Refleksi Hari Pahlawan

Suherman, S.Pd.
http://www.radarlampung.co.id/

Pepatah mengatakan bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Bentuk penghargaan kepada para pahlawan bisa termanifestasi ke dalam beragam bentuk. Salah satunya setiap 10 November, bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan.

BUNG Tomo merupakan tokoh pemuda yang terkenal karena heroismenya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA (Inggris dan sekutu). Heroisme Bung Tomo tidak bisa dipisah dari pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Puluhan bahkan ratusan ribu rakyat Indonesia tewas karena melakukan perjuangan maupun disiksa penjahat-penjahat Belanda, Inggris, dan Jepang selama menjajah nusantara. Teruntuk bagi para pejuang, mereka rela meninggalkan istri, anak, orang tua, dan harta untuk merebut kemerdekaan. Hal terbesar adalah mereka mengorbankan keringat, darah, bahkan nyawa untuk membela, memperjuangkan rakyat Indonesia bebas dari belenggu penjajahan, juga penindasan.

Seberapa pentingkah kemerdekaan bagi rakyat Indonesia pada saat itu? Hanya satu kalimat Merdeka atau Mati!. Merdeka dalam artian merdeka secara politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan terbebasnya belenggu penindasan dan kemiskinan. Untuk mencapai itu semua, segenap rakyat Indonesia dari ujung Aceh hingga ujung Papua yang terjajah oleh Belanda selama 350 tahun terus berjuang dan bertempur.

Semua suku melakukan usaha yang sama untuk mengusir penjajahan (Belanda, Jepang, NICA). Atas darah, nyawa dan harta, maka berdirilah NKRI yang merupakan hasil perjuangan segenap bangsa Indonesia. Berdirinya NKRI merupakan hasil akumulasi perjuangan segenap suku, agama dan kelompok di Indonesia.

Bagaimana saat ini? Kemarin, 10 November 2010. Sudah 65 tahun Indonesia merdeka, sudah 12 tahun pula reformasi bergulir. Namun, masih berjuta-juta rakyat Indonesia belum laik disebut merdeka. Mereka hidup di bawah kerangkengan nasib hidup yang tidak menentu. Tiada rumah seindah istana, yang ada hanyalah gubuk reyok atau dinding-dinding karton di bawah jembatan. Di tengah puluhan juta angka kemiskinan dan pengangguran serta utang negara yang membengkak, korupsi merasuk di setiap lini kehidupan. Distorsi penegakan hukum terjadi, yang kaya dan berkuasa dapat bebas dari dakwaan, sementara yang miskin dan tiada kuasa tidak berdaya menghadapi penguasa.

Dengan kondisi bangsa yang kini sedang diperhadapkan kedalam sejumlah cobaan yang datang, tsunami di Mentawai Sumatra Barat, letusan Gunung Merapi yang menewaskan 125 orang (Solopos, 7/11), dan Wasior di Papua, yang banyak menelan korban. Di sisi lain, degradasi moral, perilaku diskriminatif serta koruptif merupakan masalah tersendiri.

Peringatan Hari Pahlawan merupakan momen yang sama pentingnya selama seluruh rakyat Indonesia mendapat esensi peringatan tersebut. Apa itu? Semangat revolusioner, semangat berjuang, semangat berkorban, dan berkarya bagi bangsa juga negara. Itulah esensi. Itulah nilai moral yang harus ditanamkan ke rakyat, terutama para pemimpin. Janganlah mencari ’’makan’’, ’’intan permata’’, dan ’’prestise’’ di kursi kekuasaan.

Karena situasi negara dan bangsa sudah begini bobrok, kita semua perlu mengangkat tinggi-tinggi jiwa agung dan revolusioner yang terkandung dalam Hari Pahlawan. Salah satu tokoh nasional yang paling menonjol dalam mengangkat arti para pahlawan dalam perjuangan pembebasan bangsa adalah Bung Karno. ’’Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya’’.

Pahlawan seperti apa? Pahlawan disini adalah orang yang berjuang dengan keringat, darah bahkan nyawa tanpa pamrih demi kepentingan yang lebih besar, kepentingan bangsa dan negara. Dalam berbagai kesempatan Bung Karno menjadikan Hari Pahlawan sebagai sarana untuk mengingatkan kepada seluruh bangsa (terutama angkatan muda) bahwa sudah banyak pejuang-pejuang telah gugur, atau mengorbankan harta-benda dan tenaga mereka, untuk mendirikan negara RI. Mereka rela berkorban, supaya kehidupan rakyat banyak bisa menjadi lebih baik dari pada yang sudah-sudah. Mereka telah berjuang jauh sebelum selama revolusi kemerdekaan 1945, untuk menjadikan negara ini milik bersama, guna menciptakan masyarakat adil dan makmur.

Peringatan Hari Pahlawan 10 November jangan hanya bersifat seremonial, tapi harus disertai tindakan pelurusan cita-cita bangsa. Bangsa yang mencoba untuk bangkit. Pahlawan bukan hanya yang gugur dalam medan perang saja, yang mengisi pembangunan, yang mengharumkan nama bangsa juga adalah pahlawan. Mari kita tekadkan bersama untuk menjunjung tinggi-tinggi semangat revolusioner dalam mengabdi kepada kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Ganyang koruptor! Ganyang Kemalasan! Ganyang pejabat publik busuk!

Semoga dengan hari peringatan ini diharapkan kita semakin semangat dalam membangun negri ini, semakin kokoh persatuan. Untuk para koruptor, penjahat pemerintahan, dan mafia-mafianya, mudah-mudahan bisa memaknainya serta segera bertobat. Jayalah Negriku…

Selamat Hari Pahlawan. Bangkitlah Indonesiaku!

* Suherman, S.Pd. (Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Matematika Universitas Sebelas Maret, Tinggal di Gedungmeneng, Bandarlampung.)

Komentar