Islam yang Puitis

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Ketimbang mendiskusi Islam Protestan, Islam Katolik, Islam Post-Tradisionalisme, agaknya yang lebih relevan sekarang adalah bagaimana merumuskan pandangan fikih tentang puisi dan kemungkinan untuk menggagas Islam puisi, yaitu Islam yang tidak marah.

Dengan Islam Puisi, saya membayangkan kitab suci, dogma dan syariat bisa dipahami secara puitis. Bukankah bahasa Kitab Suci sesungguhnya adalah puitis? Oleh karena itu, sudah selayaknya jika bahasa Kitab Suci dikembalikan pada bahasa yang puitis dan estetis. Bukan dengan bahasa yang logis argumentatif, tapi bahasa yang simbolik dan metaforik. Bukan dengan pendirian matematik-rasionalis, tapi pendirian ilustratif dan puitik.

Bisa jadi saya berlebihan ketika mengharapkan pergaulan umat beragama akan berjalan dengan sejuk dan saling menyapa dengan masing-masing menempatkan agama dan kitab sucinya sebagai kitab puisi. Sebagai titik awal, saya tidak ingin masuk ke dalam diskusi perbandingan agama sebagai perbandingan nilai, tapi saya berusaha mengajukan tawaran untuk menjadikan beragama melalui tafsir puisi.

Karena puisi pada dasarnya bersandar pada yang tak mungkin, yaitu dengan memakzulkan semua dogma. Sebab tak satu pun dari kepercayaan umat manusia yang pasti paling suci seperti hukum aritmetika dan geometri. Sikap kritis dan anti-dogma adalah hal yang wajar dalam puisi, karena ia menawarkan semacam pembebasan jiwa.

Islam Puisi berangkat dari pemahaman tentang Tuhan yang Mahaindah, dan menghargai keindahan. Sebagai bukti bahwa Ia tidak memusuhi keindahan, maka diturunkannya bacaan yang indah. Alquran adalah perkataan Tuhan yang mengandung keindahan. Bahkan identik dengan keindahan.

Secara psikologis, ada sebuah istilah yang disebut naluri keindahan. Manusia memiliki naluri keindahan, dan condong pada hal-hal yang indah. Quraish Shibab, dalam Wawasan Al-Quran (1996), pernah mgatakan dengan tak disangka-sangka: “Dorongan keindahan merupakan anugerah dari Allah. Ia merupakan fitrah bagi manusia. Adalah suatu hal yang mustahil bila Allah menganugerahkan kita potensi untuk menikmati atau mengekspresikan keindahan, kemudian Ia melarangnya”.

Pandangan Quraish Shibab dalam Wawasan Alquran itu cukup relevan dikuak jauh untuk konteks Islam Puisi di hari ini, kendati bukan satu-satunya, mengingat sampai kini di negeri kita masih dominan pandangan yang menganggap Tuhan memusuhi penyair dan puisi. Tapi tak cuma di Indonesia, bahkan di sebgaian besar negeri yang menganut Islam, puisi nyaris tak dihargai. Di Arab sendiri, kata Adonis, puisi adalah musuh Alquran. Puisi berlawanan dengan Alquran.

”Tak ada teks Alquran yang memuji atau menganjurkan puisi”, kata Adonis dalam sebuah wawancara. ”Sebaliknya, teks Alquran merendahkan puisi”. Untuk menguatkan argumennya, Adonis mengutip sejumlah ayat dari surat Asy-Syuara (Para Penyair) ayat 224-226: ”Dan para penyair diikuti oleh mereka yang sesat. Tidakkah kau melihat sesungguhnya mereka mengembara ke setiap lembah dan mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan.”

Quraish Shibab menempatkan puisi sebagai keindahan, yaitu ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan semesta keindahan. Apa pun definisi dan jenis keindahan itu, yang jelas puisi tidak lain adalah genre sastra yang begitu menekankan seni keindahan. Untuk menguatkan argumennya, Quraish Shihab mengutip sebuah hadis yang menegaskan: innalaha jamiylun yuhibbul jamala: sesungguhnya Tuhan Mahaindah dan menyenangi keindahan.

Bahkan, menurut Quraish Shihab lagi, ada hadis Nabi yang mengesankan pentingnya keindahan bagi seseorang hingga orang tidak disalahkan ketika “berlomba” atau “bersaing” menghadirkan keindahan ucapan. Malik Mararah Ar-Rahawi bercerita tentang seseorang yang ingin menyaingi kata-katanya, lalu ia merasa tak senang walau secuil pun. Dan ia bertanya kepada Nabi apakah sikapnya itu menunjukkan kesombongan, dan Nabi menjawab: tidak, karena keangkuhan adalah meremehkan hak dan merendahkan orang lain, bukan pada soal keindahan.

“Mengabaikan sisi-sisi keindahan yang terdapat di jagad raya ini”, tulis Quraish Shihab, ”berarti mengabaikan salah satu dari bukti keesaan Tuhan, dan mengekspresikannya dapat menjadi upaya membuktikan kebesaranNya, dan ini tidak kalah—kalau enggan berkata lebih kuat—dari upaya membuktikannya dengan akal-pikiran”. Mengabaikan keindahan berarti mengabaikan puisi. Dan mengabaikan puisi berarti mengabaikan pesan Tuhan.

Untuk melanjutkan sikapnya, Quraish Shihab mengutip Immanuel Kant, Syaikh Abdul-Halim Mahmud, lalu mengatakan: “Bukti terkuat tentang Ada (Tuhan) terdapat dalam rasa manusia”, bukan akal. Bahkan seperti kata Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin yang dikutip Quraish Shihab: “Siapa yang tak berkesan hatinya pada saat musim bunga dengan warna-warni kembangnya, atau oleh musik dan getaran nada-nadanya, maka hatinya telah mengidap penyakit parah yang sulit diobati”.

Amin al-Khuli bisa juga kita mintai pendapatnya di sini untuk memahami IsLam Puisi. Sebagai puisi, ia bertujuan membangkitkan semesta metafora dan makna yang ada di dalamnya sebagai petunjuk bagi manusia. Seorang mufassir mau tak mau mesti menggunakan bahasa puisi dengan bantuan gramatika, metafora, gaya, agar mampu menghindari makna monolitik terhadap Alquran, dan pada saat yang sama, mampu menghadirkan indahnya keragaman.

Memahami Islam sebagai agama puisi penting untuk diapresiasi mengingat kita hidup dalam ”abad puisi”. Puisi berkembang begitu pesat kini, dan hampir tak mungkin bisa dilarang dan ditolak. Kini filsafat dan sains tak lain adalah puisi. Bahkan agama pun adalah puisi.

Mengapa puisi? Karena puisi bisa memberikan kelapangan pandangan, keindahan hidup dan kehidupan, dan mampu menjamin kita untuk tak terjebak pada akidah tunggal. Puisi akan menjamin kita untuk tak melakukan kepastian di dalam membuat klaim; menjaga kita untuk tak menjadi orang alim hanya dengan jalan syariat semata.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/

Komentar