Langsung ke konten utama

Sastra Transgender?

Judul : Di Balik Kaca, Bunga Rampai Cerita Kaum Minoritas Seksual
Penyunting : John McGlynn
Penerbit : Yayasan Lontar
Cetakan : 2010
Tebal : 207 halaman
Peresensi : Aris Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

APA itu sastra transgender? Sastra yang mengangkat seputar persoalan keragaman orientasi seksual? Ataukah sastra yang ditulis oleh kaum homoseksual? Jika yang pertama dianggap benar, lalu yang seperti apa? Apakah sastra yang berisi kecaman atau membela prilaku homoseksual?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin cukup relevan untuk menimbang terbitnya bunga rampai cerita kaum minoritas seksual Di Balik Kaca suntingan John McGlynn dkk. Ke-20 cerpen yang termuat di buku ini, semuanya dibuhul semangat yang sama: perlunya mengedepankan sikap menerima homoseksual sebagai bagian dari realitas yang hidup di sekeliling kita, sebuah realitas yang sama tuanya dengan heteroseksual. Penerimaan terhadap kaum tersebut terwujudkan dalam bentuk memperlakukan mereka secara manusiawi dengan memenuhi hak-hak dasar mereka sebagai manusia sebagaimana dimiliki kaum heteroseksual, seperti dicontohkan keluarga Sarkowi terhadap Om Zus, dalam cerpen Om Zus.

Dikisahkan, Om Zus yang lemah, sakit-sakitan, pemurung, gemar mengurung diri, memperoleh kembali vitalitas hidupnya setelah keluarganya menerima kondisi dia yang berorientasi seksual berbeda. Kegemarannya bersolek layaknya perempuan dan kelayapan mencari teman-teman komunitasnya sesama kaum penyuka sesama jenis pada malam hari tidak dipersoalkan. Bahkan penerimaan mereka kemudian menjadi faktor yang merekatkan keluarga besar Sarkowi.

Cerpen besutan Satmoko Budi Santoso di atas secara gamblang menyampaikan pesan bahwa menerima perbedaan orientasi seks bukan saja membuat simpul kekeluargaan semakin erat, tapi juga memberikan vitalitas hidup kepada mereka sehingga dapat berkarya secara optimal. Demikian pula tokoh ‘aku’ dalam cerpen Lelaki yang Terindah (Seno Gumira Ajidarma) diposisikan sebagai pihak bersalah lantaran telah memperlakukan seorang gay secara diskriminatif. Aku lantas menyerahkan cintanya kepada pria gay yang kemudian menjadi kekasihnya.

Selain karya Satmoko dan Seno Gumira, kita bisa membaca cerpen karya penulis yang sudah familiar dalam jagat sastra Indonesia seperti Djenar Maesa Ayu, Ratih Kumala, Stefani Hid, Stefanny Irawan, Oka Rusmini, di samping nama-nama lain yang agaknya menulis untuk kebutuhan terbitnya buku ini.

Meski dibuhul semangat yang sama, setidaknya ada tiga jenis penerimaan yang diperlihatkan dalam cerpen-cerpen di buku ini, pertama penerimaan secara lega dan sukarela, kedua menerima secara terpaksa, terakhir menerima antara terpaksa dan sukarela.

Selain Om Zus, cerpen yang menerima secara sukarela adalah Tarian Bumi (Oka Rusmini), Lelaki yang Terindah (Seno Gumira Ajidarma), SMS (Djenar Maesa Ayu), Lelaki di Sudut Jakarta (N. Wibowo), Pengkhianatan (Anton Leo), Bukan Aku, Tapi Mereka yang Gila (Stefani Hid), dan Kampung Lanang (Antok Serean). Jenis penerimaan kedua antara lain terlihat pada Kutemukan Pagi, Kutemukan Malam (Andre Aksana), Putus (Nisrina Lubis), dan Manusia-Manusia (Bagus Utama). Sisanya adalah menerima secara sukarela sekaligus terpaksa, yaitu pada Oleh Waktu (Herlinatiens), Gara-gara (Putri Kartini).

Entah kebetulan atau tidak, penerimaan jenis pertama justru ditulis oleh para pengarang yang sudah familiar dan ditengarai sebagai kaum mayoritas seksual, sebaliknya penerimaan secara terpaksa, maupun antara sukarela dan terpaksa, datang dari cerpen-cerpen yang ditulis untuk keperluan buku ini yang diduga kaum minoritas seksual. Lihat misalnya cerpen Primadona (Santo). Tokoh aku dalam cerpen tersebut harus menjalani hidup hetero meski sesungguhnya seorang homo. Aku terpaksa meninggalkan kekasih sejenisnya untuk menikah dengan lawan jenis. Dan menganggap jalan yang ditempuhnya sebagai terbaik.

Demikian pula tokoh aku pada cerpen Kutemukan Pagi Kutemukan Malam (Andre Aksana). Tokoh aku merasa terjebak setelah melakukan hubungan intim sesama jenis. Aku marah besar dan hampir membunuh pasangannya. Kesadaran aku secara kuat menyiratkan perilaku homoseksual sebagai dosa. Tendensi-tendensi semacam ini yang tak kita temukan pada cerpen Seno, Satmoko, dan penulis dari kalangan mayoritas seksual.

Sementara dari sisi kekuatan cerita maupun estetika, cerpen yang ditulis kaum minoritas masih belum mampu berdiri tegak menciptakan estetika yang khas. Sehingga semesta homoseksualitas hanya secara permukaan dan sebatas persoalan seksualitas.

Dari temuan sederhana ini mungkin bisa ditarik kesimpulan bahwa kebanyakan kaum homoseksual agaknya masih gamang dengan orientasi seksual mereka sebagaimana tercermin dari kisah-kisah yang mereka tulis. Hal ini bisa jadi lantaran kaum homoseksual, bahkan di negara semaju dan sedemokratis Amerika pun, keberadaannya, apa boleh buat, masih terus mengalami penolakan masyarakat. Orientasi seksual mereka dianggap menyimpang, menyalahi penciptaan, merusak moral, bahkan mengganggu tatanan sosial.

Nah, mungkinkah sebuah buku kumpulan cerpen—yang gamang terhadap dirinya sendiri—mampu memberikan perlawanan terhadap ketidakadilan yang terlembagakan tersebut?

Aris Kurniawan, penulis lepas

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com