Misbahus Surur *
http://www.lampungpost.com/
LAUT adalah metafora sekaligus sebuah “dunia”. Sebagai sebuah dunia, laut menjadi loka, atau setidaknya pintu gerbang, bagi sang tualang melabuhkan diri ke negeri-negeri yang tak diketahui. Guna menambatkan harapan-harapan baru yang (tak) terkonsep sebelumnya. Tempat si pengembara melupakan kegamangan dan kejumudan-kejumudan di daerah asal.
Dalam perjalanan ke laut yang sering tanpa (per)hitungan itu, si pengembara berharap menemukan kejutan-kejutan hidup yang tak terduga. Yang dapat merekahkan pandangan yang lebih bergairah, luas lagi cemerlang. Sedang sebagai metafora, laut adalah sebuah kesan (mungkin juga pesan) yang tertinggal, dari penemuan dunia dan semangat baru tadi. Yang dituang dalam berbagai imaji serta catatan-catatan. Karena itu, laut sering jadi pilihan juga alternatif pembebasan. Sebuah upaya memerdekakan diri dari simpul yang mengikat seraya meluaskan pikiran yang dipenjara batas dan sekat. Dalam ranah sastra, khususnya puisi, laut pada satu kutub merupakan simbol kebebasan dan kedalaman. Sedang pada kutub lain, adalah penanda untuk mengatasi instrumen (yang dianggap) dangkal dan terkungkung—untuk menyebut sedikit di antaranya. Meski begitu, di tangan penyair yang diselimuti enigma, metafora laut kerap tak mudah diduga.
Chairil Anwar, misalnya, dalam Kabar dari Laut, pernah menuliskan sesuatu yang patetis. Pada bait-bait awal puisi, ada sejenis penyesalan sekaligus ungkapan kekecewaan yang disulut oleh sebuah hubungan (dengan seorang wanita). Rasa bersalah itu dinyatakan dengan diksi “laut” yang menyiratkan perasaan tolol dan sesal tapi begitu puitik: Aku memang benar tolol ketika itu,/mau pula membikin hubungan dengan kau;/lupa kelasi tiba-tiba bisa sendiri di laut pilu,/berujuk kembali dengan tujuan biru. Sebuah takdir kepiluan di laut, tapi pada saat yang sama, secara tersirat, tak ditolaknya. Keadaan tolol juga begitu lemah yang tak berdaya dengan cium nafsu tersebut, kini telah jadi luka yang—sekali lagi—juga diingini.
Dan pada saat itu, dengan sadar, Charil menjadi tahu, dalam hidup, batas antara cium nafsu dan luka, umpama perjalanan buritan dan kemudi. Di mana titik pembatasan cuma tambah menyatukan kenang. Dalam puisi ini, pengalaman hidup yang didapat serasa begitu berdarah-darah. Namun sejak dari darat hingga laut, dari buritan sampai kemudi, pengalaman yang berharga itu, pada akhirnya membikin tenang dan tentram si penyair: Dan tawa gila pada whisky tercermin tenang, begitu kata Chairil. Sebuah kemabukan yang diingini setelah pengalaman hidup yang pahit kembali terkendali.
Adapun dalam Senja di Pelabuhan Kecil, idiom laut beserta segenap elemen-elemen yang terpancang kukuh di sana, seakan cuma tempat berhenti dan hening. Semua diksi dan idiom pada puisi itu, seolah jadi penyangga bagi sepi dan sendiri yang teguh. Tanah dan air tidur, ombak hilang, perahu tiada berlaut, desir hari lari berenang adalah senarai idiom yang menguatkan sebuah momen “kebersendirian” penyair. Kesendirian yang sadar diri namun begitu disesaki harap yang serasa (masih) jauh. Pun dalam Cintaku Jauh di Pulau, meski mula-mula nuansa kegembiraan tersembul, begitu sedikit dan serasa tarik-ulur. Lantas seperti ada yang begitu saja terputus di tengah jalan. Hal tersebut bisa kita rasakan pada kalimat dan metafora ini: perahu melancar, bulan memancar,/ di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar./ angin membantu, laut terang, tapi terasa/ aku tidak ‘kan sampai padanya. Harapan yang dibelai kemuraman itu dilanjutkan dengan dua baris—sebelum dua bait terakhir—yang kian mempertegas pasase di atas: Mengapa Ajal memanggil dulu/ Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?. Sebuah “ajal” yang disesali—dengan huruf pertama yang sengaja di-kapital-kan—tapi tetap tak dapat ditolak.
Wan Anwar, yang hidup jauh setelah Chairil, pada salah satu puisinya, juga mengabadikan metafora lautan. Dalam puisi yang berjudul Kau, Laut, dan Kata, penyair yang tutup usia akhir 2009 lalu ini, menulis: di geladak sudah tercium kata-kata/anyir seperti bangkai, di antara bayang-bayang/ kau sebut hidup adalah perjudian dan entah siapa/entah di mana seseorang mengangguk/untuk yang tak terbaca// … di dasar laut takdir bisa saja semacam gurita/ke mana kau berlayar, ia akan mengantar/setia bersama waktu yang tak letih berkibar/ … dan aku –tahukah kamu?- akulah gurita itu/senja dan waktu yang kau sebut kepulangan.
Jika setumpuk kata-kata di geladak anyir, bukankah “yang tertera” sudah tak indah lagi? Bukankah kata-kata “anyir seperti bangkai” yang sinis adalah paradoks bagi puisi indah dan manis. Lalu, apa gerangan yang terjadi dengan kata-kata? Tak ayal, idiom-idiom pembuka puisi tersebut, ternyata memetaforkan hidup yang seperti perjudian. Sebab watak hidup memang tak pasti, sebagaimana frase “yang tak terbaca” juga kata ”perjudian”. Dalam hidup seperti itu, tentu saja tak ada ketenteraman, alih-alih hidup kian sesak diimpit pertaruhan.
Dan metafor seseorang yang mengangguk bagi keadaan adalah mereka yang menyerah atau setuju pada nasib. Adapun diksi dan metafor gurita, di sini, barangkali bisa kita maknai sebagai usia dan kesempatan. Bisa juga kiasan bagi durasi kehidupan, yakni jatah hidup tiap orang yang melulu dikepung takdir. Sebuah takdir yang teramat setia menyelam ke dasar laut kehidupan, di mana sang penyair hidup bersama kata-katanya. Dengan begitu, selain sebagai monster yang ditakuti, diksi gurita dengan sadar juga didekati; ”akulah gurita itu”, kata si penyair untuk menunjukkan betapa dekatnya ia. Meski akhirnya makhluk itu akan melenyapkan usia dan kata-kata. Dengan demikian, senja dan waktu yang kau sebut kepulangan, adalah kesetiaan usia untuk menemani masa tua (baca: jatah hidup) dan mengantarnya menuju tempat berpulang.
Ungkapan-ungkapan lain yang direguk dari lautan, juga ditatah secara beda dan kuat oleh Iswadi Pratama. Dalam sajak yang berjudul Aku dan Ibu, Iswadi seolah menemukan laut lain dengan sebenar-benar laut: di atas kapal/ dari sebuah jendela/ibu menatap laut lepas//aku memandang ibu/ingin terjun ke dalam matanya/di mana laut lebih luas//tetapi mata ibu sudah kering/hanya batu-batu terkubur di situ//ibu menyaksikan laut tanpa batas/berenang menggantang gelombang/menuju pantai./aku melihat ibu dari atas kapal/menyimpan kedua matanya/dalam pelayaran tak pernah usai.
Air mata ibu bagi Iswadi adalah laut yang kerap dilupa. Bagi penyair yang juga seorang aktor ini, air di kantung mata itu seolah jenis laut dengan segala kedalaman yang bagi saya melebihi kedalaman laut ala Chairil. Tangis bahagia juga linangan kesedihan ibu adalah tanda kasih dan ikatan batin yang kuat antara ia dengan anaknya. Di sana, di ceruk mata itu, tersimpan luasnya ketulusan. Namun serasa ada sesuatu yang begitu pribadi ketika mata itu tiba-tiba kering. Entah karena bengkak untuk menangisi kepergian si anak, ataukah ada ihwal lain?
Lepas dari itu, kasih ibu tetap saja tulus, kendati sang anak melanglang entah ke mana. Sebab, sejauh manapun anaknya berlayar, mata ibu akan selalu di situ, senantiasa disimpan untuk anaknya. Demikianlah sedikit kabar yang dapat kita petik dari beberapa puisi yang mengharu-birukan lautan. Semoga laut masih akan biru dan sampai pada kita dengan rupa-rupa kabar yang lain.
*) Penyuka sastra, kuliah S-2 di UIN Maliki Malang
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Rodhi Murtadho
A. Anzib
A. Junianto
A. Qorib Hidayatullah
A. Yusrianto Elga
A.D. Zubairi
A.S. Laksana
Abang Eddy Adriansyah
Abdi Purmono
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kirno Tanda
Abdul Wachid B.S.
Abdurahman Wahid
Abidah el Khalieqy
Abiyyu
Abu Salman
Acep Zamzam Noor
Achiar M Permana
Ade Ridwan Yandwiputra
Adhika Prasetya
Adi Marsiela
Adi Prasetyo
Adreas Anggit W.
Adrian Ramdani
Afrizal Malna
Afthonul Afif
Agama Para Bajingan
Aguk Irawan Mn
Agus B. Harianto
Agus Buchori
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Agus Utantoro
Agus Wibowo
Aguslia Hidayah
Ahda Imran
Ahmad Fatoni
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Nurhasim
Ahmad Sahidah
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Ajie Najmudin
Ajip Rosidi
Akbar Ananda Speedgo
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Saefudin
Akhmad Sekhu
Akhmad Taufiq
Akhudiat
Alan Woods
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alhafiz K
Ali Shari'ati
Alizar Tanjung
Alvi Puspita
Alwi Karmena
Amarzan Loebis
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Amiruddin Al Rahab
Amirullah
Amril Taufiq Gobel
Amy Spangler
An. Ismanto
Andrea Hirata
Andy Riza Hidayat
Anes Prabu Sadjarwo
Anett Tapai
Anindita S Thayf
Anjrah Lelono Broto
Anne Rufaidah
Anton Kurnia
Anton Suparyanto
Anung Wendyartaka
Anwar Holid
Aprinus Salam
Ari Dwijayanthi
Arie MP Tamba
Arif B. Prasetyo
Arif Bagus Prasetyo
Arif Hidayat
Aris Darmawan
Aris Kurniawan
Arswendo Atmowiloto
Arti Bumi Intaran
Arwan Tuti Artha
AS Sumbawi
Asarpin
Asef Umar Fakhruddin
Asep Sambodja
Asep Yayat
Askolan Lubis
Asrul Sani
Asvi Marwan Adam
Asvi Warman Adam
Audifax
Awalludin GD Mualif
Awaludin Marwan
Bagja Hidayat
Balada
Bale Aksara
Bambang Bujono
Bambang Irawan
Bambang Kempling
Bambang Unjianto
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Beni Setia
Berita
Berita Utama
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Binhad Nurrohmat
Bobby Gunawan
Bonnie Triyana
Bre Redana
Brunel University London
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hatees
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiman S. Hartoyo
Burhanuddin Bella
Cak Kandar
Catatan
Cepi Zaenal Arifin
Cerbung
Cerpen
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Cucuk Espe
D Pujiyono
D. Zawawi Imron
Dadang Ari Murtono
Dahono Fitrianto
Dahta Gautama
Damanhuri
Damhuri Muhammad
Dami N. Toda
Damiri Mahmud
Danarto
Dantje S Moeis
Darju Prasetya
Darwin
David Krisna Alka
Dedy Tri Riyadi
Deni Ahmad Fajar
Denny JA
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Dian Hartati
Dian Sukarno
Dicky
Dina Oktaviani
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Djuli Djatiprambudi
Dodi Ambardi
Dody Kristianto
Donatus Nador
Donny Anggoro
Donny Syofyan
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Arjanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Khoirotun Nisa’
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy Firmansyah
Eep Saefulloh Fatah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Eko Hendri Saiful
Eko Suprianto
Emha Ainun Nadjib
Endah Sulwesi
Endi Haryono
Endri Y
Enung Sudrajat
Erwin
Erwin Dariyanto
Erwin Setia
Esai
Esha Tegar Putra
Evan Ys
Evieta Fadjar
F. Aziz Manna
Fadjriah Nurdiarsih
Fahrudin Nasrulloh
Faidil Akbar
Fakhrunnas MA Jabbar
Fanani Rahman
Farida-Suliadi
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Feby Indirani
Felik K. Nesi
Fenny Aprilia
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Firdaus Muhammad
Firman Nugraha
Fuad Nawawi
Galang Ari P.
Gampang Prawoto
Ganug Nugroho Adi
Gerakan Literasi Nasional
Gerakan Surah Buku (GSB)
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gunawan Maryanto
Guntur Alam
Gus tf Sakai
Gusti Eka
H Marjohan
HA. Cholil Mudjirin
Hadi Napster
Halim HD
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hanik Uswatun Khasanah
Hans Pols
Hardi Hamzah
Haris del Hakim
Haris Firdaus
Hasan Gauk
Hasan Junus
Hasif Amini
Hasnan Bachtiar
Hasta Indriyana
Hawe Setiawan
Helwatin Najwa
Hepi Andi Bastoni
Heri KLM
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Heru Kurniawan
Heru Nugroho
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Hudel
Humaidiy AS
Humam S Chudori
I.B. Putera Manuaba
Ibn Ghifarie
Ibnu Rizal
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Idrus
Ignas Kleden
Ika Karlina Idris
Ilham khoiri
Ilham Yusardi
Imam Cahyono
Imam Muhtarom
Imam Nawawi
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Rosyid
Imron Tohari
Indiar Manggara
Indra Intisa
Indra Tranggono
Indrian Koto
Intan Indah Prathiwie
Inung AS
Iskandar Noe
Iskandar P Nugraha
Iwan Nurdaya-Djafar
Iyut Fitra
J.J. Rizal
Jacques Derrida
Jafar Fakhrurozi
Jafar M Sidik
Jafar M. Sidik
Jaleswari Pramodhawardani
Jamal D Rahman
Jamal T. Suryanata
Jamrin Abubakar
Janual Aidi
Javed Paul Syatha
Jean Couteau
Jean-Marie Gustave Le Clezio
Jefri al Malay
Jihan Fauziah
JJ Rizal
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Johan Edy Raharjo
Joko Pinurbo
Jokowi Undercover
Jonathan Ziberg
Joni Ariadinata
Joni Lis Efendi
Jual Buku
Juli
Jumari HS
Junaidi
Jusuf AN
Kang Warsa
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasijanto Sastrodinomo
Kasnadi
Katrin Bandel
Kedung Darma Romansha
Keith Foulcher
Khansa Arifah Adila
Khisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Kirana Kejora
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan)
Kristine McKenna
Kritik Sastra
Kukuh Yudha Karnanta
Kurie Suditomo
Kurniawan Yunianto
Kuswaidi Syafi'ie
Kuswinarto
L. Ridwan Muljosudarmo
Lan Fang
Langgeng W
Latief S. Nugraha
Leila S. Chudori
Leo Kelana
Leo Tolstoy
Lia Anggia Nasution
Linda Christanty
Liza Wahyuninto
LN Idayanie
Lukman Santoso Az
Luky Setyarini
Lutfi Mardiansyah
M Abdullah Badri
M Aditya
M Anta Kusuma
M Fadjroel Rachman
M. Arman AZ
M. Faizi
M. Harir Muzakki
M. Kanzul Fikri
M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
M. Misbahuddin
M. Mushthafa
M. Nahdiansyah Abdi
M. Raudah Jambak
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Makyun Subuki
Maman S Mahayana
Marcus Suprihadi
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Maroeli Simbolon S. Sn
Martin Aleida
Martin Suryajaya
Marwanto
Mashuri
Matroni
Matroni El-Moezany
Mawar Kusuma
Max Lane
Media: Crayon on Paper
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Miziansyah J.
Moh. Samsul Arifin
Mohammad Eri Irawan
Muhammad Antakusuma
Muhammad Firdaus Rahmatullah
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muhammadun A.S
Muhammd Ali Fakih AR
Muhidin M. Dahlan
Mukhlis Al-Anshor
Mulyo Sunyoto
Munawir Aziz
Murnierida Pram
Musa Asy’arie
Mustafa Ismail
N. Syamsuddin CH. Haesy
Nandang Darana
Nara Ahirullah
Naskah Teater
Nazar Nurdin
Nenden Lilis A
Nezar Patria
Nina Herlina Lubis
Ning Elia
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nobel
Noor H. Dee
Noval Jubbek
Novelet
Nu’man ‘Zeus’ Anggara
Nunik Triana
Nur Faizah
Nur Wahida Idris
Nurcholish Madjid
Nurdin Kalim
Nurel Javissyarqi
Nuriel Imamah
Nurman Hartono
Nuruddin Al Indunissy
Nurul Anam
Nurul Hadi Koclok
Obrolan
Oka Rusmini
Oktamandjaya Wiguna
Olivia Kristinasinaga
Orasi Budaya Akhir Tahun 2018
Oyos Saroso H.N.
Pandu Jakasurya
Parak Seni
Parakitri T. Simbolon
PDS H.B. Jassin
PDS. H.B. Jassin
Pembebasan Sastra
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta-Toer
Pringadi Abdi Surya
Pringadi AS
Prof. Tamim Pardede sebut Bambang
Prosa
Proses Kreatif
Puisi
PuJa
Puji Santosa
Puput Amiranti N
PUstaka puJAngga
Putu Wijaya
Qaris Tajudin
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Rahmat Hidayat
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Ranang Aji S.P.
Ranggawarsita
Ratih Kumala
Ratna Sarumpaet
Ratu Selvi Agnesia
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Rengga AP
Resensi
Resistensi Kaum Pergerakan
Revolusi
RF. Dhonna
Riadi Ngasiran
Ribut Wijoto
Ridwan Munawwar Galuh
Riki Dhamparan Putra
Risang Anom Pujayanto
Riswan Hidayat
Riyadi KS
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rojil Nugroho Bayu Aji
Rukardi
S Sopian
S Yoga
S. Jai
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sainul Hermawan
Sajak
Sakinah Annisa Mariz
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sanggar Teater Jerit
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sari Oktafiana
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra
Sastra Liar Masa Awal
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Sejarah
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo
Selo Soemardjan
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Septi Sutrisna
Sergi Sutanto
Sevgi Soysal
Shinta Maharani
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siswoyo
Sita Planasari A
Siti Rutmawati
Siti Sa’adah
Sitor Situmorang
Slamet Hadi Purnomo
Sobih Adnan
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Soni Farid Maulana
Sotyati
Sri Wintala Achmad
St. Sunardi
Stefanus P. Elu
Stevy Widia
Sugi Lanus
Sugilanus G. Hartha
Suherman
Sukardi Rinakit
Sulaiman Djaya
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sungging Raga
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Surat
Suripto SH
Suryadi
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Susiyo Guntur
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Suyadi San
Syafruddin Hasani
Syahruddin El-Fikri
Syaiful Amin
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T Agus Khaidir
Tasyriq Hifzhillah
Tatang Pahat
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Presetyo
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Winarsho AS
Temu Penyair Timur Jawa
Tengsoe Tjahjono
Theresia Purbandini
Thowaf Zuharon
Tia Setiadi
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tony Herdianto
Tosa Poetra
Tri Purna Jaya
Triyanto Triwikromo
Tu-ngang Iskandar
Tulus S
Ulfatin Ch
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Universitas Indonesia
Universitas Jember
Urwatul Wustqo
Usman Arrumy
Utami Widowati
UU Hamidy
Veronika Ninik
Vien Dimyati
Vino Warsono
Virdika Rizky Utama
Vyan Taswirul Afkar
W Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Heriyadi
Wahyu Hidayat
Wahyu Utomo
Walid Syaikhun
Wan Anwar
Wandi Juhadi
Warih Wisatsana
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Budiartha
Wayan Supartha
Wendoko
Wicaksono Adi
William Bradley Horton
Wisnu Kisawa
Wiwik Widayaningtias
Wong Wing King
Y. Wibowo
Yang Lian
Yanuar Yachya
Yetti A. KA
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yopie Setia Umbara
Yos Rizal Suriaji
Yoserizal Zein
Yosi M Giri
Yudhi Fachrudin
Yudhi Herwibowo
Yulia Permata Sari
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yuval Noah Harari
Z. Afif
Zacky Khairul Uman
Zakki Amali
Zamakhsyari Abrar
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae
Zhou Fuyuan
Zul Afrita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar