin juga memiliki kekuatan yang terletak di dalam rasa, yang menurut saya, sangat bergantung tentang bagaimana cara kita memahami nilai-nilai ketuhanan.

Di sini yang ingin saya ketengahkan adalah mengenai kekuatan dari penulisan. Pada ranah tersebut, dipengaruhi oleh ketiga kekuatan di atas. Masing-masing memerankan peranan tersendiri. Akantetapi, yang ingin saya tuangkan sebagai pokok pembicaraan yaitu berkisar tentang bagaimana mengukur kekuatan dari hasil penulisan tersebut. Dapat dipastikan kita akan memiliki pendapat yang berbeda, setiapnya memiliki subjektivitas dalam meletakkan fondasi dasar untuk memperkirakan kandungan kekuatan yang ada di dalam suatu karya tulis. Landasan atau fondasi penilaian yang sudah kita pegang tersebut akan mengarahkan dalam proses pengembangan pemikiran ketika kita menilai suatu karya. Sejauh mana kekuatan tulisan dari karya tertulis tersebut.

Menurut penafsiran saya, kekuatan dari penulisan berdasarkan pada pendapat dari Horatius bahwa sastra hendaknya mampu menjalankan dua fungsi, yaitu fungsi mendidik dan menggerakkan. Berdasarkan pandangan ini, subjek penulis menanggung beban mengenai sifat mendidik dan menggerakkan melalui tulisan yang dihasilkan. Entah itu mendidik mengenai moral, agama, politik, filsafat, dan lain sebagainya yang di dalamnya juga termasuk seksualitas. Nilai pendidikan yang ingin disampaikan, hak sepenuhnya di tangan penulis, selanjutnya dengan muatan edukatif dari sebuah tulisan, subjek pembaca semestinya tergerak untuk melakukan apa yang sudah diajarkan.

Misalkan saja, pesan sifat mendidik dan menggerakkan yang terdapat di dalam novel “Para Priyayi” karya Almarhum Umar Kayam (30 April 1932 s.d. 16 Maret 2002) yang di dalamnya memuat edukasi mengenai nilai kehidupan manusia Jawa yang berkenaan dengan dunia Priyayi. Melalui novel “Para Priyayi” ini, Umar Kayam menyampaikan para seluruh pembacanya untuk bersikap halus, mengerti tatacara (adat), terpelajar selayaknya priyayi itu sendiri. Namun, Umar Kayam juga berpesan, menjadi priyayi dengan pikiran yang lebih maju ketimbang priyayi Jawa pada umumnya. Mungkin dengan istilah sederhananya, Umar Kayam berpesan, “Menjadilah priyayi Jawa yang modernis!”, sebagai pesan pendidikan. Kekuatan tulisan yang kedua adalah menggerakkan, yang mana aspek ini terjadi di dalam diri subjek pembaca. Pesan yang sudah disampaikan dan ditangkap yang selanjutnya mengerahkan subjek pembaca (dalam tingkatan pribadi) untuk menjalankan pejalaran yang sudah dipahami.

Atau, kekuatan yang ditinjau dari pendapat Aristoteles yang menyatakan bahwa sastra berusaha mensucikan jiwa para subjek pembaca, sebagai katharsis. Nilai utama yang sekaligus menjadi kekuatan, menurut pandangan ini adalah bagaimana peran tulisan (seni dan sastra) membantu manusia untuk menuju kondisi batin yang lebih baik. Kondisi batin yang dimaksudkan di sini dapat saja dikategorikan sebagai pencapaian ketenangan hati, ketuhanan, dan kebijaksanaan/ mensucikan jiwa manusia, membawa manusia pada kebenaran yang hakiki yaitu kebenaran Tuhan.

Jika kita menyimak kekuatan karya dalam paradigma ini, nilai dari suatu tulisan berarti mengikuti kitab suci. Memberikan pencerahan pada manusia untuk mencapai keselamatan hidup. Landasan seperti ini hanya dapat dirasakan oleh setiap pribadi, di dalam hatinya. Pada bagian ini, saya mengajak saudara untuk menyimak sepenggal puisi Maulana Jalaluddin Rumi: “Kalau kita mati, jangan mencari nisan kita di bumi, tetapi dapatkan itu dalam hati manusia.” Nah, sekarang marilah kita saling terbuka untuk jujur dengan diri kita sendiri: Nisan seperti apa yang akan kita goreskan di dalam hati manusia (yang hidup)? Nisan yang bertuliskan sebagai “manusia baik” atau “manusia tidak baik”? Terserah pada kita.

Di dalam tingkatan dua paradigma ini, hal mendasar (dan menurut saya) adalah hal yang terpenting adalah kehadiran kesadaran dan pemahaman di dalam proses pembacaan. Kesadaran manusia dan pemahamannya akan memberikan suatu bahan pertimbangan tersendiri, sebelum vonis dijatuhkan.

Tolok ukur mengenai kekuatan yang ketiga adalah dari pendapat Plato yang menggaris bawahi mengenai pengalaman di dalam tulisan sebagai mimesis (tiruan alam). Paradigma ini terdengar cukup sederhana, hanya sebatas pada aspek peniruan alam sekitar kita. Lebih jauh lagi, yang terdengar sederhana namun teramat kompleks dan rumit, sebab dalam usaha untuk meniru alam seorang subjek penulis harus memiliki data yang detail mengenai alam yang akan ditiru. Tulisan sebagai tiruan, yang kemudian menuntut mengenai tersedianya data yang cukup sehingga tulisan tidak akan dianggap sebagai “omong kosong”.

Tolok ukur yang keempat ini saya hadirkan berdasarkan obrolan ringan di sela-sela perjamuan kopi dan rokok mengenai proses penulisan, yaitu kata “mereka” kekuatan tulisan akan ada bergantung pada waktu yang dibutuhkan dalam menulis dan usaha keras dalam ketatnya revisi. Konon, subjek penulis yang mengerjakan sebuah judul tulisan dalam waktu bertahun-tahun maka tulisan tersebut sudah dijamin kekuatannya.

Apalagi jika lamanya waktu dalam proses pengerjaan ditambahi dengan daftar panjang waktu yang dibutuhkan untuk editing, maka tulisan itu akan semakin memiliki kekuatan yang lebih hebat. Dasyat, begitu kata seseorang yang gemar editing. Hal ini mungkin saja bersebab dari kekuatan (energi) yang digunakan untuk menulis yang besar sehingga karya itu pun (dilamunkan) memiliki kekuatan yang besar juga. Sampai seseorang akan bergumam kagum, “Hebat. Dasyat. Sungguh kuat, dua tahun untuk lima puluh halaman.”

Jikalau tolok ukur yang keempat ini mengandungi kepastian yang benar, maka tulisan yang saudara baca ini, saya katakan tidak memiliki kekuatan apa pun. Bersebab, saya tulis dalam jangka waktu yang tidak lama, yang juga tidak membutuhkan energi yang besar karena saya hanya duduk dan menulis. Ditambah karena aspek pengeditan yang kurang. Akantetapi, saya menuliskan ini dengan spontanitas dan sepenuh hati (cukup penuh saja, tidak sampai luber).

Saya kira cukup empat tolok ukur itu saja yang saya ketengahkan untuk saat ini. Sekarang saatnya kita merambah ke nilai ke nilai dari kekuatan. Dari keempat tolok ukur di atas, sebenarnya sudah memuat nilai dari kekuatan tersebut. Namun dalam kesempatan yang hangat ini, saya mencoba mengangkat satu komponen dalam penulisan, yaitu bahasa.

Aspek ini sering kita akrabi dalam kajian stilistika yang memang mengkhususkan diri untuk menganalisis gaya bahasa. Saya yakin, setiap penulis pasti memiliki gaya bahasa tersendiri yang dihasilkan dari dua proses, yaitu proses menemukan sendiri dan proses meniru. Berkenaan dengan gaya penulisan, saya langsung teringat kata-kata (yang sebenarnya di dalam tulisan juga) Pramoedya, bahwa: “Keindahan itu terletak pada kemanusiaan, yaitu perjuangan untuk kemanusiaan, pembebasan terhadap penindasan. Jadi keindahan itu terletak pada kemurnian kemanusiaan, bukan dalam mengutak-atik bahasa.”

Pendapat Pramoedya ini sangat masuk akal mengingat ideologi Realisme Sosialis yang diyakini. Ideologi penulisan ini berusaha untuk mempropagandakan perjuangan kemanusiaan dan kebenaran sejarah. Paradigma Realisme Sosialis mengesampingkan permainan (boleh juga dibaca: keindahan) bahasa dan lebih menitik-beratkan pada peran penulisan dalam mewujudkan masyarakat sosialis. Sastra (tulisan) yang lahir kemudian adalah sastra propaganda, yang terpenting adalah inti dari penulisan tersampaikan.

Ada juga yang dalam proses penulisannya berusaha menggunakan bahasa yang unik. Pemilihan kata dan pemenggalan setiap barisnya diatur sedemikian rupa sehingga mampu menimbulkan suatu bahasa sastra tersendiri. Permainan bahasa pun, yang kadang dicampur-aduk, mengesankan adanya nilai puitik yang mistis. Si subjek penulis membuat serangkaian bahasa yang justru membuat subjek pembaca mengalami kesusahan di dalam menentukan makna. Apakah ini sebagai keberhasilan si subjek penulis dalam mempermainkan bahasa atau memang adanya gairah yang berlompatan tanpa arah – maksud saya, tanpa makna? Ataukah karena kebodohan subjek pembaca di dalam memahami tulisan yang super pelik kuatnya dengan permainan bahasa?

Bisa jadi, sebuah permainan bahasa sebagai ekspresi yang indah walau makna seringkali tidak tersampaikan. Ekspresi subjek penulis yang lebih terdengar sebagai gumaman merdu namun tidak jelas mengatakan apa. Atau sebagai gerakan di luar kesadaran yang membangun struktur simbol yang tidak bisa diterjemahkan oleh manusia (subjek pembaca)? Kalau begitu, apa pun adanya ya, nikmati saja seadanya!

Di sisi yang lain, jauh di relung kalbu saya sebagai penulis pemula yang sedang belajar, jauh lebih menyetujui pandangan Pramoedya Ananta Toer. Bahwa yang terpenting dari tulisan adalah makna, pesan yang ingin disampaikan sebagai sifat edukatif, menggerakkan dan lebih jauh lagi sebagai pensucian jiwa manusia. Menulis dengan jujur tanpa bermanipulasi, buat saya adalah suatu pilihan. Selarut ini saya menjadi teringat dengan lagu “Bias Warna” yang dimerdukan Ebit G Ade., bahwa: “Sapuan kuas, nyanyian, puisi, harus lahir dari renungan mengendap di jiwa dan tuangkan sejujurnya. Rindu, dendam, kata hati, mesti diterjemahkan dalam bahasa yang jernih.”

Berkarenakan itu, tulisan dari sebuah tulisan menurut saya lebih terletak pada nilai kejujuran saat menulis, ketika kita menuangkan ide dan rasa ke dalam guratan pena. Selamat berkarya untuk mengkristal dan menjadi Abadi..!!!

Bantul – Studi SDS Fictionbooks, Minggu Kliwon 13 Maret 2011.

Komentar