Memahami Tuhan Lewat Kata

Judul : Bunga Sunyi; Seratus Puisi untuk Tuhan
Jenis buku : Kumpulan Puisi
Pengarang : Ngurah Parsua
Penerbit : LESIBA 2009
Peresensi : Ari Dwijayanthi
http://www.balipost.co.id/

MEMUJA Tuhan dengan doa yang panjang dalam bentuk puisi, berkarma dalam karya yang diciptakan oleh Ngurah Parsua. Seratus puisi untuk Tuhan, seratus ungkapan rasa penyair terhadap Tuhan. Berkomunikasi dengan Tuhan lewat irama-irama indah seorang penyair yang merindukan Tuhan.

Seratus puisi yang ditulis oleh Ngurah Parsua antara tahun 2004-2006, dikumpulkan dalam buku kumpulan puisi Bunga Sunyi; Seratus Puisi untuk Tuhan. Diawali dengan “Bunga Sunyi” lalu ditutup dengan “Menutup Jendela”, terlihat sangat unik dan menarik apabila kita membacanya. Mengapa? Kita akan menjumpai banyak kata “bunga” baik dalam judul atau dalam tubuh puisinya. Apa sebenarnya bunga itu? Mawarkah? Terataikah? Atau?

Tidak terlalu penting apabila kita membahas bunga-bunga itu. Tapi cobalah menyelaminya lebih dalam, membaca baris demi baris yang ditulis lalu rasakan, apakah ada bunga yang mekar di hati kita. Puisi bisa jadi dikatakan sebagai alat komunikasi, interaksi antara penyair, penikmat, lingkungan, dan Tuhan. Pilihan kata-kata yang digunakan menggambarkan betapa penyair menginginkan ada getaran dalam hati ketika membacanya, bukan getaran akibat keindahan diksinya, tetapi keindahan akan imajinasi yang menumbuhkan kerinduan Tuhan dalam diri. Perjalanan hidup, kekuatan yang dimiliki, dan kematangan diri penyair menjadikan puisi-puisinya mengajak berenang ke lautan lepas menuju semesta yang berbeda.

Ketika puisi “Bunga Sunyi” diletakkan paling awal dalam kumpulan puisi ini, merupakan bentuk pemujaan awal, dengan doa-doa yang menyayat hati. Seolah dalam keadaan seperti ini, kita sedang berada pada sebuah titik hening, titik sunyi, titik paling kosong sebelum memuja Tuhan. Cahaya di rongga matahari pagi/ menyekap diri sendiri/ bara api bangkit berlari/ bunga matahari terindah/ pengembara pagi yang bergairah// (Bunga Sunyi). Permulaan yang diperuntukkan untuk menyemangati diri, memuja dalam keheningan lalu membawa sisa-sisa keheningan memercik dalam diri menjadi bara api untuk berlari, berkarma, dan berkarya. Pencapaian perjalanan hidup digambarkan dalam puisi penutup “Menutup Jendela”, keseluruhan yang telah dicapai dalam perjalanan batinnya dilukiskan sebagai bentuk inilah akhir hidup?

Spiritual

Renungan demi renungan, disajikan oleh Ngurah Parsua. Sentuhan imajinasi yang dipadukan dengan pencarian spiritual, menjadikan seratus puisi ini menjadi bentuk pencitraan manusia terhadap Tuhan. Cinta, kasih sayang dalam diri dituangkan dalam kata-kata puitis untuk menyatukan diri dengan Tuhan. Deskripsi tentang alam serta kekuatan gaya yang konvensional puisi, agaknya membuat Ngurah Parsua merasa nyaman dan yakin jika ini bentuk baktinya pada Tuhan. Perbuatan badan diterima badan/ hasil sebelum datang/ cumbuan padang sabana/ sebelum Tuhan gerimis mendatang/ (Di Padang Semesta).

Ada semacam kerinduan yang Ngurah Parsua sampaikan di sini. Mengajak beberapa kali mencoba memulai langkah dengan kekuatan yang dimiliki. Berkarma, Perbuatan badan diterima badan (Di Padang Semesta), mengingatkan kita akan hakekat sebab akibat. Yang dilakukan, itulah yang diterima. Seperti kita ketahui bersama, apapun yang diperbuat, maka hasilnya akan kita terima, entah itu baik ataupun buruk. Perjalanan panjang ke bukit bunga (Milik Abadi), meniti hati mengajak kaki berjalan menuju satu titik yang diyakini. Tuhan akan menunggu setiap langkah yang dilakukan.

Lalu, bukan mawar, bukan pula teratai. “Bunga Sunyi” adalah bunga yang mekar dalam hari, simbol keagungan dan kesungguhan hati. “Menyair” tidak sebatas memainkan kata, tetapi menyisipkan ribuan makna kepada pembaca. Mari membaca dan menemukan, kemudian mengumpulkan arti, “Bunga Sunyi”.

Komentar