Andrea Hirata Sastrawan dari Kampung Belitong

Andrea Hirata
Pewawancara : Stevy Widia
http://www.suarapembaruan.com/

Ini kisah nyata tentang sepuluh anak kampung di Pulau Belitong, Sumatera. Mereka bersekolah di sebuah SD yang bangunannya nyaris rubuh dan kalau malam jadi kandang ternak. Sekolah itu nyaris ditutup karena muridnya tidak sampai sepuluh sebagai persyaratan minimal.

Pada hari pendaftaran murid baru, kepala sekolah dan ibu guru satu-satunya yang mengajar di SD itu tegang. Sebab sampai siang jumlah murid baru sembilan. Kepala sekolah bahkan sudah menyiapkan naskah pidato penutupan SD tersebut. Namun pada saat kritis, seorang ibu mendaftarkan anaknya yang mengalami keterbelakangan mental. Semua gembira. Harun, nama anak itu, menyelamatkan SD tersebut. Sekolah pun tak jadi ditutup walau sepanjang beroperasi muridnya cuma 10 orang.

Kisah luar biasa tentang anak-anak Pulau Belitong itu menjadi novel dengan judul Laskar Pelangi (LP) oleh Andrea Hirata, salah satu dari 10 anak itu. Banyak orang memuji novel memoar tersebut karena jalinan ceritanya yang memikat sekaligus penuh muatan nilai moral. “Mengharukan…,” kata Korrie Layun Rampan. “Menarik…,” komentar Sapardi Djoko Damono. “Menyentuh…,” kata Garin Nugroho.

Pujian dari mereka menjadi jaminan bahwa LP yang kemudian berkembang menjadi novel tetralogi itu memang memiliki nilai lebih. Pembaca bukunya semakin menegaskan pujian itu. Tiga judul yang sudah terbit yakni Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor menempati posisi best seller dengan angka penjualan lebih dari 100 ribu kopi. Buku pertama yakni Laskar Pelangi bahkan sudah diterjemahkan dalam bahasa Melayu dan diterbitkan di sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Myanmar. Dan tak lama buku LP akan diterbitkan di Eropa dan Amerika Serikat, tentu dalam terjemahan bahasa Inggris.

Karya debut ini membuat pemilik nama lengkap Andrea Hirata Seman Said Harun yang dipanggil Ikal oleh teman-temannya menjadi semacam selebritis baru di jagad sastra Indonesia. Meski hal itu dibantah mati-matian olehnya, paling tidak sejumlah penghargaan berkat novel itu telah diterimanya, yang terbaru Aisyah Award dari Muhammadiyah. Buku ketiga Edensor juga masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award 2007 untuk kategori prosa. Bahkan sutradara kawakan Riri Riza dan produser Mira Lesmana sudah siap menggarap kisah LP ke layar lebar.

Menariknya lulusan Master of Science dari Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, Inggris itu belum pernah menulis buku sastra. Sebaliknya tesis ilmiah Andrea di kedua universitas itu merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama karya orang Indonesia. Buku ini telah beredar sebagai referensi ilmiah. Hal itu terungkap dalam wawancara staf PT Telkom Bandung yang bertutur kata halus dengan SP. Berikut petikan wawancara yang berlangsung belum lama ini di Jakarta :

Sejumlah pembaca Laskar Pelangi mengaku novel ini menyegarkan sekaligus mengharukan. Ide apa yang melatarbelakangi penulisan novel ini?

Buku Laskar Pelangi (LP) pada awalnya bukan untuk diterbitkan. Niat saya untuk menulis buku ini sudah ada sejak saya kelas 3 SD, ketika saya demikian terkesan pada jerih payah kedua guru SD saya Ibu Muslimah dan Bapak Harfan Effendi, serta 10 sahabat masa kecil saya, yang disebut Kelompok “Laskar Pelangi”. Buku LP saya tulis sebagai ucapan terima kasih daan penghargaan kepada guru dan sahabat-sahabat saya itu. Seorang teman, tidak sengaja menemukan draf buku itu di kamar kos saya, dan diam-diam mengirimkannya pada penerbit. Sampai hari ini saya masih heran ternyata buku LP masih merupakan buku laris.

Masa kecil anda benar-benar seperti di Laskar Pelangi?

Masa kecil saya dan para tokoh di LP hidup di sebuah komunitas buruh tambang di Belitung. Kami tuh native di sana. Kami mengalami seperti apa yang saya ceritakan dalam Laskar Pelangi. Jadi, ada pendidikan dimana pendidikan hanya bisa diikuti oleh anak-anak para pegawai dalam pangkat tertentu. Kemudian ada fasilitas yang hanya bisa dimasuki orang-orang dengan kelas sosial tertentu. Saya rasa, sekarang kita bisa melihat hal tersebut sebagai sebuah pelanggaran HAM. Itu terjadi dalam masa kecil kami.

Mengapa masa kecil yang penuh penderitaan itu begitu membekas dalam diri Anda?

Masa kecil itu penuh dengan magical moments. Masa kecil kan membentuk kita pada hari ini. Apa yang kita lakukan hari ini, bagaimana persepsi kita terhadap hidup ini, semua terbentuk saat masa kecil. Dan saya merasa beruntung masa kecil saya dilalui di sekolah Muhammadiyah, sebuah sekolah miskin dan puritan, tapi saya rasa bagaimana saya melihat perspektif hidup saya sekarang, itu adalah bagaimana saya melalui masa kecil saya di sekolah itu. Bagaimana saya melihat persahabatan. It’s magic! Saya selalu merasa beruntung, dan saya selalu merasa punya tempat untuk pulang. Bertemu dengan guru tercinta dan sahabat-sahabat saya, Laskar Pelangi.

Berapa lama Anda menyelesaikan novel ini?

Saya memang sejak dulu ingin menulis, tetapi sebelum menulis LP saya sama sekali tidak pernah menulis sastra. Bahkan cerpen pun belum pernah. Saya hanya menulis, berkontemplasi, mengingat untuk buku itu. Tiga minggu selesai. Memang banyak yang mempertanyakan hal tersebut, sampai dalam suatu forum milis dikatakan saya menulis dalam keadaan trance,

di luar kemampuan saya. Apalagi mengingat novel itu sangat tebal 529 halaman. Dan saya tidak memiliki latar belakang sastra. Ini merupakan novel saya yang pertama. Namun kembali saya ingatkan LP adalah sebuah memoar. Oleh karena itu, setiap lembarnya sudah ada di kepala saya sejak lama.

Soal latar belakang dan lokasi kejadian, Anda cukup detail dalam novel ini. Semua nyata? Atau ada juga imajinasi di dalamnya ?

LP adalah sebuah memoar, oleh karena itu semua karakter dan kejadiaanya adalah nyata. Cara menulis saya memang cenderung detail, karena saya tertarik memberi gambaran yang filmis pada para pembaca. Tentu novel adalah sebuah karya sastra, dan sastra tidak dapat dipisahkan dengan imajinasi. Imajinasi dalam LP tidak dimanifestasikan dalam bentuk mereka-reka karakter dan kejadian, tetapi di dalam cara menceritakan

Dalam bertutur Anda begitu detail. Apakah Anda melakukan survei data untuk penulisan novel ini?
Tentu saja, tetapi saya terbantu karena LP adalah memoar, artinya saya sudah memiliki informasi yang mengendap di kepala saya. Riset yang paling intensif adalah saya harus mengkonfirmasikan lagi beberapa hal yang berkenaan dengan Biologi, Fisika, dan Kimia waktu mendeskripsikan karakter Lintang yang jenius. Juga ketika mendeskripsikan anatomi kandungan material tambang di Belitong.

Ini karya sastra debutan Anda. Bagaimana penulis pemula seperti Anda dapat membuat novel yang begitu baik dan menuai pujian di mana-mana?

Saya bukan pembaca sastra yang fanatik. Hanya sedikit buku sastra yang saya baca. Saya lebih banyak membaca buku ilmiah, teori ekonomi, pokoknya tentang ilmu pengetahuan. Namun ternyata buku sains memberi kontribusi yang besar dan membuat saya kuat dalam hal penulisan kontekstual. Bahkan menurut saya ilmuwan itu sangat sastrawi. Saya juga percaya orang Melayu terlahir sebagai penyair, story telling yang ulung. Ada peribahasa kalau kau pinjamkan uang pada orang melayu, akan putus perkara. Tapi kalau kau pinjamkan dia kata, maka akan berpanjang cerita.

Dari memoar, Anda kemudian menulis hingga menjadi tetralogi. Bagaimana itu bisa terjadi?

Setelah melihat reaksi pembaca, saya mulai berpikir ternyata menulis buku bisa memberi pengaruh secara luar biasa. Terpikir untuk membuat tetralogi, itu bukan karena dorongan pasar. Saya hanya ingin memberi semangat pada penulis baru untuk jangan takut menghasilkan karya. Sebab buku punya nasib sendiri. Saya tahu menulis itu tidak mudah. Maka saya tidak punya pandangan tentang hal mendasar dalam teknis menulis. Pandangan saya adalah mengenai apresiasi. Dalam hal ini saya rasa karya dari seorang penulis bukan hanya persoalan bagaimana masyarakat akan menghargai tulisannya, tapi bagaimana ia sebagai penulis akan menghargai dirinya sendiri. Artinya, jika ia menghargai dirinya sendiri, hendaknya ia menulis sesuatu yang memiliki integritas. Tidak melulu patuh pada tuntutan pasar.

Berarti ada pesan lain ketika anda menulis LP, tak hanya sekadar memoar?

LP adalah buku tentang orang Indonesia kebanyakan. Di dalamnya ada kisah cinta, hubungan dengan teman, keinginan untuk maju, rasa percaya diri. permbaca meliha dirinya sendiri di buku itu. Buku LP membua tana kuat menertawakan kemiskinan, memparodikan tragedy sehingga anda bertenaga kembali. Agar orang jangan mudah berputus asa. Belajarlah dengan betul, itu sebenarnya pesan utama saya. Klasik sebenarnya, tapi dengan bercontoh dari Laskar Pelangi, kesulitan apapun terutama dalam masalah pendidikan, bisa diatasi. Buktinya, anggota Laskar Pelangi bisa survive. Pokoknya don’t give up. Kalaupun harus bekerja, atau menjual, ya pokoknya apa saja, lakukanlah untuk mendapatkan pendidikan. Kemiskinan bukan alasan untuk berhenti belajar. Pendidikan itu penting untuk perubahan.

Apa obsesi Anda setelah menjadi penulis dengan karya best seller?

Saya pegawai BUMN, saya ingin mempromosikan ke kalangan birokrat agar banyak membaca buku sastra untuk mengaktifkan otak kanan mereka. Sebab dewasa ini kebijakan harus bersifat kreatif , sebab jika terlau banyak menjanjikan masyarakat akan semakin skeptis. Saya masuk ke dalam birokrat karena saya melihat itu satu-satunya cara untuk berbuat dalam memecahkan berbagai masalah yang selama ini kita lihat di dalamnya. Di mata saya apabila bangsa ini ingin berubah, orang yang ada di dalam posisi strategis harus berkorban demi sesuatu yang lebih baik ke depan. Itu yang coba saya lakukan. Saya ingin melawan jargon anda jujur anda hancur. Sebaliknya say aingin buktikan anda jujur anda prevail. Sebab cepat atau lambat kemenangan akan memihak kebenaran. Itu yang guru saya ajarkan. Persoalannya hal itu tidak mudah, sehingga saya sering merasa kesepian di tengah keramaian.

Sumber: http://202.169.46.231/News/2007/11/11/Profil/pro01.htm

Komentar