Langsung ke konten utama

Gus Dur yang Kontroversial

Judul : Semar Dadi Ratu ; Mengenang Gus Dur Kala Jadi Presiden
Penulis : Sumanto Al-Qurtuby
Editor : Tedi Kholiludin
Penerbit : Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang Jawa Tengah
Tahun : I, Agustus 2010
Tebal : 197 halaman
Harga : Rp25.000
Peresensi : Nazar Nurdin
http://www.koran-jakarta.com/

Gus Dur adalah sosok yang luar biasa dan fenomenal. Seluruh sisa hidupnya dipersembahkan untuk rakyat. Bahkan dalam kondisi darurat—menjelang wafat—Gus Dur selalu berfikir untuk rakyat Indonesia. Ia bukan saja “guru besar” kaum sarungan, melainkan guru besar bangsa Indonesia. Bapak pluralisme Indonesia. Satu hal yang pasti, Gus Dur berjuang dengan penuh kejujuran serta keikhlasan. Perjuangannya tidak dilakukan untuk memperoleh jabatan atau pun popularitas.

Jamak dari kita berjuang hanya mencari jabatan sekaligus mencari ketenaran. Tapi, ini tidak berlaku bagi Gus Dur. Meski pada akhirnya ia dikecewakan oleh para “sahabat”nya sendiri, dicaci maki, dijadikan ajang pelampiasan oleh banyak kalangan, Gus Dur tidak pernah marah atau pun ingin membalaskan dendamnya. Melalui buku ini, Sumanto al- Qurtuby dengan kolom-kolom esainya ingin sesekali mendedikasikan buku ini sebagai bentuk pengabdian kepada sang guru bangsa.

Sumanto pun sadar, ia bukan sebagai anak biologis sang bapak pluralisme ini. Ia juga bukan bagian dari kerabat dan saudarasaudaranya. Bukan pula tetangganya dan bukan “santri” ngajinya. Ia juga bukan orang yang mendapatkan “syafaat” dari Gus Dur untuk menduduki jabatan-jabatan politis-strategis. Ia juga bukan orang yang diuntungkan ketika Gus Dur menjabat sebagai Presiden, juga bukan kelompok yang mendapatkan keuntungan politik dan material dari Gus Dur.

Tapi, Sumanto mengakui sebagai salah satu “anak idelogis” Gus Dur yang mencoba mengabdikan diri kepada sang inspirator yang telah memberikan rujukan tentang pemikiran-pemikiran yang inklusif-pluralis, yang melintas batas ideologi, agama dan etnis (hlm. xliii). Dalam buku ini, disajikan pelbagai fenomena menarik ketika Gus Dur menjabat sebagai orang pertama di negeri ini.

Sesaat ketika Gus Dur diambil sumpah sebagai Presiden RI ke-4, ia menegaskan bahwa hanya mereka yang mengerti dan memahami hakikat demokrasi yang mampu mengamalkan, memelihara dan menegakkan demokrasi. Dalam pandangannya, ia mendasarkan prinsip demokrasi pada tiga hal; kebebasan, persamaan dan musyawarah.

Ketiga konsep ini diadopsi oleh Gus Dur dari gerakan antidiskriminasi Mahatma Gandi, dan rumusan Ali Abdurraziq. Gus Dur sekali lagi memang kontroversial. Selama menjadi presiden, ia membubarkan Departemen Penerangan (Deppan) dan Departemen Sosial (Depsos). Ia menganggap kedua Departemen itu telah menyalahi Konstitusi dan prinsip demokrasi itu sendiri. Sehingga, muncul penolakan dan kritik keras dari berbagai kalangan.

Dari sinilah, pemerintahan Gus Dur tidak mendapat dukungan dari TNI, seruan fatwa Mahkamah Agung, hingga kemudian MPR menggelar Sidang Istimewa untuk melengserkan Gus Dur tanpa kehadiran sang Presiden. Sehingga, dari sini pulalah Sang Mantan Presiden dijungkalkan secara politis dari kursi presiden di negeri ini dengan disertai isu skandal Buloggate.

*) Peresensi adalah mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com